Friday, May 27, 2016

Resep Chicken Nugget Idola

Berkali-kali bikin chicken nugget, tapi masih saja cari resepnya di internet, alias ga hapal-hapal juga… Dan semua itu bukan saya lakukan semata-mata untuk mencari resep yang paling OK, tapi lebih karena saya tidak yakin dengan ingatan saya sendiri :D. Yes! Dengan kata lain, saya memang pelupa untuk hal-hal yang berbau langkah-langkah dan tutorial semacam ini. Eh, tapi saya memang tidak pernah berusaha menghapal sih, secara jauh dalam lubuk hati saya berkata, “Kalau lupa ya tinggal search lagi… Gitu aja kok repot…” Haha…

Sebuah kebiasaan yang tidak hemat paket data sih memang, tapi ada nilai plusnya juga. Yaitu saya jadi ketemu dan mencoba berbagai resep yang berbeda untuk masakan tertentu, sehingga akhirnya ketemu deh resep yang paling pas dengan lidah kami (saya dan keluarga). Salah satunya, ya resep chicken nugget ini… Dimana-mana resep chicken nugget ya kaya gitu… Intinya daging ayam giling campur roti tawar plus bawang putih dan merica sebagai bumbu, lalu kukus, iris-iris dan seterusnya. Entah kemudian ditambah dengan keju, serutan wortel atau sayur lainnya, pakem itu tidak pernah berubah.

Iya, sesederhana itu, tapi hari itu saya tidak yakin dengan ingatan saya, hingga akhirnya berselancar ke dunia maya dan menemukan resep baru yang cukup berbeda dengan resep sebelumnya. Tidak seperti resep yang pernah saya ikuti, chicken nugget ini tidak memakai roti tawar, tapi sedikit tepung tapioka/tepung sagu/tepung kanji. Kemudian, bumbunya pun selain menggunakan bawang putih dan merica, juga ditambahkan dengan bawang bombay dan kecap ikan. Hmm, sempat bertanya-tanya, rasanya bakal seperti apa, tapi karena blog dan penulisnya cukup kredibel serta referensinya pun tidak kalah kredibel, saya pun tidak ragu mencoba. Meskipun akhirnya, tetap menggunakan roti tawar karena suami kadung membeli whole bread saat saya bilang mau bikin chicken nugget. Dan bawang bombaynya pun saya tumis terlebih dahulu supaya lebih lunak (tidak keras), padahal saya tidak tahu sih apakah benar-benar akan keras jika tidak ditumis sebelumnya. Intinya, ini semua (sebenarnya) improvisasi yang didasari pemikiran seorang novice saja…

Tuesday, May 24, 2016

Tips Agar Skripsimu Cepat Selesai

Skripsi, pada hakikatnya hanyalah sebuah karya tulis. Tapi, menurut pengamatan saya, dia seringkali menjadi momok bagi seorang mahasiswa, bagaikan sebuah ujian berat sebelum seseorang dinyatakan lulus. Hmm, apakah kamu termasuk yang berpendapat demikian? Jika ‘ya’, maka kamu punya pemikiran yang sama dengan saya sekitar 8 tahun yang lalu, saat menginjak semester ke-7 kuliah, 1 semester sebelum mengambil mata kuliah penulisan skripsi. Dan karena itu, saya pun mengambil ancang-ancang sebelum benar-benar mengambil mata kuliah penulisan skripsi pada semester ke 8. Dan kamu percaya atau tidak, saya berhasil menyelesaikan skripsi saya dalam waktu sekitar 6 bulan saja. Atau mungkin kurang dari itu, karena saya mengerjakannya sembari mengambil mata kuliah KKN yang mengharuskan saya menginap di daerah KKN (yang cukup pelosok) selama 2 bulan, sampai akhirnya bisa fokus mengerjakan skripsi sekembali dari sana.


Tuesday, May 3, 2016

Memilih Sekolah yang Baik untuk Anak

Setiap anak adalah unik! Mereka memiliki karakter dan potensinya masing-masing, dimana hal ini menjadi alasan mengapa suatu treatment memiliki efek yang berbeda bagi setiap anak. Dan itu juga alasan mengapa suatu sistem pembelajaran belum tentu sesuai untuk semua anak. Apalagi pada usia dini, dimana anak-anak belum mampu menyiasati sistem pembelajaran yang diterima hingga terasa menyenangkan bagi mereka.

Teringat dulu semasa kuliah ada teman yang sampai merekam kuliah dosen di kelas, sedang saya lebih asyik membuat catatan dengan corat-coret dan gambar-gambar. Sementara teman saya lebih suka mendengarkan, sampai-sampai merekam kuliah dosen di kelas. Bagi saya, mendengarkan saja itu selalu membuat ngantuk, walaupun selalu duduk di barisan paling depan sekalipun :D

Dan kembali ke pendidikan untuk anak usia dini… Anak-anak pasti belum bisa melakukan semua itu… Mereka baru mampu menerima dan mengikuti metode pembelajaran yang diberikan. Jika cocok, maka mereka akan belajar dengan gembira. Namun jika tidak, proses pembelajaran pun tidak akan optimal dan suasana hati (mood)-nya pun akan memburuk karena harus mengikuti rutinitas yang tidak menyenangkan baginya.


***

Sekolah Formal untuk Anak Usia Dini. Membicarakan mengenai pendidikan bagi anak usia dini (sebelum usia Sekolah Dasar), sebenarnya tidak melulu pada pendidikan formal dengan jenjang tertentu yang diberikan sebuah lembaga pendidikan, seperti Taman Kanak-Kanak. Tapi, juga termasuk di dalamnya pendidikan yang diberikan di rumah oleh orang-tua atau pun pengasuh lainnya dan juga lingkungan. Misalnya untuk pendidikan nonformal adalah Kelompok Bermain atau Taman Penitipan Anak, sedang untuk pendidikan informal adalah pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan (berdasarkan UU tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...