Sunday, April 2, 2017

#MemesonaItu… Saat Kamu Bersinar dengan Segala Kerumitan Hidupmu

Setiap pribadi itu unik. Setiap pribadi itu rumit untuk dipahami. Terlebih bagi mereka yang merasa bahwa dirinya demikian. Dan itulah saya… Saya selalu berpikir bahwa diri saya begitu rumit, ada begitu banyak dalam diri saya bertentangan satu sama lain. Hingga bermuara pada perasaan 'buruk rupa' dan tidak puas akan diri sendiri; sebut saja merasa tidak cantik, tidak keren, tidak menarik dan banyak melakukan hal konyol…

Itu yang saya rasakan… Sementara orang di sekitar melihatnya secara sederhana, bahwa saya adalah seorang dengan sifat yang pendiam dan pemalu…

***

Saat saya kanak-kanak… masih sekelebat tersisa di ingatan bagaimana saya begitu terobsesi untuk menjadi seperti artis-artis cilik di televisi; dengan dress-dress mengembang ala princess dan juga lenggak-lenggok gayanya di atas panggung. Masih tersisa sedikit dalam ingatan saya, kegiatan pagi saya sebelum masuk bangku sekolah adalah mandi, memakai baju ala princess berwarna merah yang jarang dicuci (karena setiap hari dipakai), memakai sepatu merah, dan kemudian duduk menyilangkan kaki di atas bangku kecil, sebelum akhirnya berlenggak-lenggok menyanyi meniru artis-artis di TV.

Hihi, sedikit geli rasanya setiap kali ibu saya bercerita tentang kelakuan saya itu di masa lalu. Geli, tapi masih berlanjut ke masa sekolah, masa remaja dan bahkan hingga kini di usia saya yang ke 32 tahun! Tapi, tentu dalam wujud yang berbeda… Sejak duduk di bangku SMA hingga kuliah, obsesi ini termanifestasi dalam kegiatan rutin setiap pukul 19.00 - 20.00 di dalam kamar bertajuk 'Konser ala-ala Diva'. Saat di mana saya akan memutar album diva-diva idola saya; seperti Christina Aguilera, Celine Dion, Kelly Clarkson, Amy Lee (Evanescence), Stacie Orrico, dan sebangsanya… bernyanyi dan berusaha menaklukkan nada-nada sulit andalan mereka.

Hmm, terdengar seperti sebuah masa kanak-kanak dan remaja yang seru bukan? Tapi, bagi saya pribadi sesungguhnya lebih tepat disebut situasi yang sungguh rumit… 

Ya, saya suka bernyanyi, tapi takut jika nada-nada tinggi dan kekuatan suara saya akan terdengar terlalu keras dan mengganggu orang di sekitar saya. Saya suka tampil dan haus akan prestasi, tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menunjukkan kemampuan saya di depan umum. Saya takut penampilan saya buruk, takut grogi, takut gagal… saya takut tidak terlihat sempurna! Itu mengapa, saya lebih memilih mengunci diri di kamar atau kamar mandi untuk bernyanyi… Saya tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan apa yang saya miliki di luar sana… 

Baiklah, sekedar hobi (atau bakat) bernyanyi yang tidak tersalurkan saja, mungkin bukan sebuah masalah besar bukan? Tapi, sayangnya hal ini pun sering kali terjadi pada banyak setting kehidupan saya yang lain. Hingga saya memutuskan mundur dari tim jurnalistik yang cukup elite semasa SMA karena takut tidak mampu. Juga pemilihan penampilan yang seadanya, tidak berani berdandan dan memakai pakaian yang sebiasa mungkin; memilih untuk terlihat se-tidak-mencolok-mungkin, karena takut terlihat aneh. Dan banyak lagi…

Poinnya adalah bahwa ada sifat yang kontradiktif dalam diri saya; yaitu sebuah keinginan untuk mengaktualisasikan diri, haus akan prestasi dan pengakuan, tapi juga ketakutan untuk berusaha mewujudkannya… Saya takut gagal. Ya, kala itu, sifat perfeksionis saya justru membuat saya demikian cemas, gelisah dan khawatir untuk melakukan banyak hal. Sehingga alih-alih bisa meraih target yang saya inginkan, yang ada adalah perasaan frustrasi dan tertekan karena begitu banyak hal yang ingin dan saya pikir bisa capai, akhirnya hanya menjadi angan-angan. Karena akhirnya saya lebih memilih untuk diam. Kalah pada ketakutan yang menguasai fisik dan mental saya. Kalah pada keringat dingin yang mengalir deras, jantung yang berdebar-debar dan tangan yang bergetar setiap kali ingin menunjukkan sesuatu yang saya pikir bisa saya lakukan dengan baik.

Karenanya, saya pun tidak kuasa membendung perasaan pesimis dan hopeless akan masa depan saya. "Apalah yang bisa saya capai dalam hidup dengan diri saya yang seperti ini? Bisakah saya menuntaskan kuliah saya dengan baik? Akankah saya mendapatkan pekerjaan untuk hidup mandiri? Dan yang terpenting, apakah selamanya saya akan hidup dalam kegelisahan seperti ini?"

Kala itu, berbagai cara telah saya lakukan demi mendapatkan kenyamanan dalam batin… Saya pernah memaksakan diri untuk menjadi seorang yang 'rame' dan suka bergaul di sekolah yang baru, demi menciptakan konsep diri yang baru yang lebih ekspresif… dan gagal. Pernah juga, berusaha meredam keinginan untuk mengaktualisasikan diri (baca: keinginan tampil dan menunjukkan kemampuan untuk memperoleh pengakuan), karena saya pikir tanpa keinginan itu, maka hidup saya akan lebih damai. Dan ini pun gagal…

Bagaimanapun juga, kedua sifat itu adalah diri saya sendiri. Bagaikan darah dan daging yang membentuk tubuh saya, tidak ada salah satu dari keduanya yang bisa dibuang atau ditiadakan. Mereka adalah bagian dari diri saya dan saya tidak punya pilihan selain tetap berjalan dengan apa pun diri saya, dengan segala karakter dan kepribadian saya… Percaya, jika Tuhan menciptakan demikian, berarti ada cara di mana saya bisa menjalani hidup saya dengan ketenteraman batin, karena Tuhan tidak mungkin bermaksud melakukan sesuatu hanya untuk membuat hidup seseorang menjadi berat. Ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, saya hanya perlu meyakini hal ini lalu berusaha dan berusaha…

Hingga akhirnya, tanpa diduga, nasib membawa saya kuliah di Jurusan Psikologi. Yang tentu saja tidak memberikan solusi instan atas permasalahan saya, tapi memberikan begitu banyak insight tentang apa itu kepribadian, bahwa dia adalah sesuatu yang tetap (tidak akan berubah kecuali pada kasus-kasus langka) dan seperti apa kepribadian saya sesungguhnya. Mengerti bahwa bukanlah mengalahkan salah satu sifat yang saya benci, solusi dari permasalahan ini… tapi berusaha mencari jalan tengah dan berdamai dengannya. Memahami bahwa manusia dianugerahi budi pekerti untuk menentukan langkah kita dengan kepribadian itu. Serta kemampuan untuk membentuk tekad untuk mendorong dan melatih diri kita sendiri, menerima diri sembari berusaha meraih impian-impian kita. Meskipun itu terlihat sangat sulit bagi kita.

Kemudian, mulailah saya berusaha berdamai dengan diri saya sendiri. Mulai mendorong diri sendiri untuk mengekspresikan diri seperti yang saya inginkan, berkata pada diri sendiri, "Apa pun hasilnya, meski tidak seperti harapan, harus dilakukan!" Dan juga berusaha menenangkan diri sendiri saat ternyata hasil yang didapatkan benar-benar tidak seperti yang diharapkan. "Hey, apa pun hasilnya, paling tidak kamu berusaha dengan maksimal. Urusan hasilnya ternyata tidak sebaik yang kamu inginkan, kamu bisa berusaha lebih baik nanti. Hal yang paling penting dari semuanya adalah, bahwa kamu mendapatkan pelajaran dari tindakan yang kamu lakukan. It's OK…"

Terus dan terus, sampai akhirnya dalam hitungan mendekati satu tahun, perlahan-lahan, perubahan itu terjadi. Tidak, ini bukan berarti saya sama sekali tidak merasakan segala kegelisahan dan ketakutan setiap kali akan melakukan sesuatu berhubungan dengan menunjukkan kemampuan saya. Saya masih merasakan deg-degan saat akan berbicara di depan banyak orang dan sebangsanya. Tapi kali ini, saya menerima segala perasaan itu, saya cukup berdamai dengan perasaan itu, membiarkannya muncul, namun tetap tegak untuk melakukan hal yang ingin saya lakukan.

Dan selanjutnya, setelah perjalanan berdamai dengan diri sendiri itu, satu demi satu impian saya pun terwujud…

Akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah selama empat tahun dengan IPK yang sangat baik. Padahal dulu pada saat akan masuk pertama kali kuliah sempat menangis, karena merasa bahwa diri saya yang tidak pandai berbicara ini tidak cocok untuk berkuliah di Jurusan Psikologi yang notabene menuntut banyak interaksi sosial. Saya menangis karena merasa terjebak oleh keisengan saya sendiri memilih jurusan itu pada saat SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Akhirnya saya bisa diterima bekerja di bidang Manajemen SDM (Human Resources Management/HRM) yang juga berhubungan dengan banyak orang. Sesuatu yang saya percaya cukup sulit, mengingat kemampuan komunikasi saya yang masih jauh dibandingkan saingan lainnya. Setelah belajar melalui kegagalan pada sepuluh kali tahap wawancara lainnya dalam kurun waktu kurang lebih delapan bulan.

Dan dalam kehidupan sehari-hari, akhirnya saya bisa mengekspresikan diri dan keinginan saya ke dunia luar dengan lebih leluasa. Bagi beberapa orang, ini terlihat dari penampilan fisik; yang dulunya super sembarangan, menjadi lebih berani berdandan dan feminin. Bagi beberapa lainnya, ini terlihat dari perubahan sikap menjadi lebih berani tampil dan menunjukkan bakat dan kemampuan dalam diri saya. Jika dulu, saya terlihat sangat pendiam dan pemalu; kini saya tidak segan tampil di depan umum untuk bernyanyi atau menyuarakan pendapat. Walaupun terkadang masih ada rasa takut akan hasil yang tidak sempurna dalam diri, tapi kini saya bisa berdamai dengan perasaan itu.

Menyanyi Sebagai Perwakilan Sektor dalam Acara HUT Unit Induk

Akhirnya, saya mendapatkan ketenteraman batin yang selama ini saya cari… Akhirnya saya merasa begitu memesona bagi diri dan orang di sekitar saya… Dan itu terasa begitu luar biasa!

Dalam Sebuah Presentasi Kerja di Kantor

tulah arti memesona menurut saya… Dalam perjalanan hidup kita, pasti ada masa di mana kita merasa bahwa diri atau situasi kita sangatlah rumit. Ada kalanya kita memiliki sebuah keinginan yang bertentangan dengan diri dan situasi kita, seolah kita tidak akan mampu meraihnya. Sebut saja, saat kita ingin cepat menyelesaikan kuliah, tapi terhambat rasa malas dan suka menunda-nunda waktu. Pada saat kita begitu mencintai anak kita dan ingin membahagiakannya, tapi sering kali justru melukai perasaannya karena sifat temperamental yang membuat kita sulit mengendalikan amarah. Dan banyak lagi…

Diri atau situasi rumit yang hanya bisa kita lewati dan perbaiki dengan sebuah keyakinan yang kuat, usaha yang keras dan komitmen untuk tidak menyerah yang terus kita jaga.
#MemesonaItu adalah saat di mana kita menyadari dan menerima segala diri dan situasi kita, kekurangan dan kelebihannya, berdamai dengan semua itu, berjalan ke depan untuk meraih mimpi-mimpi kita, dan menerima apa pun hasil dari usaha keras kita dengan bangga. 
Jadi, siapa pun kamu, dan bagaimana pun rumitnya diri atau situasimu, kamu bisa menjadi pribadi yang memesona… Jika kau memilih dan berkomitmen untuk itu…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #MemesonaItu:
#MemesonaItu

7 comments:

  1. kadang... hal simple aja dibuat rumit oleh diri kita sendiri ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang.. butuh proses untuk memahami bahwa yang rumit itu sesungguhnya sederhana..

      Delete
  2. Sukses Mbak, teruslah memesona dalam keadaan apapun :)

    ReplyDelete
  3. Orang2 suka susah menerima kekurangan dirinya, dan menganggab itu sebagai halangan utk bisa memesona ya :). Akupun kdg begitu mba. Ini cambukan jg supaya bisa lbh menerima diri sendiri, berdamai dgn itu, dan fokus menggapai target2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly mbak.. Tetap belajar dan semangat! ;)

      Delete
  4. Wow sekarang malah jadi HRM ya, Mba. Saya pun dulu introvert luar biasa dan lama2 saya mikir, ya mesti diubah :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...