Monday, July 31, 2017

Ooh, I Feel Underappreciated!

Exactly! Itulah yang saya rasakan pasca ujian pelaksanaan proyek sebagai tugas pasca diklat di kantor untuk kenaikan (sebut saja) peringkat.

Disclaimer: ini tulisan curhat. Tulisan ini jujur, tapi harap dimaklumi jika (mungkin) sedikit lebay dan dramatis 😂

Bukannya ga lulus… Lulus sih, tapi sebenarnya saya berharap respon yang lebih 'menantang' dari penguji atas proyek saya ini. Karena, saya bukan sekedar mengerjakannya sebagai syarat kelulusan, tapi dengan passion… Bukan kenapa-kenapa, bukan sok-sok-an banyak waktu juga… Tapi, memang sudah bawaan saya perfeksionis dan cenderung malas mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai standard saya. Jadi, daripada jadi proyek mangkrak, lebih baik dikerjakan bener-bener saja…


Saya berusaha merancang dan mengerjakan sebuah proyek yang (memang) tidak bisa dibilang mahakarya sih, tapi menurut saya cukup original, unik dan ditulis dengan jelas.

Saya membuat suatu metode pengembangan kemampuan kepemimpinan pegawai dengan basis kepribadian. Karena menurut pengamatan saya selama kurang lebih 8 tahun sebagai admin SDM, pengembangan soft skill yang dilakukan di perusahaan lainnya baru dikaitkan dengan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Misalnya; orientasi pelayanan pelanggan, kepemimpinan, dan sebagainya. Selanjutnya, maka pengembangan dilakukan tanpa memperhatikan latar-belakang kepribadian seorang pegawai.

Hmm, agak sulit dipahami ya… Hmm, kira-kira begini…

Jadi, pada saat seseorang dinilai memiliki (misalnya) aspek pelayanan pelanggan yang rendah, sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi seorang pengelola SDM untuk melihat kepribadian yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Misalnya; sikap kurang ramah, hanya sekedar menjawab pertanyaan dari pelanggan tapi tidak berusaha mencari tahu kebutuhan pelanggan lainnya; bisa jadi hal ini disebabkan karena:
  • orang tersebut cenderung cuek dan lebih suka bermain-main,
  • orang tersebut cenderung pemalu, sehingga membatasi interaksi seperlunya saja,
  • atau malah orang ini merasa kalau pekerjaannya kurang menantang, pengennya cepet selesai, pengen merasa lebih produktif, dan sebagainya…

Jadi, pada saat seorang yang dinilai kurang memiliki kemampuan pelayanan pelanggan yang baik lalu kemudian dipukul rata diberikan pelatihan pelayanan pelanggan; seperti menyapa pelanggan dengan ramah, memberikan pelayanan yang cepat, dan sebagainya; berusaha membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan… Bukannya tidak bermanfaat, tapi sangat mungkin hal itu akan kurang efektif, karena tidak semua dilatarbelakangi ketidaktahuan atau kekurangterampilan, tapi bisa jadi karena sesuatu yang mendorong dalam diri mereka. Dan itu adalah 'kepribadian'… Sehingga treatment yang perlu diberikan pun akan lebih efektif jika disesuaikan dengan 'kepribadian' ini. 

Masuk akal bukan…

Lebih lanjut, mengapa kemudian saya secara spesifik memilih sasaran atasan dan menyasar kemampuan kepemimpinannya adalah tidak lain karena saya melihat hal ini adalah sesuatu yang sangat strategis dalam perusahaan. Selama 8 tahun mengurusi hal berkaitan dengan SDM, saya merasa bahwa berhasil tidaknya suatu program, bagaimana seorang pegawai di bawah suatu organisasi akan dikembangkan, bagaimana keputusan strategis akan diambil, sampai dengan urusan motivasi kerja bawahan; semuanya ditentukan oleh seorang atasan.

Dan dalam banyak kasus, seorang atasan tidak mampu 'berfungsi' dengan baik karena kendala berkaitan dengan kepribadian seperti yang saya ceritakan di atas. Ada kalanya karena hal ini menghambatnya dalam melakukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau bisa juga ketidakpahaman akan kepribadiannya justru membuatnya berjarak dengan bawahan. Dimana yang kedua ini tentu juga akan mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya.

It's like something, isn't it? Sesuatu yang menurut saya bisa membawa pengelolaan SDM yang ada di unit kerja saya ke level yang lebih tinggi. Lebih dari sekedar formalitas atau tembakan-tembakan random ke segala arah yang tidak efektif. Sesuatu yang terasa begitu effortful tapi low impact. Ya, ini bahasa ekstrimnya saja sih, bukan berarti benar-benar bahwa pengelolaan SDM yang sekarang benar-benar tanpa arti… bukan! Tapi, saya benar-benar ingin menunjukkan bahwa kita bisa lho bergerak ke tingkatan yang lebih tinggi! Sekarang! Dengan ide dan willing kita sendiri… Tanpa menunggu petunjuk atau instruksi dari level organisasi yang lebih tinggi.

Terdengar dramatis ya… tapi memang begitu lah adanya 😂. Saya benar-benar menganggap serius proyek ini! I put all my heart and soul to do it lah pokoknya. Bukan sekedar sebagai syarat kelulusan…

Dan saat para penguji bahkan tidak memahami memahami apa yang saya tulis, tapi tidak berusaha mencari tahu dan justru memberikan komentar atau pertanyaan. Saya memang lulus, tidak perlu mengulang diklat dua minggu yang penuh perjuangan dengan membawa anak + pengasuh, mendatangkan ibu saya untuk menjaga si Kakak, dan sebagainya… Tapi ada rasa kurang puas dalam hati saya.

I feel underappreciated

Sedih…

Tidak puas…

Kecewa…

Merasa kerja keras saya tidak terbayar lunas…

Saya berharap para penguji paling tidak membuka diri untuk memahami apa yang saya kerjakan, bukan sekedar mencari celah yang kurang krusial untuk dipermasalahkan karena harus ada sesuatu yang dipermasalahkan di dalam ruang sidang. Baiklah, jika memang itu sesuatu yang harus diperbaiki, saya setuju, saya akui dan akan saya perbaiki; so let's move to another point.

Berkali-kali saya memberikan sinyal ini, berharap bahasan beralih ke sesuatu yang lebih 'seru', but failed… Mengenai format penulisan yang dikupas berulang-ulang meskipun saya sudah menerima untuk melakukan perbaikan, tentang data kualitatif yang dianggap kurang objektif yang sudah saya jelaskan tentang cara berpikirnya, dan beberapa hal lain. Harapan bahwa mereka akan menengok pada cara assessmen kepribadian yang saya gunakan, cara penentuan pengembangan yang saya rekomendasikan, bagaiman tanggapan responden yang sudah terlibat dalam proyek ini, hingga dampak dari proyek ini; tidak sedikit pun disentuh…

Saya kecewa sih… jelas kecewa…

Tapi saya tidak menyesal, karena saya merasa ini sama sekali tidak sia-sia! Seperti yang saya bilang, mengapa saya bersusah payah mengerjakan tugas ini, bukan sekedar untuk sebuah sertifikat kelulusan. Saya melakukannya sesuai dengan passion, standard, idealisme dan harapan saya. Tidak ada yang sia-sia disini; saat saya merasa puas dengan hasil kerja saya dan merasa bahwa proyek ini bisa menjadi batu loncatan untuk meraih idealisme dan harapan saya. I'll keep doing it; untuk diri saya sendiri dan untuk orang-orang di sekitar saya…

Begitu kira-kira…

Bagaimana menurut teman-teman? Pernah merasakan hal yang sama? Merasa hasil kerjanya kurang dianggap serius dan kemudian bete? Yes, it feels so bad! Rasanya nyebelin, tapi, jangan menyerah dan nglokro dalam istilah Jawa. Jika itu memang bermanfaat untuk diri kita dan orang di sekitar kita, kenapa harus mengambil pusing pendapat dan apresiasi beberapa orang?

Setuju kan?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, July 25, 2017

Once Upon A Time in Bali With 5 and 2 Year Old Kids...

Pernah suatu kali saya berkelakar dengan suami, "Wajar lah ya, beberapa orang memandang kita ini cukup tajir padahal sebenarnya penghasilan sama aja… Lha wong kita ini ga pernah liburan kaya orang-orang… Coba aja bayangin, ga usah ke luar negeri deh, ke luar kota aja kalo memang niatnya memang liburan, yakin deh pasti banyak keluar duit…"

Dan suami hanya nyengir…

Bukannya kepengen liburan sih, karena memang saya tidak terlalu suka traveling. Menurut saya, traveling itu ribet. Saya lebih suka ngendon di rumah atau jalan-jalan ke tempat yang dekat untuk menghabiskan hari libur. Dan suami pun sepertinya begitu. Dia tidak terlalu berhasrat untuk menghabiskan waktu untuk liburan. Baginya alasannya sepele dan tidak terbantahkan. Tidak ada waktu. Titik. Haha…

Dan begitulah waktu berjalan hingga 6 tahun pernikahan kami, tidak sekali pun benar-benar traveling untuk liburan. And we feel fine… Sampai pada suatu hari, timbul juga hasrat untuk merencanakan liburan berempat gara-gara momen Garuda Travel Fair tahun 2016. Yes, pada hari itu, di luar kebiasaan, kami bersedia berdesak-desakan untuk mencari tiket liburan pertama kami, yang akhirnya kami putuskan ke Bali.

Awalnya, kami berencana untuk berangkat pada bulan Januari, sebelum usia Mahesh 2 tahun demi menghemat tiket pesawat. Tapi karena bentrok dengan acara pernikahan sepupu, akhirnya dimundurin. Walaupun akhirnya nikahan sepupu pun kami tidak bisa hadir karena saya kena flu parah sampai harus bed rest… Dan liburan ke Bali yang direncanakan di Bulan Maret pun musti reschedule ke Bulan April karena Mahesh yang sakit, yang berarti menambah cost lagi. Sehingga harga tiket kami berasa benar-benar ga promo lagi, hiks… Kalau dipikir dari sisi materi, sebenarnya ini jadinya ga fun lagi… But it's OK lah, sekali-sekali ini kan, harus sehat semua biar bisa benar-benar dinikmati bersama.

Dan akhirnya tibalah kami di Bali 12 April 2017…


Kami menginap di The Kuta Beach Heritage Bali yang berlokasi di seberang Pantai Kuta, tepatnya di Jl. Pantai Kuta, Br. Pande Mas. Kuta, Badung 80361. Bali-Indonesia. Sebagai seorang yang (seingat saya) ga pernah merasakan hotel yang premium, hotel ini sangat reccomended menurut saya. Lokasinya yang sangat dekat dengan pantai kuta, membuat suasana terasa syahdu oleh deburan ombak, meskipun kadang terdengar juga suara alunan konser musik yang diadakan di sekitar hotel –tapi, tenang, ga sampai berisik kok.

Monday, July 10, 2017

Ganesha's First Innocence Lie

Pada suatu hari…
"Anesh… Anesh tahu enggak kenapa headset Papa ini miring?" pada suatu hari suami saya bertanya pada Ganesh dengan serius sambil memperlihatkan colokan headset yang terlihat miring karena kena panas sehingga plastiknya terkena panas. 
Ganesh kemudian tampak memperhatikan headset yang dimaksud suami saya sejenak dan kembali mengalihkan perhatiannya pada hal lain. 
"Anesh panasin headset Papa pake korek enggak?" lanjut suami saya bertanya, karena beberapa hari terakhir Ganesh memang terlihat asyik bermain dengan korek gas. **Iya, ini bahaya, dan kami beberapa kali memperingatkannya** 
Kemudian Ganesh tampak terdiam, lalu menjawab, "Iya. Anesh panasin pake api di kompor…" Dan kami hanya berpandangan… 
"Anesh, lalu kalo mainan Dusty kemarin sebenarnya keinjek atau digunting sih sama Anesh?" Lanjut saya bertanya pada kasus lain, dimana sebelumnya Ganesh mengaku bahwa mainan Dusty (dari film Planes) miliknya patah rodanya karena terinjak, sementara dua pengasuh kami bilang kalau itu digunting oleh Ganesh. 
Sejenak Ganesh kembali terdiam, kemudian menjawab, "Iya, Anesh gunting…" sambil nyengir ke arah saya. ***

Pada hari yang lain… Ganesh saya beri tugas untuk mengantarkan kado untuk seorang temannya yang berulang tahun. Detail tugasnya adalah,
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...