Wednesday, April 8, 2015

‘Better than This’ but ‘Still I Fly’…


Seumur hidup, selama lebih dari 29 tahun, baru dua kali saya meninggalkan tempat yang saya sebut ‘rumah’. Tahun 2008 saat saya menerima tugas kerja pertama saya di Palembang kemudian ke Tanjung Enim, dan awal tahun 2015 saat saya menerima keputusan mutasi pertama saya ke Bandar Lampung. Migrasi yang membawa kebaikan sejauh ini, karena migrasi pertama membawa saya bertemu suami saya saat ini dan migrasi kedua pun mendekatkan kembali kami sekeluarga setelah suami terlebih dahulu mutasi di bulan Juli 2014. Hmm, kedengarannya memang nasib benar-benar berpihak kepada kami bukan? Dan sudah sepantasnya kami bahagia dan bersyukur… Tapi, selama 6 tahun tinggal di suatu tempat hingga kami menyebutnya rumah, tentu menyisakan kenangan tersendiri. Kenangan yang membuat kami berkali-kali melihat ke belakang, tapi tentu saja tidak membuat kami lupa bahwa tempat baru ini adalah jawaban atas doa-doa kami untuk bisa bersama-sama sekeluarga dan kami begitu bersyukur.

Tanjung Enim… 6 tahun lalu, di tahun 2008 saya pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu sebagai seorang dewasa. Karena lucunya, semasa kecil saya pernah tinggal disana bersama orang-tua karena tugas kerja. Hmm, mungkin benar juga mitos yang beredar disana, bahwa sekali seseorang meminum air Sungai Enim, dia pasti akan kembali kesana. Saya buktinya :D. Waktu itu, dengan segala suka cita karena mendapatkan pekerjaan pertama saya sekaligus mimpi yang terwujud untuk hidup (benar-benar) mandiri setelah 25 tahun tinggal bersama orang-tua; saya pun melangkah dengan begitu mantap.

Tanjung Enim mempertemukan saya dengan begitu banyak orang-orang baik yang akhirnya menjadi sahabat karib. Dan salah satunya adalah seorang yang pertama kali saya kenal disana melalui seorang teman di Palembang, seseorang yang dua tahun dari sana (2010) akhirnya menjadi suami saya, dengan proses yang tidak bisa dibilang sederhana :D. Hmm, petunjuk yang jelas bukan kenapa Tanjung Enim benar-benar penuh kenangan?

Tanjung Enim adalah tempat yang mengajarkan apa itu idealisme, bagaimana saat dia dihancurkan, dan bagaimana menyalakan kembali asa dan tekad untuk melawan dengan segala daya dan upaya. Mengajarkan begitu banyak pengalaman hidup, tentang bagaimana rasanya berada di titik terendah kepedulian pada sekitar, hingga kesadaran untuk memilih melawan daripada sekedar bertahan. OK, sebut saja ini adalah masa transisi dari seorang gadis lugu yang membayangkan dunia seperti negeri dongeng menjadi seorang wanita yang melihat kenyataan dengan mata terbuka. Hmm, bagian ini mungkin terdengar sedikit lebay…


Tanjung Enim juga menawarkan begitu banyak kenyamanan sebagai seorang ibu… iya, jarak rumah dan kantor yang hanya 5 menit itu benar-benar kenikmatan yang tidak ada duanya! Saya bisa pulang ke rumah setiap jam istirahat untuk menemui anak kecil saya Ganesh. Saya bisa berangkat 07.30 dari rumah dan pulang pukul 16.05 setiap harinya. Hanya meninggalkan Ganesh selama kurang lebih 7 jam setiap hari dan 5 hari seminggu…

“I wish I could push pause tonight
In the middle of the applause and the light
How we are together I'll forever miss
Cause I know nothing gets better than this”
(Better Than This, Marion Raven)

Iya, saya berharap waktu berhenti di masa-masa menyenangkan itu. Saat dimana kami berkumpul bersama sekeluarga bersama sahabat-sahabat yang begitu karib dan menikmati segala kemewahan yang ada… Tapi, hidup harus terus berjalan bukan? Dan dengan memberi kesempatan akan perubahan, dari sanalah kita akan tumbuh menjadi lebih dewasa :). ‘Zona nyaman’, mungkin itulah kata yang tepat untuk sebuah tempat penuh dengan kemudahan seperti Tanjung Enim bukan? Sesuai kata-kata bijak, “pelaut ulung takkan lahir di laut yang tenang,” maka menantang diri sendiri untuk berlayar lebih jauh dengan segala resikonya bukan? Lagi pula, tempat baru belum tentu benar-benar seberat itu bukan? Bisa jadi, ini adalah sebuah cara Tuhan untuk membawa kita kepada kebahagiaan dan kebaikan…

“There' a time in your life
When the world is on your side
You might not feel it
You might not see it
But it surrounds you like a light
Makes you stronger for the fight

Feel the wind all around
All the courage to be found
Who knows what's out there
I know I'll get there
Oh off into the sun
I know I'm not the only one that's

Never letting go
Gotta learn to grow
Watch me as I touch the sky
Still I fly
Now I know it's what I gotta do
Find a dream that's new
Give it all I got this time
Still I fly”
(Still I Fly, Spencer Lee)

All the good things I left there…
All the best thing I bring there… :)

And at least… I may left good things there, but I bring all the best thing here with me… together :). Alhamdulillah…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

10 comments:

  1. Alhamdulillah sekarang udah berkumpul sama keluarga ya mak..

    ReplyDelete
  2. semoga tempat baru yg pastinya akan lebih menyenangkan :)

    ReplyDelete
  3. perubahan awal2 akan tetap menciptakan goncangan, itu pasti, karena aku pernah merasakannya. Tapi selalu ada yang indah setelahnya <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, benar sekali.. setelah kita beradaptasi dengan lingkungan baru, bersyukur rasanya bisa pindah kesini :)

      Delete
  4. Di awal pasti ngerasa gitu ya mak, enak di tempat yang dulu. Aku jaman masih ikut beberapa kali pindah kota ikut Papaku, ngerasa gitu juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak saya Ganesh juga awalnya keliatan jet lag selama beberapa hari Mak.. itu juga bikin tambah sedih waktu itu.. tapi alhamdullillah sekarang kami sudah move on :D

      Delete
  5. suatu kehebatan gadis 25 tahun pergi untuk hidup mandiri :) salut :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...