Sunday, September 15, 2013

Jamu Indonesia: Mengangkat Mutiara dalam Lumpur

‘Jamu’, walaupun kebanyakan bercita-rasa pahit, tapi saya tetap setia padanya sampai saat ini. Kecintaan saya pada Jamu, dimulai sejak masih kecil dimana saya begitu akrab dengan Jamu ‘Beras Kencur’ dan ‘Kunir Asam’ yang bercita-rasa manis. Kemudian, menginjak remaja ibu mengenalkan saya dengan Jamu sehabis datang bulan serta Jamu bersih darah untuk mengurangi jerawat yang rutin saya minum. Dan beberapa tahun setelah masa itu, saya pun berkenalan juga dengan jamu sehabis melahirkan yang kali ini sudah dikemas secara modern. Alasan saya setia pada Jamu cukup sederhana; yaitu karena Jamu adalah solusi akan kekurangsukaan saya pada obat yang mengandung senyawa kimia buatan yang menurut keyakinan saya memiliki dampak negatif dibalik efek menyembuhkannya. Itulah alasan kenapa saya lebih suka menggunakan Jamu sebagai salah satu alternatif untuk menjaga kesehatan dibandingkan obat yang banyak beredar.

Dulu, saya biasa menikmati Jamu dalam bentuk racikan segar yang dibeli di pasar tradisional dekat rumah. Sekarang, kita dapat dengan mudah menemukan Jamu dalam kemasan modern yang nota bene sudah pasti lebih praktis karena mudah didapatkan, lebih tahan lama dan lebih mudah dikonsumsi. Hal ini merupakan angin segar yang menandakan bahwa Jamu Indonesia mulai diakui eksistensinya di ranah nasional, meskipun saya merasa bahwa popularitasnya masih kurang dibandingkan Obat Tradisional dari Cina. Pendapat ini didasarkan pada pengamatan saya sebagai seorang yang awam dalam dunia Jamu dan Obat Herbal, yang melihat bagaimana Obat Herbal Cina dipasarkan secara lebih profesional dibandingkan Jamu Indonesia. Tahun 2005 pada saat ayah mengalami stroke adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke Toko Obat Herbal Cina, yang jelas berbeda jauh jika dibandingkan Toko Jamu yang pernah saya tahu. Di Toko Obat Herbal Cina, saya melihat bahan-bahan obat berjajar rapi beserta labelnya dan dikelola oleh seorang yang sangat memahami obat-obat yang dijualnya, sebagaimana seorang apoteker. Kenyataan ini membuat saya bertanya-tanya, apakah hal ini disebabkan oleh khasiat Obat Herbal Cina yang memang lebih baik dari Jamu Indonesia; ataukah kita yang kurang memberikan perhatian pada Jamu Indonesia, sehingga potensi yang ada tidak terasah sebagaimana mestinya.

Gambaran Toko Obat Herbal Cina
Gambar diambil disini1

Sebenarnya apa sih ‘Jamu’? Pertanyaan itu kemudian terlintas di kepala saya pada saat memikirkan mengenai nasib Jamu Indonesia. Kita tentu familiar dengan berbagai racikan Jamu; seperti Jamu Beras Kencur, Cabe Puyang, Kunir Asam atau Paitan2; yang memiliki komposisi dan cara pembuatan baku. Selain itu, kita juga mengenal berbagai racikan non-tradisional yang didasarkan pada pengalaman tradisional akan khasiatnya; misalnya conditioner yang 100% berbahan dasar herbal diantaranya urang-aring yang dipercaya berkhasiat untuk menghitamkan rambut dan minyak zaitun yang melembutkan. Apakah keduanya adalah Jamu? Merujuk pada definisi yang digunakan pada Peraturan Kepala BPOM RI Nomor HK.00.05.41.13843; disebutkan bahwa Jamu adalah obat tradisional Indonesia, sedangkan Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sarian atau campurannya yang digunakan secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Jadi, berdasarkan definisi tersebut, maka kedua contoh yang saya sebutkan di atas dapat disebut Jamu, yaitu obat tradisional Indonesia, baik yang berasal dari resep tradisional, maupun resep modern yang didasarkan pada pengalaman tradisional mengenai khasiat bahannya.

Jamu sebagai obat tradisional Indonesia sesungguhnya sudah menarik perhatian ilmuan Eropa Jacob de Bondt pada awal abad tujuh belas. Selanjutnya, sebuah buku mengenai obat tradisional Indonesia berjudul ‘Herbaria Amboinesis’ juga diterbitkan oleh Rumphius yang bekerja di Ambon pada awal abad delapan belas. Pada tahun-tahun berikutnya pun jamu mampu menarik lebih banyak ilmuan dari luar negeri lain, meskipun ilmuan Indonesia sendiri justru tidak terlalu tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Jamu4. Sampai pada tahun 1940, diadakan seminar pertama mengenai Jamu di Solo, pembentukan organisasi Jamu pada tahun 1944 dan seminar kedua pada tahun 19665. Hingga pada era tahun 2000an, lebih banyak ditemukan penelitian Ilmuan Indonesia mengenai manfaat Jamu, seperti yang dilakukan oleh Rosita dkk. (2003) yang membuktikan bahwa Jamu ‘Galohgor’ secara empirik dapat mempercepat pengeluaran darah nifas dan pemulihan pasca persalinan6. Penelitian mengenai efektivitas Kepel sebagai oral deodorant oleh Darusman dkk. (2011) 7. Serta daftar panjang penelitian berkaitan dengan Jamu Indonesia yang dapat dilihat pada situs Biopharmaca Research Center (BRC)8.

Bahan Jamu Indonesia
Indonesia sebagai negara dengan kekayaan hayati yang luar biasa
menyimpan potensi yang luar biasa akan obat herbal
gambar diambil disini9

Khasiat Jamu, sesungguhnya tidak kalah jika dibandingkan dengan obat tradisional Cina atau India yang lebih terkenal di dunia. Time World menyebutkan dalam artikelnya bahwa pada tahun 1990, Susan Jane-Beers seorang jurnalis Irlandia melalui karyanya ‘Jamu: The Ancient Art of Herbal Healing’ mengungkap seluk beluk Jamu setelah merasakan sendiri khasiat Jamu dalam menembuhkan sakit lutut kronis yang dideritanya yang tidak dapat disembuhkan oleh pengobatan konvensional10. Khasiat Jamu Indonesia dalam menyembuhkan kanker pun telah dibuktikan oleh penelitian Virginia Tech’s Department of Food Science and Technology yang menemukan bahwa Sirsak memiliki khasiat menghambat pertumbuhan kanker payudara pada manusia. Penelitian lain yang lebih up-to-date juga dilakukan oleh Keller & Nugraha (2011) yang menyajikan data berbagai bahan obat tradisional Indonesia sebagai terapi pada penyakit berat seperti herpes, malaria, dan sebagainya11. Berdasarkan dua fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya Jamu Indonesia memiliki kemampuan menyembuhkan yang luar biasa dan memerlukan lebih banyak penelitian intensif untuk mengungkap lebih banyak potensi lainnya.

Selain belum banyaknya penelitian yang memberikan fakta empirik mengenai manfaat Jamu dalam menyembuhkan berbagai penyakit; kenyataan bahwa di Indonesia sendiri Jamu lebih banyak digunakan sebagai penjaga kesehatan, stamina dan kecantikan juga menjadi faktor penghambat kenapa Jamu kurang populer dibandingkan Obat Herbal Cina5. Hal ini menandakan perlunya promosi yang lebih intensif pada masyarakat sebagai konsumen mengenai manfaat Jamu sebagai alternatif penyembuh. Masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa Jamu memiliki khasiat menyembuhkan yang luar biasa, tidak kalah dengan Obat Herbal Cina (misalnya), sekaligus dengan resiko efek samping jangka panjang yang lebih rendah jika dibandingkan dengan obat konvensional yang mengandung berbagai senyawa sintetis.

Penjual Jamu Menyajikan kepada Costumer
Jamu lebih populer sebagai penjaga stamina di Indonesia
Gambar diambil disini10


Strategi promosi lain untuk meningkatkan image Jamu sebagai kekayaan heritage Indonesia adalah melalui sektor pariwisata, karena sesungguhnya sesuatu yang sifatnya tradisional memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan, terutama dari luar negeri. Kita tentu sudah familiar dengan istilah ‘Desa Wisata’; suatu tempat dimana pengunjung akan menemui dan dapat berinteraksi secara langsung dengan struktur tradisi yang ada di suatu wilayah. Bayangkan jika kita membangun semacam ‘Desa Wisata Jamu’, suatu lokasi dimana kita menyajikan informasi mengenai Jamu dengan lebih hidup. Suatu tempat dimana seorang wisatawan dapat melihat secara langsung apa itu ‘empon-empon’ dengan tour guide yang menjelaskan tentang khasiatnya, kemudian disodorkan dengan teknik pembuatan dan peracikan jamu dan di akhir sesi dapat menikmati sajian Jamu sekaligus spa tradisional serta membeli souvenir berkaitan dengan Jamu. Bayangkan juga jika setiap wilayah di Indonesia dengan tradisi Jamu-nya masing-masing memiliki daerah wisata semacam ini, tentu akan sangat menarik bagi para wisatawan bukan? Disatu sisi kita melestarikan Jamu dan meningkatkan pamor Jamu Indonesia sekaligus mendongkrak sektor pariwisata.

Tantangan selanjutnya untuk mampu mengangkat Jamu Indonesia adalah bagaimana supaya dapat memenuhi standard pabrikasi internasional, sebagaimana dijelaskan oleh Charles Saerang10, ketua umum Asosiasi Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) tahun 2011-2015. Hal ini menyebabkan banyak pengusaha mensiasatinya dengan membeli bahan baku Jamu dari Indonesia, mengolahnya di India dan Malaysia dan menjualnya di Inggris, dimana menghilangkan kesempatan Indonesia untuk mempromosikan brand Jamu di dunia karena diambil alih oleh pihak ketiga.

Berdasarkan ulasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya terdapat tiga hal penting untuk dapat melestarikan dan mengangkat Jamu Indonesia ke ranah internasional. Pertama, diperlukan adanya penelitian yang komprehensif baik dari sisi arkeologis untuk mendata obat-obat tradisional yang ada di Indonesia, maupun dari sisi biologis untuk mampu memberikan bukti empirik akan khasiat obat-obat tradisional tersebut. Kedua, diperlukan adanya promosi atau sosialisasi yang memadai supaya informasi mengenai potensi Jamu Indonesia sebagai penyembuh dengan berbagai kelebihannya diketahui oleh masyarakat luas. Dan ketiga adalah menyiapkan produsen Jamu dalam negeri supaya mampu memproduksi Jamu Indonesia sesuai standard pabrikasi internasional, sehingga kita tidak perlu kehilangan brand Jamu di ranah internasional. Jika ketiga hal tersebut dilakukan, saya yakin bahwa Jamu Indonesia akan mampu sejajar dengan Obat Tradisional Cina maupun India dan ibarat mutiara yang terbenam dalam lumpur, perlahan-lahan Jamu Indonesia akan terlihat kilaunya.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:
  1. Kapanlagi.com. 2013. Toko Obat Cina (Sinshe) di Surabaya. http://travel.kapanlagi.com/artikel/kesehatan/213-toko-obat-cina-sinshe-di-surabaya.html. Diakses tanggal 13 September 2013.
  2. Riswan, S. & Sangat-Rumantyo, H. 2002. Jamu as Traditional Medicine in Java, Indonesia. http://cpi.kagoshima-u.ac.jp/publications/southpacificstudies/sps/sps23-1/SouthPacificStudies23%281%29pp1-10.pdf. Diakses tanggal 14 September 2013.
  3. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: HK.00.05.41.1384 Tahun 2005 Tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmakahttp://www2.pom.go.id/public/hukum_perundangan/pdf/KRITCARA%20PENDAFT.OT.pdf. Diakses tanggal 13 September 2013.
  4. Wikipedia. 2013. Jamu. http://en.wikipedia.org/wiki/Jamu. Diakses tanggal 13 September 2013.
  5. Joglosemar. 2013. Jamu (Traditional Herbal Medicine) and Traditional Cosmetics. http://www.joglosemar.co.id/jamu.html. Diakses tanggal 13 September 2013.
  6. Roosita K., Kusumorini, N., Manalu, W. dan Kusharto C.M. 2003. Efek Jamu Bersalin Galohgor terhadap Involusi Uterus dan Gambaran Darah Tikus (Rattus sp). Media Gizi & Keluarga, 27 (2), 52-57. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54115/jurnsl%20gizi.pdf?sequence=1/. Diakses tanggal 14 September 2013.
  7. Darusman, H.S., Rahminiwati, M., Sadiah, S., Batubara, I., Darusman, L.K. & Mitsunaga, T. 2012. Indonesian Kepel Fruit (Stelechocarpus burahol) as Oral Deodorant. Research Journal of Medical Plant, 6 (2): 180-18. http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal/626-indonesian-kepel-fruit-as-oral-deodorant. Diakses tanggal 14 September 2013.
  8. http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal?start=10
  9. Purbaya, A.A. 2013. Mahasiswa dari 12 Negara Ikuti Festival Jamu Internasional di Semarang. http://health.detik.com/read/2013/09/14/100528/2358705/763/mahasiswa-dari-12-negara-ikuti-festival-jamu-internasional-di-semarang?991104topnews. Diakses tanggal 15 September 2013.
  10. Neubauer, IL. 2012. Jamu: Why Isn’t Indonesia’s Ancient System of Herbal Healing Better Known? http://content.time.com/time/world/article/0,8599,2107489,00.html. Diakses tanggal 14 September 2013.
  11. Keller, P.A. & Nugraha, A.S. 2011. Revealing Indigenous Indonesian Traditional Medicine: Anti-Infective Agents. Natural Product Communications, 6 (12), 1953-1966. http://ro.uow.edu.au/cgi/viewcontent.cgi?article=6393&context=scipapers. Diakses tanggal 14 September 2013.


6 comments:

  1. Aku sukanya kunyit asem mbak. Segerrrr.... Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya.. suka Beras Kencur, pedes-pedes manis.. makasih udah mampir ya :)

      Delete
  2. emmm klo aku sukanya minum tolak angin sachet mbk yg ada campuran jahe itu,..apalgi klo mau perjalanan jauh mklum sk mual hehe

    tp tolak angin termasuk jamu g ya,.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jamu juga itu.. kalau liat di kemasannya ada gambar pohon hijau n tulisan jamu, setau saya label itu cuma bisa ditempelkan, jika suatu produk memenuhi standard jamu sesuai aturan BPOM *semoga tidak salah :D

      Delete
  3. kalo dulu waktu masih kuliah, tiap pagi selalu ada bibik jamu lewat dpn rmh, alhasil jd langganan dehh. klo aku sukanya minum kunyit dicampur beras kencur terus dikasih angin ( klo dia nyebutnya ) hehhe..
    itu ngurangin nafsu mkanku mlah berat badan dulu cuma 45kg trus ktnya kunyit jg bagus buat kulit..
    jd pngen lg dehh.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya kunyit itu bagus buat obat peradangan alias imflamasi, kalo aku dulu pas hamil sempet pake buat obat jerawat :D
      Cari di pasar tuh kunyit, banyak Nda.. blender aja campur gula jawa, n asam, kayaknya resepnya itu aja deh.. Tapi 'angin' itu aku yang ga ngerti apaan :D
      Makasih udah mampir ya..

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...