Tuesday, May 6, 2014

Pre-Menstrual Syndrome yang 'Mengacaukan' Mood Menjelang Datang Bulan

Dulu, saya tidak sepenuhnya setuju jika seorang wanita bisa menyalahkan datang bulan atas rollercoaster emosi yang dialaminya menjelang kedatangannya setiap bulan. Karena kenyataanya (dulu) saya tidak merasakan perubahan emosi yang berarti saat menjelang datang bulan. Yah, kalau dulu sih hal yang paling saya rasakan menjelang datang bulan adalah sakit perut dan pinggang yang sangat bahkan sampai muntah jika dipaksakan untuk beraktifitas berat. Oh ya, dan jerawat yang mendadak muncul :D, dan khusus yang satu ini sesekali masih terjadi sampai sekarang. Tapi bagaimana masa-masa menjelang datang bulan merubah saya menjadi makhluk yang emosional, hmm, saya tidak menyadarinya sampai akhirnya menikah :D.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa perubahan status membuat emosi saya berubah. Tapi, mungkin dulu saya tidak pernah menyadarinya karena tidak ada orang yang cukup 'dekat' dan terganggu sehingga sangat merasakan imbas dari fluktuasi emosi yang saya alami, yaitu suami dan anak saya tentunya :D. Yah, kalau dulu tinggal dengan Bapak dan Ibu, saya merasa memang sering dikomplain, jadi tidak terlalu saya masukkan dalam hati. (Bapak, Ibu… mohon maafkan anakmu ini ×_×).

So, singkat cerita, selama hampir 4 tahun pernikahan dan hampir 3 tahun Ganesh hadir dalam kehidupan kami, ternyata hampir setiap bulan saya mendapat komplain dari mereka berdua. (Hmm, kalau Ganesh tentu setelah cukup besar dan nalar ya…). Komplain suami tentu saja seputar perangai saya yang mendadak menjadi sangat sensitif; dikit-dikit marah, dikit-dikit nangis… sampai cuma diingetin soal makan coklat saja bisa jadi drama yang mengharu biru, hihi :D. Dan Ganesh pun punya cara komplainnya sendiri, mungkin karena menganggap saya menjadi kurang sabar atau semacamnya, hingga dia langganan lebih memilih main dengan papanya setiap saya akan mendapatkan tamu bulanan ×_×. Dan setelah berkali-kali terjadi, akhirnya saya benar-benar menganggap masalah pre-menstrual syndrome dan fluktuasi emosi menjelang datang bulan ini adalah 'sesuatu' hingga perlu dipahami dan dicatat solusinya. Here it is

Seperti yang sudah kita ketahui, Pre-Menstrual Syndrome (PMS) adalah sekumpulan simtom (gejala) yang muncul menjelang datang bulan seperti mood yang berubah-ubah (mood swings), payudara terasa kencang, keinginan makan yang sangat (food craving), kelelahan, lebih sensitif dan depresi. Yah, tentu saja tidak semua wanita mengalami semua gejala ini, tapi penelitian menyebutkan bahwa 3 dari 4 wanita mengalami satu atau beberapa dari gejala tersebut. Jadi, mungkin karakteristik PMS wanita satu dengan yang lain tidak sama. Ada yang mendadak jadi emosional saja, ada yang hanya merasa payudara mengencang, dan sebagainya. Dan bahkan ada juga wanita yang sama sekali tidak merasakan PMS setiap datang bulan! Hmm, betapa beruntungnya mereka :D. Masih menurut penelitian, ternyata masalah PMS ini secara umum mencapai puncaknya pada saat seorang wanita menginjak usia 20 tahun hingga usia 30 tahun. Hmm, saya jadi berpikir, jangan-jangan faktor ini yang membuat PMS terasa cukup berat bagi saya sejak menikah (25 tahun) hingga sekarang (29 tahun), hihi :D.

Pre-Menstrual Syndrome
Sumber dari sini

Yang saya tahu selama ini, PMS memang suatu hal yang alamiah terjadi karena adanya perubahan hormonal dalam tubuh wanita. Dan menurut sumber yang saya baca, hal itu memang benar diduga menjadi pemicu dan memperburuk PMS bersama penyebab-penyebab lain, yaitu perubahan kimiawi dalam otak, depresi, stress dan kebiasaan makan yang buruk. Hmm, kalau faktor hormonal dan perubahan kimiawi di otak tentu kita tidak bisa berbuat banyak, tapi kita masih bisa berusaha mengurangi sampai dengan menghilangkan PMS dari tiga faktor lainnya. Yang paling konkret adalah mengenai kebiasaan makan yang buruk, tentu bisa kita atasi dengan mulai memperhatikan dan memperbaiki pola makan kita. Kalau biasanya kita sering makan tidak teratur, ya sekarang kita mulai untuk makan lebih teratur. Demikian juga dengan apa yang kita makan, dengan memastikan asupan makanan kita seimbang dan sehat kemungkinan besar bisa membantu mengatasi PMS kita.

Nah, beranjak ke faktor yang lebih sulit, yaitu depresi dan stress, maka kita harus pandai-pandai ‘menyelesaikan masalah’ yang kita hadapi sebelum akhirnya menjadi blunder bagi diri kita sendiri. Menyelesaikan masalah sendiri sesungguhnya tidak melulu berarti menyelesaikan si penyebab permasalahan, tapi bisa juga dengan menyelesaikan permasalahan dengan hati kita sendiri. Misalnya, pada saat kita merasa marah karena tetangga membuang sampah di pekarangan kita. Menyelesaikan permasalahan bisa dilakukan dengan mendatangi si tetangga dan kemudian menjelaskan bahwa tindakannya mengganggu Anda. Atau bisa juga Anda selesaikan dengan hati Anda sendiri karena memang si tetangga ini misalnya adalah seorang yang egois dan apatis. Caranya dengan mencoba berdamai dengan diri Anda sendiri, mencoba memahami bahwa di dunia ini memang berisi berbagai tipe orang mulai dari yang baik hingga yang mengganggu dan tidak berubah meskipun dikritik. Jadi, ya sudahlah, kalau orang Jawa menyebutnya, ‘sing waras ngalah’ (yang akalnya sehat mengalah). Hehe, itu contoh kasus saja, yang lain tentu masih banyak lagi.

Disamping itu, meditasi dan relaksasi juga saya percaya sangat membantu mengurangi tekanan dalam diri kita. Tekniknya sendiri bisa kita dapatkan dengan mudah melalui berbagai sumber, termasuk internet. Namun, untuk saya sendiri, ‘menarik napas panjang’ adalah teknik relaksasi paling favorit karena begitu sederhana, sehingga bisa dilakukan kapan saja dan dalam situasi apapun.

Trik mengelola emosi saat moody
Ala saya :D

Lalu bagaimana mengelola emosi kita saat sedang moody? Hmm, menurut saya hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan menyadari kondisi psikologis kita saat itu (sedang moody). Berbekal pengetahuan ini, kita bisa berusaha beradaptasi dengan rollercoaster emosi kita sendiri; misalnya saya, pada saat marah atau sedih memilih untuk diam terlebih dulu sebelum melakukan tindakan tertentu. Hal ini disebabkan karena saya merasa tindakan apapun yang saya lakukan dalam kondisi itu akan menjadi penyesalan :D. Lagi pula, kenyataannya seringkali hal yang saya rasakan saat itu sama sekali tidak nyata dan hanya akan menjadi lelucon di saat berikutnya. Misalnya nih, saya merasa suami tidak perhatian, selalu mengesampingkan saya, bla-bla-bla… Eh, beberapa saat kemudian kok, mendadak sadar kalau itu semua cuma bagian dari ‘drama’ yang diciptakan sisi emosional saya. Jadi, saya berusaha memilih diam dulu di saat-saat seperti itu. Namun, tidak lupa juga saya sampaikan kondisi saya yang sedang moody kepada orang terdekat untuk berjaga-jaga (baca: seandainya saya meledak dan bertindak yang aneh-aneh jangan diambil hati).

Selanjutnya, bagi Anda, para suami atau orang dekat si ‘mendadak moody’, Anda bisa membantu dengan lebih perhatian misalnya :D (terlalu egoiskah?). Atau paling tidak berusaha mengurangi hal-hal yang akan menimbulkan stress baginya dan tidak terpancing saat si ‘mendadak moody’ ini mencari gara-gara dan menyerang emosi Anda. Hmm, kalau yang ini, rasanya suami sih sudah cukup mengerti. Mau saya menyebalkan seperti apapun, paling-paling dia hanya diam atau bergumam, “Ya Allah tolong sabarkanlah…” :D. Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur suami cukup bisa memahami kondisi saya yang sulit dimengerti itu. Dan nanti jika badai mood itu sudah berlalu dan kemudian, beliau menyampaikan komplainnya, saya sangat bisa memahami, serta disertai sedikit rasa sesal karena perilaku saya tentu saja :(.

Ah, masalah PMS ini memang gampang-gampang-susah sih. Baik simtom fisik maupun psikis yang ada sesungguhnya bisa dicarikan jalan keluar untuk memperingannya. Namun, jika memang sekiranya masalah ini sangat mengganggu dan tidak dapat diatasi, tidak ada salahnya untuk mencari solusi kepada para profesional (dokter maupun psikolog). Kalau saya sendiri, hmm, rasanya PMS ini semacam ujian setiap bulan untuk bisa dilewati. Ada kalanya saya berhasil dengan memuaskan, ada kalanya sedikit mengalami kegagalan. Tapi secara keseluruhan, PMS tidak terlalu mengganggu lah… hmm, insyaallah suami dan anak juga setuju dengan pernyataan ini :D.

Jadi bagaimana dengan teman-teman? Punya cerita khusus tentang PMS juga?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Reading:
  1. Mayoclinic.org. (18-01-2012). Premenstrual Syndrome (PMS). http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/premenstrual-syndrome/basics/definition/con-20020003. Diakses tanggal 01 Mei 2014.

14 comments:

  1. Salam kenal mba Asti, nama saya dian, saya juga dulu sebelum menikah sering sakit perut sebelum mens datang, tapi Alhamdulillahnya sekarang sudah tidak lagi, tapi memang yang saya rasakan saat mestruasi datang saya sangat sensitif dan cepat emosi heeeheee, ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kalo gitu mbak Dian :'D
      Setiap datang bulan mendadak gampang banget marah n sedih.. harus pinter-pinter menyadarkan diri biar orang-orang dekat ga kena imbasnya :D

      Delete
  2. Awalnya saya merasa aneh knp harus sensitif setiap bulan.. baru tahu kalau itu memang alami krn hormonal... hehe kita memang butuh mengendalikan diri saat mens

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. fisik sama psikis ternyata memang punya hubungan erat Mak, harus pinter-pinter supaya tdk saling merugikan.. tetap semangattt :D

      Delete
  3. sukaaa bgt sama imagesnya yg dibikin kayak post it utk merangkum poin2 penting. suka fontnya yg bener2 mirip tulisan tangan. download bukan fontnya? mau dooong linknya :D sekalian tips bikin imagenya dirimu pake apa kah? makasihhh sebelumnya..

    oyah, sampe lupa memperkenalkan diri :p
    saya Sonya, rumahnya di www.peace-and-light.blogspot.com
    salam kenal mbak Asti! *salaman*

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mbak Sonya.. salam kenal juga
      saya lupa nama fontnya apa, nanti saya cek di laptop dulu ya :D
      nanti saya infokan pas berkunjung balik ya ;)

      Delete
  4. hehehe sy klu tiba2 suka marah lsg ingat tgl berapa...klu udah dkt tgl mens..harus cepat2 sadar diri ..kasian anak klu korban PMS kita.merengek dikit aja diomelin, salah dikit dimarah....sy sering khilaf sih hiks...padahal siap itu nyesel minta ampun n nangis2 jg pas liat wajah anak tidur

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, sama mbak.. saya juga kadangkala demikian, makanya berusaha terus menerus menguatkan tekad untuk tidak terbawa emosi..

      Delete
  5. Salam kenal mbak.. Hehe aku dah g mau lagi blaming pms, secara ternyata aku memang orangnya ga sabaran. Jadi kasian klo pms jd kambing hitam di kasusku. Makasih tipsnya! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. iya, ga semua orang mengalami simtom yang sama kok setiap bulan.. yang penting kita menyadari diri kita sendiri..
      sama-sama mbak :)

      Delete
  6. Hi, salam kenal Mak... ihhh cuma mau bilang postingan ini gue banget, selalu merasa jadi orang menyebalkan kalau PMS tiba. Btw, ada hubungannya ngga sih dengan coklat? soalnya kalau PMS datang, saya langsung memilih untuk makan coklat sebagai "pemadam"

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga mak..
      coklat setahu saya memang mengandung zat yang membuat kita relax.. bisa cek link ini: http://www.tribunnews.com/lifestyle/2011/02/14/bahan-cokelat-bisa-bikin-bahagia
      atau kalau kita memang suka coklat dan percaya coklat bisa meredakan emosi, bisa jadi terjadi efek sugestif.. ^_^

      Delete
  7. Hampir sama mak..sebelumnya saya ga pernah ngalamin masa2 PMS yg nguras emosi,,baru terakhir belakangan ini,,itupun siklusnya udah muncul di jauh dari hari H-nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah Mak.. kadang kala PMS menjadi lebih berat karena berbagai faktor.. misal kitanya lagi stress atau pola makan yang buruk.. pinter-pinter mengelola saja untuk memperingannya ;)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...