Thursday, May 8, 2014

Merancang Cita Rasa Anak (Menghindari/Mengatasi GTM)

Ganesh itu kecil, di usianya yang hampir 3 tahun, beratnya baru 10 kg saja. Berbeda dengan seorang temannya yang baru berusia 2.5 tahun tapi beratnya sudah 18 kg (sebut saja Riko). Duh, kadang kalau mereka berdua bermain bersama, ada perasaan iri juga dalam diri saya, hehe :D. Yah, tapi tidak terlalu berlebihan juga, karena kami (saya dan suami) sadar sepenuhnya kalau kami juga tidak terlalu tinggi besar (baca: mungil), tinggi saya hanya 153 cm dan suami 156 cm, hihi:D. Dan kenyataan betapa Ganesh sangat doyan makan (4 sehat), diimbangi dengan perkembangan kognitif yang baik dan aktifitas yang bejubel, itu cukup membuat kami tenang.

Lain lagi dengan Riko, ternyata papa-mamanya pun merasa iri dengan pola dan nafsu makan Ganesh. Riko memang tumbuh tinggi besar, karena faktor genetis (papa-mamanya tinggi besar :D) yang didukung dengan nutrisi yang memadai, namun nutrisi ini sebagian besar didapatkan dari susu dan makanan sampingan. Ya, Riko tidak terlalu suka makan makanan sehari-hari seperti nasi, sayur dan lauk, sehingga praktis minum susunya sangat kuat. Kadang saya berpikir lucu juga ya… membayangkan bagaimana kami iri dengan pertumbuhan Riko dan bagaimana papa-mama Riko iri dengan pola makan Ganesh. Ternyata memang benar istilah Jawa bahwa orang itu selalu sawang sinawang alias saling melihat satu sama lain. Apa yang orang miliki atau alami seringkali terlihat lebih baik atau nyaman daripada apa yang kita miliki atau alami.

Ganesh bahkan suka wortel mentah sebagai camilan!

Preferensi rasa dan pola makan itu tidak hanya penting untuk memastikan bahwa anak tumbuh dan berkembang dengan optimal, tapi juga untuk menjaga kesehatannya di masa depan. Kita pasti sudah banyak membaca berbagai artikel yang menyebutkan bahwa pola makan pada masa kecil dapat berlanjut hingga masa dewasanya. Misalnya saja menurut penelitian yang menyebutkan bahwa obesitas pada bayi dan anak, sekitar 26,5% akan berlanjut pada 20 tahun berikutnya, dan 80% obesitas pada remaja akan berlanjut hingga dewasa. Demikian juga dengan ‘susah makan’, ‘kecenderungan minat makan’ dan kebiasaan makan lainnya, hal ini saya rasakan sendiri cukup sulit dihilangkan hingga dewasa. Misalnya saja, kebiasaan sulit makan saya yang baru berhenti pada kelas 4 SD karena waktu itu saya mengalami sakit herpes dan ibu berinisiatif membohongi bahwa penyakit itu muncul karena saya susah makan :D. Atau hobi saya pada makanan manis, ahh, sampai sekarang saya masih sulit berhenti ngemil bila dihadapkan dengan kue-kue, coklat dan makanan manis lainnya. Padahal kita tahu sendiri, kebiasaan makan manis yang berlebihan bisa memicu berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas dan tingginya kadar glukosa. Demikian juga dengan rasa asin yang berasal dari garam akan memicu kenaikan tekanan darah, makanan berlemak yang dapat meningkatkan kolesterol dan banyak lagi. Sehingga kesimpulannya adalah membentuk preferensi rasa dan pola makan sehat pada anak itu penting, dan itulah yang kami usahakan pada Ganesh. 


Menurut penelitian yang disebutkan berbagai artikel, preferensi rasa pada bayi terbentuk mulai sejak dalam kandungan. Karena itu, mulailah kami memperhatikan apa yang saya konsumsi saat mengandung, yaitu dengan makan berbagai jenis makanan terutama sayur dan buah, dan menghindari makanan dengan rasa yang ekstrim (misalnya terlalu manis atu asin). Jadi sejak hamil, mulailah saya mengurangi konsumsi gula dan garam. Hal ini saya lanjutkan dengan tetap menjaga makanan selama memberikan ASI eksklusif pada Ganesh selama 6 bulan.

Selanjutnya, menginjak masa MPASI kami pun mengenalkan cita rasa asli berbagai makanan; mulai dari serelia, umbi-umbian, buah-buahan maupun sayuran, tanpa tambahan gula, garam dan penambah rasa lainnya. Hal ini kami lakukan sampai Ganesh berusia 1 tahun, dan setelah itu baru kami tambahkan gula, garam dan penambah rasa lainnya yang dibutuhkan. Bertahap, kami pun mulai mengijinkan Ganesh makan makanan manis maupun asin, namun masih sangat kami kendalikan, sehingga makanan yang mengandung penyedap rasa, terlalu manis atau asin masih kami hindarkan. Hmm, targetnya sih sampai Ganesh berusia minimal 3,5 tahun. Karena itu, hingga saat ini (Ganesh berusia 2 tahun 10 bulan), kami belum pernah mencicipkan permen, kue tart, coklat-coklat dan makanan manis sejenisnya padanya.

Kasihan Ganesh ya… beberapa orang mungkin berpikir seperti itu, tapi kenyataannya proses pembiasaan ini sama sekali tidak sulit. Karena kami tidak pernah memakan makanan-makanan yang dilarang tersebut, memberikan penjelasan yang bisa dipahaminya dan tentu saja konsistensi, Ganesh nyaris tidak tertarik dengan makanan-makanan itu. Beberapa kali memang menunjukkan keinginan untuk mencicip, tapi saat dilarang kemudian dijelaskan bahwa makanan tersebut bisa membuat bolong gigi, batuk dan sejenisnya; dia sama sekali tidak ngotot meminta dan segera melupakannya.

Selanjutnya, seiring pertambahan usia Ganesh, kami pun senantiasa berusaha mengatur proporsi makannya, yaitu menyeimbangkan konsumsi susu, snack/buah dan makanan pokok. Dalam hal ini, lagi-lagi konsistensi dan kedisiplinan kuncinya, seperti disiplin waktu makan dan mengurangi minum susu. Misalnya saja pada saat akan mengurangi konsumsi susu, kami sengaja menyembunyikan susu UHT-nya sehingga tidak mudah terlihat dan membuatnya ingin minum (susu). Pada saat dia meminta susu pun, kami berikan penjelasan sederhana, “Ganesh, susu itu kan makanan anak bayi, kalo Ganesh sudah gede minum susunya dikit aja… Sekarang minum air putih aja ya…” Kalau dia tidak mau, coba dijelasin lagi, kalau ternyata anaknya masih ngotot, ya akhirnya kami mengalah dengan syarat, “Tapi nanti habis minum susu, minum air putih ya…” Dan perlahan-lahan kebiasaan minum susunya mulai berkurang dari waktu ke waktu.

Tips Merancang dan Menjaga Nafsu Makan Anak
Ala saya

Nah, selanjutnya untuk tetap menjaga nafsu makannya, saya pun terus berusaha memvariasikan bahan dan menu makanan Ganesh, meskipun dia tidak sedang susah makan. Untuk itu, setiap pagi saya selalu membuatkan makanan-makanan sederhana yang berbeda demgan menu makan siang atau malamnya; entah itu nasi goreng, pasta, puding hangat, pancake dan sebagainya. Dengan bahan yang juga bervariasi, mulai dari nasi, tepung beras, pisang, pasta, kwetiau, bihun, jagung dan sebagainya. Di balik makanan-makanan ini, saya sisipkan juga cerita untuk membangkitkan minat dan kebanggaannya, misalnya dari penamaan; Nagasari Pudding Monster, Pasta Luigi, dan sebagainya. Penyajian dengan piring yang disukainya juga membantu, demikian juga dengan  membiarkannya mengambil nasi sendiri, membantu memasak dan memberikan komentar-komentar seperti, “Wah, Anesh belum nyampe ya tangannya ke meja… Makanya maemnya yang banyak ya, biar cepet tinggi…”

Namanya anak-anak, papa-mamanya sudah berusaha keras menjaga supaya dia memiliki nafsu makan yang baik, tetap ada kalanya Ganesh tidak mau makan, baik karena sedang sakit atau penyebab lainnya. Jika sudah demikian yah, kami berusaha menyisipkan nutrisi-nutrisi itu dalam bentuk yang bisa diterimanya. Misalnya dengan membuat puding jagung, puding nasi, bakpao ubi dan banyak lagi… Hasilnya tentu tidak instan dan kadang GTM (Gerakan Tutup Mulut) itu bertahan sampai beberapa hari, tapi dengan kesabaran, sikap tenang dan ketekunan, alhamdulillah GTM Ganesh selalu bisa teratasi.


Sejauh ini, usaha-usaha tersebut menunjukkan hasil yang sangat positif, Ganesh memiliki nafsu dan pola makan yang sangat membanggakan, walaupun badannya kecil imut-imut :D. Dikasih daging, ayam, ikan, belut, wortel, brokoli, labu siam dan kawan-kawan, semua dia mau. GTM pun sangat jarang terjadi dan bisa dipulihkan dalam beberapa hari. Ehm, tapi tentu saja tetap dia memiliki bahan makanan favorit seperti belut, telur, wortel, brokoli dan labu siam. Serta juga beberapa bahan makanan yang kurang disukai, seperti labu kuning dan kacang hijau. It’s OK, kadang makanan yang kurang disukai pun masih bisa kami akali dengan dicampur bahan makanan lain supaya tidak mencolok rasanya :D.

Lalu bagaimana dengan junior teman-teman? Apakah sudah memiliki preferensi rasa dan nafsu makan yang cukup bagus? Jika belum, mungkin pengalaman di atas bisa membantu, meskipun kami tidak bisa menjamin keberhasilannya. Hal ini karena pada dasarnya setiap anak dan orang-tua adalah unik, karena itu tidak ada satu cara manjur untuk semua kasus, dan yang bisa kita lakukan hanyalah terus berusaha, berusaha dan berusaha yang terbaik untuk anak kita. Tetap semangat! :D

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Readings:
  1. Redaksi Trubus. (2010). My Healthy Life: Kegemukan Pergi dan Tak Kembali. Jakarta: Trubus Swadaya.

11 comments:

  1. Mak... Keren bangeeet!
    Kebetulan aku juga mengelola banget soal rasa makanan ini karena aku pernah kegemukan. Diet, turun 11kg dan setelah itu nggak suka lagi makanan dengan rasa tambahan.
    Semoga aku bisa praktekkan hal ini juga ke anakku nantiiii :)

    Salam kenal juga, Maaaak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima-kasih..
      Amiiiin, semoga sukses dipraktekkan ke anak Eka nanti..:)

      Delete
  2. wahh... bagus sekali postingannya mak , izin share ya mak ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Makk..
      Monggo, silakan share, with pleasure, terharu saya ada yang share tulisan saya :)
      Semoga bermanfaat untuk banyak orang.. amiin..

      Delete
  3. Ternyata berpengaruh ya pola makanan dr kecil,ilmu bangeeet nih buat nanti, soalnya kebiasaan liat di daerah ini sih anak kecil dikasih makanan apa aja. permen yg manis2 yg asin2 --"
    Saya udah kegemukan duluan malah :(

    Suka deh kalau liat anak kecil suka makan sayuur :D biar kecil kan yg penting berisi maak yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. menurut pengalaman saya, sebenarnya anak-anak yang baru dikenalkan dengan makanan, sangat minimal kecenderungan menyukai rasa tertentu, artinya, diberikan rasa yg cenderung hambar pun dia mau.. karena itu, mendingan dibiasakan sejak dini makan makanan sehat..
      Saya juga sedikit kerepotan dg hobi makan saya, kegendutan sih enggak, tapi kolesterol itu sudah harus dikendalikan x_x

      Delete
  4. fitry susah makan..badannya jg kecil ya 11 kg lah di usia 2,8 thn ini....dia itu sukanya ice cream dan coklat selain susu...kalau makan nasi suka milih2...kadang anehnya nasi putih aja dia minta..pdahal mati2an saya ngasih ikan ttp aja ikan dibuang...kdg mau makan pake ikan dan sayur...pokoknya selera dia itu berubah2...makanya krn susah makan ya terpaksa deh klu dia mau ngemil kue dan ice cream yg berbahan susu dikasi aja... #tariknafas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup Mak.. saya cukup paham, derita orang-tua kalo anak susah makan, soalnya saya lihat sendiri adik saya susah bener makannya, padahal dia dulu kena flek paru-paru..
      Menurut saya, dalam situasi seperti itu, kita harus tetap sabar dan tekun mengolah makanan sampai menemukan, apa sih yang dia suka..
      Dulu, saya pernah coba bikin puding jagung (kan karbo juga tuh), puding nasi sampur pisang dll.. atau bisa juga coba bikin nugget Mak.. semoga ada yg cocok n pelan-pelan memperbaiki pola makannya :)

      Delete
  5. Seneng banget liat pola makan Ganesh... jarang2 ada anak kecil yg doyan sayur dan kurang doyan manis.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. alhamdulillah Mak.. sepertinya terbukti pada Ganesh teori-teori di buku itu.. pengalaman awal anak akan rasa sangat mempengaruhi preferensi rasanya :)

      Delete
  6. Wah terima kasih untuk resepnya... :)
    Saya Irham dari Greenpack, mau coba perkenalkan Kemasan Makanan food grade yang cocok digunakan untuk segala jenis makanan. Jika berkenan bisa kunjungi web saya di http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...