Friday, December 27, 2013

Pertamax Moral Education

Membicarakan mengenai Pertamax, sebenarnya saya sudah dikenalkan bahwa bahan bakar ini lebih unggul daripada Premium oleh bapak yang seorang montir. Waktu itu, bapak berpesan untuk sebisa mungkin mengosongkan tangki bahan bakar setiap minggu untuk diisi full dengan Pertamax. Menurut beliau, cara itu akan membantu membersihkan organ-organ yang dilewati bahan bakar, sehingga kondisi motor akan lebih prima. Waktu itu, saya sih percaya saja, karena saya memang tidak terlalu tertarik dengan dunia permesinan dan bapak saya anggap cukup mumpuni dalam dunia ini.

Sekarang, saat menulis artikel ini dan googling ke beberapa situs, saya menemukan bahwa memang Pertamax maupun Pertamax Plus memiliki keunggulan dibandingkan dengan Premium sebagai sesama bahan bakar kendaraan bermesin bensin. Berikut data yang saya sarikan dari PertaminaRetail.com dan Motorku.info:

Perbandingan antara Premium, Pertamax dan Pertamax Plus
Sumber data: PertaminaRetail.com1 dan Motorku.info2

Pertamax dan Pertamax Plus memang memiliki keunggulan dibandingkan Premium. Namun demikian, meskipun lebih irit, ramah pada mesin dan ramah pada lingkungan, kedua bahan bakar ini jauh lebih tidak populer dibandingkan Premium. Sebagai gambaran, kita bisa melihat data yang diungkapkan Sales Representatif Pertamina DIY Fanda Chrismianto kepada HarianJogja.com pada 4 November 2013 lalu. Kala itu, Fanda menyebutkan bahwa market share Pertamax waktu itu hanya 2% dibandingkan Premium. Iya, 2% saja! Dan menurut saya itu jumlah itu sangat kecil dari seharusnya, dengan mengamati berapa banyak mobil-mobil baru yang bersliweran di jalan setiap hari. Para pengemudi mobil-mobil ‘bagus’ itu tentu tahu dong, kalau Premium itu adalah bahan bakar bersubsidi yang diperuntukkan khusus bagi masyarakat yang tidak mampu?

Sebenarnya ada banyak kemungkinan penyebab belum banyaknya masyarakat yang mampu secara ekonomi untuk menggunakan Pertamax. Bisa jadi, memang mereka belum mengerti mengenai filosofi penggunaan Premium dan Pertamax. Bahwa Premium sebagai bahan bakar bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat tidak mampu saja, sehingga mereka sekedar memilih Premium dengan alasan ekonomis. Dimana nota bene harga Pertamax memang jauh lebih mahal dibandingkan Premium. Jika memang ini permasalahannya, maka satu-satunya solusi adalah mengadakan sosialisasi yang lebih intensif untuk memastikan pesan ini tersampaikan sampai ke lapisan terdalam masyarakat.

Tapi sayangnya, rendahnya kesadaran untuk menggunakan Pertamax ini tampaknya tidak semuanya sekedar didasari oleh ketidaktahuan, namun sedikit banyak berhubungan dengan kepedulian dan moralitas kita. Permasalahan yang sama yang membuat banyaknya pelanggaran di negara kita; mulai dari yang kecil seperti merokok di tempat umum, hingga yang besar dan sangat merugikan, seperti korupsi. Iya, korupsi yang menempatkan Indonesia dalam urutan 114 dari 175 negara terbersih4 itu, bukankah juga merupakan salah satu bentuk dari ketidakpedulian bahwa tindakan tersebut salah dan tidak seharusnya dilakukan? Hanya saja dalam intensitas yang berbeda tentu saja. Sama halnya dengan ketidakpedulian bahwa sebagai orang yang mampu, seharusnya seseorang menggunakan Pertamax dan bukannya justru ikut mengantri Premium bersama masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Infografik: Visualiasi Corruption Perception Index 2013
Didownload dari http://cpi.transparency.org4
Moralitas dapat didefinisikan secara sederhana sebagai ‘prinsip mengenai perbedaan antara tindakan yang benar dan salah atau baik dan buruk’5. Sedangkan, secara psikologis moralitas memiliki definisi yang cukup kompleks yang terdiri dari kemampuan untuk membedakan hal yang benar dan salah, kemampuan untuk bertindak sesuai penalaran benar dan salah tersebut, serta munculnya kebanggaan saat kita melakukan hal yang baik dan rasa bersalah atau malu saat kita melakukan sebaliknya6. Atau dengan kata lain, moralitas sangat mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang. Contohnya pada saat seorang siswa tidak bisa mengerjakan soal ujian, moralitas siswa tersebutlah yang akan menentukan apakah dia akan mencontek temannya atau tetap jujur. Demikian juga, pada saat seorang pejabat membutuhkan uang, apakah dia akan melakukan upaya korupsi atau tidak.

Pembentukan moral terjadi sejak usia yang sangat dini, melalui berbagai pengalaman sosial, terakumulasi selama bertahun-tahun, sehingga anak memahami dan terjadi internalisasi nilai moral dan standard6. Karena itulah, pada masa-masa ini, kita harus mulai mengajarkan nilai-nilai kebaikan melalui interaksi sehari-hari. Misalnya, “Jangan Ganesh, itu kan punya Bina…” Dari interaksi tersebut kita mengajarkan mengenai kepemilikan dan bahwa merampas barang milik orang lain adalah sesuatu yang salah. Selanjutnya, sesuai kemampuan penalaran anak, kita dapat mengajarkan nilai-nilai yang lebih kompleks. Misalnya menghormati orang lain, mencintai sesama, kejujuran, dan sebagainya. Dimana nilai-nilai kebaikan ini dapat diajarkan dalam perilaku sehari-hari; seperti tidak menyerobot antrian, membantu teman yang sedang sakit atau mengaku bila melakukan kesalahan. Selanjutnya, setelah nilai itu tertanam dalam diri anak, maka itulah yang akan digunakannya sebagai referensi untuk bertindak dan mengambil keputusan kelak.

Kenyataan bahwa konsep benar dan salah atau moralitas adalah sesuatu yang dibentuk dari berbagai interaksi sejak usia kanak-kanak membuatnya menjadi sesuatu yang relatif. Yaitu tergantung lingkungan yang mempengaruhi seorang individu. Bisa jadi orang-tua, tetangga, teman-teman, guru, orang dewasa lain sampai dengan media cetak maupun elektronik yang dikonsumsi selama perkembangan individu tersebut. Disinilah yang kemudian membuat nilai moralitas kadangkala berbeda pada berbagai negara dan budaya. Dan itu pulalah yang menjadi tantangan bagi pemerintah untuk merubah paradigma yang sudah tercipta terhadap berbagai hal, khususnya penggunaan bahan bakar. Masyarakat kita selama ini sudah terbiasa menggunakan Premium, dan menganggap bahwa tidak ada yang salah dengan hal itu. Maka dari itu, sesungguhnya tugas kita dan pemerintah adalah bagaimana menciptakan kesadaran akan nilai moral dalam filosofi penggunaan Pertamax.

Sasaran dari pengubahan paradigma dari menggunakan Premium ke Pertamax memang para konsumen bahan bakar, yaitu masyarakat remaja dan dewasa. Untuk itu dilakukanlah kampanye penggunaan Pertamax yang dilakukan saat ini, seperti sosialisasi melalui media sosial, media cetak maupun elektronik, dan sebagainya sampai dengan kebijakan kewajiban penggunaan Pertamax untuk kendaraan BUMN. Namun, yang tidak boleh dilupakan adalah kampanye pada 'masyarakat kecil' (anak-anak) kita. Karena meskipun dampaknya tidak akan langsung terasa, karena mereka baru akan menjadi konsumen bahan bakar beberapa tahun kedepan; namun pada masa anak-anak inilah kita memiliki kesempatan yang besar untuk membentuk moralitas mereka. Kita memang belum tahu akan seperti apa kebijakan penggunaan bahan bakar di negara kita nantinya, bisa jadi beberapa tahun kedepan subsidi sudah sangat diminimalkan atau bahkan dihilangkan. Namun, tetap tidak ada salahnya mengedukasi anak-anak sejak dini akan nilai-nilai positif dari filosofi penggunaan Pertamax sebagai berikut:
  1. Mencintai sesama. Dengan menggunakan Pertamax, kita secara tidak langsung sudah membantu supaya dana subsidi hanya diberikan pada masyarakat yang membutuhkan. Disinilah letak nilai mencintai sesama tersebut.
  2. Rela berkorban. Kita semua tentu tahu bahwa harga Pertamax jauh lebih tinggi dari Premium, kurang lebih tiga kali lipatnya. Artinya, orang yang bersedia membayar harga tersebut adalah orang yang rela berkorban untuk sesama dan pembangunan bangsa.
  3. Kecintaan pada negara. Premium yang nota bene merupakan bahan bakar bersubsidi merupakan satu bentuk bantuan pemerintah kepada masyarakat kurang mampu. Bayangkan jika, masyarakat kelas menengah keatas sudah cukup sadar untuk menggunakan Pertamax, tentu anggaran untuk keperluan ini bisa dialihkan ke sektor lain. Misalnya untuk pemerataan fasilitas pendidikan di pelosok negeri.
Lalu bagaimana treatment yang tepat untuk menanamkan nilai kebaikan penggunaan Pertamax pada anak-anak ini? Tentu kita tidak bisa memperlakukan mereka sama dengan masyarakat remaja ataupun dewasa, karena memang tingkat penalaran yang berbeda. Supaya lebih efektif, penanaman nilai kebaikan dalam penggunaan Pertamax dapat dilakukan dengan media yang menyenangkan bagi anak-anak; yaitu:
  1. Cerita pendek, cerita bergambar, komik maupun film dengan muatan nilai-nilai kebaikan dalam penggunaan Pertamax.
  2. Diskusi interaktif di sekolah-sekolah yang dibuat seringan dan semenyenangkan mungkin sehingga anak-anak tertarik dan terhibur. Bisa juga menggunakan media boneka untuk mendongeng dan sebagainya.
  3. Mengadakan lomba menulis sederhana untuk anak, misalnya dengan tema ‘Mengapa Aku Memilih Pertamax’.
Contoh Cerita Pendek untuk Menjelaskan Perbedaan Premium dan Pertamax pada Anak-Anak

Melalui cara-cara di atas, kita akan bisa sedikit demi sedikit menanamkan kesadaran pada anak-anak bahwa menggunakan Pertamax adalah sesuatu yang baik. Dampak keberhasilan penanaman nilai kebaikan dalam menggunakan Pertamax mungkin tidak berpengaruh pada pola konsumsi bahan bakar di Indonesia dalam waktu dekat. Namun hal itu akan menjadi aset yang sangat berharga di masa depan; bersama nilai kebaikan yang tertanam di dalamnya seperti mencintai sesama, rela berkorban dan kecintaan pada negara. Sehingga Indonesia akan menjadi bangsa yang jauh lebih baik dan besar dimasa depan. 

Jadi, mari kita gunakan  Pertamax dan ajarkan kebaikan untuk anak-anak kita. Better Life with Pertamax for Better Indonesia!

*tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #ApaIdemu pada http://pertamina-apaidemu.com/@PertamaxInd dan Facebook Page PertamaxIND

Struk Pembelian Pertamax 15 Liter

With Love,
Nian Astiningrum

Referensi:
  1. PertaminaRetail.com. (2013). Bisnis Fuel Retail PT. Pertamina Retail: Produk. http://web.pertaminaretail.com/Profile/Business/1#tab2. Diakses tanggal 26 Desember 2013.
  2. Motorku.info. (15-02-2013). Apa sih Perbedaan Premium, Pertamax dan Pertamax Plus? http://www.motorku.info/apa-sih-perbedaan-premium-pertamax-dan-pertamax. Diakses tanggal 26 Desember 2013.
  3. HarianJogja.com. (05-11-2013). Jumlah Pengguna Pertamax Naik 20%. http://www.harianjogja.com/baca/2013/11/05/jumlah-pengguna-pertamax-naik-20-462714. Diakses tanggal 23 Desember 2013.
  4. CPI.Transparency.org. 2013. Ideographics: Visualising The Corruption Perceptions Index 2013. http://cpi.transparency.org/cpi2013/infographic/. Diakses tanggal 13 Desember 2013.
  5. OxfordDictionaries.com. 2013. Definition of Morality in English. http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/morality. Diakses tanggal 20 Desember 2013.
  6. Sigelman, C.K. & Rider, E.A. 2012. Life-Span Human Development, Seventh Edition. Canada: Wadsworth.

15 comments:

  1. Yang saya tahu pertamax harganya lebih mahal karena tidak mendapat subsidi dari pemerintah.

    Salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. salah satu kenapa mahal memang karena tidak disubsidi pemerintah mas Indra, tapi karena kualitasnya juga lain, biaya produksinya juga pasti lain..
      Makasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Kalau saya sih, cenderung mikir agak berat ngeluarin duit hampir 2 kali lipat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama.. dulu waktu SMA sampe kuliah juga pake bensin aja, beli Pertamax seminggu sekali aja.. Uang sakunya ngepas soalnya.. Sekarang kalau kebetulan merasa longgar, insyaallah beli Pertamax :D

      Delete
  3. hihihi aku juga ikut mak...lebih g nyambungan aku wkwkwk
    gutlak ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. iya, kita pede aja ya mak :D
      Sama-sama.. sukses yaa ^_^

      Delete
    2. makasih mak Suria Riza.. alhamdulillah.. ^_^
      mak, semangat nulis terus, next time insyaallah giliran mak menang ;)
      *masih excited sampe sekarang :D

      Delete
  4. kalau aku sih sering pakai Pertamax waktu pertama-tama kali dulu ngeblog...kalau bisa buat komentar pertama di blog orang pasti PERTAMAX dulu...hehehehe..btw semoga sukses mengikuti kontesnya, postingannya bagus dan bernas sesuai standard 5 W 1 H... ciyusss :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas Yoswa, amiin doanya.. seneng sekali dikomentarin begitu sama orang yang berkecimpung di bidang jurnalistik.. :D

      Delete
  5. suami saya motornya setiap tiga hari sekali memang diisi pertamax, dan saya ngrasain sendiri, halusnya beda, lebih halus kalau pake pertamax (jalannya maksudnya). Kenapa lombanya untuk anak-anak? Kan mereka belum bisa beli pertamax?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. disini saya menyoroti edukasi moral pada anak-anak, terutama melalui filosofi penggunaan Pertamax.. Memang efeknya pada konsumsi Pertamax masih nanti beberapa tahun kedepan, tapi nilai moral yg tertanam adalah aset yg sangat berharga di masa depan.. Membayangkan mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi dengan moralitas yg tinggi, pasti Indonesia semakin sehat dan jaya..
      Treatment untuk orang dewasa, seperti lomba untuk kita juga penting, hanya tidak menjadi fokus di tulisan ini :)
      Makasih udah mampir Mak ^_^

      Delete
  6. Yang saya tau dari pertamax itu cuma BBM yang tidak di subsidi dan enak aja kalau dipakai motor...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas Adit.. karena rasanya beda, pasti kualitasnya juga beda.. Kalau memang memungkinkan, pasti lebih menguntungkan pake Pertamax.. motor lebih awet, dan juga mengurangi subsidi pemerintah.. Ngeri juga kalo baca subsidi BBM pemerintah yang terus membengkak, apalagi sejak Indonesia mulai import BBM :(

      Makasih sudah mampir mas :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...