Friday, December 29, 2017

Pelajaran dari 'Drama' Sakitnya Mahesh: Totalitas Ibu, Ketenangan Anak dan Penyembuhannya…

Anak sakit, tidak perlu panik… Yes, karena konon anak usia di bawah satu tahun, mengalami sakit rata-rata 8-12 kali dalam kurun waktu setahun dan berkurang menjadi 6-8 kali setahun setelah lebih besar. Faktor penyebabnya di antaranya adalah karena mereka belum sadar pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan, serta sistem imunitasnya belum sempurna.
Dan saya memang relatif tidak pernah terlalu panik sih saat anak sakit. Demam, batuk pilek hingga diare ringan biasanya akan sembuh dengan sendirinya dengan perawatan di rumah (tidak perlu ke dokter). Bahkan, ada riwayatnya kala itu Ganesh yang mengalami muntaber, hingga menurut dokter mengalami dehidrasi sedang dan seharusnya rawat inap, kami rawat sendiri di rumah, karena tidak ada kamar di RS. Adanya kamar gabungan, ya kan mikir-mikir juga, bagaimana jika malahan nanti tertular sakit lain, sementara daya tahan tubuh anaknya memang sedang lemah. Masih ingat sekali kata dokter saat itu, "Ini dehidrasinya masih sedang kok Bu, saran saya dirawat di rumah saja karena kondisi di rumah sakit sedang tidak memungkinkan… Nanti jika kemudian anaknya masih terus-terusan mutah berak dan bertambah lemas, silakan di bawa ke rumah sakit lagi…"

Dan alhamdulillahnya, perkataan dokter tersebut tidak meleset… Dengan berusaha sekuat tenaga (baca: terus-menerus menggendong anak selagi terjaga, memberi cairan setiap 5 menit sekali 1 sendok makan, 'memaksanya minum obat', dan mengusahakannya istirahat dengan nyaman), kemudian keadaan si sulung kala itu membaik hingga benar-benar sembuh. Fiuhhhh, benarrr-benarrr legaaaa… (dengan penekanan).

Dengan pengalaman jungkir baliknya saat anak pertama sakit, jelas mental saya sudah terlatih menghadapi sakitnya anak kedua, Mahesh. Demam, batuk pilek, hingga diare ringan hingga tiga hari, saya masih tenang merawatnya di rumah tanpa ke dokter. Prinsipnya adalah menjaga agar anak tidak dehidrasi, mendapat istirahat yang cukup dan tidak kekurangan nutrisi, maka kondisi anak pun akan membaik sedikit demi sedikit.

Ini pose tutup hidung Mahesh supaya ingus ga meler, sementara
Mamanya belum datang…

Prinsipnya sih seperti itu, dan selama ini alhamdulillah selalu terbukti benar… Sampai akhirnya saya dibuat galau saat Mahesh kemudian sakit di Bulan Oktober - November 2017 lalu. Sakitnya sih ringan saja… demam, batuk pilek dan disusul dengan diare. Tapi, yang membuat ketenangan saya kemudian rontok adalah sakitnya itu datang dan pergi silih berganti. Sehari demam, batuk pilek… sehari berikutnya demamnya hilang tinggal batuk pilek saja selama beberapa hari, kemudian demam lagi masih batuk pilek, demam hilang batuk pilek membaik beberapa hari, demam lagi kemudian diare… Terus, hingga dihitung-hitung sampai juga sebulan kondisinya turun naik seperti itu… Nafsu makan kacau balau hingga tulang-tulang tampak bersilangan di tubuhnya karena terlihat kurus. Juga tingkat kerewelannya yang meningkat drastis… sementara saya harus bekerja, ibu mana yang tidak tumbang kepercayaan-dirinya coba? 

Huhu, sungguh, sakit Mahesh kala itu sungguh drama! Selain makannya jadi agak susah, anaknya juga jadi pemilih banget, apa-apa maunya harus mama! Bahkan untuk hal sekecil pipis dan ngelap ingus… juga harus mamanya. Sementara saya, walaupun dengan kantor yang hanya berjarak 10 menit saja dari rumah, tentu tidak bisa seleluasa itu untuk mengurus semua kebutuhan Mahesh… Dan anaknya, sungguh cranky dan ngotot dengan maunya… Alhasil, anaknya pernah nangis sambil nungguin mamanya di depan rumah sambil nempelin jarinya ke lubang hidung supaya ingusnya ga meler, demi menunggu mamanya yang ngelapin. Pernah juga ketiduran di karpet ruang tamu karena nungguin mau eek sama mamanya. Atau terus menerus nangis, sampai tetangga nelponin ngabarin kondisi Mahesh.

Iya, dramanya sakit Mahesh kala itu sampai seperti itu. Sesuatu yang sangat bisa saya maklumi karena badannya yang terasa tidak nyaman. Tapi, sungguh menjadi dilema tersendiri buat saya, karena tidak bisa selalu ada di sampingnya dalam kondisi seperti itu…

Sampai akhirnya melihat kondisi Mahesh yang naik turun, sakitnya tidak kunjung benar-benar pergi… pada demam dan diarenya yang terakhir, saya memutuskan untuk mengambil cuti setelah mengambil kesimpulan bahwa Mahesh benar-benar membutuhkan saya untuk membuatnya merasa nyaman. Dimana rasa nyaman secara psikis itu pastinya adalah satu hal yang sangat membantunya untuk benar-benar sembuh 100% dan tidak sakit-sakit lagi.

Sebenarnya bukan keputusan yang bulat sih, tapi masih melihat situasi… Jadi, ceritanya Jumat sore saya membawa Mahesh ke dokter, dan mikirnya sih kalau memang nanti Minggu Mahesh sudah benar-benar sembuh dan ikhlas melepas saya ke kantor (ga rewel-rewel lagi), ya saya ga akan cuti. Tapi kalau Mahesh-nya masih belum sepenuhnya sembuh dan masih demanding sekali akan kehadiran saya, ya saya akan cuti. Maklumlah, pekerja seperti saya, cutinya cuma 12 hari setiap tahun, harus benar-benar digunakan untuk saat-saat yang penting…

💡 Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, bisa dibilang, kami (saya dan suami) ini penganut aliran yang jarang ke dokter saat anak-anak sakit. Palingan ya saat sakitnya parah, sakitnya ga sembuh-sembuh, atau sakitnya datang dan pergi seperti kali ini, baru kami ajak anak-anak ke dokter.

Dan ikhtiar membawa anak ke dokter pun, diawali dengan pencarian dokter anak yang menurut kami kompeten dan mudah dijangkau. So, sehari sebelumnya, saya sudah hunting dokter anak yang recommended, yang buka hari Jumat dan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Yes, kami baru pindah rumah dan di Lampung sendiri sedang banyak pembangunan fly over jadi macet dimana-mana… Mau nyamperin dokter kami yang dulu, kok rasanya effortful sekali, sudah jauh, ngantrinya panjang lagi…

Dan akhirnya, setelah survey ke beberapa teman, saya yakin untuk membawa Mahesh ke dr. Sri Murni A. Ritonga, Sp.A yang katanya teman saya yang pasien dia, orangnya ramah banget… Kalau ketemu anak-anak pasiennya, pasti menyapa dengan lembut, "Adeek… hayo, kenapa ya…" dalam bayangan saya sih kaya suaranya Princess Syah**ni gitu 👸. Lokasi prakteknya juga tidak terlalu jauh dari rumah, ideal lah pokoknya.

So, sore itu, sepulang dari kantor, saya pun langsung mengangkut Mahesh dan kakaknya dengan go-car menuju rumah sakit tempat praktek dokter. Sengaja pakai taksi online, karena nanti mau ketemuan dengan papanya yang pulang kerja di sana… jadi biar bisa pulangnya barengan, soalnya tempat kerja suami jauh, bakal telat kalau nunggu minta dianterin dari rumah… Tapi kalau saya benar-benar sendirian bawa dua anak cowo satu usil dan satunya gendongan terus, kayaknya juga berat 😅. Makanya, itu sudah jalan tengah banget deh…

Nah, di sana saya berusaha menceritakan poin-poin dari sakitnya Mahesh sedetail mungkin kepada perawat untuk diberikan kepada dokter sebagai berikut:
  • Keluhannya apa? Demam, batuk pilek dan diare. 
  • Demamnya sudah berapa hari? Dua hari, kalau dikasih obat penurun panas turun, tapi kemudian naik lagi. 
  • Diarenya berapa kali sehari? Sebenarnya sih ga sering mbak… cuma dua sampai tiga kali, tapi teksturnya encer sekali dan baunya tidak seperti biasanya. 
  • Sebelum diare, makan atau minum apa? Yang agak aneh mungkin pasta di Pi**a Hut… sorenya, Mahesh langsung demam dan diare. Sementara kakaknya juga demam sehari setelahnya. 
  • Susu yang diminum apa? Susu UHT Ul**a Mimi yang rasa strawberry… Biasanya ga ada masalah kok minum susu ini. 
  • Makan dan minumnya gimana? Nah, itu dia mbak… Kalau minumnya sih banyak, tapi makannya agak susah. Sebenarnya bukan ga nafsu makan, tapi setiap kali makan terlalu banyak dia akan muntah, makanya dia jadi ngerem makannya… 
  • Oh ya mbak, dia ini sakitnya kalau dihitung-hitung udah satu bulanan lho… Demam, batuk pilek, dan juga diare… Kalau batuk pileknya selama sebulan ini belum pernah sembuh 100%, kalau demamnya, pada saat ngedrop aja sih, kalau diare baru dua hari ini. Jadi sakitnya itu, misal dua hari demam, lalu pemulihan, lima hari sehat, terus tahu-tahu demam lagi… kaya gitu mbak. *Penting ini disampaikan, karena inilah alasan utama saya akhirnya mengajak Mahesh ke dokter. 
Informasi ini kemudian digunakan dokter untuk menegakkan diagnosa setelah memeriksa Mahesh secara fisik. Oh ya, pada saat diperiksa ini Mahesh nangis tantrum menolak, padahal sebelumnya saya sudah berusaha sounding bahwa dia akan diperiksa tante dokter supaya sembuh. Tapi ya anaknya tetap nangis, ya gapapa lah… for your goodness Le…

Dari hasil pemeriksaan dan informasi yang saya berikan sebelumnya itu kemudian dokter menyimpulkan dan memberikan saran kepada kami sebagai berikut:
  • Mahesh mengalami infeksi pada saluran cerna, kemungkinan besar karena pasta yang dimakan. So, stop dulu semua jajanan, makanan yang berpewarna dan berpengawet, semua jenis junk food (mau pasta, ayam goreng, pizza, dan semuanya makanan siap saji). Makannya hanya boleh nasi putih, dengan lauk ayam, daging sapi atau tahu, jenis sop lebih baik. Jangan dulu diberikan buah kecuali pisang atau sayur dan minumnya air hanya boleh air putih… Susu UHT-nya stop dulu, ganti dengan susu soya. "Kalau minum teh boleh enggak dokter?" tanya saya. "Teh tapi tanpa gula boleh, tapi sebaiknya ga usah, karena teh itu menghambat penyerapan zat besi," demikian penjelasan dokter.
  • Mahesh juga mengalami infeksi pada saluran pernapasannya, banyak lendir di sana, makanya dia batuk dan ada suara grok-grok. Jadi, jauhkan dulu dari segala potensi debu; selimut bulu, karpet bulu, boneka bulu dan sebagainya yang dapat menyimpan debu.
  • Kemudian dokter menanyakan obat apa saja yang sudah diberikan dan meresepkan obat untuk Mahesh. "Obat turun demam masih ada?" tanyanya. "Masih ada Dok, Tempra…" jawab saya. "OK, jika demam, lanjutkan pemberian tempranya sesuai dosis… Yang lain, saya resepkan obat antibiotik yang harus dihabiskan; obat X untuk saluran napasnya diminum sampai suara grok-groknya benar-benar hilang; obat Y minimal diminumkan selama sepuluh hari; obat Z untuk batuknya, hentikan jika sudah tidak batuk…" katanya kemudian, yang benar-benar berusaha saya rekam baik-baik dalam ingatan.
💡 Merawat Fisiknya Anak Selama Sakit.  Dengan penjelasan dokter yang begitu jelas, terperinci dan logis itu, saya pun merasa sependapat dengan penanganan yang diberikannya. Dan setelah pulang ke rumah pun, saya langsung memulai pemberian obat untuk Mahesh sesuai petunjuk dan melaksanakan petunjuk-petunjuk dokter lainnya. Awalnya tentu saja Mahesh menolak… dan saya pun akhirnya harus mengeluarkan kalimat ancaman kepada Mahesh, "Adek, nanti kalau ga diminum obatnya, nanti disuruh tante dokter nginep di rumah sakit lho… Emang Adek mau sendirian di rumah sakit?" Dan dia pun akhirnya mau minum obat meskipun dengan berat hati.

Mengenai makanan dan minuman, saya juga ikutin banget sarannya dokter… Saat sakit, Mahesh cenderung ingin makan yang segar-segar, seperti mangga, jeruk dan semangka; makanya kami seringkali berdebat dulu, sampai akhirnya Mahesh menurut dan mau makan pisang saja. Sementara untuk makan berat, dia cenderung mau makan nasi saja atau nasi dengan telor dadar. Telor dadar memang tidak masuk dalam list lauk anjuran dokter sih, tapi, rasanya ga masalah lah dikasih ke Mahesh.

💡 Merawat Psikisnya Anak Selama Sakit.  Selain merawat fisiknya dengan makanan, minuman dan obat-obatan yang mendukung penyembuhannya; sebagai seorang yang melankolis, saya sadar sekali bahwa salah satu hal yang akan mempercepat penyembuhan adalah perasaan tenang dan bahagianya anak. Sebagaimana jika anak merasa cemas, gelisah dan kurang bahagia, maka penyembuhan akan lebih lambat, meskipun fisiknya telah dirawat dengan baik. Jadi, sementara saya libur dan menjaga Mahesh, saya berusaha menuruti kemauannya yang tidak bertentangan dengan anjuran dokter. Ya, ambilin minum, ya ngajak ke kamar mandi, ya ngelapin ingus, ya ngelonin tidur, sampai gendong-gendong sama mama… semua saya turutin, walaupun artinya itu saya harus selalu di samping dia dan tidak melakukan aktivitas lain. Bahkan untuk mandi dan buang air besar kecil saja harus pamitan dulu supaya anaknya ga nyariin 😅

Saat sakit, Mahesh baru bisa tertidur setelah digendong kain Mamanya…

Dan alhamdulillah, setelah dua hari perawatan full body and soul, Mahesh sudah membaik; tidak demam lagi, tidak diare lagi dan batuk pileknya sudah berkurang. Tapi, melihat kondisinya yang masih terlihat masih lemas dan kurang nafsu makan, akhirnya niat cuti pun direalisasikan. "Pokoknya, kali ini Mama ga akan lengah lagi Mahesh… Mama akan memastikan kamu benar-benar sembuh dan siap mental melepas Mama ke kantor, baru mama ke kantor lagi… Tapi, tentu saja harapannya dua hari cukup ya Nak, soalnya cuti mama tinggal sedikit… huhu…"

Untuk membuatnya lebih bahagia, saya juga mengajak Mahesh mengantar jemput kakaknya ke sekolah sementara saya cuti, toh jaraknya tidak terlalu jauh, hanya 20 menit saja. Bawa bantal, berjaga-jaga kalau anaknya capek… Tapi, Mahesh-nya sih ternyata happy-happy saja ngobrol sama kakaknya di perjalanan. Senang melihatnya seperti itu, dia bahagia, berarti tubuhnya juga akan lebih cepat pulih…

***

Daaaan… setelah semua perawatan full body and soul extended-nya Mahesh… dia terlihat sudah cukup segar, ceria dan banyak makannya, woohoo! Kemudian, Selasa sore saat pun saya bertanya padanya, "Adek, besok Mama boleh ke kantor ga? Nanti kita anterin Kakak ke sekolah… Lalu, nanti Adek anterin Mama ke kantor… Terus, Mama anterin Adek ke rumah… Adek tunggu Kakak sama Mama di rumah sama Bude sama Mbak ya…" Dan dia bilang 'iya' dengan tetap ceria.. Nyess rasanya hati saya…

Walaupun jadinya lebih rempong karena itu artinya setiap pagi harus menyiapkan tetek bengek anak-anak sebelum berangkat jam 6.45; bolak balik dari rumah - sekolah kakak - kantor - rumah - kantor, semua itu terbayar lunas dengan keikhlasan dan ketenangan hati Mahesh yang berimbas juga pada kesehatan dan mood-nya. Lalu, apa kabar kantor? Alhamdulillah, jarak dari rumah ke kantor cuma 10 menit… jadi, dengan panjangnya perjalanan itu, saya bisa mulai bekerja pukul 07.50, dimana ini masih terlambat dari seharusnya jam 07.30, jadi pe-er saya sampai saat ini adalah supaya bisa berangkat dari rumah pukul 06.30! Which is, memang agak susah karena tidak ada IRT yang menginap… tapi, tetap optimis bisaa!!

***

Hmm, long story ya… Dan kemudian, lesson learned yang saya dapatkan dari pengalaman sakit anak-anak, terutama sakit Mahesh yang terakhir yang saya ceritakan panjang lebar adalah:
  • Bagaimanapun juga, sakitnya anak itu akan membawa banyak 'kerugian' bagi anak maupun orang-tua. Bagi anak, sebut saja, salah satunya adalah kurangnya asupan nutrisi yang (dikhawatirkan) berimbas pada pertumbuhannya. Huhu, inilah yang saya rasakan pada sakit Mahesh yang terakhir, sungguh sedih melihat badannya yang menjadi kurus karena sakitnya yang datang dan pergi… So, mencegah lebih baik daripada mengobati, caranya tentu saja dengan menjaga daya tahan tubuh dengan menjaga asupan nutrisinya, menjaga kebersihan, menjauhkan anak dari potensi sumber penyakit, dan imunisasi.
  • Jika anak terlanjur sakit, untuk mempercepat penyembuhan, kita harus total dalam merawatnya; baik fisik maupun psikisnya seperti yang saya ceritakan di atas. Fisik: dengan memastikan anak tidak kekurangan cairan dan nutrisi serta istirahat cukup. Dimana dalam hal ini, jika anak mengalami demam lebih dari 38o maka anak perlu diberikan obat penurun panas seperti Tempra agar anak bisa beristirahat lebih tenang dan juga menghindari dampak lebih serius karenanya.
  • Nah, jika sakit anak berlanjut setelah semua perawatan yang kita berikan atau seperti Mahesh yang sakitnya datang dan pergi, sangat dianjurkan untuk untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosa dan treatment yang lebih intensif.
Bonus… ngomong-ngomong soal obat penurun panas, sesungguhnya pada awalnya juga sedikit menghindari alias tidak memberikannya meskipun anak demam cukup tinggi (lebih dari 38o Celcius). Saya sih mikirnya waktu itu, toh demamnya masih normal, dan demam sendiri kan sesungguhnya hanyalah reaksi tubuh terhadap infeksi penyakit tertentu, bukan penyakitnya. Jadi, kalau pun diberi obat penurun panas dan panasnya turun, bukan penyakitnya yang hilang, tapi hanya simptomnya saja. Hingga perlahan-lahan, setelah memahami beberapa literatur yang ada serta terlebih lagi pengalaman akan dampak demam yang membuat anak kesulitan untuk beristirahat dan memperlambat penyembuhan, saya pun berubah pandangan…
Penggunaan obat penurun panas memang tidak menyembuhkan penyakit yang diderita tapi adalah sesuatu yang bermanfaat dan diperlukan pada kondisi dimana demam anak lebih dari sama dengan 38o Celcius; untuk menghindari gejala yang lebih buruk (kejang) atau sekedar untuk membuat anak nyaman dan dapat beristirahat dengan lebih baik.
Untuk obat penurun panasnya sendiri, kami selalu menggunakan Tempra yang selalu ada di kotak obat keluarga kami. Tempra adalah salah satu obat penurun panas untuk anak dengan kandungan aktif paracetamol dalam tiga varian yang bisa dipilih sesuai usia anak; Tempra Drops (0-1 tahun), Tempra Syrup (1-6 tahun), dan Tempra Forte (6 tahun ke atas).


Adapun alasan saya lebih memilih Tempra daripada obat penurun panas lain adalah:
  • Aman di lambung. Jadi rasanya lebih tenang memberikannya pada anak, sementara anak makannya cukup minimalis selama sakit.
  • Dosis Tempra tepat, tidak menimbulkan over dosis maupun kurang dosis. Sehingga obat ini bekerja secara efektif untuk menurunkan demam dan tidak berbahaya jika digunakan sesuai petunjuk.
  • Seringkali diresepkan oleh dokter anak yang menurut kami kompeten, sehingga kami yakin bahwa kualitas Tempra cukup terpercaya.
  • Rasanya disukai anak-anak. Rasa anggur untuk Tempra Drops dan Tempra Syrup, serta rasa jeruk untuk Tempra Forte.
  • Tidak dikocok karena larut 100%.
  • Mudah didapatkan di minimarket terdekat dan harganya relatif ekonomis.
  • Kemasannya aman (botol ulirnya tidak mudah dibuka anak-anak), serta lengkap dengan takaran yang mudah digunakan sesuai usia anak. Untuk Tempra Drops, takarannya sejenis pipet, sehingga mudah diberikan pada bayi.
Fiuhh, jadi begitu deh kira-kira pengalaman dan insight yang saya dapatkan terkait anak sakit, yang akhirnya ditulis karena sakit Mahesh terakhir yang begitu membekas alias drama banget… Semoga anak-anak kita selalu sehat ya ibu-ibu, tapi kalau sampai anak kita sakit, ya semoga saja segera sembuh dan sehat kembali. Amiin…

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, December 11, 2017

Catatan-Catatan 'Naive' Ganesh di Sekolah

Menjadi orang-tua itu bukan perkara mudah… 
Bukan cuma masalah merawat fisik macam menjaga asupan nutrisi dan kesehatan; tapi juga merawat psikis mereka dengan kesabaran dan memberikan pendidikan yang tepat. Ya, semua orang-tua, pasti tahu yang saya maksud, termasuk breakdown-nya hingga perkara terkecil. Juga pasti setuju jika perkara (merawat fisik dan psikis anak) itu bagaikan ombak yang datang silih berganti; kadang sekedar riak-riak kecil yang menggelitik… kadang adalah ombak besar yang membahayakan keselamatan. Dan poinnya adalah, bahwa semua itu tidak pernah berhenti, tidak pernah selesai sepenuhnya… Sampai kapan pun, selama kita hidup, peran kita sebagai orang-tua tidak akan pernah berakhir. Merdeka!!

Yep, akhirnya saya sangat sependapat dengan quote pendek yang makna penjabarannya sangat panjang itu. Bukannya dulu tidak sependapat, tapi intensitas sependapatnya lebih-lebih lagi sekarang… setelah 6 tahun 5 bulan resmi menjadi seorang ibu. Setelah pada suatu hari, akhirnya merasakan sendiri mempunyai anak sekolah dan menerima laporan dari gurunya bahwa si anak melakukan tindakan yang negatif di sekolahnya. Saya kemudian benar-benar menjiwai sepenuhnya bahwa memang menjadi orang-tua itu bukan perkara mudah…

Setelah ombak besar Ganesh mogok sekolah di usia 4,5 tahun sekitar 2 tahun yang lalu… padahal awalnya dia sendiri yang ingin sekolah… Dimana kejadian ini praktis membuat mood Ganesh kacau balau karena bosan seharian di rumah tanpa kegiatan yang menyibukkannya; sementara mamanya 'harus' bekerja dari pukul 7.00 hingga 17.00… Ombak kali ini hitungannya cukup besar juga dan membuat saya cukup shock dan was-was…

Hari itu, saya mendapat laporan akan 4 perilaku buruk Ganesh di sekolah, yang dalam hal ini wali kelas sudah kewalahan dan kehabisan akal untuk menasehatinya.


Dan perilaku ini adalah: berkata jorok, bermain berlebihan hingga temannya kesakitan, bercanda tidak sopan (berkaitan dengan daerah pribadi), dan permasalahan kepatuhan pada aturan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...