Thursday, January 10, 2013

Different Color, Different Treatment


Saya     :   “Kasian ya kucing betina itu, dia sendirian ngurus anaknya.”
Suami   :   “Kenapa tiba-tiba ngomongin kucing?”
Saya     :   “Yah, gara-gara liat kucing tetangga sendirian ngurusin anaknya. Kadang ga kebayang deh dia mesti kerjain semua sendiri… Harus ninggalin anaknya buat cari makan, harus nyusuin, jagain, semua sendirian, bapak anaknya entah kabur kemana. Soalnya, aku kan ngerasain sendiri repotnya semua kerjaan itu Mas… Ga bisa membayangkan kalau aku sendirian kaya dia.”
Suami   :   “Hmm… Salah kucing betina itu sendiri beranak banyak-banyak.”
Saya     :   “Lah, itu kan udah kodrat dia Mas… Liat aja nenen-nya ada enam, berarti dia emang didesain buat punya banyak anak sekaligus.”
Suami   :   “Ya udah kalo gitu, ga usah dipikirin lagi kan? Lagian kurang kerjaan amat sih mikirin kucing? Ga ada yang lebih penting apa?”
Saya     :   “Yah, untung deh, ga semua orang mikirin UU-Ketenagalistrikan.”
Suami   :   “Kenapa?”
Saya     :   “Ya, nanti ga ada yang mikirin soal kucing…”
Dan kami berdua pun tertawa :D

Di atas adalah obrolan saya dan suami pada suatu sore, obrolan yang mengingatkan betapa berbedanya karakter saya dan suami saya. Dari hal-hal yang kecil sehari-hari saja sudah berbeda; kalau buat mie instant dia lebih suka mie goreng dan saya mie kuah. Untuk bacaan, suami saya suka sekali koran dan artikel-artikel berat (menurut saya); sedangkan saya, lihat tulisan koran yang kecil-kecil, banyak dan minim gambar itu saja sudah malas… paling yang menarik artikel koran tentang artis, sesuatu yang menurut suami saya berita tidak berisi, hoho. Atau hal-hal yang lebih berat; seperti saya yang sangat un-organized dan suami yang sangat teratur mulai dari meletakkan barang, mengatur jadwal, soal keuangan dan sebagainya. Hal-hal yang terkadang menimbulkan kehebohan seperti omelan-omelan sayang karena saya lupa meletakkan kunci motor… Sampai, peringatan-peringatan keras, seperti, “Mama, belanjanya diitung dong” atau “Mama, kalo mau online shopping harus bilang dulu ya…” Hingga sesuatu yang lebih dalam lagi, “Papa ini ga pengertian banget sih!” atau “Mama ini ga realistis deh.” Haha, tapi it’s OK kok, bagi saya semua itu malah membuat semua jadi tidak membosankan… Dan mungkin justru perbedaan-perbedaan itu yang membuat kami saling tertarik dan jatuh cinta satu sama lain, hehe :D

Tapi saya sih, ga mau cerita soal cinta-cintanya… Saya ingin sedikit bercerita tentang arti “perbedaan” dan “memahami dari sudut pandang orang lain.”

Beberapa waktu yang lalu, pada saat saya asyik googling mencari teori tentang hubungan antara preferensi warna dan kepribadian, saya malah sampai ke website “The Color Code”. Yang membuat saya tertarik pertama kali dengan website ini adalah free personality test-nya, hehe :D, setelah itu barudeh saya mencari lebih banyak mengenai teori ini, karena menurut saya teori ini cukup masuk akal, aplikatif dan mudah dimengerti. Yah, selain karena ingin tahu lebih banyak soal hasil test saya ya… Karena, melalui website saya hanya diberi tahu gambaran umum mengenai kepribadian saya.

“The Hartman Personality Profile”, “The Color Code” atau “The People Code” yang diciptakan oleh Dr. Taylor Hartman membagi kepribadian berdasarkan motif menjadi empat kategori dan memberikannya label berupa warna; sebagai berikut: Merah (didasari oleh motif kekuatan/power), Biru (didasari oleh motif kedekatan personal/intimacy), Putih (didasari oleh motif kedamaian) dan Kuning (didasari oleh oleh motif kegembiraan/fun). Berdasarkan pendapat Hartman tersebut, maka setiap warna memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Misalnya saya, “Biru”, memiliki kekuatan sebagai individu yang stabil (steady),bersedia menerima perintah dan sabar menerima keadaan yang dianggap tidak adil; mencintai dengan antusias, berkomitmen dan setia, serta selalu berusaha melakukan yang terbaik.Sedang kelemahan dari Biru adalah seringkali merasa tidak aman secara psikologis dan menghakimi diri sendiri, kurang percaya pada orang lain, sulit memaafkan diri sendiri, menuntut cinta dan penerimaan, menuntut pengertian dari orang lain, saat disatu sisi dirinya sendiri kesulitan untuk mengerti dan menerima dirinya sendiri.

Hmm, sedikit spooky ya :D, tapi saya sendiri merasa biasa-biasa saja, karena sejak kuliah dulu sudah menjadikan diri sendiri kelinci percobaan untuk berbagai alat tes psikologi, sehingga sudah memperkirakan hasilnya sebelumnya :D. Menurut saya, tidak ada yang salah dengan apapun kepribadian seseorang, selama dia mampu memahami dirinya sendiri dan kemudian menerima semua itu. Contohnya pada diri saya sendiri ya, saya memahami bahwa saya cenderung menghakimi dan sulit memaafkan diri sendiri, cenderung tidak rasional kan? Maka pada saat saya melakukan kesalahan dan kemudian mulai merutuki nasib, merasa melakukan kesalahan besar, tidak bisa memaafkan diri sendiri sampai terasa begitu mengganjal di hati; saya berusaha tidak larut dalam perasaan itu sembari mencari waktu untuk bisa berdialog dengan diri saya sendiri. Mungkin jika disuarakan akan terdengar konyol, karena pada saat itu saya memerankan diri sebagai sisi rasional saya yang sedang menasehati atau lebih tepatnya menyadarkan diri sendiri. Misalnya begini nih:

“OK, kamu tadi kamu menegur teman sekantormu karena internetan ya?
Terus temanmu tersinggung dan kamu merasa bersalah?
Ya, memang mungkin kamu tidak punya kewenangan untuk menegur ya, karena kalian kan sama-sama staf… tapi kan ga ada salahnya kamu mengingatkan mereka asal dengan cara yang ‘sesuai’…
Nah, mungkin temanmu tersinggung karena cara kamu yang salah…
Wajar kok, namanya juga manusia, pasti pernah bikin salah.
Yang penting jika kita buat salah kan kita minta maaf, dan berusaha supaya nantinya tidak terulang lagi…
Sekarang, kamu udah minta maaf kan?
Kalau sudah dan mereka masih marah, ya itu hal yang wajar juga kan…
Kadang kan kita perlu waktu untuk memafkan, egois dong kalau kamu menuntut mereka segera memaafkan kamu.

Karakteristik Kepribadian "Biru": Yang Harus Dilakukan dan Dihindari

Ribet ya? Dan kalau saya cerita sama suami saya tentang kegelisahan saya, pasti dia akan bilang, “Ya udah sih, biarin aja, ribet amat mikirin hal kaya gitu” atau “Makanya, besok lagi kalau ngomong hati-hati.” Hadeuh, sesuatu yang akan membuat saya semakin merasa bersalah :(.

Tapi, ini bukan tentang suami saya itu “pengertian” atau “tidak”, ga mungkin juga kan saya memilih suami yang tidak pengertian, hehe :D. Ini semua tentang “perbedaan” dan “melihat dari sudut pandang orang lain”, just it, tanpa syarat dan kondisi, karena itulah default kita, setting awal yang tidak bisa setiap saat kita modifikasi. Maksudnya begini, saya sadar bahwa saya seorang yang worry prone alias gampang khawatir, tapi pada saat saya menghadapi suatu kejadian, tetap saja saya akan secara otomatis merasa khawatir terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, baru saya sadar bahwa mungkin saya berlebihan, dan setelah melalui keribetan berdialog dengan diri sendiri perasaan khawatir itu baru akan benar-benar hilang.

So, saya iseng memberikan suami link test tersebut dan memintanya mengerjakan. Saya sudah memperkirakan sebelumnya hasilnya seperti apa, ga mungkin kan saya tidak tahu karakter suami saya selama satu tahun lebih masa pertemanan dan dua tahun lebih pernikahan :D. Dan, tada! Benar sekali, he’s completely Red! Kekuatan Merah adalah percaya diri, pengambil keputusan, asertif*, disiplin, mandiri, logis, bertanggung-jawab, dominan, dan pragmatis. Kelemahannya: need to be right, kritis (kadang ke arah keras) dan terkadang cenderung kurang bisa menjadi pendengar yang baik. Haha, gimana? Jadi masuk akal kan kenapa saya dan suami tidak bisa sama-sama membahas malangnya nasib si ibu kucing…

Karakteristik Kepribadian "Merah": Yang Harus Dilakukan dan Dihindari

Tidak ada yang salah dengan memiliki kepribadian tertentu, sama seperti juga tidak ada yang salah dengan bekerja-sama atau berpartner dengan orang dengan kepribadian tertentu. Yang harus kita catat mengenai kepribadian adalah:
1.  Bahwa kepribadian** adalah fungsi dari aspek genetis (nature) dan lingkungan (nurture), sesuatu yang terbentuk bahkan sejak saat kita masih berada dalam kandungan. So, (hampir) mustahil untuk merubah kepribadian seseorang setelah kepribadian itu timbul dan menetap. Jadi, pada saat saya berhubungan dengan orang lain, saya selalu mengesampingkan harapan bila orang tersebut akan “berubah”. Singkatnya sih, minimalkan menuntut orang lain untuk bersikap seperti yang kita inginkan.
2.  Tidak ada kepribadian yang baik/buruk, yang penting adalah kesadaran akan kepribadian kita dan kemudian mengambil langkah agar kita mampu hidup seimbang dalam lingkungan serta mampu mengaktualisasikan diri kita. Kita seorang yang sensitif dan worry prone seperti saya, bukan masalah, cukup mencari cara untuk dapat me-releasetension/ketegangan karena hal itu; jika saya dengan self dialog, mungkin metode lain lebih efektif untuk orang lain.
3.  Memahami kepribadian orang yang sedang kita hadapi agar mengerti bagaimana harus bersikap untuk bisa berhubungan secara optimal. Hoho, kalau sulit dilakukan pada semua orang, paling tidak disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kedekatan mereka ya… Jika kita tahu suami kita, seorang yang memang cenderung keras dan logis; ya jangan dipaksa untuk berkhayal. Lihat situasi dan kondisinya, kalau mood-nya lagi bagus, bisa kok diajakin ngomongin hal-hal yang kurang berisi, walaupun seringnya sih jawabnya juga kurang berisi alias bercanda saja :D

Gimana? Setuju kan dengan pendapat saya? Jadi, jangan serta merta memberikan label “tidak pengertian” jika suatu saat pasangan kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. For my case; walaupun kadang merasa ribet dengan semua teguran suami saya soal berbagai hal, seperti:

“Tidurnya jangan malam-malam”
“Cepetan berangkat, nanti keburu hujan”
“Udah jam berapa nih, buruan berangkat, nanti telat lagi… Makanya, simbah diajarin nyiapin makan Ganesh biar bisa berangkat cepet”
“Kartu kreditnya jangan lupa, udah tanggal berapa ini?”
“Mama nih, kebiasaan ga nutup botol lotion habis dipakai”

Di telinga memang terdengar seperti dimarahin (terus), tapi itulahcara si Merah mengatakan kepedulian dan cintanya, dengan cara paling realistis yang dia tahu… Jadi, saya sih senang-senang saja mendengar semua itu jika kondisi mood sedang tidak terlalu buruk, tapi lain cerita kalau kondisi mood sedang benar-benar buruk. Karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya, pada saat kita bad mood, kita cenderung kembali ke default kita. Begitu juga dengan saya saya, si Biru, akan kembali ke default saya sebagai seorang yang menuntut dimengerti dan dihargai.So, karena itu, memang terkadang benturan tidak bisa dihindari, tapi jangan berlarut-larut, apalagi sampai tenggelam dalam perasaan masing-masing. Sesegera mungkin, setelah kondisi emosi sudah cukup stabil, ambil kesempatan untuk melihat peristiwa itu dari sudut pandang berlawanan. Dengan begitu kita akan bisa mengerti dan selanjutnya bisa menerima kejadian itu sebagai bagian dari “perbedaan”.

Hmm, sepertinya yang saya jelaskan di atas masuk akal dan bisa diterima ya? OK, sekarang jadi lebih tertarik untuk memahami karakter dan kepribadian pasangan? Untuk langkah awal bisa dengan melakukan test sederhana di www.colorcode.com, gratis kok. Saya secara pribadi bukan pemuja Teori Hartman ini sih, tapi saya suka bagaimana teori ini menjelaskan kepribadian dengan cara yang sederhana dan aplikatif, sehingga kita bisa tahu bagaimana memahami diri kita, orang lain dan bagaimana harus meng-handle hubungan kita dengan diri kita maupun orang lain tersebut. So, tidak ada salahnya mencoba :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Keterangan:
*Asertif:
1.  Percaya diri dan langsung dalam menyatakan/menuntut kebenaran (hak) seseorang atau mengedepankan pandangan seseorang (http://www.thefreedictionary.com/assertive).
2.  Mampu menyatakan pendapat pribadi meskipun dalam kondisi yang akan mengundang konflik atau permasalahan lain tanpa menjadi agresif atau menyerang pendapat orang lain (terjemahan pribadi).

**Kepribadian: kepribadian terdiri dari karakteristik pola pemikiran, perasaan dan perilaku yang membuat seseorang unik. Karakteristik fundamental dari kepribadian adalah sebagai berikut:
1.  Cukup konsisten sepanjang hidup,
2.  Merupakan konstruksi psikologis yang mempengaruhi aspek fisiologis,
3.  Mempengaruhi perilaku dan tindakan,
4.  Ditampilkan dalam beberapa ekspresi; seperti pemikiran, perasaan, hubungan personal dan interaksi sosial lainnya.

Readings:
  1. About.com. What Is Personality. http://psychology.about.com/od/overviewofpersonality/a/persondef.htm. Diakses tanggal 10 Januari 2013.
  2. Hartman, Taylor. The Power of Color: What Does Your Color Say About You? (Presentasi). http://www.mrharris.us/Focus/colorcode/colorcodepdf.pdf. Diakses tanggal 10 Januari 2013.
  3. Wikipedia. 2013. Hartman Personality Profile. http://en.wikipedia.org/wiki/The_Color_Code. Diakses tanggal 10 Januari 2013.
  4. http://www.colorcode.com
  5. http://www.thefreedictionary.com/assertive


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...