SOCIAL MEDIA

search

Thursday, February 14, 2019

'The Lego Movie 2: The Second Part': Jangan Biarkan Anak Salah Memahami tentang Armamageddon

Sebenarnya, nonton film ini bersama anak-anak rasanya ada yang mengganjal! Bukan ga bagus, sama seperti prekuelnya, ide cerita menurut saya cukup cerdas, hanya saja kemudian kurang terasa memberikan pelajaran moral yang mendalam bagi anak. Bukan ga ada ya, hanya kurang, dan salah-salah anak malahan salah paham karena terkecoh dengan pesan yang muncul di permukaan.

Hmm, bingung maksudnya? Baiklah, saya mulai dari plot cerita ini saja…

Jadi, di Film 'The Lego Movie 2: The Second Part' dikisahkan lanjutan dari film pertamanya, di mana di akhir cerita, setelah ayahnya mengijinkan Finn bermain dengan Legonya, kemudian Finn pun diminta mengijinkan adiknya, Bianca, untuk bermain bersama. Dimana hal ini berarti Bianca mulai menginvansi setting Lego yang dibuat oleh Finn dengan setting Duplo-nya.

Poster 'The Lego Movie: The Second Part'. Properti dari Warner Bros

Ingat adegan dimana setelah Emmet dan kawan-kawannya berhasil berdamai dengan President Business, dan kemudian muncullah makhluk asing? Merekalah Duplo yang dibawa oleh Bianca…

Sejak saat itu, pertempuran di dunia Lego antara Lego dan Duplo terus terjadi. Lima tahun kemudian, dunia Lego pun mengalami kehancuran (apocalyptic) dan disebut Apocalypseburg. Keadaan ini membuat warga Apocalypseburg berubah menjadi orang-orang yang keras, kecuali Emmet yang tetap adalah laki-laki manis, ceria dan berpikiran positif.

Pada suatu hari Jenderal Sweet Mayhem, pemimpin dari tentara Duplo datang dan menculik Batman, Lucy, Benny, MetalBeard, dan Unikitty untuk menghadiri pernikahan Watevra Wa'Nabi, ratu dari Systar System… Yang ternyata mempelai prianya itu ya Batman. Yang awalnya menolak, eh, dengan taktik sang ratu akhirnya mau juga.

Pernikahan ini dipercaya akan menciptakan Armamageddon (Our-Mom-Ageddon), yaitu kiamat dunia Lego.

Di tempat yang lain, Emmet kemudian berusaha menyelamatkan Lucy dan teman-temannya, dimana dalam perjalanan dia bertemu dengan Rex Dangervest yang kemudian membantunya dalam misi penyelamatan ini.

Singkat cerita kemudian, Emmet dan Rex Dangervest pun berhasil mencapai Systar System dan bertemu dengan Lucy yang tidak dicuci otaknya oleh pasukan Duplo. Mereka pun kemudian menyusun rencana untuk menggagalkan pernikahan Queen Watevra Wa'Nabi.

Semua berjalan sesuai rencana, sampai Lucy yang bertempur dengan Mayhem akhirnya menyadari bahwa Queen Watevra Wa'Nabi maupun Systar System tidak pernah memiliki niat buruk, apalagi akan memicu ternjadinya Armamageddon. Dan justru pernikahan itu akan menyelamatkan dunia Lego dari Armamageddon.

Lucy kemudian berusaha memberi tahu Emmet akan hal ini, namun Emmet tidak mempercayainya dan tetap menghancurkan kuil tempat pesta pernikahan Queen Watevra Wa'Nabi dilakukan. Dimana kejadian ini didunia nyata adalah Finn menghancurkan kuil Lego buatan Bianca. Dan hal ini kemudian membuat Mama mereka berdua marah dan meminta Finn dan Bianca mengumpulkan Legonya dan memasukkannya dalam kotak. Inilah yang disebut sebagai Armamageddon…

Ternyata tokoh antagonis dalam cerita ini adalah Rex Dangervest, yang kemudian diketahui adalah Emmet yang berasal dari masa depan. Adapun misi Rex Dangervest (Emmet dari masa depan) kembali ke masa ini adalah untuk memastikan Emmet yang manis, ceria dan berpikiran positif menjadi dirinya yang berhati keras.

Untuk itu, kemudian Rex membuang Emmet ke Galaxy Londri (di dunia nyata adalah kolong mesin cuci) dengan maksud agar hati Emmet pun mengeras sehingga eksistensi dari Rex di masa depan tetap terjaga. Dimana ini digagalkan oleh Lucy yang berhasil membebaskan dirinya dari kotak mainan. Dengan demikian keberadaan Rex pun hilang dari waktu…

Akhirnya, Queen Watevra Wa'Nabi pun menikah, dan hal ini di dunia nyata merepresentasikan Finn dan Bianca yang kemudian bermain bersama. Hal inilah yang kemudian membuat mama mereka kembali mengijinkan mereka bermain dengan Legonya, yang ini berarti bahwa Armamageddon berhasil digagalkan dan keberadaan dunia Lego tetap terjaga.

***

Cerita secara keseluruhan sih cukup smart menurut saya… Untuk konsumsi orang dewasa, kejadian paralel antara dunia nyata dan dunia Lego ini yang saya maksud. Tapi, untuk konsumsi anak-anak, kok ya saya kurang sreg jika mereka kemudian berpikir bahwa mereka harus bermain bersama dan tidak saling rebutan atau berantem itu supaya tidak dimarahin mamanya dan terjadi Armamageddon.

Ini dangkal banget lah menurut saya… Dua orang saudara bermain bersama-sama, saling berbagi, tidak menang-menangan, dan sebagainya itu bukan karena nanti kalo berantem akan dimarahin mama. Tapi, karena sebagai sesama manusia apalagi bersaudara,  sudah selayaknya mereka saling menyayangi, dan bisa lho mereka ini bermain bersama, senang-senang bersama, tanpa saling menang-menangan atau egois dengan keinginan masing-masing.

Di situ yang menurut saya harus diluruskan sih pada anak-anak. Jangan sampai pemahaman mereka jadi melenceng sependek, "Kalo aku berantem sama Adek, nanti mama marah… Jadinya ada Armamageddon deh kaya di Film Lego…" Ibu-ibu juga ga mau kan?

Saya tetap suka sih sama film ini, karena menghibur banget… dan sebenarnya tetap bisa dijadikan referensi untuk mengajarkan bahwa kakak dan adik itu bisa bermain bersama-sama tanpa saling egois dengan keinginan masing-masing. Tapi, ya itu tadi, anak-anak harus diajak ngobrol setelahnya ya ibu-ibu, bahwa mereka bermain bersama-sama itu bukan biar mama ga marah, tapi karena sebagai saudara ya sudah selayaknya saling menyayangi, mengalah sedikit biar bisa main bareng, dan sebagainya.

Jadi, bukan mengharamkan film ini ya… cuma kita sebagai orang-tua perlu meluruskan pada anak-anak saja…

***

Kurang lebih seperti itu pendapat saya… Setiap anak menonton tayangan apapun, meskipun dia sudah diberi label Semua Umur (SU), akan lebih baik kita tetap mendampingi dan memberikan pemahaman mengenai film pada anak-anak.

Kalau menurut teman-teman bagaimana?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Saturday, February 9, 2019

'Idola Mama Homemade': Sebuah Proyek Idealis Makanan Sehat Keluarga

Halo 2019! Wohoo! Saya benar-benar excited dengan tahun ini, secara akhirnya mendapatkan lebih banyak kelonggaran untuk melakukan berbagai hal berkaitan dengan mimpi saya. Baiklah, saya memang seorang ibu dua orang anak, pun dengan embel-embel seorang pekerja full time. Waktu adalah sesuatu yang sungguh-sungguh sempit dan langka, namun bukan berarti pula bahwa saya kehilangan waktu untuk bermimpi. Selama beberapa lama, mereka hanya tertidur, dan begitu waktunya tepat, mereka pun berbalik membangunkan saya.

Ya, beberapa mimpi kemudian membangunkan saya sejak akhir tahun 2018 lalu… dan 2019 ini saya benar-benar bersemangat untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah proyek bertajuk Idola Mama Homemade yang kami (saya dan suami) mulai sejak Bulan September 2018 lalu…

***


AWAL MULA TANPA RASA PERCAYA DIRI

Semua berawal dari idealisme saya sebagai seorang ibu yang berusaha memberikan nutrisi terbaik dan makanan sehat untuk anak-anaknya. Dari sana, kemudian saya menjadi sangat selektif dengan makanan yang dikonsumsi anak-anak. Bukannya, mengharamkan 100% bahan-bahan yang kurang baik untuk kesehatan; seperti MSG, pewarna, perasa, pengawet, dan sebangsanya; namun sebisa mungkin mencari alternatif makanan yang tidak mengandung bahan-bahan tersebut. Kalaupun terpaksa, maka konsumsi seminimal mungkin dan sejarang mungkin.

Yup, saya tipe ibu yang lumayan ketat nih soal makanan sehat…

Kalau saya dan suami yang notabene orang dewasa sih cincai lah ya… sudah bisa mengatur diri sendiri apa yang baik dan tidak baik untuk diri kita, soal nafsu makan juga sudah bisa menyesuaikan dengan preferensi kesehatan tadi. Tapi, untuk anak-anak kan tidak begitu… Mereka tahunya ya makan itu yang enak dan yang mereka pengen.

Kondisi itu kemudian menjadi semakin kompleks pada saat mereka mulai sekolah dan harus membawa bekal ke sekolah. Pagi hari yang sempit itu, harus menyiapkan diri ke kantor dan anak-anak ke sekolah, menyiapkan bekal jadi tidak bisa terlalu all out… dan makanan praktis pun jadi salah satu solusi pada saat kepepet. Chicken Nugget adalah salah satu solusinya…

Ya, sesungguhnya Chicken Nugget ini bukan hanya makanan favorit bagi anak-anak, tapi juga ibunya. Kenapa? Karena dia begitu praktis, tinggal goreng saja dan sebagian besar anak pun sangat menyukainya. Tapi, sejauh pengetahuan saya, Chicken Nugget yang beredar di pasaran itu tentu saja mengandung MSG (Mono Sodium Glutamat), pengawet, pewarna, dan bahkan perasa lainnya… 

Karena itulah, kemudian saya mulai mencoba-coba berbagai resep Chicken Nugget rumahan sejak kurang lebih 4 tahun lalu. Sampai akhirnya, menemukan perpaduan bumbu yang pas dari eksperimen ini dan saya ikuti sampai sekarang, karena sudah pas di lidah saya dan anak-anak. Tak lupa juga saya tambahkan wortel sebagai pelengkap nutrisi, karena ada kalanya kan anak-anak males makan sayur ya…
Saya udah super bangga lah dengan resep Chicken Nugget yang biasa saya bikin buat anak-anak. No MSG, no pengawet, bahan-bahan juga pilihan, ada wortelnya, plus anak-anak suka… sudah paling TOP lah pokoknya…
Tapi pada saat suami bilang, "Mama, nugget-nya ini enak lho, coba kita jual aja… pasti banyak yang mau…" saya tetap merasa tidak sepenuhnya setuju sih.


Saya jelas merasa tidak percaya diri kalau orang akan sependapat dengan suami saya yang notabene memang cukup sensitif dengan MSG. Padahal, sebagian besar orang ya pasti lebih menyukasi sesuatu yang gurih dan enak kan, yah, saya ga yakin lah Chicken Nugget saya bisa bersaing dengan produk serupa di pasaran.

Belum lagi kebayang ribetnya pemasaran Chicken Nugget tanpa pengawet, yang tidak tahan lama pada suhu ruangan.

Jadi, sebenarnya waktu itu saya ga terlalu setuju sih dengan pendapat suami. Tapi… karena suami keukeuh mau coba jualan di kantornya, ya baiklah, kita coba saja…


TESTIMONI POSITIF DAN LAHIRNYA 'IDOLA MAMA HOMEMADE'

Mewujudkan keinginan suami, beberapa hari kemudian sengaja saya menggoreng Chicken Nugget cukup banyak untuk dibawa suami ke kantor sebagai tester. Dipotong-potong dengan ukuran lebih kecil tentu saja, biar semua kebagian, hihi…

Dan di luar dugaan, beberapa saat kemudian suami mengirimkan Whatsapp, bercerita kalau teman-temannya di kantor bilang kalo Chicken Nugget-nya enak, sampai berhasil mendapatkan order sebanyak 2 kg! Angka yang cukup membuat saya ter-wow-wow… "Eh, ternyata Chicken Nugget saya ada yang suka lho…"

Orderan pertama kami. Waktu itu untuk berat pun belum standard dan packaging pun seadanya dengan distaples.


Dari sini, kemudian saya mulai berpikir, kalau Chicken Nugget Homemade tanpa MSG dan pengawet seperti ini memiliki pasar yang cukup luas. Dulu, saya mikirnya ya, orang cenderung tidak akan terlalu ambil pusing soal makanan sehat sampai ribet cari Chicken Nugget tanpa MSG dan pengawet. Jadi, ya dagang Chicken Nugget Homemade kaya gini itu bakalan susah cari peminatnya, ternyata enggak lho… Di lingkungan kita aja cukup banyak yang suka kok…

Yang suka makanan sehat itu banyak… yang ga suka micin tapi suka Chicken Nugget juga tidak sedikit…

Jadi, saat libur, kami eksekusilah orderan itu, sekaligus sengaja saya lebihin buat tester di kantor saya sendiri… Mulai penasaran nih ceritanya, kalau di kantor saya kira-kira bakalan ada yang pesen enggak…

Dan ternyata… wow, saya dapat pesanan sekitar 6 kg! Benar-benar tidak menyangka! Termasuk tidak menyangka rempongnya juga sebenarnya… Semua harus saya kerjakan sendiri, karena kebetulan suami dinas keluar kota dan ART pun sedang tidak ada, haha… Benar-benar libur itu diisi dengan kegiatan ngulen adonan dan melapisi Chicken Nugget dengan tepung panir. Asli capek banget… tapi senangnya sungguh tak terkira…

Penampakan kurang lebih 6 kg Chicken Nugget sebelum dipack.

Ya, banyaknya order waktu itu memang karena faktor masa promosi dan harganya juga diskon lumayan sih… Tapi, tetap, kami tidak menyangka kalau animo teman-teman bakalan sebesar ini…
Karena penerimaan dan testimoni positif beberapa konsumen pertama ini, kemudian muncul rasa percaya diri bahwa Chicken Nugget Homemade saya ini memang lumayan juga lho!
Dan selanjutnya, saya pun rutin mengadakan PO (Pre OrderChicken Nugget Homemade setiap minggu. Jadi, setiap Senin sampai Jumat saya menerima pesanan, Hari Jumat sore sampai Minggu proses produksi hingga pengepakan, dan Senin didistribusikan kepada pemesan. Ya namanya juga tanpa pengawet dan konsumen pun masih terbatas, jadi ga berani nyetok.

Dengan sistem ini, alhamdulillah order terus mengalir meskipun tidak sebanyak waktu masa promo tentu saja… Dan yang terpenting, kemudian kami pun menemukan pelanggan-pelanggan loyal yang selalu repeat order… benar-benar confidence booster!

Beberapa testimoni konsumen yang sempat diarsipkan

Dari sanalah kemudian saya mulai mantap untuk menekuni bisnis ini dan mulai memikirkan packaging dan logo untuk produk kami.

Dan setelah melalui proses berpikir dan mempertimbangkan, akhirnya saya memutuskan bahwa proyek ini akan diberi nama 'IDOLA MAMA HOMEMADE'. Frasa IDOLA MAMA dipilih karena proyek yang berawal keinginan saya untuk memberikan makanan sehat dan nutrisi terbaik bagi anak-anak ini saya harapkan dapat membantu ibu-ibu di luar sana. Yang juga memiliki keinginan sama namun terkendala waktu dan tenaga. Harapannya makanan homemade ini bisa menjadi idola ibu-ibu tersebut sebagai partner memberikan makanan sehat bagi buah hatinya.


Sedangkan kata 'HOMEMADE' sendiri sengaja dipilih karena memang proses pembuatannya rumahan atau homemade dan dalam bayangan saya, kedepannya produk kami bukan hanya Chicken Nugget saja, tapi berkembang varian rasa lain atau jenis makanan lain. Jadi, sengaja tidak menunjuk spesifik pada Chicken Nugget saja.

Untuk logonya sendiri diadaptasi dari logo blog lemonjuicestory saya, karena menurut saya gambarnya sangat representatif dengan frasa 'Idola Mama'… Doodle seorang wanita yang memegang microphone, selayaknya artis/idola hanya saja tampak begitu sederhana. Macam ibu rumah tangga biasa yang menjadi idola bagi anak-anaknya.


TANTANGAN PENGEMBANGAN BISNIS

Kepercayaan diri adalah hal yang penting dalam membangun sebuah usaha, namun bukan berarti langkah selanjutnya akan semulus jalan tol tentu saja. Sejauh ini, ada beberapa tantangan dalam pengembangan proyek makanan sehat dengan konsep homemade ini.

Chicken Nugget Homemade tanpa MSG dan pengawet ini punya sejumlah keunikan, di antaranya adalah tidak tahan lama di suhu ruangan. Disamping itu, karena bahan-bahannya (bisa dibilang) premium harganya jualnya tidak bisa ditekan demikian murah jika menggunakan bahan tambahan lainnya. Dari dua karakteristik ini, kemudian kita harus jeli menentukan strategi pemasaran yang tepat.
Untuk sebuah produk yang belum dikenal, tidak diproduksi oleh perusahaan yang punya nama, harganya tidak bisa dibilang murah, pun gerak distribusinya terbatas karena tanpa pengawet; strategi produksi dan pemasaran menjadi hal yang cukup tricky.
Dengan karakteristik produk yang semacam ini, maka beberapa hal harus diperhitungkan dengan matang berkaitan dengan pengembangannya.

Pengenalan produk dan kelebihannya pada masyarakat. Saat ini pengenalan produk telah dilakukan melalui social media Instagram dan Facebook, namun belum optimal karena terkendala waktu.

Mendapatkan bahan-bahan yang sehat dan berkualitas dengan harga yang bersaing. Karena kapasitas produksi tidak terlalu tinggi, sehingga sulit mendapatkan harga grosir. Selama ini, untuk mendapatkan bahan baku, saya harus hunting ke berbagai pasar modern maupun tradisional untuk mendapatkan harga yang terbaik. Dimana hal ini tentu saja memakan banyak waktu dan bahkan tidak leluasa dilakukan karena kesibukan lainnya.

Memastikan bahwa Chicken Nugget yang sudah diproduksi segera terjual supaya jangka kadaluarsa masih cukup lama di tangan konsumen. Karena itulah, saat ini mekanisme pemasaran masih mengandalkan sistem PO (Pre-Order), yaitu kosumen memesan dulu baru kemudian dibuat Chicken Nugget-nya dan diterima. Dengan sistem PO semacam ini, tentu membatasai juga kapasitas produksi dan pengembangannya.

Mendistribusikan Chicken Nugget pesanan teman-teman di kantor

Pengiriman dari tempat produksi kepada konsumen, karena Chicken Nugget tidak tahan lama pada suhu normal. Biasanya, jika pengiriman cukup jauh dan tidak menggunakan termos es dan Styrofoam, maka saya akan membungkus Chicken Nugget dengan kertas koran tebal untuk mempertahankan suhunya, dan ini bisa tahan sampai dengan kurang lebih 1,5 jam. Jadi jarak maksimal kurang lebih 40 km. Untuk ini, dan karena belum memiliki tempat dan jam produksi permanen, maka masih menggunakan layanan pengiriman instant yang tentu jauh lebih mahal daripada pengiriman makanan.

Kapasitas produksi yang rendah karena peralatan dan waktu yang terbatas. Sejauh ini, pengerjaan mayoritas masih saya lakukan sendiri. Adapun asisten hanya membantu pada kegiatan seperti mengupas dan memarut wortel, mencuci peralatan, dan melapisi Chicken Nugget dengan tepung panir. Praktis, untuk kegiatan produksi hanya bisa dilakukan pada Hari Jumat sepulang kerja, dilanjutkan Hari Sabtu dan Minggu untuk proses selanjutnya.

Rekor saya sejauh ini memproduksi Chicken Nugget adalah sekitar 6 kg atau sebanyak 30 bungkus dan itu cukup menguras keringat. Proses produksi juga cukup lama karena peralatan masih terbatas, sehingga masih berganti-gantian. Cuci-lap-pakai.

Varian produk yang sangat terbatas. Saat ini, jenis produk yang ditawarkan hanya satu saja, yaitu Chicken Nugget Original. Beberapa kali konsumen sempat nanya juga, ada produk lain ga dan bahkan request Chicken Nugget dengan varian tertentu. Baiklah, mengandalkan satu varian saja mungkin memang tidak terlalu mendukung pengembangan bisnis ini menjadi lebih besar, karena konsumen tidak punya pilihan lain dan belanjanya jadi tidak terlalu banyak.


RESOLUSI BISNIS 2019

Tahun 2018 telah berlalu, dan bisnis Chicken Nugget IDOLA MAMA HOMEMADE ini pun telah berjalan kurang lebih 3 bulan lamanya. Pada awalnya, bisnis ini memang tidak lebih dari proyek coba-coba, tapi seiring berjalannya waktu, semakin banyak testimoni positif dan pelanggan setia, keinginan mengembangkannya lebih besar pun muncul.

Ya, kami ingin mengembangkan IDOLA MAMA HOMEMADE agar bisa menjangkau lebih banyak pelanggan. Dan untuk itu, maka beberapa hal yang perlu dilakukan adalah:
  • Melakukan diversifikasi produk, sehingga konsumen tidak bosan dan memiliki banyak pilihan akan makanan sehat yang praktis disajikan.
  • Menemukan supplier bahan baku dengan harga yang bersaing, sehingga dapat menghemat biaya produksi dan memaksimalkan keuntungan.
  • Menambah peralatan, sehingga lebih menghemat waktu pengolahan, sehingga kapasitas produksi pun meningkat. 
  • Memiliki tempat berjualan dengan lokasi dan jam operasi yang cukup permanen untuk bisa mendaftar pada provider ojek online, sehingga dapat menjangkau pelanggan yang lebih luas.
  • Mempunyai asisten khusus yang bertanggung-jawab untuk membantu proses produksi, mengelola pemasaran (menunggu tempat usaha), serta menangani konsumen online maupun offline.
Nah, berkaitan dengan pencarian bahan baku dengan harga bersaing dan penambahan peralatan, baru-baru ini saya baru tahu bahwa ada lho solusinya secara online! Selama ini kan saya terkendala waktu untuk bisa survey ke beberapa tempat untuk membandingkan harga beberapa barang, ternyata, saya baru tahu bahwa (semacam) tempat kulakan online bernama Ralali.com. Istilahnya B2B marketplace, yaitu marketplace yang dikhususkan untuk transaksi Business to Business (B2B), jadi tempat khusus untuk mencari berbagai bahan baku atau peralatan secara grosir dengan harga yang bersaing untuk keperluan usaha. 

Namanya bisnis rumahan yang baru dirintis, kami belum bisa sih beli bahan dalam skala grosir untuk dapat potongan harga. Jadi, biasanya untuk mendapatkan harga bahan yang cukup miring, kan saya harus berburu promo ke berbagai toko, yang notabene jauh dan menghabiskan waktu juga. Jadi ya, konsep seperti ini memang solutif banget!

Mengenai kredibilitasnya, pun tidak perlu diragukan lagi, karena ternyata marketplace ini sudah hadir sejak tahun 2014 dan terus berkembang hingga menerima berbagai penghargaan sampai saat ini. Di antaranya sebagai pemenang Indonesia Rice Bowl Startup Awards dalam kategori Best Business Automation Tools 2018! Dasar saya aja yang baru mulai belajar bisnis ya, jadi belum kenal konsep begini.


Beberapa waktu yang lalu, dalam rangka menambah varian produk, saya sempat mampir juga ke website-nya untuk mendapatkan bahan baku dengan harga yang lebih masuk akal. Secara, sebelumnya, saya sempat beli ke supermarket dan dibuat kecewa karena promo salah satu bahan, yaitu keju, ternyata sudah berakhir dan harga satuannya menjadi lumayan tinggi.

Dan yuhu! Di sini, ternyata harganya lebih miring, lebih masuk akal lah buat diolah dan dijual lagi. Jaman sekarang memang luar biasa perkembangan teknologi ya, membangun sebuah usaha jadi jauh lebih mudah dan ga serumit bayangan saya sebelumnya. Saya jadi makin optimis, bisa membesarkan bisnis ini di tengah sempitnya waktu yang saya miliki.

Soalnya survey dan berbelanja bahan baku di sini benar-benar super hemat waktu, beneran sesimpel kaya belanja online biasa, hanya bedanya harganya grosir. Tinggal ketik barang yang kita cari di kolom 'search', selanjutnya akan muncul berbagai pilihan dari mitra yang ada. Oh ya, kalau misalnya ada pertanyaan pun bisa langsung chat dengan mitra, misalnya terkait pengiriman dan sebagainya. Super helpfull lah pokoknya…


Habis itu, langsung deh cari aplikasinya di App Store supaya bisa lebih praktis cek-cek bahan lain pas ada waktu luang. 

Kalau bisa sih, semua selain bahan segar beli online aja deh, supaya ga repot lagi, waktu bisa dipake buat yang lain-lain kan. Bisa buat coba resep baru, bisa buat handling socmed-nya Idola Mama Homemade, dan sebagainya; karena ya PR-nya Idola Mama Homemade masih banyak banget…

***

Dan, demikian lah cerita singkat saya tentang proyek 'IDOLA MAMA HOMEMADE' yang sedang saya geluti saat ini. Yang awalnya bisa dibilang tidak terlalu serius direncanakan, tapi pada akhirnya menjadi sangat exciting, karena menyadari bahwa dari sini tidak hanya persoalan materi yang saya dapatkan. Tapi juga rasa puas karena membantu banyak keluarga memperoleh makan sehat di tengah keterbatasan waktu dan tenaga yang dimiliki. 

Itu juga yang membuat saya bersemangat mengembangkannya menjadi lebih besar lagi, karena itu sama dengan lebih banyak keluarga yang mendapatkan makanan sehat seperti yang saya berikan untuk anak dan keluarga saya.


Begitu kira-kira teman-teman… Mohon doanya untuk IDOLA MAMA HOMEMADE ya… Semoga bisa berkembang lebih besar lagi dan menjadi solusi makanan sehat bagi lebih banyak keluarga. Amiin.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, February 7, 2019

Jumat Sehat Bersama Tumpeng Enak Lampung

Hari Jumat, di berbagai kantor memang identik dengan hari bebas ya… Lebih santai sih tepatnya, karena di Hari Jumat biasanya berbagai instansi akan mengadakan kegiatan di luar rutinitas kantor, misalnya seperti bekerja bakti membersihkan lingkungan, senam pagi bersama, jalan santai di lingkungan kantor, atau pun 'Tea Morning'. Sesuatu yang bagus sekali menurut saya; karena selain berperan aktif dalam menjaga kesehatan, kebersihan atau efektifitas komunikasi antar pegawai dengan manajemen; berbagai kegiatan ini pun merupakan sarana melepas kepenatan dari berbagai rutinitas kerja.

Di kantor kami sendiri, kegiatan setiap Jumat pun sebisa mungkin divariasikan agar tidak membosankan memperoleh manfaat yang maksimal. Seperti halnya Jumat 11 Januari 2019 lalu, dimana kami mengadakan acara dengan tajuk "Friday is a Healthy Day" sebagaimana instruksi dari Unit Induk kami.

Untuk acara ini, kami telah merancang berbagai kegiatan, di antaranya senam pagi bersama dilanjutkan dengan sarapan bersama, sosialisasi mengenai program perusahaan dan pembagian doorprize kecil untuk memeriahkan suasana.

***

Sesuai jadwal, pukul 7:00 pegawai sudah berdatangan ke kantor dengan menggunakan baju olah-raga masing-masing. Dan sekitar pukul 7:20 pun acara dimulai dengan senam pagi bersama dipandu instruktur yang berbeda dari sebelumnya… 

Untuk instruktur senam memang sebisa mungkin berubah tiap acara, supaya tidak membosankan, dan ndilalahnya instruktur hari itu benar-benar baru plus gerakan-gerakannya ga seperti biasanya, jadi kami cukup excited.


Ya, gimana ga excited coba, ini instruktur ngajakin kami senam muka plus totok wajah juga… Padahal doi kan cowok, gayanya juga maskulin abis, ya lucu aja sih menurut saya… 😂 Ditambah lagi kemudian ada sesi tanya jawab kesehatan, yang… yah, boleh lah… Lumayan memberi kami pencerahan tentang kesehatan dari sisi (sebut saja) atlet senam.

Ini nih senam muka yang lumayan bikin heboh itu…

Setelah senam dan konsultasi kesehatan selesai, kemudian kami pun beralih ke acara selanjutnya, yaitu sarapan pagi bersama dan sosialisasi beberapa program perusahaan oleh manajemen.

Ada dua program perusahaan yang disampaikan oleh manajemen kali, yaitu pertama adalah mengenai Quantum Leap PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan berkaitan dengan Asset Management oleh Manager Unit Pelaksana Pembangkitan (UPDK) Bandar Lampung. Dan kedua adalah launching dan sosialisasi penggunaan tumbler menggantikan botol kemasan plastik untuk mengurangi sampah plastik.


Jadi, PLN pun sejak Januari 2019 kemarin secara bertahap melakukan program pengurangan sampah plastik melalui beberapa program, salah satunya adalah penggunaan tumbler ini. Pada awal implementasi program, tentu kami pun belum bisa menghilangkan sepenuhnya kebiasaan menggunakan kemasan plastik, tapi kami berkomitmen untuk terus melakukan pengurangan semaksimal mungkin.

Oh ya, dan yang tidak bisa ditinggalkan dari kegiatan ini sesungguhnya adalah menu sarapannya! Yes, sarapan kali ini kami memesan bento nasi tumpeng dari Tumpeng Enak Bandar Lampung. Ini kali kedua sih, kami menggunakan nasi kuning sebagai jamuan, sebelumnya pernah juga tapi dalam bentuk Tumpeng Mini (Tumini).


Seperti biasa, menu Tumpeng Enak selalu menimbulkan excitement tersendiri! Bentuknya itu lho, sangat menggugah selera! Dan jangan lupakan juga rasanya yang enak banget… Pokoknya menu ini selalu berhasil bikin teman-teman sekantor penasaran pesennya dimana, karena memang dia cocok banget digunakan untuk acara-acara spesial.

Dalam satu paket Tumpeng Mini atau Bento Nasi Kuning, juga telah diberikan stiker yang desainnya menyesuaikan request kita. Gimana ga spesial coba…


Seperti biasa, pelayanan Mbak Pipit owner Tumpeng Enak pun sangat-sangat memuaskan… Huhu, seperti biasa, kami ini sukanya dadakan kalo ada acara, dan alhamdulillah pesanan kami masih bisa di-handle oleh Mbak Pipit dan tim, padahal kami pesannya H-2…

Karena terburu-buru ini pula, kami tidak sempat meminta kemasan dikonvert ke bahan lain selain plastik, huhu… Tapi, gapapa, it's OK don't be sad… belajar dari kekurangan hari itu, next time kami ga adain acara dadakan-dadakan lagi deh… Insyaallah…

Oh ya, emang nasi kuning itu sehatkah? Ini acaranya kan Jumat Sehat, haha… 😀

Hmm, dari sisi nutrisi, ya tidak diragukan lagi menunya Tumpeng Enak ini bisa dipastikan sehat ya… Karena di dalamnya ada juga urap dan ayam goreng yang notabene adalah sumber mineral dan protein. Paling yang perlu dijaga adalah karbohidrat dari nasi kuningnya sih, karena kan dia pakai santan ya… Kebutuhan kalori tiap orang sih beda, jadi ya harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sih. 

Kalau saya sendiri, sebagai penganut sarapan pagi buah, yah, ini disimpen dulu buat makan siang, hehe… Ya makanan enak ini, sayang bangetlah kalo ga dimakan kan… **Ga mau banget rugi…**

Oh ya, kalau mau pesen Tumpeng Enak juga, bisa cek Instagram mereka @tumpeng.enak ya…

***

Ya gitu deh, acara kami Jumat kemarin itu… Saya pribadi sebagai salah satu yang bertugas sebagai (sebut saja) panitia, puas banget dengan keseluruhan acaranya. Semua terlihat bahagia dan kegiatan pun berjalan dengan sangat lancar.

Nah, kalo di tempat teman-teman sendiri, Jumat pagi biasanya ada acara apaan nih? Share dong… 

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, February 4, 2019

Perawatan Wajah (Skin Care) untuk Kulit Sensitif dan Berjerawat

Masalah kulit sensitif dan berjerawat itu sama sekali bukan masalah baru bagi saya. Sejak duduk di bangku SMA, saya mulai berjibaku dengan jerawat segede Jupiter yang rajin nyamperin setiap caturwulan (empat bulan sekali). Pas waktu ujian lebih tepatnya! Dan itu hilangnya lama banget, sampai dua bulanan, karena memang gede banget. Saking distinctive dan gedenya, saya sampai bosan menjawab pertanyaan orang, dan pada saat study tour ke Bali memilih menjawab kalau itu karena jatuh dari motor. Ya karena memang jerawatnya lebih mirip dengan bekas jatuh daripada jerawat pada umumnya. Jadi, kalau saya bilang ke orang bahwa itu habis jatuh dari motor, ya mereka ga akan nanya-nanya lagi, "Jerawat kok kaya gitu… Dipencetin ya?" dan sebagainya, yang sungguh membuat saya merasa sangat tidak nyaman.

Cerita tentang permasalahan kulit sensitif dan berjerawat sebelumnya baca di sini The Story of Lemon Juice Pt. 2 dan disini: The Story of Lemon Juice

Nah, lalu bagaimana kondisi kulit saya sekarang? Setelah hampir 4 tahun berlalu dari update terakhir tentang kulit sensitif dan berjerawat, serta perawatannya… Mungkin ada teman-teman yang juga punya masalah serupa butuh pencerahan atau paling tidak dukungan moril bahwa kita tidak sendirian… 😅


Tuh… Saya masih sama seperti yang dulu dan jerawat masih setia menemani, tapi, karena kami sudah bersahabat, alhamdulillah dia tidak lagi se-caper dulu. Dia tumbuh sesekali pada saat saya menjelang datang bulan atau kondisi badan sedang tidak baik karena begadang. Tapi dia tetap tidak kehilangan kreatifitasnya, misalnya dengan muncul di tempat-tempat yang tak terduga, seperti tepian bibir, kulit kepala, dan sebagainya.

Itu berita baiknya… kami sudah bersahabat… Tapi, ada berita kurang baiknya juga, bahwa beberapa skin care kepercayaan saya kemudian discontinued alias tidak diproduksi lagi. Seperti Aloe Soothing Moisture Lotion SPF 15 dari The Body Shop yang sudah lebih dari setahun lalu hilang dari peredaran dan juga yang baru-baru ini adalah Instant Soothing Rescue Gel dari The Body Shop juga, yang stok terakhirnya kadaluarsa di Bulan Februari 2019 ini.


Padahal Instant Soothing Rescue Gel ini adalah salah satu senjata andalan saya untuk mengatasi kulit wajah yang memerah atau meradang, karena jerawat atau apapun. Secara jerawat saya itu, mungkin karena kulitnya sensitif, modelnya akan memerah dan meradang dan Instant Soothing Rescue Gel ini memberikan efek menenangkan, sehingga mengurangi radang tersebut. Bahkan, tidak jarang dia berhasil menjinakkan jerawat yang akan muncul, sehingga kemudian tidak membesar.

Sedih memang berpisah dengan si Instant Soothing Rescue Gel ini, tapi yah, mau gimana lagi… Dia sudah memilih untuk pergi dari kehidupan saya, dan saya pun tidak ada pilihan selain move on… 😀

Nah, selanjutnya untuk perawatan sehari-hari, saya masih bertahan dengan range Aloe Vera dari The Body Shop; baik pembersih, toner, day cream, night cream dan maskernya. Ada juga sih di luar range Aloe Vera, seperti untuk eksfoliasi, saya menggunakan Drop of Youth Liquid Peel (masih) dari The Body Shop.

Oh ya, untuk produk-produk skin care selengkapnya yang menurut pengalaman saya efektif untuk kulit saya yang cenderung sensitive dan acne prone alias gampang berjerawat adalah sebagai berikut:

#1#  PEMBERSIH


Dulu saya sempat cocok pakai Acne Aid Bar, tapi sayang dia pun hilang dari peredaran, dan sejak itulah beralih ke Aloe Calming Wash dari The Body Soap ini. Kurang lebih sudah 6 tahun sudah saya memakai sabun wajah ini.

Saya mencuci muka tiga kali sehari dengan karena memang wajah saya cukup berminyak. Kalau berminyak kan kotoran jadi lebih mudah menempel, ditambah lagi kalau si sebum menyumbat pori-pori, pada jenis kulit yang sensitif, otomatis akan memicu timbulnya jerawat.

So far sih, meskipun cuci mukanya segitu intensitasnya (tiga kali sehari), efeknya ke kulit malah enak dan bukan kering atau apa, karena formulasi dia memang mild banget.

#2# TONER


Selesai cuci muka, sebelum memakai day cream  atau night cream saya pakai toner ini dulu, Aloe Calming Toner dari The Body Shop.

Saya tipe setia sama satu produk kalau sudah cocok sih, jadi ga bisa compare dengan produk lain. Tapi. toner ini enak sih di kulit saya, efeknya melembabkan dan juga mengangkat sisa kotoran setelah cuci muka. Dan tentu saja, yang paling utama adalah dia lembut untuk kulit sensitif, jadi ya enak banget buat saya.

#3# DAY CREAM


Day Cream, masih setia lah sama yang satu ini, Aloe Soothing Day Cream dari The Body Shop (juga).

Bisa dibilang dia ini produk pelarian sih… karena Aloe Soothing Moisture Lotion SPF 15 dari The Body Shop lagi-lagi discontiued… Padalah sudah cinta banget sama produk itu dulu, karena lembut di kulit, menenangkan, dan sekaligus melindungi dari sinar ultraviolet. **Untuk saya yang sering beraktifitas di dalam ruangan, saya pikir cukup lah SPF segini ya.

Tapi, karena dia sudah ga ada, saya coba lah day cream ini… Yang, alhamdulillah juga OK sih, rasanya enak di kulit dan somehow ya saya merasa dia membantu kulit saya yang sensitif tidak terlalu mudah kemerahan dan teriritasi.

#4# NIGHT CREAM


Yang ini, pakainya malam hari aja sebelum tidur. Jadi biasanya saat mandi sore kan sudah cuci muka tuh, nah, malam sebelum tidur tinggal pakai toner lalu pakai Aloe Soothing Night Cream dari The Body Shop ini.

Rasanya baru setahunan sih saya rutin pakai cream malam ini… Sebelumnya, saya lebih sering pakai jeruk nipis segar. Tapi, karena kemudian (mungkin karena faktor usia) kulit terasa cukup kering memakai jeruk nipis setiap malam, akhirnya saya mencoba night cream ini. Yang ternyata enak banget, dia melembabkan, tapi ga bikin terlalu oily untuk kulit saya. Jadi saya juga enak, dan mau dicium-cium juga enggak nempel, haha 😂.

Oh ya, tapi pakainya tipis-tipis aja ya…

#5# PEELING


Saya dulu team pake eksfoliasi model butiran alias scrub, tapi lagi beralih ke Drop of Youth Liquid Peel ini karena scrub dari range Aloe Vera The Body Shop-nya lagi-lagi discontiued.

Awalnya pas mbaknya nawarin pas lagi launching, saya ragu sih… tapi, kemudian mencoba dan ternyata dia enak digunakan. Enggak bikin iritasi atau kemerahan seperti yang saya khawatirkan sebelumnya.

Saya pakainya sekali seminggu saja, walaupun petunjuk pemakaiannya 2 sampai 3 kali seminggu. Soalnya, ya menurut saya, sebagaimana karakteristik kulit sensitif, kulit saya ini tipis, jadi ga perlu lah sesering itu. Cukup seminggu sekali saja…
Peeling ini dikombinasikan dengan pemakaian masker setelahnya, bikin kulit terasa fresh dan lembut…

#6# MASKER 


Masker Soothing Rescue Cream Mask dari The Body Shop ini pakainya seminggu sekali juga, setelah pakai peeling dan dibilas air, kemudian pakai masker ini supaya wajah yang habis dieksfoliasi menjadi lebih tenang.

Tekstur maskernya cream gitu, jadi dia bukan model masker yang akan mengering. Cara pakainya cukup diaplikasikan di wajah dan tunggu hingga 15-20 menit atau boleh juga semalaman untuk kemudian dibilas.

Kalau saya lebih senang pakai dia sekitar 20 menit kemudian dibilas, pakai toner, dan terakhir pakai cream malam. Yes, suka pakai ini melam menjelang tidur, karena mikirnya kondisi kulit habis dieskfoliasi itu kan lebih rentan ya, kalo dibawa tidur kan paling tidak mengurangi stress dan polusi udara.

#7# TABIR SURYA


Terakhir yang penting juga, adalah tabir surya atau anti UV. Dan soal ini, saya bisa dibilang kurang setia sih orangnya. Paling lama ya pake Aloe Soothing Moisture Lotion SPF 15 dari The Body Shop, tanpa pake cream siang. Setelah dia discontinued, baru deh beralih ke Skin Defence SPF50 dari The Body Shop, tapi kok kurang suka karena aroma dan teksturnya. Aromanya sih wangi, tapi jadinya kan bisa jadi iritan buat kulit sensitif ya…

Lalu nyoba Ultra Light Daily UV Defence Mineral Sunscreen dari Kiehl's ini deh… which saya cocok. Sesuailah dengan klaimnya yang diformulasikan untuk kulit sensitif dan berjerawat; "fragrance free, paraben free, dan chemical filter free sensitive skin tested."

Tapi jujur, saya ga rajin pakenya… Kadang-kadang aja sekiranya perlu banyak keluar dari ruangan, walaupun katanya lampu pun sebenarnya memancarkan sinar UV sih… Iya deh, nanti pakenya lebih rajin lagi… ✌

***

Nah, segitu aja skin care yang saya pakai untuk melindungi wajah sensitif dan berjerawat saya…

Basically, saya berpendapat bahwa sesungguhnya jika kulit kita memiliki masalah jerawat, terkadang masalahnya bukan sepenuhnya pada jerawatnya, tapi pada bagaimana kita menjaga kondisi kulit kita. Jika kebetulan kulit kita sensitif, ya kita perlu menjaganya agar tidak terlalu reaktif (baca: menenangkannya).

Lalu, bagaimana jika wajah sedang berjerawat atau bahkan berjerawat parah?

Dulu, solusi saya ya ke dokter kulit atau ke klinik aestetik (yang ada dokter kulitnya juga). Mereka berdua biasanya akan meresepkan saya obat untuk diminum dan juga krim untuk wajah atau jerawat, yang biasanya manjur. Cuma, ini sudah lama sekali saya tinggalkan, sejak hamil anak pertama tepatnya.

Kenapa? Karena mereka biasanya menggunakan obat atau bahan yang tidak direkomendasikan untuk wanita hamil, jadi sejak itulah saya beralih ke bahan alami. Dan setelah mencoba berbagai bahan alami, yang paling membantu itu adalah JERUK NIPIS! Yes, that's why blog ini bernama Lemon Juice Story, karena itu melambangkan salah satu insight yang saya temukan dalam perjalanan hidup saya. **Yah, sebenarnya lebih tepat 'lime' sih ya, tapi kurang ear catchy, jadi, ya saya pakai kata 'lemon' saja**

Bonus deh, berarti skin care saya itu termasuk juga bahan alami penjinak jerawat sebagai berikut:

#8# JERUK NIPIS


Menurut pengalaman pribadi saya, jeruk nipis ini cocok banget untuk jerawat yang meradang dan banyak.

Setelah wajah dibersihkan dengan sabun, saya gunakan air hangat cenderung panas yang ditetesi dengan air jeruk nipis, dan khusus jerawat saya kompres sebentar. Kompresnya pakai kapas juga aja…

Setelah itu, kemudian sari jeruk nipis (tanpa tambahan air) juga di oleskan ke seluruh wajah dengan menggunakan kapas. Khusus untuk jerawat, banyakin kasihnya.

Rasanya ya tentu saja pedih, hihi… Dan efeknya juga cukup lama, bukan yang sekarang dipake lalu kurang dari seminggu jerawat kemudian hilang. Kalau jerawat kita sudah terlalu banyak, pengalaman saya sih, kemudian perlahan-lahan dia akan semakin berkurang, hingga benar-benar minimal (dalam pengalaman saya sampai hilang sama sekali). 

Kurang lebih sebulan lah, sampai hasilnya kelihatan… Jadi ya memang harus sabar dan telaten sih, tapi, insyaallah lebih aman dan tanpa efek samping bagi kesehatan…

#9# KENTANG


Nah, kalau yang ini menurut saya paling cocok digunakan setelah jerawat kita matang dan kemudian kita keluarkan isinya alias dipencet. Yes, saya aliran yang tidak anti mencet jerawat… Jerawat saya ya saya pencet untuk mengeluarkan infeksinya, tapi harus tunggu dia MATANG dulu. Not gonna work lah kalau mencet jerawat yang belum ada putih-putihnya, cuma akan bikin dia makin meradang aja. Tapi, kalau dia memang sudah matang, mengeluarkan isinya akan mempercepat pemulihannya.

Nah, si kentang ini digunakan pasca pemencetan jerawat ini… Caranya, tinggal diiris dan dioleskan pada luka bekas keluarnya jerawat. Hanya pada bekas luka jerawat ya, bukan seluruh wajah…

Kentang ini punya efek mendinginkan dan mengeringkan, jadi dia akan membantu mengempeskan jerawat kita lebih cepat.

***

Dua itu saja senjata saya untuk mempercepat pemulihan jerawat. So far, kedua cara itu cukup untuk menyelesaikan masalah jerawat yang muncul.

Saya memang tidak lagi berminat untuk perawatan ke klinik aesthetic, dengan bahan kimia yang menurut saya kurang ramah pada kulit sensitif dan tipis. Ya, pengalaman sih, kulit saya yang tipis jadi makin tipis lagi. Dan udah gitu, saat saya memutuskan berhenti, kemudian muncul masalah seperti wajah yang bruntusan. Jadi, skip ajalah…

Oh ya, satu lagi, untuk menjaga kesehatan kulit wajah, selain skin care yang tepat, sejujurnya saya juga sama sekali tidak menggunakan make up untuk kulit wajah lho… No bedak (tabur atau bedak), apalagi sampai foundation, blush on, dkk. Kemana-mana, paling pol saja pake lipstick aja, untuk kulit wajah, cukup krim pagi/malam dan sunscreen kalau siang.

Kalau pakai make up pun ya mungkin bisa pilih yang memang diformulasikan untuk kulit sensitif dan berjerawat sih. Tapi, karena saya tidak melihat urgensinya plus saya juga malas dandan, jadi ya polosan aja lah… Lagian itu bekas jerawat jaman SMA yang meninggalkan merah-merah di wajah udah kaya blush on kan… hehe 😀

***

Udah gitu aja share saya tentang perawatan wajah untuk kulit sensitif dan mudah berjerawat (acne prone) yang menurut pengalaman saya cukup efektif. Semoga bermanfaat ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-