SOCIAL MEDIA

search

Friday, May 31, 2019

Traumatisnya Tembakau bagi Saya

Rokok atau tembakau mungkin adalah hal yang sangat biasa kita temui di Indonesia… Pada saat berbelanja di minimarket, deretan rokok yang dipajang rapi ada di hadapan kita saat membayar di kasir, bahkan dengan gambar-gambar mengerikan yang sudah menghiasi kemasannya sejak beberapa tahun lalu…

Karenanya pula, dampak rokok bagi kesehatan bukan lagi rahasia, jadi silakan googling aja kalau mau tau bahayanya rokok bagi kesehatan. Atau, cukup nongkrong di depan kasir minimarket, udah keliatan kok… Saking biasanya, mungkin orang menganggap semua itu sepele saja…


But no! Saya tidak pernah menganggap rokok sesepele itu… Bahkan bagi saya, dia adalah satu karakteristik yang krusial dalam menentukan pasangan hidup di masa lajang saya. 

Yup, saya benci rokok! Dan saya tidak ingin suami saya adalah perokok! Sounds judgmental sekali ya… Tapi ya ini adalah perasaan pribadi saya… Toh saya juga tidak memaksa kok, dan saya pun tahu tidak bisa memaksa seseorang berhenti merokok, karena itulah, daripada saya makan hati seumur hidup hidup bersama perokok, ya sudah lah ya… better I'm looking for someone who's not

***

Kenapa sih saya benci rokok?

Baik… sejak kecil, sesungguhnya saya sudah cukup akrab dengan yang namanya rokok, bapak saya seorang perokok berat. Tidak jarang bahkan beliau menyuruh saya ke warung membeli rokok. Sampai sekarang, saya masih ingat betul kok rokok favoritnya, tapi ga usah disebutin lah ya… 

Ya, sejak kecil saya biasa melihat bapak saya atau pun orang di sekitar saya merokok… Saya kecil kala itu, ya tidak tahu apa sih sebenarnya rokok itu? Sampai akhirnya saya beranjak remaja dan merasa bahwa rokok itu adalah benda jahat yang mengukuhkan arogansi dan keegoisan seseorang yang saya kenal. Ya siapa lagi kalau bukan Bapak saya…

Tapi, ini bukan berarti saya benci dengan bapak saya ya… kami memiliki hubungan baik kok… meskipun benda bernama rokok itu tetap meninggalkan jejak di hati saya…

OK, sepertinya cerita selanjutnya akan jadi melankolis ya…

Rokok dan Adiksi

Beberapa orang mungkin berdalih bahwa rokok itu tidak menimbulkan ketergantungan sebagaimana zat-zat psikotropika, namun harus tetap diakui bahwa berhenti merokok itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

Keluarga kami bukan lah keluarga berada dan saya happy-happy saja sih dengan segala keterbatasan itu… Bahkan saya bangga tuh tidak kalah berprestasi dengan teman-teman lainnya yang notabene memiliki kelonggaran finansial lebih dari saya. Saya juga sangat bangga dengan ibu saya yang jualan di pasar dan bapak saya yang pinter banget ngebengkelnya…

Tapi, saya tidak suka bagaimana bapak tetap merokok meskipun dengan segala keterbatasan kami… Bahkan dengan arogannya berkata, supaya saya tidak usah mengurusi kebiasaannya merokok. Sakit lho rasanya…

Bayangkan kata-kata seperti itu diucapkan pada anak yang baru duduk di akhir bangku SD dan berlanjut hingga SMP, SMA dan seterusnya. Masa-masa dimana anak sudah mulai bisa berpikir tentang baik, buruk dan moralitas… Dari saat itulah saya berpendapat bahwa rokok itu jahat! Karena demi dia, seorang kepala keluarga terkadang memangkas kebutuhan keluarganya yang lebih penting. Bukan sekedar kebutuhan finansial, tapi juga kebutuhan akan perhatian, merasa dihargai dan disayangi…

Rokok dan Stroke

Tahun 2005 bapak saya terserang stroke! Saat itu, saya masih kuliah di semester lima… benar-benar di tengah masa kuliah saya. Dan segalanya berubah menjadi lebih berat lagi sejak saat itu… bukan hanya karena permasalahan finansial, tapi juga psikologis.

Kondisi bapak yang lumpuh pada tubuh bagian kiri praktis membuatnya tidak mampu bekerja membantu memenuhi kebutuhan kami. Beruntung kami masih memiliki keluarga besar yang turut meringnkan beban kami, namun besarnya biaya berobat bapak, biaya sekolah kami bertiga, dan biaya sehari-hari; semua tetap terasa berat di pundak Ibu seorang diri.

Belum lagi kondisi psikis bapak yang menjadi jauh lebih temperamental akibat gangguan pada otaknya. bapak saya yang dulu sudah cukup keras kepala dan pemarah, karena stroke yang pada otak kanannya membuatnya berlipat lebih temperamental. Kami anak-anaknya dan juga Ibu tentu saja seringkali menjadi sasaran amarahnya dan juga kesedihannya.

Di satu sisi, saya begitu iba pada bapak yang kemudian tidak mampu melakukan begitu banyak hal secara mandiri dan harus tergantung pada orang lain. Namun, itu tidak menghilangkan marahnya hati saya saat kemudian menjadi sasaran temperamen bapak dan harus memaksa diri saya sendiri untuk mengalah.

Itu adalah situasi yang sangat berat bagi kami semua… Dan dari segala kebiasaan hidup tidak sehat  yang bapak jalani, saya semakin benci dengan benda bernama rokok!

Saya tidak akan bilang bahwa rokok adalah satu-satunya penyebab bapak mengalami stroke, karena bapak pun memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat. Tapi, sepanjang pengetahuan saya dari berbagai literatur dan penelitian yang saya baca, kebiasaan merokok adalah satu hal yang akan meningkatkan risiko kejadian stroke.

Jadi, tidak salah bukan, jika kemudian saya sebegitu bencinya dengan rokok? Apalagi melihat kenyataan bahwa bahkan setelah mengalami stroke pun, beberapa tahun kemudian bapak masih kembali kepada rokok, meski dengan intensitas yang jauh berkurang.

Rokok itu jahat! Jangan mendebat itu dengan saya…

***

Yah, begitulah cerita saya teman-teman… Setelah semua pengalaman saya, rokok itu begitu identik dengan sikap egois, mau menang sendiri dan arogan.

Egois dan mau menang sendiri, karena demi rokok tidak jarang penikmatnya menomorduakan kebutuhan yang lebih utama dan penting dalam keluarganya. Padahal, rokok sendiri sesungguhnya bukanlah kebutuhan hidup…

Serta arogan, karena meskipun dengan berbagai fakta dan hasil penelitian yang menunjukkan bahaya rokok bagi kesehatan, penikmatnya masih menantang kenyataan itu. Dengan berkata, "Ah, yang merokok umurnya panjang juga banyak…" Padahal, oh man, ini bukan masalah umur panjang, tapi kualitas kesehatan kita yang tidak bisa selalu dibandingkan satu sama lain. Jika pun ingin membandingkan, bandingkan kesehatan kita sebagai perokok dan tanpa rokok, bandingkan diri kita sendiri, ga usah  cari pembenaran dari seupil kejadian langka diantara lautan fakta.

Bagi saya, memilih untuk menjadi perokok adalah keputusan yang kurang smart… karena sama dengan mengumpankan diri kepada monster jahat. Rokok akan membelenggumu, meskipun tidak sekuat narkoba. Dia akan membuatmu kesulitan untuk lepas, meskipun dihadapkan dengan berbagai kondisi yang tidak mendukung lagi, baik secara finansial atau secara kesehatan.

Jadi, jika kamu bukan perokok, better never try lah…

Dan jika kamu adalah perokok, please lihat orang-orang yang kamu cintai, jangan sampai mereka merasa dinomorduakan, diperlakukan egois, dipaksa mengerti sesuatu yang salah… hanya karena rokok…

Kadang saya menangis sambil menulis diari masa kecil saya dalam kondisi itu. Dan lebih buruk saat merasa bahwa dia (rokok) adalah penyebab bapak saya jatuh stroke, sehingga memperberat kehidupan kami, baik dari sisi finansial maupun psikologis. Tidak salah bukan jika hati saya jadi sekeras ini mengenai rokok…

Dan percayalah, kalian tidak ingin orang-orang yang kalian cintai merasakan apa yang saya rasakan…

Jadi, dengarkan lah pada saat mereka mengeluh atau menasehati tentang kebiasaan merokokmu… Singkirkan jauh-jauh, perasaan bahwa apa yang mereka bicarakan hanyalah omong kosong yang sudah kamu ketahui semuanya. Bukan, bukan tentang itu… Mungkin mereka bukan hanya sekedar memberitahumu, tapi mereka sedang mencari kasih-sayangmu untuk mereka…

Kamu mencintai mereka bukan?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments :

Post a Comment