Wednesday, May 21, 2014

Berdamai dengan Si Berlian yang ‘Keras Hati’ dan ‘Keras Kepala'

Malam itu, saya duduk terdiam di kursi depan kamar tidur Ganesh… Bukan tanpa sebab, hari itu saya kembali merasa gagal sebagai seorang ibu, karena ini adalah kesekian kalinya kerasnya kepala saya beradu dengan kerasnya kepala Ganesh. Umurnya baru akan menginjak 3 tahun pada 24 Juni 2014 ini, tapi cetak biru kekerasan hati dan kepalanya sudah terasa begitu nyata. Sifat yang beberapa kali sukses membuat saya kehilangan segala macam rencana sikap dan teori pengasuhan yang sudah saya niatkan. Hingga akhirnya, perpecahan pun tidak dapat dielakkan; Ganesh ngotot dengan apa yang diinginkan dan dipercayainya, sementara saya merasa frustrasi karena gagal menjelaskan dan membujuknya hingga akhirnya berkata dengan tidak kalah keras, “Ya udah, kalau Ganesh maunya begitu, Mama ga mau ikut main!” Duh, please, jangan ditiru ibu-ibu semua, ini benar-benar sesuatu yang bukan hanya tidak benar untuk dilakukan, tapi juga tidak efektif! Karena nyatanya, Ganesh tetap kukuh dengan pendiriannya tuh, sementara saya hanya makin frustrasi karena tidak berhasil membujuk disertai rasa sesal dan gagal :(.

Tapi, merasa gagal saja tentu sama sekali bukan solusi! Daripada saya hanya larut dalam kesedihan, rasanya lebih bermanfaat bagi saya (dan juga teman-teman yang membaca) untuk kembali merumuskan bagaimana cara berdamai dengan anak-anak yang cukup ‘keras kepala’ (stubborn) dan juga dengan gengsi yang mengaduk-aduk emosi kita. Karena, katanya kan sesuatu yang lebih nyata akan lebih memberikan motivasi, jadi harapannya dengan saya menuliskan semua ini, saya akan lebih termotivasi untuk berusaha lebih keras! Berusaha lebih keras tidak terpancing untuk beradu ‘keras kepala’ dengan Ganesh dan bisa melakukan respon yang lebih baik untuk kami berdua. Amin :).

Ganesha si ‘berlian ceria’ kami :D
Alasan kami menyebutnya seperti itu di bawah ini :P

***

Ganesh itu, memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, setiap kali menemukan fenomena yang menarik, pasti dia ingin mengetahui seluk-beluknya sampai dia benar-benar paham. Misalnya nih, dia melihat kupu-kupu terbang, maka dia akan bertanya, “Kok bisa terbang?” Nah, kalau pertanyaan seperti ini sih penjelasannya cukup mudah, “Kan dia punya sayap, Anesh…”, selesai kan :D. Tapi beda lagi kalau tanyanya seperti ini:

Ganesh
:
“Kok hujan Mama?”
Saya
:
“Iya, kan di awan ada airnya”
Ganesh
:
“Kok ada airnya Mama?”
Saya
:
(Mulai mengkerutkan dahi) “Iya, kan di tanah itu ada macem-macem air Ganesh, nah, air itu kalau kepanasan kena sinar matahari akan jadi asap, terus naik ke atas, ngumpul deh di awan…” (Berharap dia cukup puas dengan jawaban ini).
Ganesh
:
“Kok jadi aseeeepppp?!!” (Duh, ini tanda-tanda jawaban saya kurang memuaskan dan dia masih butuh penjelasan).
Saya
:
(Baiklah Ganesh, mari kita memasak air dengan panci untuk membuktikannya :D)

Nah, kalau setting-nya seperti itu, keliatan kan ‘keras kepala’-nya si Ganesh? Alias ngotot ingin dijelaskan sampai dia benar-benar mengerti. Rasa ingin tahu memang sesuatu yang positif, dan saya pun berusaha keras untuk memuaskannya. Kadang memang cukup membuat dahi berkerut dan tidak sabar, tapi ini tipe keras kepala paling ringannya.

Ganesh itu, ingin melakukan semua SENDIRIAN! Misalnya nih, pada saat dia membongkar rak bagian bawah dispenser dan mencoba memasangnya sendiri. Dia kelihatan kesulitan dan saya pun melihat bahwa permasalahannya adalah dia memasang rak terbalik! Saya coba jelaskan dengan lembut, “Ganesh, coba deh dibalik…” Masih tetep dia ngotot dan berkata, “Enggaaakkk!” Lagi dia coba, sampai dinding rak yang terbuat dari plastik itu sedikit ringsek, sementara saya masih mengamati dengan penampakan se-cool mungkin walau hati mulai menyesalkan kekerasan kepalanya. Lagi saya coba, “Mama bantu ya Anesh, kalo seperti itu tidak bisa…” (sambil mencoba mengarahkan tangannya, yang ditolaknya mentah-mentah). “BISAAAA!!!” teriaknya, sambil memaksakan si rak masuk '_'.

Posisi rak yang saya maksud

Nah, kalau yang seperti ini nih, level lebih tinggi keras kepalanya Ganesh, lumayan menguras hati, apalagi kalau kita sedang dalam kondisi fisik dan psikis yang kurang mendukung (lapar, kurang tidur atau menjelang datang bulan misalnya :D). Dan selain itu, tentu ada setting-setting lain yang lebih menantang dan menguras perasaan, misalnya di tangga eskalator minta naik sendiri dan berkali-kali, disertai dengan tangisan bila dipaksakan tidak dituruti. Terbayang kan tension-nya, di keramaian anak ngotot mau naik eskalator sendiri, dilemanya antara malu dilihat orang membuat menangis anak, sementara jika dituruti itu sangat-sangat berbahaya! Duh Gusti, paringono sabar sing akeh banget (ya Allah, berikanlah kesabaran yang banyak) '_'.

***

Sifat keras kepala anak tentu adalah ujian tersendiri bagi setiap orang-tua, tapi berita baiknya, di balik sifat ini sesungguhnya tersimpan ‘berlian’. Sifat keras kepala atau penolakan anak untuk melakukan hal tertentu yang kita ajukan, merupakan pertanda adanya ‘kearifan’ (wisdom) dalam diri anak. Sesuatu yang membuatnya tidak mudah mengikuti kemauan orang lain yang tidak sejalan dengan ‘kearifan’ tersebut. Maureen Hayley, penulis buku ‘Growing Happy Kids’ sendiri menyebut ‘kearifan’ ini sebagai intuitive intelligence yang seringkali menghasilkan konflik dan gesekan pada saat seseorang (otoritas dari luar) berusaha mematahkannya.


Atau dengan kata lain, mereka sesungguhnya sama sekali bukan sekedar ngotot, ngeyel atau keras kepala. Mereka melakukan respon tersebut didasari pemahaman dan kepercayaan yang tinggi sesuai kapasitas mereka. Sesuatu yang tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang buruk, karena pada kenyataannya sifat dan sikap seperti ini memberikan peluang yang besar pada mereka untuk terus belajar dan memperoleh pengetahuannya sendiri daripada sekedar mempercayai ‘teori’ yang kita sampaikan kepadanya. Dimana sikap ini juga akan membuat mereka lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh sesuatu yang ‘tidak baik’ menurut mereka. Sehingga, tantangan kita sebagai orang-tua adalah bagaimana berdamai dengan sifat keras kepala anak ini dan tetap menanamkan hal positif dalam diri mereka.

***

Berdasarkan pengalaman sebagai seorang yang (katanya) juga keras kepala, mengamati perilaku Ganesh dan juga hasil membaca beberapa literatur, saya pun menyimpulkan bahwa pada dasarnya seorang anak yang keras kepala tidak efektif ‘dilawan’ dengan sikap ‘keras kepala’ juga. Atau dengan kata lain, usaha untuk ‘mematahkan’ keinginan anak adalah sesuatu yang tidak efektif, karena hanya akan menimbulkan konflik yang bisa jadi mempengaruhi psikisnya jika terus menerus terjadi (misalnya: semakin tidak mau mendengar pendapat orang lain). Karena itu, sikap ‘keras kepala’ ini harus diberikan respon sedemikian rupa sehingga membuat anak berubah pikiran dengan kemauannya sendiri tanpa dipaksa. Dan berikut adalah beberapa cara yang bisa diusahakan:

1. HINDARI SIKAP AROGAN
Adalah hal yang kita ketahui bersama bahwa sebagai orang-tua yang telah mengalami asam garam kehidupan, sudah pasti lebih berpengalaman dibanding anak kita. Namun, kata-kata yang terkesan memerintah atau menggurui tanpa penjelasan, yang menunjukkan arogansi kita sebagai individu yang lebih tahu, tidak akan mempan kepada ‘berlian-berlian’ kita. Bahkan reaksi yang akan kita dapatkan justru adalah penolakan yang lebih kuat dan intens. Demikian juga usaha mendisiplinkan dengan cara fisik (misalnya dicubit) hanya akan semakin menyakiti hatinya. Dan cara-cara mendisiplinkan anak dengan menunjukkan arogansi kita sebagai orang yang lebih tahu segalanya dan lebih kuat secara fisik, jika pun bisa, hanya akan meninggalkan kepatuhan yang sementara dan memupuk keinginan untuk mengalahkan. Sehingga saat dia tumbuh menjadi seorang yang lebih pintar dan kuat secara fisik, maka dia akan semakin ‘memberontak’ untuk mengalahkan kita.

2. BEKERJA SAMA
Daripada berusaha keras memerintahkan sesuatu yang nyata-nyata hanya akan memperburuk keadaan (anak semakin melawan dan bertahan dengan pendiriannya), kita bisa mencoba untuk bekerja-sama. Misalnya, pada saat kita menginginkan anak membereskan mainannya, seringkali kata-kata disertai tindakan seperti, “Ganesh kita beresin mainannya sama-sama yuk…”, jauh lebih efektif daripada sekedar kata-kata, “Ganesh, liat tuh mainannya berantakan, beresin dong!”

3. NEGOSIASI
Seorang anak dengan karakteristik ini memiliki kebutuhan yang besar untuk dihargai pendapatnya, maka dari itu, jangan langsung patahkan keinginan mereka, tapi bernegosiasilah. Misalnya pada saat anak meminta susu padahal sudah gosok gigi, dan ternyata usaha kita menasehatinya tidak mempan, maka kita bisa mencoba bernegosiasi dengan mengatakan, “OK, Ganesh boleh minum susu, tapi habis itu kumur-kumur pake air putih ya…”

4. MENJADI SOSOK YANG MENGINSPIRASI
Nah, kalau yang ini mutlak penting dan menurut saya adalah hal yang paling sulit, yaitu menjadi sosok yang bisa menginspirasi anak kita. Seorang anak dengan karakteristik ‘keras kepala’ sudah barang tentu akan menolak pendapat seseorang yang dinilainya tidak hebat, pintar atau cerdas menurut mereka. Karena itu, sebagai orang-tua kita harus membangun reputasi di depan anak. Caranya diantaranya adalah dengan bersikap tenang dan bijaksana, berkata jujur, sabar menjelaskan, dan sebagainya. Dalam hal ini, selain berusaha membuktikan bahwa kita adalah orang-tua yang cerdas, kita pun harus membuktikan bahwa kita mencintai dan mempedulikannya.


***

Bagaimana menurut teman-teman? Kalau menurut saya sih, keempat langkah tersebut akan lebih efektif untuk bisa berdamai dengan ‘berlian-berlian’ kita yang keras daripada bersikukuh mematahkan kepercayaan mereka. Iya, tentu saja melakukan keempat hal bukanlah hal yang mudah dan bahkan sangat sulit, tapi harus selalu kita usahakan, karena ibarat berlian, anak-anak yang ‘keras kepala’ ini bisa menjadi batu berharga yang mahal harganya jika diasah dengan tepat, atau justru pecah menjadi serpihan-serpihan kecil bila kita memukulnya terlalu keras.

Iya, memang menjadi orang-tua yang baik itu bukan perkara gampang '_'. Benar-benar menimbulkan rollercoaster emosi, ada kalanya rollercoaster itu membuat saya mual dan memuntahkan amarah kepada Ganesh, tapi ada kalanya saya tetap bisa memeluk hatinya’ meskipun terlempar naik dan turun :D. Dan semua ini, tidak sesederhana mengetahui apa yang harus kita lakukan, tapi juga bagaimana kita mampu mengelola hati (emosi) dan pikiran (logika) sehingga mampu melakukan tindakan yang membawa dampak positif bagi anak dan diri kita sendiri. Tidak mudah memang, tapi insyaallah kita bisa! :)

Apakah teman-teman merasakan hal yang sama dengan saya? :D

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Readings:
  1. Healy, M.D. (07-01-2013). The Highly Sensitive (and Stubborn) Child. http://www.psychologytoday.com/blog/creative-development/201301/the-highly-sensitive-and-stubborn-child. Diakses tanggal 20 Mei 2014.


16 comments:

  1. hmm.. kadang saya juga lihat di stasiun, mall atau di pasar ada anak yg keras kepala banget Mba, sampe ibunya kadang nyerah karna sudah kepepet ya.. dengan sedikit pemaksaan.
    Terimakasih sharingnya.. itu berguna juga untuk saya yg menghadapi anak2 orang lain setiap harinya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak Riski guru ya.. profesi yg keren sekali itu, mendidik anak-anak menjadi pribadi yg berkarakter itu sesuatu yg luar biasa keren dan mulia.. serta penuh tantangan juga tentunya :D
      Semoga bisa menjadi inspirasi Mak ;)

      Delete
  2. buah jatuh ga jauh dari pohonnya kali ya Mba. jadi teringat si Dapis. hix.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini Anna Maria yg satu angkatan sama Davis ya :D
      Hihi, mungkin juga begitu ya.. like father like son :D
      Makasih sudah berkunjung ;)

      Delete
  3. Makasih mak sharenya, saya suka ngga sabaran Kalo anak ngotot:)
    Ada award dari saya untuk mak Niam..silahkan dicek
    http://buahhatiayahbunda.blogspot.com/2014/05/the-liebster-award-dari-saya-untuk-kamu.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, tos, sama berarti kita, tapi tetep berusaha dan berusaha kan yak :D
      Sipp, saya terima tongkat estafetnya, insyaallah segera dikerjakan ;)

      Delete
  4. maaf ya baru comment skrg krn kmrn pkai hp adek jd susah mau comment....anak-anak memang unik dengan segala kekurangan dan kelebihannya...wkt anak sy dl kecil jg begitu...pertamanya sy jengkel mak..tp lama2 sy biarkan sj, krn mengingat usianya yg msh kecil dan usia segitu dunianya adalah dunia imajinasi, semua yg dia lakukan dan ucapkan adalah buah dari imajinasinya....sy biarkan apa yg dia inginkan sesuai dg dunianya dan dan sy melakukan sesuai aturan..pd akhirnya dia akan melihat yg nyata dan benar mana mak...mgkn tdk saat itu dia mengakuinya, tp disaat lain dia akan melakukan spt apa yg kt lakukan...peluk cium utk ganesh yg sukses bikin emaknya galau seralau....hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, kadang saya enggak sabaran mak.. kalo udah marah, jadi merasa bersalah banget '_'
      Makasih udah berkunjung kembali Mak.. feeling free untuk ngintip-ngintip lho Mak..
      Makasih juga sharingnya.. semoga saya bisa semakin sabar dan ga jatuh bangun lagi :D

      Delete
  5. Setuju mak, keras jangan di lawan dengan keras juga. Lawanlah dengan kelembutan dengan didahului pujian, coba beri saran, dan tanyakan pendapatnya. Selamat ber-roller coaster ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyup, bener banget Mak..
      Hehe, semoga saya bisa jadi ibu yang lebih baik ya Mak Indah :')

      Delete
  6. Hehe... tapi biasanya anak seperti ini akan luluh klo di lembutkan malah. Atau diberi penjelasan sebab dan akibatnya jadi dia akan puas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mak.. tapi ga sesederhana itu :D
      1. Meskipun penjelasan kita bener, tapi dia belum ada gambaran, pastinya dia akan nuntut dijelaskan lebih (pe-er-nya di menjelaskan dg sederhana)
      2. Meskipun dia sudah tahu, tapi belum merasakan, jadi tetap menolak (misalnya suruh gosok gigi, meskipun sudah dijelaskan dengan video dan contoh, tapi seringkali tetep kukuh, "Enggakkkk!" karena belum merasakan sendiri
      3. Dijelaskan pun, jika baginya si pemberi info tidak kredibel, dia ga akan lantas percaya.
      4. Etc. banyak faktor lain yg juga..

      Satu lagi, seorang anak yg sensitif dan keras kepala menurut saya memiliki kekerasan dlm dua hal, yaitu 'hati' dan 'kepala'..
      hati/perasaan: dia akan cenderung untuk kukuh mempertahankan pendiriannya, disini kerasa gengsinya gede :D.
      kepala/logika: dia tidak mudah puas/percaya dengan penjelasan kita..

      Setuju kan Mak :D

      Delete
  7. Postingannya mak bagus, saya suka :) berasa lagi baca artikel di website khusus parenting.. Wah, saya juga masih berjuang mak jadi ibu yang bijak, sabar dan lembut, gak mudah memang tapi seperti kata mak, insya Allah pasti bisa !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mak Arifah, tersanjung banget :D
      Saya memang hobi dengan pernak-pernik seperti ini Mak..

      Iya, jadi ibu yg baik memang tidak sederhana, tapi insyaallah selama ada kemauan kita bisa terus belajar dan berusaha ;)

      Delete
  8. waaa... saya punya 3 yang keras kepala, persis seperti saya... makasih share nya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama-sama Mak.. ini juga saya sekalian mengingatkan diri sendiri.. *kasusnya sama, saya keras kepala, anak juga ga jauh beda.. hihi '_'

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...