SOCIAL MEDIA

search

Showing posts with label Curhat dan Insight. Show all posts
Showing posts with label Curhat dan Insight. Show all posts

Wednesday, October 21, 2026

INSIGHT AND FEELING FROM FOREST THERAPY DI HUTAN SAPUANGIN LERENG MERAPI

"Tanggal 20 September 2026 kosongkan jadwal ya..." Suami saya mengirimkan pesan text melalui whatsapp dan sesaat kemudian ada notifikasi dari aplikasi yang sama, saya baru saja bergabung di sebuah grup baru, 'FOREST THERAPY BATCH 7."

Hati saya bahagia sekali, karena recently memang sedang dan semakin cinta dengan nature dan karena somehow itu diberikan oleh suami, saya merasa diusahakan dan dicintai.

***

20 September 2026.

Di hari yang ditentukan, kami pun berangkat bersama rombongan. Tim dari Forest Therapy menjemput kami dari rumah menuju lokasi. Dan walaupun saya dan suami sedikit terlambat karena bolak-balik kamar mandi, alhamdulillah, tetap ditunggu dengan ramah.

"Maaf ya bapak driver dan ibu yang sudah menunggu kami, somehow, pagi itu emang rada tricky buat saya. Badan serasa sedang detox, kadang bolak-balik kamar mandi, apalagi kalau malamnya makan yang rada pedes..."

Selama perjalanan, kami mengobrol dan bercanda bersama rombongan. Tentang politik, bahkan menghitung Kopdes yang kami temui sepanjang jalan, yang lokasinya memang cukup unik ya. Dan setelah menjemput beberapa anggota rombongan lain, kami pun mencapai lokasi di Hutan Sapuangin Klaten, lereng Gunung Merapi.

And the feeling is whoaaa...

***

Sampai di lokasi, kami berkumpul terlebih dahulu di kedai kopi lokal untuk briefing, checking, sarapan, dan berdoa bersama. Dari titik ini, rasanya sudah luar biasa buat saya. Pemandangan hutan yang hijau, bukit, dan Gunung Merapi ada di depan mata, begitu dekat, ada rasa membuncah di dada yang sulit dideskripsikan.

Perjalanan kami dimulai dari kedai itu, menyusuri jalan di pedesaan menuju hutan tempat trekking. Di sana kami menemukan pohon kopi, tanaman anggrek, dan juga pohon-pohon yang tampak sehat dan bahagia hidup di tempat yang begitu menghargai mereka. Kami dijelaskan tentang banyak hal, diberikan kesempatan untuk mencicip rasa dan aroma dari biji kopi dan juga bunga liar yang tumbuh di sepanjang jalan.

Ya, sebelum masuk ke kawasan Hutan Lindung Sapuangin, kami masih diperbolehkan untuk memetik biji kopi, bunga liar, atau mencabut Tanaman Akar Wangi. Tapi, begitu sampai kawasan hutan lindung tidak boleh ya... Di kawasan hutan lindung, kami hanya boleh mengambil yang sudah terjatuh, tidak boleh memetik atau mencabut apapun disana. Noted.

Menuju ke hutan kami menyusuri jalan setapak dengan pepohonan di kanan-kirinya. Ada kalanya jalan setapak itu melalui tepi jurang, sehingga pemandangan benar-benar terlihat sophisticated. Oh ya, pada perjalanan mulai memasuki kawasan hutan, kami disambut oleh kawanan lutung yang bertengger di atas pohon. Bagi saya, mereka seperti memandang kami dari kejauhan dengan penuh rasa penyambutan.

Sampai di checkpoint pertama, kami berhenti di sebuah tanah yang cukup lapang, kami berhenti untuk melakukan sesi yoga. Tentu bukan yoga yang terlalu technical, gerakannya cukup sederhana untuk diikuti newbie seperti saya. Simple but very relaxing...

Selanjutnya, sembari menyusuri jalan setapak di antara pepohonan, kami sesekali berhenti untuk melakukan rangkaian aktivitas Forest Therapy ini. Ada sesi refleksi, sesi bersama pepohonan, makan siang bersama, dan juga journaling.

Salah satu momen yang paling berkesan untuk saya adalah pada saat sesi memeluk dan 'berkomunikasi' dengan pohon. Mungkin terasa aneh, tapi bagi saya rasanya sangat melegakan dan relaxing.

Saya selalu memandang bahwa sesungguhnya manusia adalah sebuah sistem kecil, bagian dari sebuah sistem besar bernama alam semesta. Kita (sebagai manusia) selalu bisa memberi dan menerima energi dari alam semesta termasuk pepohonan. Kadang kita merasa sendirian memikul beban yang terasa overloading dan overwhelming bagi diri kita, padahal sesungguhnya semesta selalu mendukung kita. Kita selalu bisa melepaskan apa-apa yang sudah selesai kita pelajari, luka-luka yang sudah tidak lagi relevan dalam diri kita, dan bahkan beban yang tidak sanggup kita tampung dalam sistem kita, kembali ke alam semesta.

Melepaskan, karena tidak semua harus kita balas atau kita tahan dalam diri kita.

Memeluk pohon bagaikan membuat koneksi nyata dengan mereka sebagai bagian dari semesta. Melepaskan beban, merasakan dukungan mereka, rasanya seperti kembali ke rumah, karena kita adalah bagian dari semesta.

Bagi yang pernah menonton film Avatar, kira-kira seperti itulah gambaran hubungan kita dengan semesta. Dengan pepohonan, dengan hutan, dengan alam, dengan langit, dan dengan bumi yang kita pijak.

Perjalanan menyusuri hutan yang dimulai sekitar pukul 8.30 dan diakhiri pukul 15.30 itu benar-benar begitu melegakan. Serasa kembali ke rumah, bercerita dan menumpahkan segala keresahan, menerima pesan dan nasehat dari semesta, dan kembali dalam keadaan yang lebih fresh dan siap menjalani kembali kehidupan sehari-hari.

Sebuah perjalanan yang membawa begitu banyak rasa, makna dan insight bagi saya, dan pastinya peserta lain juga.

Bagi saya pribadi, seperti yang berkali-kali saya ceritakan, it feels like coming back to a place I belong to. Disana saya juga merasakan beban dari perspektif berpikir orang lain, berbagi sudut pandang dan merasa bermanfaat dengan berbagi hal yang diajarkan pada saya sepanjang hidup saya oleh semesta.

Dan yang tidak kalah penting, disini saya merasa dicintai dan diterima. Dicintai dan diterima oleh semesta yang menyambut kami. Dari lutung yang memandang kami dari kejauhan, dan Elang Jawa yang terbang mengitari kami pada saat meditasi. Menurut pemandu, hal ini cukup langka terjadi.

Sepanjang perjalanan hingga akhir dan sampai detik ini, segalanya mempertegas betapa saya dicintai dan diterima oleh partner hidup saya, suami. Saya sadar, ada banyak perbedaan cara berpikir dan memandang kehidupan antara saya dan suami. Kembali ke alam seperti ini, bisa dibilang lebih ke elemen saya, dan dia (suami) menerima diri saya seutuhnya dengan menghadiahkan perjalanan ini dan waktunya untuk menemani saya.

It's so beautiful...

Perjalanan ini memberikan sebuah perasaan, sebuah nostalgia tentang bagaimana kami memulai perjalanan bersama ini saat memilih untuk bersama, dan betapa jiwa kami bertumbuh sejauh ini setelah lebih dari 16 tahun pernikahan. We are two souls with different lessons to learn in life who choose to grow together. Not perfect, but somehow we choose to stay together.

Untuk ini, saya sangat bersyukur pada Tuhan dan tentu saja berterima-kasih pada suami saya. Terima-kasih sudah mencintai dan memberikan ruang bagi saya untuk bertumbuh sesuai jiwa dan hati saya.

Aah, jadi kangen, bismillah, kapan-kapan bisa kesana lagi...

Sekian cerita perjalanan Forest Therapy kami. Semoga ada rasa dan hal baik dari cerita ini.

With Love,
Nian Asti

Monday, November 15, 2021

IBU BERHENTI BEKERJA DARI BUMN [PERNAH MERASA MENYESAL?]

Video version is here:

Jadi, semenjak resign dari PLN di bulan Agustus 2019 lalu, beberapa teman yang sedang menimbang untuk mengambil keputusan yang sama pun banyak bertanya pada saya seputar hal ini. Salah satunya yang paling banyak ditanyakan adalah, "Pernah ga merasa menyesal setelah resign?"

Hmm, pernah ga ya? Baiklah, so, saya akan mendedikasikan tulisan untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi, sebelum membahas lebih lanjut, kita samakan persepsi tentang definisi 'menyesal' ya...

Secara psikologis 'menyesal' atau 'regret' dapat diartikan sebagai kondisi kognitif dan emosional yang negatif yang meliputi perasaan menyalahkan diri sendiri akan hasil yang tidak baik (sesuai harapan), perasaan kehilangan atau sedih atas sesuatu yang terjadi, atau berharap kita bisa mengulang waktu dan mengganti pilihan yang pernah kita ambil (dari PsychologyToday).
Artinya pada saat merasa 'menyesal' ada perasaan menyalahkan keputusan yang pernah diambil. Kita membandingkan kondisi sebelum dan sesudah resign, kemudian merasa bahwa kondisi sebelum resign lebih baik, sehingga kita ingin kembali ke posisi tersebut.

Jadi, apakah saya pernah merasa menyesal setelah resign?

OK, dalam setiap mengambil keputusan, sesungguhnya pasti ada sebuah ekspektasi. Baik suatu kondisi yang ingin dicapai, maupun sebuah kondisi yang ingin dihindari atau diperbaiki; dengan mempertimbangkan risiko atau kondisi tidak nyaman yang menyertainya. Dimana dalam perjalanannya, bisa jadi ekspektasi tersebut terpenuhi ataupun sebaliknya.

KONDISI YANG INGIN DIPERBAIKI

Sebelum resign saya adalah seorang pekerja full time yang bekerja dari Senin hingga Jumat dari jam 7.30 hingga 16.00. Kondisi tersebut menuntut saya untuk banyak mendelegasikan peran saya menjaga anak-anak kepada pengasuh, serta mengesampingkan hal-hal terkait hobi dan aktualisasi diri untuk melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung-jawab saya.

Work-life balance benar-benar menjadi isu saat itu, terlebih saat saya mulai merasa tidak puas dengan pekerjaan yang saya lakukan. Typical saya yang perfeksionis dan idealis, yang begitu passionate, yang ingin menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai 'karya' tidak terpenuhi melalui pekerjaan saya. Hal ini membuat upaya menciptakan keseimbangan antara 'kerja' dan 'kehidupan pribadi' menjadi lebih sulit dicapai. Karena di samping perlu menyeimbangkannya dengan keluarga, saya masih harus struggle untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri yang tidak terpenuhi dari dunia kerja.

Singkat cerita, kemudian saya tiba di tahap dimana kondisi tersebut cukup mengganggu kesehatan mental saya. Seringkali merasa terburu-buru, merasa ada begitu banyak hal yang ingin saya kerjakan tapi tidak selesai atau harus selesai di bawah standard pribadi saya, merasa tidak bisa menjalankan peran saya dengan baik, tidak punya waktu untuk diri sendiri, dan sebagainya.

Well, mungkin ini untuk beberapa teman sulit dipahami ya... Tapi, percayalah bahwa ini bukan sesederhana tentang kurang bersyukur. Cukup pahami bahwa setiap individu memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda, sehingga ini pun termanifestasi pada perasaan, pandangan, harapan, dan juga apa yang membahagiakannya.

KENYAMANAN YANG MENJADI KONSEKUENSI

Menjadi pekerja pada titik itu menciptakan ketidaknyamanan, tapi tentu saja tidak memunafikkan kenyamanan yang menyertainya. Gaji bulanan yang relatif tinggi dan stabil beserta segala tunjangannya, status yang prestise dimata masyarakat, aktivitas yang menghidupkan hari hari-hari saya, dan circle pertemanan. Semua itu adalah zona nyaman yang akan berganti pada saat memutuskan untuk resign.

Perubahan ini adalah hal yang pasti terjadi, sehingga sudah diperhitungkan dan diantisipasi, meskipun sifatnya tentu adalah prediksi. Sebaik apapun persiapan, sesungguhnya semua adalah sebatas angan-angan yang kita bayangkan, kita tidak benar-benar menjalani masa depan di masa kini. So,  sebenarnya kita tidak benar-benar tahu apakah segala rencana dan persiapan kita itu sesuai dengan harapan atau sebaliknya.

MASA TRANSISI

Semakin mengkerucut pada pertanyaan, 'pernah ga merasa menyesal setelah resign', menurut pengalaman saya ada ada dua masa yang rawan bagi kita untuk merasa menyesal. Yang pertama adalah masa transisi, yaitu masa tepat setelah kita resign.

Bagi banyak orang termasuk saya, masa transisi adalah kondisi yang tidak nyaman. Bagi saya, masa transisi itu masih kental dengan kenangan akan kondisi yang ditinggalkan, sekaligus antisipasi akan risiko-risiko yang kita pikirkan. Jadi, rasanya itu tidak santai, lebih was-was, dan juga sensitif. Dalam intensitas yang ekstrim masa ini pun bisa menerbitkan rasa sesal, yang untungnya tidak terjadi pada saya.

Semua yang disebutkan di atas, itu saya rasakan. Bagai habis putus cinta, kenangan akan hari-hari yang dilewati bersama itu masih begitu nyata diingatan. Tapi, semua masih pada batas yang masih logis saya terima dari bagian dari proses adaptasi. Saya bisa bilang di masa rawan pertama ini saya tidak merasakan menyesal.

MASA DEPAN SIAPA YANG TAHU...

Kemudian, masa kedua adalah saat kita mulai terbiasa dan beradaptasi dengan kondisi setelah resign. Masa dimana kita melihat dan merasakan apakah ekspektasi kita terpenuhi atau tidak...

Sebelum resign saya bersama suami pun sudah mempersiapkan beberapa hal. Saat itu, kami membuka sebuah usaha akan menjadi aktivitas baru yang produktif bagi saya. Dimana semua berjalan baik-baik saja sejak saya resign di Bulan Agustus 2019, hingga akhirnya April 2020 semuanya berubah. Kondisi pandemi memaksa begitu banyak usaha untuk berhenti beroperasi, termasuk usaha kami yang mengandalkan pengunjung mall sebagai customer. Sehingga di bulan yang sama (April 2020) saat kontrak sewa habis, kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan dulu usaha ini.

Hal ini praktis itu merubah semua hal, zona nyaman baru yang saya rencanakan tidak berjalan sesuai rencana. Pandemi, adalah sebuah kondisi yang tidak terbayangkan akan terjadi bagi kami saat itu, dan siapa pun. So, yes, kondisi itu membuat saya kehilangan aktivitas sehari-hari, sumber penghasilan, dan juga lingkaran pergaulan saya. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi yang menciptakan tekanan lainnya, diantaranya Long Distance Marriage yang sangat panjang, tidak bisa kemana-mana, dan juga kesibukan baru bernama belajar online, membuat saya benar-benar merasa powerless.

Di sini saya ingin menyampaikan bahwa kemungkinan jika rencana dan langkah antisipasi yang kita siapkan itu tidak berjalan sesuai rencana bisa saja terjadi. Meski tidak menutup kemungkinan, jika hal sebaliknyalah yang terjadi. Misalnya bisnis yang kita siapkan berjalan lebih baik setelah kita resign.

Prediksi adalah prediksi, semua hal bisa terjadi, yang lebih buruk ataupun justru yang lebih baik...

LALU APAKAH MENYESAL?

Dalam kasus saya, pada satu titik bisa dibilang bahwa rencana berjalan di bawah ekspektasi. Dan saya pun merasakan struggle untuk beradaptasi dengan keadaan ini. Tapi, jujur, saya tidak pernah merasa menyesal dengan keputusan saya untuk resign.

Mungkin hal ini akan terjadi sebaliknya, jika saya adalah pencari nafkah utama dalam keluarga. Tapi, karena saya memiliki privilege itu, meskipun saat itu merasa tidak nyaman dengan keadaan, tapi rasa sesal itu tidak hadir.

Tidak ada keinginan sedikit pun dalam diri untuk menukar kondisi powerless yang saya rasakan dengan situasi powerful saat masih bekerja. Sekali lagi setiap individu itu unik ya, dan saya kebetulan adalah seorang yang sangat membutuhkan kebebasan, idealisme, dan kompetisi fair yang membuat seseorang merasa dapat meraih prestasi. 

Lagi pula saya melihat kondisi tidak sesuai ekspektasi ini sekedar sebagai tertutupnya satu pintu, sementara pintu yang lain masih banyak. Sementara rejeki dari berjualan bisa dibilang sedang sulit untuk semua orang, ya saya tetap berusaha melakukan hal yang saya bisa. Mengembangkan media yang saya punya (Instagram, YouTube, dan lainnya), melakukan hobi-hobi seperti menyanyi, menggambar, apa aja yang saya suka.

Kehidupan pasca resign saya pada satu titik memang terasa di bawah ekspektasi, tapi siapa disangka kemudian hobi-hobi ini pun bisa menghasilkan income, meski tentu tidak se-stabil saat bekerja full time. Ada kalanya lebih banyak, sering juga dibawahnya. Tapi, kebahagiaan dan ketenangan hati yang saya dapatkan karena keleluasaan membersamai anak-anak dan kesempatan mengembangkan diri itu selalu stabil di atas, dibandingkan pada saat bekerja.

Hidup adalah pilihan, saya memiliki privilege untuk mengambil pilihan resign dan saya tidak pernah menyesal mengambil keputusan itu. Bagi saya, kepurusan untuk resign adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya.

Jadi, jika ingin digeneralisasi, mungkin menyesal dan tidak menyesalnya seseorang setelah resign itu tergantung pada:

PERTIMBANGAN. Pastikan jika itu bukanlah keputusan emosional semata, bukan sekedar pelarian untuk menghindari hal yang tidak kita inginkan, tapi lebih ke usaha untuk mencapai situasi yang kita inginkan. Sehingga kita tetap bisa menghargai mensyukuri situasi setelah resign. Dan jika ternyata sebagian rencana tidak berjalan sesuai ekspektasi, kita tidak merasa kehilangan tempat berpijak.

LEGOWO DAN RESILIANCE. Selain itu, yang perlu disadari dan disikapi legowo adalah bahwa kehidupan setelah resign itu secara finansial sudah pasti tidak se-stabil saat bekerja. Kamu bisa mendapatkan lebih, tapi juga bisa dibawahnya, jadi jangan baperan, keep on going pokoknya.

***

Kira-kira begitu penjelasan saya menjawab pertanyaan, "Pernah ga merasa menyesal setelah resign?" yang jawabannya adalah 'tidak'.

Struggle-nya saya ya di bagian merasa powerless itu, dan ini mungkin sangat berbeda bagai orang lain. So, jika teman-teman pun memiliki keinginan untuk resign, sekali lagi pertimbangkan segala sisi positif dan negatif dari bekerja full time dan resign.

Resign akan membuat teman-teman kehilangan sesuatu, so pastikan kan is it OK? Resign juga akan membawa kita untuk mendapatkan sesuatu, so pastikan juga jika teman-teman benar-benar menginginkan hal itu. Serta satu lagi, sadari bahwa selalu ada kemungkinan jika rencana yang telah disusun tidak berjalan sesuai harapan kita, is it also OK? 

Hidup adalah tentang pilihan, termasuk memilih risiko yang akan ikhlas kita jalani.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Saturday, November 6, 2021

Pengalaman Menurunkan Berat Badan dengan Suplemen Kesehatan (?)

Whoa! So, ini adalah post menindaklanjuti, video yang pernah saya buat tentang Herbilogy Slimming Kit yang saya konsumsi dalam rangka berusaha menurunkan berat badan. 

Penggunaan Slimming Kit Herbilogy ini sendiri terdiri dari dua langkah, yaitu proses detoksifikasi dengan menggunakan Laxa Tea selama 14 hari. Baru kemudian dilanjutkan dengan konsumsi Green Tea dan Slimming Capsule-nya.

Nah, di YouTube Channel, saya baru upload dua video, yaitu video part 1 unboxing si Herbilogy Slimming Kit dan part 2 testimoni setelah menggunakan Laxa Tea. Sementara part 3-nya alias testimoni setelah memakai Green Tea dan Slimming Capsule-nya belum saya bikin juga. Bukan apa-apa, tapi saya memang gagal untuk disiplin dalam program ini dan tidak bisa memberikan testimoni teman-teman :D

Jadi begini... Di video pertama kan saya sampaikan bahwa si Slimming Kit ini adalah pelengkap dari program diet yang saya rencanakan meliputi: memperbaiki pola makan (mengurangi asupan kalori) dan olah-raga. Tapi kenyataannya, kesibukan yang luar biasa membuat saya tidak bisa disiplin seperti seharusnya.

Jam tidur yang jauh dari ideal (baca: seringkali tidur jam 3.00 pagi, bangun pagi sekitar jam 7, baru nanti siang tidur lagi) itu membuat saya kesulitan mengatur waktu makan dan juga olah-raga. Rutinitas yang cukup menyita waktu dari menemani belajar online anak-anak, masak, beberes rumah, setrika, belanja, dll itu pun sangat menguras waktu dan energi. Sehingga kedisiplinan yang mutlak diperlukan dalam program diet ini tidak bisa saya lakukan.

Olah-raga banyak sekali ke-skip karena sudah kecapekan. Makan camilan pun seringkali masih dilakukan demi mengurangi ngantuk, dan bahkan minum si Green Tea dan Slimming Capsule pun suka lupa. So, disini lah saya merasa tidak bisa menilai seberapa besar andil si Slimming Kit ini dalam perubahan berat badan saya.

Oh ya, kalo ditanya berapa perubahan berat badan saya, hoho, malahan naik 0,7 kg teman-teman. Dimana, tentu saja ini bukan akibat dari Slimming Kit ya, tapi karena ketidakdisiplinan saya. Nah, disini (sekali lagi) kemudian saya tidak bisa menilai efektivitas dari Slimming Kit ini. Gitu teman-teman...

Dan membicarakan tentang diet, dari kegagalan ini kemudian saya semakin tersadar bahwa kunci dari penurunan berat badan adalah kedisiplinan dan konsistensi.

Jadi begini, pada dasarnya untuk menurunkan berat badan, kita harus membakar cadangan makanan (dalam bentuk lemak) yang ada dalam tubuh, artinya kita harus melakukan program defisit kalori. Dimana ini dilakukan dengan mengurangi asupan kalori dan juga meningkatkan aktivitas yang membakar kalori. Sementara suplemen, sifatnya adalah untuk membantu saja. 

Intinya tetap di kedisiplinan kita untuk melakukan program defisit kalori.

Metabolisme tubuh saya memang cenderung lambat alias mudah naik berat badan. Udah gitu cenderung obsesive compulsive yang termanifestasi juga dalam perilaku suka ngemil. Kondisi ini diperburuk karena saat ini hari-hari saya yang serba melelahkan sebagai single fighter (baca: Long Distance Marriage plus ga ada ART), boro-boro mau olah-raga, kontrol diri pun melemah.

Tapi, itu bukan berarti menyerah dan membiarkan semua benar-benar tak terkendali ya... Saya tetap berusaha melakukan hal-hal untuk menerapkan pola hidup sehat yang efeknya juga ke menjaga berat badan. Dan yang saya lakukan saat ini, kembali ke cara lama, yaitu menjaga makanan (meminimalkan karbohidrat dan memperbanyak sayur), serta memakai korset.

Yap, bukan salah ketik, it's memakai korset... ini ngefek banget untuk saya. Mari kita bahas satu persatu ya... 


Versi videonya kalau males bacanya :D

MENJAGA MAKANAN!

So, sejak kurang lebih 6 tahun lalu saya mulai menerapkan pola makan food combining meski bukan yang saklek banget. Jadi, setiap pagi dimulai dengan minum segelas air jeruk nipis hangat, kemudian beberapa saat kemudian sarapan buah, dan baru makan siang pada pukul 11.30. Menu makan siang atau malam pun sebisa mungkin tidak menggabungkan antara karbohidrat dan protein hewani. 

Jadi biasanya saya mengganti nasi dengan sayuran yang banyak kalau ingin makan ayam, ikan, dan protein hewani lainnya. Sementara kalau lagi makan tahu atau tempe (protein nabati), ya makan nasi tidak apa-apa. Meski saya emang pada dasarnya pun ga terlalu suka nasi, jadi sehari-hari jarang sekali makan nasi, bisa seminggu penuh tanpa nasi atau bahkan sebulan penuh, tergantung mood.

Jadi, pola makan ini masih saya lanjutkan, hanya saja yang berbeda adalah saya mengurangi ngemil atau porsi makan snack saja. Dan bagian ini cukup challenging sih, karena ya itu tadi, kadang untuk mengurangi ngantuk akibat jam tidur yang rada kacau, godaan ngemil itu lebih sulit ditahan.

Tapi, tetep berusaha kontrol... jangan dilosin aja...

MEMAKAI KORSET!

Ini juga kebiasaan lama sejak melahirkan anak pertama lebih dari 10 tahun lalu, yaitu memakai korset.

Secara fisik sih dengan memakai korset perut akan tertekan dan terbentuk lebih slim, tapi efek yang paling bermanfaat untuk saya itu sebenarnya adalah untuk mengontrol nafsu makan.

Yes, karena pakai korset, perut tuh rasanya cenderung lebih cepat kenyang dan kenyangnya lebih tahan lama, jadi sangat membantu mengontrol keinginan untuk makan.

So, yes, siang saya pakai korset yang sebelumnya pakai Mustika Ratu Slimming Gel dulu. Dimana untuk saya, krim ini lebih untuk menjaga kulit lembab dan jika pun kulit kembali mengkerut karena menjadi lebih langsing, kulit tetap kencang. Efeknya ke membakar lemak di perut tidak terlalu saya rasakan. 

Lagi-lagi ya... menurut saya yang namanya suplemen itu sifatnya hanya membantu secara minimal, inti dari penurunan berat badan tetap di menjaga asupan kalori dan membakarnya.

AKTIFIN CALORY COUNTER

Ini barusan banget sih gara-gara ada diskon 50% untuk aplikasi calory counter favorit saya, Lifesum! Tapi aplikasi calory counter lain banyak ya... so, kalau mau pakai juga, silakan cari yang pas...

Aplikasi ini sendiri sifatnya lebih untuk mengontrol keseimbangan antara kalori yang masuk ke dalam tubuh dan yang kita bakar. Melalui aplikasi Lifesum ini, kita bisa menentukan target; apakah untuk menurunkan berat badang, menjaga berat badan, atau bahkan meningkatkan berat badan. Kita juga bisa memilih jenis diet yang paling pas, me-record perkembangan berat badan kita, dan banyak lagi.

Lebih dari sekedar concern tentang berat badan, Lifesum ini tujuannya sebenarnya lebih ke membantu kita me-maintain kebiasaan hidup sehat. Karena itu, selain calory counter, Lifesum juga memiliki water tracker, dan juga memberikan saran untuk menjaga keseimbangan nutrisi kita (karbohidrat, protein, dan lemak).

Oh ya, satu lagi... ini aplikasi beneran bermanfaat untuk saya yang rada obsesive compulsive ini, supaya lebih sadar diri.

***

Untuk sementara, itu yang rutin saya lakukan... Olah-raga akan sangat membantu, dan saya pun masih mencari celah dalam hari-hari saya untuk bisa olah-raga secara rutin lagi.

Dan kembali ke judul post kali ini, jika ingin disimpulkan seberapa efektif suplemen Herbilogy Slimming Kit dalam penurunan berat badan saya, hmm, saya tidak bisa tidak tahu. Tapi, satu hal yang pasti adalah bahwa peran suplemen dalam penurunan berat badan hanyalah membantu, dan tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak melakukan upaya mengurangi kalori dalam tubuh.

So, jangan berharap terlalu banyak bisa menurunkan berat badan sekedar bergantung pada suplemen tertentu, tanpa mengurangi asupan kalori dan membakar kalori dalam tubuh ya...

Kurang lebih begitu teman-teman... Semangat sehat ya!

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, October 20, 2021

Hi Again!

Omaigat, it's really been a while ga buka dashboard blog kesayangan ini, sampai-sampai ga familiar pas ngetik website-nya! Dan ternyata terakhir post itu 23 April 2021, berarti 6 bulan! Tapi jujur, saya pikir lebih lama sih, ternyata baru 6 bulan, hahaha :D

But, yes teman-teman... 6 bulan ini berjalan benar-benar (sebut saja) membingungkan. Ada banyak rasa disana, yang sedikit demi sedikit disadari, meski tidak semua rasa terbalas seperti harap yang ada. Beberapa pun mendewasakan, meski menghangatkan pelupuk mata ketika mengingatnya.

Mungkin bahkan belum sempat mengungkannya, betapa banyak rasa yang akhirnya terkuak selepas kepergian ibuk. Saat dimana saya kuat dan baik-baik saja, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Ternyata saya tidak sekuat itu, ternyata hati dan raga ini demikian berduka dan sakit karena kepergian ibu. 

Tapi, semuanya sudah sejauh ini. Mungkin beberapa rasa memang belum terbalas atau mungkin memang tidak terbalas. Rasa rindu tidak pernah hilang, mata masih selalu berair saat mengingatnya, tapi di titik ini, sedikit demi sedikit hati dan raga sudah baik-baik saja. Ada titik dimana akhirnya tersadar adanya depreasi dan psikosomatis, tapi waktu dan keterbukaan sudah meredakannya.

Let's see jika satu saat bisa cerita tentang ini juga di blog, mungkin pun ada teman-teman yang merasakan hal yang sama. Tapi bukan di tulisan ini, karena beneran ini cuma sebuah quick hi... Awalnya ini buka blog niatnya untuk nulis (sebut saja) script untuk YouTube Channel baru saya. Hoho, yes, beberapa waktu lalu saya bikin YouTube Channel yang isinya lebih ke vlog dan podcast gitu.

Nah, ngomongin soal si project YouTube ini, saya baru mulai menambah konten baru berupa podcast tentang opini dan psikologi. Sebelumnya, memang YouTube Channel ini isinya banyakan tentang vlog sehari-hari, karena emang ga ada waktunya bikin konten lain. Yes, 6 bulan ga ada ART, suami di seberang pulau, ditambah belajar online dua anak... hidup benar-benar se-hectic itu!

OK, kurang lebih gitu dulu kali ya 'quick hi'-nya... Udah lewat tengah malam, mau beres-beres, terus habis itu tidur! Hmm, besok libur by-the-way, semoga besok bisa menikmati hari yang hangat dalam rasa dan juga produktif.

Dan sebelum the end, berikut saya attach video dari Channel YouTube baru saya yang lumayan nge-hits dan sekaligus juga tipe konten yang akan saya perbanyak nantinya. Jika teman-teman suka dengan konten YouTube Channel saya, jangan lupa untuk support dengan subscribe ya...

Terima-kasih sudah mampir teman-teman, dan see you again. Last words... ternyata, menulis bisa semenyenangkan ini ya... still my favourite things to do, so semoga bisa lebih banyak nulis lagi nantinya. Bye ❤️


With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, March 7, 2021

Kulit Sensitif yang Bikin Hati-Hati

Flashback 20 tahun silam saat memasuki bangku SMA, saat jerawat mulai menghampiri wajah, semua orang (termasuk saya) berpikir kalau semua itu sepenuhnya produk dari masa pubertas. Yang akan berkurang dengan membersihkan wajah secara teratur dan menggunakan obat-obatan yang banyak beredar di pasaran... dan selanjutnya akan menghilang saat saya dewasa.

Tapi, kemudian jerawat saya sungguh tidak biasa. Hanya satu, tapi ukurannya benar-benar jumbo! Diameternya sekitar 3 cm! Dan pulihnya pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tiga bulan! Sehingga siklus itu berulang setiap tiga bulan sekali.

Seaneh itu, hingga orang-orang termasuk saya pun tidak percaya bahwa itu adalah jerawat. Tapi, ke dokter kulit mana pun, mereka selalu memberi diagnosa bahwa itu adalah jerawat. Bahwa jerawat itu jenisnya bermacam-macam, termasuk salah satunya yang jumbo seperti milik saya.

Beban tentu bukan hanya merasakan tidak nyaman secara fisik, tapi juga psikis. Merasa orang-orang memandang aneh dan juga harus menjawab pertanyaan kepo mereka yang tidak ingin saya jawab.

Keadaan seperti ini berlangsung bertahun-tahun, hingga perlahan-lahan saya menyadari karakter spesifik dari si jerawat dan mulai menyimpulkan bahwa semua ini bukan semata kesalahan hormon pubertas atau higienitas. Tapi karena kulit saya pun amat sangat sensitif.

Dan dari begitu banyak artikel yang saya baca, ini berarti harus sangat berhati-hati pada produk yang saya pakai. Suatu kandungan mungkin memang mengatasi jerawat, namun pada saat bersamaan juga menimbulkan reaksi iritasi yang melemahkan kulit. Demikian juga dengan jerawat yang muncul, pada awalnya dia berukuran kecil, namun kemudian akan membuat kulit disekitarnya meradang dan membesar sedemikian rupa.

Berurusan dengan jerawat saja sudah pusing, ditambah dengan kulit sensitif... Benar-benar cobaan besar...

Dari sanalah kemudian saya berusaha mencari tahu produk-produk penjinak jerawat yang pro kulit sensitif. Karena banyak produk yang saya coba, meskipun dengan label 'cocok kulit sensitif' tetap efeknya kurang nyaman untuk kulit, saya juga mencoba banyak bahan alami. Seperti kunyit, daun ubi jalar, jeruk nipis, sampai lidah buaya.

Sampai pada kesimpulan bahwa lendir lidah buaya adalah zat yang paling cocok untuk menenangkan kulit sensitif saya, sementara jeruk nipis sangat cocok digunakan pada saat kulit berjerawat kecil-kecil. Sehingga petualangan mencari produk dengan kandungan lidah buaya pun dimulai... yang ternyata sama sekali tidak mudah. Karena setiap produk yang sudah melalui pabrikasi pasti memiliki kandungan lain untuk mempertahankan tekstur, menjaga keawetan, dan sebagainya. Seringkali bahan tambahan ini yang tidak bisa diterima oleh kulit.

Hingga ada masa dimana saya memilih menanam pohon lidah buaya dan mengambil sarinya setiap kali membutuhkan. Saat KKN selama dua bulan pun, tak lupa saya membawa pohon lidah buaya saya dalam pot!

Sangat tidak praktis memang, dan lagi tantangan soal higienitas. Kandungan lidah buaya menenangkan kulit sensitif, tapi pas panen sampai pengaplikasian kurang higienis ya bikin jerawat juga. Karena itu, pun saya masih berusaha mencari produk dengan kandungan lidah buaya yang cocok untuk kulit. Dan lagi-lagi, itu tidak mudah...

Gonta-ganti berbagai macam produk, akhirnya baru sekitar tahun 2009 ketemu dengan produk dengan kandungan lidah buaya yang cocok untuk kulit saya.

***

Selama hampir sepuluh tahun pencarian produk yang nyaman untuk kulit sensitif sekaligus berjerawat, semua itu tidak lepas dari research pada kandungan produk yang tertera pada kemasan. Apakah pro kulit sensitif dan berjerawat.

Beberapa kandungan yang perlu dihindari pada skin care atau kosmetik untuk kulit sensitif di antaranya adalah: alkohol, parfum, Ammonium Lauryl Sulfate, Sodium Lauryl Sulfate, apricot kernels/scrub, dan sunscreens dengan mekanisme blok UV menggunakan zat kimia.

Sedangkan kandungan yang tidak dianjurkan pada skin care atau kosmetik untuk kulit yang mudah berjerawat (acne prone) adalah: parfum sintetik, minyak esensial, Sodium Lauryl Sulfate, Isopropyl Myristate dan Isopropyl Palmitate, SD Alcohol 40, Denatured Alcohol, Ethanol, dan Isopropyl Alcohol, Sodium Chloride, minyak kelapa, cocoa butter, serta algae extract.

Terdapat begitu banyak produk di pasaran dengan tag-line 'cocok untuk kulit sensitif', namun tetap saja mengecek kandungan produk dari label kemasan mutlak harus dilakukan. Dan setelah menemukan produk yang sekiranya cocok, dicoba beberapa kali untuk memastikan efeknya pada kulit kita. Yup, ini perjalanan panjang, jadi begitu mendapatkan produk yang cocok, udah lah ga mau pindah ke lain hati.

Komposisi dari salah satu produk skin care yang cocok banget dengan kulit saya dengan kandungan Aloe Vera

Komposisi dari salah satu produk skin care yang cocok banget dengan kulit saya dengan kandungan Aloe Vera

Saat ini, saya sudah menggunakan rangkaian produk dengan kandungan lidah buaya yang satu ini selama lebih dari sepuluh tahun; mulai dari pembersih, toner, krim pagi, krim malam, dan sebagainya. Ternyata, pada saat kondisi kulit kita baik, jerawat pun lebih minimal muncul dan lebih mudah pulih.

Jadi, berbicara mengenai kulit yang cantik, faktor yang paling utama adalah mengenali kondisi kulit kita dan merawatnya dengan produk yang tepat. Sehingga untuk ini, kita perlu memperhatikan kandungan di dalamnya.

Adapun produk dengan kandungan bahan alami seperti ini, selain baik untuk kesehatan kulit, pun memiliki peluang untuk memberdayakan masyarakat. Seperti halnya produsen produk ini yang menggunakan komoditas lokal untuk bahan baku utamanya (lidah buaya).

Selain itu, hal yang perlu diapresiasi adalah bagaimana produsen produk ini menerapkan program daur ulang kemasan untuk memastikan lingkungan terjaga. Dengan demikian, selain baik untuk kulit, suatu produk pun ramah lingkungan dan juga ramah sosial.

Konsep seperti ini, tentu sangat bisa diterapkan di Indonesia yang sangat kaya akan keragaman hayati, pun Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Sangat mungkin mencari lidah buaya dari petani lokal atau pun memberdayakan mereka untuk menghasilkan lidah buaya dengan standard tertentu.

Hal ini sangat sesuai dengan visi dari Kabupaten Lestari yang memiliki tag line Lingkungan Terjaga Masyarakat Sejahtera; yaitu berusaha mengoptimalkan potensi alam di Indonesia, sekaligus mensejahterakan masyarakat.


Untuk mencapai tujuan ini, maka diperlukan gotong-royong atau kerjasama dari berbagai pihak untuk dapat mengangkat komoditas lokal menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi. Misalnya dalam pengalaman saya adalah produk skin care untuk kulit sensitif dengan bahan baku lidah buaya lokal yang berkualitas tinggi.

Daerah Pontianak dikenal dengan produksi lidah buaya terbaik di Indonesia, karena lokasinya yang dekat dengan Garis Khatulistiwa. Selain juga tanaman ini pun dikembangbiakkan dibeberapa lokasi lain, seperti Yogyakarta. So, bukan hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan hal ini. Dalam hal ini, tentu dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak; mulai dari produsen, petani, hingga pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk membantu regulasi dan promosi produk tersebut.

Indonesia memiliki tanah yang begitu subur, dengan kerjasama ini, optimis kita akan bisa memproduksi produk kecantikan berkualitas tinggi dari bahan alami.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

[1]. birdie.com. (16 Februari 2020). 7 Skincare Ingredients to Avoid if You Have Sensitive Skin. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.byrdie.com/skincare-ingredients-to-avoid-for-sensitive-skin-4799891.

[2].  birdie.com. (05 Agustus 2020). 9 Ingredients Skincare Experts Want You to Avoid If You Have Acne. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.byrdie.com/acne-causing-ingredients-4845040.

[3]. viva.co.id. (21 April 2012). Pontianak Penghasil Lidah Buaya Terbaik. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.viva.co.id/arsip/306406-pontianak-penghasil-lidah-buaya-terbaik#:~:text=Vlog%20%2D%20Kota%20Pontianak%20mendapat%20gelar,Aloe%20vera%20terbaik%20di%20Indonesia.

Saturday, January 9, 2021

Thank You 2020!

Tahun ini... lagi-lagi terasa berlalu begitu cepat seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahu-tahu besok kita sudah akan merayakan pergantian tahun dan mengucapkan selamat tinggal pada tahun 2020. Woohoo!

Tapi, ada yang beda di tahun 2020 ini... tahun ini benar-benar menghajar kita habis-habisan dan memaksa kita untuk belajar begitu banyak hal untuk sekedar bertahan. Paling tidak, itu yang saya rasakan...

Bulan Agustus 2019 saya resign dari pekerjaan yang sudah memberikan jaminan finansial selama lebih dari sepuluh tahun. Sejak awal, rencana yang tersusun menekuni dunia bisnis untuk menggantikan kesibukan (dan juga income of course). Meski tidak benar-benar merasa itu adalah strength point saya, tapi tidak masalah, cukup yakin bisa menjalaninya. Hidup bukan melulu tentang passion kan? Harus realistis juga... Apalagi jika itu bisa memberikan lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang menurut saya penting. Completely worth it!

Sampai akhirnya tibalah Bulan Maret 2020 yang bersejarah itu... Literally speechless mendeskripsikan saat-saat itu. Kemudian semua orang takut keluar rumah, termasuk saya. Bukan hanya terseoknya dunia bisnis yang membuat semua menjadi berat, tapi SEMUANYA! 

Takut keluar rumah, jauh dari keluarga dan suami (literally cuma bertiga dengan anak-anak saat itu), beradaptasi dengan belajar daring, while tentu saja sangat riweuh dengan urusan domestik. Kondisi yang benar-benar menguras energi physically and mentally.

2020 tampaknya jadi tahun tentang (sekedar) bertahan... tapi, saat saya mulai merenung di penghujung 2020 ini... WOW! Ternyata saya justru merasakan begitu banyak progress di tahun 2020 ini...

Lebih mengenal diri sendiri, kekuatan dan kelemahan saya...

Well, saya selalu menyadari kecintaan saya pada dunia kreatif, especially menulis, visual things, and betweens. Tapi sebatas hobi, tidak pernah terlintas untuk menghasilkan materi dari kegiatan ini.

Sejak rencana akan resign semakin nyata, ya, saya mulai berangan-angan akan menggeluti kegiatan ini lebih serius... karena memang saya menyukainya, bukan karena mereka menghasilkan pundi-pundi uang.

Sesaat sebelum resign, saya mulai hunting mic condenser, terinspirasi dari sesi rekaman di studio yang begitu effortful karena waktu. Pengen lah cus rekaman sendiri aja kalo lagi pengen dan ada waktu. Yah, what to expect from a mother of two, right? Kegiatan tidak jauh-jauh dari antar jemput anak, kadang pertemuan orang tua, nemenin berenang, nemenin les, nemenin main, dan lain-lain.

Lalu, lahirlah debut cover pertama saya di Youtube pada 11 Oktober 2011 yang seadanya banget, all by self, dari take video dan sound - termasuk masang tripod 😂

Beberapa cover lahir setelah itu di sela-sela segala kesibukan saya... mostly sih saya take vokal pas pulang anter anak-anak sekolah, terus yang lain-lain ya seadanya waktu di sela-sela wara-wiri ke outlet juga.

Terus breakout-nya itu ya pas satu cover saya kemudian membawa saya menjadi salah satu streamer di Sessions. Not much memang saat itu, tapi ya lumayan banget karena saya suka banget memang namanya nyanyi. 

Dan bahkan semasa pandemi, disaat literally terkurung di rumah bertiga dengan anak-anak, ini salah satu hal yang 'menghasilkan' untuk saya. Demikian juga dengan menulis, yang beberapa kerjasama dan keberuntungan nyangkut jadi pemenang lomba blog semasa pandemi.

Selain itu, ya, saya tetap menekuni dunia conten creator yang ternyata juga saya suka banget karena bersinggungan erat dengan dunia menulis dan visual. 

Akhir 2020, saya tersadar bahwa memang kekuatan saya adalah di dunia kreatif yang telah membuat saya jatuh cinta bertahun-tahun lamanya. Dan, ternyata sangat tidak salah mengembangkan kapasitas kita disana, somehow itu pun bisa menjadi jalan rejeki kita.

Finally merasa mengambil keputusan terbaik untuk resign saat itu...

Jujur, pada awal pandemi, ada satu sudut hati saya yang berkata bahwa mungkin akan lebih baik jika kala itu saya menunda keputusan resign. Karena toh semua menjadi tidak pasti karena pandemi, termasuk bisnis yang kami rintis pun mengalami masa sulit. Meski, alhamdulillah saking sibuknya saat itu karena tidak ada ART, justru membuat saya tidak pnya banyak waktu untuk merenung, sehingga tidak terlalu menghiraukannya.

But, then dengan segala keyakinan hanya untuk terus bergerak dan bergerak, ya sedikit demi sedikit titik terang menghampiri. Dari rejeki yang Tuhan alamatkan kepada saya melalui kecintaan saya pada dunia menulis, menyanyi dan visual. Bukan sekedar materi, tapi manfaat dari karya-karya saya yang disampaikan bahkan dari orang-orang yang tidak saya kenal.

That is so amazing...

Dan, titik kebahagiaan itu adalah pada saat anak pertama saya mendapat rekognisi dari sekolahnya karena kreatifitasnya. Ibu-ibu pasti tahu bangganya kreativitas anaknya kemudian direpost pihak sekolah dan bahkan diwawancarai karena dinilai bisa memberi inspirasi pada anak-anak lain tentang mengisi waktu luang di masa pandemi.

That turning point mengingatkan saya salah satu alasan terbesar saya memilih resign, karena menyadari keunikan anak-anak saya dan merasa bahwa bekerja full time benar-benar tidak menyisakan energi dan sumberdaya yang cukup untuk meng-handle mereka seperti yang mereka butuhkan.

Dulu, pada suatu hari anak saya pernah berkata, "Aku kan bukan anak pinter... Juga bukan anak baik..."  Saat itu, benar-benar hancur hati saya, dan kemudian berjanji dalam hati, "Kita buktikan sama-sama ya Nak, kalo kamu anak yang hebat..." Karena saya tahu jika dia adalah anak yang hebat, hanya mungkin respon lingkungannya kurang apresiatif, sehingga dia merasa rendah diri.

Akhir 2020... saya benar-benar terharu melihat anak saya finally mendapatkan rasa percaya dirinya dan mendapat apresiasi yang layak didapatkannya.

Tetap bergerak, meski jalan yang biasa dilalui tertutup... Kadang Tuhan menuntun, tanpa kita sadari...

Ini bukan lah kali pertama saya hanya tahu bahwa harus terus bergerak, meski tujuan tampak begitu abstrak. Dan kali ini, saya kembali membuktikan bahwa terkadang Tuhan selalu menuntun kita kepada tujuan dengan caranya sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah terus bergerak dan berusaha apa yang kita bisa.

Jika lelah berlari, kita bisa berjalan... tapi jangan berhenti...

***

Yes, 2020 is huge... me personally see this year as a testing faith year. Diawali dengan optimisme, diikuti dengan big shake yang menghancur leburkan segala optimisme itu, kemudian benar-benar berjalan bergantung pada keyakinan kita, dan diakhiri dengan perasaan betapa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Exactly! Faktanya... kita tidak pernah punya kendali akan apa yang akan terjadi pada hidup kita. Berencana, berdoa dan berusaha adalah satu hal yang manusia lakukan, tapi Tuhan selalu punya rencananya sendiri.

"When we busy making our plan, God laughs..."

So, thank you 2020 untuk mengingatkan sekali lagi semua itu. Somehow, memahami semua itu membuat saya merasa lebih kuat. So, bismillah untuk 2021...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, November 3, 2020

For Our Mental Health

It's been a while, sejak terakhir post di blog ini, dan itu pun seingat saya sponsored post. Rasanya kangen juga nulis sesuatu yang mengalir begitu aja, tanpa rencana... so, here it is...

Tahun 2020 tak terasa sudah berada di ujung perpisahan. Tampaknya rencana banyak berbelok dan resolusi pun tak sempat direvisi. Walau sebenarnya jika kita lebih banyak berkontemplasi, maka akan ada banyak pelajaran akan pendewasaan di tahun ini.

Salah satu hal yang mewarnai 2020 ini adalah pertemuan dengan seorang gadis, sebut saja Saras...

Saras anak yang baik dan jujur. Selama tinggal di rumah dan membantu saya menyelesaikan pekerjaan rumah, mau ada duit ketinggalan di kantong berapa pun, selalu diserahkan pada saya. Hanya saja, ada beberapa hal yang akhirnya membuat saya menyerah dan memilih move on...

Saras memiliki masa lalu dan masa kecil yang (mungkin) membentuknya menjadi pribadi yang sulit tersentuh. Hal ini sudah saya ketahui dari awal, dan justru hal ini lah yang akhirnya membuat saya sedih saat harus melepasnya. 

Sejak awal mendengar kisahnya, dalam hati saya tumbuh sebuah keinginan untuk membantunya keluar dari tempurungnya, 'menjadi seorang yang lebih adaptif'. Namun, setelah tujuh bulan bersama, berusaha memahaminya, termasuk memaklumi kekurangannya, berusaha membantunya menemukan insight agar menemukan tujuan hidup yang menguatkan hatinya... akhirnya saya harus mengakui jika saya gagal demi kesehatan mental saya.

Tujuh bulan memaklumi cara kerjanya yang sesungguhnya tidak sesuai dengan ekspektasi saya, ketidakpeduliannya pada anak-anak, dan juga kekerasan hatinya untuk menerima masukan; cukup membuat saya merasa lelah. Saya tidak akan mengatakan bahwa Saras tidak mengerjakan tugasnya karena dia memang melakukannya, hanya saja sesuai keinginannya sendiri.

Setrikaan rapi kok dikerjakan, tapi setelah ditumpuk seminggu lebih, bahkan saat saya sampai sudah kehabisan pakaian dalam dan berkali-kali minta padanya. Pada saat saya akhirnya lelah menegur dan bilang, "Ini terakhir kali saya negur soal setrikaan ya... tolong dong, maksimal tiga hari sudah diberesin..."

Cucian piring diberesin kok, tapi mostly hanya sekali sehari, yaitu pagi... Saya ga ngerti kenapa sore tidak dicuci piringnya? Kenapa harus ditumpuk? Padahal saya pun sudah pernah menegurnya...

Dan banyak lagi... Namun yang membuat saya sangat kecewa adalah pada saat saya meninggalkan anak-anak ke Jogja bersamanya dan nenek pengasuh kami dulu. Kemudian saya mendapati bahwa dia seringkali meninggalkan tugasnya, tenggelam dalam dunia maya. Boro-boro nyamperin anak-anak, pekerjaan rutin pun banyak terlewatkan... Saya kecewa sekali.

Kemudian pada saat akhirnya merasa harus melanjutkan hidup dengan ritme yang seharusnya - karena saya merasa banyak ngerem untuk mengikuti ritmenya. Ya gimana, selain 'makan ati' secara psikologis, beberapa pekerjaan masih saya kerjakan sendiri, seperti membersihkan kamar mandi, buang sampah, dan sebagainya. Bukannya ga dikerjain, tapi daripada ngomel terus, nyuruh terus - ya mendingan saya kerjain sendiri. 

Dalam pikiran saya, jika dia tidak berinisiatif mengerjakan setelah pernah saya sampaikan, berarti dia sedang sibuk. Saya ingin memberinya waktu untuk banyak berkontemplasi dan berpikir. Mungkin juga untuk belajar, karena dia pernah cerita sedang belajar bahasa asing. Tapi, pada saat tahu bahwa keleluasaan waktu yang dimilikinya itu ya untuk bermain game, duh, benar-benar kesal campur kecewa ga sih?

So, finally saya memilih move on. Yang saya yakini untuk kebaikan saya dan kebaikannya. Untuk kesehatan mental kami berdua...

Saya merasa lingkungan yang saya berikan padanya tidak cukup kondusif untuk membuatnya 'menyembuhkan diri'. Mungkin saya terlalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan saya. Sementara saya, pun harus melanjutkan hidup, kembali berlari setelah beberapa saat melambatkan gerak untuk mengikuti ritmenya.

Sedih rasanya saat melepas Saras terakhir kali hari ini, tapi saya rasa itu lah yang terbaik. Semoga Saras dapat memetik hikmah dari waktu tujuh bulan bersama kami. Juga kemudian menemukan lingkungan yang lebih baik untuk pengembangan kepribadiannya.

Demikian juga dengan saya, semoga kemudian merasa lebih tenang setelah mengambil keputusan ini. Semoga segera dipertemukan dengan asisten yang sayang dan perhatian pada anak-anak dan bisa saya ajak 'lari'.

Kejadian ini pun... kemudian mengingatkan saya pada beberapa orang terdekat yang meskipun saya sudah berusaha dengan begitu keras, tetap tidak bisa membantunya menjadi sosok yang lebih 'sehat' secara psikologis. Bahwa kunci dari merubah diri adalah hati kita sendiri. Sehingga sekeras apapun orang lain berusaha membantumu, jika hatimu bukan yang menginginkannya, maka semua akan percuma saja. 

Itu yang pertama... dan yang kedua adalah manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan. "When we busy making our plans, God laughs."

But, at least I try. Dan meskipun saya gagal, paling tidak ada hal yang mendewasakan saya atas kejadian ini.

Dan untuk Saras, doa dari hatiku yang terdalam untukmu. "Kamu seorang gadis yang cerdas. Jangan sampai kecerdasanmu menjadi boomerang bagi dirimu sendiri. Membuatmu sulit menerima pendapat orang lain yang sesungguhnya baik untukmu. Hanya karena kamu merasa dirimu yang paling benar."

"Semoga kamu menyadari bahwa setiap kepala sesungguhnya memiliki 'kebenaran' menurut versi mereka masing-masing. Dan karena itu, kadang kebenaran itu bukanlah hal yang terpenting, namun perasaan orang lain. Jadi, sebelum begitu keukeuh dengan versi kebenaran yang kamu percayai, pikirkan perasaan orang lain. Terkadang kita tidak perlu begitu keras mempertahankan atau memaksa orang lain memiliki pendapat yang sama dengan kita."

Saat kita hidup bersama orang lain, kita harus saling memahami satu sama lain... percayalah...

Yah, kurang lebih seperti itulah cerita hari ini 

Tuesday, June 30, 2020

LDR di antara Penerbangan dan Pandemi COVID-19

Saya: "Papa, aku barusan ganti regulator gas lho… Kemarin kan bocor, udah diutak-atik ga bisa, jadi aku beliin deh hari ini…"

Suami: "Wah, hebat! Bisa ya ternyata…"

Saya: "Oh iya dong, aku ini apa-apa juga sebenarnya bisa…"

Suami: "Ya udah lah, kalo bisa… berarti ga usah pulang ya…"

Saya: "Iih… kok gitu…"

***

Wakakak… tenang, ini cuma becandaan kok…

Jadi, ceritanya semenjak pandemi COVID-19 pada bulan Maret 2020 lalu, saya yang tinggal di Lampung dan suami yang bekerja di Kalimantan terpaksa menjalani Long Distance Relationship (LDR) yang sangat panjang. Hampir empat bulan!


Seperti yang kita ketahui, pada saat pandemi merebak ada masa dimana bandara dan pelabuhan ditutup untuk transportasi pribadi. Meskipun, sepertinya sih jika dibuka kami pun akan pikir ribuan kali untuk melakukan perjalanan jauh, karena kondusi yang sangat tidak kondusif.

Lalu, emang sekarang sudah kondusif? Kok sudah pulang?

Hmm, yah seperti yang kita tahu, pertambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia saat ini masih 1000-an setiap harinya. Sama sekali belum bisa dibilang menurun…

Namun, dengan mempertimbangkan kondisi psikologis kami sekeluarga, terutama anak-anak yang kala itu sudah mengalami episode mimpi buruk, ngelindur panggil-panggil nama papanya… Akhirnya dengan mengamati protokol kesehatan dan keamanan penerbangan pasca pandemi, suami pun memutuskan untuk pulang ke Lampung pada saat mendapatkan jatah Work From Home (WFH) luar kota.

Jadi, bagaimana sih prosedur penerbangan domestik di luar kota selama pandemi saat ini?

Salah satunya adalah Surat Kesehatan dengan hasil tes bebas COVID-19 dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Surat kesehatan dengan hasil rapid test non-reaktif berlaku maksimal 14 hari sejak diterbitkan oleh fasilitas kesehatan. (Khusus penerbagan ke Biak hasil rapid test berlaku 7 hari sejak diterbitkan oleh fasilitas kesehatan).
  • Surat kesehatan dengan hasil tes PCR/Swab negatif berlaku maksimal 14 hari sejak diterbitkan oleh fasilitas kesehatan.
Yes teman-teman… untuk bisa melakukan penerbangan ke luar kota, maka suami pun harus memiliki surat kesehatan tersebut. Meskipun rapid test sendiri sesungguhnya akurasinya belum cukup untuk mendiagnosa COVID-19 bagi seseorang, namun paling tidak dapat melakukan filter, sehingga kondisi kesehatan penumpang lebih terjamin.

Nah, karena itu lah, beberapa hari sebelum terbang, suami sudah melakukan rapid test dan juga setiba di Lampung pun untuk persiapan terbang tujuh hari kedepan.

Oh ya, teman-teman perlu melakukan rapid test COVID-19 juga? Bisa cek lokasi covid test terdekat melalui internet ya…

Saat ini, segala informasi kesehatan memang sudah sangat mudah kita dapatkan melalui berbagai media, termasuk internet. Dan salah satu situs dan aplikasi yang sangat membantu berkaitan dengan hal ini adalah Halodoc yang memberikan berbagai jenis informasi kesehatan; mulai dari konsultasi dengan dokter, mencari dokter yang tepat, rumah sakit, membeli obat, dan bahkan informasi mengenai COVID-19.

Beneran lho Halodoc ini membantu sekali… Jadi, suatu ketika pernah suami demam dan periksa ke dokter dengan kondisi yang menggigil parah. Dasar saya, karena waktu itu buru-buru, langsung saja saya tebus obatnya ke apotek… yang ternyata ngantri parah dong…

Lalu, sembari nunggu saya liat ada booth Halodoc di sebelah apotek rumah sakit, jadi saya tanya-tanya lah ke mbak penjaganya. Dan ternyata, saya sebenarnya bisa menggunakan jasa mereka untuk menebus obat kami. Jadi kami hanya perlu membayar sesuai nilai resep dan ongkos kirim, serta selanjutnya cukup menunggu di rumah karena obat akan dikirimkan melalui Ojek Online. Praktis banget kan!

Tapi, ya itu tadi, berhubung udah buru-buru… resep sudah terlanjur diantrikan secara manual dan saya terpaksa harus menunggu antrian… Lesson learned lah…

***

Dan kembali ke COVID-19 dan pasangan yang menjalani LDR… yes, ini beneran tantangan baru. So, sebagai salah satu pelakunya, saya sungguh berharap pandemi ini segera berakhir. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan ya dengan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, menjaga kondisi tubuh, dan tentu saja mengurangi mobilitas di luar rumah *hmm, ini masuk ke dalam poin portokol kesehatan juga kali ya…

OK lah… demikian cerita ngalor-ngidul saya kali ini. Semoga bisa sedikit memberi gambaran mengenai kehidupan LDR selama pandemi yang otomatis lebih jarang ketemu dan harus gesit mencari lokasi tes COVID-19 ya… Hahaha… *ketawa tragis 😅

With Love,
Nian Astiningru
-end-

Tuesday, December 10, 2019

The Whole Brain Child #4: Mengintegrasikan Memori Implisit dan Eksplisit

Halo teman-teman… It's been a while banget ya dari tulisan terakhir review dari buku 'The Whole-Brain Child' yang saya niatkan akan dipost di blog ini. Huhu, maafkan lah ya, ternyata menjadi 'self-employeed' itu banyak tantangannya, apalagi kalau punya banyak keinginan kaya saya. Oh ya, saya baru saja relaunching Youtube Channel saya lho, akan sangat senang sekali kalo teman-teman subscribe DISINI ya…


OK, sebelum jadinya curhat, kita langsung aja ke bab tiga buku 'The Whole-Brain Child' ini ya…

Nah, setelah di dua bab sebelumnya kita membahas tentang otak bagian depan, belakang, atas, dan bawah; maka pada bab ini dibahas mengenai memori dan hipocampus sebagai 'PIC'-nya.

Mitos Tentang Memori

Selama ini, mungkin pemahaman kita mengenai memori adalah sesederhana bahwa memori adalah semacam file mental yang tersimpan rapi dalam otak kita atau bahkan memori itu adalah hasil foto copy dari keadaan atau situasi yang kita alami.

Namun, ternyata memori adalah hal yang lebih kompleks dari itu…
  • Memori adalah asosiasi dimana otak memproses sesuatu saat ini dan menghubungkannya dengan pengalaman serupa di masa lalu. Atau singkatnya, memori adalah keadaan dimana suatu kejadian di masa lalu mempengaruhi kita di masa kini.
  • Memori terdistorsi baik sedikit atau banyak (bukan sebuah gambaran identik seperti foto copy), dimana keadaan pada saat kita menyimpan atau me-recall memori akan mempengaruhi bagaimana gambaran memori tersebut.

Memori Implisit dan Eksplisit

Bayangkan memori tentang bagaimana kita mengganti popok anak kita. Jika kita adalah seorang ibu yang sebelumnya sudah terbiasa menggantikan popok anak-anak kita, kemudian langkah-langkah mengganti popok tentu adalah hal yang otomatis. Kita bahkan tidak sadar proses me-recall memori ini. Inilah yang disebut sebagai memori implisit.

Namun, bayangkan jika anak-anak kita sudah dewasa. Saat kemudian kita mengganti popok anak kerabat kita, langkah-langkahnya mungkin otomatis; namun mungkin ada saat dimana kita tercenung mengingat bagaimana kita begitu gugup pada saat mengganti popok pertama kali dulu. Inilah yang disebut dengan memori eksplisit.
Sederhananya sih saya menyebut memori implisit itu adalah memori yang tidak kita sadari, sedangkan memori eksplisit adalah memori yang kita sadari.
Dan kenyataannya hingga 18 bulan pertama hidup kita hanya memori implisit lah yang terbentuk, baru kemudian selanjutnya otak kita mampu membentuk memori eksplisit.

Itu kenapa kita ga bisa ingat bagaimana rasanya hidup di dalam rahim ibu kita, atau sewaktu dilahirkan, bagaimana nyamannya digendong sampai tidur oleh ibu kita, dan sebagainya. Tapi, saya percaya bahwa pengalaman-pengalaman itu sesungguhnya ada tanpa bisa kita sadari.

Priming

Memori implisit, namun demikian (tidak kita sadari) membentuk ekspektasi kita tentang bagaimana sesuatu harus berjalan berdasarkan pengalaman kita sebelumnya.

Misalnya nih, kaya anak saya Mahesh yang sejak kecil setiap kali saya akan berangkat kerja selalu 'da-da' dulu. Nah, suatu kali dia saya tinggal sedang tidur siang, bangun-bangun langsung anaknya nangis kejer karena saya ga ada dan dia belum 'da-da'. Sampai-sampai, ya kalau memang dia mau tidur siang dan saya mau pergi, sebelum terlelap tidur, kami 'da-da' dulu…

Kondisi ini (memori implisit) ini juga yang membuat otak bersiap-siap melakukan respon tertentu sesuai kebiasaan, dan inilah yang dinamakan 'priming'.


Misalnya pada saat seorang anak dikritik pada saat bermain piano, kemudian dia menjadi tidak nyaman; jika hal ini sering dilakukan, maka selanjutnya otak pun akan merasa tidak nyaman untuk bermain piano. Dan akhirnya si anak pun tidak suka bermain piano, karena otaknya terbiasa dengan pola bahwa bermain piano akan menimbulkan kritik dan perasaan yang tidak nyaman.

Mengintegrasikan Memori Implisit dan Eksplisit

Yup, demikianlah permasalahan dari memri implisit, terutama pada pengalaman yang tidak nyaman atau bahkan menyakitkan; yaitu pada saat kita tidak menyadarinya, maka dia akan tertimbun dan membatasi atau melemahkan kita secara signifikan.
Kejadian negatif, meskipun tidak kita sadari bisa menimbulkan ketakutan, kesedihan, penolakan dan emosi negatif serta sensasi pada tubuh.
Hal ini misalnya terjadi pada saat Ganesh takut untuk dicabut giginya beberapa waktu lalu. Waktu itu, beberapa kali Ganesh selalu kesulitan mengendalikan reaksinya pada saat dokter gigi akan mencabut giginya. Dia jelas paham bahwa dicabut gigi itu tidak akan terlalu sakit, dia pun sudah duduk dengan kemauannya sendiri di meja tindakan. Namun, begitu dokter hendak mengambil giginya, langsung tangannya bergerak menahan tangan si dokter.

Disitu jelas ada sesuatu pengalaman yang membuatnya ketakutan meskipun tidak disadarinya.

Baca juga:

Nah, bagaimana membantu anak dengan masalah ini adalah dengan membuatnya meyadari memori implisit ini dan membuatnya menjadi eksplisit. Jadi, jangan dilupakan, tapi diintegrasikan…

Menyadari suatu pengalaman akan membuat kita memahami apa yang terjadi, sehingga mampu mengendalikan peikiran dan perilaku kita.

Dalam kasus di atas, karena Ganesh pun tidak meyadari kejadian apa yang membuatnya takut cabut gigi, akhirnya saya pun mengajaknya membayangkan langkah-langkah cabut gigi yang harus dihadapinya. Mulai dari menunggu, masuk ke ruang dokter, bau ruangan dokter, ngobrol dengan dokter, duduk di meja tindakan, dan seterusnya. Hingga akhirnya Ganesh pun berani dicabut giginya kembali…

Oh ya, tapi sebelum kita over analisa ketika anak menunjukkan gejala semacam priming, kita perlu melakukan kroscek tentang kondisi anak. Apakah anak sedang lapar, marah, kesepian atau lelah (HALT = Hungry Angry Lonely or Tired). Dan jika memang demikian, maka kita perlu menunggu hingga kondisi anak siap untuk kita ajak mengobrol tentang kondisinya.

Teknik Mengintegrasikan Memori Implisit dan Eksplisit

Sebelumnya kita telah membahas strategi dari Buku The Whole-Brain Child ini sampai dengan strategi kelima, dan berikut adalah dua strategi berikutnya:

#6: Replaying memories atau mengajak anak menceritakan apa yang dialaminya

Mengajak anak bercerita sesungguhnya adalah cara untuk membantu anak menyadari pengalaman atau memori implisit yang tidak disadarinya, terutama pengalaman negatif… karena adanya kecenderungan kita untuk melupakan atau mengabaikan ingatan yang membuat kita merasa tidak nyaman. Padahal, ingatan (negatif) itu ibarat kepingan puzzle yang tetap harus disadari agar kita bisa memahami keseluruhan cerita.

Nah, salah satu trik supaya anak-anak merasa lebih nyaman bercerita adalah dengan menganalogikakan proses bercerita ini sebagai DVD Player, dimana mereka bisa play, pause, fast forward (saat ada cerita yang membuat kurang nyaman) dan rewind untuk cerita yang perlu diperjelas detailnya.

Cara ini bukan sekedar bertujuan agar kita mendapatkan informasi mengenai permasalahan yang dialami anak, tapi juga untuk membantu mereka menyadari permasalahan yang dialaminya. Karena itulah, anak perlu bercerita sedetail mungkin hingga mendapatkan insight mengenai hal yang membuatnya merasa tidak nyaman.

#7: Mengingat untuk mengingat

Faktanya, setiap kejadian yang kita alami sesungguhnya akan menjadi memori, baik memori yang disadari (eksplisit) maupun memori yang tidak disadari (implisit). Dan untuk menjadi pribadi yang sehat secara mental, sebisa mungkin kita harus menyadari memori yang ada dalam diri kita. Itu kenapa, mengingat apa saja kejadian yang telah kita alami menjadi hal yang sangat bermanfaat.

Untuk itu, kita bisa membantu anak-anak kita untuk membiasakan hal ini dengan merangsang anak-anak untuk menceritakan pengalamannya. Bukan sekedar bertanya, "Bagaimana sekolahnya hari ini Kak?" tapi lebih spesifik, seperti pertanyaan "Apa hal menyenangkan yang terjadi hari ini?" dan "Apa hal yang menyebalkan hari ini?" Sehingga akan merangsang mereka untuk mengingat pengalamannya secara detail.

Atau, bisa juga dengan mengajarkan mereka menulis diari atau jurnaling… Yaitu menuliskan pengalaman dan perasaannya secara rutin.

Yup, tips terakhir ini saya sudah praktekkan pada diri saya sendiri kala remaja. Menulis diari itu somehow membuat saya lebih menyadari dan memahami kejadian dan apa yang saya rasakan karenanya. Juga membantu saya mendapatkan berbagai insight akan kejadian-kejadian itu…

Untuk Para Orang-Tua

Fiuh, membaca chapter ini sebenarnya mengingatkan saya pada banyak hal, seperti istilah 'inner child', juga pengalaman survive Dave Pelzer yang abused di masa kecilnya bahwa kebencian seringkali membuat kita menjadi persis sama seperti orang yang kita benci…

Yup, sebagai orang-tua pun kita harus menyadari bahwa perilaku kita tidak lepas dari memori kita, puzzle yang mungkin belum lengkap pada masa lalu kita. Kenapa kita mudah marah dan emosional pada kejadian tertentu dalam pengasuhan anak, sangat mungkin itu adalah bagian dari memori implisit kita yang belum kita sadari… Mungkin itu adalah mekanisme priming yang timbul akibat pengalaman negatif kita di masa lalu…

Itu kenapa, sebagai orang-tua, jika kita menyadari ada sesuatu yang salah dengan perilaku atau kondisi emosional kita, kita pun perlu berusaha menggali pengalaman-pengalaman negatif yang pernah kita alami… mengangkatnya ke alam sadar dan berdamai dengannya, sehingga tidak mempengaruhi kita secara negatif.
Bahkan jika kita pun dulu mengalami pengasuhan yang meninggalkan memori negatif, kita pun bisa memutus rantai itu supaya tidak berlanjut pada anak kita nantinya.
Don't worry, ini hal yang manusiawi kok… Bukan artinya kita lemah, tapi justru kekuatan itu berasal dari penerimaan akan hal buruk yang pernah kita alami. Well, you can relate when you ever in a bad childhood before…

***

Yash, kurang lebih seperti isi dari buku ini… alhamdulillah masih bisa konsisten ya meskipun lambat progressnya.

Dan penutup akhir… semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman semua ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Sunday, October 13, 2019

My Pay It Forward Project #2: PAUD STAR

Seperti namanya 'My Pay It Forward Project' yang saya maksud sebenarnya adalah sebuah proyek meneruskan kebaikan yang pernah saya terima kepada orang lain. Dan dalam hal ini adalah spesifik mengenai kesempatan saya dapatkan untuk menjadi seorang individu yang lebih baik secara psikologis.


Yah, seperti yang seringkali saya ungkapkan, saya ini memiliki masalah psikologis pada masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa awal. Sesuatu yang tampak dari luar sebagai sikap pemalu dan tidak percaya diri yang akut. Sementara saya sendiri merasa sebagai seorang yang takut melakukan banyak hal, sulit berinteraksi dan bergaul dengan orang lain, dan juga merasa tertekan dengan lingkungan dan juga diri saya sendiri.
Sadar sepenuhnya ada sesuatu yang salah pada diri saya, namun tidak bisa memperbaikinya; juga lingkungan keluarga yang 'tidak kondusif'… itulah akar dari stress dan depresinya saya kala itu.
Dan… singkat cerita kemudian perjalanan hidup membawa saya kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Gadjah Mada pada tahun 2003. Yang sebenarnya membuat saya semakin tertekan pada awalnya, karena sejak awal merasa tidak cocok dengan karir yang menuntut banyak interaksi dengan orang lain.

Ya kan waktu itu milih jurusan Psikologi semata sebagai pilihan dari rumpun IPS karena saya memilih mengambil jalur IPC dengan alasan peluang masuk lebih tinggi karena pilihannya tiga kan. Yah, kalo dipikir pelajaran IPS aja antipati banget jaman dulu, sebenarnya meski pilihan lebih banyak juga kan… Tapi, ya mungkin jalan nasib tadi, kok ya malah keterimanya di jurusan itu…

Dan singkat cerita yang sebenarnya berdarah-darah… hal di luar rencana itu akhirnya mempertemukan saya dengan banyak ilmu, kesempatan, dan orang-orang untuk mengenal diri saya lebih dalam… berdamai dengannya dan menjadi pribadi yang lebih sehat. Disitu kemudian terbersit keinginan saya untuk meneruskan kebaikan Tuhan itu pada orang lain yang mungkin tidak memiliki kesempatan seperti saya. 
Saya ingin meneruskan insight yang saya dapatkan pada orang-orang di sekitar yang tidak punya kesempatan itu. 
Kemudian… proyek ini pun terealisasi pertama kali pada tahun 2015 saat saya mendapat kesempatan mengisi acara arisan istri karyawan suami. And it's been a while… sejak kali pertama itu dan niatan saya tersimpan menjadi harapan karena tidak memiliki waktu untuk merealisasikannya kembali. Hingga akhirnya selepas resign pada Agustus 2019 lalu, kesempatan itu hadir kembali.

Sebenarnya rencana untuk mengisi acara pertemuan orang-tua di sebuah PAUD STAR CSR dari PT PLN (Persero) UPK Tarahan ini adalah wacana lama. Tapi, karena kesibukan kemudian mengalami delay panjang hingga kurang lebih 4 tahun.

Baca juga:

Ga ada kata terlambat kan ya… jadi meski ter-delay sekian lama, sungguh tidak mengurangi rasa syukur saya akhirnya bisa kembali berbagi pada banyak orang-tua dengan harapan mereka mampu memberikan lingkungan yang lebih kondusif untuk perkembangan anaknya.

Singkat cerita, saya berharap anak-anak ini tidak perlu mengalami kondisi seperti yang saya alami…

Mini Parenting Seminar di PAUD STAR

Setelah malamnya begadang nyiapin booklet untuk seminar, pagi jadi lumayan berat. Udah bangun pagi masih ngantuk, eh persiapan juga jadi ga smooth karena efek sambel hari sebelumnya yang membuat bolak-balik ke kamar mandi. Saya pun terlambat datang ke acara sekitar 15 menit, yang untungnya sih disiasati dengan menukar rapat wali murid di depan sebelum acara saya. Syippp…


Dan, karena udah telat… ya udah ga pake ba-bi-bu begitu masuk, pembawa acara langsung mempersilakan saya memulai sharing. Wokee… siapp…

Begitu materi diberikan, saya pun meminta para peserta mengisi kuesioner yang ada untuk mendapatkan gambaran kepribadian mereka. Sengaja ga pake teori-teori yang ribet, saya pakai aja teori yang sebenarnya kurang populer bernama The Color Code, yang menurut saya mirip-mirip dengan Personality Plus. Baik dari strukturnya yang membagi kepribadian menjadi empat golongan dan juga kesederhanaannya untuk dipahami.



Selanjutnya, kami membahas masing-masing tipe kepribadian, meliputi karakteristik dan juga bagaimana cara yang tepat untuk memperlakukan mereka… The dos and the donts… Dan secara khusus bagi anak-anak, bagaimana perlakuan yang tidak tepat akan membuatnya tidak dapat berkembang dengan optimal secara psikis dan juga mengembangkan potensinya.

Dan yang menyenangkan itu, bagaimana antusiasnya peserta yang kebetulan semua ibu-ibu ini dalam sesi diskusi dan sharing. Bagaimana mereka menanggapi penjelasan saya, dengan bersemangat berceletuk karena merasa sesuai dengan kondisi yang sering mereka alami, sampai bertanya mengenai permasalahan-permasalahan mereka.

Bagi saya, ini benar-benar membahagiakan… Saya mungkin bukan seorang expert, namun bagi mereka yang mungkin tidak memiliki akses untuk mendapatkan informasi terkait psikologi dan berdiskusi langsung, dari antusiasme mereka, saya tahu apa yang saya berikan insyaallah bermanfaat untuk mereka.

Sejak awal, saya resign saya pun pernah mengungkapkan pada suami kalau saya ingin kembali melanjutkan program charity seperti ini. Sebagaimana janji saya dulu sekali bahwa saya ingin meneruskan insight dan kebaikan yang saya terima kepada orang lain. Pada orang-orang yang mungkin tidak mendapatkan akses yang cukup luas untuk pengetahuan mengenai psikologi, terutama mengenai psikologi anak. Seperti halnya kedua orang-tua saya dulu, yang tidak menyadari keunikan kepribadian saya sehingga pada akhirnya tumbuh menjadi remaja yang kurang sehat secara psikologis.

Makanya, saya terharu sekali saat para pengajar di sana memberikan saya bingkisan padahal sejak awal sudah saya tegaskan bahwa ini gratis. Saya emang pengen kok dan merasa bahagia dengan membantu orang-orang yang membutuhkan. So, jika ada sekolah atau komunitas lain yang notabene tidak memiliki akses karena kendala biaya dan sebagainya memang membutuhkan informasi semacam ini, saya welcome sekali untuk diundang jika waktu memungkinkan.

Hihi, tuh sampai di bold ya… soalnya bagi saya ini memang adalah kebahagiaan tersendiri untuk bisa memberikan sesuatu pada masyarakat yang membutuhkan.


And at last… semoga apa yang saya sampaikan benar-benar membawa manfaat bagi ibu-ibu orang tua murid di PAUD STAR ya… Juga untuk anak-anak yang masih belia ini, semoga kemudian bisa mendapatkan ruang tumbuh yang lebih baik dan kondusif untuk mengembangkan potensi-potensi mereka. Amiiin.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, September 19, 2019

Pengalaman Merawat Anak Muntaber dan Dehidrasi di Rumah

Weekend ini, rencana liburan memang belum tersusun jelas… hanya terselip rencana bahwa sore saya akan arisan ke sebuah resto yang ada kolam renangnya, sehingga suami berencana pun mengantar dan membawa anak-anak untuk sekalian berenang.

Sampai akhirnya, sore hari sepulang melayat dan anak-anak pulang dari main, kok dikabarin bude kalo barusan Mahesh muntah-muntah banyak dan badannya jadi agak demam… Duh, fixed ini, segala rencana buyar dan saya pun sibuk nungguin Mahesh yang jadi super manja kalau lagi sakit.

Baca:

Benar-benar seharian saya nungguin dia tidur, karena anaknya suka kebangun dan minta minum atau sekedar minta saya ngelonin. Huhu, bukan ga ikhlas, tapi sungguh gempornya nungguin sambil mikirin kerjaan-kerjaan yang belum beres itu bikin jenuh juga. Pikiran saya terbang kemana-mana dan teringat kejadian serupa sekitar 6 tahun yang lalu saat Ganesh mengalami muntaber parah hingga dehidrasi sedang.

Waktu itu, usia Ganesh masih menjelang 2 tahun dan kami masih tinggal di sebuah kota kecil (sekali) bernama Muara Enim. Yang rumah sakitnya cuma ada dua, dan yang satu malahan ga ada dokternya, terus satunya lagi kamarnya penuh.

Duh, sukses bikin kami stress tingkat tinggi… sampai-sampai saya dan suami bertengkar karena sama-sama pusing dan panik. Saya berusaha tenang untuk merawat Ganesh di rumah; sementara suami saking khawatirnya tetep keukeuh Ganesh harus masuk rumah sakit dan diinfus karena memang sudah lemes banget dan setiap minum langsung muntah.

Dan terkenang paniknya kami, kok jadi kepikiran untuk berbagi informasi ini pada kawan-kawan semua… Siapa tahu bermanfaat… So, kita mulai saja ceritanya ya… 

Kondisi Ganesh dan Diagnosa Dokter

Seperti yang saya ceritakan di atas, kala itu kondisi Ganesh sudah lemas karena berak cair berkali-kali dan muntah setiap kali makan atau minum. Anaknya sudah menampakkan gejala dehidrasi, seperti ingin minum terus-menuerus dan juga lemas. Yang ternyata pada saat kami bawa ke dokter, beliau mengatakan bahwa Ganesh mengalami muntaber yang mengakibatkan dehidrasi sedang.

Yup, 'sedang' kawan-kawan… belum berat, karena pada saat kulitnya ditekan masih kembali dengan cepat.

Menurut dokter, kondisi seperti ini memang lebih baik dirawat di rumah sakit dan dibantu infus… Tapi, berhubung rumah sakit penuh dan cuma ada kelas satu kamar isi 6 orang, yang menurutnya tidak baik untuk anak-anak, dia menyarankan untuk di rawat di rumah saja tapi tetap siaga.

Kemudian dokter meresepkan beberapa obat, menyarankan untuk menjaga asupan cairan, melarang minum susu dulu, dan memperbanyak istirahat untuk mempercepat pemulihan.

Sesuatu yang kedengarannya sederhana, tapi lumayan bikin tegang juga… karena dari 'sedang' akan menjadi dehidrasi 'berat' dengan cepat jika penanganan tidak berhasil… Apalagi ini batita, masih susah diatur buat minum obat, minum sedikit, dan sebagainya kan. Jadi, ya memang sedikit deg-degan juga…

Perawatan Ganesh di Rumah

Waktu itu, karena tidak mendapatkan kamar, kami sempat menelepon seorang teman yang bekerja di RS tersebut dengan harapan bisa dibantu untuk mendapatkan kamar. Namun, apa mau dikata, kamarnya memang benar-benar tidak ada, jadi kami tetap harus kembali ke plan B untuk merawat Ganesh di rumah saja.

Nah, teman kami (Tante Euis) ini lah yang kemudian menyempatkan diri menjenguk Ganesh di rumah, memeriksanya dan memberikan saran-saran bagaimana merawatnya.

Secara beliau ini kan perawat ya, sudah pasti biasa menangani kasus-kasus muntaber seperti ini… jadi tidak perlu diragukan lah ya validitas saran-sarannya, sehingga kami pun cukup percaya diri merawat Ganesh yang waktu itu perutnya sampai tipis banget saking setiap kali makan dan minum langsung muntah.

Nah, beberapa poin yang diajarkan pada kami oleh Tante Euis terkait penanganan pasien muntaber yang kami terapkan pada Ganesh adalah sebagai berikut…

➤ Memberikan air sedikit-sedikit secara berkala

Yup, inti dari perawatan kasus seperti muntaber seperti Ganesh adalah kesabaran. Anaknya memang memiliki hasrat untuk minum yang sangat tinggi, tapi kita tidak boleh serta merta menurutinya, karena justru akan menimbulkan mual dan muntah.

Karena itu, sebagaimana saran Tante Euis, saya memberikan cairan kepada Ganesh hanya 1 sendok makan saja setiap kurang lebih 5 menit.

Anaknya masih kecil kala itu, jadi pada saat terbangun langsung saya gendong dan ditelatenin diberi air putih setiap 5 menit sebanyak 1 sendok makan.

Benar-benar harus sesabar itu dan buang jauh-jauh yang namanya ambisi supaya anak minum banyak agar cepat sembuh. No… no… Fokus kita sekarang adalah berusaha memasukkan dan mempertahankan sebanyak mungkin cairan dalam tubuh anak, sembari dia recovery dan semakin kuat untuk menerima lebih banyak air.

Dokter sempat bilang, kalau cairan adalah hal yang sangat utama bagi manusia daripada makanan. Anak-anak bisa tahan tidak makan seharian (atau lebih), tapi dua jam saja kekurangan cairan akan langsung mengalami demam.

Jadi, kalo soal makan sih memang kami tidak terlalu merasa urgent untuk pemuliah pertama ini… Kalau anaknya pengen makan pun, ya kami berikan yang ringan-ringan saja macam biskuit marie. Baru beberapa saat setelah kondisi membaik, kami cobakan makan nasi sesendok atau dua sendok saja.

Oh ya, by the way… untuk kasus Mahesh, karena anaknya minta makan buah terus, setelah browsing artikel dari theasianparent.com, kami mencoba memberikan apel dan pisang yang alhamdulillah buah ini cukup ramah untuk perutnya dan tidak dimuntahkannya. Tapi, tetap ya, dengan jumlah kecil terlebih dahulu.

➤ Meminumkan obat pengurang mual dan obat yang diresepkan

Waktu itu, dokter meresepkan obat pengurang mual untuk Ganesh yang harus diminum beberapa kali sehari sebelum minum atau makan. Tujuannya, ya tentu saja supaya cairan atau makanan yang kita berikan tidak dimuntahkan lagi. Dan, ini cukup membantu kok… meski tetap ya, minum atau makannya harus dalam jumlah kecil tapi sering.


Satu lagi, Lacto-b… ini saya lupa sih memang diresepkan atau beli sendiri atas saran seorang teman. Yang saya baca sih Lacto-b ini adalah probiotik berbentuk bubuk yang berfungsi utama untuk mempercepat penyembuhan diare pada anak-anak. Dan untuk kasus Ganesh maupun Mahesh, memang serbuk dalam kemasan sachet kecil ini cukup membantu menguragi diare mereka.

Dulu, pertama kali yakin memberikan Lacto-b karena testimoni teman yang bilang kalau pas muntaber anak jangan dikasih susu dulu, tapi ganti dengan Lacto-b saja. Jadi semacam pengganti susu gitu…

Laku, pas baca komposisinya yang ada vitamin C, B1, B2, Protein, Lemak, dan kawan-kawan… kok merasa kalau dia layak dicoba untuk menggantikan asupan nutrisi-nutrisi tersebut, sementara anaknya tidak bisa makan seperti biasa.

Bukan iklan atau endorse ya… murni testimoni pribadi, hahaha…

➤ Memaksimalkan istirahat anak supaya tubuh lebih cepat pulih

Yes, and last but not least… langkah terakhir adalah berupaya memaksimalkan istirahat anak untuk memberi kesempatan tubuh memulihkan diri.

Dalam pengalaman saya, terkadang itu berarti harus menggendong anak selama tidur atau menemaninya sepanjang tidur supaya tidak gelisah dan mudah terbangun.

Ya memang lumayan repot sih… untuk kasus Mahesh, praktis saya seharian ga bisa ngapa-ngapain karena harus nemenin dia even pada saat tidur. Lima belas menit saja ditinggal, pasti anaknya sudah manggil lagi dan baru akan tidur kembali saat saya di sampingnya.

Capek memang… Tapi, make sense to do banget lah… karena dengan kita berada di sampingnya otomatis istirahatnya akan lebih berkualitas dan mempercepat penyembuhannya kan. Apalagi mengingat, nanti anaknya makin dewasa juga momen kaya gitu akan hilang dengan sendirinya. So, sisi melankolisnya adalah, ya kapan lagi kan kita nemenin anak kaya gitu kalau enggak sekarang pas dia masih kecil.

Progress Penyembuhan

Dalam kasus Ganesh maupun Mahesh, kemudian penyembuhan pun berjalan perlahan-lahan… Anak mulai berkurang intensitas diarenya, kemudian hari berikutnya mulai bisa makan yang lembek-lembek tanpa muntah, lalu makan nasi sedikit asal dikunyah lembut, dan akhirnya pulih seperti sedia kala.

Berapa lama… yah, kurang lebih semingguan lah proses recovery-nya…

Yah pasti ya sabar aja ya dan singsingkan lengan untuk memontokkan anak lagi setelahnya, karena sudah pasti badan anak-anak jadi lumayan tipis. Jangan sedih mengingat jerih payah membuat anak tampak berisi yang perlu waktu berbulan-bulan dan susutnya cukup waktu seminggu saja. Puk-puk… I feel you… Nanti setelah sembuh juga makannya beringas lagi kok…

Disclaimer…

Dan kurang lebih seperti itu sih cerita kami menghadapi muntaber pada anak hingga dehidrasi sedang di rumah saja.

Dan sebelum mengakhiri cerita ini, saya ingin menegaskan bahwa maksud dari tulisan ini adalah semata untuk sharing pengalaman kami terkait penanganan anak muntaber… bukan untuk menggantikan peran dokter ya…

Lah, kami juga ke dokter kok sebelum akhirnya pulang karena kamar di RS penuh dan merawat Ganesh di rumah saja…

Siapa tahu, pun ada teman-teman yang mengalami kejadian dan kesempitan (tidak bisa dirawat di RS) yang sama, sehingga tulisan ini bisa membantu. Tapi, tentu saja kita pun harus benar-benar melakukan observasi pada kondisi anak selama perawatan…

Apakah intensitas diare dan muntahnya berkurang? Apakah asupan cairannya aman? Dan apakah gejala dehidrasinya semakin membaik?

Jika jawabannya 'tidak', tentu saja teman-teman harus kudu lari bawa anaknya ke dokter atau RS terdekat untuk ditangani dengan lebih intensif.

Kira-kira begitu ya teman-teman… semoga bermanfaat…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-