SOCIAL MEDIA

search

Friday, April 23, 2021

Mendukung Pelestarian Lingkungan Melalui Kampanye Brand

Plastik itu tidak ramah lingkungan! Ya, tidak terbantahkan. Namun, hingga saat ini pun belum ada bahan yang dapat menggantikan sepenuhnya. Adalah keniscayaan bahwa plastik sulit diurai secara alami oleh alam, tapi juga tidak terbantahkan bahwa bahan ini masih dibutuhkan baik oleh produsen maupun konsumen.

Pernah ga sih, pada saat belanja skin care kemudian kita berpikir, “Duh, ini kemasan plastiknya tebel amat. Cantik dan keliatan elegan sih, tapi apa kabar ini nanti pas jadi sampah?” Tapi, di sisi lain coba bayangkan, jika kosmetik tersebut kemudian berhemat penggunaan plastik. Dengan kemasan yang lebih tipis, apakah sebagai konsumen kita yakin kualitas skin care tetap terjaga? Dilema kan?

Demikian juga yang dialami produsen, mereka pun mengalami dilema yang sama. Di satu sisi, tidak mungkin mereka tidak memahami dampak dari penggunaan plastik. Namun disisi lain, inilah bahan yang paling tepat guna hingga saat ini, dalam artian ekonomis, durable dan mampu menjaga produknya, serta memiliki tampilan yang menarik.

Hal ini memang dilematis, tapi bukan absolut tanpa solusi. Limbah plastik memang sulit terurai secara alami oleh alam, tapi sangat bisa didaur-ulang. Dimana konsumen dapat mendukung hal ini dengan pemilahan sampah, demikian juga produsen dapat mendorong hal ini dengan program pengumpulan kemasan produknya. Misalnya yang dilakukan The Body Shop dengan program Bring Back Our Bottle (BBOB)-nya.

Bagi saya konsumen The Body Shop sejak lebih dari 6 tahun, program ini punya arti tersendiri. Semacam memberikan garansi bahwa skin care saya dikemas dengan aman, sekaligus tenang bahwa kemasan bekas pakainya tidak akan berakhir merusak lingkungan. Di samping juga mendapatkan benefit berupa poin yang dapat ditukar dengan produk ataupun digunakan untuk belanja saat mengembalikan kemasan bekasnya. Benar-benar jenius bukan?

Member The Body Shop, kartunya berdua sama suami

Selain membawa manfaat bagi konsumen, program ini tentu juga membawa manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Sampah anorganik berkurang, masyarakat pun teredukasi untuk bertanggung-jawab akan sampahnya.

Bahkan lebih dari itu, program pengelolaan sampah yang dilakukan melalui BBOB ini pun saya sadari meningkatkan loyalitas pada brand. Sebagai seorang yang concern akan bahayanya sampah anorganik bagi lingkungan, program ini sungguh menimbulkan sentimen positif. Membuat saya merasa membuat keputusan yang tepat dengan berbelanja produk mereka. Saya mendapatkan produk berkualitas, dan mereka pun menggunakan sebagian keuntungan yang didapatkan untuk melaksanakan tanggung-jawabnya pada bumi.

Botol bekas siap dibawa ke toko

Hal ini, saya yakin juga terjadi pada banyak konsumen lain. Sikap suatu brand pada isu lingkungan turut meningkatkan loyalitas konsumen, sekaligus berpengaruh positif pada citra perusahaan. Dimana kedua hal ini (loyalitas konsumen dan citra positif) adalah aset yang turut mendukung keberlangsungan dan perkembangan bisnis perusahaan.

Sikap dan keputusan perusahaan pada pelestarian alam akan berpengaruh pada loyalitas konsumen dan citra perusahaan.

Saat ini, organisasi penggiat lingkungan pun bahu-membahu melakukan aksi penyelamatan bumi. Salah satunya dengan melakukan penelitian berkala untuk mengetahui pola limbah plastik di dunia. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menyadarkan, serta memberikan edukasi pada masyarakat dan produsen mengenai limbah mereka. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh The #breakfreefromplastic Movement.

Gerakan yang dirilis pada tahun 2016 ini melakukan penelitian bertajuk ‘Brand Audit’ secara berkala pada tiga tahun terakhir (2018, 2019, dan 2020). Melalui ‘Brand Audit’ yang dilakukan oleh volunter, dihasilkan laporan tahunan mengenai pola limbah plastik di dunia, salah satunya adalah tabulasi sampah plastik bermerek. Dimana melalui penelitian ini diperoleh hasil brand dengan sampah plastik terbanyak di dunia.

The Brand Audit 2020 yang dilakukan oleh The #breakfreefromplastic Movement

Publikasi semacam ini sedikit banyak membuat saya berpikir ulang untuk all out menggunakan produk-produknya. Saya sadar sepenuhnya jika sampah-sampah plastik yang saya hasilkan akan merusak lingkungan. Akan tetapi, sebagai konsumen, yang mungkin saya lakukan saat ini adalah memilah sampah, dengan harapan ada pihak yang akan mengambil tindakan daur ulang ataupun pengolahan lanjutan. Saya akan cenderung memilih produsen yang memberikan perhatian khusus pada limbah mereka. Sehingga fakta yang terungkap melalui penelitian yang dilansir dengan tajuk ‘The Brand Audit Report’ ini secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi keputusan saya untuk menggunakan suatu produk.

Jika ada brand lain yang lebih concern dengan limbahnya, saya akan memilihnya. Perasaan semacam ini, saya yakin dimiliki juga oleh banyak konsumen lain, sehingga jelas berpengaruh pada loyalitas customer dan citra perusahaan. Keputusan berkaitan dengan lingkungan, baik pada fase produksi maupun pengelolaan limbah adalah hal yang sangat krusial dalam hal ini. Sehingga ada baiknya perusahaan-perusahaan melalui brand yang diusungnya menganggap serius hal ini.

Untuk melakukan pengelolaan limbah yang lebih baik, produsen dapat bekerjasama dengan perusahaan pengelolaan limbah, salah satunya adalah Waste4Change. Salah satu perusahaan Waste Management Indonesia yang berdiri pada tahun 2014 ini memberikan berbagai jasa pengelolaan limbah, salah satunya adalah In-Store Recycling sebagai salah satu bentuk Extended Producer Responsibility Indonesia.

Program ini dirancang untuk meningkatkan daur ulang sampah berlabel merek yang dapat berasal dari proses produksi, proses distribusi, gudang, maupun konsumen. Sebagaimana program BBOB The Body Shop Indonesia yang juga di-handle oleh Waste4Change. 

Keuntungan dari layanana In-Store Recycling ini adalah mencegah penyalahgunaan produk berlabel merek, mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA, adanya laporan tentang alur sampah, dan membantu meningkatkan daur ulang. Dimana hal ini bukan hanya memiliki manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, tapi juga bagi brand sendiri.

Adapun alur sampah dalam program In-Store Recycling ini adalah sebagai berikut:

  1. Pemilahan sampah oleh konsumen
  2. Penyimpanan sampah di gudang/toko klien
  3. Pengumpulan sampah terpilah
  4. Pengelolaan sampah di Rumah Pemulihan Material Waste4Change
  5. Pengelolaan residu menggunakan teknologi RDF

Layanan In-Store Recycling ini sangat mudah dilakukan oleh konsumen, maupun brand. Konsumen hanya perlu membawa kemasan bekas ke toko, sedangkan perusahaan (brand) hanya perlu mengumpulkan untuk kemudian menyerahkannya untuk dikelola lebih lanjut oleh Waste4Change. 

Melalui treatment ini, sampah pun dikelola lebih baik dan tidak mencemari lingkungan, citra perusahaan semakin baik karena sampah dengan label mereka mereka tidak ditemukan di sembarang tempat (karena sudah didaur ulang), dan loyalitas konsumen pun terjaga.

Yup, sebagai konsumen, saya berharap akan lebih banyak perusahaan yang turut mengambil peran dalam pengelolaan limbah produk mereka. Saya pribadi pun merasa lebih tenang dan puas saat menggunakan produk yang saya tahu tidak akan berakhir mencemari lingkungan. 

-end-

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama penulis: Nian Astiningrum"

Referensi:

[1]. breakfreefromplastic.org. (2020). The Brand Audit Report 2020. Diakses pada 22 April 2021, dari https://www.breakfreefromplastic.org/globalbrandauditreport2020/. 

[2]. thebodyshop.co.id. Bring Back Our Bottle. Diakses pada 22 April 2021, dari https://www.thebodyshop.co.id/stories/bring-back-our-bottle.

[3]. waste4change.com. In-Store Recycling. Diakses pada 22 April 2021, dari https://waste4change.com/official/service/in-store-recycling.

Wednesday, April 21, 2021

Not Lost Myself In Domesticity

Jeanie marries when she's twenty one,
Has a baby one year on
And every year that's the way that life goes
Lost herself in domesticity,
A cleaning, feeding entity,
She can't recall what she was before

In an ideal world kids would keep their rooms tidy,
In an ideal world he would be home from his work on time
And in the morning I could lay in

(Lagu oleh Andrea Corr)

Gara-gara semingguan dipaksa berkutat dengan pekerjaan rumah-tangga pasca di-ghosting ART, lagu ini tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga. Ya gimana, tiap pagi mau bangun, yang di otak sekarang adalah mau masak buat sahur, cuci piring, nyapu, ngepel, jemur baju, nyetrika, dan printilannya. Hmm, I literally mengerti banget apa yang disampaikan lagu itu; sebuah kondisi dimana seorang perempuan tenggelam dalam pekerjaan domestik hingga lupa akan kehidupannya sendiri.


Seram ya? Tapi, iya lho, hal ini bisa banget terjadi saat pekerjaan begitu menumpuk sampai-sampai kita tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Begitu terbangun di pagi hari, yang ada di kepala kita adalah bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggu, hingga malam tiba, kita kelelahan dan beristirahat. Begitu terus... Alih-alih memikirkan mimpi, pekerjaan yang tidak henti muncul bisa selesai saja bagaikan suatu keajaiban.

Hmm, jujur, pada awalnya saya pun berpikir jika akan berada pada posisi seperti itu. Sekitar satu tahun yang lalu pun saya mengalaminya, dan waktu itu pekerjaan domestik ya hidup saya. Nyaris tak ada waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang saya sukai dan memuaskan batin.

But sureprise! Saya terkaget-kaget sendiri ternyata kok sekarang berbeda ya... Sudah seminggu terdampar di timbunan pekerjaan rumah tangga bersama home learning dua anak yang masih sekolah online, tapi saya survive. Bahkan masih sempat melakukan pekerjaan yang memuaskan batin, seperti menyanyi (live streaming), menulis, dan membuat konten. 

Ini benar-benar di luar prediksi saya! Dan sontak membuat saya berpikir, apa yang beda dengan tahun lalu? Kenapa tahun ini saya seperti masih punya cukup energi untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah-tangga itu, on-the-way menyelesaikan home learning, menyanyi, menulis dan bikin konten?

Dan setelah saya pikir-pikir, berikut beberapa hal yang ternyata membuat perbedaan itu:

1. Start dari Nol

Jadi, waktu itu kan rumah sempat ditinggal sekitar dua mingguan karena kami ke Jogja saat Ibuk sakit dan kemudian berpulang. Otomatis, PR sepulang dari sana itu lumayan banyak; ya segunung setrikaan, lantai yang aduhai untuk ukuran saya yang OCD bikin bad mood, barang-barang berantakan ga pada tempatnya, dan sebagainya.

Nah, ini nih kalo menurut hemat saya harus dibabat tuntas dulu, jadi kita benar-benar bisa start dari nol dan tidak selamanya menanggung pekerjaan kemarin atau kemarin lusa. And yes, ini part paling berat sebenarnya. Pada saat ini, saya hanya fokus untuk menyelesaikan PR itu dulu, my daily life still paused. Ga nyanyi dulu, ga nulis dulu, ga bikin konten dulu...

Berat? Iya! Makanya buruan diselesein, jadi hidup (harapannya) bisa normal lagi. Iya masih harapan, karena masih meraba-raba apa yang akan terjadi setelah ini.

2. Bangun (Sangat) Pagi

Yup, saya pikir bulan puasa akan menambah keruwetan dalam menyelesaikan semua pekerjaan rumah-tangga ini, tapi ternyata justru sebaliknya!

Bangun jam 3 pagi setiap hari untuk menyiapkan sahur untuk anak (dan suami jika dia sedang di rumah), setelahnya saya memilih untuk tidak tidur kembali, tapi menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum anak-anak harus bangun dan memulai aktivitas home learning. Pada waktu ini, saya ternyata bisa menyelesaikan banyak hal; seperti mencuci piring, menyapu, mengepel dan membuat sarapan untuk Mahesh yang belum berpuasa.

Alhasil, aktivitas setelah anak-anak bangun pun lancar jaya! Mood saya pun maintain nicely merasa tidak memiliki tanggungan yang bikin stress. Juga tidak merasa diburu-buru karena ada yang kelaperan, sementara saya pun gemas liat tumpukan cucian piring dan lantai yang tidak kesat.

3. Tidak Begadang

Ini penyakit menahun saya! Ada saatnya merasa kalo saya ini 'Night Owl' yang justru pikiran kreatif itu bersliweran di malam hari, begadang itu menjadi hobi dan kebutuhan. Siang harinya, hajar dengan kopi, selesai perkara! beberapa bulan kemudian masuk angin parah, pinggang sakit, ga bisa berdiri lama-lama, cuci piring aja harus duduk. Yup, begadang dan kurang tidur itu beneran merusak badan.

Itu kasus ekstrimnya, secara normal kebiasaan begadang itu membuat kita bangun dalam kondisi yang lelah. Lelah itu berdampak pada kurang efisien dan memburuknya mood seharian, jadi benar-benar tidak efisien. Ngerjain pekerjaan rumah lambat, banyakan nge-hang terus buka socmed. Ngajarin anak juga gampang marah. Udah gitu mau mikir untuk nulis atau bikin konten juga susah. Bete kan?

4. Jangan Tunggu Sampai Numpuk

Karena kalo numpuk itu bawaannya males mau ngerjain, yang namanya cuci baju dan setrika itu sehari sekali aja. Jadi setrika itu cuma 10 menitan aja sehari, ga sampai harus bergunung-gunung. Kenapa yang di-mention setrika? Karena ini permasalahan emak-emak sejagad kan, sampai saat ini belum bisa di-automatisasi.

Cuci piring juga gitu, sehari dua kali deh biar ga eneg liatnya.

Buat saya yang rada obsessive-compulsive tadi beneran efektif banget. Karena kecenderungannya itu kalo liat pekerjaan numpuk, bawaannya males dan menunda-nunda ngerjainnya.

5. Multitasking

Ada banyak kok kerjaan yang bisa dikerjain bersamaan. Misalnya masak. Pertama kupas wortel dulu, masukin ke panci. Nah, sambil nunggu si wortel masak, kita bisa motong-motong sayuran lainnya, siapin bumbu, dll.

Contoh lain misalnya home learning sambil nulis atau bikin konten. Ya udah, gelar aja dua meja jejeran anak. Anak ngerjain tugasnya, kita di sampingnya ngerjain tulisan atau konten sambil kadang ngomelin atau ngajarin. Bahkan kalo mendesak sekali bisa kok ngajarin home learning sambil masak. Tinggal angkut buku anak ke meja makan di dapur. Bisaa...

Bagaimana juga waktu kita itu cuma 24 jam sehari, 16 jam efektif, karena 8 jamnya jangan ditawar lagi, itu untuk istirahat.

6. Bergerak Lebih Cepat

Jalan yang cepet, ngepel yang cepet, cuci piring yang cepet... semua harus dipercepat supaya bisa selesai dengan cepat, sekaligus memaintain ritme kerja kita tetap dinamis dan agresif.

Untuk menjaga ritme kerja ini, saya perlu musik! Entah radio atau musik yang membuat saya stay pada pekerjaan itu dengan semangat. Itu kenapa, literally speaker itu ada dimana-mana di rumah.

7. Ajarkan Anak untuk Mandiri

Tahun ini anak sudah bertambah satu tahun usianya. Kalau dulu si Mahesh (sekarang 6 tahun) masih diambilin kalau makan, tahun ini dia bisa ambil sendiri. Juga soal sanitasi, mandi dan cebok sudah bisa sendiri. 


Kakaknya (hampir 10 tahun) pun begitu. Perkara belajar online sudah bisa jalan sendiri dengan jadwal yang kita tempel. Setiap pagi sudah pasang alarm untuk bangun, kemudian mandi, dan video meeting.

Ini benar-benar saving time and energy! Sekaligus mengajarkan anak untuk lebih mandiri.

8. Tools untuk Mempercepat/Meringankan Pekerjaan

Ini memang mungkin relatif pricey ya... Tapi, kalau menurut saya mesin cuci bukaan depan, mesin pel, dan bahkan meja setrika kecil yang bisa diangkut kemana-mana itu investasi untuk waktu dan kesehatan mental kita.

Sambil cuci baju, kita bisa masak, nyapu ngepel dll. Tinggal mikirin jemurnya aja, saving so much time!

Ngepel pake mesin meski belum yang otomatis jalan sendiri juga jauh lebih cepet dan ga capek. Saving so much energy!

Meja setrika kecil bisa diangkut sambil nemenin anak nonton. Anak seneng, kita juga seneng ga bosen plus merasa bisa membersamai anak. Contribute in maintain our mental health for sure!

Menurut saya beli alat semacam itu bukan pemborosan, tapi investasi. So, if you can afford it, go for it! Tapi kalo belum ada dananya ya nabung dulu. Bagaimana juga hidup itu juga tentang prioritas, termasuk prioritas mana yang harus dibeli dan mana yang bisa nunggu.

***

Udah, itu aja sih saya pikir berbeda dengan tahun kemarin dari sisi cara kerja tahun lalu dan tahun ini. Tentu tidak bisa diterapkan pada semua kondisi ya, tapi semoga bisa memberikan sedikit referensi pada teman-teman semua agar tidak tenggelam dalam pekerjaan domestik.

Yuk... yuk... tetap cari cara supaya bisa mengembangkan diri untuk kesehatan mental kita. Hmm, diposting pas Hari Kartini, beneran pas banget deh...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, April 16, 2021

Manfaat Daun Katuk dan Cara Lainnya untuk Melancarkan ASI


Memberikan ASI eksklusif merupakan hal yang diinginkan oleh semua ibu yang baru melahirkan. Hal tersebut karena berbagai manfaat yang bisa didapatkan ketika menyusui secara eksklusif. Dimana manfaatnya tidak hanya dapat diterima oleh bayi, tetapi juga untuk ibu sendiri. Mulai dari dapat membuat pertumbuhan dan perkembangan anak lebih baik, dapat untuk membuat hubungan ibu anak lebih dekat, dan juga ada banyak keuntungan lainnya yang bisa diterima untuk ibu dan bayi. Akan tetapi bagi ibu yang mempunyai produksi ASI yang kurang, maka akan susah untuk menjalankan niat tersebut. Oleh karena itulah biasanya akan melakukan berbagai usaha yang disarankan, seperti salah satunya adalah dengan menggunakan manfaat daun katuk yang sudah diketahui memberikan manfaat terbaik untuk ibu menyusui.

Daun katuk sendiri mempunyai nama latin sauropus androgynus L merr yang digunakan penambah ASI untuk ibu menyusui. Anda tentunya juga sudah familiar bahwa daun katuk merupakan salah satu bahan utama yang digunakan untuk ibu susu hamil. Sehingga bagi ibu yang mempunyai masalah seperti produksi ASI yang kurang lancar, bisa untuk memanfaatkan bahan yang satu ini. Daun katuk digunakan ASI booster karena mempunyai kandungan laktogogum dan prolaktin tinggi. Sehingga hal tersebut akan memicu produksi ASI menjadi lebih banyak dan bisa membuat produksi ASI yang lebih lancar.

Oleh karena itulah, bagi ibu yang ingin memberikan ASI eksklusif untuk bayinya tetapi mempunyai kendala produksi ASI yang kurang lancar, dapat untuk menggunakan manfaat daun katuk ini. Untuk mendapatkan manfaat tersebut, tentu saja perlu untuk mengkonsumsi daun katuk secara rutin. Sehingga bisa mendapatkan manfaat yang dibutuhkan dan bisa memberikan ASI yang berlimpah dan cukup untuk mendukung pertumbuhan bayi. Sekarang ini untuk mendapatkan khasiat daun katuk yang dibutuhkan juga sangat mudah, karena sudah terdapat banyak suplemen dan produk dengan ekstrak daun katuk yang bisa dipilih.

Salah satu produk yang dapat dipilih adalah dari Relief Sari Daun Katuk dari Herbana. Produk ini mempunyai bahan daun katuk mempunyai banyak manfaat yang bisa didapatkan. Adapun untuk alasan mengapa bisa memilih produk ini adalah karena:
  1. Alasan pertama adalah produk ini merupakan produk yang mudah untuk dikonsumsi karena berbentuk kapsul. Sehingga mudah untuk dikonsumsi setiap harinya.
  2. Alasan lainnya adalah karena produk ini mempunyai keamanan yang terjamin dengan bahan alami.
  3. Produk ini mempunyai harga terjangkau dan mudah didapatkan.
Relief Sari Daun Batuk dari Herbana ini merupakan produk ekstrak daun katuk. Dimana di dalamnya terdapat kandungan senyawa aktif yang dapat merangsang pembentukan ASI. Selain itu, daun katuk juga dikenal mempunyai banyak manfaat kesehatan lainnya. Dengan mengkonsumsi produk ini dengan rutin dapat untuk memberikan support ketika sedang menyusui, meningkatkan produksi ASI, dan dapat menjaga kesehatan lebih baik untuk ibu yang sedang menyusui.

Selain dari manfaat daun katuk, untuk dapat membuat produksi ASI lebih lancar juga mempunyai beberapa cara lainnya yang bisa digunakan. Seperti beberapa cara berikut ini:
  1. Menyusui lebih sering. Bagi yang ingin menyusui sendiri dan memberikan ASI Eksklusif, maka bisa untuk menyusui lebih sering yang akan memicu hormon untuk menghasilkan ASI.
  2. Memompa di antara waktu makan untuk dapat menyimpan ASI.
  3. Menyusui di kedua sisi.
  4. Mengatur posisi menyusui yang tepat, sehingga memudahkan ASI mudah keluar.
  5. Menyusui di malam hari.
Selain hal teknis tersebut, kondisi emosi ibu juga akan sangat mempengaruhi produksi ASI. Karena itu, ada baiknya ibu selalu menjaga suasana hati agar tidak stress. Dalam hal ini, peran orang di sekitar ibu (khususnya suami) pun sangat berpengaruh. Jadi, "Sebagai partner, Papa dan Mama perlu menjaga komunikasi yang baik dan saling memahami satu sama lain ya..."

Sekian, dan happy breast feeding Ibu...

Monday, March 15, 2021

Ilmu Mumpuni untuk Guru di Mana Pun dari GuruInovatif.id

Saya bukan guru, dalam artian berprofesi sebagai guru yang mengajar anak didik di sekolah. Saya seorang ibu dari dua orang anak yang punya tanggung-jawab untuk mendidik anak-anak di rumah tentang begitu banyak hal. Tentang kebaikan, norma agama, kemandirian, sikap pantang menyerah, dan segepok pendidikan karakter lain untuk anak yang diajarkan melalui interaksi sehari-hari. Seperti ibu-ibu lainnya.

Wow, menulis ini membuat saya menjadi merasa punya tanggung-jawab yang begitu besar dan bangga... Tapi ya memang iya lho... Tidak terbantahkan, begitu besarnya peran orang-tua (khususnya ibu) dalam mendidik karakter anak-anaknya.

Baiklah, cukup berbangga hatinya dan kembali ke topik...

Yup, kenyataannya peran ibu memang sebesar itu dalam mendidik anak-anak kita, dan bahkan semakin bertambah semenjak pandemi COVID-19 tahun lalu. Sekarang kita punya tambahan peran sebagai perpanjangan tangan dari guru untuk membantu anak-anak kita memahami pelajaran sekolah. Keren? Yes! Berat? Yesssss banget! (Tambahin emoji nangis).

Peran yang berat, dan bertambah berat saat pandemi ini mau tidak mau harus kita terima dengan lapang dada... Karena melihat anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik dan kompeten tentu adalah satu hal yang akan mengembangkan senyum kita. Senyum yang tentu saja harus ditebus dengan kerja keras dan terus belajar, karena sejatinya tidak ada sebuah panduan mutlak bagaimana cara terbaik mendidik anak-anak ini.

Ya kan anak-anak pun punya kepribadian dan karakter masing-masing... Tidak bisa dipukul rata! Belum lagi jaman yang berubah dengan rapid, membuat apa yang bekerja di masa lalu, belum tentu punya efektivitas yang sama di masa kini. 

Jaman saya kecil dulu, dibilangin kalau jangan keluar pas Maghrib karena ada 'Candik Ala' (yang waktu itu digambarkan sebagai makhluk halus yang berkeliaran pada pergantian siang menuju malam) sudah pasti langsung nurut. Sekarang? Duh, pasti ada juga anak-anak bakalan nanya 'Candik Ala' itu makhluk apa, ga percaya, dan bahkan pengen membuktikan keberadaannya. Sehingga, memberikan penjelasan logis menjadi lebih efektif bagi anak-anak jaman sekarang yang bisa dengan mudahnya mendapatkan asupan informasi dari TV, internet, buku, dan sebagainya.

Juga apa yang dulu kita anggap terbaik untuk anak, ternyata ada yang lebih baik lho di masa kini! Karena memang pengetahuan begitu dinamis, dan begitu banyak penelitian yang dilakukan mengungkapkan fakta baru memperbaiki pemahaman lama kita.

Misalnya... dulu tuh orang-tua saya sering banget melarang dan bilang 'jangan'. Yang kemudian pada saat menjadi seorang ibu, banyak artikel yang menyebutkan bahwa kata 'jangan' ini tidak baik untuk diucapkan pada anak karena mencegah mereka mengeksekusi inisiatif yang ada dalam dirinya alias menumpulkan inisiatif. Lalu beberapa saat kemudian ada pendapat yang mengatakan, bahwa mengatakan 'jangan' itu tidak apa-apa jika alasannya tepat dan disertai dengan penjelasan logisnya, sehingga anak pun memahami alasan tidak boleh melakukan sesuatu.

Hmm... so, what's next?

Tapi, kabar baiknya, justru di masa pendemi ini peluang kita untuk belajar hal-hal baru dengan lebih profesional terbuka semakin lebar. Bukan sekedar dari artikel, tapi bahkan dengan metode belajar yang lebih baik dan bersertifikasi pula!

How cool is that?

Sejak pandemi, berbagai workshop profesional berbasis online bertebaran di sekitar kita, yang tentu saja sangat mudah dijangkau, bahkan untuk ibu-ibu yang tidak mudah bepergian karena harus menjaga anak-anak seperti saya.

Salah satunya adalah GuruInovatif.id yang saya temukan beberapa waktu lalu ini...

GuruInovatif.id adalah solusi pembelajaran utamanya bagi guru. Kapan pun, di mana pun!

Awalnya saya pikir GuruInovatif.id spesifik menyediakan workshop berkaitan dengan sertifikasi guru sebagai profesi, tapi pas main ke websitenya, memang sih program dan sertifikasinya ditujukan secara khusus untuk profesi guru. Menjembatani guru untuk mendapatkan beragam kursus bersertifikat untuk meningkatkan kompetensinya di mana pun.

Akan tetapi, jika kita ingin mengikuti pembelajaran tertentu karena materinya dirasa relevan pun sangat memungkinkan. Literally, kita semua bisa ambil pelatihan dan sertifikasinya sesuai dengan kebutuhan kita. Termasuk saya, yang bukan guru, tapi kadang suka penasaran dengan suatu hal dan kemudian berusaha mencari rujukan yang mumpuni menjawab rasa ingin tahu saya.

Tinggal menyesuaikan saja dengan kebutuhan kita, tema apa yang kita butuhkan, bisa searching di sini...

APA SIH GURUINOVATIF.ID?

GuruInovatif.id adalah bagian dari HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services), yaitu salah satu divisi di bidang training guru yang didirikan Yayasan Hasnur Centre. Dimana HAFECS didirikan sebagai upaya untuk mendorong percepatan transformasi pendidikan Indonesia melalui pengembangan metode pengajaran di kelas dan metode pembelajaran serta pengembangan kurikulum sekolah (diambil dari website HAFECS.id).

GuruInovatif.id adalah bagian dari HAFECS dengan spesifikasi pelatihan guru yang dilakukan secara online.

GuruInovatif.id adalah Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru. Bangun keterampilan mengajar dengan kursus, webinar, dan sertifikat (diambil dari website GuruInovatif.id).
Nah, layanan dari GuruInovatif.id ini sangat beragam, mulai dari Online Certification, Mini Course, Productivity Course, dan Live Webinar.

Produk GuruInovatif.id (diambil dari website GuruInovatif.id)

Pembelajaran yang ada dalam GuruInovatif.id sangat beragam; mulai dari jenjang PAUD-TK hingga SMA/MA/SMK; dari rumpun ilmu IPA (Sains), IPS, Matematika, Sosial Humaniora, dan Kejuruan; dengan bobot sertifikasi mulai dari 4 JP hingga 64 JP, dengan topik yang sangat beragam: 
  • PCK
  • HOTS
  • AKM
  • Teaching Scenario
  • Teaching Grading
  • Keterampilan Digital
  • Coaching for Teaching
  • Coaching for Leader
  • Profesionalisme Guru di Abad 21
  • Tips dan Trik Pembelajaran

Lengkap banget kan!

Beberapa Kursus yang Ada di GuruInovatif.id (diambil dari website GuruInovatif.id)

SERTIFIKASI GURU DI GURUINOVATIF.ID

Nah, berkaitan dengan perannya dalam sertifikasi guru, GuruInovatif.id ini tentu sangat memudahkan masyarakat dengan profesi guru untuk mengakses keterampilan yang dibutuhkannya. Guru bisa memilih kursus apa yang relevan dengan pengembangan dirinya. Kapan saja dan dimana saja.

Dimana hal ini tentu sangat positif, utamanya pada saat pandemi seperti ini. Namun, lebih dari itu, pun memberikan akses pada guru-guru yang berada di lokasi yang kurang accessible atas kursus-kursus tertentu.

Bayangin deh, kalau dulu, kursus itu kan perlu menunggu ada kelas atau diadakan oleh lembaga tertentu (misal sekolah yang menaungi guru). Udah gitu temanya pun tidak bisa kita pilih sendiri, tapi mengikuti tema yang diadakan. Dan harus datang di tempat tertentu, pada waktu yang sudah ditetapkan pula. 

Hmm, cukup ribet kan? Apa kabar guru-guru yang ditempatkan di pelosok negeri ini?

Sementara melalui GuruInovatif.id ini, kita bisa memilih kursus apa yang akan diikuti, serta bisa dilakukan kapan dan di mana pun.

Keren sekali bukan? 

Jadi, meskipun kita berada di lokasi yang cukup terpencil pun, selama bisa mengakses internet... maka tidak ada yang tidak mungkin!

GuruInovatif.id adalah solusi!

Dan, satu lagi... bobot sertifikasi dari kursus yang ada di GuruInovatif.id ini pun bervariasi mulai dari 4 JP hingga 64 JP! Sangat mendukung pengembangan karir guru dengan berkontribusi menambah poin berdasarkan keikutsertaan sertifikasi tertentu sesuai bobot JP-nya.

Yes, ini benar-benar solusi untuk semua guru untuk pengembangan diri, maupun pengembangan karirnya. Memfasilitasi guru belajar kapan pun dan di mana pun.

PERAN GURUINOVATIV.ID UNTUK PROFESI SELAIN GURU

GuruInovatif.id jelas sebuah solusi bagi guru di Indonesia, tapi secara ilmu pengetahuan sesungguhnya memiliki sifat universal, saya sebagai ibu rumah-tangga pun merasa terbantu dengan adanya platform ini.

Berawal dari keisengan melihat begitu banyak kursus yang tersedia, saya pun akhirnya sudah mendaftar pada dua kursus. Pertama pada kursus dengan judul 'Membangun Harga Diri dan Rasa Tanggung Jawab Anak' dengan metode video, lengkap materi dan sertifikat. Cukup membayar Rp. 37.500,00 saja! Atau GRATIS TIS jika tanpa materi dan sertifikat!

Kedua adalah kursus dengan judul 'Mencontek Pembelajaran Online di Jepang Saat Pandemi' dengan metode WhatsApp Grup tanpa membayar satu rupiah pun! Alias GRATIS TIS!

Amazing kan!

Menurut saya sih platform ini sangat bisa dimanfaatkan oleh para 'guru di rumah', sebagai orang-tua yang ingin mendidik anak-anaknya. Dimana kini juga menjadi perpanjangan tangan guru di sekolah  untuk membantu menyampaikan pelajaran akademis di masa pandemi.

Jadi, siapa pun kamu... kalau penasaran dengan topik tertentu berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran, mungkin kamu bisa menemukannya di GuruInovatif.id ini. Cuss di cek!

***

Menurut saya, adanya GuruInovatif.id ini benar-benar mendukung peningkatan kompetensi guru di seluruh Indonesia, tanpa terbatas lokasi. Di mana, seperti kita ketahui, lokasi seringkali menjadi hambatan para guru untuk meningkatkan kompetensi tersertifikasi yang relevan dengan pengembangan diri dan kebutuhan di lapangan.

Harapannya sih, platform ini akan lebih dikenal dan turut membantu mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan dari Sabang sampai Merauke Indonesia.

Serta juga, semakin banyak masyarakat secara umum yang juga memanfaatkan GuruInovatif.id untuk menambah pengetahuan terkait dengan pendidikan dan pengajaran, yang seringkali kita butuhkan untuk mendidik anak-anak atau masyarakat di sekitar kita.

Semoga!


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh GuruInovatif.id

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

[1]. GuruInovatif.id. Diakses pada Maret 2021, dari https://guruinovatif.id/.

[2]. HAFECS.id. Diakses pada Maret 2021, dari https://hafecs.id/

Sunday, March 7, 2021

Kulit Sensitif yang Bikin Hati-Hati

Flashback 20 tahun silam saat memasuki bangku SMA, saat jerawat mulai menghampiri wajah, semua orang (termasuk saya) berpikir kalau semua itu sepenuhnya produk dari masa pubertas. Yang akan berkurang dengan membersihkan wajah secara teratur dan menggunakan obat-obatan yang banyak beredar di pasaran... dan selanjutnya akan menghilang saat saya dewasa.

Tapi, kemudian jerawat saya sungguh tidak biasa. Hanya satu, tapi ukurannya benar-benar jumbo! Diameternya sekitar 3 cm! Dan pulihnya pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tiga bulan! Sehingga siklus itu berulang setiap tiga bulan sekali.

Seaneh itu, hingga orang-orang termasuk saya pun tidak percaya bahwa itu adalah jerawat. Tapi, ke dokter kulit mana pun, mereka selalu memberi diagnosa bahwa itu adalah jerawat. Bahwa jerawat itu jenisnya bermacam-macam, termasuk salah satunya yang jumbo seperti milik saya.

Beban tentu bukan hanya merasakan tidak nyaman secara fisik, tapi juga psikis. Merasa orang-orang memandang aneh dan juga harus menjawab pertanyaan kepo mereka yang tidak ingin saya jawab.

Keadaan seperti ini berlangsung bertahun-tahun, hingga perlahan-lahan saya menyadari karakter spesifik dari si jerawat dan mulai menyimpulkan bahwa semua ini bukan semata kesalahan hormon pubertas atau higienitas. Tapi karena kulit saya pun amat sangat sensitif.

Dan dari begitu banyak artikel yang saya baca, ini berarti harus sangat berhati-hati pada produk yang saya pakai. Suatu kandungan mungkin memang mengatasi jerawat, namun pada saat bersamaan juga menimbulkan reaksi iritasi yang melemahkan kulit. Demikian juga dengan jerawat yang muncul, pada awalnya dia berukuran kecil, namun kemudian akan membuat kulit disekitarnya meradang dan membesar sedemikian rupa.

Berurusan dengan jerawat saja sudah pusing, ditambah dengan kulit sensitif... Benar-benar cobaan besar...

Dari sanalah kemudian saya berusaha mencari tahu produk-produk penjinak jerawat yang pro kulit sensitif. Karena banyak produk yang saya coba, meskipun dengan label 'cocok kulit sensitif' tetap efeknya kurang nyaman untuk kulit, saya juga mencoba banyak bahan alami. Seperti kunyit, daun ubi jalar, jeruk nipis, sampai lidah buaya.

Sampai pada kesimpulan bahwa lendir lidah buaya adalah zat yang paling cocok untuk menenangkan kulit sensitif saya, sementara jeruk nipis sangat cocok digunakan pada saat kulit berjerawat kecil-kecil. Sehingga petualangan mencari produk dengan kandungan lidah buaya pun dimulai... yang ternyata sama sekali tidak mudah. Karena setiap produk yang sudah melalui pabrikasi pasti memiliki kandungan lain untuk mempertahankan tekstur, menjaga keawetan, dan sebagainya. Seringkali bahan tambahan ini yang tidak bisa diterima oleh kulit.

Hingga ada masa dimana saya memilih menanam pohon lidah buaya dan mengambil sarinya setiap kali membutuhkan. Saat KKN selama dua bulan pun, tak lupa saya membawa pohon lidah buaya saya dalam pot!

Sangat tidak praktis memang, dan lagi tantangan soal higienitas. Kandungan lidah buaya menenangkan kulit sensitif, tapi pas panen sampai pengaplikasian kurang higienis ya bikin jerawat juga. Karena itu, pun saya masih berusaha mencari produk dengan kandungan lidah buaya yang cocok untuk kulit. Dan lagi-lagi, itu tidak mudah...

Gonta-ganti berbagai macam produk, akhirnya baru sekitar tahun 2009 ketemu dengan produk dengan kandungan lidah buaya yang cocok untuk kulit saya.

***

Selama hampir sepuluh tahun pencarian produk yang nyaman untuk kulit sensitif sekaligus berjerawat, semua itu tidak lepas dari research pada kandungan produk yang tertera pada kemasan. Apakah pro kulit sensitif dan berjerawat.

Beberapa kandungan yang perlu dihindari pada skin care atau kosmetik untuk kulit sensitif di antaranya adalah: alkohol, parfum, Ammonium Lauryl Sulfate, Sodium Lauryl Sulfate, apricot kernels/scrub, dan sunscreens dengan mekanisme blok UV menggunakan zat kimia.

Sedangkan kandungan yang tidak dianjurkan pada skin care atau kosmetik untuk kulit yang mudah berjerawat (acne prone) adalah: parfum sintetik, minyak esensial, Sodium Lauryl Sulfate, Isopropyl Myristate dan Isopropyl Palmitate, SD Alcohol 40, Denatured Alcohol, Ethanol, dan Isopropyl Alcohol, Sodium Chloride, minyak kelapa, cocoa butter, serta algae extract.

Terdapat begitu banyak produk di pasaran dengan tag-line 'cocok untuk kulit sensitif', namun tetap saja mengecek kandungan produk dari label kemasan mutlak harus dilakukan. Dan setelah menemukan produk yang sekiranya cocok, dicoba beberapa kali untuk memastikan efeknya pada kulit kita. Yup, ini perjalanan panjang, jadi begitu mendapatkan produk yang cocok, udah lah ga mau pindah ke lain hati.

Komposisi dari salah satu produk skin care yang cocok banget dengan kulit saya dengan kandungan Aloe Vera

Komposisi dari salah satu produk skin care yang cocok banget dengan kulit saya dengan kandungan Aloe Vera

Saat ini, saya sudah menggunakan rangkaian produk dengan kandungan lidah buaya yang satu ini selama lebih dari sepuluh tahun; mulai dari pembersih, toner, krim pagi, krim malam, dan sebagainya. Ternyata, pada saat kondisi kulit kita baik, jerawat pun lebih minimal muncul dan lebih mudah pulih.

Jadi, berbicara mengenai kulit yang cantik, faktor yang paling utama adalah mengenali kondisi kulit kita dan merawatnya dengan produk yang tepat. Sehingga untuk ini, kita perlu memperhatikan kandungan di dalamnya.

Adapun produk dengan kandungan bahan alami seperti ini, selain baik untuk kesehatan kulit, pun memiliki peluang untuk memberdayakan masyarakat. Seperti halnya produsen produk ini yang menggunakan komoditas lokal untuk bahan baku utamanya (lidah buaya).

Selain itu, hal yang perlu diapresiasi adalah bagaimana produsen produk ini menerapkan program daur ulang kemasan untuk memastikan lingkungan terjaga. Dengan demikian, selain baik untuk kulit, suatu produk pun ramah lingkungan dan juga ramah sosial.

Konsep seperti ini, tentu sangat bisa diterapkan di Indonesia yang sangat kaya akan keragaman hayati, pun Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Sangat mungkin mencari lidah buaya dari petani lokal atau pun memberdayakan mereka untuk menghasilkan lidah buaya dengan standard tertentu.

Hal ini sangat sesuai dengan visi dari Kabupaten Lestari yang memiliki tag line Lingkungan Terjaga Masyarakat Sejahtera; yaitu berusaha mengoptimalkan potensi alam di Indonesia, sekaligus mensejahterakan masyarakat.


Untuk mencapai tujuan ini, maka diperlukan gotong-royong atau kerjasama dari berbagai pihak untuk dapat mengangkat komoditas lokal menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi. Misalnya dalam pengalaman saya adalah produk skin care untuk kulit sensitif dengan bahan baku lidah buaya lokal yang berkualitas tinggi.

Daerah Pontianak dikenal dengan produksi lidah buaya terbaik di Indonesia, karena lokasinya yang dekat dengan Garis Khatulistiwa. Selain juga tanaman ini pun dikembangbiakkan dibeberapa lokasi lain, seperti Yogyakarta. So, bukan hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan hal ini. Dalam hal ini, tentu dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak; mulai dari produsen, petani, hingga pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk membantu regulasi dan promosi produk tersebut.

Indonesia memiliki tanah yang begitu subur, dengan kerjasama ini, optimis kita akan bisa memproduksi produk kecantikan berkualitas tinggi dari bahan alami.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

[1]. birdie.com. (16 Februari 2020). 7 Skincare Ingredients to Avoid if You Have Sensitive Skin. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.byrdie.com/skincare-ingredients-to-avoid-for-sensitive-skin-4799891.

[2].  birdie.com. (05 Agustus 2020). 9 Ingredients Skincare Experts Want You to Avoid If You Have Acne. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.byrdie.com/acne-causing-ingredients-4845040.

[3]. viva.co.id. (21 April 2012). Pontianak Penghasil Lidah Buaya Terbaik. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.viva.co.id/arsip/306406-pontianak-penghasil-lidah-buaya-terbaik#:~:text=Vlog%20%2D%20Kota%20Pontianak%20mendapat%20gelar,Aloe%20vera%20terbaik%20di%20Indonesia.

Saturday, January 9, 2021

Thank You 2020!

Tahun ini... lagi-lagi terasa berlalu begitu cepat seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahu-tahu besok kita sudah akan merayakan pergantian tahun dan mengucapkan selamat tinggal pada tahun 2020. Woohoo!

Tapi, ada yang beda di tahun 2020 ini... tahun ini benar-benar menghajar kita habis-habisan dan memaksa kita untuk belajar begitu banyak hal untuk sekedar bertahan. Paling tidak, itu yang saya rasakan...

Bulan Agustus 2019 saya resign dari pekerjaan yang sudah memberikan jaminan finansial selama lebih dari sepuluh tahun. Sejak awal, rencana yang tersusun menekuni dunia bisnis untuk menggantikan kesibukan (dan juga income of course). Meski tidak benar-benar merasa itu adalah strength point saya, tapi tidak masalah, cukup yakin bisa menjalaninya. Hidup bukan melulu tentang passion kan? Harus realistis juga... Apalagi jika itu bisa memberikan lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang menurut saya penting. Completely worth it!

Sampai akhirnya tibalah Bulan Maret 2020 yang bersejarah itu... Literally speechless mendeskripsikan saat-saat itu. Kemudian semua orang takut keluar rumah, termasuk saya. Bukan hanya terseoknya dunia bisnis yang membuat semua menjadi berat, tapi SEMUANYA! 

Takut keluar rumah, jauh dari keluarga dan suami (literally cuma bertiga dengan anak-anak saat itu), beradaptasi dengan belajar daring, while tentu saja sangat riweuh dengan urusan domestik. Kondisi yang benar-benar menguras energi physically and mentally.

2020 tampaknya jadi tahun tentang (sekedar) bertahan... tapi, saat saya mulai merenung di penghujung 2020 ini... WOW! Ternyata saya justru merasakan begitu banyak progress di tahun 2020 ini...

Lebih mengenal diri sendiri, kekuatan dan kelemahan saya...

Well, saya selalu menyadari kecintaan saya pada dunia kreatif, especially menulis, visual things, and betweens. Tapi sebatas hobi, tidak pernah terlintas untuk menghasilkan materi dari kegiatan ini.

Sejak rencana akan resign semakin nyata, ya, saya mulai berangan-angan akan menggeluti kegiatan ini lebih serius... karena memang saya menyukainya, bukan karena mereka menghasilkan pundi-pundi uang.

Sesaat sebelum resign, saya mulai hunting mic condenser, terinspirasi dari sesi rekaman di studio yang begitu effortful karena waktu. Pengen lah cus rekaman sendiri aja kalo lagi pengen dan ada waktu. Yah, what to expect from a mother of two, right? Kegiatan tidak jauh-jauh dari antar jemput anak, kadang pertemuan orang tua, nemenin berenang, nemenin les, nemenin main, dan lain-lain.

Lalu, lahirlah debut cover pertama saya di Youtube pada 11 Oktober 2011 yang seadanya banget, all by self, dari take video dan sound - termasuk masang tripod 😂

Beberapa cover lahir setelah itu di sela-sela segala kesibukan saya... mostly sih saya take vokal pas pulang anter anak-anak sekolah, terus yang lain-lain ya seadanya waktu di sela-sela wara-wiri ke outlet juga.

Terus breakout-nya itu ya pas satu cover saya kemudian membawa saya menjadi salah satu streamer di Sessions. Not much memang saat itu, tapi ya lumayan banget karena saya suka banget memang namanya nyanyi. 

Dan bahkan semasa pandemi, disaat literally terkurung di rumah bertiga dengan anak-anak, ini salah satu hal yang 'menghasilkan' untuk saya. Demikian juga dengan menulis, yang beberapa kerjasama dan keberuntungan nyangkut jadi pemenang lomba blog semasa pandemi.

Selain itu, ya, saya tetap menekuni dunia conten creator yang ternyata juga saya suka banget karena bersinggungan erat dengan dunia menulis dan visual. 

Akhir 2020, saya tersadar bahwa memang kekuatan saya adalah di dunia kreatif yang telah membuat saya jatuh cinta bertahun-tahun lamanya. Dan, ternyata sangat tidak salah mengembangkan kapasitas kita disana, somehow itu pun bisa menjadi jalan rejeki kita.

Finally merasa mengambil keputusan terbaik untuk resign saat itu...

Jujur, pada awal pandemi, ada satu sudut hati saya yang berkata bahwa mungkin akan lebih baik jika kala itu saya menunda keputusan resign. Karena toh semua menjadi tidak pasti karena pandemi, termasuk bisnis yang kami rintis pun mengalami masa sulit. Meski, alhamdulillah saking sibuknya saat itu karena tidak ada ART, justru membuat saya tidak pnya banyak waktu untuk merenung, sehingga tidak terlalu menghiraukannya.

But, then dengan segala keyakinan hanya untuk terus bergerak dan bergerak, ya sedikit demi sedikit titik terang menghampiri. Dari rejeki yang Tuhan alamatkan kepada saya melalui kecintaan saya pada dunia menulis, menyanyi dan visual. Bukan sekedar materi, tapi manfaat dari karya-karya saya yang disampaikan bahkan dari orang-orang yang tidak saya kenal.

That is so amazing...

Dan, titik kebahagiaan itu adalah pada saat anak pertama saya mendapat rekognisi dari sekolahnya karena kreatifitasnya. Ibu-ibu pasti tahu bangganya kreativitas anaknya kemudian direpost pihak sekolah dan bahkan diwawancarai karena dinilai bisa memberi inspirasi pada anak-anak lain tentang mengisi waktu luang di masa pandemi.

That turning point mengingatkan saya salah satu alasan terbesar saya memilih resign, karena menyadari keunikan anak-anak saya dan merasa bahwa bekerja full time benar-benar tidak menyisakan energi dan sumberdaya yang cukup untuk meng-handle mereka seperti yang mereka butuhkan.

Dulu, pada suatu hari anak saya pernah berkata, "Aku kan bukan anak pinter... Juga bukan anak baik..."  Saat itu, benar-benar hancur hati saya, dan kemudian berjanji dalam hati, "Kita buktikan sama-sama ya Nak, kalo kamu anak yang hebat..." Karena saya tahu jika dia adalah anak yang hebat, hanya mungkin respon lingkungannya kurang apresiatif, sehingga dia merasa rendah diri.

Akhir 2020... saya benar-benar terharu melihat anak saya finally mendapatkan rasa percaya dirinya dan mendapat apresiasi yang layak didapatkannya.

Tetap bergerak, meski jalan yang biasa dilalui tertutup... Kadang Tuhan menuntun, tanpa kita sadari...

Ini bukan lah kali pertama saya hanya tahu bahwa harus terus bergerak, meski tujuan tampak begitu abstrak. Dan kali ini, saya kembali membuktikan bahwa terkadang Tuhan selalu menuntun kita kepada tujuan dengan caranya sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah terus bergerak dan berusaha apa yang kita bisa.

Jika lelah berlari, kita bisa berjalan... tapi jangan berhenti...

***

Yes, 2020 is huge... me personally see this year as a testing faith year. Diawali dengan optimisme, diikuti dengan big shake yang menghancur leburkan segala optimisme itu, kemudian benar-benar berjalan bergantung pada keyakinan kita, dan diakhiri dengan perasaan betapa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Exactly! Faktanya... kita tidak pernah punya kendali akan apa yang akan terjadi pada hidup kita. Berencana, berdoa dan berusaha adalah satu hal yang manusia lakukan, tapi Tuhan selalu punya rencananya sendiri.

"When we busy making our plan, God laughs..."

So, thank you 2020 untuk mengingatkan sekali lagi semua itu. Somehow, memahami semua itu membuat saya merasa lebih kuat. So, bismillah untuk 2021...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-