Sunday, August 13, 2017

Happy Kiddo's Room with INFORMA!

Rumah adalah tempat kita kembali dari segala aktivitas setiap harinya. Tempat melepas lelah, baik fisik maupun mental dan merasa relax. Juga tempat kita mengembalikan energi untuk kembali beraktivitas menyelesaikan berbagai tugas, serta merealisasikan mimpi-mimpi. Itulah definisi 'rumah' menurut saya… Dan kondisi itulah yang ingin saya capai berkaitan dengan 'rumah', salah satunya melalui penataan yang baik.

Nah, yang akan saya ceritakan di sini adalah mengenai penataan kamar anak-anak (Ganesh dan Mahesh)…

Selama ini, anak-anak belum memiliki kamar sendiri. Tidurnya masih random, kadang barengan saya atau suami. Nah, setelah pindah ke rumah baru beberapa waktu yang lalu, kami pun menyiapkan sebuah kamar untuk mereka. Satu kamar untuk berdua; supaya anak-anak lebih banyak berinteraksi, tidak merasa eksklusif dan untuk mempercepat transisi Adek tidur sendiri tanpa mamanya.

Karena kamar yang tidak terlalu luas ini akan dipakai berdua, bunkbed (tempat tidur bertingkat) menjadi pilihan kami. Dan kami pun ingin bunkbed ini memiliki fungsi lain untuk memaksimalkan kamar anak yang minimalis ini.


Singkat cerita, pada April 2017 saya pernah mengajak Ganesh ke INFORMA untuk mencari referensi furniture. Waktu itu, dia terpaku pada sebuah bunkbed berwarna kuning cerah yang memang terlihat unik. Bukan sekedar tempat tidur bertingkat, bunkbed ini digabungkan juga dengan meja belajar, rak buku, lemari pakaian dan juga tangga yang dimanfaatkan sebagai laci.

"Mama, Anesh mau yang ini aja… Nanti Anesh tidur di atas ya!" katanya bersemangat waktu itu. Tapi, waktu itu belum bisa langsung direalisasikan, karena masih banyak hal yang harus ditimbang… Cek luas kamar, posisi jendela dan pintu, serta tentu saja masalah pendanaan.


Monday, July 31, 2017

Ooh, I Feel Underappreciated!

Exactly! Itulah yang saya rasakan pasca ujian pelaksanaan proyek sebagai tugas pasca diklat di kantor untuk kenaikan (sebut saja) peringkat.

Disclaimer: ini tulisan curhat. Tulisan ini jujur, tapi harap dimaklumi jika (mungkin) sedikit lebay dan dramatis đŸ˜‚

Bukannya ga lulus… Lulus sih, tapi sebenarnya saya berharap respon yang lebih 'menantang' dari penguji atas proyek saya ini. Karena, saya bukan sekedar mengerjakannya sebagai syarat kelulusan, tapi dengan passion… Bukan kenapa-kenapa, bukan sok-sok-an banyak waktu juga… Tapi, memang sudah bawaan saya perfeksionis dan cenderung malas mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai standard saya. Jadi, daripada jadi proyek mangkrak, lebih baik dikerjakan bener-bener saja…


Saya berusaha merancang dan mengerjakan sebuah proyek yang (memang) tidak bisa dibilang mahakarya sih, tapi menurut saya cukup original, unik dan ditulis dengan jelas.

Saya membuat suatu metode pengembangan kemampuan kepemimpinan pegawai dengan basis kepribadian. Karena menurut pengamatan saya selama kurang lebih 8 tahun sebagai admin SDM, pengembangan soft skill yang dilakukan di perusahaan lainnya baru dikaitkan dengan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Misalnya; orientasi pelayanan pelanggan, kepemimpinan, dan sebagainya. Selanjutnya, maka pengembangan dilakukan tanpa memperhatikan latar-belakang kepribadian seorang pegawai.

Hmm, agak sulit dipahami ya… Hmm, kira-kira begini…

Jadi, pada saat seseorang dinilai memiliki (misalnya) aspek pelayanan pelanggan yang rendah, sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi seorang pengelola SDM untuk melihat kepribadian yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Misalnya; sikap kurang ramah, hanya sekedar menjawab pertanyaan dari pelanggan tapi tidak berusaha mencari tahu kebutuhan pelanggan lainnya; bisa jadi hal ini disebabkan karena:
  • orang tersebut cenderung cuek dan lebih suka bermain-main,
  • orang tersebut cenderung pemalu, sehingga membatasi interaksi seperlunya saja,
  • atau malah orang ini merasa kalau pekerjaannya kurang menantang, pengennya cepet selesai, pengen merasa lebih produktif, dan sebagainya…

Jadi, pada saat seorang yang dinilai kurang memiliki kemampuan pelayanan pelanggan yang baik lalu kemudian dipukul rata diberikan pelatihan pelayanan pelanggan; seperti menyapa pelanggan dengan ramah, memberikan pelayanan yang cepat, dan sebagainya; berusaha membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan… Bukannya tidak bermanfaat, tapi sangat mungkin hal itu akan kurang efektif, karena tidak semua dilatarbelakangi ketidaktahuan atau kekurangterampilan, tapi bisa jadi karena sesuatu yang mendorong dalam diri mereka. Dan itu adalah 'kepribadian'… Sehingga treatment yang perlu diberikan pun akan lebih efektif jika disesuaikan dengan 'kepribadian' ini. 

Masuk akal bukan…

Lebih lanjut, mengapa kemudian saya secara spesifik memilih sasaran atasan dan menyasar kemampuan kepemimpinannya adalah tidak lain karena saya melihat hal ini adalah sesuatu yang sangat strategis dalam perusahaan. Selama 8 tahun mengurusi hal berkaitan dengan SDM, saya merasa bahwa berhasil tidaknya suatu program, bagaimana seorang pegawai di bawah suatu organisasi akan dikembangkan, bagaimana keputusan strategis akan diambil, sampai dengan urusan motivasi kerja bawahan; semuanya ditentukan oleh seorang atasan.

Dan dalam banyak kasus, seorang atasan tidak mampu 'berfungsi' dengan baik karena kendala berkaitan dengan kepribadian seperti yang saya ceritakan di atas. Ada kalanya karena hal ini menghambatnya dalam melakukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau bisa juga ketidakpahaman akan kepribadiannya justru membuatnya berjarak dengan bawahan. Dimana yang kedua ini tentu juga akan mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya.

It's like something, isn't it? Sesuatu yang menurut saya bisa membawa pengelolaan SDM yang ada di unit kerja saya ke level yang lebih tinggi. Lebih dari sekedar formalitas atau tembakan-tembakan random ke segala arah yang tidak efektif. Sesuatu yang terasa begitu effortful tapi low impact. Ya, ini bahasa ekstrimnya saja sih, bukan berarti benar-benar bahwa pengelolaan SDM yang sekarang benar-benar tanpa arti… bukan! Tapi, saya benar-benar ingin menunjukkan bahwa kita bisa lho bergerak ke tingkatan yang lebih tinggi! Sekarang! Dengan ide dan willing kita sendiri… Tanpa menunggu petunjuk atau instruksi dari level organisasi yang lebih tinggi.

Terdengar dramatis ya… tapi memang begitu lah adanya đŸ˜‚. Saya benar-benar menganggap serius proyek ini! I put all my heart and soul to do it lah pokoknya. Bukan sekedar sebagai syarat kelulusan…

Dan saat para penguji bahkan tidak memahami memahami apa yang saya tulis, tapi tidak berusaha mencari tahu dan justru memberikan komentar atau pertanyaan. Saya memang lulus, tidak perlu mengulang diklat dua minggu yang penuh perjuangan dengan membawa anak + pengasuh, mendatangkan ibu saya untuk menjaga si Kakak, dan sebagainya… Tapi ada rasa kurang puas dalam hati saya.

I feel underappreciated

Sedih…

Tidak puas…

Kecewa…

Merasa kerja keras saya tidak terbayar lunas…

Saya berharap para penguji paling tidak membuka diri untuk memahami apa yang saya kerjakan, bukan sekedar mencari celah yang kurang krusial untuk dipermasalahkan karena harus ada sesuatu yang dipermasalahkan di dalam ruang sidang. Baiklah, jika memang itu sesuatu yang harus diperbaiki, saya setuju, saya akui dan akan saya perbaiki; so let's move to another point.

Berkali-kali saya memberikan sinyal ini, berharap bahasan beralih ke sesuatu yang lebih 'seru', but failed… Mengenai format penulisan yang dikupas berulang-ulang meskipun saya sudah menerima untuk melakukan perbaikan, tentang data kualitatif yang dianggap kurang objektif yang sudah saya jelaskan tentang cara berpikirnya, dan beberapa hal lain. Harapan bahwa mereka akan menengok pada cara assessmen kepribadian yang saya gunakan, cara penentuan pengembangan yang saya rekomendasikan, bagaiman tanggapan responden yang sudah terlibat dalam proyek ini, hingga dampak dari proyek ini; tidak sedikit pun disentuh…

Saya kecewa sih… jelas kecewa…

Tapi saya tidak menyesal, karena saya merasa ini sama sekali tidak sia-sia! Seperti yang saya bilang, mengapa saya bersusah payah mengerjakan tugas ini, bukan sekedar untuk sebuah sertifikat kelulusan. Saya melakukannya sesuai dengan passion, standard, idealisme dan harapan saya. Tidak ada yang sia-sia disini; saat saya merasa puas dengan hasil kerja saya dan merasa bahwa proyek ini bisa menjadi batu loncatan untuk meraih idealisme dan harapan saya. I'll keep doing it; untuk diri saya sendiri dan untuk orang-orang di sekitar saya…

Begitu kira-kira…

Bagaimana menurut teman-teman? Pernah merasakan hal yang sama? Merasa hasil kerjanya kurang dianggap serius dan kemudian bete? Yes, it feels so bad! Rasanya nyebelin, tapi, jangan menyerah dan nglokro dalam istilah Jawa. Jika itu memang bermanfaat untuk diri kita dan orang di sekitar kita, kenapa harus mengambil pusing pendapat dan apresiasi beberapa orang?

Setuju kan?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, July 25, 2017

Once Upon A Time in Bali With 5 and 2 Year Old Kids...

Pernah suatu kali saya berkelakar dengan suami, "Wajar lah ya, beberapa orang memandang kita ini cukup tajir padahal sebenarnya penghasilan sama aja… Lha wong kita ini ga pernah liburan kaya orang-orang… Coba aja bayangin, ga usah ke luar negeri deh, ke luar kota aja kalo memang niatnya memang liburan, yakin deh pasti banyak keluar duit…"

Dan suami hanya nyengir…

Bukannya kepengen liburan sih, karena memang saya tidak terlalu suka traveling. Menurut saya, traveling itu ribet. Saya lebih suka ngendon di rumah atau jalan-jalan ke tempat yang dekat untuk menghabiskan hari libur. Dan suami pun sepertinya begitu. Dia tidak terlalu berhasrat untuk menghabiskan waktu untuk liburan. Baginya alasannya sepele dan tidak terbantahkan. Tidak ada waktu. Titik. Haha…

Dan begitulah waktu berjalan hingga 6 tahun pernikahan kami, tidak sekali pun benar-benar traveling untuk liburan. And we feel fine… Sampai pada suatu hari, timbul juga hasrat untuk merencanakan liburan berempat gara-gara momen Garuda Travel Fair tahun 2016. Yes, pada hari itu, di luar kebiasaan, kami bersedia berdesak-desakan untuk mencari tiket liburan pertama kami, yang akhirnya kami putuskan ke Bali.

Awalnya, kami berencana untuk berangkat pada bulan Januari, sebelum usia Mahesh 2 tahun demi menghemat tiket pesawat. Tapi karena bentrok dengan acara pernikahan sepupu, akhirnya dimundurin. Walaupun akhirnya nikahan sepupu pun kami tidak bisa hadir karena saya kena flu parah sampai harus bed rest… Dan liburan ke Bali yang direncanakan di Bulan Maret pun musti reschedule ke Bulan April karena Mahesh yang sakit, yang berarti menambah cost lagi. Sehingga harga tiket kami berasa benar-benar ga promo lagi, hiks… Kalau dipikir dari sisi materi, sebenarnya ini jadinya ga fun lagi… But it's OK lah, sekali-sekali ini kan, harus sehat semua biar bisa benar-benar dinikmati bersama.

Dan akhirnya tibalah kami di Bali 12 April 2017…


Kami menginap di The Kuta Beach Heritage Bali yang berlokasi di seberang Pantai Kuta, tepatnya di Jl. Pantai Kuta, Br. Pande Mas. Kuta, Badung 80361. Bali-Indonesia. Sebagai seorang yang (seingat saya) ga pernah merasakan hotel yang premium, hotel ini sangat reccomended menurut saya. Lokasinya yang sangat dekat dengan pantai kuta, membuat suasana terasa syahdu oleh deburan ombak, meskipun kadang terdengar juga suara alunan konser musik yang diadakan di sekitar hotel –tapi, tenang, ga sampai berisik kok.

Monday, July 10, 2017

Ganesha's First Innocence Lie

Pada suatu hari…
"Anesh… Anesh tahu enggak kenapa headset Papa ini miring?" pada suatu hari suami saya bertanya pada Ganesh dengan serius sambil memperlihatkan colokan headset yang terlihat miring karena kena panas sehingga plastiknya terkena panas. 
Ganesh kemudian tampak memperhatikan headset yang dimaksud suami saya sejenak dan kembali mengalihkan perhatiannya pada hal lain. 
"Anesh panasin headset Papa pake korek enggak?" lanjut suami saya bertanya, karena beberapa hari terakhir Ganesh memang terlihat asyik bermain dengan korek gas. **Iya, ini bahaya, dan kami beberapa kali memperingatkannya** 
Kemudian Ganesh tampak terdiam, lalu menjawab, "Iya. Anesh panasin pake api di kompor…" Dan kami hanya berpandangan… 
"Anesh, lalu kalo mainan Dusty kemarin sebenarnya keinjek atau digunting sih sama Anesh?" Lanjut saya bertanya pada kasus lain, dimana sebelumnya Ganesh mengaku bahwa mainan Dusty (dari film Planes) miliknya patah rodanya karena terinjak, sementara dua pengasuh kami bilang kalau itu digunting oleh Ganesh. 
Sejenak Ganesh kembali terdiam, kemudian menjawab, "Iya, Anesh gunting…" sambil nyengir ke arah saya. ***

Pada hari yang lain… Ganesh saya beri tugas untuk mengantarkan kado untuk seorang temannya yang berulang tahun. Detail tugasnya adalah,

Tuesday, April 25, 2017

Pengalaman Mengembalikan Barang di Blibli.com

Hola teman-teman, apa kabar? Semoga baik-baik saja ya… Aminn…

Sebagaimana wanita pada umumnya, berburu barang diskon adalah kepuasan tersendiri bagi saya. Jika dulu, sebelum mempunyai anak, saya masih bisa berburu diskon di berbagai pusat perbelanjaan konvensional; maka setelah memiliki anak, hal ini praktis tidak bisa saya lakukan lagi. Dan tentu saja alasannya adalah kegiatan ini terlalu banyak memakan waktu; mulai dari observasi ke berbagai toko, kemudian mencari dan mencoba ukuran yang pas (untuk baju), hingga akhirnya membeli. Hingga akhirnya saya pun beralih ke toko online untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat saya berkaitan dengan belanja! Bukan cuma untuk barang-barang fashion, tapi juga perkakas kebutuhan rumah dan keperluan sehari-hari seperti sabun mandi đŸ˜‚. Online shop really really my savior deh pokoknya… Disaat saya butuh sesuatu dan tidak bisa keluar terlalu lama, dan juga disaat saya butuh belanja sebagai refreshing di tengah hectic-nya kerja di kantor dan di rumah.

Nah, belanja online tentu bukannya tanpa risiko ya… Mulai dari risiko barang yang tidak sesuai foto dan deskripsi sampai kerusakan dalam perjalanan kita. Nah, karena itulah, ada beberapa tips belanja online yang perlu kita ikuti, dimana menurut pengalaman saya pernah saya tulis di sini: TIPS BELANJA ONLINE ALA-ALA SMART SHOPPER

Tuesday, April 11, 2017

Membuat Bakso Sapi Sendiri!

Byuh… Selama hampir dua minggu ini Mahesh si anak kedua sakit. Tiga hari pertama demamnya, saya sudah membawanya ke dokter, dan menurut diagnosa dokter dia hanya terkena radang tenggorok dan flu saja. So, I guess, nothing to worry… Dan benar saja, hari berikutnya demamnya seharian sudah hilang dan dia sudah ceria kembali dan bermain seperti biasa. 

Amannn… itu pikir saya… Sampai hari berikutnya, ternyata dia kembali demam, datang dan pergi seiring hilangnya efek obat penurun demam, hingga tiga hari kemudian, dan saya pun kembali membawanya ke dokter…

"Ga ada gejala penyakit berat kok Bu. Yang keliatan hanya radangnya saja… Besok atau paling lambat lusa, jika demamnya tidak kunjung reda, baru kita test darah ya…" begitu penjelasan dokter kali kedua ini. "Tapi Dok, kan demamnya sejak udah lebih dari seminggu kalau dihitung dari pertama kali kemarin itu… Ya, memang sempat reda sampai dua hari sih demamnya," kata saya kemudian, karena saya pikir hari ini lah Mahesh harus test darah. "Hmm, jadi kan Adek sempat turun demamnya ya, dan ini baru hari kedua demamnya, jadi untuk pemeriksaan darah menurut saya belum urgent dilakukanApalagi, menurut pemeriksaan saya, Adek ini hanya radang tenggorok dan batuk pilek saja. Nah, Adek ini kan berat badannya kurang, jadi wajar jika dia gampang sakit…" begitu penjelasan dokter panjang lebar; yang membuat saya sedikit tenang, tersadar urgensinya mengembalikan berat badan Mahesh ke kisaran normal dan juga bersemangat untuk berusaha keras untuk itu!

Nah kan, kaya ga ada korelasinya dengan judulnya, 'Membuat Bakso Sapi Sendiri!' đŸ˜ƒ

Heit, ada ya… Ada ya teman-teman… Benang merahnya adalah di bersemangat untuk menaikkan berat badan Mahesh kembali ke kisaran normal! Yes, karena keinginan itulah, akhirnya sejak hari Sabtu pun saya sudah berencana untuk membuat sesuatu olahan makanan yang kemungkinan akan disukai Mahesh, yaitu bakso sapi. 

Kenapa bakso sapi? Hmm, sebenarnya bukan karena Mahesh suka bakso sapi sih… Dan selama ini dia malah cenderung tidak terlalu tertarik dengan Bakso Sony yang dulu sering kami stok di rumah. Tapi, karena berpikir bahwa jika tekstur si bakso lebih empuk dan rasanya lebih light Mahesh akan suka… Lalu mengingat tingginya protein pada daging sapi yang jelas mendukung visi dan misi saya menaikkan berat badan Mahesh… Saya pun bertekad bulat akan mewujudkannya Sabtu ini!

"Emang kamu bisa bikin bakso Nian?" tanya seorang teman terkagum-kagum dengan niat saya. Yang lantas saya jawab, "Yaelah Mbak, tahun berapa lah ini, tinggal buka hape, keluar deh itu resep bakso dari Sabang sampai Merauke," dengan wajah serius.

Yes, ini percobaan pertama, tapi saya sangat optimis, saya akan berhasil! Cukup ikuti resep dari website yang kredibel soal masak memasak. Which is justtryandtaste.com, situs yang seringkali saya kunjungi untuk mencontek resep berbagai masakan, karena langkah-langkah dan penjelasannya yang mudah dipahami. Mbak Endang, sosok di bali JTT memang tidak diragukan lagi kredibilitas resep-resepnya, mengingat beliau sudah menghasilkan beberapa buku resep masakan dari hobi memasak dan menulisnya.

Sunday, April 2, 2017

#MemesonaItu… Saat Kamu Bersinar dengan Segala Kerumitan Hidupmu

Setiap pribadi itu unik. Setiap pribadi itu rumit untuk dipahami. Terlebih bagi mereka yang merasa bahwa dirinya demikian. Dan itulah saya… Saya selalu berpikir bahwa diri saya begitu rumit, ada begitu banyak dalam diri saya bertentangan satu sama lain. Hingga bermuara pada perasaan 'buruk rupa' dan tidak puas akan diri sendiri; sebut saja merasa tidak cantik, tidak keren, tidak menarik dan banyak melakukan hal konyol…

Itu yang saya rasakan… Sementara orang di sekitar melihatnya secara sederhana, bahwa saya adalah seorang dengan sifat yang pendiam dan pemalu…

***

Saat saya kanak-kanak… masih sekelebat tersisa di ingatan bagaimana saya begitu terobsesi untuk menjadi seperti artis-artis cilik di televisi; dengan dress-dress mengembang ala princess dan juga lenggak-lenggok gayanya di atas panggung. Masih tersisa sedikit dalam ingatan saya, kegiatan pagi saya sebelum masuk bangku sekolah adalah mandi, memakai baju ala princess berwarna merah yang jarang dicuci (karena setiap hari dipakai), memakai sepatu merah, dan kemudian duduk menyilangkan kaki di atas bangku kecil, sebelum akhirnya berlenggak-lenggok menyanyi meniru artis-artis di TV.

Tuesday, March 21, 2017

Aditya Car Wash & Cafe: Tempat Cuci Mobil Anti Mati Gaya

Siang itu, sepulang arisan… **saya yang arisan, ngajak anak-anak, dan suami yang antar jemput đŸ˜€** setelah awalnya berniat pulang saja, mendadak suami punya ide untuk mencuci mobil dulu. "Apa kita ke tempat cuci mobil yang waktu itu aja ya?" katanya. Dan langsung saya sambut, "Iya, ayok ke tempat waktu itu aja…" 


Beneran lho, ini suami ngajakin nyuci mobil… Dan ekspresi saya yang begitu excited itu juga bukan dibuat-buat. Tempat cuci mobil yang dimaksud suami itu memang berbeda dengan tempat cuci mobil kebanyakan. Disana, sembari menunggu mobil yang sedang dibersihkan, kita disediakan sebuah cafe dengan suasana yang begitu asri plus makanan dan minuman yang disajikan secara 'serius'!

Iya, 'serius', karena mereka begitu memperhatikan detail dari makanan dan minuman yang disajikan, baik dari segi penyajian maupun rasa. Kali pertama ke tempat ini, saya cukup amazed dengan cara mereka memotong telur rebus untuk soto secara melintang yang tidak biasa. Juga penyajian minuman yang selalu dipisahkan dari gulanya, membuat orang yang tidak terlalu suka manis seperti saya tidak kerepotan.

Tuesday, March 14, 2017

Don't Let 'You' Get You

Whoa, abstrak bener nih judulnya ya… Judulnya ini terinspirasi lagunya P!nk berjudul 'Don't Let Me Get Me', yang menceritakan situasi dimana si P!nk merasa bahwa dirinya ini memiliki begitu banyak kekurangan, sehingga berharap bahwa berharap bahwa dirinya adalah orang lain…
"Don't let me get me
I'm my own worst enemy
It's bad when you annoy yourself
So irritating
Don't wanna be my friend no more
I wanna be somebody else"
Sesuatu, yang pernah terjadi pada diri saya dan dalam beberapa kesempatan masih membuat saya risih akan keberadaannya. Dia adalah diri saya, dan dia bernama sifat perfeksionis. Atau lebih tepatnya sifat perfeksionis yang akut dan cenderung mal-adaptif. 

Huhu, yeah, begitulah saya, unfortunately punya beberapa sifat ekstrim yang (awalnya) membuat saya merasa kurang nyaman dengan diri sendiri. Sesuatu yang dulu saya pikir harus ditendang jauh-jauh dari diri saya; tapi ternyata tidak bisa! The only way to move on is to deal with that part of me… Terus maju, meskipun sesekali merasakan ganjalan dalam hati, dan juga menertawakan diri sambil berkata, "Oh, I hate myself…"


Hahaha, OK, sebelum makin abstrak penjelasan saya… baiklah, akan saya ceritakan sedikit tentang sebuah sifat perfeksionis yang cenderung mal-adaptif tadi…

Tuesday, March 7, 2017

Never Underestimate a Child: Sebuah Cerita Menyapih Anak

Halo ibu-ibu… apa kabar? Adakah yang sedang bergelut dengan episode dramatis bernama menyapih anak? Jika iya, mungkin cerita saya ini bisa menjadi bahan penyemangat dan penguat hati dalam proses menyapih buah hatinya. Dua kali menyapih anak, tentu ceritanya berbeda. Bukan sekedar karena anaknya beda karakter, tapi juga pengalaman saya juga bertambah.

Cerita menyapih anak pertama bisa dibaca disini: GANESHA’S ‘BYE BYE NENEN’ MOMENT…

Dan waktu itu… 3 tahun lebih dari masa itu; saya memutuskan untuk menyapih anak kedua saya, Mahesh, yang saat itu berusia 2 tahun 3 minggu. Sebuah keputusan yang sebenarnya berat bagi saya walaupun Mahesh sudah berusia 2 tahun lebih. Namanya juga ibu melankolis… Mendengar anak saya kala itu selalu menolak setiap saya tanya, “…Adek, Adek kan sudah gede, ga usah nenen lagi ya…” jelas saya belum sampai hati untuk menyapihnya. Ya, mungkin saat ini saya masih menyusuinya, seandainya tidak mendapat panggilan mengikuti diklat selama 2 minggu lamanya. Yang 3 hari 2 malam di antaranya mengharuskan saya menginap di tenda, tanpa komunikasi dengan dunia luar. Mau tidak mau, saya harus menyiapkannya, karena Mahesh memang sudah tidak minum ASIP sejak sebulan terakhir. Dan nenen baginya lebih untuk sekedar mencari kenyamanan psikologis.

Lebih dari 1 tahun yang lalu, saya pernah mengundurkan diri dari diklat yang sama dan meminta penundaan semaksimal mungkin. Jadi, saat akhirnya dipanggil kembali, hati pun berkata bahwa saya harus berusaha kali ini. Apalagi anak saya sudah berusia 2 tahun lebih, sudah bisa disapih. Jadi, rasanya saya harus mencoba dulu, daripada begitu resisten dan langsung menolak.

Tuesday, February 28, 2017

Padma Hotel Bandung: Hotel Termewah dengan Panorama Menakjubkan

Berbicara tentang Bandung, ada kenangan tersendiri bagi saya… Saya bukan orang Bandung, tidak sekolah di Bandung, juga baru sekali ke Bandung pada saat study tour dikala SMA. Sepertinya tidak ada yang spesial, tapi, Bandung itu tempat kekasih hati saya (a.k.a suami) kuliah dan menemukan jati diri; sehingga pada saat suatu hari dia bilang, "…kalau kamu ini kota, maka bagiku kamu itu Kota Bandung…" tanpa dijelaskan maksudnya apa, hati saya pun langsung terbang ke langit ke tujuh. Hahaha… Apalagi waktu itu, kami sedang tidak pacaran, dan baru pada tahap pendekatan, jadi makin greng lah perasaan saya saat itu.

Karena itu, saya ingin sekali suatu hari pergi ke Bandung bersama keluarga dan mengenal kota ini lebih dalam, dengan judul 'liburan'. Iya, saya ingin liburan ke Bandung, menjelajahi kota ini dan bersantai melepas lelah di hotel yang nyaman. One day, insyaallah… Sekarang mungkin masih angan-angan, tapi sekedar mencari tahu seperti apa itu Bandung dan mencari referensi hotel yang benar-benar nyaman, tentu tidak salah kan…

***

Di kalangan anak muda, Bandung dikenal sebagai kota pusat kreativitas. Di berbagai penjuru Kota Bandung, kita bisa menikmati beragam sajian kuliner unik, toko-toko pakaian anak muda berbagai gaya, bangunan-bangunan berdesain menarik, dan taman-taman cantik di dalam kota.

Bandung juga terkenal memiliki banyak jenis wisata alam. Tidak mengherankan, Bandung kini menjadi salah satu kota wisata terpopuler di Indonesia yang dikunjungi semua kalangan dari seluruh dunia.

Monday, February 27, 2017

Finally! New Blog Look!

Sebenarnya sudah dari lama banget, pengen make over tampilan blog. Sudah beberapa kali coba-coba ubah tampilan blog lewat template designer bawaan blogger dan tutorial yang bersliweran di internet… tapi, selalu mentok. I don’t get the look that I want dan akhirnya kembali lagi ke tampilan awal, lalu terakhir palingan ganti header dan favicon saja. Beberapa kali juga pengen ganti tema warna, tapi selalu dan selalu… sulit sekali move on dari warna pink, yang sebenarnya sudah tidak terlalu saya gandrungi lagi. **Hmm, yang namanya zona nyaman itu memang sulit ditinggalkan, even saat kita sebenarnya sudah tidak terlalu nyaman dengannya**

Warna pink blog lama yang bikin susah move on

Singkat cerita, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa saya harus minta bantuan pada seseorang yang memang ahli coding untuk merubah tampilan blog semirip mungkin dengan keinginan saya. Dimana, hal ini sudah tidak bisa difasilitasi dengan blogger template editor alias harus ngutak-atik template HTML-nya.

Dan bertemulah saya (melalui dunia maya) dengan Mbak Handriati yang sukses me-make over beberapa blog, seperti salah satunya milik Grace Melia yang menurut saya cukup eye-catchy dan detail. **‘Cukup’ saja, karena sepertinya selera kami memang berbeda dan saya jelas sedang ingin move on dari warna pink yang menjadi tema blog mbak Grace ya… :D** And back to Mbak Handriati, akhirnya saya pun berhasil membuat appointment dengannya, setelah sempat ter-pending karena dia baru saja melahirkan. Yeay!

Sunday, January 1, 2017

2016 in Review: Dan Titik Terang…

Malam tahun baru kali ini cukup random bagi kami. Saya dan anak-anak berada di Jogja, sementara suami berada di Lampung. Mahesh si kecil yang baru saja sembuh dari sakitnya, masih menikmati istirahatnya dengan khusuk. Iya, secara masih bayi, tak ada beda malam ini dengan malam-malam sebelumnya, dan doi pun sudah terlelap sejak pukul 20.00 tadi. Ganesh si anak TK yang tahun depan masuk SD, sudah lebih mengerti, meskipun baru sebatas di jalanan banyak penjual terompet dan kembang api; dan dia pun memilih untuk membakar 2 kotak kembang api lalu membuat kartu dengan kardusnya untuk merayakan perpindahan dari tahun ‘two thousand and sixteen’ menjadi ‘two thousand and seventeen’, sampai sekitar pukul 21.00, sampai akhirnya minta ditemenin gosok gigi dan kemudian nyusul adeknya tidur.


Si Bapak, seharian ini sepertinya sibuk dengan persiapan perayaan pergantian tahun di kantornya. Dan malam ini pasti dia melewatkan tahun 2016 dengan pesta kembang api dan printilannya di kantor, seperti tahun sebelumnya. Seems that he got the most mainstream end year party this year :D.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...