Monday, November 28, 2016

Mengalah untuk Menang

Sebagai seorang kakak dengan dua orang adik, ‘mengalah’ tentu bukan kata yang asing bagi saya. Setiap kali, terjadi pertengkaran yang terjadi karena kami berebut suatu barang; entah barang itu milik saya atau siapapun, ujung-ujungnya pasti saya yang disuruh mengalah. Dan itu ga enak sekali… Bahkan setelah saya beranjak remaja yang nota bene pemikiran sudah cukup matang. Menahan diri dan membiarkan hak kita diambil orang dan merasa diperlakukan tidak adil itu seringkali terasa menyebalkan.

Mengalah itu seringkali ‘makan hati’, tapi seringkali buahnya manis sekali. Dengan mengalah kita bisa menghindari banyak pertengkaran, perpecahan dan sebangsanya. Dengan mengalah, kita bisa menunjukkan kepedulian dan kasih kita pada orang yang kita cintai. Dan bahkan seorang yang mengalah adalah seorang yang terhormat karena kebesaran hatinya… Itu menurut saya sih, berikut ceritanya…

Monday, November 21, 2016

Tips Belanja Online ala-ala Smart Shopper

Sebelumnya maaf ya… kalo judulnya dirasa sedikit sombong :D. Tapi, maksudnya bukan seperti itu kok… ‘Belanja Online ala Smart Shopper’, semata-mata ingin mengisyaratkan bahwa belanja online pun perlu strategi tertentu; supaya mendapatkan barang yang berkualitas setinggi-tingginya, dengan harga yang sehemat-hematnya… Sebagaimana prinsip smart shopper ala saya… *Tapi akhirnya judulnya diganti jadi ‘Belanja Online ala-ala Smart Shopper’ deh karena ga pede, hihi :D

Saya ini suka… suka banget belanja online… Kalau sedang kumat, seminggu bisa dua paket belanjaan saya terima…

Dan suatu hari security di kantor sampai nyeletuk, “Ibu belanjanya banyak ya…”

Lalu beberapa teman (sepertinya) pun memperhatikan kebiasaan saya ini, karena beberapa teman suka menyindir dengan kata-kata, “Belanja apa lagi?”; “Belanja terus deh…” dll.

Dan yang paling parah nih komentar suami yang bilang, “Aku doain deh, itu toko online bangkrut biar Mama ga bisa belanja lagi!”

Thursday, October 6, 2016

Speak Good or Remain Silence

Pernah ga sih teman-teman liat gosip di acara infotainment? Kalau jaman saya dulu ada Cek n Ricek, Kabar Kabari, Silet dan sebagainya… Nah, kalau sekarang ga tau lagi nih apa acara infotainment yang nge-hits, secara kami ga punya TV lagi di rumah. Dan jawabannya, pasti pernah lah ya… Atau, jika pun tidak melalui televisi, pasti berita seputar gosip selebritas banyak kita akses lewat internet. Saya juga begitu, meski ga sampai follow akun @lambe_turah kaya beberapa teman sih, hihi :D.

Jadi, ini mau ngomongin apa sih? Gosip artis?

Bukan… hmm, somehow saya sedang memikirkan tentang membicarakan orang lain dan kemudian memberikan komentar sebagai sebuah hiburan’. Hmm, menghibur diri maksudnya, ngomongin orang lain itu seru kan?

Dan somehow, saya jadi berpikir bagaimana rasanya saat kita berada dalam posisi sebagai objek gosip/pembicaraan orang lain. Yah, tentu tidak sampai seperti artis yang dibicarakan ratusan ribu orang sih, tapi sekedar lingkaran kecil di lingkungan kita. Pernahkah kamu berpikir kesana? Bagaimana perasaan orang lain yang sedang kita bicarakan, entah secara langsung ataupun tidak langsung…

Sunday, September 25, 2016

Bold to be Healthy

Big is beautiful
Ga papa gendut, yang penting sehat…”
Dst.


Adalah beberapa kalimat yang seringkali kita dengar berkaitan dengan bentuk tubuh besar, gendut’ atau ‘gemuk’. Kalimat yang mungkin adalah bentuk empati agar si pemilik tubuh besar tetap berpikiran positif dan bahagia. Kalimat yang sungguh tidak salah sedikit pun jika ‘big’ yang dimaksud tidak melampaui berat badan ideal seseorang. Namun menjadi salah, jika kalimat ini digunakan sebagai pembenaran atas berat-badan-berlebih yang dialami seseorang, sehingga orang tersebut tidak memperbaiki pola hidupnya menjadi lebih sehat.

Obesitas sebagai dampak dari pola hidup tidak sehat, faktanya bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis. Misalnya yang dialami Yunita Maulidia (16 tahun) dengan bobot 125 kg, yang harus menjalani perawatan medis karena komplikasi jantung. So, berat-badan-berlebih bukan hanya masalah penampilan, tapi menyangkut kesehatan!

Tuesday, August 23, 2016

Berdamai dengan Rasa Takut


“Apa sih perbedaan antara ‘berdamai’ dan ‘mengalahkan’?

“Wo, ya jelas beda dong… Dari sisi manapun jelas ga ada persamaan. Kata kerja ‘mengalahkan’ dan ‘berdamai’ (mungkin) memang sama-sama diawali dengan suatu pertandingan, kompetisi atau bahkan peperangan, namun dengan ending yang berbeda. Kata kerja ‘mengalahkan’ didapatkan setelah seseorang dinyatakan lebih kuat, lebih baik dan sebagainya. Sedangkan ‘berdamai’ adalah kata kerja yang digunakan saat kedua belah pihak kemudian berusaha saling memahami dan mengerti kepentingan masing-masing, kemudian menurunkan ego masing-masing dan kemudian memutuskan untuk berjalan bersama tanpa predikat ‘menang’ dan ‘kalah’.

Yes, keduanya memang beda… Tapi, dalam kasus yang lebih abstrak, perbedaan keduanya menjadi samar.

Misalnya seperti ini: pada suatu hari, saya share cerita saya tentang belajar menyetir ini di Facebook. Dan kemudian, ada seorang teman yang berkomentar, bahwa dia belum bisa menyetir karena belum bisa MENGALAHKAN rasa takutnya. Dan saya jawab, bahwa rasa takut itu bukan untuk dikalahkan tapi diajak BERDAMAI. Yes, I know hal ini tidak mudah dijelaskan dengan singkat semacam berbalas komentar di Facebook. Komen di Facebook sebenarnya bisa panjang juga sih, tapi kalau saya yang seringnya pakai hape untuk akses Facebook, males ngetiknya :D. Jadi, mari kita bikin jadi blog post saja, sekalian update blog :D.


Back again, jadi, setelah komentar saya itu, teman saya kemudian menjawab, “…iya, intinya di rasa takut kan…” Hmm, yes she’s right, tapi saya merasa dia tidak memahami maksud saya. So, here what I mean perbedaan antara ‘MENGALAHKAN’ dan ‘BERDAMAI’…

Monday, July 25, 2016

The Truth Behind 2 to 7 Years Old’s Mind

Geregetan! Gemes! Adalah dua kata yang paling menggambarkan efek kekesalan yang sering saya rasakan menghadapi ulah Ganesh yang semakin ‘sulit diatur’ akhir-akhir ini. Dulu, ‘kepintaran’-nya lebih banyak digunakan untuk memahami makna, maksud dan intruksi yang kami berikan; jadi begitu paham, insyaallah dia akan ‘menurut’. Beda dengan sekarang, urusan ‘paham-memahami’ jelas jauh lebih lancar; dengan mudah kami bisa membuatnya mengerti maksud kami. Lebih santai dan effortless sampai disini, tapi ‘kita-kita’ yang punya anak pra-sekolah-dasar (2 sd 7 tahun) pasti tahu bahwa saat ini, tantangan yang lebih menguras hati dan pikiran baru saja datang dan terus mengejar, selayaknya bola salju –makin lama, makin besar. Itu yang saya rasakan, semakin lama, Ganesh semakin suka mencari alternatif solusi yang kadang membuat semua serasa kurang efektif, atau bahkan membantah dan menolak sama sekali permintaan kita.

Ganesh mau pose macem-macem begini sebagai hukuman karena njatuhin gantungan tirai di rumah… Setelah berkali-kali diingetin, tapi anaknya masih penasaran juga ‘__’

Tuesday, July 19, 2016

Have a Happy Polka 5th Birthday, Ganesha!


Ganesh itu lahirnya di Bulan Juni, tepatnya 24 Juni 2011… Sejak awal, kami selalu berpikir, anak ini akan kesulitan jika ingin merayakan hari kelahirannya di sekolah, karena kan biasanya tanggal segitu adalah liburan pergantian tahun ajaran. Tapi, sampai dengan ulang-tahun yang keempat, hal itu sih belum menjadi masalah, karena anaknya belum sekolah dan perayaan di rumah pun hanya sekedar kumpul-kumpul dengan teman sekitar. Atau bahkan kadang hanya bagi-bagi goody bag saja ke teman-temannya.

Tanpa ribet, dan tanpa persiapan berarti… Tapi tidak untuk perayaan tahun kelimanya tahun ini…

Tahun ini, setelah berunding santai, akhirnya kami memutuskan untuk merayakan ulang-tahun Ganesh di sekolahnya. Dengan pertimbangan bahwa, kasian anaknya jika tidak dirayakan di sekolah, mengingat setiap kali temannya ulang-tahun, dia selalu bersemangat memamerkan undangannya ke kami. Pasti dia akan senang sekali jika akhirnya dia ada di posisi ‘the birthday boy’; yang bisa bagiin undangan ke teman-temannya, dapat ucapan ulang-tahun, tiup lilin dan sebagainya. Meskipun, akhirnya ulang-tahun itu harus dimajukan hampir 1 bulan karena tanggal 24 Juni 2016 sekolahnya sudah libur. Dan ditambah lagi tanggal 6 Juni 2016 sudah memasuki Bulan Puasa… Sedang jika perayaannya dimundurkan setelah liburan, Ganesh sudah pindah ke TK B, dengan teman-teman yang baru… Dan tentunya merayakan ulang-tahun dengan teman akrab akan lebih asyik daripada dengan teman-teman yang baru kenal kan.

Wednesday, June 15, 2016

Perkedel Tahu Kukus

Dulu seringkali saya mendengar ibu mengeluh, “Bingung, mau masak apalagi hari ini…” dan saya yang kala itu masih remaja mengabaikannya. Pikir saya yang masih bau kencur waktu itu, “Hal seperti kan ga perlu dipikirkan secara berlebihan, masak aja apa yang ada, gitu aja kok repot…” Aah, benar-benar pemikiran yang naif sekali kan, dan sekarang setelah menikah dan punya anak, baru saya mengerti apa yang ibu rasakan waktu itu. Urusan mengolah bahan makanan yang bergizi dan bervariasi agar suami dan anak tidak bosan itu memang cukup tricky. Apalagi bagi saya yang memang tidak jago masak dan setiap kali harus browsing resep di internet, terkadang tidur malam saja kepikiran besok pagi musti masak apa…


Seperti halnya yang terjadi kemarin, malam-malam saya kepikiran mesti masak apa untuk makan siang dan sore anak-anak yang saya tinggal ke kantor. Saking lamanya mikir dan ga juga dapat ide, saya pun ketiduran sewaktu ngelonin bocah-bocah sampai pagi. Dan alhasil, sukseslah pagi itu saya bangun kemudian langsung memutar otak, apa yang bisa saya masak dengan cepat dan anak-anak suka. Hmm, masakan ajaib apakah itu… Aha, kemudian saya teringat beberapa waktu yang lalu pernah mengolah tahu menjadi perkedel, yang tidak terlalu sukses karena sulit digoreng. Sewaktu digoreng si adonan tahu sedikit hancur dan bentuknya pun menjadi kurang enak diliat. Waktu itu, si Ganesh cukup suka dibawain bekal perkedel tahu dan si Mahesh pun tidak ada komplain dengan lauk itu. So, let’s try again, apalagi kemarin habis beli wadah-wadah aluminium foil kecil, jadi terpikir si adonan tahu dikukus dulu sebelum digoreng, sehingga bentuknya lebih solid… Yeay!

Friday, May 27, 2016

Resep Chicken Nugget Idola

Berkali-kali bikin chicken nugget, tapi masih saja cari resepnya di internet, alias ga hapal-hapal juga… Dan semua itu bukan saya lakukan semata-mata untuk mencari resep yang paling OK, tapi lebih karena saya tidak yakin dengan ingatan saya sendiri :D. Yes! Dengan kata lain, saya memang pelupa untuk hal-hal yang berbau langkah-langkah dan tutorial semacam ini. Eh, tapi saya memang tidak pernah berusaha menghapal sih, secara jauh dalam lubuk hati saya berkata, “Kalau lupa ya tinggal search lagi… Gitu aja kok repot…” Haha…

Sebuah kebiasaan yang tidak hemat paket data sih memang, tapi ada nilai plusnya juga. Yaitu saya jadi ketemu dan mencoba berbagai resep yang berbeda untuk masakan tertentu, sehingga akhirnya ketemu deh resep yang paling pas dengan lidah kami (saya dan keluarga). Salah satunya, ya resep chicken nugget ini… Dimana-mana resep chicken nugget ya kaya gitu… Intinya daging ayam giling campur roti tawar plus bawang putih dan merica sebagai bumbu, lalu kukus, iris-iris dan seterusnya. Entah kemudian ditambah dengan keju, serutan wortel atau sayur lainnya, pakem itu tidak pernah berubah.

Iya, sesederhana itu, tapi hari itu saya tidak yakin dengan ingatan saya, hingga akhirnya berselancar ke dunia maya dan menemukan resep baru yang cukup berbeda dengan resep sebelumnya. Tidak seperti resep yang pernah saya ikuti, chicken nugget ini tidak memakai roti tawar, tapi sedikit tepung tapioka/tepung sagu/tepung kanji. Kemudian, bumbunya pun selain menggunakan bawang putih dan merica, juga ditambahkan dengan bawang bombay dan kecap ikan. Hmm, sempat bertanya-tanya, rasanya bakal seperti apa, tapi karena blog dan penulisnya cukup kredibel serta referensinya pun tidak kalah kredibel, saya pun tidak ragu mencoba. Meskipun akhirnya, tetap menggunakan roti tawar karena suami kadung membeli whole bread saat saya bilang mau bikin chicken nugget. Dan bawang bombaynya pun saya tumis terlebih dahulu supaya lebih lunak (tidak keras), padahal saya tidak tahu sih apakah benar-benar akan keras jika tidak ditumis sebelumnya. Intinya, ini semua (sebenarnya) improvisasi yang didasari pemikiran seorang novice saja…

Tuesday, May 24, 2016

Tips Agar Skripsimu Cepat Selesai

Skripsi, pada hakikatnya hanyalah sebuah karya tulis. Tapi, menurut pengamatan saya, dia seringkali menjadi momok bagi seorang mahasiswa, bagaikan sebuah ujian berat sebelum seseorang dinyatakan lulus. Hmm, apakah kamu termasuk yang berpendapat demikian? Jika ‘ya’, maka kamu punya pemikiran yang sama dengan saya sekitar 8 tahun yang lalu, saat menginjak semester ke-7 kuliah, 1 semester sebelum mengambil mata kuliah penulisan skripsi. Dan karena itu, saya pun mengambil ancang-ancang sebelum benar-benar mengambil mata kuliah penulisan skripsi pada semester ke 8. Dan kamu percaya atau tidak, saya berhasil menyelesaikan skripsi saya dalam waktu sekitar 6 bulan saja. Atau mungkin kurang dari itu, karena saya mengerjakannya sembari mengambil mata kuliah KKN yang mengharuskan saya menginap di daerah KKN (yang cukup pelosok) selama 2 bulan, sampai akhirnya bisa fokus mengerjakan skripsi sekembali dari sana.


Tuesday, May 3, 2016

Memilih Sekolah yang Baik untuk Anak

Setiap anak adalah unik! Mereka memiliki karakter dan potensinya masing-masing, dimana hal ini menjadi alasan mengapa suatu treatment memiliki efek yang berbeda bagi setiap anak. Dan itu juga alasan mengapa suatu sistem pembelajaran belum tentu sesuai untuk semua anak. Apalagi pada usia dini, dimana anak-anak belum mampu menyiasati sistem pembelajaran yang diterima hingga terasa menyenangkan bagi mereka.

Teringat dulu semasa kuliah ada teman yang sampai merekam kuliah dosen di kelas, sedang saya lebih asyik membuat catatan dengan corat-coret dan gambar-gambar. Sementara teman saya lebih suka mendengarkan, sampai-sampai merekam kuliah dosen di kelas. Bagi saya, mendengarkan saja itu selalu membuat ngantuk, walaupun selalu duduk di barisan paling depan sekalipun :D

Dan kembali ke pendidikan untuk anak usia dini… Anak-anak pasti belum bisa melakukan semua itu… Mereka baru mampu menerima dan mengikuti metode pembelajaran yang diberikan. Jika cocok, maka mereka akan belajar dengan gembira. Namun jika tidak, proses pembelajaran pun tidak akan optimal dan suasana hati (mood)-nya pun akan memburuk karena harus mengikuti rutinitas yang tidak menyenangkan baginya.


***

Sekolah Formal untuk Anak Usia Dini. Membicarakan mengenai pendidikan bagi anak usia dini (sebelum usia Sekolah Dasar), sebenarnya tidak melulu pada pendidikan formal dengan jenjang tertentu yang diberikan sebuah lembaga pendidikan, seperti Taman Kanak-Kanak. Tapi, juga termasuk di dalamnya pendidikan yang diberikan di rumah oleh orang-tua atau pun pengasuh lainnya dan juga lingkungan. Misalnya untuk pendidikan nonformal adalah Kelompok Bermain atau Taman Penitipan Anak, sedang untuk pendidikan informal adalah pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan (berdasarkan UU tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003).

Friday, April 15, 2016

Orak Arik Kuah Sehat

Masak itu susah! Itu bayangan saya dulu, hingga akhirnya paling malas diajak Ibu belajar masak. “Percuma ah, itu butuh waktu lama, sekarang lagi ribet dengan tugas-tugas sekolah dan main, nanti ajalah,” itu pikir saya dulu… Dan kemudian, setelah akhirnya merantau dan terpaksa harus survive, ternyata masak itu tidak perlu (selalu) dibuat ribet. Masak itu susah! Itu hanya untuk masakan-masakan tertentu (sebut saja rendang, steak dan sebangsanya). Namun, kenyataannya ada begitu banyak resep-resep masakan sederhana yang mudah diolah dan bergizi tinggi yang tidak memerlukan ketrampilan tingkat tinggi (sebut saja sop sayuran, cap cay dan sejenisnya).

Jadi… Masak, bukan masalah lagi ;). Apalagi dengan kemudahan browsing berbagai resep masakan saat ini. Yang susah saja bisa dilibas dengan tambahan niat dan ketelatenan. Apalagi yang mudah dan sederhana… bisa banget! ;)


Nah, membicarakan tentang masakan-masakan sederhana, beberapa resep pernah saya tulis disini. Dan sekarang, lagi-lagi saya ingin share resep masakan sederhana yang benar-benar sederhana. Cepat, bisa ditinggal-tinggal dan tidak perlu mengeluarkan tenaga yang terlalu besar (untuk mengulek bumbu misalnya). Sebut saja nama resep ini ‘Orak Arik Kuah Sehat’, resep yang baru beberapa kali saya coba dan selalu sukses membuat Ganesh mendapat ‘bintang’ atau ‘fish’ alias stiker-stiker reward yang diberikan gurunya saat seorang anak berhasil menghabiskan makanannya sendiri. Yang mana itu membuat saya merasa berhasil mencapai salah satu target kinerja saya sebagai seorang ibu :D.

Mau coba? Berikut resepnya:

Wednesday, March 30, 2016

Obat Alami yang Bersahabat untuk Bayi

Anak-anak sakit, memang adalah hal yang wajar. Bahkan para dokter (membaca dari artikel di internet) menyebutkan bahwa hingga usia 1 tahun, rata-rata anak akan mengalami sakit 8 – 12 kali pertahun dan baru kemudian turun menjadi 6-8 kali pertahun memasuki tahun kedua hidupnya. Jadi ya begitulah adanya, benar-benar sesuatu yang wajar jika anak kecil kita sering sakit sebanyak itu (karena kalau lebih mungkin ada indikasi lain). Semua itu adalah hal yang alami, yaitu karena daya tahan bayi dan anak-anak memang lebih lemah dibandingkan orang dewasa. Baiklah, berarti kita tidak perlu terlalu khawatir ya, jika anak-anak kita mengalami sakit ringan seperti batuk pilek dan diare.

Iya, mungkin seharusnya seperti itu ya, dan saya pun rasanya bukan orang yang terlalu khawatir saat anak-anak mengalami sakit ringan semacam itu. Tapi, terlepas dari kewajaran itu Bukan semata merawat anak sakit itu melelahkan. Bukan semata menggendong seharian dan semalaman yang membuat kita ingin rasa sakit itu pergi dari tubuh anak kita. Tapi, melihat dan membayangkan seorang anak kecil yang belum bisa mengeluh dan berkompromi dengan rasa sakit; yang termanifestasi dalam perilaku susah tidur, susah makan, rewel dan sejenisnya itu, tentu menerbitkan rasa iba. Kita saja, orang dewasa yang bisa batuk-batuk atau ‘sisi’ (bahasa Jawa: buang ingus) untuk mengeluarkan dahak, masih merasa batuk pilek itu sangat membuat tidak nyaman. Apalagi anak-anak, yang belum menguasai dua keterampilan itu… pasti rasanya benar-benar tidak nyaman, sementara dia belum bisa mengeluh, hingga akhirnya hanya bisa kebingungan merasakan semua itu.

Nah, lalu solusinya apa? Hmm, paling praktis tentu dibawa ke dokter dan mengkonsumsi obat yang diberikannya untuk meringankan gejala-gejala flu. Hanya meringankan, karena katanya penyebab penyakit ini adalah virus, jadi hanya imun/sistem kekebalan tubuh kitalah yang bisa melawannya. Obat, sifatnya hanya meringankan gejala-gejala yang menimbulkan rasa tidak nyaman; dimana hal ini berefek juga pada kualitas istirahat yang lebih baik, sehingga berpeluang meningkatkan ketahanan tubuh.

Thursday, March 17, 2016

Sepatu, Kejadian dan Kepribadian...

‘Sepatu’, seperti halnya jenis pakaian lainnya, pada awalnya dia hanyalah sebuah benda yang dipakai untuk menutup atau melindungi bagian tubuh tertentu; supaya tidak sakit jika berjalan dan sebagainya. Tapi, seperti halnya jenis pakaian lainnya, sepatu pun mengalami transformasi menjadi sebuah benda fashion; yang tidak hanya dipilih karena kemampuannya melindungi, tapi juga kemampuannya mempercantik sepasang kaki. Dan transformasi itu tidak berhenti sampai disitu, seperti halnya benda-benda lainnya, sepatu pun kemudian bertransformasi lebih lanjut menjadi benda yang dipilih karena ‘gengsi’; sehingga lahirlah sepatu-sepatu bermerek ‘wah’ dengan harga yang ‘aduhai’…

Hehe, stop sampai situ sajalah… Saya belum sampai ke ranah sepatu atau pakaian sebagai barang yang membawa gengsi. Asal sepatu pas, nyaman dan cantik dipakai, itu sangat cukup… apalagi kalau harganya miring, lebih bagus lagi menurut saya.


Membicarakan mengenai sepatu, seperti halnya transformasi pada diri saya, ternyata preferensi pada sebuah sepatu pun berubah, seiring pertambahan usia dan perubahan pola pikir. Dulu, semasa SD, mungkin adalah masa tersulit menemukan sepatu atau barang lainnya bagi saya. Tuntutan saya akan ‘keunikan’ itu begitu tinggi! Saat itu, saya menolak mentah-mentah sebagus apapun sepatu jika itu sama dengan milik teman saya si A, si B dan seterusnya. Ibu saya saja sampai malas mengantar saya beli sepatu. “Kowe ki mending gawe pabrik sepatu dewe kok Nian…” ujarnya. Yang artinya, “Kamu tuh mendingan bikin pabrik sepatu sendiri Nian…”, saking dongkolnya beliau saya ajak muter-muter toko, haha :D.

Wednesday, March 9, 2016

Take a Break to See the Truth and what Really Matter is

Tidur sekitar pukul 23.00 agar sebelumnya bisa menyiapkan makanan untuk dua jagoan setiap harinya. Bangun setiap pukul 05.00 untuk minimal memasak 2 menu; makanan Mahesh (13 bulan), sarapan dan bekal sekolah Ganesh (4.5 tahun). Proses masaknya sendiri, fiuh, cukup menguras fisik dan psikis karena seringkali membutuhkan ketrampilan multitasking yang luar biasa; sambil gendong Mahesh atau lirak-lirik karena dia dibiarkan mengacak-acak isi kulkas agar mau diturunkan. Iya, saya tidak punya ART yang menginap, dan membangunkan suami yang terkadang pulang tengah malam untuk saat terjadi gangguan itu, mana tega saya lakukan. Jadi, selama masih ter-handle; masak 3 menu makanan (sederhana saja), menyuapi sarapan si Kakak, memandikan 2 bocah, menyiapkan keperluan sekolah Kakak dan bersiap-siap ke kantor; itu saya lakukan sendiri. Sehingga bisa dimaklumi walau bukan pembenaran jika saya kemudian berangkat terlambat ke kantor, yang jaraknya 30 Km dan memakan waktu 1 jam perjalanan itu. Dimana itu pun menguras hati, karena rasa bersalah…

Dan kemudian, di kantor pun karena banyaknya waktu yang terpotong karena terlambat dan untuk pumping; pekerjaan harus dilakukan dengan secepat mungkin. Lupakan makan siang di luar, cukup menitip makan pada OB dan makan kilat di kantor untuk mempersingkat waktu. Agar pukul 16.00 tepat bisa segera pulang dan bertemu dengan anak-anak. Oh ya, jangan lupa, setelah menempuh perjalanan 1 jam lagi ya…

Ah, mungkin juga saya terlalu berlebihan, karena teman-teman di ibukota pasti merasakan ke-hectic-an yang berlipat. Tapi dengan ke-cemen-an saya itu, rutinitas ternyata membuat saya merasa begitu terburu-buru dan lelah; hingga kadangkala tidak cukup sabar untuk melayani pertanyaan dan kebutuhan si Kakak yang sangat kritis dan penuntut… Dan inilah bagian kedua dari ‘When Our Good Boy Gone Bad’; cerita usaha kami mengembalikan anak baik kami yang sedang bad mood berkepanjangan. Yaitu, mengambil cuti panjang :)


14 Januari 2016, akhirnya resolusi pertama di tahun 2016 terlaksana! Setelah sesungguhnya di acc sekian lama, namun tidak kunjung dilaksanakan karena beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda, cuti akhirnya terealisasi! Sehingga untuk 15 hari kedepan sejak saat itu, saya bisa beristirahat sejenak dari rutinitas kerja kantoran untuk mengalihkan fokus pada hal-hal yang selama ini tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Ya, saya berbicara tentang Ganesha yang mood-nya benar-benar buruk saat itu. Saya berharap dengan cuti dan berkurangnya traffic kegiatan sehari-hari akan membuat saya melihat hal-hal yang selama ini terlewat dan mendapatkan insight tentang masalah penting ini. Dimana alhamdulillah hal ini terbukti benar…

Saturday, February 20, 2016

Pizza Makaroni

Sebenarnya sudah setahunan Ganesh mulai masuk ‘sekolah’, sejak Bulan Februari 2015, di kelas Kelompok Bermain kala itu. Sejak itulah ada tugas baru bagi saya, yaitu menyiapkan bekal, karena memang ada waktu makan bersama di ‘sekolah’-nya. Sudah hampir setahunan ternyata… hmm, tapi baru akhir-akhir ini saya dibuat pusing dengan urusan perbekalan ini. Karena, jika dulu saya bisa asal saja dengan menu-menu kilat seperti nasi dan telur dadar atau roti tawar dengan selai coklat; maka sekarang saya harus benar-benar berpikir bagaimana menyiapkan bekal yang mudah disantap dan peluang habisnya besar. Kenapa demikian? Hmm, agak panjang nih penjelasannya…

Jadi, pasca pindah sekolah sebulan yang lalu, Ganesh harus berangkat sejak pagi dan transit dulu di kantor saya untuk kemudian masuk siang dari pukul 10:30 hingga pukul 13:00. Lalu, sepulang sekolah pun dia harus transit lagi di kantor saya hingga pukul 16:00 saat saya pulang kantor. Nah, disitu berarti bekal Ganesh akan dimakan pada saat makan siang (sekitar pukul 12:30), maka bekal Ganesh harus cukup mengenyangkan dan bernutrisi, serta untuk efisiensi waktu maka harus bisa dihabiskannya sendiri tanpa bantuan orang dewasa lainnya. Karena jika tidak dan saya harus menyuapinya lagi, berarti waktu kerja saya kembali berkurang dan pulangnya bisa lebih sore lagi… :(

Nah, karena kerumitan itu, sejauh ini baru ada tiga menu yang memenuhi syarat di atas dan rutin menjadi bekal Ganesh (4 tahun 6 bulan) ke sekolah. Pertama adalah (tentu saja) nasi goreng kesukaannya, pasta dan yang terbaru adalah pizza makaroni.


Pizza makaroni ini sebenarnya terinspirasi dari resep bakwan makaroni yang saya temukan di internet. Tapi, karena pada percobaan pertama ternyata banyak memakan waktu untuk menggoreng satu per satu, maka saya tuang saja semua adonan ke dalam teflon kecil dan kemudian diiris-iris seperti pizza setelah matang, hehe :D. Jelas lebih hemat waktu dan bentuknya malahan lebih menarik (semoga bukan pembelaan :D). Dan berikut adalah langkah-langkah membuatnya…

Thursday, January 28, 2016

When Our Good Boy Gone Bad…

Tidak terasa, ternyata hampir setahun tidak membuat tulisan tentang Ganesha si Kakak yang sekarang berumur 4 tahun 6 bulan (terakhir menulis tentangnya di Ganesha The Big Brother). Padahal, dulu rajin sekali menulis tentang tingkah dan perkembangannya, hiks, sekarang baru tahu rasanya punya dua anak laki-laki yang aktif bukan main (we call it ‘usreg’, ‘tengil’, ‘pecicilan’, etc in a good way of course). Oh ya, dan tentu saja juga karena load pekerjaan yang sedang tidak bersahabat sehingga nyaris tidak ada waktu untuk mengerjakan hal selain ‘pekerjaan’ di kantor :(. Tapi, malam ini, spesial saya ingin menulis tentang dia, sebagaimana saya sengaja cuti 2 minggu untuknya… karena dia memang spesial… Hey boy, you’re so special for us, we love you so much… :).

OK, let’s start the story

[Disclaimer: ini cerita yang panjang (1885 kata), if you don’t have much time, bisa langsung skip ke bagian akhir untuk kesimpulannya. Happy reading :)]


Ganesha… tidak terbayang sebelumnya bahwa si bayi kecil yang lucu dan imut ini akhirnya tumbuh menjadi seorang anak berusia 4 tahun 6 bulan yang sangat lincah, penuh rasa ingin tahu, perfeksionis and so determine with what he want (baca: ngotot dengan kemauannya). Dulu, mungkin cukup mudah untuk mengarahkannya pada hal yang menurut kami benar; tapi sekarang, kami harus berusaha sangat keras untuk memberikan alasan hingga hati dan pikirannya bisa menerima dan menuruti perkataan kami… Hingga jujur, kadang kami kewalahan dan akhirnya pertengkaran pun tidak dapat dielakkan; seolah-olah Ganesha yang berusia 4 tahun 6 bulan itu adalah lawan debat yang sepadan dengan kami. Kepandaiannya berkata-kata dan berpikir seringkali mengelabui, hingga kami berbuat bodoh seperti itu. Ganesha kecil kami yang lucu, kini terlihat suka membangkang, sampai semakin sering berteriak dan menangis jika marah. Hingga bagi beberapa orang, sepertinya cukup mudah untuk melabelinya ‘nakal’. Dan kemudian menunjuk bahwa semua itu karena kurangnya perhatian kami (kedua orang-tuanya) yang sama-sama bekerja.

Yah, bisa jadi poin kedua itu benar; ada banyak kekurangan kami sebagai orang-tua yang perlu dikoreksi. Tapi, bahwa Ganesh adalah anak ‘nakal’, we don’t think so… Let me explain why, sekaligus mencari solusi permasalahan kami…

Seems like our good boy just gone bad, literallyBut really? Ah, tentu saja kami (orang-tuanya) tidak sependapat…

[SETIAP INDIVIDU ADALAH UNIK]. Menurut kami dia hanya mengalami (semacam) burnout alias kelelahan secara mental yang diwujudkannya dalam bentuk pemberontakan. Hal seperti ini memang tidak selalu ditandai dengan pemberontakan dan pembangkangan, ada juga anak yang kemudian menjadi pemurung atau mencari pelampiasan pada hal lain. Tapi, begitulah cara Ganesh sesuai dengan kepribadiannya…

Faktanya memang individual differences (keragaman individu) itu nyata adanya. Menghadapi suatu keadaan yang tidak ideal, seseorang bisa merespon dengan ketenangan tanpa terlalu mempermasalahkannya, ada juga yang kemudian justru menarik diri (bersedih)… Tapi ada juga yang berpikiran bahwa hal itu harus diubah sesuai keinginannya. Dimana pada saat tertentu (mungkin) dia masih bisa mengendalikan dan menahan keinginan itu, tapi saat dia harus menerima keadaan seperti itu terus-menerus, ada ambang dimana dia akan marah dan melakukan perlawanan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...