Monday, September 9, 2013

Ganesha’s Potty Time ;)

Ganesh   : “Mama, Ganesh ada pipisnya…”
Saya       : “Oh iya, ayo ke kamar mandi Ganesh…" (sambil menggendong Ganesh ke kamar mandi).
Ganesh   : “Cepet mama… Kebulu kelua, kebulu kelua…”

Itulah cara Ganesh mengatakan pada kami kalau dia ingin pipis di kamar mandi; sedikit heboh dan menyenangkan tentunya. Betapa tidak, sebelum memulai toilet training Ganesh, saya sudah membayangkan bahwa hal ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan ‘penuh pengorbanan’ (baca: kurang tidur dan tempat tidur bau ompol). Termyata, setelah melakukannya pada 23 Juni 2013 lalu, sehari sebelum ulang-tahun Ganesh yang kedua; segala ketakutan saya tidak menjadi kenyataan dan perlahan-lahan dengan ritme yang cukup cepat Ganesh mulai mengerti dan terbiasa untuk pipis di kamar mandi dan semakin jarang pipis di celana. Sampai-sampai saya terheran-heran pada saat mudik Lebaran dari Tanjung Enim – Jogja yang memakan waktu dua hari satu malam, Ganesh berhasil melaluinya tanpa pipis di celana! Padahal awalnya sempat ragu, apakah akan kembali memakaikan diapers atau mencoba melanjutkan toilet training berbekal enam buah training pants… 


Ganesh dengan Training Pants-nya
Setelah pipis di rumah makan saat mudik

Sampai saat ini, belum sepenuhnya Ganesh bisa selalu ‘kering’ sih; terkadang ada kalanya dia terlambat bilang dan sudah pipis duluan. Pada malam hari juga, dia masih harus dibangunkan untuk pipis pada jam tertentu. Tapi, bagi saya bagaimana Ganesh memahami bahwa dia harus pipis di kamar mandi setelah melalui kurang lebih sebulan masa belajar itu prestasi tersendiri bagi saya, dan berikut pengalaman kami dalam proses tersebut :)

Hal pertama yang harus kita lakukan sebelum memulai toilet training pada anak adalah menentukan apakah anak telah siap atau masih harus menunggu lebih matang lagi. Menurut brosur dari IOWA University berjudul “Understanding Children Toilet Training”1, disebutkan bahwa biasanya anak akan siap secara fisik dan emosional untuk menjalani toilet training pada usia 2 sd 3 tahun. Namun demikian, jika pada usia tersebut anak ternyata belum siap, sebaiknya kita menunggu, karena memaksakan toilet training hanya akan menimbulkan kesedihan dan frustrasi pada anak yang justru berdampak pada keterlambatan anak mempelajari hal tersebut. Untuk menilai kesiapan anak sendiri, kita bisa melakukan observasi pada anak sebagai berikut (kesiapan ditunjukkan dengan lebih banyak jawaban ‘ya’ daripada ‘tidak’):


Checklist Kesiapan Toilet Training Ganesh
Berdasarkan Daftar Pertanyaan pada Referensi 1

Selanjutnya, setelah mengetahui anak kita sudah cukup siap, kita perlu mengamati kebiasaan berkemih atau pipis pada anak untuk melihat polanya. Caranya, tentu saja dengan melepas diapers untuk mengetahui berapa jam sekali anak pipis di siang hari; sedangkan untuk malam hari, kita bisa memperkirakan berapa kali anak pipis dari banyaknya air seni pada diapers-nya di pagi hari. Pada tahap ini, saya menyimpulkan bahwa pada siang hari Ganesh pipis rata-rata dua jam sekali dan dua kali pada malam hari. Selanjutnya, berdasarkan hasil pengamatan tersebut, kita rancang jadwal toilet visit anak untuk membiasakannya tetap kering dan pipis di kamar mandi. Hal ini penting dilakukan, supaya anak bisa membedakan nyamannya tetap kering. Pada Ganesh sendiri, saya menetapkan jadwal toilet visit setiap dua jam sekali pada siang hari dan dua kali pada malam hari; yaitu pukul 00.00 dan pukul 04.00.

Sampai disini, sebenarnya kita telah hampir siap terjun ke dunia ‘toilet training’, tapi demi kenyamanan, kita perlu memikirkan beberapa hal; diantaranya adalah bagaimana meminimalkan anak pipis di tempat tidur atau pada saat bepergian. Untuk itu, saya sendiri memilih menggunakan training pants menggantikan diapers yang selalu dipakai di malam hari dan pada saat bepergian. Training pants yang saya maksud adalah sejenis celana dalam dengan bahan khusus yang menahan pipis tidak berceceran, tetapi tidak menyerap kelembaban; sehingga anak tetap akan merasakan basah setelah pipis. Training pants ini sendiri selain melatih anak untuk membedakan kondisi basah dan kering, bagi saya juga berfungsi untuk berjaga-jaga jika Ganesh kelepasan pipis di celana :D

Begitu segala persiapan telah lengkap dan kita pun telah mantap secara psikologis, toilet training pun dapat dilakukan. Pertama kali tentu saja kita perlu mengkomunikasikan kepada anak beberapa hari sebelum toilet training dimulai. Saya sendiri waktu itu, melakukannya dengan berkata, “Ganesh sebentar lagi kan dua tahun; itu tandanya Ganesh sudah gede; kalau sudah gede, pipisnya di kamar mandi, bilang dulu, enggak ngompol ya…”; terus dan terus setiap kali ada kesempatan, misalnya saat menggantikan celananya yang basah. Komunikasi semacam ini sangat penting dilakukan selama masa toilet training, untuk menguatkan pemahaman anak dan sekaligus memberikan motivasi padanya. Melalui cara ini, kita sedang mengubek-ubek area psikologis anak; dengan memberikan reward rasa bangga pada saat berhasil pipis di kamar mandi, mengingatkan anak tanpa membuatnya merasa gagal saat kembali pipis di celana, dan juga membuat jembatan antara self esteem (harga diri) dengan kebiasaan pipis di kamar mandi.

Selain komunikasi, hal yang juga sangat membantu adalah dengan memberikan contoh konkret pada anak bahwa orang dewasa itu pipis di kamar mandi. Hmm, karena Ganesh anak laki-laki, ini jadi tugas papanya :D.

Jika dirangkum, menurut saya sebenarnya inti dari toilet training adalah bagaimana kita mengkomunikasikan dan memberikan pemahaman pada anak akan dua hal. Pertama, bahwa “kering itu nyaman” dengan disiplin pada toilet visit sebelum anak akhirnya mau meminta pipis di kamar mandi. Kedua, kebanggaan/pentingnya untuk tidak mengompol dan pipis di kamar mandi” melalui komunikasi psikologis serta pemberian contoh. Selain itu, yang perlu dicatat juga bahwa proses ini bisa jadi tidak sesulit yang kita bayangkan sebelumnya; jadi jika anak memang sudah siap, tidak ada salahnya untuk memulai sesegera mungkin kan ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:
  1. Oesterreich, L. 2003. Understanding Toilet Training (Artikel). IOWA State University. http://www.extension.iastate.edu/publications/pm1529k.pdf

4 comments:

  1. Saya melatih Noofa untuk toilet training sejak usia dia 7 bulan Mak..
    Alhamdulillah skrg usia dia dah setahun, dah ngerti kalo mau pipis dia jalan sendiri ke kamar mandi.. cuma krn lum bisa lepas celana sendiri.. dia ke kamar mandi and pipisnya dicelana.. (itu kalo gak ketahuan).. klo ketahuan.. begitu dia jalan ke kamar mandi, aku lepas celana dia.. baru deh dia pipis.. hihihi..

    seneeeng ya Mak kalo anak kita gak ngompol lagiii.....

    kalo malam... terakhir noofa pipis jam 10 malam.. nťar tidur.. bangun jam 6 baru pipis di kamar mandi... hihihi

    ReplyDelete
  2. Wah.. 7 bulan udah dilatih ya.. hebat..
    Ibu saya dulu juga katanya selalu ngajarin kami pipis di kamar mandi sblm 1 tahun.. dg ditatur di kamar mandi tiap 2 jam ya kalo malem..
    Hehe, kalo saya memilih nunggu aja deh.. nunggu anaknua siap, nunggu emaknya siap juga :D
    Salut buat Emak n Noofa ya :)

    ReplyDelete
  3. Bagus mak artikelny,selama ini ga tau ada check list ky gt buat tt :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Mak Khusnul.. Checklistnya emang sangat sederhana dan membantu ya.. Saya juga baru tau setelah browsing-browsing di internet lho :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...