Monday, January 27, 2014

Berkenalan dengan TORCH & Rumah Ramah Rubella

ToRCH memang sepertinya bukan kata yang familiar bagi banyak orang, termasuk saya sekitar 3,5 tahun yang lalu. Sebelumnya, saya hanya mengenal Toxoplasma yang seringkali diceritakan oleh orang-orang sebagai penyebab infertilitas, keguguran dan cacat pada janin. Bahkan, menurut mereka, sekali kita terkena virus ini, maka akan menetap selamanya. Hmm, OK… then and let me introduce myself, seorang gadis muda yang pada masa kanak-kanak sampai dengan remaja bersahabat baik dengan makhluk kecil, lucu dan berbulu bernama ‘kucing’, yang nota bene adalah pembawa virus ini. Wew, artinya jika saya memang sudah terkena virus ini, berarti saya seterusnya akan memiliki kemungkinan yang besar untuk mendapatkan dampak negatif darinya ya… Duh :(. Dan saat itulah, saya pun bertekad bahwa sebelum menikah harus memeriksakan diri ke dokter tentang keberadaan virus ini!

Dan kemudian, akhir bulan Juni 2010 akhirnya saya benar-benar mendatangi sebuah laboratorium klinik di Yogyakarta untuk memeriksakan adanya virus Toxo dalam tubuh saya. Hanya beberapa hari sebelum saya melaksanakan akad nikah pada tanggal 5 Juli 2010. Hari itu, saya datang ditemani adik saya dan dengan kalem saya berkata pada petugas, “Mbak saya ingin test Toxo…”. Iya, saat itu saya belum mengerti istilah ToRCH dan bahwa Toxoplasma hanyalah satu dari empat virus yang berpengaruh fatal bagi kehamilan. Baru setelah mbak petugas itu menjelaskan mengenai paket Test ToRCH yang merupakan singkatan dari Toxoplasmosis (Toxoplasma gondii), Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes simplex virus1, saya mengerti dan akhirnya mengambil paket test tersebut. Harganya? Mahal itu memang relatif, tapi bagi saya menerima lamaran mendadak dan mempersiapkan pernikahan dalam waktu singkat, uang satu juta lebih sedikit itu terasa cukup membuat keuangan semakin mepet. Dan sukses menghabiskan sisa limit kartu kredit yang sudah menipis untuk membeli keperluan lain ×_×. Tapi, sekali lagi, tanpa bermaksud hitung-hitungan, uang itu sungguh tidak sebanding dengan akibat pada janin jika kita benar-benar memiliki virus ToRCH aktif bukan?

Beberapa hari kemudian, sebagaimana waktu yang dijanjikan pihak laboratorium klinik untuk mengambil hasil test, saya pun datang kembali. Walau sudah meyakinkan diri bahwa jika pun positif terinfeksi, pasti ada cara untuk menanggulanginya, namun tidak bisa menghilangkan kegundahan hati saya. Waktu itu memang saya belum mencari informasi lebih jauh tentang ToRCH. Tahun 2010, seingat saya koneksi internet belum semudah sekarang, dimana kita tinggal memanfaatkan gadget untuk mencari informasi (atau saya yang masih belum melek teknologi ya :D).

Dan ternyata, hasil test itu menunjukkan beberapa nilai positif pada IgG Toxoplasmosis, Rubella dan Cytomegalovirus, sedangkan IgM-nya negatif. Duh, apa maksudnya ini? Baru kemarin sedikit mengetahui apa itu ToRCH, sekarang ada IgG dan IgM. Saya pun berkonsultasi dengan dokter jaga laboratorium untuk mendapatkan penjelasan mengenai hasil test saya. Dan dia pun menjelaskan bahwa IgG2 itu menandakan adanya infeksi yang pernah terjadi, tapi dia tidak bisa menjelaskan apakah ini kondisi yang aman jika saya hamil. Dia menganjurkan saya untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter kandungan.

Hasil Laboratorium Tes TORCH Saya
Diterima tiga hari sebelum akad nikah :D

Monday, January 13, 2014

Nagasari ‘Pudding Monster’

Game Pudding Monster
© ZeptoLab UK Limited
Gambar diambil disini

Pertama kali melihat game ini berasa aneh saja dengan bentuknya yang menurut saya sama sekali tidak lucu dan ditambah suaranya yang sangar. Tapi gara-gara suami penasaran, akhirnya ter-instal-lah si Pudding Monster ini di hape saya dan menjadi salah satu games kesukaan Ganesh. Baiklah, selanjutnya saya tidak akan bercerita tentang bagaimana trik supaya Ganesh tidak terpaku dengan games di hape yang memang harus diakui sangat adiktif. Tapi saya ingin bercerita tentang Nagasari, makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari tepung beras dan pisang yang saya modifikasi sedikit untuk menu sarapan Ganesh.

Sebagai wanita yang lumayan awam soal masak-memasak, saya pun mengadopsi resep Nagasari hasil googling dari justtryandtaste.com. Hanya saja saya skip beberapa bahan,(yaitu vanila dan tepung tapioka) karena tidak punya persediaan. Selain itu saya juga tidak menggunakan garam maupun gula pasir, namun diganti dengan keju dan pisang yang lebih banyak. Oh ya, untuk santan juga saya ganti dengan susu UHT, supaya lebih praktis dan sehat. Untuk kemasan sendiri saya menggunakan mangkuk stainles, karena kesulitan mencari daun pisang (apalagi pagi-pagi ya…:D). Dan keseluruhan resep Nagasari ala Mama Ganesh ini menjadi seperti ini:

Thursday, January 9, 2014

Bukan Anak Bawang (Lagi)

Ganesh Sibuk Mencari Mulut Si Sepeda

Pada suatu hari, seperti biasa ada saja hal unik yang dilakukan Ganesh. Kali ini dia sengaja memasukkan sepeda roda tiganya ke saluran air di belakang rumah, sehingga terjadilah percakapan ini:
Saya
:
“Ganesh, kok sepedanya dimasukin ke parit? Nanti rusak lho…”
Ganesh
:
“Biarin aja…”
Saya
:
“Nanti kalau sakit gimana sepedanya? Nanti nangis lho sepedanya… Kakak Anesh, sepeda sakit nih, gimana ini masuk ke parit kaya gini…” (berpura-pura menjadi sepeda).
Ganesh
:
“Mana mulutnya yang nangis?”
Saya
:
“Ada, coba cari di depan deh…” (Tidak menyangka Ganesh akan bertanya seperti itu)

Fiuhh, anak-anak memang seringkali mengejutkan. Rasanya kemarin-kemarin Ganesh masih percaya-percaya saja apa yang kami katakan. Misalnya saat memintanya minum air putih setelah makan:
Saya
:
“Ganesh, minum air putih dulu yuk…”
Ganesh
:
“Nggak jadi!” (Nggak jadi = nggak mau)
Saya
:
“Nanti kalau habis makan ga minum air putih, bisa batuk-batuk lho…”
Ganesh
:
“Uhuk… uhuk… tuh kan, batuk beneran…” (Katanya sambil pura-pura batuk dan akhirnya meminum air putihnya)

Tak terasa, Ganesh memang sudah besar. Usianya sudah 2 tahun 6 bulan pada Desember 2013 ini. Sekarang, semua tidak pernah semudah itu lagi. Sekarang kami harus lebih sabar menjelaskan segala sesuatu dengan lebih detail dan masuk akal supaya Ganesh bisa terima dan ‘takluk’. Atau bahkan, terkadang kami harus bernegosiasi dengan memberikan timbal balik yang diinginkannya agar dia mau melakukan sesuatu. Atau berbagai cara lain agar kata-kata ngeyel dan kritis seperti, “Biarin aja!” atau “Coba dulu Mama!” bisa berakhir dengan ‘perdamaian’. Rasanya, sekarang dia lebih menuntut penjelasan jika seseorang memintanya melakukan sesuatu. Jika penjelasan itu bisa diterima, maka dia akan melakukannya. Jika tidak, maka “Aku lakukan yang aku mau dengan cara yang kuinginkan!” Sesuatu yang cukup memeras otak dan emosi ternyata, karena memberikan penjelasan yang bisa diterima akal anak seusia Ganesh memang seringkali bukan sesuatu yang mudah.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Seiring bertambahnya usia dan makin dewasa seorang anak karakter dan kepribadiannya pun tampak semakin nyata. Saya jadi ingat, dulu semasa berumur kurang dari sebulan, suami saya bilang kalau Ganesh kelihatannya cool alias anteng dan tidak banyak tingkah. Iya, memang begitulah Ganesh waktu itu, sangat tenang. Tidurnya teratur, tanpa rewel sebelumnya, apalagi nangis tengah malam seperti yang selalu saya lakukan semasa bayi dulu. Tapi lama kelamaan, ucapan suami itu benar-benar hanya menjadi kenangan lucu, karena perlahan Ganesh berubah menjadi anak yang begitu banyak tingkah dan banyak bicara. Nah dari sini sudah kentara sekali kalau anak ini adalah seorang ekstravert sejati, sama sekali berbeda dengan mamanya yang seorang introvert sejati :D

Istilah ekstravert dan introvert (ekstraversion dan introversion) sesungguhnya menunjuk pada suatu kontinum, seperti halnya ‘panas’ dan ‘dingin’ yang menunjuk pada satu karakteristik, yaitu ‘suhu’. Istilah ‘panas’ digunakan untuk menunjuk suhu yang tinggi dan sebaliknya, istilah ‘dingin’ digunakan untuk menunjuk suhu yang rendah. Menurut seorang Cattell melalui alat tes yang dikenal dengan 16PF, ekstravert dan introvert adalah kecenderungan seseorang untuk mendekati interaksi dengan orang lain atau sebaliknya menjauhinya. Bahasa simpel dan ekstrimnya sih, senang berinteraksi dengan orang lain (ekstravert) atau justru menjauhi dan lebih senang menyendiri (introvert)1.

Karakteristik ekstravert ditandai dengan serangkaian sifat hangat, suka berteman, mengungkapkan pikiran dan pendapat pada dunia luar, menyukai aktivitas, menyukai hal-hal yang menimbulkan semangat dan didominasi oleh emosi yang positif2. Kalau menurut saya, karakter ekstravert ini adalah modal besar bagi seorang anak untuk terlihat ngeyel, banyak bertanya dan banyak tingkah. Yaitu karena anak-anak ini modelnya ceplas-ceplos, apa yang dipikirkan ya diungkapkan. Tidak seperti anak-anak introvert, yang mungkin sebenarnya memiliki pemikiran sama, tetapi tidak diungkapkan. Ini juga salah satu penyebab mengapa anak yang ekstravert kemampuan bahasanya lebih berkembang.

PERKEMBANGAN KOGNISI
Ganesh dan Menara Buatannya

Selain disebabkan karena aspek kepribadian, perilaku Ganesh yang ngeyel dan kritis juga didukung oleh perkembangan penalarannya. Ganesh yang semakin bertambah usia tentu semakin dewasa dan semakin bertambah pemahamannya akan segala sesuatu. Perilaku yang menunjukkan kemampuan penalarannya misalnya sebagai berikut:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...