Wednesday, November 8, 2017

Wisata Adat di Manado: Cara Mudah Mengenal Lebih Dekat Suku Minahasa

Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau… Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…
Lagu ini tentu tidak asing bagi kita… Sejak Sekolah Dasar (SD) kita pasti sudah diajarkan lagu ini, atau bahkan sejak Taman Kanak-kanak (TK); dan sejak itulah lagu ini akan sering kita temui dalam berbagai kesempatan. Hmm, kalau dulu sih, setiap Upacara Bendera Hari Senin akan ada sesi menyanyikan lagu wajib nasional, dan lagu ‘Dari Sabang sampai Merauke’ ini adalah salah satu lagu wajib yang dinyanyikan bersama.

Seumur hidup tinggal di Indonesia, selama kurang lebih 32 tahun, jika diingat-ingat sedikit reputasi penjelajahan saya ke berbagai daerah di Indonesia bisa dibilang cukup menyedihkan! Selama 32 tahun, hanya beberapa kota saja yang pernah saya kunjungi di luar Jawa sebagai pulau kelahiran saya; yaitu Palembang, Lampung, Medan, dan Pulau Bali. Padahal, jumlah provinsi di Indonesia ini ada 34 lho, ga usah dihitung lah, pokoknya banyak banget provinsi di Indonesia yang belum saya kunjungi. Padahal, hampir setiap provinsi ini memiliki icon wisatanya masing-masing… Sayang sekali ya, kalau dilewatkan begitu saja…

Kemudian, ngomong-ngomong soal daerah tujuan wisata di Indonesia, nama Bunaken tentu juga tidak asing bagi kita, bahkan untuk seorang yang tidak hobi traveling seperti saya… Terletak di lepas pantai Kota Manado, Bunaken sebagai salah satu ikon wisata tentu sudah jadi menu utama di daftar destinasi setiap traveler dunia. Keindahan alam yang ditawarkan Bunaken, tidak dimungkiri menjadi salah satu representasi indahnya alam Indonesia di mata turis lokal maupun mancanegara.

Bunaken National Marine Park
Foto dari: Indonesia-Tourism.com

Selain Bunaken, Manado juga memiliki beberapa daerah wisata lain, mulai dari alam bawah laut hingga kekayaan budaya dan suku aslinya, Minahasa. Adapun suku Minahasa--atau yang menyebut dirinya sebagai Kawanua--merupakan suku asli Sulawesi Utara yang sebagian besar menghuni Kota Manado.

Mengenal Suku Minahasa dan Upacara Adat
Dengan berkunjung ke Manado, kita dapat menemukan berbagai bentuk upacara terkait suku Minahasa. Ini meliputi upacara untuk mengiringi siklus hidup, serta babak-babak terpenting dari keseharian. Beberapa di antaranya diturunkan oleh nenek moyang dan masih lestari hingga kini. 

Berikut adalah beberapa upacara adat yang masih bisa kita saksikan saat berkunjung ke Kota Manado.

1. Monondeaga
Suku Minahasa menggelar upacara ini sebagai bentuk ucapan syukur. Adapun Monondeage merupakan satu jenis upacara berupa pengukuhan atas anak perempuan dalam satu keluarga, yang menginjak pubertas. 

2. Mupuk Im Bene
Kendati sama-sama bentuk ucapan syukur, Mupuk Im Bene berbeda dengan Monondeage. Ini merupakan sebuah upacara yang dilakukan untuk mensyukuri panen raya suku Minahasa. 

3. Metipu
Dilaksanakan sebagai bentuk penyembahan kepada Sang Pencipta alam semesta (suku Minahasa menyebutnya sebagai Benggona Langi Duatan Saluran). Adapun Metipu digelar dengan membakar dedaunan maupun akar-akaran.

4. Watu Pinawetengan
Diiringi kolintang, upacara ini diselenggarakan di depan batu besar wata’ esa ene. Konon, perwakilan semua etnis Tanah Toar Lumimut mengantarkan bagian peta tanah Minahasa sebagai pernyataan tekad persatuan. Setelah tekad dinyatakan, pelaku upacara akan menghentakkan kaki ke tanah tiga kali, dan bergandengan tangan membentuk lingkaran sembari menyanyikan Reranian pada penghujung acara.

Watu Pinawetengan
Gambar dari: IndonesiaWonder.com

5. Waruga
Sebagai salah satu tema destinasi wisata sejarah, ritual pemakaman suku Minahasa dapat ditemukan desa Sawangan. Dahulu, suku Minahasa akan membungkus orang yang meninggal dengan daun woka (semacam janur atau daun kelapa muda). Sebelum penguburan (atau ditanam), daun woka tadi akan diganti dengan wadah rongga pohon kayu atau nibung. 

Barulah, di abad IX, suku Minahasa mulai menggunakan waruga (kubur atau makam yang terbuat dari batu dan terdiri atas dua bagian). Orang yang meninggal akan didudukkan menghadap ke utara dengan posisi tumit kaki melekat di bagian pantat, serta kepala mencium lutut. 

***

Selain upacara adat yang telah disebutkan di atas, suku Minahasa masih menyimpan beberapa ritual bersejarah lain. Itu sebabnya, rasanya harus menyiapkan slot waktu yang lebih lama jika berkunjung ke Manado agar puas menjelajahi seluruh atraksi wisata di daerah ini. 

Nah, untuk dapat memuaskan rencana penjelajahan kita, ada baiknya kita benar-benar mempersiapkan dan mencari hotel yang cukup terjangkau untuk stay dalam waktu yang cukup lama. Salah satu cara menemukan hotel murah di Manado adalah dengan bantuan Airy Rooms. 

Airy Rooms merupakan Accomodation Network Orchestrator (ANO) yang bermitra dengan berbagai hotel budget terbaik di seluruh Indonesia. Melalui Airy Rooms kita akan menemukan hotel dengan jaminan kenyamanan seperti tempat tidur bersih, wifi gratis, TV layar datar, AC dan air hangat dengan harga terbaik. Fasilitas yang tidak kalah dengan hotel berbintang dengan harga yang lebih ekonomis. Benar-benar menarik bukan?

Untuk mendapatkan penginapan Airy Rooms kita dapat memesan melalui situs resmi Airy Rooms atau melalui aplikasi Airy Apps, dan melakukan pembayaran saat itu juga dengan cara transfer ATM atau kartu kredit.

Hmm, so simple and affordable… sipp, tinggal mencari waktu yang pas untuk menyempatkan waktu berkunjung ke Manado! Bagaimana teman-teman? Berminat menjelajah Indonesia dan Manado khususnya?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...