Tuesday, May 28, 2013

Ganesh Bernyanyi… Atau Baca Puisi?

Sebelumnya saya pernah menulis bagaimana kemampuan verbal Ganesh yang berkembang cukup pesat (menurut saya) dibandingkan anak disekitarnya, beberapa waktu lalu dia mulai terdengar mampu melafalkan satu buah lagu sederhana dari awal sampai akhir. Katalog lagunya sedikit demi sedikit mulai bertambah, dari sekedar duet dengan saya menyanyikan lagu Glenn Fredly “You’re My Everything” seperti ini:

Saya         : Hey… hey… yeah…
Ganesh     : You’re the one
Saya         : Hey… hey… yeah…
Ganesh     : You’re the one
Saya         : Hey… hey… yeah… I can’t live without you…
Ganesh     : Wo… ow…

Saat ini Ganesh sudah bisa melafalkan berbagai lirik lagu seperti “Bintang Kecil”, “Twinkle-Twinkle Little Star”, “Baba Blaksheep”, “Eensy Weensy Spider” and keep growing. Yah, memang terkadang liriknya terdengar ajaib sih, sampai kami menegakkan telinga dan saling berpandangan untuk memahami apa yang Ganesh nyanyikan. Seperti pada saat dia berkali-kali menyenandungkan potongan lagu seperti ini: “Wan memes memes!” yang ternyata adalah potongan lagu Baba Blacksheep, “One for the master” atau “Dan kelewen wastalawat” yang ternyata adalah potongan lagu Eensy Weensy Spider, “Down came the rain and wash the spider out.”

Berikut adalah beberapa video Ganesh sedang menyenandungkan lagu kesukaannya pada saat mandi:





Hmm, sebenarnya Ganesh sedang menunjukkan kemampuan bernyanyinya atau kemampuan verbalnya sih? Kalo menurut saya sih, perilaku Ganesh itu lebih memperlihatkan kemampuan verbalnya karena belum ada melodi, ketepatan nada dan aspek bernyanyi lainnya. Tapi, tunggu dulu deh… kesimpulan saya ini saya tunda dulu begitu membaca satu bab dalam sebuah buku “Singing and Vocal Development”. Pada bagian introduction bab tersebut, disampaikan hasil penelitian di beberapa negara mengenai pengalaman masa kecil tentang bernyanyi dan hubungannya dengan kemampuan menyanyi di masa dewasa. Hmm, sederhananya seperti ini; pada saat seorang anak mulai bernyanyi dan mendapat respon negatif dari lingkungan, hal ini akan membuat anak merasa malu, kecewa dan terhina, sehingga membuatnya kurang percaya diri dan akhirnya tidak bisa mengembankan kemampuan bernyanyinya secara optimal. Padahal, terkadang respon atau komentar negatif itu timbul karena kurangnya pemahaman mengenai perkembangan menyanyi pada anak. OK, penjelasan yang sangat masuk akal ya… #makin semangat membaca lebih lanjut :D

Menurut Welch[1], dasar perkembangan bernyanyi berasal dari pengalaman pendengaran dan emosional pada janin selama bulan terakhir kehamilan, yaitu persepsi awal pada variasi melodi dari suara ibu. Selanjutnya, pada tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan masa pembentukan produksi vokal bayi melalui interaksinya dengan karakteristik akustik di sekitarnya, misalnya dari orang-tua yang menggunakan berbagai aspek musikal pada saat berinteraksi dengan anaknya. Hmm, jangan bayangkan yang dimaksud di sini adalah bernyanyi atau musik dalam arti umum ya… tapi lebih hal-hal sederhana seperti bagaimana kita berbicara dengan nada yang lebih tinggi, penggunaan jangkauan nada yang lebar, jeda yang lebih lama, berbicara lebih lambat dan berbagai intonasi berbicara.

Perilaku bernyanyi yang paling awal dilakukan bayi adalah menangis; yang kaya aspek vokalisasi; termasuk variasi nada, intensitas,   irama dan frasa. Pada usia 2 bulan, kemampuan bayi meningkat dengan kemampuannya memproduksi suara seperti mendengkur maupun ‘babbling’ (mengoceh). ‘Babbling’ yang biasa kita dengar dengan bayi membuat suara-suara yang terkadang seperti potongan-potongan kata yang diulang-ulang, atau bahkan tidak berpola juga mengandung nada dan irama. Pada usia 3 sd 4 bulan, bayi mampu menirukan kontur suara ibu yang menonjol. Pada usia 4 sd 6 bulan, bayi mulai bermain-main dengan suaranya dan memproduksi berbagai variasi suara. Dan baru pada usia 1 tahun, unsur bahasa ibu mulai mempengaruhi vokalisasi anak.

Lewat ulang-tahun pertamanya sampai dengan usia 5 tahun selanjutnya merupakan masa dimana bayi mengalami peningkatan interkasi dengan berbagai suara dari lingkungan. Hasil interaksi ini akan tampak dari berbagai perilaku bernyanyi pada anak, misalnya kemampuan anak usia 2 tahun untuk mengulangi frasa singkat dengan irama dan melodi yang dikenali. Hmm, bagaimana dengan Ganesh ya… Di usianya yang ke 21 bulan lebih, irama dan nada nyanyiannya sih sudah konsisten, tapi tidak bisa dibilang mirip dengan lagu aslinya, walaupun pemenggalan liriknya sudah sesuai dengan lagu aslinya. But, it sounds fine… penjelasan selanjutnya disebutkan bahwa untuk anak yang lebih muda, batasan antara bernyanyi dan berbicara tampak tidak jelas. Tepat dengan yang saya rasakan pada Ganesh! Kadang pada saat dia menemukan penggalan-penggalan lagu yang terdengar ‘ajaib’ di telinga kami dan menyanyikannya, butuh beberapa saat untuk menyadari lirik lagu apa yang sedang dinyanyikan (atau diucapkannya).

Seiring dengan bertambahnya usia, perilaku bernyanyi akan semakin terdengar ‘nyata’ dan kaya dengan berbagai aspek vokalisasi. Perkembangan ini nantinya akan ditentukan juga oleh aspek nature (bakat) dan nurture (lingkungan). Aspek nature meliputi aspek fisik intrument penghasil suara pada manusia seperti pita suara maupun struktur otak yang menyebabkan perbedaan kemampuan memahami berbagai aspek musik dan memanipulasi instrument penghasil suara untuk menghasilkan suara yang sesuai… #karena kita membicarakan “menyanyi”, jadi harus memiliki kedua kemampuan tersebut; kalau cuma bisa memahami, tidak mampu menyanyikan, tapi mampu mewujudkan dengan instrumen musik maka lebih tepat disebut “kemampuan bermusik”-kan :D

Sebenarnya sih, saya tidak terlalu meributkan apakah Ganesh berbakat menyanyi atau yang lain. Tapi, mengetahui seluk-beluk perkembangan anak dan peka dengan “tanda-tanda” yang mereka tunjukkan sedini mungkin adalah hal yang sangat penting untuk masa depan mereka; karena dengan sedini mungkin mengetahui peta bakat anak kita, kita punya kesempatan yang lebih besar untuk mengatur strategi mengoptimalkan bakat tersebut, dengan mengarahkan minat dan terus memberikan stimulus yang mendukung bakat mereka tersebut. Mengoptimalkan bakat bukanlah perkara sederhana, karena kalau salah treatment (misalnya kita terlalu berlebihan memberikan stimulus dan memaksa anak) akibatnya justru anak akan kehilangan minat pada bidang bakatnya. Hmm, kalau sudah begitu, hasilnya pasti tidak akan optimal kan?

Kalau menurut saya sih, tugas kita sebagai orang-tua sebenarnya adalah memberikan ruang tumbuh kembang untuk anak dengan kebebasan kemana dia akan tumbuh dan berkembang. Ibaratnya tumbuhan, tugas kita adalah menyirami dan memberikan pupuk yang baik untuk anak, memangkas tunas yang tidak baik dan membiarkan tunas yang baik berkembang dengan “cara yang baik pula”. Jangan “memaksakan” apa yang kita anggap baik atau buruk, karena salah-salah, tanaman yang kita rawat akan tumbuh kerdil.

Bagaimana, sepakat dengan saya?



With Love,

Nian Astiningrum
-end-

Reading:
Welch, G. F. (2006b). Singing and Vocal Development. In G. McPherson (Ed.), The Child as Musician: A Handbook of Musical Development (pp. 311-329). New York: Oxford University Press. [0-19-853032-3].

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...