Friday, July 7, 2017

Each Marriage, They Creates Chemistry...

Setiap kali, pada saat ada momen ngobrol ngalor ngidul dengan teman tentang masa lalu dengan teman-teman –yes, sekarang sudah kepala tiga, jadi ngobrolin tentang masa lalu itu bisa jadi sangat-sangat seru 😆– ngobrolin soal pacar masa lalunya, sampai menyebutkan berapa jumlan mantan mereka layaknya suatu pencapaian (atau aib), saya hanya mesam-mesem… Jika saya amati, ada dua golongan remaja terkait pandangan mereka tentang pacaran. Pertama, pacaran is fine, cukup penting untuk menemukan pasangan hidup yang sesuai. Kedua, pacaran is no, itu mengarah pada hal yang negatif, menemukan pasangan hidup tidak perlu dengan pacaran, so keep say no!

Golongan pertama cenderung memiliki beberapa mantan sebelum akhirnya menemukan (sebut saja) jodoh yang menjadi suami/istrinya. Sedangkan golongan kedua cenderung tidak memiliki mantan, karena untuk menemukan suami/istrinya dilakukan dengan metode lain, yang jelas tanpa pacaran.

Lalu saya golongan remaja yang mana? Hmm, sepertinya tidak keduanya

Alih-alih merasakan yang namanya jatuh cinta dan sebagainya, menginjak masa remaja, saya masalah sibuk memikirkan apa itu cinta. Ya, cinta itu apa sih? Apakah perasaan ini sebuah pertanda akan jodoh? Orang yang akan menjadi pendamping hidup kita? Apakah perasaan ini muncul tanpa syarat saat kita bertemu dengan jodoh kita? Atau sesungguhnya kita sendirilah yang menciptakan perasaan itu? Dengan terus-menerus mengagumi, memikirkan seseorang yang menurut kita baik, dan sebagainya?

Bingungdan karenanya saya pernah melakukan sebuah eksperimen pada diri saya sendiri.

Pada suatu hari, saya sengaja memilih target seorang pria yang menurut saya waktu itu keren. Lalu mulai sengaja mengingat/memikirkannya setiap ada kesempatan; bersikap tidak biasa (secara sembunyi-sembuyi) saat bertemu dengannya layaknya orang yang bertemu dengan gebetan-nya; mencoba mencari tahu tentang pria ini; dan sebagainya. Dan ternyata hasilnya, yes, saya mulai merasakan simtom-simtom orang yang sedang jatuh cinta; dag-dig-dig jika ketemu atau bahkan saat seseorang menyebut namanya, merasa ingin bertemu setiap saat dan sebagainya.

Ya, saya rasa saya benar-benar jatuh cintaSaya yakin berhasil menciptakan perasaan itu Tapi benarkah itu cinta?

Mungkin ya namun dalam waktu yang relatif cepat kemudian saya yakin bahwa bukan sekedar perasaan semacam ini yang kemudian akan membuat kita memutuskan menikah dan hidup bersama sampai akhir hidup kita. Jelas sekali bukan!

Saat itu, (seingat saya) dalam hitungan bulan kemudian perasaan itu hilang begitu saja… Cuma karena saya melihat 'gebetan' saya ini mencoba mencontek! Sepertinya sepele, tapi mencontek itu benar-benar sebuah tindakan yang sangat tidak gentleman menurut saya. Dan kemudian gara-gara itu, kharisma pria ini pun hancur lebur di mata saya, perasaan 'cinta' yang saya rasakan lantas benar-benar hilang tidak berbekas.

Tapi, ya itu semua ga berpengaruh apa-apa ke siapa-siapa… Ini kan cuma eksperimen, pria itu juga tidak tahu kalau saya pernah bereksperimen untuk jatuh cinta padanya. No one's feeling harmed in this experiment 😂.

Dan kemudian, sejak saat itu, saya pun tidak terlalu memusingkan masalah percintaan ini. Saya hanya tahu bahwa pada suatu saat nanti, akan ada pertanda yang lebih besar jika seseorang memang adalah jodoh yang diberikan Tuhan kepada saya. Don't need to worry… 

Lalu, kembali ke masalah mesam-mesem saat ditanya tentang jumlah mantan… bisa ditebak, bahwa saya hanya punya satu mantan selain suami tercinta saya saat ini. Itu pacaran pertama saya saat sudah berada di akhir masa kuliah. Bertahan selama kurang lebih 1,5 tahun dalam posisi LDR-an. Kemudian kami putus, dalam keadaan saya bisa membusungkan dada, karena merasa saya sudah melakukan hal yang harus dilakukan.  Dan walaupun berdarah-darah karena patah hati, saya tahu pasti, saya akan dipulihkan untuk bertemu orang yang benar-benar saya butuhkan.

Selama ini begitu sombong dengan yang namanya hubungan percintaan, akhirnya saya diberi pengalaman patah hati juga 😭😅 .

Laluuu, hingga pada akhirnya saya dipertemukan dengan suami saya saat ini. Wah, jangan bayangkan ini semacam dongeng, dimana saya akhirnya bertemu dengan pangeran pujaan hati yang memahami dan menerima sepenuhnya diri saya dan kemudian… bahagia selamanya ya…

Pertama, for honest, suami saya ini punya banyak sifat yang bertentangan dengan kriteria suami impian saya. Pertama, saya merasa butuh sosok yang sabar, tenang dan bisa mendamaikan. Sementara dia itu cenderung ga sabaran, maunya cepet, bagus, kalo ga cocok komplain secara frontal, dan sebagainya, pokoknya bikin stress! Kedua, saya pernah bilang kalau saya tidak akan menikah dengan seorang dengan latar belakang pendidikan TEKNIK, entah STM, S.T. atau apapun! Karena melihat betapa ribet hidup ibu saya yang menikah dengan bapak yang lulusan STM, kuliah jurusan teknik dan sehari-hari selalu bicara masalah teknik! Panjang kalau diceritain, pokoknya ribet, sampai-sampai urusan naruh gelas saja harus dipertimbangkan secara teknik 😂. Whoa, I can't imagine to live my daily life like that again… Dan suami saya ini, seperti yang kalian tebak, dia ini S.T., alias sarjana teknik, dari ITB pula, yang menurut banyak orang, wataknya keras-keras.

Tapi, setelah berteman beberapa lama, akhirnya sang suami ini ternyata jatuh cinta sama saya –catet ya, dia yang duluan jatuh cinta– lalu pedekate beberapa lama; dengan hati yang belum sepenuhnya pulih, saya pun menerimanya. Yah, "Let's give it try," pikir saya saat itu.

Dan ternyata, dengan hati yang belum siap, saya adalah seorang yang terlalu sensitif untuk ukurannya, dan kami pun memilih berteman saja.

Beberapa hari setelah putus, pengen menghindar,
tapi lingkaran sosial yang kecil selalu mempertemukan kami! Bete!
Yes, hiks, dalam waktu singkat saya harus merasakan lagi yang namanya patah hati, dan yang kedua ini lebih lama rasanya.. karena kami sama-sama berada dalam lingkaran kecil pertemanan yang sama. Mau-ga-mau, sering ketemu dan tidak bisa dihindari, apalagi diperumit dengan teman-teman yang masih suka berusaha mendekatkan kami. Mau move on pun, sulit bagi saya…

Perasaan itu, sebut saja cinta', masih ada dalam hati saya; dan merasakannya dalam koridor hubungan persahabatan saja itu cukup menyiksa bagi saya. Tapi, meski demikian, saya tetap kukuh dengan prinsip saya, tidak mau memulai lebih dulu, tidak mau bertanya kejelasan hubungan kami dan sebagainya. Bagi saya itu hal yang tidak bisa ditawar! Menegaskan komitmen, itu adalah jobdesc pria, bagian dari keseriusan dan tanggung-jawabnya. Saya lebih memilih galau tergantung daripada harus bertanya tentang hubungan kami. No way! Toh saya yakin, jika dia bukan jodoh saya, pasti ada waktunya saya move on. Hahaha 😂  –tertawa tragis–

Disclaimer: paragraf selanjutnya di bawah ini, murni cerita dari sudut pandang saya. Kenapa perlu saya tulis disclaimer? Karena pas saya liatin draft tulisan ini, dia bilang kalau ada beberapa yang perlu dikoreksi. Hahaha 😀. Dan kemudian saya bilang, "Yah, ini kan tulisan dari sudut pandangku, kalau mau koreksi dari sudut pandangmu, ya bikin tulisan sendiri dong…"

Sampai akhirnya, sampailah saya pada batas kegalauan saya, finally… Yeay! Di suatu titik, akhirnya saya sampai pada tahap ikhlas. Ikhlas untuk merasa digantung, ikhlas untuk sulit move on, dan pasrah sepenuhnya kapan Tuhan akan mempertemukan jodoh saya. Karena semua itu, sikap saya jadi sangat santai, hmm, mungkin terlihat cuek pada suami, dan kemudian itu sepertinya yang mengaktifkan insting pemburunya, hahaha 😄. Menyadarkannya bahwa deep inside, "Yes, you're kind of scared to lose me, right?"

Dan kemudian, suami saya pun mulai lebih intens melakukan pendekatan… Sampai akhirnya muncul isu (sebut saja) akan diberlakukannya larangan pernikahan sesama pegawai di perusahaan kami. Ya, kami dipertemukan dalam sebuah perusahaan yang sama, unit yang sama, beda divisi kerja saja.

Waktu itu, karena sudah benar-benar berada pada titik ikhlas, semua itu benar-benar tidak membuat saya khawatir. Bahkan suatu saat suami memancing saya berbicara soal topik ini, saya bilang, "Yah, kalau jodoh ya entah bagaimana caranya pasti dipertemukan juga… Kalau memang jodohku bekerja di P*N, ya entah dia atau aku pasti mantap untuk resign. Tidak ada yang perlu ditakutkan, tidak ada yang perlu dipercepat…"

Kata-kata itu saya ucapkan beberapa hari setelah kami sama-sama pulang kampung karena libur panjang. Dan saya sama sekali tidak menyangka, kalau ternyata saat pulang kampung, dia sudah membicarakan tentang saya dengan orang-tuanya 😱. Sorenya setelah obrolan itu, dia mengajak saya makan bakso berdua, terus ngajak jadian lagi, terus langsung bilang kalau ngajakin nikah 😱. Yang tentu saja membuat saya kaget, campur bahagia (tentu saja), campur merasa menang (hahaha) dan juga bingung.

Lah, ini langsung diajak nikah! Sesuatu yang rumit sekali. Makanya saya tanya, "Ini sepaket enggak? Atau bisa diterima terpisah. Soal nikahnya nanti gitu?" 😂 . Dan kemudian, dia bilang kalau ini ga sepaket, jadi ya sudah saya bisa menimbang-nimbang lebih lama soal lamarannya. Yes, ini lamaran kan? Walaupun di warung bakso kejadiannya 😂.

Lalu saya cerita ke orang-tua saya di Jogja, dan kok mereka bilang 'setuju'! Sampai saya pastikan berulang-ulang, "Yakin Pak-Buk? Bapak Ibuk belum pernah ketemu orangnya lho… Cuma tahu dari cerita-cerita saya aja…" Dan, ya, mereka malah mendorong saya.

Sampai akhirnya, sepakatlah saya dan suami plus keluarga kami untuk membicarakan pernikahan kami. Orang-tua suami –yang juga belum pernah bertemu dengan saya– kemudian datang ke rumah untuk melamar dan membicarakan tanggal pernikahan saya.

And long story short, akhirnya menikahlah kami dalam waktu kurang lebih satu bulan saja, sejak suami melamar di warung bakso itu.

Baiklah, saya bilang menikah itu sesuatu yang rumit dan saya juga punya pandangan yang rumit tentang cinta… Lalu, kenapa saya mantap memutuskan untuk menikah? Bahkan saat beberapa teman dekat saya, meminta sedikit sangsi dengan keputusan saya, "Yakin kamu Nong? Kamu itu kayaknya perlu orang yang sabar lho…" Yap, saya yakin, karena…
  • Kami berdua memiliki prinsip dan nilai hidup yang sama. Bagaimana kami memandang agama, memandang sesuatu sebagai baik dan buruk, dalam banyak hal berada pada koridor yang sama. Jadi, kami bisa berbagi cerita hampir tentang semua hal dan kemudian merasa nyaman karena mendapatkan solusi dan dukungan yang kami butuhkan.
  • Dia, laki-laki yang sungguh saya kagumi dalam banyak hal. Jika saya cerita, gara-gara perilaku mencontek seorang laki-laki kemudian langsung jatuh kharismanya di depan saya, suami saya tidak pernah melakukannya. Maksudnya, bukan semata karena tidak mencontek ya… Tapi perilakunya sangat gentleman menurut saya. Di mata saya, dia itu seorang laki-laki yang cerdas, tegas, teguh pendirian dan bisa bertanggung-jawab secara materi. Di mata saya, dia laki-laki yang lebih dalam banyak hal dari saya, satu hal yang sangat penting menurut saya, karena seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga, dia harus adalah orang yang saya hormati dan kagumi. Titik.
  • Dia membuat saya merasa berharga dan layak diperjuangkan. Kehidupan pernikahan itu bukan sesuatu yang mudah, perlu kegigihan dan niat yang kuat dari kedua belah pihak untuk mempertahankan kebersamaan di tengah segala perbedaan yang ada. Tidak bisa dari salah satu pihak saja, dan dia meyakinkan saya dengan tindakan bahwa dia akan melakukan itu. Kami pernah mengalami kegagalan dalam pacaran dan kemudian sekedar bersahabat selama waktu yang lebih lama. Saya tahu, sama dengan saya dia pun seringkali menimbang untuk kembali berkomitmen lebih, namun dia tidak melakukannya sampai saat dia yakin untuk meminang saya. Saat dia melamar saya, he simply said, "Aku ga bisa, kecuali yakin kalau kita ga akan putus lagi. Karena ini bukan main-main…" Lalu, dia pun melamar saya setelah orang-tuanya setuju. Dan saat saya tanya, "Tapi kita kan selama ini ga pacaran… Kamu yakin kita bisa menyinkronkan diri kita dalam hubungan romantis level tertinggi bernama pernikahan? Kamu yakin kita ga perlu waktu lebih lama untuk memastikan itu?" Dan dia bilang, "Itu bisa sambil jalan saja…" Kalau ini yang bilang tipe orang romantis sih saya ga akan yakin, tapi ini yang bilang suami saya yang orangnya sangat logis totok. Yakin, dia ga akan bicara seperti itu tanpa perhitungan.
  • Saya yakin kami sudah sampai pada tahap menerima hasil 'reaksi' atas kepribadian kami. Dulu saya membayangkan pernikahan ideal adalah pernikahan yang tenteram dan damai, so, saya butuh orang yang sabar dan bisa menerima saya, mau mendengar curhat-curhat saya dan sekedar bilang, "Ya udah yang sabar…" Tapi, setelah banyak bergaul dengan suami sebagai pacar dan sahabat, saya sadar bahwa itu bukan lah hal yang akan saya temui jika bersamanya. Kalaupun saya curhat, dia bukannya akan menenangkan saya, tapi akan bilang, "Makanya kamu tuh jangan begitu, begini aja…" Alih-alih membuat saya tenang, dia malahan akan membuat memberi saya PR, bukannya fokus menata perasaan saya, tapi menganalisa masalah, mencarikan solusi atau bahkan menyalahkan saya… Sesuatu yang pada default-nya akan membuat saya merasa tidak dimengerti. Dan setelah sekian lama bersamanya, saya yakin bisa menerima suasana pernikahan yang seperti itu; dinamis, lebih logis, kurang romantis, banyak diskusi daripada mengerti, banyak mengkoreksi daripada menerima begitu saja perilaku masing-masing, dan banyak lagi. Yes, each marriage, they create chemistry… Dan saya merasa bisa menerima hasil 'reaksi' ini.
That's why… finally sekitar tujuh tahun lalu saya mantap menikah dengan suami tercinta saya, Mr. Davistian Parmana.


Dan menggarisbawahi poin terakhir. Ya, setelah menikah saya benar-benar merasakan apa yang saya bayangkan kala itu. Most of the time, kami baik-baik saja karena sudah menyadari hal itu; suami menyadari betapa saya melankolis dan saya pun menyadari betapa dia adalah seorang yang logis dan kurang perasa. Tapi, tetap ada saat dimana gesekan itu terasa begitu kuat, saat kami tidak fit secara fisik/mental; misalnya saat kami capek, banyak masalah pekerjaan atau saya datang bulan 😂. Tapi, kembali ke poin-poin sebelumnya, yang membuat saya selalu jatuh cinta padanya, saya bisa mengatasi diri saya sendiri.

Saya yakin, suami juga selalu jatuh cinta pada saya dengan cara pandangnya sendiri, hingga kami terus bersama sampai saat ini. Sesuatu yang mungkin dia sendiri tidak menyadarinya, secara dia benar-benar buruk dalam menganalisa perasaan siapapun termasuk dirinya sendiri 😜. Apa? Enggak terima, kalo ga terima, aku tantangin nulis dengan topik yang sama kalau berani… hahaha 😄.

Whoa, dan ini adalah salah satu cerita yang ingin saya share tentang pernikahan…
Bahwa pernikahan bukanlah tentang menemukan sosok yang benar-benar ideal, tapi lebih pada menerima hasil reaksi yang akan terjadi dari dua orang dengan kepribadian dan latar belakang yang berbeda. Tidak masalah jika itu adalah suasana yang tenteram dan damai, dinamis penuh dengan diskusi dan ribut-ribut, dinamis atau bahkan nyaris stagnan… Selama kalian berdua bisa menerima semua itu, kalian akan bahagia bersama dan tetap menjadi satu tim untuk mewujudkan visi dan misi pernikahan kalian.
That's it! That's the story I want to remember in this our 7th wedding anniversary… Untuk mengingatkan sebuah pelajaran yang kami dapatkan sebelum akhirnya melangkah ke dunia pernikahan.

Bagaimana dengan teman-teman, apa cerita kalian?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments:

Post a Comment