Tuesday, August 7, 2018

Memuaskan Sisi Visual-Kinesthetic dengan Faber Castell Colour to Life


Siang itu, sembari mendengarkan orang-orang bergantian berbicara dan mengungkapkan pendapatnya… tanpa bermaksud mengabaikan atau tidak memperhatikan, saya justru asyik dengan kertas dan bolpen. Jangan salah sangka dulu… tidak, saya tidak sedang mencatat… tapi sedang menggoreskan bolpen hitam saya ke kertas putih polos yang memang menjadi favorit membentuk gambar matahari, rintik hutan, pepohonan, dan apa saja yang ada dalam pikiran saya. Ide yang keluar begitu saja dari kepala saya dan terwujud tanpa banyak pertimbangan begitu saja…

Sesuatu yang sengaja saya lakukan untuk menjaga kesadaran dalam rapat itu… Karena jika tidak, semacam penglaman sebelumnya, dipastikan saya akan tertidur dalam situasi yang menuntut hanya mendengarkan dan berusaha mencerna stimulus-stimulus auditori itu dalam kepala saya…


Tapi, jangan salah sangka lagi… semua itu bukan semata karena rapat yang membosankan, tapi memang demikianlah kecenderungan saya sejak kecil. Semua saya sadari sejak duduk di bangku SMA, dimana saya harus memutar otak agar tidak tertidur di kelas selama guru menjelaskan pelajaran… mulai dari duduk di meja paling depan, berusaha berkonsentrasi penuh, tidak tidur larut malam, dan sebagainya. Semua usaha yang seolah tidak menunjukkan hasil berarti, karena saya tetap kesulitan mempertahankan mata saya tetap terbuka, tanpa kehilangan kesadaran beberapa detik saja. Sampai-sampai, Bu Guru mengeluhkan hal ini kepada ibu saya saat mengambil raport. "Bu, sebenarnya anaknya ini lumayan cerdas, tapi suka tidur di kelas…" Duh, tidur di kelas katanya… "Ampun Bu Guru, andai ibu tahu usaha keras saya untuk tetap terjaga… semua itu benar-benar di luar kuasa saya…"

Permasalahan klasik yang sama sampai saya menginjak bangku kuliah… Sampai akhirnya menyadari bahwa saya memang lemah dalam situasi seperti itu (baca: diam dan mendengarkan penjelasan). Somehow, dengan menggunakan pengkategorian modalitas belajar yang cukup populer beberapa waktu lalu, saya merasakan kecenderungan ke arah modalitas belajar kinesthetic dan visual yang kuat. Saya perlu bergerak (baca: menulis dan mencorat-coret) untuk membantu mempelajari sesuatu; dan saya merasa sangat terbantu dengan gambar, bagan, struktur yang harmonis serta enak dilihat.

Dan sejak saat itulah saya tahu pasti apa yang harus dilakukan saat mendengarkan penjelasan dosen di kelas atau terlibat rapat… Bukan secangkir kopi, beberapa potong kue, atau bahkan mencubit diri sendiri; tapi membiarkan tangan saya bermain dengan bolpen, pensil atau alat tulis lainnya… sekedar untuk mencorat-coret, membuat catatan atau menggambar.

Corat-Coret Saat Rapat Wali Murid di Sekolah Ganesh


Terus dan terus… sampai akhirnya kemudian saya menyadari betapa semua itu begitu menyenangkan bagi saya… Dan kegiatan mencorat-coret itu pun terkadang bukan lagi sekedar dalam rangka mempermudah proses belajar, tapi menjadi sesuatu yang sengaja dilakukan karena saya menyukainya…

Hasil Karya pada Rapat P2K3 di Kantor
***

Selama ini, saya memang hanya menggunakan media kertas dan bolpen untuk menyalurkan hobi ini karena praktis dan santai; sampai kemudian beberapa waktu lalu berkenalan dengan Faber Castell Colour to Life…

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mencoba produk yang ternyata sangat menyenangkan ini!

Faber Castell Colour to Life ini terdiri dari 20 buah connector pens dan 15 halaman augmented reality colouring book. Hmm, kedengeran canggih banget ya dari namanya? Dan memang demikianlah kenyataannya. Penasaran? Mari saya jelaskan satu persatu…

Connector pens adalah bolpen (atau lebih mirip spidol menurut saya) yang terdiri berbagai warna dan memiliki bentuk yang dapat digabungkan satu sama lain membentuk konstruksi tertentu. Selain itu, pewarna ini ternyata sangat aman untuk anak-anak, karena tidak beracun, tidak meninggalkan noda pada pakaian dan dapat dicuci!


Sedangkan 15 page Augmented Reality Colouring Book adalah lembar mewarnai yang dapat discan dan dimainkan dalam bentuk animasi 3D melalui aplikasi Colour to Life yang dapat di-download pada Play Store (Android) atau Application Store (iOS). 

Untuk menemukan aplikasi colour to life ini bisa dengan search dengan kata kuncinya di Play Store maupun App Store, atau dengan scan barcode yang ada di kemasan Faber-Castell Colour to Life.


Jadi, gambar kita jadi 'hidup' dalam bentuk 3D seperti ini…


Kerennya lagi… animasi 3D ini bisa dimainkan dan juga diajak foto selfie… Sehingga benar-benar bisa menjadi alternatif kegiatan seru selain bermain gadget bagi kita maupun anak-anak. Dan bahkan bagi saya, ada keasikan sendiri tidak hanya pada saat mewarnai buku mewarnainya, tapi juga begitu excited saat gambar saya berubah menjadi animasi 3D.



Untuk saya pribadi, kegiatan mewarnai Faber-Castell Colour to Life ini benar-benar memuaskan sisi visual dan kinesthetic saya… Karena alat mewarnai ini sangat cocok digunakan untuk teknik arsir dengan berbagai tekstur (teknik favorit saya). Juga karena hasil mewarnainya pun sungguh-sungguh indah dan eye catchy secara visual; sehingga bisa menjadi alternatif me time untuk memberikan perasaan relax, puas dan bahagia dalam diri saya. 

Apalagi 'connector pens'-nya pun sangat aplicable untuk hasil corat-coret saya selama ini… Gambar-gambar saya yang selama ini monoton berwarna hitam-putih saja benar-benar tampak berbeda setelah saya warnai dengan warna-warna cerah dari 'connector pens' Faber-Castell!

Sangat recommended lah untuk teman-teman yang hobi corat-coret untuk menghasilkan suatu (sebut saja) karya yang indah dan enak dilihat.  


Plis jangan bilang saya hanya memuji diri sendiri… ini memang benar-benar lebih indah dari versi hitam-putihnya kan…

Produk Faber-Castell Colour to Life ini sendiri bisa didapatkan secara online di Tokopedia, Gramedia dan toko buku terdekat lainnya.

Selamat mencoba ūüėČ

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, July 5, 2018

Each Marriage They Create Chemistry…

…kemudian mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya…

Hayoo… ada ga nih teman-teman yang menganggap kalimat di atas sebagai parameter paripurnanya suatu cerita percintaan? Kalimat pamungkas yang banyak kita temui pada cerita dengan genre fairy tale, semacam Cinderella, Rapunzel, Keong Mas, dan lusinan lagi yang jadi cerita favorit saya sejak dulu. Cerita-cerita yang membentuk relationship goal saya kala itu, bertemu seorang 'pangeran' baik yang mencintai saya, menikah, dan hidup bahagia selamanya…

Goal, yang tercapai sih… Saya menemukan seorang pria baik yang mencintai saya dan kemudian menikah… Juga merasa bahagia dengan pernikahan saya, tapi ya bukan berarti 'udah gitu aja selesai'. 'Bahagia' bukan berarti just happy all the time… hanya pelangi 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, tanpa hujan dan badai sama sekali. Tanpa perbedaan pendapat, perselisihan paham, dan perang dingin.

Yah, asal tahu saja, dulu pas awal-awal menikah, prosentase akur dan berantemnya mungkin fifty-fifty ya...

Tapi, ya kami menerima situasi itu dengan kesadaran bahwa itu adalah bagian dari reaksi yang terjadi karena bertemunya kami dengan karakter yang sama-sama keras. Berusaha tetap berpikir logis dan tidak mendramatisirnya. Itulah yang akan saya ceritakan disini…

Thursday, May 31, 2018

Spesialnya 'Tumpeng Enak' Lampung…

Perkenalan saya pada Tumpeng Enak, sebenarnya tidak sepenuhnya disengaja; dalam artian bukan kerena rekomendasi dari rekan yang sebelumnya sudah mencoba sebelumnya.


Waktu itu, seperti biasa, karena hari libur, saya pun libur masak… *Hmm, kalau ibu-ibu yang lain biasanya justru pas libur masak ya… Kalau saya, karena lima hari dalam seminggu sudah masak pagi buta untuk makan siang dan bekal anak, hari libur justru adalah waktunya untuk bersantai melakukan 'hobi' yang biasanya cukup terbengkalai (baca: menulis dan belajar piano). Semacam me time mungkin ya…

Nah, siang itu, di suatu Hari Sabtu (kalau tidak salah ingat), mendekati waktu makan siang, mulailah saya berselancar ke dunia kuliner melalui Go-Food. *Yes, Go-Food ini memang benar-benar solusi untuk orang-orang yang lagi males masak seperti saya… *Dunia benar-benar lebih indah setelah Go-Jek masuk ke Lampung tempat domisili saya…

Pada dasarnya, setiap kali mencari makan, sebagai emak-emak, sudah bisa dipastikan jika selera anak adalah satu aspek yang harus diperhatikan. Karenanya, kemudian tujuan terkerucut kepada nasi kuning, karena Anesh anak pertama saya sangat suka nasi kuning.

Searchingsearching

Voila! Terdampar lah saya ke lapak 'Nasi Kuning Kemiling'… *Ya, di Go-Food namanya 'Nasi Kuning Kemiling' padahal lokasinya ternyata bukan di Kemiling, tapi Kedaton… Infonya sih, dari pihak Go-Jek mendeteksi lokasi Tumpeng Enak ini di Kemiling…

Di Go-Food, hanya ada dua menu dari lapak 'Tumpeng Enak', yaitu Tumpeng Mini dan Bento Nasi Kuning. Dan kemudian, karena baru pertama kali coba, saya pesan aja masing-masing satu, buat Ganesh dan Mahesh, saya sih sisanya aja… Papanya? Waktu itu kayaknya dia sedang dinas, jadi tidak masuk hitungan…

Dari perkenalan pertama itu, kemudian saya pun cukup impressed dengan konsep 'Tumpeng Enak' ini… Unik lho, ada tumpeng dalam bentuk mini yang disajikan lengkap dengan lauk-pauknya (udang, ayam, mie, telur, kering tempe, jamur krispi, perkedel, urap, sambal dan mentimun)… Demikian juga dengan bento nasi kuningnya, dengan menu yang sama minus udang dan perkedel. *Karena beda menu ini, kemudian mereka berbeda harga… Tumpeng mini 45 ribu dan bento 35 ribu…

Selain itu, penyajian yang eye-catchy dan benar-benar 'niat' (tidak asal-asalan); lengkap dengan sticker ucapan selamat makan dan jangan lupa berdoa itu semakin menegaskan passion owner Tumpeng Mini pada produknya.



Dan soal rasa seperti apa? Hmm, jujur saja, karena lidah saya tidak terlalu peka… menurut saya ya, enak-enak saja… nothing special…

Sampai kemudian, penilaian saya tentang Tumpeng Enak ini pun teruji pada saat kantor mengadakan acara buka bersama sekaligus dalam rangka HUT ke 22 tahun… *Sebenarnya kantor saya (PLN Sektor Dalkit Bandar Lampung sudah berdiri sejak 27 tahun lalu, namun karena adanya pemisahan unit, maka dihitunglah ulang tahunnya sejak pemisahan tersebut…

Nah, disitu karena momennya ulang-tahun, maka sebagaimana tradisi, keberadaan tumpeng nasi kuning adalah keharusan! Dari sanalah, kemudian timbul ide menu buka puasa pun nasi kuning, agar semua peserta pun merasakan kebersamaan dan juga sakralnya perayaan hari ulang tahun kantor tercinta kami ini.

Hmm… ingatan saya pun langsung tertuju pada tumpeng mini-nya 'Tumpeng Enak' yang menurut saya merepresentasikan semua itu… Nasinya nasi kuning, bentuknya tumpeng, lauknya pun sama persis dengan tumpeng versi besarnya. See what I mean kan? Biasanya kan tumpeng simbolis saja, yang dapet kuncupnya satu orang saja, dan yang nyicip palingan beberapa orang yang duduk di depan saja… Nah, ini semua peserta dapet kuncupnya… spesial banget kan…

Dengan segala pertimbangan itulah, sesuai kesepakatan dipesanlah 250 porsi Tumpeng Mini plus tumpeng besar untuk 30 porsi…


Lalu… Bagaimana debut si Tumpeng Enak ini di kantor saya…

Awalnya, walau pun sedikit ada lah sedikit kekhawatiran akan reaksi orang-orang karena ini adalah kali pertama kami menggunakan konsep perayaan HUT dan buka bersama dengan menu tumpeng nasi kuning. Bagaimana kalau ternyata orang-orang kurang antusias? Apalagi ada yang sempat bertanya, "Is it OK, makan yang bersantan-santan untuk buka puasa?" Arrgh… Sebagai panitia dan pelempar ide, saya jelas merasa sangat bertanggung-jawab akan semua itu.

Untungnya… fiuhh… Si Tumpeng Mini sukses di debut pertamanya… Orang-orang bukan cuma suka makannya, tapi juga excited mau bawa buat oleh-oleh, waduhh…

Soal rasa, 'Tumpeng Mini' memang tidak diragukan lagi… Menurut testimoni beberapa rekan,  'Tumpeng Enak' rasanya benar-benar enak, bumbunya terasa! Hmm, wajar sih, karena menurut mbak Pipit owner 'Tumpeng Enak', dia benar-benar melakukan riset untuk menghasilkan tumpengnya saat ini… Mulai dari beras premium yang cukup lengket untuk dibentuk meskipun tanpa tambahan beras ketan, santan, sampai minyak gorengnya. Saya sampai ter-wow-wow ndengerin mbak Pipit cerita… Sampai segitunya ya cari resep makanan…

Dan bukan cuma perkara rasa, packaging-nya pun benar-benar eye catchy! Tumpeng-tumpeng mini dengan aneka lauknya ini ditata apik dalam wadah beserta penutup transparan yang dilengkapi dengan sticker customize sesuai tema acara kita! Waktu itu, saya hanya memberikan tulisan,  konsep sticker beserta warna tema yang diinginkan… kemudian Mbak Pipit akan memesan desain sticker tersebut kepada percetakan langganannya. Dengan tentu saja, sebelum desain sticker sudah kita setujui… OK kan…


Packaging yang 'unyu-unyu' ini, sontak menimbulkan excitement tersendiri bagi peserta buka bersama. Karenanya, dari pemantauan saya, cukup banyak peserta yang memotret si Tumpeng Mini… sekedar untuk dokumentasi pribadi atau diposting melalui akun  socmed masing-masing… hahaha… Pokoknya seru lah liat tingkah polah orang-orang pada njepret si Tumpeng Mini ini, juga scroll-scroll timeline Instagram dan menemukan postingan-postingan orang-orang tentangnya…

Yes! Alhamdulillah… lega…

Terima-kasih Mbak Pipit dengan Tumpeng Enak-nya yang sudah memberikan pelayanan dan sajian mengesankan untuk acara kami. Juga, kesanggupannya meng-handle tambahan porsi mendadak (100 biji loh…) satu hari sebelum acara. Tumpeng Enak T.O.P lah pokoknya… Sukses selalu yah…

Dan teman-teman, yang berniat mengadakan acara, terutama yang berbau ceremony pas banget nih dengan Tumpeng Enak, dijamin nuansa heritage dan sakralnya acara makin terasa dengan menu tumpeng, tumpeng mini, dan bento nasi kuningnya. Atau kalau kurang suka nasi kuning, bisa kok request dibuat dengan nasi putih biasa…

Dengan komplitnya paket, berupa menu lengkap dengan lauk-pauknya serta packaging plus sticker customize sesuai tema acara kita, insyaallah harganya relatif affordable… Bisa langsung cek di Instagram atau websitenya langsung untuk cari tahu…

Atau… kalau berniat beli satuan sekedar untuk menghilangkan rasa kangen pada nasi kuning… boleh banget langsung order melalui Go-Food! Gampang banget pokoknya…

Tumpeng Enak
Instagram: @tumpeng.enak
Website: http://tumpengenak.com/

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, April 29, 2018

Tampil Cantik dengan Produk Handmade di Qlapa.com

'Modis'… dulu, mana kata itu dalam kamus hidup saya. Di tahun 90-an, saya adalah remaja sangat tidak peduli pada penampilan! Boro-boro matching-in warna, saya malahan merasa bangga jika berani jalan-jalan ke mall dengan setelan kolor dan t-shirt yang cukup pantas disebut baju tidur… Tindakan yang tampaknya sangat percaya diri, namun sesungguhnya adalah manifestasi dari ketidaknyamanan saya menjadi pusat perhatian.


Itu dulu…

Semakin dewasa, mau tidak mau kemudian saya harus berubah. Awalnya karena selalu gagal di sesi wawancara kerja, saya pun mengikuti nasehat Bude untuk lebih memperhatikan perihal penampilan; karena mau tidak mau itu adalah hal yang penting untuk posisi kerja tertentu, seperti posisi HR Admin incaran saya…

Sejak itu, kok lama-kelamaan saya merasa 'tampil cantik' itu enak juga dan menjadi pusat perhatian juga sama sekali tidak menyakitkan. Jadi kenapa tidak? Apalagi setelah menikah… suami getol banget beliin berbagai baju, sepatu, dan pernak-pernik lainnya demi membuat istrinya makin cantik… Makin sempurna lah transformasi saya…

Sampai-sampai, sekarang suami suka 'takjub' dengan penampilan saya yang menurutnya 'aneh-aneh'… Yang, yaa… sepertinya itu kata lain dari preferensi saya yang cukup spesifik pada produk handmade.  'Unik' identik dengan 'aneh', masuk akal kan…


Pengolahan manual membuat uniknya tekstur, warna, dan pola serat rotan, kain goni, mendong, dan pandan; warna-warni batu-batuan alam asli; dan juga uniknya motif batik, tenun, dan kain tradisional tampil prima. Dimana hal ini, tidak dapat dilakukan oleh mesin karena masing-masing membutuhkan treatment yang personal. Demikian juga pada bahan-bahan modern seperti benang nilon dan kain kanvas…

Proses handmade membuat berbagai macam detail dari bahan-bahan ini mungkin untuk ditampilkan.

Pun kreatifitas tinggi dan passion pengrajinnya membuat produk handmade tidak hanya berkelas dan bernilai seni tinggi, tapi juga sarat akan cerita hidup para pengrajinnya…

Salah satunya yang sempat viral adalah cerita istri Perdana Menteri Singapura yang memakai tas tangan karya seorang anak penyandang autisme saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat (Tempo.co).


Yup, di balik benda-benda handmade, pun tersimpan cerita-cerita personal dan inspiratif para pengrajinnya yang beraneka… Satu hal yang membuat produk handmade semakin bernilai bagi banyak orang.

Itu kenapa, saya hampir tidak pernah lepas dari sentuhan mereka di setiap kesempatan… Bukan hanya saat kondangan, tapi juga saat ke kantor, dan acara harian lainnya; saya suka sekali memakai pakaian batik atau tenun, perhiasan berbahan batu atau kayu, juga tas dari kain goni maupun daun pandan.

Mereka membuat saya merasa cantik…




Dan tentu saja bukan sekedar penilaian subjektif saja ya, karena teman-teman pun seringkali memuji penampilan saya, dilanjutkan komentar bahwa entah itu tas, kalung, atau pakaian handmade yang saya kenakan juga cantik, belinya dimana, dan sebagainya… Yang tidak bisa dipungkiri sih, kadang membuat saya ragu, "Jadi yang cantik saya atau pernak-pernik handmade-nya ya?" Haha…

Nah, kalau menurut teman-teman sendiri bagaimana? Bisa dibilang lumayan cantik lah ya… Dan berikut sedikit tips tampil cantik dengan produk handmade menurut versi saya:
  • Be yourself. Pilih gaya dan tampilan yang nyaman dan menarik menurut kita, jangan terlalu terpaku pada mode atau apapun.
  • Tentukan tema. Untuk menghasilkan penampilan yang berkarakter, kita perlu mengikuti satu tema tertentu; misalnya sporty kah, colourful kah, atau tema warna… earthy kah, candy colour kah, dan sebagainya.
  • Simpel dan jangan berlebihan. Karena fitur utama yang harus ditampilkan tetap adalah diri kita. Menurut saya, tampilan yang terlalu ramai justru akan mengaburkan karakter kita.
  • Pilih produk handmade yang berkualitas. Kualitas sama dengan jaminan elegannya suatu produk. Tidak harus mahal; yang terpenting adalah pemilihan bahan yang baik, pengerjaan yang 'rapi', dan desain yang indah.
Produk handmade sendiri, karena skala produksinya yang relatif kecil, pemasarannya pun tidak terlalu luas. Dulu, mendatangi langsung pengrajin atau toko-toko seni di daerah (nyaris) adalah satu-satunya cara mendapatkan mereka dalam versi terbaiknya (baca: berkualitas).


Sampai akhirnya, pengrajin mulai memanfaatkan website dan media sosial untuk memasarkan produknya. Yang tentunya adalah solusi bagi pengrajin untuk memasarkan produknya, dan juga konsumen, namun juga sebuah tantangan bagi kedua belah pihak…

Bagi konsumen adalah tantangan untuk menemukan produk yang berkualitas; sementara bagi pengrajin adalah tantangan untuk meyakinkan calon pembeli akan kualitas pelayanan dan juga produknya.

Dan, salah satu solusi dari tantangan ini diberikan oleh Qlapa.com!

Tampilan website Qlapa

Situs yang mulai beroperasi sejak 1 November 2015 ini merupakan penghubung antara pengrajin dan konsumen.

Disini, saya bisa menemukan (nyaris) apapun benda handmade yang dibutuhkan; mulai dari produk-produk fashion (tas, aksesoris dan pakaian), furniture, hingga produk kuliner. Qlapa.com bagaikan etalase online dari para pengrajin benda-benda handmade di mana pun mereka berada. Dan lebih dari itu, Qlapa.com memiliki berbagai kelebihan yang membuat saya terus menjadi pelanggan sejak tahun 2016:
  • Produk berkualitas dan terkurasi. Tim Qlapa akan menyeleksi satu persatu produk handmade dan hanya yang memenuhi standard kualitas serta memiliki target pasar yang sesuai yang akan ditampilkan di situs ini.
  • Aman. Qlapa.com berfungsi sebagai perantara transaksi antara pengrajin dan pembeli, dimana Qlapa.com baru akan meneruskan dana kepada pengrajin setelah barang diterima.
  • Memberdayakan pengrajin di seluruh Indonesia. Jika dulu para pengrajin produk handmade hanya bisa menjual produknya melalui toko-toko di daerahnya atau berusaha mencari pasar sendiri secara online dengan segala kesulitannya. Melalui Qlapa.com, mereka bagaikan dibawa ke sebuah pasar yang selalu ramai dikunjungi oleh pecinta handmade dari seluruh penjuru nusantara (bahkan dunia). 
  • Memesan dengan customize. Untuk barang-barang tertentu, kita bisa meminta detail tertentu… Sangat cocok untuk cinderamata…
  • Ada aplikasinya mobile-nya! Wow, ini nih yang meningkatkan kenyamanan berbelanja di Qlapa.com sejak beberapa waktu lalu… Dengan adanya aplikasi berbasis Android, berbelanja barang handmade menjadi benar-benar mudah dan menyenangkan. Kapan saja tertarik, tinggal searching di aplikasi, masukkan ke dalam keranjang, dan checkout… 
Qlapa.com bagaikan angin sejuk pegunungan bagi pecinta produk handmade seperti saya. Kapan saja, dimana saja setiap, kali membutuhkan… tinggal search… kain tenun, rok lilit, gelang, apapun itu… masukkan keranjang, checkout, dan barang akan dikirim ke alamat tujuan. Tanpa rasa khawatir!


Makanya wishlist Qlapa.com tidak pernah kosong, haha… Ada saja barang impian yang tertinggal di sana dan menunggu direalisasikan saat kantong memadai.

Terima-kasih ya Qlapa.com, sudah perburuan benda handmade menjadi begitu mudah… dan juga membuat saya terlihat cantik tentu saja. Sebagai konsumen, saya sangat puas dengan produk-produk Qlapa.com…

Teman-teman, sudah pernah belanja di Qlapa.com belum? Hati-hati ya, sekali coba pasti bakalan jadi langganan kaya saya deh…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, February 22, 2018

Ini Perbedaan Paspor Biasa dan E-Paspor yang Kamu Harus Tahu

Sumber: nationalgeographic.co.id

Mendengar kata paspor, hiks, jujur saja, yang terlintas di kepala saya adalah kerepotan membuatnya. Kala itu, tahun 2012 saya sempat mengurus dokumen keimigrasian ini bersama suami dan anak pertama saya, Ganesh yang baru berumur kurang lebih 1 tahun… hmm, prosesnya sih tidak terlalu ribet, cuma foto, wawancara dan kemudian tunggu beberapa waktu hingga paspor terbit. 

Dan kemudian, 5 tahun kemudian, saat paspor kami bertiga akan habis masa berlakunya, kami kembali mengurus perpanjangan paspor sekaligus pembuatan paspor si kecil Mahesh yang belum berusia 1 tahun… di sinilah drama terjadi. Mungkin karena beda kota, 5 tahun lalu di kota kecil, dan saat perpanjangan di kota yang jauh lebih ramai… perpanjangan dan pembuatan paspor saat itu menjadi lebih 'rumit' dan panjang. Proses diawali dengan mendaftar online terlebih dahulu untuk mengisi data, baru datang ke kantor imigrasi untuk melengkapi data, foto dan wawancara.

Kedengarannya sederhana ya… tapi sungguh, pengalaman kedua ini cukup ribet karena antriannya cukup panjang, hingga kami yang membawa Mahesh bayi benar-benar kerepotan. Usut punya usut, ternyata kami memilih waktu yang salah untuk mengurus paspor, karena bertepatan dengan persiapan keberangkatan TKI ke luar negeri, sehingga antrian menjadi sangat panjang.

Baiklah, next time akan lebih memperhatikan pemilihan waktu pengurusan dokumen ini… Termasuk juga mau tetap memilih paspor biasa atau e-paspor, nah loh, istilah apalagi ini ya…

Kedua jenis paspor ini sama-sama bisa dipakai untuk syarat perjalanan ke luar negeri, namun masing-masing pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Hmm, penasaran seperti saya? Berikut penjelasannya…

Paspor Biasa 

Sumber: depok.imigrasi.go.id

Paspor biasa adalah buku paspor yang selama ini kita gunakan untuk perjalanan ke luar negeri. Ketika kita bepergian dengan paspor ini, petugas imigrasi akan memeriksa lembar per lembar cap Negara yang ada di dalamnya dan kita harus memperpanjang ketika lembarannya habis. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...