Sunday, December 6, 2015

Because Data, They Should Speak the Truth

Pada suatu hari pada Bulan September saya tergopoh-gopoh menaiki tangga ke ruang rapat kecil di lantai dua kantor saya untuk mengikuti sekaligus menjadi nara sumber kegiatan CoC (Code of Conduct) yang diadakan dadakan di kantor. Iya, benar-benar dadakan, karena awalnya kegiatan ini akan di-skip triwulan ini karena belum ada koordinasi pelaksanaannya. Sampai akhirnya saya berubah pikiran, karena toh masih bisa dilakukan walau seadanya dan ini menyangkut kinerja bidang SDM yang harus dilaporkan tiap triwulan. Benar-benar dadakan, sampai-sampai undangannya pun dari mulut ke mulut dengan bantuan beberapa teman. “Bantuin kumpulin orang dong, seadanya gapapa, kita adain CoC, materinya soal pengelolaan SDM… Aku pematerinya… hahaha, jadi harap maklum kalau banyak kekurangan ya…” Hari itu menyebar undangan, hari itu juga acaranya…

Sampai di atas, kebetulan ada Manajer kami dan langsung saja saya mengajaknya ikut bergabung, “Pak, kami mau ngadain CoC, bapak gabung ya…” “Lha bukannya tinggal edarin absennya aja ya… sini nanti saya tanda-tangani…” katanya sambil terseyum dan masuk ke ruangannya. “Ah, bapak itu sepertinya menguji integritas dan profesionalitas saya,” pikir saya dalam hati (haha :D). “Manipulasi data, enggak lah ya,” gumam saya dalam hati dan kemudian buru-buru masuk ke ruang rapat untuk memulai CoC ala kadarnya ala saya. Memang ala kadarnya, tapi benar-benar dilakukan, dengan materi yang benar-benar di-sharing-kan, hanya saja peserta dan waktu pelaksanaan yang tanpa perencanaan.


‘Data’, bagi beberapa orang mungkin bukan hal yang terlalu penting. Mereka hanya sederetan angka atau tulisan di atas kertas yang dikirimkan sebagai laporan. Kalaupun untuk beberapa kasus harus disertai bukti (evidence) itupun bisa dimanipulasi dengan mudah. Seperti kata Manajer saya, tinggal edarin bukti hadir dan agar lebih meyakinkan bisa ditambahkan foto-foto presentasi apa saja :D. Eh, tapi sebelum berpikir Manajer kami suka manipulasi data, saya perlu luruskan bahwa saat itu beliau hanya bercanda. Karena beberapa hari berikutnya setelah itu beliau mengatakan pada saya kalau ada kegiatan lakukan saja sesuai prosedur, nanti dia yang bantu ‘nama’ supaya orang lebih menganggap serius kegiatan yang kami lakukan.

Kembali lagi ke topik… Data mungkin memang bukan hal yang penting bagi beberapa orang. Selama di dalamnya tidak mengandung nominal rupiah, tidak terlalu urgent validitasnya. Dalam kasus sehari-hari ada banyak kejadian yang membuktikan pandangan salah itu. Pada saat maintain absen dan seorang pegawai ketahuan tidak masuk kerja beberapa hari karena cuti padahal kuota cutinya habis dan kemudian kita konfirmasi. Ada yang menjawab, “Saya waktu itu sedang ada wisudaan anak saya Bu, lupa kalau cuti saya habis… atur-atur sajalah Bu, tulis ijin atau gimana gitu…” Ah Bapak, mendengar jawabannya saya pun langsung pasang kuda-kuda untuk menjelaskan peraturan cuti dan ijin (ijin maksimal 1 hari tiap bulan), sanksi disiplin pegawai, dan sebagainya, serta solusi yang mungkin diambil. Ribet? Iya! Panjang? Iya! Tapi disitulah fungsinya sebagai administrator SDM; memastikan penerapan peraturan perusahaan, menjaga budaya perusahaan dan mendokumentasikan siatuasi real yang ada agar ada keadilan bagi kedua belah pihak (pegawai dan perusahaan).

Dibalik penampilannya yang sederhana sebagai deretan angka dan tulisan, ‘data’ memiliki kemampuan untuk membawa perubahan yang luar biasa. Misalnya kita berandai-andai pada sebuah situasi fiktif dan ekstrim dimana pemimpin sebuah perusahaan sesungguhnya kurang memiliki kompetensi dan kepedulian. Dia tidak melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya sehingga pengelolaan unit kerjanya kacau balau dan kinerjanya buruk. Dan kemudian, untuk menutupi ketidakmampuannya atau paling tidak supaya terlihat sedikit bisa dimaklumi, dia pun meminta staffnya ‘mempercantik data’ yang ada dan merekayasa supaya prosedur yang tidak dilakukan tampak dilakukan. Eng-ing-eng, bisa ya? Bisa dong… Nah, kalau manipulasi data ini benar dilakukan, akibatnya banyak! Salah satunya ya sang pemimpin menjadi tampak ‘baik’ dan tidak mendapatkan teguran yang seharusnya didapatkan. Padahal teguran itu perlu untuk memperbaiki perilakunya sehingga menjadi pemimpin yang lebih baik nantinya.

Tuh kan, menjaga validitas sebuah data itu penting sekali. Sekali lagi, bagi beberapa orang terdengar sepele dan hanya formalitas belaka. Padahal, tidak sama sekali! Kalau mau contoh yang lebih ekstrim, bantuan untuk masyarakat miskin pun tidak akan tepat sasaran jika Pak RT-nya tidak memberikan data penduduk miskin yang benar-benar layak mendapatkannya. So sad, beberapa kali pernah mendengar cerita bahwa seorang warga miskin tidak mendapat bantuan sementara warga lain yang lebih mampu malah dapat. Begitu juga data di bidang pengelolaan SDM, penting sekali! Biar kata orang kami mempersulit atau terlalu idealis, kualitas dan integritas itu nomor wahid! Karena tanpa kedua hal itu hasil kerja kami hanyalah sesuatu yang sia-sia. Data kami yang seharusnya bisa digunakan untuk menganalisis berbagai situasi hanya akan menjadi sampah (ekstrim :D) atau bahkan alat bagi beberapa pihak untuk mendapatkan apa yang seharusnya tidak didapatkannya (another extreem statement :D).

Jadi, teman-temanku, yang sedang galau dan kesal karena beberapa orang menganggap usaha kalian untuk mendapatkan atau menyajikan data yang valid adalah hal yang tidak berguna. Hingga kalian bahkan mulai meragukan apakah segala usaha kalian untuk itu memiliki arti. Ingat, jawabannya adalah ‘IYA’, usaha kalian adalah sesuatu yang sangat berarti. Apa yang kalian upayakan adalah sebuah dedikasi untuk institusi yang mempercayakan tugas itu pada kalian dan bahkan untuk orang-orang (pegawai lain) yang menganggapnya sebagai sebuah keribetan yang mempersulit. Jadi, tetap semangat dan bijak menyikapi semua tantangan untuk mempertahankan integritas data kalian ya… Toss!

Dan kenapa saya menulis ini adalah untuk menyemangati diri sendiri dan teman-teman di sekitar saya yang kadang bimbang karena dianggap ‘mempersulit’. Juga untuk orang-orang yang mungkin tidak mengerti kenapa kami begitu kukuh untuk menjalankan sebuah prosedur sehingga tampak ‘mempersulit’. Percayalah, kami bukan bermaksud mempersulit, kami hanya ingin hasil kerja kami memiliki arti. Agar kami pun bisa membawa keadilan melalui profesi kami. Dan itu semua untuk kalian juga kok… salah satunya adalah untuk mendidik kita semua menjadi orang yang ‘baik’ (baca: disiplin, fair dkk). Jadi tolong, hargai usaha kami ya… *Kok jadi lebih kaya curhat ya :D

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...