Thursday, July 17, 2014

Bayangkan Jika Saya Jika Tidak Bertemu Guru-Guru Hebat Ini…

Dulu, untuk menyemangati saya, Bapak selalu bilang, “Nian, tau ga? Bedanya kamu sama gurumu itu cuma semalem saja… malam ini gurumu belajar materi, dan besok pagi dia ajarkan materi itu padamu. Jadi, kamu sama sekali tidak kalah pintar dibandingkan gurumu, dia hanya lebih dulu belajar daripada kamu…” Dan waktu itu saya sangat setuju dengan pendapat Bapak, meskipun tidak sampai membuat saya benar-benar semangat untuk belajar, karena saya selalu kesulitan untuk ‘belajar’ dengan cara konvensional. Saat itu saya belum menemukan cara membuat informasi yang ada di dalam buku teks pelajaran terserap dalam otak, membaca buku pelajaran itu hanya membuat saya mengantuk. Begitulah, waktu itu, bagi saya dan banyak orang dekat saya berpendapat bahwa sekolah dan guru adalah untuk menambah pengetahuan tentang matematika, ilmu sosial, ilmu alam dan sebagainya. Itu saja…

Tapi, pengalaman saya selanjutnya mengatakan lain, peran guru jauh lebih besar dari sekedar melakukan transfer pengetahuan kepada siswa-siswa. Tanpa sosok seorang guru semasa duduk di bangku SMP dan SMA yang kerap mengatakan secara langsung atau tidak langsung bahwa saya memiliki kelebihan dalam bidang bahasa, saya tidak akan termotivasi untuk mendalami dunia tulis menulis lebih dalam. Begitu juga seorang dosen dimasa kuliah yang tanpa disadarinya memberikan apresiasi atas penulisan skripsi yang dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu semester dengan revisi yang relatif sedikit, serta topik yang unik menurutnya, saya tidak akan sadar bahwa memiliki kelebihan dalam hal penulisan ilmiah. Sehingga saya pun merasa semakin merasa mampu dan berminat untuk menulis ide-ide dalam bentuk apapun, dan berani berkompetisi hingga berhasil menjadi juara III even XL Awards tahun 2013.

Tanpa komentar seorang guru di masa SMA pada suatu hari pada orang-tua saya pada saat penerimaan raport, “Anak Ibu ini sebenarnya pintar, cuma suka ngantuk di kelas…”, saya akan terus merasa bodoh dan tidak mampu. Berkat sang ibu guru tersebutlah yang menyadarkan, bahwa saya sama sekali tidak bodoh (bahkan menurut beliau saya tergolong pintar) dan berusaha mencari cara untuk mengatasi kekurangan tersebut sehingga bisa mencapai prestasi optimal saya. Jika tidak karena komentar guru saya tersebut, saya tidak akan berusaha mencari buku-buku psikologi self help, dimana akhirnya saya memahami bahwa adalah seorang pembelajar kinestetik dan sama sekali lemah untuk menyerap pelajaran secara auditori. Sehingga akhirnya, saya berusaha mencari cara belajar yang membuat saya memahami pelajaran dengan nyaman dan tidak mengantuk, yaitu dengan membuat corat-coret mengenai materi yang sedang saya pelajari. Dan bahkan, karena komentar ibu guru saya tersebut, saya menjadi lebih tertarik dengan disiplin ilmu psikologi dan akhirnya benar-benar melanjutkan kuliah disana.

Dan selanjutnya, yang sungguh berkesan adalah guru-guru yang saya temui semasa kuliah di Jurusan Psikologi yang membuat saya ‘menemukan siapa diri saya’. Dari seorang yang terlihat pemalu, pendiam, canggung dan tidak percaya diri, hingga akhirnya mampu berdamai dengannya dan menjadi pribadi yang lebih baik. Waktu itu, seorang dosen saya berkali-kali menegaskan bahwa kami akan dididik menjadi praktisi psikologi yang akan membantu orang lain keluar dari masalah psikologisnya. Dan untuk itu, maka sebelumnya kami harus menyehatkan psikologis kami sendiri. “Kalian ga mungkin bisa membantu orang lain keluar dari masalah psikologisnya, kalau kalian tidak sehat secara psikologis,” demikian kata beliau. Kata-kata yang membuat saya gelisah dan akhirnya bertekad bulat menyelesaikan masalah yang ada dalam diri saya. Dimana percayalah, segala hal berhubungan dengan merubah diri sendiri menjadi diri yang berbeda dan lebih baik selalu merupakan hal yang tidak mudah. Merubah cara pandang, menyelesaikan tekanan dalam diri dan kemudian bertindak dengan lebih ‘baik’ itu sebuah proses yang cukup berat, karena pada dasarnya ‘musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri’. Karena di satu sisi diri kita harus melawan 'hal negatif' dari diri kita, sementara diri kita yang lain ingin melakukan 'hal negatif' tersebut. Tapi, dengan tekad dan bantuan guru-guru saya semasa kuliah yang mungkin tak mereka sadari, dengan memberikan apresiasi, empati dan juga pengetahuan, saya bisa melewatinya.

***

Dulu mungkin, saya setuju dengan pendapat Bapak bahwa seorang guru hanya lebih dulu belajar daripada saya, sehingga terlihat lebih pintar. Dan ya, saya masih mempercayai itu, tapi dengan catatan bahwa bukan hanya disitulah kelebihan seorang guru. Karena bayangkan jika saya tidak bertemu guru-guru hebat ini… Jika tidak ada seorang guru yang memberikan apresiasi akan kemampuan saya, maka saya tidak menjadi begitu bersemangat untuk mengasahnya hingga menjadi sebuah prestasi. Tanpa seorang guru yang menyeletuk bahwa saya adalah seorang anak yang pintar tapi mudah mengantuk, saya mungkin akan terus merasa bodoh karena tidak bisa menyerap pengetahuan seperti teman lainnya. Dan tentu saja tidak akan menemukan cara belajar yang tepat untuk diri saya sendiri, sehingga akhirnya bisa berprestasi secara optimal. Dan mungkin saja, hari ini saya masih seorang yang pemalu, pendiam, canggung dan tidak percaya diri. Sehingga tidak bisa lolos dalam ujian skripsi kuliah atau tidak pernah lolos test wawancara kerja yang membahwa saya mampu hidup mandiri, jika tanpa seorang guru yang membuat saya bertekad harus berubah menjadi lebih baik.

***

Beberapa orang mungkin masih belum terusik dari paradigma bahwa guru adalah pengajar pengetahuan teknis (hard skill) saja. Beberapa orang belum menyadari bahwa peran guru jauh lebih besar dari itu. Tatap muka seorang siswa dengan guru mungkin hanya berlangsung selama sekitar 43 jam dalam seminggu (sesuai Kurikulum 2013 SMA kelas XI dan XII), atau rata-rata 7 jam setiap harinya, tapi menurut saya guru memiliki peran yang cukup besar dalam pembentukan kepribadian siswa. Pengetahuan mengenai bidang yang mereka ampu dan juga teknik mengajar yang baik merupakan keharusan bagi seseorang untuk dapat menjadi pengajar atau guru untuk mengemban amanat mencerdaskan anak bangsa secara teknis. Sehingga anak-anak ini bisa tumbuh menjadi jiwa-jiwa yang mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi secara ilmiah dan berprestasi dalam bidang ilmu pengetahuan.

Tapi, lebih dari itu, demi mencerdaskan anak bangsa secara holistik, mencakup kesehatan psikologis mereka, guru pun memiliki peran yang besar. Kepedulian dan empati seorang guru kepada siswanya akan memberikan sentuhan tersendiri bagi jiwa mereka, yang membantu menemukan motivasi dan insight (pencerahan) dalam hidup mereka. Dan prinsip, karakter serta moralitas seorang guru yang tercermin dalam sikap dan keputusan mereka selama berinteraksi dengan siswa pun akan menjadi rujukan bagi mereka (siswa) yang berpengaruh pada prinsip, karakter dan moralitasnya sendiri. Jadi, guru benar-benar sebuah profesi yang memiliki peran luar biasa dalam masa depan anak-anak kita dan juga masa depan bangsa ini bukan? Karena mereka mengemban sebuah tugas penting untuk membentuk jiwa-jiwa yang akan membangun masa depan.


Wednesday, July 2, 2014

The Art of Early Pregnancy Check

Tak terasa hampir sebulan absen meng-update blog… Ternyata, baru sadar, bahwa mood sangat mempengaruhi keinginan menulis, dan bisa ditebak, itulah yang menjadi alasan mengapa sampai selama ini absen menulis :(. But after all, akhirnya mood akhirnya cukup bersahabat, dan saya siap kembali menulis untuk mengarsipkan cerita-cerita yang berkesan dalam hidup, sekaligus berbagi kisah dengan teman-teman lain. Siapa tahu kan ada yang mendapat manfaat dari cerita-cerita saya, hihi, amin :D.

Baik, salah satu cerita yang di-highlight adalah bahwa akhirnya saya secara resmi dinyatakan hamil pada 20 Juni 2014 lalu, alhamdulillah :). Sebulan sebelumnya (20 Mei 2014) saya sudah memeriksakan diri ke dokter dengan berbekal test pack yang menunjukkan dua garis samar. Waktu itu, sebenarnya saya tidak berharap dokter akan langsung melakukan pemeriksanaan USG (Ultrasonography), karena ragu bahwa USG dapat mendeteksi kehamilan yang kurang dari 1 bulan. Harapannya sih waktu itu sekedar dokter bisa memantapkan diagnosa dari test pack tersebut. Tapi mungkin kami yang tidak sabar ya, kenapa musti buru-buru memastikan coba? Waktu itu, terlambat datang bulan saja belum :D. Perasaan bahwa saya hamil dan akhirnya mencoba test pack adalah karena adanya rasa tegang pada payudara seperti akan datang bulan, padahal sang ‘tamu’ belum saatnya datang.

Pemeriksaan kehamilan menggunakan test pack yang pertama
Berbekal test pack bergaris samar ini, kami memeriksakan diri ke dokter :D

Dan benar saja, saat diperiksa dengan USG, dokter belum melihat adanya tanda-tanda kehamilan. Hihi, separuhnya saya merasa bodoh juga sih memeriksakan diri terlalu dini, separuhnya lagi saya juga kurang setuju karena dokter main USG saja, padahal menurut pendapat saya dia bisa menjelaskan bahwa usia kehamilan yang masih terlalu dini tidak bisa dideteksi oleh USG. Hmm, ataukah mungkin dia menjaga perasaan kami juga ya, karena beranggapan setiap orang yang memeriksakan kehamilan pasti di-USG :D. Entahlah…

Kejadian ini mengingatkan saya pada deteksi kehamilah pertama dulu. Waktu itu, saya pun menggunakan test pack sebelum akhirnya memeriksakan ke dokter. Hasilnya juga masih samar dan saat itu juga baru terlambat datang bulan 1 atau 2 hari, hanya saja bedanya waktu itu saya diperiksa menggunakan USG Transvaginal (Transvaginal Ultrasound/TVU) sehingga tanda kehamilan sudah terdeteksi. Sedangkan pada kehamilan kedua ini saya diperiksa menggunakan USG Transabdominal (Transabdominal Ultrasound/TAU) karena saya kurang nyaman diperiksa dengan TVU dan memilih memeriksakan diri ke dokter lain.

Pada pemeriksaan kehamilan pertama dengan menggunakan TVU, kantong kehamilan sudah terlihat dan saya dinyatakan hamil. Seminggu kemudian, saya diminta untuk kembali memeriksakan diri kembali untuk melihat perkembangan kehamilan, dan saat itulah dokter mengatakan pada kami bahwa belum terlihat ada ‘inti’ dalam kantong kehamilan, sehingga menyatakan bahwa kemungkinan saya mengalami hamil anggur. Ah, kami sangat kecewa dengan perkataan dokter waktu itu, kok gampang sekali ya mengucapkan sebuah diagnosa yang dia sendiri belum yakin. Diagnosa yang sudah pasti membuat pasiennya mau tidak mau kepikiran dan tidak tenang :(. Sedangkan pada kehamilan kedua ini, dengan usia kandungan yang relatif sama, karena menggunakan TAU, dokter pun mendiagnosa bahwa saya belum positif hamil.

And that’s what I mean with ‘The Art of Early Pregnancy Check’. Karena pada usia kehamilan yang masih terlalu dini, kemungkinan alat test dan tenaga kesehatan melakukan diagnosa yang tidak benar masih tinggi. Jadi ada baiknya kita sedikit bersabar sampai usia kehamilan cukup untuk dideteksi dengan alat test yang ada. Menurut pengalaman saya, dengan menggunakan test pack, pada kehamilan yang masih relatif muda, garis samar sudah terlihat, menunjukkan konsentrasi hormon kehamilan yang masih rendah. Dan jika kita ulangi test yang sama beberapa hari kemudian, kemungkinan besar garis akan menjadi lebih jelas. Meskipun tentu saja ada faktor in-akurasi 1% yang menurut beberapa sumber bisa disebabkan karena konsumsi obat tertentu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...