Wednesday, March 9, 2016

Take a Break to See the Truth and what Really Matter is

Tidur sekitar pukul 23.00 agar sebelumnya bisa menyiapkan makanan untuk dua jagoan setiap harinya. Bangun setiap pukul 05.00 untuk minimal memasak 2 menu; makanan Mahesh (13 bulan), sarapan dan bekal sekolah Ganesh (4.5 tahun). Proses masaknya sendiri, fiuh, cukup menguras fisik dan psikis karena seringkali membutuhkan ketrampilan multitasking yang luar biasa; sambil gendong Mahesh atau lirak-lirik karena dia dibiarkan mengacak-acak isi kulkas agar mau diturunkan. Iya, saya tidak punya ART yang menginap, dan membangunkan suami yang terkadang pulang tengah malam untuk saat terjadi gangguan itu, mana tega saya lakukan. Jadi, selama masih ter-handle; masak 3 menu makanan (sederhana saja), menyuapi sarapan si Kakak, memandikan 2 bocah, menyiapkan keperluan sekolah Kakak dan bersiap-siap ke kantor; itu saya lakukan sendiri. Sehingga bisa dimaklumi walau bukan pembenaran jika saya kemudian berangkat terlambat ke kantor, yang jaraknya 30 Km dan memakan waktu 1 jam perjalanan itu. Dimana itu pun menguras hati, karena rasa bersalah…

Dan kemudian, di kantor pun karena banyaknya waktu yang terpotong karena terlambat dan untuk pumping; pekerjaan harus dilakukan dengan secepat mungkin. Lupakan makan siang di luar, cukup menitip makan pada OB dan makan kilat di kantor untuk mempersingkat waktu. Agar pukul 16.00 tepat bisa segera pulang dan bertemu dengan anak-anak. Oh ya, jangan lupa, setelah menempuh perjalanan 1 jam lagi ya…

Ah, mungkin juga saya terlalu berlebihan, karena teman-teman di ibukota pasti merasakan ke-hectic-an yang berlipat. Tapi dengan ke-cemen-an saya itu, rutinitas ternyata membuat saya merasa begitu terburu-buru dan lelah; hingga kadangkala tidak cukup sabar untuk melayani pertanyaan dan kebutuhan si Kakak yang sangat kritis dan penuntut… Dan inilah bagian kedua dari ‘When Our Good Boy Gone Bad’; cerita usaha kami mengembalikan anak baik kami yang sedang bad mood berkepanjangan. Yaitu, mengambil cuti panjang :)


14 Januari 2016, akhirnya resolusi pertama di tahun 2016 terlaksana! Setelah sesungguhnya di acc sekian lama, namun tidak kunjung dilaksanakan karena beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda, cuti akhirnya terealisasi! Sehingga untuk 15 hari kedepan sejak saat itu, saya bisa beristirahat sejenak dari rutinitas kerja kantoran untuk mengalihkan fokus pada hal-hal yang selama ini tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Ya, saya berbicara tentang Ganesha yang mood-nya benar-benar buruk saat itu. Saya berharap dengan cuti dan berkurangnya traffic kegiatan sehari-hari akan membuat saya melihat hal-hal yang selama ini terlewat dan mendapatkan insight tentang masalah penting ini. Dimana alhamdulillah hal ini terbukti benar…

***

Sebelum melaksanakan cuti, seperti yang saya ceritakan disini, saya bersama suami sudah banyak berpikir, merenung dan bertukar pikiran mengenai permasalahan ini. Maka, sejak hari pertama cuti pun saya langsung tancap gas melakukan agenda-agenda yang sudah direncanakan sebelumnya. Sebut saja, hard theme cuti panjang kali ini adalah mencari dan membiasakan Ganesh dengan sekolah barunya. Sedang soft theme-nya, tentu saja adalah menelateni Ganesh; mengamati dan berusaha memahaminya lebih mendalam, serta bersikap lebih sabar dan empatik (baca: menempatkan diri dan melihat dari dari sudut pandang seorang anak, memahami apa yang penting menurutnya karena seringkali tidak sama dengan apa yang penting menurut seorang dewasa).

Jadi selama 15 hari cuti, hari-hari saya pun dipenuhi dengan kegiatan mengajak Ganesh trial sekolah baru, mendaftarkannya, antar-jemput tiap hari dan mengajaknya mencari barang-barang yang dibutuhkannya di sekolah. Sembari menata hati dan pikiran untuk memahami kesalahan-kesalahan interaksi yang kami lakukan, serta mengembalikan kepercayaan dan kenyamanannya pada lingkungan, sehingga mood-nya kembali membaik. Singkatnya, sebut saja merehabilitasi kami bertiga (saya, suami dan Ganesh), karena nyatanya bukan hanya Ganesh yang merasa stress, menjadi bad mood dan bersikap buruk; tapi juga saya (dan suami)…

Dan proses serta perubahan yang terjadi selama 15 hari tersebut, terangkum sebagai berikut:

AWALNYA. Pada awal kebersamaan kami (saya dan Ganesh) yang lebih intens, Ganesh terlihat lebih bahagia, meskipun sikapnya masih labil. Reaksi; baik perilaku maupun mood-nya seringkali tidak terprediksi. Dan ini cukup stressfull! Bayangkan kejadian seperti ini: Ganesh marah hingga menangis karena saya salah bicara sehingga (mungkin) membuatnya merasa digurui. Padahal saat itu, saya cuma bilang, “…itu lampunya red…” saat melewati lampu lalu-lintas yang menyala merah; dan Ganesh langsung berteriak, “Ga mau diajarin!” lalu menangis. Atau yang benar-benar menguji kesabaran adalah saat Ganesh marah karena pada saat dia menunjuk ke suatu arah dan menyebut “Itu!” saya tidak bisa menebak kemauannya. Sepele memang, tapi membutuhkan kesabaran ekstra… saat kita sudah menyebutkan benda-benda di arah yang ditunjuknya, tapi selalu salah. Rasanya pengen menangis dan bilang, “Mama ga bisa baca pikiranmu Le…”

PROSESNYA. Kejadian-kejadian kecil semacam ini, awalnya begitu sering terjadi… Hal-hal yang dulu akan begitu mudah membuat saya menjadi kesal dan marah lalu melampiaskannya ke Ganesh; secara sikap (misalnya membiarkannya menangis), verbal (misalnya berbicara dengan nada tinggi atau membentak) atau kadang fisik (misalnya mencubit). Hal-hal yang sebenarnya saya tahu tidak tepat dan justru membuat keadaan semakin memburuk. Namun, apalah daya, dengan keterbatasan kesabaran, hal seperti itu semakin sering terjadi… Dan ini merupakan salah satu agenda besar yang ingin saya merasa harus cuti! Untuk benar-benar memiliki waktu yang longgar dan tidak terburu-buru untuk menelateni Ganesh, me-reset kembali level emosional saya dan memperbesar kapasitas kesabaran…

Dan kemudian, kami (saya dan Ganesh) pun bersama-sama melalui keinginan demi keinginan, kemarahan demi kemarahan, tangis demi tangis, serta tantrum demi tantrumnya… Dengan penjelasan demi penjelasan yang kadang panjang dan lebar, dengan kesabaran yang benar-benar diulur semaksimal mungkin, serta tentu saja empati dan pikiran positif (kesadaran); bahwa Ganesh adalah seorang anak berumur 4,5 tahun yang ingin dimengerti dan dipuaskan keinginannya. Sehingga, secara konkret alih-alih marah atau mengabaikannya; saya pun belajar memperlakukannya lebih lembut dan pelan (tanpa terburu-buru). Berkata, “Ganesh makanya ngomong dong… orang kan ga bisa baca pikiran Ganesh…” Terus menerus dan berkali-kali, saat dia menangis, hingga tantrum dan bahkan mulai melakukan aksi fisik.

Hingga akhirnya, setelah hari demi hari, kejadian demi kejadian, tantrum demi tantrum dan kesabaran demi kesabaran; perlahan-lahan intensitasnya semakin menurun menjadi sangat jarang. Ternyata, memang benar; saat anak bad mood hingga mudah marah, membuatnya semakin bad mood dengan segala bentuk pemaksaan untuk merubah perilakunya (termasuk marah, membentak ataupun intervensi fisik) hanya akan memperburuk suasana hatinya. Dan meskipun hasilnya tidak instan; kelembutan (empati), kesabaran dan persistensi lah yang akan membuatnya lebih tenang, waktu demi waktu.

DAN AKHIRNYA… alhamdulillah, perilaku serta mood Ganesh benar-benar membaik setelah full 15 hari kami bersama-sama (nyaris) 24 jam. Dia jauh-jauh lebih mudah dikendalikan dan terprediksi. Dia tidak lagi marah-marah jika keinginannya tidak dipahami atau dituruti, dia lebih bisa mendengarkan penjelasan orang-lain… Ganesh menjadi jauh-jauh lebih sabar, pengertian dan mampu berempati pada kesulitan orang lain yang tidak mampu menuruti keinginannya. Syukur alhamdulillah, Ganesh terlihat jauh-jauh lebih dewasa dari sebelumnya :)

Happy ending, tapi proses 15 hari ini tidak serta merta menjadi akhir proses ‘memperbaiki’ mood dan perilaku Ganesh ya… Saya menyebut 15 hari cuti ini hanyalah proses rehabilitasi bagi Ganesh dan juga saya; dimana saya memberikan perlakuan yang lebih intensif untuknya, sementara saya sendiri juga belajar bersabar bersikap yang lebih tepat terhadap Ganesh. Ya, kami berdua sama-sama membutuhkan rehabilitasi, setelah sekian lama menjalani hari-hari yang begitu dinamis, hectic, buru-buru dan apapun kita menyebutnya. Semua itu benar-benar melelahkan, dan kami butuh berhenti sejenak!

***

Fiuh, cukup panjang ya… Tapi sebenarnya ringkas saja kok inti dari cerita di atas, sebagai berikut:

  1. Rutinitas sehari-hari yang padat; yang membuat hari-hari kita menjadi begitu terburu-buru, harus disadari seringkali menimbulkan kepenatan dan stress tersendiri, baik bagi orang-tua maupun anak.
  2. Bagi orang dewasa (orang-tua) hal ini seringkali membuat kapasitas kesabaran menjadi menciut; hingga tidak mampu memenuhi rasa ingin tahu (dan keinginan anak lainnya) dengan penjelasan panjang. Sederhana saja, karena kita tidak punya banyak waktu untuk semua itu. Kita serba terburu-buru, padahal kemampuan kognisi anak belum bisa menerima penjelasan yang singkat dan padat.
  3. Bagi anak, karena dia tidak mendapatkan keinginan maupun penjelasan atas pertanyaan atau alasan mengapa harus melakukan sesuatu yang dapat diterimanya; akhirnya kadangkala respon yang dilakukan adalah marah dan kemudian dimarahi oleh orang-tua (urutan bisa sebaliknya). Atau, yang sering terjadi adalah anak terpaksa menuruti keinginan, kebutuhan atau perkataan orang-tuanya; sementara sesungguhnya hati dan pikirannya masih menolak. Dimana dampak jangka panjangnya adalah anak menjadi bad mood yang terwujud menjadi berbagai perilaku; misalnya gampang tantrum dan mengamuk, atau bisa juga pemurung bagi anak-anak yang melankolis.
  4. Mengambil cuti dalam hal ini tentu saja akan membantu orang-tua mengurangi kecepatan ritme kegiatan sehari-hari, sehingga lebih mampu untuk memberikan empati dan sikap yang empatik pada anak. Lebih sabar menghadapi perilakunya dan perlahan-lahan memperbaiki mood-nya.
  5. Dengan mengendurnya jadwal sehari-hari dan lebih santai pun memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat dan merasa hal-hal yang terlewatkan. Kadangkala kita merasa telah melakukan segala sesuatu dengan benar dan terheran-heran saat anak memburuk perilakunya. Dengan cuti panjang, ternyata bisa membuat kita menilai lebih objektif hal-hal sehari-hari yang kerap kita lakukan. Misalnya, dalam pengalaman saya, saya jadi bisa melihat dengan jelas bahwa seringkali saya dan suami memperlakukan Ganesh selayaknya anak yang telah lebih matang. Saat cuti, saya jadi merasa malu sendiri karena sadar seringkali saya ikut-ikutan jadi anak kecil dan berdebat dengannya :D.
Jadi Mama (dan Papa), mangambil cuti yang cukup panjang itu penting sekali menurut saya, apalagi jika anak menunjukkan gejala-gejala mood dan perilaku yang memburuk. Dan menurut saya (lagi) hal ini tidak hanya berlaku untuk ibu bekerja, tapi juga stay at home mom, karena kehidupan di rumah tidak kalah hectic dengan kehidupan di kantor. Dalam bayangan saya sih, cutinya ibu di rumah bisa berupa dengan mengurangi kewajiban sehari-hari; misalnya tugas cuci-setrika, bersih-bersih dan memasak didelegasikan pada orang lain. Bisa pada ART atau suami diminta cuti beberapa saat untuk membantu mengurangi kewajiban sehari-hari. Dengan demikian, ritme kehidupan sehari-hari bisa menjadi lebih santai, dan kita bisa fokus pada hal-hal yang selama ini terlewatkan. Itu menurut saya saja, karena nyatanya kondisi fisik, psikis dan lingkungan setiap orang berbeda.

Dan poinnya adalah, disaat kita mulai merasa kewalahan, disaat kita mulai merasa terburu-buru agar anak menuruti kita, disaat kita mulai tidak sabar dan memaksa anak melakukan hal yang kita inginkan… Saat itulah cuti panjang perlu dilakukan… Setuju kan?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

2 comments:

  1. Setelah membaca ini, ternyata kesibukan saya bekerja sekaligus seorang istri ternyata bukan apa-apa. Tetap semangat untuk berproses dan berkembang bersama buah hatinya mbak. Terima kasih sudah menuliskan ceritanya. Salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua ada masanya mbak.. nikmati dan manfaatkan masa-masa longgar yang ada :)
      Amiin.. makasih, semangatt ;)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...