SOCIAL MEDIA

search

Wednesday, May 29, 2019

Mengatasi Anak yang Takut ke Dokter Gigi

Teman-teman ada yang anaknya takut ke dokter gigi? Kalau iya, samaan kita…

Sungguh, ke dokter gigi itu bagaikan sinetron yang bikin gemes ending-nya. Anaknya sih seneng-seneng aja diajak ke dokter gigi, pas disuruh duduk di meja tindakan juga masih OK. Tapi, begitu disuruh mangap, dioles anastesi dan dokter pegang tang untuk mengambil giginya… mulai lah Ganesh nanya macem-macem begini begitu dalam rangka membuat dokter menunda mencabut giginya.


Asli gemes kalau udah kaya gini! Beberapa kali saya sampai memilih membawa Ganesh keluar dari ruang praktek dulu untuk membujuknya, supaya tidak menghambat antrian…

Sebenarnya kenapa Ganesh jadi susah dieksekusi masalah gigi ini juga ada andil kesalahan kami sih… Jadi, dulu pada saat giginya pertama kali goyang, kami mengajaknya ke dokter gigi yang sedikit kurang friendly gitu deh… juga kok kayaknya wejangannya menyesatkan kami. Jadi, waktu itu, sang dokter bilang kalau gigi anak ya memang kalau sudah saatnya walaupun belum goyang harus dicabut biar giginya rapi. Well, ini membuat kami sedikit obsessed dan buru-buru mengajak Ganesh ke dokter gigi begitu giginya goyang sedikit…

Padahal, kemudian pada saat kami pindah dokter gigi, sang dokter tidak menyarankan mencabut gigi anak yang baru goyang sedikit, karena takut trauma… Terus, saya setuju dengan pendapatnya, dan lumayan nyesel sih kenapa dulu anak Ganesh ke dokter gigi itu.

Di dokter gigi lama itu, memang Ganesh sempat mengalami insiden yang membuatnya (mungkin) trauma.

Jadi, waktu itu, Ganesh mau cabut gigi di dokter lama ini… Bukan yang pertama sebenarnya, tapi hari itu mendadak dia ga mau pas sudah di meja tindakan. Nah, kok ya kami ga sabar dan pulang dulu saja, tapi malah tetap mencabut giginya. Alhasil tangan sang dokter digigit…

Sejak itulah, drama maju mundur di meja tindakan terjadi dan berulang sampai beberapa kali…

Ya akhirnya anaknya tetap dicabut juga sih… tapi effort-nya itu lho… Sampai beberapa kali keluar masuk ruang praktek karena pas mau dicabut, anaknya ada aja alasannya untuk ga dicabut. Bahkan yang terakhir, saking lamanya akhirnya keluar juga gratifikasi berupa janji mau beliin mainan kalau mau dicabut gigi. Juga ancaman, kalo ga mau juga dicabut giginya, nanti akan ditinggal pulang…

Yes, dua yang terakhir sangat tidak mendidik saya akui… tapi, kondisi terjepit… udah hampir satu jam di dokter gigi anaknya masih aja maju mundur dan jika pun mau pulang dan kembali lagi lain hari, takutnya malahan anaknya semakin menjadi, berpikir kalo dia bisa menunda sampai hari beriutnya. Jadi, ya sudahlah…

Hingga akhirnya, Selasa kemarin kami sukses mengakhiri drama yang menguras kesabaran itu… Tanpa drama sama sekali, anaknya akhirnya duduk di meja tindakan dan membiarkan giginya dieksekusi begitu saja.

Ya, tetep sih, dia sempat menjerit kesakitan pada saat giginya diambil… Pun pada saat diambil, tangannya ikut memegangi tangan sang dokter, tapi tidak menghalangi. Doesn't matter lah ya…

Penasaran kok bisa begitu? Begini ceritanya…

#1: Empati, kemudian menjelaskan mengapa harus, bagaimana caranya, dan siapa yang akan mencabut giginya

Pada saat anak-sanak mengalami emosi tertentu, dalam hal ini ketakutan, empati adalah kunci untuk dapat membuatnya lebih tenang, mengendalikan emosinya, dan kemudian lebih siap untuk berpikir rasional.

So, proses ini dimulai dengan

"Anesh, Mama tau Anesh takut… Mama dulu juga takut sih pas pertama cabut gigi. Tapi, meskipun takut, ya itu harus dilakukan… Kalo giginya ga dicabut, gigi kita jadi ada dua lho… Apa enak punya gigi dua? Udah gitu kalo giginya ga rapi kaya gitu, kotoran susah diilangin dan jadinya gampang berlubang lho Kak… Jadi, walaupun Anesh takut, ya tetap harus kita cabut…"

"Lagian, itu sakitnya ga banget lho Kak… Cuma sedikit aja, karena kan Tante Dokter pake gel yang diolesin ke gusi Kakak dan bikin saraf Kakak bobok sebentar…"

"Nanti Tante Dokter itu pake tang cabutnya, jadi ga meleset-meleset tangannya dan cepet cabutnya… Paling sakitnya satu detik aja…"

"Anesh tau enggak? Tante Dokter itu udah sekolah lama banget biar bisa jadi dokter gigi lho… Dia udah diajarin gimana caranya cabut gigi yang ga sakit, arahnya harus kemana, pake alat apa… banyak… Makanya, Anesh percaya ya sama Tante Dokter…"

#2: Mengulang-ulang prosesi mencabut gigi di dokter gigi sesering mungkin, juga maksud dan tujuan dari mencabut gigi

Selama seminggu menunggu waktu mencabut gigi berikutnya yang sudah mulai goyang, setiap hari saya selalu mengajak Ganesh membayangkan prosesi mencabut gigi yang dihadapinya selama ini…

"Anesh, ayo kita bayangin gimana sih kalo ke Tante Dokter mau cabut gigi itu… biar Anesh tau banget apa yang Anesh takutin itu…"

"Pertama Anesh, kita dateng tuh ke rumah sakit, terus daftar sama tante di bawah… Habis itu, kita naik ke atas, terus Anesh ditimbang sama diukur badannya. Habis itu, kita disuruh nunggu lagi sampe giliran kita."

"Terus, kita nunggu… Tante Dokternya dateng deh, terus kita dipanggil, "Anak Ganesha…" Terus kita masuk ke ruangan tante dokter…"

"Kita duduk di kursi depan tante dokter… baunya coba diinget-inget Nesh, kan Anesh katanya ga suka baunya ruangan tante dokter ya…"

"Habis itu, tante dokter nanya, "Kenapa Anesh?" Terus Anesh jawab, "Mau cabut gigi tante…" Terus Anesh disuruh duduk di kursi buat cabut gigi deh…"

""Buka mulutnya Nesh…" katanya Tante Dokter. Terus Anesh diolesin gel yang bikin ga sakit pas dicabut giginya… Habis itu, Tante Dokternya ngeliatin tangnya yang buat cabut gigi Anesh, terus ditempelin di gigi Anesh, terus nanya, "Sakit enggak Nesh?" Terus Anesh jawab, "Egghaak… soalnya Anesh kan jawabnya sambil mangap…" *Kasih joke dikit biar anaknya ketawa

"Terus, Tante Dokter nanya, "Giginya Tante ambil ya…" 

"Nah, udah Anesh bayangin kan… bagian mana nih yang bikin Anesh takut?"

Iya, sedetail itu… setiap hari… bahkan sehari bisa lebih dari sekali… untuk membantu Ganesh memvisualisasikan ketakutannya dengan sedetail mungkin. Yang tak lain semua ini bertujuan untuk mengidentifikasikan emosinya, sehingga kemudian akan membuatnya lebih mudah meng-handle emosinya tersebut.

Baca juga: 

Di sela-sela sesi visualisasi ini, juga saya menyisipkan alasan dari beberapa hal. Misalnya, pada saat dia bilang baunya ruangan dokter gigi yang membuatnya takut, kemudian saya jelaskan, "Anesh, jadi alat-alatnya Tante Dokter itu kan perlu diilangin kumannya, jadi dia pakai cairan khusus untuk nyeterilin alat-alatnya itu… nah inilah yg bikin baunya kaya gitu. Juga obat pelnya lho Kak, itu beda anti kuman…"

#3: Membuat perjanjian mengenai konsekuensi jika masih berlama-lama cabut giginya

Yak, selain poin satu dan dua, mendekati hari H, saya pun membuat kesepakatan dengan Ganesh seperti ini, "Kakak, besok Mama ga mau lagi ya Kakak lama-lama cabut giginya… Kalau besok lama, Mama ga mau anterin lagi… Anesh sama Papa aja cabut giginya!"

Hwahaha… saya galak banget ya… Tapi, ini ada tujuannya…

Jadi, si Ganesh ini anaknya tipe yang suka nawar… jadi selama masih dia tawar, ya dia akan nawar sampai dapat mendekati yang dia mau. So, I just need to make it clear kalau dia ga bisa nawar dalam hal ini. Dia harus segera mencabut giginya begitu kami memutuskan ke dokter gigi. Titik. Tidak ada tawar menawar lagi.

***

Daaan… tada… alhamdulillah… eksekusi gigi Ganesh kemudian benar-benar tanpa drama. Wow!

Jadi, hari itu di jalan pun saya ulang lagi memvisualisasikan prosesi pencabutan giginya pada poin dua. Lalu bertanya, "Bagian mana yang Anesh takut? Kira-kira Anesh berani enggak?" Dan dia menjawab, "Anesh enggak takut…"

Lalu saya ingatkan juga tentang kesepakatan pada poin tiga… dan saya tekankan bahwa tidak ada tawar-menawar setelah kesepakatan. Jadi, jika dia hari itu pake acara drama lagi cabut giginya, dipastikan kalau saya tidak akan mengantarnya lagi ke dokter gigi.

Daan… tumben, begitu duduk di meja tindakan, semua berjalan lancar… Diminta buka mulut, ya buka mulut… Diolesin gel anastesi ya anteng aja… Begitu waktunya cabut gigi juga ga ada apa-apa, cuma dia ikut pegangin tangan dokter giginya, terus "Aaak…" tau-tau giginya sudah dicabut gitu aja…

Asliii… kaya menang lomba blog aja rasanya, seneng banget…

Anaknya juga super happy berhasil mencabut giginya tanpa drama, sepanjang jalan dia tak henti-henti bercerita tentang kemenangannya. "Mama, I'm so proud of my self," katanya… dilanjutkan dengan, "Mama, do you proud of me?"

"Ooh Anesh, yes! Tentu saja yesss…" Tuh 'S' nya sampe banyak banget saking bangganya… "You do great!"

Lalu dia bilang lagi, "Mama, kapan Anesh cabut gigi lagi? Anesh pengen liatin Papa kalau Anesh udah berani…" Hahaha… Anesh… Anesh…

***

Iya… gitu deh ceritanya kami mengakhiri drama maju mundur waktu cabut gigi… Semoga habis ini, beneran ga ada drama lagi ya… Dan semoga juga cerita ini bisa bermanfaat untuk teman-teman semua ya… Amiin…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments :

Post a Comment