Wednesday, April 17, 2013

Memahami Sikap "Manja" Si Kecil

"Ganesh, Adek makannya gantian disuapin Simbah ya…” saya berkata sambil menyodorkan piring sarapan Ganesh ke simbah (pengasuhnya). Dan Ganesh pun buru-buru menyorongkan piring itu kembali ke saya sambil berkata, “Sama Mama aja!” Setelah beberapa lama merayunya dan merasa usaha saya sia-sia karena Ganesh tetap menolak, akhirnya saya merubah taktik. “Adek, kita kasih makan marmut Kakak Deden yuk.” Ganesh pun beranjak berdiri dan berkata, “Sama Mama!” sambil menarik tangan saya dan saya pun mengalah mengantarkannya ke rumah tetangga yang memelihara marmut. “Dah, tuh marmutnya dikasih makan dulu sana, sama Simbah ya…” kata saya kemudian. Karena terbiasa memberi makan si marmut dengan pengasuhnya, dia pun mendekati kandang marmut dengan simbah saja, sambil sebelumnya berkata, “Mama tunggu sini aja!”. Setelah beberapa kali menoleh memastikan keberadaan saya, dia pun lupa karena terlalu asyik memberi makan marmut-marmut itu, dan saya pun berjingkat-jingkat meninggalkannya untuk bersiap-siap ke kantor.

Saya dan Simbah Pengasuhnya: Dua Figur Attachment Ganesh

Hmm, lucu ya… Iya sih, benar-benar indah mengalami kejadian itu tiap pagi dari Hari Senin sampai Jumat sebelum saya berangkat ke kantor. Saya hanya tidak suka bagian dimana saya harus terlambat berangkat ke kantornya :D

Dan suatu hari suami pun menyeletuk, “Sekarang Ganesh manja banget ya sama Mama, ga papa tuh ya?” Hmm, saya jadi merasa tergelitik dengan pertanyaan ini, karena merasa bahwa ada banyak orang yang merasakan hal yang sama anaknya terlihat manja. Padahal, sebenarnya hal ini bisa jadi merupakan pertanda kesehatan perkembangan emosi-sosial anak pada usia tertentu, berikut penjelasannya…


"Adek Sayang Papa"
Ujar Ganesh Sambil Mencium Papanya
Secara kasat mata memang Ganesh kelihatan manja ya dan mungkin memang bisa dikatakan seperti itu, namun dalam artian yang positif. Kelekatan atau attachment dengan pengasuh atau primary caregiver (dalam hal ini biasanya adalah ibu) merupakan salah satu tahap perkembangan sosial seorang bayi; dimana keberhasilan dalam tahapan ini mempengaruhi kemampuannya untuk bersosialisasi di masa depan. Secara kasat mata, tahapan ini terlihat dari perilaku bayi sebagai berikut (Ainsworth, 1973; Bowlby, 1969):
  1. Newborn sd 2 atau 3 bulan: tahap dimana bayi merasakan ketertarikan dengan berbagai stimuli, terutama yang berasal dari manusia; namun belum menunjukkan preferensi pada orang tertentu.
  2. 2 atau 3 bulan sd 6 atau 7 bulan: bayi mulai menunjukkan ketertarikan lebih pada orang-orang terdekat, meskipun mereka masih cenderung ‘ramah’ kepada orang asing.
  3. 6 atau 7 bulan sd kurang lebih 3 tahun: merupakan masa dimana bayi mulai membangun kelekatan yang sebenarnya, biasanya dengan ibunya. Pada tahap ini, bayi mulai aktif untuk mencari figur kelekatannya; mendekati ibunya, menangis bila ditinggalkan dan gembira bila ibunya datang. Segera setelah seorang bayi membangun kelekatan dengan ibunya, dia pun akan mulai membangun kedekatan dengan orang dekat lainnya; seperti ayah, pengasuh, kakek-nenek, dsb.
  4. 3 tahun keatas: menginjak usia 3 tahun, kemampuan sosial kognitif anak sudah berkembang sehingga mampu membangun hubungan yang didasari oleh tujuan tertentu. Maksudnya apaan nih? Hmm, jadi pada saat  ini, anak mulai mampu mempertimbangkan tujuan dan rencana orang tua (figur kelekatannya); misalnya mampu memahami saat ibu harus meninggalkannya beberapa saat untuk ke kantor, sehingga mampu mengendalikan kebutuhannya akan perhatian ibu sampai kedatangan ibunya.

Nah, berdasarkan tahapan perkembangan kelekatan tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa di usia Ganesh saat ini (1 tahun 9 bulan) adalah hal yang wajar jika dia mati-matian ga mau saya tinggal; karena kemampuan sosial kognitifnya belum cukup matang untuk mampu memahami alasan saya meninggalkannya. Jadi, manjanya Ganesh bukan sesuatu yang negatif ya…

Selanjutnya, perlu diketahui juga bahwa sikap Ganesh yang kelihatan manja itu justru salah satu tanda bahwa dia mampu membangun kelekatan yang sehat (secure atachment) dengan primary caregiver-nya, dalam hal ini saya sebagai ibunya. Terbentuknya secure attachment ditandai dengan keberaniannya untuk secara aktif menjelajahi ruangan seorang diri atau berinteraksi dengan orang asing selama selama ada saya, suami atau pengasuh di dekatnya. Pernah suatu hari kami kedatangan tamu mahasiswa yang magang di kantor, dengan percaya dirinya Ganesh bernyanyi dan berjoget kemudian mengajak kedua tamu itu ikut berdiri dan berjoget :D. Pertanda lain adalah ekspresi sedih yang ditunjukkan Ganesh saat berpisah dengan saya, dan sambutan hangatnya setiap kali saya pulang, serta perasaan nyamannya selama bersama dengan saya. Ini jelas sekali terlihat setiap kali dia menyambut kedatangan saya dengan senyum lebar dan lari kecil ke arah saya.

Terbentuknya secure attachment ini sangat penting untuk perkembangan sosial dan emosi anak kita di masa depan. Dengan bekal secure attachment-nya di masa bayi, anak akan mampu membangun hubungan yang baik dengan teman sebaya di masa kanak-kanak, kemudian di masa remaja akan mampu menjalin hubungan yang intim dan akan mampu membangun hubungan romantis yang positif secara emosional dengan pasangannya di awal masa dewasa.

Hubungan antara Secure Attachment dan Perkembangan Hubungan Sosial Anak


Selanjutnya, selain secure attachment, terdapat empat jenis kelekatan lain, yang pastinya tidak kita harapkan untuk terjadi pada anak kita; yaitu resistant (menentang), avoidant (menolak) dan disorganized-disoriented (tidak mengikuti pola tertentu); ciri-ciri masing-masing jenis ada di gambar berikut:


Empat Tipe Attachment dan Perilaku yang Ditunjukkan:
Secure, Resistant, Avoidant dan Disorganized-Disoriented
 
Ada beberapa faktor yang menentukan kualitas kelekatan bayi dengan ibunya, salah satunya adalah faktor si ibu itu sendiri… Agar bayi membangun secure attachment, pada dasarnya kita harus sebisa mungkin sensitif dan responsif akan kebutuhan emosional bayi karena perasaan ini dibentuk perlahan-lahan dari interaksi-interaksi dimana kita bisa membuat bayi merasa aman. Interaksi seperti pada saat bayi kita menangis dan kita berusaha menenangkannya atau pada saat kita menunjukkan ekspresi antusias yang sama pada saat bayi kita sedang bermain dengan bersemangat. Saat kita memberikan pujian kala dia merasa bangga akan hasil karyanya yang mungkin adalah buku yang dirobek atau dicoret-coretnya, sesuatu yang sebenarnya membuat kita ingin marah.

Kata kunci selanjutnya bagi orang-tua untuk membantu bayi membentuk secure attachment adalah konsistensi. Karena jika pada satu saat kita mampu merespon kebutuhan emosional bayi, tapi pada saat yang lain kita justru membuatnya semakin sedih/marah, tergantung mood; maka keadaan ini akan membuat bayi tidak mampu membangun kepercayaan kepada ibu dan membangun resistant attachment. Selain itu, kita juga harus memberikan respon/stimulus sesuai porsi kebutuhan yang ditunjukkan bayi, karena respon/stimulus yang berlebihan atau terlalu sedikit akan membuat bayi belajar untuk menghindar (avoidant attachment); menghindar karena merasa kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi atau justru karena merasa kewalahan dan terganggu dengan terlalu banyaknya respon yang diberikan.

Adalah hal yang manusiawi jika terkadang kita tidak dalam kondisi mood yang mendukung, sehingga menjadi kurang sabar dan justru menghancurkan harapan seorang anak yang ingin diyakinkan bahwa ada seorang ibu yang mengerti perasaan dan kebutuhannya. Ada kalanya kita tidak bisa meladeni anak yang begitu antusias bermain dan membutuhkan respon kita. Akan tetapi, tentu bukan hal yang kita inginkan jika akhirnya anak membentuk pola attachment yang tidak sehat. Dalam pengalaman saya, untuk mengatasi hal ini dibutuhkan dua hal, yaitu komitmen pada diri sendiri dan kesadaran akan kondisi emosi kita.

Well, idealnya memang kita selalu bisa berpikir bahwa anak kita belum cukup matang sehingga wajar jika melakukan hal yang terkadang menjengkelkan. Tapi, dalam dunia nyata, terkadang dalam sedetik saya bisa merasa tidak bisa menahan diri dan tanpa kedua hal di atas (komitmen dan kesadaran emosi) pada detik berikutnya akan memberikan respon yang mengecewakan bagi anak kita. Kesadaran akan kondisi emosi kita sendiri inilah yang akan menjadi benteng terakhir, sehingga kita bisa melakukan tindakan preventif, seperti relaksasi sederhana menarik napas panjang untuk mengembalikan akal sehat kita.

Terkadang, menjaga diri kita untuk tidak menghancurkan perasaan anak kita tidaklah mudah; ada kalanya capek pulang kerja, ngantuk, PMS dan sebangsanya membuat kita menjadi emosional. Namun satu hal yang perlu kita ingat, bagi seorang anak apa yang kita anggap hal kecil seperti menemaninya bermain atau memberikan senyum saat dia meminta perhatian kita; sangat berarti bagi mereka. Karena…  “Bagi dunia, ibu adalah sesuatu, namun bagi anak, ibu adalah dunianya.”

Happy parenting :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Reading:
Sigelman, Carol K. & Rider, Elisabeth A. 2012. Life-Span Human Development, 7th Edition. Canada: Wadsworth.

2 comments:

  1. Wih..itudiktat kuliah adekku. tebelnya segambreng...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adeknya kuliah Psikologi juga ya Mak :D
      Iya.. bukunya tebel-tebel.. kalo minjem dari perpus harus kosongin ransel dulu :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...