Tuesday, September 30, 2014

When We Busy Making Our Plans…


And the story was… sudah dari jauh-jauh hari saya berencana untuk mengambil cuti seminggu dan berlibur ke Lampung. Hmm, long distance marriage itu ternyata memang tidak terlalu nyaman buat saya maupun Ganesh. Tiap hari, Ganesh entah berapa kali menyebut kata ‘Lampung’; “Mama, nanti kalo kita ke Lampung bawa mainan ini ya…” dll. Belum lagi, prosesi melepas papanya setiap kembali ke tempat kerja, bukannya nangis atau rewel sih, tapi kalau dianya belum ikhlas kelihatan banget; mulai dari cuek pas dipamitin sampai sengaja ga mau diajak ngomong :(. Dan saya sendiri, hmm, suami itu ya tempat curhat semuanya, semua yang ada dalam pikiran saya, semua yang tidak bisa saya ceritakan pada orang lain; baik karena kontennya yang pribadi atau sekedar khawatir orang akan bosan mendengar cerita saya… haha :D. Dimana si LDM ini jelas membuat kesempatan saya untuk menumpahkan uneg-uneg itu menjadi sangat berkurang! Teknologi memang sudah maju, tapi telpon-telponan itu tetap saja kurang dan banyak kendala; yang susah ngepasin waktu santai sampai Ganesh yang ga antusias sehingga berusaha mengalihkan perhatian saya. Hmm, suami lembur karena ada gangguan di kantor atau saya yang lagi ribet ngeladenin Ganesh main adalah hal yang biasa terjadi.

Ahh, dan setelah tiga bulan rata-rata bertemu setiap minggu saja, saya merasa sudah saatnya mengambil cuti dan melepas penat LDM ini… Yup, seminggu penuh saya sudah membayangkan bersantai di rumah bersama Ganesh, lalu malamnya bisa berwisata kuliner, dan Sabtu Minggu-nya bermain ke pantai. Sound so relaxing right… lumayan untuk menambah semangat, menjalani 3 bulan LDM lagi sebelum HPL.

Monday, September 29, 2014

Pemanfaatan Media Mobile Advertising sebagai Sarana Optimalisasi Fungsi Public Filtering untuk Menangkal Hoax yang Mengancam Persatuan Bangsa

Penting bagi wanita!!
Tidak disarankan makan bayam & tahu bersamaan,
karna jika digabungkan akan membentuk senyawa yg bisa mengakibatkan terbentuknya batu/kista dalam tubuh.
Hasil penelitian Prof. Dr. Asbudi,
SPOG
Jangan makan timun saat haid karna bisa menyebabkan darah haid tersisa di dinding rahim, setelah 5-10 hari dapat menyebabkan kista & kanker rahim.
Alangkah baiknya bila info ini disebarkan ke banyak wanita sebagai tanda kepedulian kita terhadap sesama.
Jika pria yang menerima bbm ini, tolong di teruskan kepada rekan wanitanya.

Begitulah bunyi sebuah broadcast message melalui Blackberry Messanger (BBM) yang marak beberapa waktu lalu. Saya pun kala itu menerima broadcast message yang sama dari seorang teman. Sebuah pesan yang saya abaikan, sampai akhirnya suatu hari sebuah foto yang saya unggah di akun Facebook mendapat komentar berkaitan isi broadcast message tersebut. Waktu itu, saya mengunggah foto makanan berbahan dasar bayam dan tahu, yang kemudian mendapat komentar dari seorang teman bahwa kedua bahan tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan karena akan menimbulkan reaksi kimia yang tidak baik. Sebuah komentar yang mengingatkan pada broadcast message yang konon berdasarkan penelitian Prof. Dr. Asbudi, SpOG yang sebelumnya saya abaikan. Dan karena penasaran dengan kebenarannya, saya pun mencari informasi pembanding dengan browsing melalui internet.

Lalu, benarkah bayam dan tahu jika dikonsumsi bersamaan dapat memicu timbulnya kista? Ternyata tidak! Setidaknya itulah yang dijelaskan oleh Dr. Damar Prasmusinto, SpOG melalui situs detikHEALTH[1]. Dimana informasi yang dipublikasikan oleh detikHEALTH sebagai media yang dikenal memiliki reputasi baik disertai pencantuman sumber informasi yang jelas, tentu lebih terpercaya daripada broadcast message yang tidak dapat ditelusuri sumber rujukannya.

Gambar 1
Screenshot post dan komentar dalam akun Facebook saya
Salah satu bukti bagaimana hoax begitu mudah menyebar secara viral
***

Berita bohong yang seringkali disebut sebagai hoax, atau didefinisikan sebagai kesalahan yang sengaja dibuat untuk menyerupai kebenaran[2]; memang begitu banyak beredar  di tengah masyarakat. Hoax ini menyebar secara masif melalui berbagai media yang berkembang pesat dewasa ini. Misalnya melalui situs jejaring sosial (seperti Facebook dan Twitter), email, website, blog, aplikasi instant messaging (seperti Blackberry Messanger dan WhatsApp) serta banyak lagi. Cukup dengan klik tombol ‘share’ (bagikan), copy pesan kemudian paste dan post di grup BBM atau WhatsApp, atau broadcast ke seluruh kontak kedua aplikasi instant messaging tersebut; maka berita pun akan segera menyebar secara viral.

Kondisi merebaknya hoax  seperti ini tentu saja merugikan, karena mendorong terciptanya pemahaman yang keliru pada masyarakat. Meskipun memang tidak akan sampai berdampak fatal, jika konten yang disebarkan cukup ringan dan tidak mengarah pada tindakan yang negatif. Seperti broadcast message mengenai bayam dan tahu tersebut misalnya, yang hanya membuat sebagian masyarakat percaya untuk tidak mengkonsumsinya bersamaan, sebuah tindakan yang relatif tidak membahayakan tentunya. Tapi, tentu akan lain ceritanya, jika hoax yang disebarkan merupakan isu besar yang menggiring masyarakat sampai pada tingkatan kepercayaan yang salah pada sebuah isu yang sensitif. Seperti contoh broadcast message pada gambar 2.

Sunday, September 28, 2014

Mencintai Jamu sejak Dini dengan Edukasi ‘TOGA’

“Suwe ora jamu, jamu godhong tela,
Suwe ora ketemu, ketemu pisan gawe gela.”

Sebagai seorang yang lahir dan tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta selama kurang lebih 23 tahun, wajar jika lagu ‘Suwe Ora Jamu’ di atas begitu familiar bagi saya. Dan saat akhirnya merantau ke Sumatera Selatan, saya baru menyadari bahwa lagu tersebut ternyata jauh lebih populer dari perkiraan sebelumnya. Sampai-sampai, rekan kerja saya yang notabene adalah putri daerah Sumatera Selatan asli dan belum pernah menginjakkan kakinya di Jawa sekali pun, bisa menyenandungkan lagu ciptaan R.C. Hardjosubroto tersebut. Lagu dengan lirik berima pantun ini menggunakan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi jamu sebagai ‘sampiran’ untuk menyampaikan cerita tentang sebuah pertemuan yang terjadi setelah sekian lama dan berakhir mengecewakan. Penggunaan kebiasaan minum jamu sebagai sampiran ini sendiri, bisa jadi merupakan refleksi maraknya penggunaan jamu di masa lalu, sebelum harus bersaing dengan obat-obatan modern. 


Jamu yang berasal dari bahasa Jawa Kuno, ‘jampi’ atau ‘usodo’ merupakan istilah untuk menyebut ramuan dari tanaman obat. Penggunaan jamu ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam, dimana hal ini terdokumentasi dalam kitab daun lontar maupun naskah lainnya. Dalam kitab daun lontar,  terdapat Usada Ila yang berisi pengobatan untuk penyakit lepra, Usada Kurantobolong  yang berisi petunjuk pengobatan penyakit pada bayi dan anak-anak, Usada Carekan Tua yang berisi pengobatan penyakit orang-tua, dan banyak lagi. Sedangkan dalam bentuk naskah, penggunaan jamu dimasa lalu didokumentasikan dalam naskah Gatotkaca Sraya, Bhomakawya, Sumanasantaka, Lubdhaka dan banyak lagi. Selanjutnya, pencatatan jamu berkembang pesat dengan masuknya Bangsa Eropa, sehingga sejak abad ke-16 Masehi yang banyak menerbitkan publikasi tanaman obat Indonesia, seperti ‘Historia Naturalist et Medica Indiae’ yang ditulis oleh pelaut kebangsaan Portugis, Yacobus Bontius[1].

Penggunaan dan popularitas jamu di masa lalu memang tidak diragukan lagi, karena bahkan menurut sejarah rempah-rempah Indonesia sebagai bahan jamu lah yang mengundang Bangsa Barat untuk berlabuh di Kepulauan Indonesia. Namun, bagaimana dengan penggunaan dan eksistensi jamu saat ini? Apakah jamu masih bisa bertahan di tengah berkembangnya obat-obatan modern saat ini? Yang notabene tentu lebih praktis, mudah didapatkan dan banyak diresepkan oleh praktisi kesehatan (dokter) di Indonesia. Seperti halnya lagu ‘Suwe Ora Jamu’ yang masih begitu populer hingga sekarang.

Dan jawabannya adalah iya! Walaupun dengan gempuran obat-obatan modern yang begitu dahsyat, hingga detik ini pun jamu masih mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu alternatif pengobatan tradisional. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai negara, dimana hal ini ditandai dengan terus meningkatnya eksport jamu hingga mencapai angka USD 9,7 juta pada periode terakhir tahun 2013 lalu[2]. Dimana hal ini tentu tidak lepas dari berbagai usaha untuk melakukan pendataan dan pengujian khasiat jamu secara klinis agar penggunaan jamu lebih aman dan tepat sasaran; sekaligus untuk mengangkat martabat jamu secara ilmiah di mata dunia internasional sebagai warisan budaya asli Indonesia yang memiliki potensi penyembuhan berbagai penyakit. Kencur misalnya, sebagai bahan utama Jamu Beras Kencur, ternyata secara empirik memiliki potensi sebagai anti-obesitas[3]. Dan juga kunyit sebagai bahan utama Jamu Kunyit Asam (Kunir Asem) yang memiliki manfaat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti diabetes melitus, tifus, usus buntu, disentri, keputihan, haid tidak lancar, sakit perut saat haid dan banyak lagi[4].

Selain upaya melakukan uji klinis untuk mengangkat martabat jamu di dunia ilmiah dan internasional, beraneka ragam penyajian jamu saat ini pun turut mempopulerkan jamu di tengah masyarakat. Saat ini, jamu dapat ditemukan dalam berbagai bentuk; seperti kapsul, tablet atau serbuk dengan berbagai varian rasa untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan kepraktisan dan mengurangi cita-rasa pahit. Selain itu, cara menjajakan jamu pun kini tidak kalah bervariasi untuk menjangkau berbagai segmen masyarakat. Jika dulu kita hanya mengenal jamu yang dijajakan oleh penjual jamu gendong, kios-kios jamu atau diantarkan menggunakan sepeda atau alat transportasi lainnya; kini jamu bahkan bisa ditemui di cafe-cafe. ‘Reina Herbal Drink Café’, salah satunya. ‘Reina Herbal Drink Café’ merupakan sebuah cafe yang didirikan oleh Made Ayu Aryani demi menjawab tantangan untuk mengubah persepsi masyarakat yang tidak menyukai jamu karena rasanya yang pahit. Dimana hal ini diwujudkan ‘Reina Herbal Drink Cafédengan penyajian jamu dalam berbagai varian rasa di kedainya di Kota Solo[5].

Gambar 1
Pamflet ‘Reina Herbal Drink Café’
Sumber Facebook Page Resmi ‘Reina Herbal Drink Café’

Tuesday, September 23, 2014

Omelet Ijo yang Bikin Heboh!

Kemarin siang sewaktu istirahat, seperti biasa saya pulang ke rumah karena jarak rumah dan kantor memang cuma 5 – 10 menit. Siang itu, simbah pengasuh Ganesh dengan bersemangat bercerita, “Bu, tadi Ganesh nangis-nangis minta dibikinin makanan ijo kaya yang tadi pagi. Padahal udah saya kasih tau, saya kan ga bisa bikinnya.” Saya pun menyahut, “Walah-walah iya ya mbah,” sambil tersenyum dan berlanjut menginterogasi Ganesh dan diakhiri janji kalau besok pagi akan dibikinkan Omelet Ijo seperti pagi itu.

Dan pagi ini, sesuai janji, saya pun membuat Omelet Ijo yang bikin heboh pagi sebelumnya. And what a sureprise, haha, kali ini si Omelet menimbulkan kehebohan yang lebih seru! “Ganesh, udah mandinya… mau ke tempat Dek Sakha!” kata Ganesh yang sebelumnya masih asyik berendam sambil sarapan. Iya, seringkali untuk mempersingkat waktu, Ganesh memang sarapan sambil mandi, ehemm, berhubung mamanya harus berangkat ke kantor sebelum jam 7.30 setiap harinya :D. Dan mamanya bertekad, Ganesh harus mandi pagi setiap hari! Jadi apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, kecuali sedang libur atau Ganesh sedang sakit, kehebohan mandi pagi harus tetap terjadi :D

Kembali ke cerita Omelet Ijo… siangnya, saat saya pulang istirahat, simbah kembali bercerita, “Tadi udah diliatin makanan ijonya sama Sakha Bu. Sakha sampe minta dibikinin sama Wawak pengasuhnya, tapi karena saya ga tau, ya saya bilang aja yang bikin Ibu. Pas saya dateng, makanannya udah siap…” Saya pun menyahut geli, “Iya ya mbah?” Dan simbah kembali menimpali dengan bersemangat, “Iya Bu! Papanya Sakha sampe cium-cium makanannya dan nanya, apaan ini nih Mbah… Gitu Bu…” Haha, benar-benar seru bukan? Ada-ada aja polah anak-anak nih… Jangan-jangan kemarin minta dibikinin lagi itu juga karena mau dipamerin sama Sakha temennya yang sedang main ke rumah :D.

Lalu, emangnya apaan sih si Omelet Ijo yang bikin heboh dua hari ini? Hehe, sebenarnya ini nih omelet tanpa perencanaan yang dibuat karena waktu yang mepet dan ga bisa ngerjain yang ribet-ribet. Jadi, saya ambil aja sejumput bayam, tambahkan 1 butir telur dan sedikit susu UHT lalu blender bersama-sama. Dan voila! Hasilnya adalah adonan encer berwarna hijau yang setelah diberi keju parut serta merica dan dipanaskan menggunakan wajan teflon dengan api super kecil menjadi berbentuk seperti ini…


Penampakan si Omelet Ijo yang bikin heboh :D

Ehemm, bagaimana keliatannya? Kalau saya sih jujur tidak terlalu terpesona dengan penampakannya, kecuali warna hijau segarnya tentu saja. Pada percobaan kedua, berusaha menggunakan teknik berbeda, yaitu dengan mengoleskan margarine dan menggoreng si omelet dengan api yang lebih kecil, tapi hasilnya tetep ada bopeng-bopeng seperti gosong yang mengganggu :(. Tapi, ya sudahlah, meskipun bopeng-bopeng gosong, Ganesh-nya suka banget kok, hehe :D. Dan nge-hits pula diantara teman-temannya… Mungkin ga biasa aja liat makanan warna ijo seperti ini :D.

Rasanya sendiri, hmm, menurut saya lumayan sih… enak! Aromanya juga khas seperti roti, karena perpaduan telur dan keju yang digoreng. Cara makannya sih saya sebenarnya membayangkan dengan bubur oat, tapi karena stok sedang habis, akhirnya pakai nasi saja. And so, apakah si Omelet Ijo dengan bopeng-bopeng gosongnya ini, sukses membuat penasaran? Hehe, malu sebenarnya, tapi kira-kira begini membuanya…

BAHAN
Sejumput
Bayam
1 butir
Telur ayam
Sedikit
Susu UHT
Secukupnya
Keju cheddar parut
Secukupnya
Merica bubuk

CARA MEMBUAT
1.
Masukkan bayam, telur ayam dan sedikit susu UHT dalam blender kecil. Blender sampai halus.
2.
Tuang ke dalam mangkuk, campur dengan keju parut dan merica bubuk secukupnya.
3.
Tuang adonan dalam wajan yang telah diolesi margarine. Masak dengan api yang sangat kecil. Tutup, supaya bagian atas ikut mengeras.
4.
Balik setelah cukup matang di sisi bawah. Masak sisi lainnya hingga matang.
5.
Angkat dan sajikan!

That’s all, sangat-sangat-sangat mudah kan… tinggal cemplung-cemplung, blender dan bisa ditinggal beraktivitas sembari menunggu matang. Penyajiannya, juga bisa jadi solusi untuk anak-anak yang agak susah makan sayur. Dan yang paling penting nutrisinya juga cukup jempolan, secara bayam mengandung zat besi, berbagai vitamin, folat dan banyak lagi.

Hehe, heboh sekali promosinya ya… Selanjutnya, silakan dicoba sendiri jika penasaran… Semoga rasanya tidak jauh berbeda dengan yang saya gambarkan :D.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, September 15, 2014

Bounce Back

Cannot fall, never do regret
Know just what is being said
Know the risk you take
Keep your head above it all
Sure you can fall
But not now you gotta prove
Something new, being you, being you

Sebagai seorang melankolis sejati, lagu ciptaan Marit Larsen berjudul ‘Solid Ground’ di atas memang selalu sukses membuat saya nangis-nangis. Bukan hanya karena sedih, tapi justru karena akhirnya bisa semangat. Sebagai seorang kerap kali merasa bersalah (self guilt) dan menyesal, penggalan lirik di atas benar-benar pas sekali. “Jangan pernah menyesal. Sadari saja apa yang telah kamu ucapkan. Sadari resiko yang kamu ambil (karena memang semua selalu ada resikonya). Tegakkan kepalamu. Tentu saja kamu bisa terjatuh. Tapi bukan sekarang, kamu harus membuktikan sesuatu yang baru… menjadi dirimu sendiri…”

Baiklah, mungkin hanya mereka orang-orang aliran introvert dan melankolis (yang sedikit) ekstrim seperti saya yang paham rasanya takut melakukan sesuatu karena takut tidak sempurna atau merasa bersalah dan menyesal karena ketidaksempurnaan menurut kacamata kita. Hmm, well, that’s me a long time ago… Dan lagu itu, somehow, benar-benar membuat saya terinspirasi untuk belajar menerima diri sendiri dan mulai fokus pada hal lain di luar perasaan dalam diri saya. Karena, kenyataannya kadang perasaan kita begitu manipulatif, membuat sesuatu yang ‘kecil’ menjadi sesuatu yang luar biasa ‘besar’. Kadang kita harus bangkit dan menghapus air mata kita agar bisa melihat dunia dengan lebih jelas bukan.

Can’t feel, keep from asking why
Be the strongest at goodbyes
Know your place in life
Now expand your wings and fly
It reaches high but not,
Enough you seem to me
So incomplete, swept off your feet

Dalam hidup, akan ada masanya kita akan merasakan sebuah kekecewaan. Rasa dimana kita tidak mendapatkan sesuatu yang pantas kita dapatkan, atau merasa hidup terlalu berat menempa kita. Well, that’s life… itulah hidup kita… be blessed with it… Dan itu sama sekali bukan alasan untuk kita terus meratapi nasib, untuk apa? “Berhentilah bertanya mengapa. Jadilah kuat dalam segala perpisahan (dengan hal yang kita inginkan). Sadarilah tempatmu dalam hidup (jangan terlalu menuntut). Dan kepakkan sayapmu. Terbang tinggi…”

And let me tell you they will always pull you down
Before you know it they will take your smile and push you around
They will fight and struggle
To blur and trouble
Your sense of solid ground

Dalam hidup, akan selalu ada masanya kita merasa jatuh dan terpuruk. Entah sebuah kejadian atau seseorang, akan selalu ada ‘sesuatu’ yang membuat kita merasa tercampakkan dan merasa gamang dengan hidup kita. Well, that’s life… Dari sudup pandang yang lebih positif, ‘sesuatu’ itulah yang sesungguhnya menempa kita menjadi orang yang lebih dewasa, lebih tangguh dan kuat dari sebelumnya. Yes, “‘Mereka’ akan terus berusaha menjatuhkanmu. Mereka akan mencuri senyummu dan melemparmu. Mereka akan berusaha dan berusaha merasa tidak memiliki pijakan.” Tapi… semua itulah yang akan membuatmu menjadi seorang yang kuat dan bijak, jika berhasil melampauinya.

Cannot know, lose your self-control
Be and angel over all
Know your secret way
Laugh at everything they say
Will you remain the same?
And now you dare not see
What's letting go
Inside of me,is it me?

Dalam hidup, ada kalanya kita merasa begitu marah “Tidak bisa memahami dan kehilangan kendali”, dan berteriak, “Cukup!” Tapi, pada akhirnya, kita harus memaafkan… “Menjadi malaikat setelah semuanya…” Memaafkan untuk diri kita sendiri… Karena amarah hanya akan menyiksa diri kita lebih, daripada ‘sesuatu’ atau ‘seseorang’ yang kita benci dengan sangat. Tetap menjadi orang baik dan berhenti membenci dan mendendam. Dan ada saatnya, kita harus belajar “Menertawakan apapun yang mereka katakan”. Oh come on, mereka hanyalah orang lain, yang tidak peduli pada kita, jadi kenapa harus menghabiskan begitu banyak energi untuk bereaksi? Maafkan saja mereka, tersenyum, sadari bahwa kita semua memiliki sebuah jalan hidup yang penuh misteri. Hmm, biarkan rasa sakit kita mendapat kebaikan yang setimpal dari penguasa semesta, entah sebuah kekuatan, kedewasaan atau anugerah lain yang kita butuhkan dan dambakan.

Dan sekali lagi… apapun yang terjadi, kita tetap harus menegakkan kepala kita, menatap ke depan dan membuktikan kualitas diri kita… Merasa menjadi korban akan keadaan memang membuat kita seolah tidak bertanggung-jawab atas kemalangan hidup kita. Tapi, apa gunanya? So

Keep your head above it all
Sure you can fall
But not now you gotta prove
Something new, being you, being you

(Solid Ground, Marit Larsen)


***

Cover single ‘Solid Ground’ oleh Marit Larsen
Gambar dari: en.wikipedia.org

Dan itulah lagu favorit saya sepanjang masa, jatuh cinta begitu mendengarnya, menemani masa-masa menerima diri sendiri, saat Bapak jatuh stroke di tengah masa kuliah, saat begitu ingin segera lulus untuk membantu keluarga. Menemani saat saya mempunyai mimpi gila menyelesaikan skripsi sembari mengambil program KKN dalam semester yang sama. Menemani saat berusaha mencari jalan kemandirian, saat dibingungkan dalam labirin percintaan dan banyak lagi. Sesuatu yang memang harus dilalui untuk berbuah manis… Untuk membuat kita menjadi lebih bangga pada diri kita sendiri, karena sudah menjalani semuanya. Sesuatu yang tidak kita dapatkan melalui hidup yang mudah dan lurus.

Dan lagu ini, menemani saya hingga kini… saat tantangan untuk memafkan dan membuktikan diri kembali menghadang saya. Tentu saja, ada saatnya semua itu berhasil membuat saya merasa terpuruk, tapi dibalik keterpurukan akan selalu ada pilihan untuk tenggelam atau bangkit. And I choose to bounce back :).

Dan siapapun di luar sana yang merasa terpuruk, menangislah… tapi setelah itu, bangkitlah, buktikan pada mereka dan dirimu sendiri, siapa dirimu. “Keep your head above it all. Sure you can fall. But not now you gotta prove. Something new, being you, being you…”



With Love,
Nian Astiningrum
-end-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...