SOCIAL MEDIA

search

Sunday, May 19, 2019

Tentang Aktualisasi Diri, Hierarki Kebutuhan Maslow dan Konformitas

Di mata banyak orang, Lani adalah seorang wanita yang beruntung. Selepas menamatkan pendidikannya di sebuah universitas terkemuka, kemudian dia mendapatkan pekerjaan yang cukup prestise di sebuah perusahaan BUMN.

Dari social media-nya pun tampak dia cukup menikmati pekerjaannya, meskipun memang dia jarang posting hal berkaitan dengan pekerjaannya.

Pekerjaannya adalah idaman banyak orang… Gaji relatif besar, tunjangan kesehatan memberikan jaminan yang cukup untuknya dan keluarga, dan beban kerjanya pun tidak terlalu berat. Wow! Apalagi yang dicari coba?

Karena itu, saat dirinya mengungkapkan keinginannya untuk resign, kemudian beberapa orang berujar, "Sayang lho… pikir bener-bener deh…" Dan dia pun menuruti nasehat itu, dia bertahan hingga beberapa tahun, berusaha meyakinkan dirinya akan nasehat orang-orang padanya… Namun, anehnya keinginan itu bukannya surut, dan justru semakin menjadi-jadi…

***

Fiksi ya ini ya teman-teman… alias bukan kisah nyata… Tapi, kejadian seperti ini tidak jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak bisa dibilang sering.

Dan somehow, kemudian insting suka menganalisa hal-hal macam ini muncul dan dilanjutkan dengan pemikiran, "Lumayan juga buat update blog…" Sampai akhirnya, niat pun bulat untuk buat tulisan tentang 'gejolak' pikiran saya ini…

Here it is

***

Dalam sebuah teori, bernama Hierarki Kebutuhan Maslow, dikisahkan bahwa motivasi seseorang untuk melakukan berbagai hal itu dapat dikategorikan dalam lima golongan besar dan dijelaskan dalam konsep hierarki.

Biar kebayang, kita liat gambarnya dulu…


Jadi, menurut teori ini, hal pertama yang akan menjadi motivasi seseorang adalah kebutuhan fisiologis… Dan baru setelah kebutuhan tersebut terpenuhi dalam batas tertentu, kemudian motivasi akan naik ke level di atasnya, yaitu kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta… Begitu seterusnya…

Ya, menurut Maslow, motivasi kita bersumber dari belum terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tertentu; kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta, kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta, kebutuhan harga diri, serta aktualisasi diri.

Dimana untuk empat level pertama, motivasi akan menurun semakin kebutuhan tersebut terpenuhi. Sementara untuk kebutuhan teratas yaitu aktualisasi diri, justru kebutuhan akan semakin meningkat semakin kebutuhan tersebut terpenuhi.

Gampangnya gini… saat seseorang lapar, maka mencari makan adalah motivasi utamanya. Dia mungkin akan mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan dasar ini. Kemudian, setelah kebutuhan ini terpenuhi pada taraf tertentu, maka dia tidak akan lagi menjadi motivasi bagi orang tersebut. Kemudian, orang tersebut akan berusaha memenuhi kebutuhannya akan rasa aman, mungkin dengan berusaha mencari pekerjaan dengan status pegawai tetap yang lebih memberikan kepastian, maupun risiko kecelakaan kerja lebih kecil.

Begitu… seterusnya… sampai akhirnya terpenuhi kebutuhannya akan harga diri, aktualisasi diri pun kemudian akan menjadi motivasinya.

Tapi, perjalanan motivasi ini pun tidak mulus alias menapak ke atas terus… Bisa naik, bisa turun, bisa juga stuck alias diam di tempat, tergantung kondisi lingkungan dan juga kepribadian serta preferensi seseorang. Ya akan ada juga orang yang motivasinya all about the money, ga perlu tuh yang namanya harga diri, para koruptor misalnya kan…

Lalu, berbicara mengenai level motivasi tertinggi, yaitu 'aktualisasi diri', sesungguhnya hal ini lah yang mendorong Lani kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.
Menurut Maslow, 'aktualisasi diri' adalah istilah untuk menyebut keinginan seseorang akan self-fulfillment (pemenuhan diri), yaitu kecenderungannya untuk mewujudkan dirinya sesuai potensi yang dimilikinya. 
Di tempat kerjanya saat ini, ternyata Lani merasa tidak merasa bisa mengembangkan potensinya dengan baik. Dia sudah berusaha keras menemukan kenyamanan dengan menampilkan performa terbaiknya, juga berprestasi dalam bidang-bidang sesuai passion-nya. Tapi, apa daya, pada satu titik dia benar-benar merasa tidak nyaman dan memilih untuk berhenti dari pekerjaannya.
Karena uniknya setiap individu, motivasi untuk mengaktualisasikan diri kemudian mendorong orang ke arah yang berbeda-beda. Ada yang mencapainya melalui seni atau literatur, dan bisa juga dalam bidang olah-raga, menjadi guru, atau dalam dalam setting perusahaan (Kenrick et. al., 2010).
Aktualisasi diri bukan tentang banyaknya materi, tapi sebuah kesempatan seseorang bisa menjadi sebesar potensi yang dimilikinya. Dan juga bukan berarti jika seseorang siap tinggal landas menuju level aktualisasi diri kemudian kebutuhan-kebutuhan lain yang telah dipenuhi akan selamanya aman… Tentu tidak…

Ada kalanya peluang mengaktualisasikan diri itu berisiko mengganggu stabilitas kebutuhan yang telah dipenuhinya. Contoh sederhananya adalah saat Lani ingin berhenti dari pekerjaannya untuk mengembangkan diri dengan risiko bahwa pekerjaan barunya tidaklah mampu menghasilkan sebesar penghasilan lamanya.

Inilah yang kemudian sering digaungkan orang sebagai, "Life's begin at the end of your comfort zone…" Dalam tujuan mencapai diri yang teraktualisasi itu, kita perlu mengambil risiko untuk keluar dari zona nyaman yang sudah kita capai. Karena itu, tidak berlebihan rasanya jika kemudian Maslow memperkirakan bahwa hanya dua persen orang yang mampu mencapai level aktualisasi diri.

Wah, hebat dong orang yang bisa sampai ke level aktualisasi diri?

Hmm, jika menilainya adalah dia bisa mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai orang lain, yup, dia hebat. Atau dari sudut padang psikologis netral, mereka ini adalah golongan orang-orang yang spesial alias unik. Tapi, latar belakang dan kondisi setiap orang itu kan berbeda… Jadi, just follow your heart… and let's embrace whatever our choice… Toh definisi kesuksesan setiap orang itu kan berbeda…

Dan kembali pada hal aktualisasi diri, berdasarkan pengamatan pada 18 orang yang dinilai mencapai level ini (aktualisasi diri), termasuk Abraham Lincoln dan Albert Einstein, Maslow mengidentifikasikan 15 karakteristik dari individu yang mampu mengaktualisasikan dirinya:
  1. Individu yang memahami realitas secara efisien dan dapat mentolerir ketidakpastian
  2. Menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya
  3. Spontan dalam berpikir dan bertindak
  4. Berfokus pada masalah (bukan pada diri sendiri)
  5. Memiliki selera humor yang tidak biasa
  6. Mampu melihat kehidupan secara efektif
  7. Memiliki kreativitas tinggi
  8. Tidak mudah terpengaruh pada enkulturasi
  9. Peduli pada kesejahteraan manusia
  10. Mampu memberikan apreasiasi mendalam terhadap pengalaman hidup dasar
  11. Membangun hubungan interpersonal yang memuaskan dengan sedikit orang
  12. Pengalaman puncak (peak experiences
  13. Kebutuhan akan privasi
  14. Sikap demokratis
  15. Moral dan standar etik yang kuat
Dan kemudian, apa hubungannya antara aktualisasi diri dan konformitas? Eh, by-the-way, udah pada tau belum sih apa itu 'konformitas'?
Konformitas adalah salah satu jenis pengaruh sosial yang meliputi perubahan kepercayaan (sikap mental) atau perilaku untuk menyesuaikan dengan sebuah kelompok. Dimana perubahan ini merupakan respon pada tekanan kelompok yang nyata (misalnya kehadiran fisik orang lain) atau yang dibayangkan (misalnya tekanan dari norma sosial dan ekspektasi).
See… dari kelimabelas karakteristik orang yang mampu mengaktualisasikan diri tersebut jelas mengisyaratkan bagaimana individu tersebut menghargai keunikan diri sendiri dan orang lain, serta tidak mudah terpengaruh pada budaya atau lingkungan… Yes! Tidak salah bukan, jika saya merasa bahwa seseorang yang cenderung tidak konformis itu memiliki dorongan yang lebih tinggi akan aktualisasi diri dan potensi untuk mencapainya.

So, jika suatu saat teman-teman menemui sesosok orang yang tampak tidak sejalan dengan jalan berpikirmu dan banyak orang… No, itu bukan berarti bahwa orang tersebut buruk lho, dia hanya berbeda saja dengan kita, tidak lebih dan tidak kurang.

Sampai disini, cukup bisa dipahami bukan hubungan antara aktualisasi diri, Hierarki Kebutuhan Maslow dan konformitas yang ingin saya sampaikan?
Bahwa aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan pada level tertinggi menurut Hierarki Kebutuhan Maslow. Dan somehow, menurut Maslow, orang-orang yang sampai pada level ini memang minoritas, dan bisa dipahami jika mereka ini adalah orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Yes, indeed most of of them are nonconformist
Dan kembali pada kasus Lani… Saat dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang begitu menjanjikan, yes, dia sedang keluar dari zona amannya. Dia mengambil satu keputusan yang tidak akan diambil oleh sebagian besar orang. Pun semua itu karena dia memiliki keinginan dan mimpi yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Demikian juga jika pilihannya ini kemudian berbeda dengan kesuksesan yang didefinisikan banyak orang, itupun bukan berarti bahwa dia gagal. Semua itu semata karena kesuksesan di mata Lani berbeda dengan kesuksesan yang didefinisikan banyak orang. Dan berbeda itu sama sekali tidak salah bukan?

***
Kurang lebih begitu teman-teman…

Seribu dua ratusan kata nih by-the-way, terima-kasih sudah membaca ya… Harapannya sih, tulisan ini selain membantu saya mengeluarkan uneg-uneg karena gatel ingin menanggapi sesuatu, juga bermanfaat untuk teman-teman melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Dan selanjutnya, mungkin bisa membantu teman-teman memahami orang-orang di sekitar kita.

That's it

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments :

Post a Comment