Friday, October 16, 2015

Berkaca dari ‘Kenakalan’ Anak Kita

Sang Ibu
:
“Papa, kayaknya Doni udah mulai ga kontrol deh main hape-nya…”
Sang Ayah
:
“Doni… udahan ya main hape-nya… Kan udah lama…”
Sang Anak
:
“Enggak…”
Sang Ayah
:
(Mulai naik darah) “Doni, udahan main hape-nya… kalo ga, Papa hapus nanti semua game di hape Papa…”
Sang Anak
:
“Enggaaaakkkk!!!”
Sang Ayah
:
(Makin emosi) “Eh, kamu makin nggak bisa diatur ya… kebanyakan diturutin… Papa itung sampe 10, kalo ga berhenti juga, Papa hapus game-nya!!!”
Sang Anak
:
“Enggaaakk…” (Mulai menangis)

Aah… sebuah cerita klasik dan umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebuah cerita yang saya pun mengalaminya semasa kecil. Dan sekarang seolah terulang kembali saat saya menjadi seorang ibu. Iya, kadang kejadian seperti di atas dalam setting yang berbeda (tidak terelakkan) terjadi dalam kehidupan kita. Sesuatu yang memang klasik dan (mungkin) umum terjadi, tapi membuat saya berpikir… “Memang anak-anak ini apa iya dengan tiba-tiba menjadi ‘nakal’? Masa sikap yang tidak menyenangkan (misalnya suka teriak-teriak) itu bawaan gen?”

Dan jawabannya tentu saja TIDAK… Tentu saja anak-anak ini bukan mendadak, begitu bangun tidur tiba-tiba bersikap ‘nakal’. Dan lebih tidak masuk akal lagi kalau sikap seperti suka teriak-teriak itu adalah bawaan gen (ada-ada saja :D). Sikap-sikap yang ditunjukkan anak-anak yang bagi kita kadangkala dengan mudah disebut sebagai ‘nakal’ itu, bukan terjadi secara serta merta dan tanpa sebab. Ada latar belakang yang menyebabkan seorang anak bersikap seperti itu. Dan sayang sekali, kita sebagai orang-tua sesungguhnya pasti ada dalam rangkaian latar belakang itu; secara langsung atau tidak langsung, secara sadar atau tidak sadar…

Seringkali, meskipun tidak selalu…

“Masa iya sih? Rasanya kita sebagai orang-tua tidak pernah dan tidak akan pernah mengajarkan hal-hal yang negatif seperti itu deh…” Baiklah, mari kita renungkan bersama…

Anak memang tidak terlahir seperti selembar kertas kosong, tapi mereka selalu terlahir sebagai ‘malaikat-malaikat’ kecil yang tidak punya niat buruk sama sekali. Sedari bayi pun mungkin mereka kadangkala bersikap yang bagi kita orang dewasa ‘merepotkan’ atau ‘mengganggu’, misalnya rewel. Namun, tentu kita semua sadar, bahwa sikap ini bukanlah manifestasi dari keinginan mereka untuk mengganggu kita. Rewel, seringkali adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk mengkomunikasikan kondisi yang membuat mereka tidak nyaman, baik fisik maupun psikis. Baik, kalau soal ini sih sebagian besar dari kita bisa memaklumi dengan mudah… Tapi, perlahan-lahan kemakluman dan kesabaran kita mungkin akan menipis dengan bertambahnya usia anak. Lagi-lagi ini juga permasalahan klasik yang umum terjadi…

Saat anak-anak kita mulai tumbuh dan menunjukkan kecerdasannya, beberapa diantara mereka mulai ‘banyak tingkah’ dan ‘sulit dikendalikan’. Mereka mulai mempertanyakan segala hal, menuntut penjelasan begitu detail sebelum akhirnya menurut dan berekspresi sesuai logikanya sendiri. Sesuatu yang sebenarnya bukan hal yang negatif; namun, terkadang kita sebagai orang dewasa dengan begitu banyak agenda menjadi tidak sabar dan menganggap tingkahnya sebagai sesuatu yang mengganggu… Tentu ini bukan nakal kan?

Selanjutnya, dengan bertambahnya usia dan kedewasaan anak, sifat kritis dan suka menirunya pun semakin berkembang. Nah, disinilah sesungguhnya anak-anak sadar atau sadar mulai terlihat sebagai ‘cermin’ bagi lingkungan di sekitarnya. Mereka mulai kritis untuk memberikan tanggapan dan meniru apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya.

Mereka mulai keranjingan main hape, ehem, kira-kira siapa yang ngajarin ya? Siapa yang kalau di rumah pegan hape terus, lalu, siapa juga yang nginstalin game di hape-nya? Mereka mulai suka membantah dengan suara keras dan nada tinggi, bentak-bentak, sampai main fisik (memukul misalnya); kira-kira mereka dapat ide dari mana sih? Siapa yang selalu sibuk dan menyepelekan panggilan mereka untuk menunjukkan sesuatu, sehingga perlu berteriak untuk menarik perhatian kita? Atau pada saat mereka tidak bisa bangun pagi, kalau ke sekolah kesiangan terus… ehem, apakah kita sudah meluangkan waktu untuk mengajak mereka bangun pagi? Karena mungkin kita bangun pagi sih, tapi terlalu sibuk beres-beres sehingga sengaja membiarkannya bangun agak siang. Jawabanya adalah KITA orang-tuanya…

Banyak sekali kasus yang bisa terjadi, dimana kita sebagai orang-tua kemudian menunjuk anak kita sebagai anak ‘nakal’ atau ‘susah diatur’. Atau paling tidak mengeluh deh, karena kita di jaman ini dididik untuk tidak melabel anak kita secara negatif. Nah, pada saat itulah sebenarnya kita sekaligus menunjuk pada diri kita sendiri, karena sesungguhnya kita sebagai orang-tua adalah orang yang bertanggung-jawab sepenuhnya akan pendidikan anak-anak kita. Bukan sekedar menjadi contoh yang baik, tapi juga menjaga agar lingkungan di sekitar anak cukup kondusif untuk membentuknya menjadi pribadi yang baik. Jadi jangan ngeles menyalahkan TV atau teman bermain atau lingkungan di sekitar anak lainnya ya… Karena itu juga bagian dari tanggung-jawab kita. Di luar sana memang ada banyak ancaman, karena itu, kita pun harus pandai-pandai membentengi anak kita dari pengaruh buruknya. Bukan selalu dengan menyediakan lingkungan yang steril dari hal negatif, tapi juga dengan memberikan pemahaman agar anak bisa mendapatkan pelajaran yang baik dari apapun kondisi di sekitarnya. Dan disini, lagi-lagi, sudah cukup dekatkah kita dengan anak-anak kita untuk melakukan hal ini? Sehingga anak-anak kita merasa nyaman dan perlu menceritakan apa yang dialaminya di luar sana? Atau, yang paling sederhana, sudahkah kita meluangkan cukup waktu untuk mendengarkan cerita-cerita anak kita? Sehingga kita bisa membantu mereka mendapatkan insight yang membawa mereka pada kebaikan…

Dan akhirnya, beberapa hari yang lalu pun saya berselancar ke toko online untuk membeli jam waker untuk Ganesha si sulung. Keluhan kami akan Ganesh yang susah bangun pagi membuat kami berkaca dan menyadari bahwa kami lah yang memang belum meluangkan waktu untuk mengajarinya bangun pagi. Kesebalan kami karena Ganesh susah dibangunkan dan sering terlambat berangkat sekolah (Kelompok Bermain) tidak lain karena kesalahan kami sendiri. Saya sendiri terlalu sibuk membereskan segala sesuatu sebelum bekerja, sehingga sengaja tidak membangunkannya pagi hari. Sementara papanya seringkali harus lembur agar KWH tetap terbangkit dari PLTU di seberang rumah kami. But, still, itu bukan pembenaran untuk kami sebagai orang-tua, so come on Le… kita belajar bangun pagi sama-sama ya… Bismillah…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

5 comments:

  1. Kemarin saat ikut kajian ttg membangun rumah tangga Islami ustadnya bilang kalau anak itu fisiknya niru ayahnya, sedangkan karakternya niru ibu. Kadang aku pikir bener juga. Aisyah nyebelin kayak aku LOL

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D.. Sama kaya anakku yg pertama.. gitu juga.. Yang kedua, baru casingnya mirip emaknya tapi karakternya mirip papanya.. :D

      Delete
  2. Jadi pengen memperbaiki diri sebelum punya anak. Kebayang aku aja suka kesel sama diri sendiri, ntar nurun ke anak bisa berabe juga yak, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. seringkali setelah kita dewasa, kita lupa rasanya jadi anak kecil.. jadi tanpa sadar bersikap tidak sepatutnya pada mereka..

      Delete
  3. Anak itu mencontoh sekeliling, semakin ia dilarang, akan semakin ia lakukan, kalo dikekang akan semakin banyak kebohongan, yuk semangat jadi orangtua yang baik dan memahami anak

    salam,
    kesya

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...