Monday, December 21, 2015

Memaafkan, Tidak Sama dengan Menjadi 'Malaikat'...

Seminggu ini, (sebut saja) Sekar dan Ratna lagi-lagi menjadi hot topic infotaintment Indonesia (paling tidak itu pengamatan saya dari video yang di-share di social media). Masih seputar isu Sekar yang merebut Galih dari Ratna, yang notabene adalah orang yang melambungkan nama Sekar pertama kali di jagad hiburan. Dan kemudian, kesan inilah yang membuat Sekar memiliki begitu banyak haters alias pembenci, yang rajin menyatroni akun-akun social medianya dan menebarkan cacian hingga sumpah serapah. Bahkan, konon hal ini pun akan terjadi juga pada orang-orang yang berani mem-posting fotonya bersama Sekar. Waktu itu berita yang sempat mencuat adalah (sebut saja) Bagas yang mem-posting fotonya bersama Sekar dengan caption yang menantang para haters. Dan benar saja, foto Bagas dan Sekar itu sukses mengundang para haters berkunjung dan meninggalkan berbagai cacian. Bagas pun kemudian menghapus foto tersebut dari akun instagramnya. Luar biasa ya!

Baik, kembali ke topik… Hmm, bukan perseteruan Sekar dan Ratna sih yang ingin saya bahas disini, tapi mengenai latar belakang kenapa mereka berdua kembali menjadi buah bibir di seantero Indonesia. ‘Sebuah permintaan maaf’ dari seorang Sekar kepada Ratna yang disampaikan melalui wawancara dengan (sebut saja) Riko yang diunggah di youtube. Disitu Sekar mengklaim bahwa dia sebelumnya sudah meminta maaf dan Ratna pun bilang sudah memaafkannya, namun pada saat bertemu di rumah sakit untuk menjenguk anak Ratna (dengan Galih yang menjadi anak tiri Sekar) dan Ratna menolak ajakannya berpeluk-cium, saat itu Sekar merasa bahwa Ratna belum benar-benar memaafkannya hingga akhirnya meminta maaf melalui wawancara yang diunggah di youtube tersebut.

Nah, disini nih yang membuat saya tergelitik, memang apa sih definisi ‘maaf’ menurutnya? Apa menurut dia itu berarti mengembalikan segala sesuatunya seperti sedia kala sebelum apapun kejadian yang terjadi di antara mereka? Apakah ini seperti jika dua orang sahabat kemudian kembali bersahabat setelah salah satu dari mereka merebut suami yang lainnya? Atau dua orang mantan kembali berpacaran setelah salah satunya ketahuan selingkuh? Atau seperti suami istri yang bercerai kemudian kembali rujuk walaupun sang suami telah menikah dengan selingkuhannya? Jawabannya tentu 'tidak' bukan…

Mengutip pernyataan dalam sebuah buku* yang cukup menginspirasi saya: “…memaafkan bukan adopsi dari posisi superior. Juga bukan menerima kekasaran orang lain dan berpendapat hal itu dapat diterima, jika demikian berarti tidak jujur. Memaafkan adalah melihat tidak ada landasan untuk adanya menyalahkan, berarti ada dasar tidak berdosa. Perilaku seseorang tidak dapat dirasionalkan. Dia melakukan dengan caranya. Mungkin motivasi lain dapat mendorong perilakunya, seperti rasa takut atau keegoisan… Memaafkan adalah pengalihan dari apa yang kita lihat secara fisik dan mencari kebenaran yang ada di balik ego seseorang.”

Di balik pernyataan itu terkandung makna bahwa memaafkan berarti tidak lagi mempermasalahkan tindakan buruk seseorang kepada kita. Pasti ada alasan dibalik tindakan buruk itu; mungkin kelemahannya, keinginannya, ambisinya, kekhilafannya atau apapun; dan kita menerimanya. Tapi, bukan berarti jika lantas kita harus bersikap seperti sebelum kejadian buruk itu terjadi. Memaafkan tidak sama dengan kemampuan menghapus segala memori yang menimbulkan rasa sakit. Kita hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan, sehingga ada kedekatan intensitas tertentu atau perbuatan tertentu yang mengembalikan ingatan kita pada peristiwa itu, luka yang sama. So, adalah hal yang bisa diterima jika kemudian kita berkata, “Aku memaafkanmu, tindakan yang kamu lakukan dengan segala alasanmu, aku tidak menghakimimu, tidak memintamu membayar apapun atas lukaku, tidak lagi sakit hati dan mengutukmu, tapi aku tidak ingin bertemu atau berhubungan lagi denganmu…”  Manusiawi kan?

Thursday, December 17, 2015

Melatih Bayi Minum ASIP

Halo para ibu bekerja yang sedang menikmati cuti melahirkan selama 3 bulan… Apa kabar? Insyaallah baik dan bahagia ya… kan baru saja bertemu dengan si kecil yang sembilan bulan ada dalam kandungan :). Eh tapi, sebenarnya kalau saya pribadi merasa masa ini penuh dengan tantangan dan kegelisahan juga lho. Bulan pertama gelisah beradaptasi menjadi stay-at-home-mom; yang biasanya pagi-pagi udah sibuk dandan, 8 jam duduk di belakang meja dan baru pulang sore hari; lalu tiba-tiba 24 jam mengurusi rumah dan anak baru… hmm, that's tought hah? Dan kemudian, setelah mulai terbiasa dengan rutinitas baru, bulan berikutnya kita mulai pasang kuda-kuda untuk menyiapkan anak kembali ditinggal kerja (baca: mencari pengasuh, membiasakan keduanya dan lain-lain termasuk mengajarkan anak minum ASIP).


Dulu, saya pikir mengajari anak minum ASIP itu mudah saja. Makanya saya baru melatih Ganesh anak pertama saya 2 minggu sebelum cuti berakhir yang mana menurut pengalaman saya itu sangat-sangat terlambat. Saat itu Ganesh menolak memakai dot dengan nipple yang sudah diganti berkali-kali. Dan saat akhirnya mau minum dengan menggunakan soft-cup-feeder pun, sesungguhnya belum seberapa familiar saat saya tinggalkan ke kantor. Waktu itu sih, walaupun berat meninggalkan Ganesh ke kantor, saya tidak terlalu khawatir, karena jarak kantor-rumah hanya 5 menit. Pada jam istirahat dan saat darurat saya bisa kembali ke rumah. Tapi tidak demikian saat melahirkan Mahesh anak kedua saya. Saat itu saya telah dimutasi ke Lampung (baca: Better than This but Still I Fly), semua kemewahan itu berubah karena jarak tempuh kantor-rumah menjadi 1 jam. Sangat tidak mungkin untuk pulang sewaktu istirahat atau kondisi darurat. Karena itu, belajar dari pengalaman sebelumnya, saya pun mempersiapkan hal ini (melatih Mahesh minum ASIP) jauh-jauh hari. Memastikan bahwa dia sudah cukup lancar minum ASIP sehingga tidak rewel ditinggal kurang lebih 10 jam setiap harinya.

***

Kami mulai melatih Mahesha minum ASIP sejak usia 1 bulan dengan menggunakan soft-cup-feeder. Kenapa soft-cup-feeder, tentu karena ingin menghindarkannya dari resiko bingung puting dimana bayi menolak menyusu pada payudara atau tetap mau menyusu tapi tidak lagi dengan teknik yang benar sehingga tidak bisa mengosongkan payudara dengan baik yang berimbas pada menurunnya produksi ASI. Dan alasan kedua, karena sudah ada soft-cup-feeder kakaknya dulu, jadi tidak perlu beli :D.

Sunday, December 6, 2015

Because Data, They Should Speak the Truth

Pada suatu hari pada Bulan September saya tergopoh-gopoh menaiki tangga ke ruang rapat kecil di lantai dua kantor saya untuk mengikuti sekaligus menjadi nara sumber kegiatan CoC (Code of Conduct) yang diadakan dadakan di kantor. Iya, benar-benar dadakan, karena awalnya kegiatan ini akan di-skip triwulan ini karena belum ada koordinasi pelaksanaannya. Sampai akhirnya saya berubah pikiran, karena toh masih bisa dilakukan walau seadanya dan ini menyangkut kinerja bidang SDM yang harus dilaporkan tiap triwulan. Benar-benar dadakan, sampai-sampai undangannya pun dari mulut ke mulut dengan bantuan beberapa teman. “Bantuin kumpulin orang dong, seadanya gapapa, kita adain CoC, materinya soal pengelolaan SDM… Aku pematerinya… hahaha, jadi harap maklum kalau banyak kekurangan ya…” Hari itu menyebar undangan, hari itu juga acaranya…

Sampai di atas, kebetulan ada Manajer kami dan langsung saja saya mengajaknya ikut bergabung, “Pak, kami mau ngadain CoC, bapak gabung ya…” “Lha bukannya tinggal edarin absennya aja ya… sini nanti saya tanda-tangani…” katanya sambil terseyum dan masuk ke ruangannya. “Ah, bapak itu sepertinya menguji integritas dan profesionalitas saya,” pikir saya dalam hati (haha :D). “Manipulasi data, enggak lah ya,” gumam saya dalam hati dan kemudian buru-buru masuk ke ruang rapat untuk memulai CoC ala kadarnya ala saya. Memang ala kadarnya, tapi benar-benar dilakukan, dengan materi yang benar-benar di-sharing-kan, hanya saja peserta dan waktu pelaksanaan yang tanpa perencanaan.

Wednesday, November 18, 2015

My Pay It Forward Project

Muda dan galau, itulah saya di kala menginjak masa remaja hingga duduk di bangku kuliah. (Baca: muda, merasa memiliki cukup kemampuan dan banyak keinginan tapi selalu takut mewujudkannya menjadi sebuah tindakan). Dan sungguh, rasanya sangat konfrontatif! Merasa jago menyanyi, tapi takut tampil saat diberi kesempatan untuk berkompetisi. Merasa jago matematika, tapi malah down dan mati kutu setelah mendapat pengakuan dari orang-tua dan guru matematika di sekolah. Saya ingin sekali berteman, saya tidak bermaksud sombong; tapi rasa sungkan dan malu selalu menyergap setiap kali akan menyapa orang di sekitar saya. Saya selalu heran dan geram mengapa tidak bisa spontan bergurau dengan lawan bicara saya, selalu saja kaku! Dan semua itu membuat hari-hari saya terasa benar-benar tidak memuaskan, selalu dipenuhi dengan rasa kecewa yang menyesakkan.


Baik, saya melihat ada banyak orang yang pemalu, pendiam dan sebagainya; tapi adakah yang merasakan hal yang sama jauh di dalam hatinya? Sebuah pertentangan batin yang membingungkan saat sebuah keinginan yang begitu besar bertemu dengan ‘ketakutan’ mental yang tidak kalah besar?

Saat itu, saya begitu bingung, ada apa dengan saya dan apa yang harus saya lakukan. Berbagai upaya sudah saya coba, mulai dengan mencoba mengesampingkan perasaan itu, bahkan dengan mencoba di sebuah lingkungan yang benar-benar baru (sekolah baru); tapi selalu gagal! Semangat dan keinginan saya selalu kalah melawan rasa takut yang terwujud sebagai keinginan untuk menghindar, rasa nervous dan deg-deg-an serta rasa takut gagal yang tidak pernah saya kesampingkan. Sampai akhirnya, saking gundah gulananya saya, terlintas dalam pikiran saya untuk mencoba peruntungan memilih Jurusan Psikologi saat SPMB tahun 2003. Dan singkat cerita, dengan segala ketidakmungkinan yang besar dan juga ketakutan, atas ijin Alloh, saya diterima. What a surprise!

Saturday, November 7, 2015

‘Cause Risks, They’re Exist Everywhere…

Beneran lho… resiko itu ada di manapun, bahkan bagi seorang pekerja administrasi di dalam kantor yang alat kerjanya komputer, bolpen dan sebangsanya! Resiko itu ada, kadang datang dengan sendirinya malah! Seperti sekitar 5 tahun yang lalu saat status saya masih pegawai training (OJT/On the Job Training), mendadak ada pegawai yang kalap (marah sampai lupa diri) saat merasa tidak puas dengan jawaban seputar kenaikan grade-nya (mungkin di perusahaan lain disebut sebagai ‘golongan’, ‘peringkat’, dsb.). Dan sontak, saya yang masih ‘unyu-unyu’ waktu itu langsung kabur ke ruangan lain dan menangis… shock gitu lho :’(.



Dan tadi siang, sekitar 5 tahun kemudian, kejadian itu kembali terulang dengan setting yang berbeda. Kali ini, sedikit banyak saya bukan hanya penonton dalam kejadian itu. Yah, walaupun bukan pemeran utama juga, tapi amarah bapak itu berasal dari sesuatu yang saya kerjakan. Bapak itu marah karena kuitansi berobatnya tidak bisa di-reimburst karena ada masalah administrasi. Lha gimana, kuitansi apotik dia cuma tertulis ‘pembelian obat-obatan’; copy resepnya sama semua, bener-bener di-copy sendiri (bukan copy dari apotik) dan itu resep dari tahun 2014 dan 2013, harganya beda-beda!? Benar-benar mengundang kecurigaan bukan? Malah pernah dengar kalau resep obat yang sama itu hanya bisa ditebus 3 kali, setelah itu harus konsultasi kembali karena mungkin kan kondisi pasien sudah berubah sehingga obatnya pun perlu diganti. Itupun seharusnya salinan resep dibuat lagi oleh apotik, bukan fotokopian…

Sunday, November 1, 2015

Jalan Tengah yang Tidak Bertemu

Lulus kuliah, bekerja, menikah dan kemudian mempunyai anak… menjadi wanita karir sekaligus membangun keluarga yang hangat, itulah mimpi saya. Mimpi yang saat itu terasa sederhana dan mudah saja dicapai… waktu itu saya masih begitu naïve (tutup muka :D). Sekarang, sejak memiliki Si Sulung Ganesha, semua berubah… Mimpi menjadi wanita karir terbang begitu saja, ternyata saya tidak bisa mengesampingkan anak dan keluarga saya lebih dari lima hari seminggu dan delapan jam sehari. Ternyata saya posesif sekali, saya tidak ingin kehilangan waktu bersama keluarga saya lebih dari kewajiban saya sebagai pekerja. Hingga bekerja lebih dari pukul 07:30 sampai dengan 16:00 itu terasa pengorbanan yang berat sekali. Saat itu, mimpi saya pun berubah… Bekerja selama 8 jam sehari dan lima hari seminggu itu seperti ‘me time’ untuk bisa mengekspresikan sisi ‘suka mengejar target’ dalam diri saya. Namun, di luar itu adalah ‘hidup dan tujuan’ saya sesungguhnya… keluarga…


Dan kemudian ‘drama-drama’ si ibu posesif yang tetap harus menjadi nomor satu ‘di rumah’ tapi masih membutuhkan ‘kerja’ untuk menyeimbangkan jiwa; pun hadir silih berganti. Mulai dari ringan hingga berat, dan yang paling umum terjadi adalah pada saat harus pergi ke luar kota untuk dinas. Dan saat-saat seperti itu, saya selalu membawa anak yang belum saya sapih. Alasannya sederhana saja, karena menurut saya pada masa menyusui, anak masih sangat tergantung secara fisik dan terlebih secara psikis pada ibu dan saya tidak tega meninggalkan mereka di malam hari. Yah, sebenarnya bisa saja sih anak dibiasakan untuk ditinggalkan di malam hari juga, tapi saya sengaja tidak melakukan hal itu. Bagi saya kebersamaan di malam hari itu adalah waktu untuk mengobati rasa rindu setelah selama 8 jam berpisah di siang hari, bagi saya maupun anak-anak. Dan saya tidak keberatan untuk lebih repot dan mengeluarkan dana pribadi mengajak anak dinas keluar kota bersama pengasuhnya. Demi kesehatan mental bersama, pengorbanan itu sepadan…

Ganesha 2 tahun ikut dinas ke Palembang dari Tanjung Enim
Juni 2013

Friday, October 16, 2015

Berkaca dari ‘Kenakalan’ Anak Kita

Sang Ibu
:
“Papa, kayaknya Doni udah mulai ga kontrol deh main hape-nya…”
Sang Ayah
:
“Doni… udahan ya main hape-nya… Kan udah lama…”
Sang Anak
:
“Enggak…”
Sang Ayah
:
(Mulai naik darah) “Doni, udahan main hape-nya… kalo ga, Papa hapus nanti semua game di hape Papa…”
Sang Anak
:
“Enggaaaakkkk!!!”
Sang Ayah
:
(Makin emosi) “Eh, kamu makin nggak bisa diatur ya… kebanyakan diturutin… Papa itung sampe 10, kalo ga berhenti juga, Papa hapus game-nya!!!”
Sang Anak
:
“Enggaaakk…” (Mulai menangis)

Aah… sebuah cerita klasik dan umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebuah cerita yang saya pun mengalaminya semasa kecil. Dan sekarang seolah terulang kembali saat saya menjadi seorang ibu. Iya, kadang kejadian seperti di atas dalam setting yang berbeda (tidak terelakkan) terjadi dalam kehidupan kita. Sesuatu yang memang klasik dan (mungkin) umum terjadi, tapi membuat saya berpikir… “Memang anak-anak ini apa iya dengan tiba-tiba menjadi ‘nakal’? Masa sikap yang tidak menyenangkan (misalnya suka teriak-teriak) itu bawaan gen?”

Dan jawabannya tentu saja TIDAK… Tentu saja anak-anak ini bukan mendadak, begitu bangun tidur tiba-tiba bersikap ‘nakal’. Dan lebih tidak masuk akal lagi kalau sikap seperti suka teriak-teriak itu adalah bawaan gen (ada-ada saja :D). Sikap-sikap yang ditunjukkan anak-anak yang bagi kita kadangkala dengan mudah disebut sebagai ‘nakal’ itu, bukan terjadi secara serta merta dan tanpa sebab. Ada latar belakang yang menyebabkan seorang anak bersikap seperti itu. Dan sayang sekali, kita sebagai orang-tua sesungguhnya pasti ada dalam rangkaian latar belakang itu; secara langsung atau tidak langsung, secara sadar atau tidak sadar…

Seringkali, meskipun tidak selalu…

“Masa iya sih? Rasanya kita sebagai orang-tua tidak pernah dan tidak akan pernah mengajarkan hal-hal yang negatif seperti itu deh…” Baiklah, mari kita renungkan bersama…

Anak memang tidak terlahir seperti selembar kertas kosong, tapi mereka selalu terlahir sebagai ‘malaikat-malaikat’ kecil yang tidak punya niat buruk sama sekali. Sedari bayi pun mungkin mereka kadangkala bersikap yang bagi kita orang dewasa ‘merepotkan’ atau ‘mengganggu’, misalnya rewel. Namun, tentu kita semua sadar, bahwa sikap ini bukanlah manifestasi dari keinginan mereka untuk mengganggu kita. Rewel, seringkali adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk mengkomunikasikan kondisi yang membuat mereka tidak nyaman, baik fisik maupun psikis. Baik, kalau soal ini sih sebagian besar dari kita bisa memaklumi dengan mudah… Tapi, perlahan-lahan kemakluman dan kesabaran kita mungkin akan menipis dengan bertambahnya usia anak. Lagi-lagi ini juga permasalahan klasik yang umum terjadi…

Wednesday, October 7, 2015

Memanusiakan Sifat Perfeksionis

It’s been a while… Tidak terasa, sudah dua bulan tidak meninggalkan jejak di blog ini. Beneran lho, sewaktu kembali berseluncur ke blog semata wayang ini, post terakhir adalah tanggal 24 Juli 2015. Hmm, what happen? Mungkin ada yang bertanya demikian (ada kan ya… :D). Dan jawabannya adalah… complicated. Yang jelas, menulis itu masih-masih kegiatan yang sangat menyenangkan bagi saya, dan ide-ide tulisan pun masih bersliweran di kepala saya… Tapi, yang namanya ide dan kemauan itu, kalau tidak bertemu dengan situasi dan mood yang mendukung, seringnya terbang begitu saja, alih-alih terdokumentasi menjadi ‘sesuatu’.

Dan itulah yang terjadi pada saya… Ada beberapa kejadian yang membuat ide dan keinginan menulis saya terbengkalai begitu saja; sebut saja pelimpahan pekerjaan tambahan yang menyita waktu dan membuat jet lag. Yang membuat hasil kerja tidak memuaskan, karena mau tidak mau harus menurunkan standard agar (paling tidak) semua bisa terselesaikan, terlepas dari seberapa berkualitas hasil kerja kita. And trust me, untuk kami-kami dan kita-kita yang bernama tengah ‘perfectionist’ itu adalah hal yang sangat menyebalkan dan stressfull! Fiuhh… But the show must go on, the life must go onand everything exactly must go on… Dan akhirnya setelah dua bulan kelimpungan seperti cacing kepanasan, I’m finally cope with my situation… Bukannya akhirnya bisa membuat kehidupan kerja dan keluarga jadi sempurna dua-duanya, tapi paling tidak saya bisa mulai menikmatinya. Dengan menyadari bahwa waktu dan sumber daya yang saya miliki itu terbatas, membuat skala prioritas dan menerima saat sesuatu tidak berjalan ‘sesempurna’ yang kita inginkan.

Baik, sebelum semua menjadi semakin abstrak, saya akan menceritakan sedikit situasi yang saya alami… Siapa tahu kan, ada teman-teman yang senasib, yang merasa kalang kabut dan tidak puas karena hasrat perfeksionis-nya tidak tersalurkan, terhambat waktu dan sumber daya yang ada… siapa tahu :D.

I was born perfectionist… Banyak orang yang berpikir bahwa ‘perfeksionis’ itu adalah sesuatu yang positif dan itu sama sekali tidak salah, lihat saja Agnes Monica yang selalu spektakuler di setiap penampilannya karena sifatnya yang satu ini. Tapi, sesungguhnya ada sisi negatif dari sifat ini, salah satunya rentan menimbulkan stress; untuk bisa memenuhi ekspektasi kita dan makin stress lagi saat ekspektasi tersebut benar-benar tidak tercapai :’(. Benar, sifat perfeksionis itu mendorong kita untuk mencapai target yang tinggi; tapi semua itu masih dikendalikan oleh faktor dari dalam kita (kemampuan mencapai si target) dan dari luar (sumberdaya dan kesempatan). Jadi (lagi), sifat ini hanyalah modal awal untuk mencapai hasil yang tinggi, akan tetapi jika si empunya target ternyata suka menunda-nunda waktu atau ternyata memiliki banyak kegiatan lain sehingga tidak punya banyak waktu untuk mengejar target itu, maka target ini tidak akan tercapai. Dan yang kedua inilah yang terjadi pada saya…

Friday, July 24, 2015

The Wonder Weeks: Alasan Indah di Balik Kerewelan Bayi

Semua pasti setuju bahwa merawat bayi itu membutuhkan kesabaran tersendiri; karena mereka sepenuhnya tergantung pada kita dalam segala hal, sepanjang waktu dengan kemampuan komunikasi yang masih terbatas. Seringkali menangis menjadi satu-satunya bahasa yang harus diterjemahkan menjadi berbagai ketidaknyamanan mereka; seperti lapar, kepanasan dan sebagainya. Jelas ini bukan hal yang mudah bukan, apalagi pada saat bayi rewel, lebih dari biasanya. Stok kesabaran harus benar-benar ditingkatkan untuk menghadapi bayi yang mendadak menjadi serba salah dan hobi menangis itu. Melelahkan, itu pasti, tapi ternyata ada alasan yang positif di balik kerewelan bayi itu, paling tidak itulah hasil penelitian dari Hetty van de Rijt, Ph.D. dan Frans Plooij, Ph.D, pasangan suami istri yang sama-sama berkecimpung dalam dunia Psikologi Pendidikan. Sebuah konsep yang diperoleh melalui penelitian selama bertahun-tahun yang mereka dokumentasikan dalam buku ‘The Wonder Weeks’. Sebuah konsep yang menjelaskan bahwa ada masa-masa tertentu dimana bayi akan rewel karena adanya perkembangan mental tertentu yang tengah terjadi.


Dalam buku mereka, ‘The Wonder Weeks’ yang pertama kali terbit di tahun 1992, van de Rijt dan Plooij menyebutkan adanya 10 tahapan perkembangan mental bayi pada 20 bulan pertama hidup mereka. Dimana 10 tahapan perkembangan mental ini, seringkali ditandai dengan perilaku rewel (fussy) yang seringkali spesifik pada usia-usia tertentu; yaitu minggu ke-5, 8, 12, 19, 26, 37, 46, 55, 64 dan 75. Misalnya saja pada saat melalui tahapan ‘Changing Sensation’ pada minggu ke-5, perilaku rewel bayi berupa perilaku berteriak, menangis dan menolak (sulit) untuk tidur. Dimana hal ini merupakan akibat dari kebingungannya karena dibombardir dengan berbagai stimulus yang awalnya tidak dirasakan karena organ, metabolisme dan indera yang belum matang.

Hal ini pula yang terjadi pada minggu-minggu selanjutnya, yaitu ke-8, 12 dan seterusnya. Tentu saja dengan karakteristik kerewelan yang berbeda, karena perbedaan perkembangan mental yang terjadi saat itu. adapun secara singkat, perkembangan-perkembangan mental yang terjadi pada usia-usia tersebut secara lengkap adalah sebagai berikut:

Tuesday, June 30, 2015

Belajar Menyetir Mobil Itu…


“Apa sih susahnya nyetir itu… gampangan nyetir mobil daripada motor tauk…”

Mungkin apa yang dibilang suami saya itu benar baginya, atau sebagian besar orang, tapi bukan saya :(. Bagi saya, mobil adalah sebuah kendaraan yang sulit dikendalikan; dengan ukuran dan tenaganya yang besar, serta (jangan lupakan) tuas-tuas kemudi yang kompleks (baca: setir, kopling, rem tangan, dkk.). Dan itu sebabnya, saya selalu menolak untuk belajar menyetir, selain karena memang belum ada urgensinya. Saat itu, kemampuan saya bermotor sudah lebih dari memadai untuk memfasilitasi kebutuhan mobilisasi saya; karena saat itu memang kantor, bank, pasar, midi market dan sejenisnya jaraknya tidak lebih dari 4 km. Namun, all good things come to and end (meminjam lirik lagu Nelly Furtado dan Mandy Moore), akhirnya semua kemudahan itu berakhir…

Setelah mutasi ke Lampung, jarak ke kantor melar sampai 30 km (1 jam perjalanan) dan jalanan-jalanan kampung yang sangat bersahabat dengan pengendara motor berubah menjadi jalan lintas propinsi yang dipenuhi kendaraan-kendaraan raksasa. Beberapa saat setelah pindah ke Lampung juga, kami harus mencari pengasuh yang baik dan sayang pada Ganesh dan Mahesh, yang alhamdulillah kami temukan, namun tidak bersedia untuk menginap ataupun bekerja terlalu jauh dari tempat tinggal mereka (rumah kami saat ini), sehingga opsi pindah rumah mendekati kantor saya pun kami coret. Dua hal itulah yang akhirnya membuat saya (terpaksa) harus belajar menyetir! Karena jika tidak; itu sama artinya membuat suami saya terus terlambat ke kantor karena harus mengantar saya dulu dan juga harus meninggalkan Ganesh dan Mahesh  lebih lama karena untuk pulang saya harus menunggu jemputan suami. Dan ini stressfull, karena pada saat sampai di rumah kadangkala Mahesh sudah rewel ingin tidur dan Ganesh jadi terabaikan. Padahal setiap pulang, Ganesh sudah menunggu-nunggu kedatangan saya.

Lupa pernah baca quote ini dimana,
tapi sangat setuju bahwa rasa takut terkadang hanyalah
ilusi yang tampak nyata

Jadi, meskipun pesimis akan hasilnya, saya pun ‘menutup mata’ dan berusaha, seperti ini…

Friday, June 12, 2015

Mahesha’s 4th Month: The Very Sociable Mahesha!

Tanggal 18 Mei 2015 lalu (hampir 2 minggu lalu), Mahesha tepat berusia 4 bulan! Yeay! Senang itu pasti, karena semakin bertambah usianya, berarti semakin bisa diajak jalan-jalan anaknya, hehe :D. Senang, salah satunya juga karena sehari sebelum usianya tepat 4 bulan, akhirnya Mahesh bisa tengkurap. Setelah beberapa hari sebelumnya sempat bertanya-tanya, kenapa si kecil tembem ini belum juga menunjukkan tanda-tanda belajar tengkurap, yang notabene adalah salah satu milestone perkembangan bayi 4 bulan. Iya, tepat sehari sebelum usianya 4 bulan, tanpa ada tanda-tanda belajar, mendadak dia tengkurap begitu saja! Wuah, leganya Le… Kamu ternyata pengen bikin kejutan buat Mama sama Papa ya :*

Mahesha Si Pantang Menyerah :D

Dan selain tengkurap, ada perkembangan lain yang membuat bermain bersama si kecil tembem ini lebih seru! Yes, sejak sebulan ke belakang (3 s/d 4 bulan) rasanya ‘antena’ Mahesh menjadi semakin tinggi sehingga mampu menangkap berbagai ‘sinyal’ yang ada di sekitarnya, sekaligus memberikan respon dengan caranya sendiri… dan ini jelas membuatnya semakin lucu! :D.

Jika sebelumnya paling Mahesh senyum jika ada yang mengajaknya berinteraksi (misal tersenyum dan mengajak ngobrol); tapi sekarang, dia bisa tertawa terkekeh-kekeh bahkan memalingkan wajah (seperti mengajak bercanda). Jika dulu, kosakata bayi Mahesha hanya teriakan ‘ang!’ dan menangis untuk semua maksudnya, maka sekarang dia bisa membuat berbagai bunyi yang lebih variatif, termasuk bermain ludah :P. Dan dengan kemampuan barunya mengekspresikan perasaan dan keinginannya, praktis Mahesha jadi lebih jarang menangis, karena dia punya cara lain untuk ‘berbicara’. Misalnya saja memonyongkan bibir sambil meluruskan kaki dan menegangkan tangannya plus mendengus, itu artinya dia bosan dan ingin segera diangkat. Atau kalau mau minta ‘nenen’ dia akan bergumam pelan (seperti merengek) sambil memandang saya dan menggerakkan kaki dan tangannya. Well, setelah 4 bulan, Mahesha kini sudah mulai beranjak dewasa, lebih sadar akan lingkungannya dan memberikan respon yang lebih ‘berarti’.

Thursday, May 7, 2015

Mahesha’s 3rd Months: Memahami Pola Sederhana


Hayo, siapa yang sempat mengabadikan foto si kecil dengan pose di atas? Jujur lho, saya baru sadar kalau pose ini sangat umum dilakukan anak-anak di antara usia 2 sampai dengan 3 bulan, setelah memiliki anak kedua. Dan ternyata ada sesuatu lho yang melatarbelakangi pose lucu nan serius ini. Sesuatu yang menjadi pertanda bayi lucu kita semakin memahami dunia di sekitarnya, mengenal pola sederhana dalam dunia, sesederhana bahwa dia bisa menggerakkan tangan yang selama ini (mungkin) tidak disadari keterkaitannya dengan dirinya… Sebuah lompatan pemahaman yang oleh van de Rijt & Plooij disebut sebagai ‘leap of pattern’. *Ulasan tentang pendapatnya menyusul di postingan berikutnya.

Wednesday, April 8, 2015

‘Better than This’ but ‘Still I Fly’…


Seumur hidup, selama lebih dari 29 tahun, baru dua kali saya meninggalkan tempat yang saya sebut ‘rumah’. Tahun 2008 saat saya menerima tugas kerja pertama saya di Palembang kemudian ke Tanjung Enim, dan awal tahun 2015 saat saya menerima keputusan mutasi pertama saya ke Bandar Lampung. Migrasi yang membawa kebaikan sejauh ini, karena migrasi pertama membawa saya bertemu suami saya saat ini dan migrasi kedua pun mendekatkan kembali kami sekeluarga setelah suami terlebih dahulu mutasi di bulan Juli 2014. Hmm, kedengarannya memang nasib benar-benar berpihak kepada kami bukan? Dan sudah sepantasnya kami bahagia dan bersyukur… Tapi, selama 6 tahun tinggal di suatu tempat hingga kami menyebutnya rumah, tentu menyisakan kenangan tersendiri. Kenangan yang membuat kami berkali-kali melihat ke belakang, tapi tentu saja tidak membuat kami lupa bahwa tempat baru ini adalah jawaban atas doa-doa kami untuk bisa bersama-sama sekeluarga dan kami begitu bersyukur.

Tanjung Enim… 6 tahun lalu, di tahun 2008 saya pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu sebagai seorang dewasa. Karena lucunya, semasa kecil saya pernah tinggal disana bersama orang-tua karena tugas kerja. Hmm, mungkin benar juga mitos yang beredar disana, bahwa sekali seseorang meminum air Sungai Enim, dia pasti akan kembali kesana. Saya buktinya :D. Waktu itu, dengan segala suka cita karena mendapatkan pekerjaan pertama saya sekaligus mimpi yang terwujud untuk hidup (benar-benar) mandiri setelah 25 tahun tinggal bersama orang-tua; saya pun melangkah dengan begitu mantap.

Tuesday, April 7, 2015

Menemukan Alasan yang Penting Bagi Anak untuk Mendorongnya Melakukan Sesuatu

“Ganesh, kalo di kelas ikutin katanya Bu Guru dong…  Biar Bu Gurunya tau kalo Anesh bisa nyanyi, terus dikasih nilai deh…” Beberapa kali saya sounding seperti itu pada Ganesh supaya mau aktif bernyanyi saat pelajaran sentra musik di kelas SPS*-nya. Tapi, tetott!  Apa pentingnya nilai untuk anak seusia Ganesh (3.5 tahun)? Dan Ganesh pun tetap tidak mau bernyanyi di kelas, meskipun sebenarnya memiliki katalog lagu yang cukup banyak… mulai dari lagu berbahasa Indonesia sampai berbahasa Inggris; dari ‘Balonku Ada Lima’ sampai ‘Still I Fly’ soundtrack-nya Planes: Fire & Rescue… (Beberapa rekaman nyanyian Ganesh ada di ‘Singing Ganesha: Mengenalkan Musik pada Anak').

  
Baik, pendekatan pertama gagal, kita coba cara lain…
Saya: “Ganesh, nanti kalo udah bisa nyanyi bisa ikut lomba nyanyi lho…  Nanti bisa dapet piala kaya mama… ”
Ganesh: “Mama, Anesh sudah pinter nyanyi, mana pialanya?”
Saya: “Kan nyanyinya harus di depan banyak orang, di depan juri biar bisa dinilai bagus apa enggak. Makanya Anesh belajar dulu…”
Ganesh: “Juri itu apa Mama?”
Saya: “Juri itu orang yang ngeliatin kita nyanyi dan ngasih nilai bagus ga nyanyian kita”
Ganesh: “Anesh kan nyanyi di depan Mama, Mama aja beliin Anesh piala…”
Saya: “(Speechless) (Ya sudahlah Le…  nikmati saja apa yang kamu inginkan di kelas…  mungkin nanti kamu akan menemukan alasan untuk bernyanyi di kelas).
Tamat.

Sampai pada suatu hari, dari kelas SPS terdengar suara lantang seorang anak bernyanyi, “Lihat kebunku penuh dengan bunga, ada yang putih dan ada yang merah…” Sontak saya dan beberapa ibu yang juga sedang menunggu anaknya menengok ke kelas. Suara itu tidak asing bagi saya, tapi masa iya Ganesh bernyanyi di kelas? Karena selama 2 bulan ini dia belum mau bernyanyi di kelas. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak merasa perlu melakukan hal itu; menyanyi kan bisa dimana saja, kenapa harus di kelas dan di depan Bu Guru? Berbeda dengan permainan lain; seperti puzzle dan bantal bercerita yang hanya ada di kelas.

Wednesday, March 25, 2015

Mahesha's 2nd Month: Halo Dunia, Ini Mahesha…

Yeay! Bulan pertama Mahesha si bayi baru akhirnya terlewati. Kalau di aplikasi 'my baby today', sekarang Mahesha bukan lagi newborn tapi bayi 1 bulan. Fiuhh, benar-benar melegakan, dan sejak saat itu hari-hari menjadi lebih menyenangkan, tidak ada lagi acara menghitung hari berakhir jam demi jam :D.

Memasuki bulan keduanya, Mahesha sudah lebih gendut sehingga terlihat lebih lucu dan tidak ringkih seperti dulu. Jadi, kami pun lebih bersemangat mengajaknya bermain, meski pada awalnya dia belum bisa merespon. But, still it's fun ;). Paling tidak bisa menjadi pengimbang kegalauan kami karena permasalahan Mahesh yang tidak bisa tidur siang di tempat tidur masih berlanjut saat itu. Jadi, acara gendong-gendong masih berlanjut *_*.

Masalah Tidur Siang, Closed! Berbagai cara sudah kami coba untuk mengajarkan Mahesh untuk tidur siang di tempat tidur, tapi tetap, tempat tidur siang favoritnya adalah di dalam gendongan. Setiap kali diletakkan di tempat tidur, pasti dia akan ngulet-ngulet (menggeliat) dan kemudian terbangun. Jika sudah tidak mengantuk, selanjutnya kami bisa bermain sebengar, tapi jika dia rewel karena masih ingin tidur, maka kami kembali menggendongnya. Bau tangan? Hmm, mungkin, meskipun menurut saya istilah itu tidak terlalu tepat. Menurut saya, Mahesh memang memiliki kecenderungan suka bergerak dan menggeliat, namun belum bisa sepenuhnya mengontrol gerakan tangan, kaki dan tubuhnya; sehingga semua itu justru membuatnya tidak bisa tidur nyenyak di siang hari, karena banyaknya rangsang yang membuatnya tidak bisa tidur sepulas di malam hari.

Monday, March 23, 2015

Mahesha's 1st Month: Beradaptasi

Perkembangan anak itu selalu seru dan ditunggu-tunggu. Iya, melihat anak bayi yang dulu ada di rahim kita selama 9 bulan kemudian setelah dilahirkan perlahan-lahan bisa tersenyum, memasukkan tangan ke mulut, tengkurap, dst. itu sangat menyenangkan bukan? Atau lebih tepatnya menyenangkan dan tidak akan terulang, sehingga mendokumentasikan pertumbuhan dan perkembangan anak tentu akan menjadi hal yang berharga bagi kita. Ah, sesuatu yang belum terpikirkan oleh saya saat memiliki anak pertama dulu. Tapi sekarang, belajar dari pengalaman, saya bertekad akan berusaha mendokumentasikan pertumbuhan dan perkembangan Mahesh bulan demi bulan sampai usia 1 tahun. Supaya menjadi kenangan di masa depan dan siapa tahu bisa memberikan informasi bagi para ibu dan orang-tua yang lain (pede :D).

Dan berikut adalah cerita Mahesha pada bulan pertama. (Ceritanya dirapel karena bulan pertama belum bisa bagi waktu untuk menulis sepenuhnya).

***


Cerita Mahesh di dunia dimulai pada Hari Minggu tanggal 18 Januari 2015 pulul 12:03 WIB. Begitu dilahirkan di dunia, seperti bayi pada umumnya beberapa hari kehidupannya Mahesh menjadi bayi yang tenang, mudah diasuh dan ditidurkan. Hal ini terjadi sampai sekitar seminggu, hmm, baguslah karena seminggu pertama emaknya masih dalam pemulihan fisik dan psikis.

Wednesday, March 18, 2015

Ganesha the Big Brother: Membantu Anak Menjalani Peran Baru sebagai Kakak

“Ganesh kalo udah gede mau jadi apa?”
“Mau jadi kakak!” Itu jawaban Ganesh setiap saya menanyakan pertanyaan di atas.


Beberapa waktu lalu, pasca kelahiran Mahesha adiknya, sempat terlintas di pikiran saya bahwa Ganesh telah berubah pikiran karena dia terlihat jetlag dengan peran barunya. Jika dulu dia mendapatkan begitu banyak perhatian dari semua orang, maka setelah Mahesh lahir, dia menjadi harus sering mendenar jawaban, “Sebentar ya, mama lagi nenenin adek…” dan sejenisnya. Waktu itu, Ganesh sempat tampak begitu menuntut perhatian. Apa-apa; mulai dari makan, ganti baju, sampai pipis; minta sama mama dan papanya, padahal dulu biasa saja dibantu oleh simbah pengasuhnya. Waktu itu, sempat terpikir, apakah Ganesh belum siap memiliki adik dan apakah situasi ini terlalu berat baginya, ditambah baru beberapa hari kami pindah sehingga dia masih asing dengan lingkungannya. Dan kami pun tidak bisa mengelakkan rasa bersalah karena situasi yang dihadapinya ini.

Hari pertama Ganesh dijemput ke rumah sakit untuk menengok saya dan adiknya mungkin adalah kekecewaannya yang pertama. Saat itu, begitu melihat adiknya dan perut saya sudah mengempis, dia langsung minta gendong. Mungkin saat itu dia berpikir bahwa karena mamanya sudah tidak hamil, maka bisa minta gendong. Dan semua itu salah saya, karena sewaktu hamil selalu berkata bahwa setelah adiknya lahir, dia bisa minta gendong lagi. “Ganesh, maafkan mama ya nak… Mamamu ini memang kadang-kadang oon…”

Monday, March 16, 2015

Hiperlaktasi, am I?

Hari ini (Jumat, 27/02/2015) Mahesha tepat berumur 40 hari, dan berikut adalah penampakan freezer kulkas saya yang diakuisisi oleh ASI Perah yang saya kumpulkan pada saat payudara terasa bengkak karena intensitas Mahesh minum masih lebih rendah dibanding produksi ASI saya.

Penampakan Freezer hari ke-40
Full, definitely need a new one!
*saat tulisan ini mulai dibuat*

Dulu pada saat usia Mahesh  kurang dari 2 minggu, saya harus memerah 3 x @100 ml/hari. Lalu setelah itu menurun menjadi 2 x @ 100 ml/hari seiring meningkatnya konsumsi ASI Mahesh. Nah, lalu, beberapa hari ini, pasca Mahesh mulai dilatih minum ASIP dengan soft cup feeder menggunakan satu kali waktu nenennya, intensitas memerah meningkat lagi menjadi 3 x @100 ml/hari.

Total ada 64 botol ASIP @100 ml dan sekitar 40 kantong ASIP dengan rata-rata volume @60 ml. Jumlah yang menurut saya sih banyak sekali, walaupun banyak ibu yang memiliki persediaan ASIP lebih banyak sampai membutuhkan 1 (atau bahkan lebih) freezer khusus ASIP. Iyah, paling tidak jumlah itu sudah membuat kami memutar otak dan mempertimbangkan untuk juga membeli freezer khusus ASIP karena di kota kami tidak ada persewaan freezer. Haruskah? Iya, sepertinya demikian atau ASIP yang saya kumpulkan setetes demi setetes terpaksa dibuang '_'.

Dan malam itu, saat hendak memerah botol ke 64 di hari ke 40, mendadak saya berpikir, “Apakah produksi ASI saya masih dalam ambang batas yang wajar? Ataukah memang terlalu banyak? Dimana segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik bukan?” Karena itulah malam itu saya kemudian browsing dengan kata kunci ‘air susu berlebihan’ dan menemukan sebuah istilah baru, yaitu ‘hyperlactation’ atau ‘hiperlaktasi’.

Tuesday, March 10, 2015

Lika-Liku Mencari Bra Menyusui yang ‘Pas’

Waktu itu, masih hitungan beberapa bulan sebelum perkiraan kelahiran Mahesh, saya sudah mulai sibuk mencari perlengkapan untuk Mahesh maupun saya pasca melahirkan nanti. Dan salah satu barang wajib yang kala itu sedikit sulit didapatkan adalah bra menyusui! Sampai-sampai seorang teman saya membantu hunting saat sedang berjalan-jalan ke mall di kotanya (walaupun akhirnya tidak membuahkan hasil karena pertimbangan ongkir).

Jika tinggal di kota besar, mungkin hal itu tidak perlu terjadi, karena saya bisa dengan mudah menjelajahi pusat-pusat perbelanjaan untuk menemukan bra menyusui yang pas dari sisi ukuran, kenyamanan dan juga harga. Tapi sayangnya lokasi saya yang cukup pelosok, membuat semua itu menjadi hal yang sulit dilakukan. Dan akhirnya, saya pun mengandalkan toko-toko di dunia maya untuk menemukan bra menyusui yang pas.

Oh ya, sebelum melanjutkan cerita perburuan ini, saya ingin bercerita pentingnya sebuah bra menyusui menurut saya, diantaranya sebagai berikut:
  1. Membantu melalui masa-masa pembengkakan payudara dengan lebih nyaman. Beberapa hari pasca melahirkan hampir semua wanita akan mengalami pembengkakan payudara dalam upaya tubuh untuk menghasilkan ASI untuk bayinya (rasanya bisa baca disini). Nah, menurut pengalaman saya, bra menyusui yang fleksibel dan nyaman sangat membantu melewati masa-masa itu dengan nyaman. Kebayang kan 'repotnya' merasakan payudara yang cenat-cenut dan harus disusukan, jika menggunakan bra yang tidak pas bisa dipastikan rasanya akan sangat menyiksa.
  2. Membuat ASI lebih cepat 'disajikan' saat bayi membutuhkan. Jadi, salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah kemudahan membuka kancing bra pada saat akan menyusui.
  3. Memudahkan pada saat harus menyusui di tempat umum. Dengan bra menyusui yang mudah dibuka dan dikancingkan, maka 'kehebohan' untuk menyusui akan dapat diminimalkan sehingga tidak terlalu mencolok.
Jadi, setuju kan, kalau bra menyusui itu memang hal yang penting dan essential pasca melahirkan.

Monday, March 9, 2015

Drama Psikologis Pasca Melahirkan

Pada posting-an sebelumnya, ‘Drama Fisiologis Pasca Melahirkan’, saya menceritakan pengalaman tentang ketidaknyamanan fisik yang terjadi sehabis melahirkan. Yaitu ketidaknyamanan sebagai akibat dari proses melahirkan dan proses tubuh untuk menulihkan diri (mengembalikan rahim ke ukuran semula) dan menyiapkan diri untuk mendukung kehidupan bayi kita (memproduksi ASI). Nah, selain tantangan fisik tersebut, banyak juga wanita yang mengalami tantangan psikis yang disebut sebagai baby blues atau post partum blues, yang membuat para ibu dari bayi baru menjadi larut dalam berbagai perasaan negatif (seperti sedih, kecewa, menyesal, dan sebagainya).

Jadi, apakah Anda merasakan kesedihan yang mendalam, depresi dan frustrasi dengan kehidupan Anda saat ini? Merasa powerless (tidak berdaya) dan putus asa? Ataupun perasaan-perasaan negatif lainnya pasca melahirkan? Jika ‘ya’, maka Anda memang sedang mengalami apa yang disebut sebagai baby blues.


Kedengarannya memang tidak masuk akal bukan? Bahwa pada saat yang begitu ditunggu-tunggu untuk bertemu dengan 'si kecil' yang tumbuh di dalam rahim kita selama kurang lebih 9 bulan, kita justru mengalami berbagai perasaan negatif tersebut. Bagaimanapun, bayi Anda adalah sebuah anugerah bukan, tidak layak rasanya kita merasa beratdan tidak nyaman karena keberadaannya. Dan itulah yang kadang membuat kita semakin bingung, merasa bersalah maupun bersikeras menolak/tidak mengakui perasaan negatif tersebut.

Monday, February 23, 2015

Drama Fisiologis Pasca Melahirkan

Memiliki buah hati, tentu adalah hal yang sangat menggembirakan. Dan melahirkan sebagai proses akhir dari waktu selama sembilan bulan mengandung adalah sebuah klimaks yang menjadi gerbang pertemuan kita dengan sang buah hati. Ya, proses melahirkan yang seringkali menegangkan tentu akan selalu diakhiri dengan kebahagiaan dan kelegaan yang tidak terkira.


Melahirkan memang akhir dari proses mengandung yang membuat perut kita semakin hari semakin membesar dan membuat tubuh kita harus menopang beban yang juga semakin berat. Hmm, tanpa mengatakan bahwa hamil itu sesuatu yang penuh perjuangan (karena mayoritas wanita pasti bahagia menjalaninya), tapi hamil memang menguras lebih banyak energi fisik maupun psikis. Melahirkan akan mengakhiri ‘perjuangan’ itu, tapi akan membawa wanita pada perjuangan selanjutnya, baik perjuangan fisik maupun psikis, yang tentunya juga menuntut kita untuk sabar dan tekun untuk menjalaninya. Dan berikut adalah tantangan fisiologis seorang wanita pasca melahirkan menurut saya, yang tentunya menegaskan bahwa wanita adalah makhluk yang kuat…

Sunday, February 15, 2015

Welcome to the World Mahesha…

Fiuh, akhirnya setelah absen menulis selama beberapa minggu, akhirnya malam ini mulai lagi… Awal tahun 2015 memang benar-benar hari-hari yang hectic untuk kami. Mulai dari bersiap-siap untuk menyelesaikan hutang pekerjaan kantor sebelum mengambil cuti melahirkan yang direncanakan pada tanggal 12 Januari 2015; yang ternyata harus diubah menjadi orientasi kerja ke unit baru karena saya mendapatkan SK Mutasi ke unit kerja baru. Alhasil sejak Bulan Desember hingga Januari benar-benar menjadi hari super sibuk ditambah dengan persiapan pindahan rumah juga! Dari Tanjung Enim, Sumatera Selatan ke Tarahan, Lampung Selatan… alhamdulillah satu kota dengan tempat kerja suami.

Jadi, apa yang terjadi selama satu setengah bulan pertama di tahun 2015 ini? Hmm, jawabannya: banyak! :D. Mungkin nanti akan ada waktu untuk menceritakan hal-hal berkesan yang menciptakan insight-insight dalam hidup saya, tapi untuk sekarang saya ingin bercerita tentang kelahiran anak kedua kami, ‘Mahesha Abiyasa Parmana’ (Mahesh), pada Hari Minggu 18 Januari 2015 lalu. Here it is…


***

Hari itu, Selasa (13/01/2015) malam setelah segala persiapan pindah selesai, kami pun berangkat dari Tanjung Enim, Sumatera Selatan ke Tarahan, Lampung Selatan via kendaraan darat dan  sampai pada Hari Rabu (14/01/2015) siang. Sebuah perjalanan yang jauh (400 km), lama (12 jam) dan melelahkan (jalan berkelok-kelok dan berlubang-lubang). Dan karena itu, suami sebenarnya menyarankan saya untuk beristirahat dan melapor pada Hari Senin (19/01/2015) supaya tidak terlalu capek. Tapi, saya memiliki pertimbangan lain. Usia kandungan saya sudah 38 minggu pada Hari Sabtu (17/01/2015), dan saat itu bayi sudah cukup matang untuk dilahirkan. Ditambah dengan kelahiran Ganesh yang waktu itu juga terjadi pada usia kandungan 38 minggu, saya pikir lebih baik berjaga-jaga; segera melapor dan mengurus cuti melahirkan, daripada nanti keburu melahirkan :D.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...