SOCIAL MEDIA

search

Tuesday, November 23, 2021

Belajar Membaca Ala Montessori: Kapan Sebaiknya Mengajari Anak Membaca?

Versi video disini: 

"Calistung alias Baca Tulis Hitung itu tidak boleh diajarkan pada anak sebelum usia 7 tahun!"

Hmm, jujur, pada awalnya saya mengamini statement ini begitu saja. Saya merasa bahwa di usia kurang dari 7 tahun, ada banyak hal lain yang lebih penting untuk diajarkan pada anak selain calistung. Saya pun merasa bahwa calistung sendiri tidak termasuk dalam tugas perkembangan anak-anak di bawah usia 7 tahun.

Yang sebenarnya tidak sepenuhnya salah sih, tapi perlu dikaji lebih dalam tentang beberapa hal, terutama  mengenai definisi mengajarkan calistung yang dimaksud itu seperti apa. Simpelnya, kalo ngajak anak nyanyi 'Satu Satu Aku Sayang Ibu' aja masa iya ga boleh? Padahal jelas disitu juga ada muatan hitungannya lho... Iya apa iya?

Ini yang saya rasakan pada saat si Ganesh mulai masuk TK di sebuah sekolah yang menggunakan Metode Montessori. Disana saya melihat bagaimana anak-anak mulai dikenalkan pada bunyi dan huruf dengan metode bermain, misalnya main tebak huruf sebelum masuk kelas. Juga menyiapkan anak-anak untuk belajar menulis dengan kegiatan meremas, mewarnai, dan sebagainya.

Yes, ternyata belajar baca-tulis-hitung itu bisa banget dikemas dalam bentuk permainan yang jauh dari kata stressing (atau membuat stress), dan bahkan sangat menyenangkan untuk anak-anak. Well, dengan metode seperti ini sangat tidak ada salahnya untuk 'mengajarkan' calistung pada anak dari usia dini pun kan?

Jadi, dulu pun saya santuy aja dan sepakat pada saat Ganesh mulai diajarkan calistung sejak TK dengan Metode Montessori tersebut. Dan meskipun pada saat masuk SD dia belum lancar baca, tidak lama kemudian dia sudah bisa baca.

Tapi, kemudian pandemi pun melanda saat adiknya, Mahesh, duduk di bangku TK A... kegiatan belajar online membuat peran saya sebagai orang-tua dan pendidik menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Kalau dulu, ya cukup antar jemput anak sekolah sambil sedikit-sedikit mengamati perkembangannya. Setelah pandemi, saya merasa punya beban untuk memastikan Mahesh bisa membaca, sehingga tidak kesulitan pada saat masuk SD nanti.

Dari sana kemudian saya mencari lebih banyak mengenai pengajaran baca tulis melalui Metode Montessori yang minim stress. Karena yang saya tahu belajar membaca itu yang dengan mengeja, saya tidak tahu bagaimana cara mengajarkan anak membaca dan menulis dengan Metode Montessori ini.

Dan gayung bersambut, saat itu kemudian saya menemukan Buku 'Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja' karya Ibu Vidya Dwina Paramita.

BACA TULIS DALAM METODE MONTESSORI

Dalam Metode Montessori, anak dikategorikan mampu membaca jika mampu mengorelasikan rangkaian huruf yang dia 'baca' (bunyikan) dengan maknanya.

Jadi, jika seorang anak mampu 'membaca' sebuah kata atau kalimat misalnya, tapi tidak memahami makna dari kata atau kalimat yang baru saja dibacanya itu, maka dia baru masuk pada tahap 'membunyikan huruf'.

Karena itu, mengajarkan anak bahwa membaca itu adalah kegiatan yang menyenangkan kemudian menjadi hal yang sangat penting. Karena dari rasa menyenangkan itu, anak akan lebih mudah untuk memahami makna dari rangkaian huruf yang dia baca. Bukan sekedar buru-buru membunyikan huruf dan skip proses memaknainya.

So, belajar membaca harus jauh-jauh dari aktivitas yang justru membuat anak merasa tertekan.

TAHAP PRA-MEMBACA

Yup, dalam Metode Montessori ada dua tahapan pengajaran baca dan tulis pada anak, yaitu tahap pra-membaca dan teknis membaca.

Pada tahap pra-membaca, anak belum dikenalkan dengan huruf, namun lebih ke kegiatan yang membuat anak tertarik untuk membaca juga kegiatan mengenal bunyi, kata, kalimat, serta makna. Misalnya dengan berbincang, membacakan cerita, maupun bernyanyi. Kegiatan ini bisa dimulai pada usia yang sangat dini, bahkan sejak dalam kandungan.

Selanjutnya anak-anak juga perlu diajak mengenal bentuk, tekstur, ukuran, berat dan arah benda, yang akan berguna nantinya untuk mengenali huruf. Termasuk juga kegiatan fisik seperti makan sendiri, menuang, memasukkan benda ke wadah, meronce, memukulkan palu pada paku, dan sebagainya yang akan melatih koordinasi tangan serta matanya.

TAHAP TEKNIS MEMBACA

Nah, lalu kapan saatnya anak diajarkan untuk mengenal huruf (mengorelasikan huruf, bunyi, dan makna)?

Berikut adalah checklist untuk menilai kesiapan anak memasuki tahap teknis membaca yang dapat digunakan sebagai pedoman:

  1. Anak memahami minimal 100 kata,
  2. Anak dapat berkomunikasi dua arah,
  3. Anak dapat memahami jalan cerita dalam kisah pendek yang dibacakan,
  4. Anak dapat membedakan bentuk segitiga, persegi, dan lingkaran,
  5. Anak dapat mengklasifikasikan objek berdasarkan kesamaan dan perbedaannya serta menyebutkan alasan pengelompokan,
  6. Anak dapat memahami konsep sebab akibat sederhana.
Anak dinilai siap untuk mulai memasuki tahapan teknis membaca pada saat menguasai minimal empat dari kemampuan pada checklist tersebut. Dimana yang perlu diingat, menurut Metode Montessori ini bukan artinya memberikan tugas anak untuk menghapal huruf dan mengeja secara kaku. Namun tetap mengedepankan proses yang menyenangkan supaya anak mencintai kegiatan membaca.

So, menjawab pertanyaan, 'kapan sebaiknya mengajari anak membaca', jika maksudnya adalah tahap teknis membaca, maka jawabannya bukanlah usia ataupun jenjang pendidikan, tapi kesiapan anak. Dimana kesiapan anak ini akan berbeda-beda satu sama lain, ada yang bahkan di usia empat tahun sudah bisa membaca dengan sendirinya, ada juga yang mulai siap pada usia pra-sekolah (TK).

Potensi anak berkaitan dengan literasi tentu berbeda-beda yang juga mempengaruhi kapan kesiapan ini muncul. Dan tugas pendidik maupun orang-tua adalah mengoptimalkan potensi ini, yaitu menyiapkan anak pada tahap pra-membaca. Sebuah tahap yang sangat krusial supaya anak mencintai kegiatan belajar dan membaca.

Begitu kira-kira teman-teman jawabannya dari berbagai sumber yang saya baca.

***

Nah, selanjutnya gimana gambaran tahapan pra-membaca dan teknis membaca ini? Hmm, ini juga lumayan seru dan rada bikin bingung awalnya. Dalam Metode Montessori ada istilah 'writing before reading' atau 'menulis sebelum membaca'. Nah loh, gimana tuh ceritanya? Kita bahas di post dan video berikutnya ya teman-teman.

Stay tuned dan tetap semangat!

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, November 15, 2021

IBU BERHENTI BEKERJA DARI BUMN [PERNAH MERASA MENYESAL?]

Video version is here:

Jadi, semenjak resign dari PLN di bulan Agustus 2019 lalu, beberapa teman yang sedang menimbang untuk mengambil keputusan yang sama pun banyak bertanya pada saya seputar hal ini. Salah satunya yang paling banyak ditanyakan adalah, "Pernah ga merasa menyesal setelah resign?"

Hmm, pernah ga ya? Baiklah, so, saya akan mendedikasikan tulisan untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi, sebelum membahas lebih lanjut, kita samakan persepsi tentang definisi 'menyesal' ya...

Secara psikologis 'menyesal' atau 'regret' dapat diartikan sebagai kondisi kognitif dan emosional yang negatif yang meliputi perasaan menyalahkan diri sendiri akan hasil yang tidak baik (sesuai harapan), perasaan kehilangan atau sedih atas sesuatu yang terjadi, atau berharap kita bisa mengulang waktu dan mengganti pilihan yang pernah kita ambil (dari PsychologyToday).
Artinya pada saat merasa 'menyesal' ada perasaan menyalahkan keputusan yang pernah diambil. Kita membandingkan kondisi sebelum dan sesudah resign, kemudian merasa bahwa kondisi sebelum resign lebih baik, sehingga kita ingin kembali ke posisi tersebut.

Jadi, apakah saya pernah merasa menyesal setelah resign?

OK, dalam setiap mengambil keputusan, sesungguhnya pasti ada sebuah ekspektasi. Baik suatu kondisi yang ingin dicapai, maupun sebuah kondisi yang ingin dihindari atau diperbaiki; dengan mempertimbangkan risiko atau kondisi tidak nyaman yang menyertainya. Dimana dalam perjalanannya, bisa jadi ekspektasi tersebut terpenuhi ataupun sebaliknya.

KONDISI YANG INGIN DIPERBAIKI

Sebelum resign saya adalah seorang pekerja full time yang bekerja dari Senin hingga Jumat dari jam 7.30 hingga 16.00. Kondisi tersebut menuntut saya untuk banyak mendelegasikan peran saya menjaga anak-anak kepada pengasuh, serta mengesampingkan hal-hal terkait hobi dan aktualisasi diri untuk melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung-jawab saya.

Work-life balance benar-benar menjadi isu saat itu, terlebih saat saya mulai merasa tidak puas dengan pekerjaan yang saya lakukan. Typical saya yang perfeksionis dan idealis, yang begitu passionate, yang ingin menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai 'karya' tidak terpenuhi melalui pekerjaan saya. Hal ini membuat upaya menciptakan keseimbangan antara 'kerja' dan 'kehidupan pribadi' menjadi lebih sulit dicapai. Karena di samping perlu menyeimbangkannya dengan keluarga, saya masih harus struggle untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri yang tidak terpenuhi dari dunia kerja.

Singkat cerita, kemudian saya tiba di tahap dimana kondisi tersebut cukup mengganggu kesehatan mental saya. Seringkali merasa terburu-buru, merasa ada begitu banyak hal yang ingin saya kerjakan tapi tidak selesai atau harus selesai di bawah standard pribadi saya, merasa tidak bisa menjalankan peran saya dengan baik, tidak punya waktu untuk diri sendiri, dan sebagainya.

Well, mungkin ini untuk beberapa teman sulit dipahami ya... Tapi, percayalah bahwa ini bukan sesederhana tentang kurang bersyukur. Cukup pahami bahwa setiap individu memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda, sehingga ini pun termanifestasi pada perasaan, pandangan, harapan, dan juga apa yang membahagiakannya.

KENYAMANAN YANG MENJADI KONSEKUENSI

Menjadi pekerja pada titik itu menciptakan ketidaknyamanan, tapi tentu saja tidak memunafikkan kenyamanan yang menyertainya. Gaji bulanan yang relatif tinggi dan stabil beserta segala tunjangannya, status yang prestise dimata masyarakat, aktivitas yang menghidupkan hari hari-hari saya, dan circle pertemanan. Semua itu adalah zona nyaman yang akan berganti pada saat memutuskan untuk resign.

Perubahan ini adalah hal yang pasti terjadi, sehingga sudah diperhitungkan dan diantisipasi, meskipun sifatnya tentu adalah prediksi. Sebaik apapun persiapan, sesungguhnya semua adalah sebatas angan-angan yang kita bayangkan, kita tidak benar-benar menjalani masa depan di masa kini. So,  sebenarnya kita tidak benar-benar tahu apakah segala rencana dan persiapan kita itu sesuai dengan harapan atau sebaliknya.

MASA TRANSISI

Semakin mengkerucut pada pertanyaan, 'pernah ga merasa menyesal setelah resign', menurut pengalaman saya ada ada dua masa yang rawan bagi kita untuk merasa menyesal. Yang pertama adalah masa transisi, yaitu masa tepat setelah kita resign.

Bagi banyak orang termasuk saya, masa transisi adalah kondisi yang tidak nyaman. Bagi saya, masa transisi itu masih kental dengan kenangan akan kondisi yang ditinggalkan, sekaligus antisipasi akan risiko-risiko yang kita pikirkan. Jadi, rasanya itu tidak santai, lebih was-was, dan juga sensitif. Dalam intensitas yang ekstrim masa ini pun bisa menerbitkan rasa sesal, yang untungnya tidak terjadi pada saya.

Semua yang disebutkan di atas, itu saya rasakan. Bagai habis putus cinta, kenangan akan hari-hari yang dilewati bersama itu masih begitu nyata diingatan. Tapi, semua masih pada batas yang masih logis saya terima dari bagian dari proses adaptasi. Saya bisa bilang di masa rawan pertama ini saya tidak merasakan menyesal.

MASA DEPAN SIAPA YANG TAHU...

Kemudian, masa kedua adalah saat kita mulai terbiasa dan beradaptasi dengan kondisi setelah resign. Masa dimana kita melihat dan merasakan apakah ekspektasi kita terpenuhi atau tidak...

Sebelum resign saya bersama suami pun sudah mempersiapkan beberapa hal. Saat itu, kami membuka sebuah usaha akan menjadi aktivitas baru yang produktif bagi saya. Dimana semua berjalan baik-baik saja sejak saya resign di Bulan Agustus 2019, hingga akhirnya April 2020 semuanya berubah. Kondisi pandemi memaksa begitu banyak usaha untuk berhenti beroperasi, termasuk usaha kami yang mengandalkan pengunjung mall sebagai customer. Sehingga di bulan yang sama (April 2020) saat kontrak sewa habis, kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan dulu usaha ini.

Hal ini praktis itu merubah semua hal, zona nyaman baru yang saya rencanakan tidak berjalan sesuai rencana. Pandemi, adalah sebuah kondisi yang tidak terbayangkan akan terjadi bagi kami saat itu, dan siapa pun. So, yes, kondisi itu membuat saya kehilangan aktivitas sehari-hari, sumber penghasilan, dan juga lingkaran pergaulan saya. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi yang menciptakan tekanan lainnya, diantaranya Long Distance Marriage yang sangat panjang, tidak bisa kemana-mana, dan juga kesibukan baru bernama belajar online, membuat saya benar-benar merasa powerless.

Di sini saya ingin menyampaikan bahwa kemungkinan jika rencana dan langkah antisipasi yang kita siapkan itu tidak berjalan sesuai rencana bisa saja terjadi. Meski tidak menutup kemungkinan, jika hal sebaliknyalah yang terjadi. Misalnya bisnis yang kita siapkan berjalan lebih baik setelah kita resign.

Prediksi adalah prediksi, semua hal bisa terjadi, yang lebih buruk ataupun justru yang lebih baik...

LALU APAKAH MENYESAL?

Dalam kasus saya, pada satu titik bisa dibilang bahwa rencana berjalan di bawah ekspektasi. Dan saya pun merasakan struggle untuk beradaptasi dengan keadaan ini. Tapi, jujur, saya tidak pernah merasa menyesal dengan keputusan saya untuk resign.

Mungkin hal ini akan terjadi sebaliknya, jika saya adalah pencari nafkah utama dalam keluarga. Tapi, karena saya memiliki privilege itu, meskipun saat itu merasa tidak nyaman dengan keadaan, tapi rasa sesal itu tidak hadir.

Tidak ada keinginan sedikit pun dalam diri untuk menukar kondisi powerless yang saya rasakan dengan situasi powerful saat masih bekerja. Sekali lagi setiap individu itu unik ya, dan saya kebetulan adalah seorang yang sangat membutuhkan kebebasan, idealisme, dan kompetisi fair yang membuat seseorang merasa dapat meraih prestasi. 

Lagi pula saya melihat kondisi tidak sesuai ekspektasi ini sekedar sebagai tertutupnya satu pintu, sementara pintu yang lain masih banyak. Sementara rejeki dari berjualan bisa dibilang sedang sulit untuk semua orang, ya saya tetap berusaha melakukan hal yang saya bisa. Mengembangkan media yang saya punya (Instagram, YouTube, dan lainnya), melakukan hobi-hobi seperti menyanyi, menggambar, apa aja yang saya suka.

Kehidupan pasca resign saya pada satu titik memang terasa di bawah ekspektasi, tapi siapa disangka kemudian hobi-hobi ini pun bisa menghasilkan income, meski tentu tidak se-stabil saat bekerja full time. Ada kalanya lebih banyak, sering juga dibawahnya. Tapi, kebahagiaan dan ketenangan hati yang saya dapatkan karena keleluasaan membersamai anak-anak dan kesempatan mengembangkan diri itu selalu stabil di atas, dibandingkan pada saat bekerja.

Hidup adalah pilihan, saya memiliki privilege untuk mengambil pilihan resign dan saya tidak pernah menyesal mengambil keputusan itu. Bagi saya, kepurusan untuk resign adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya.

Jadi, jika ingin digeneralisasi, mungkin menyesal dan tidak menyesalnya seseorang setelah resign itu tergantung pada:

PERTIMBANGAN. Pastikan jika itu bukanlah keputusan emosional semata, bukan sekedar pelarian untuk menghindari hal yang tidak kita inginkan, tapi lebih ke usaha untuk mencapai situasi yang kita inginkan. Sehingga kita tetap bisa menghargai mensyukuri situasi setelah resign. Dan jika ternyata sebagian rencana tidak berjalan sesuai ekspektasi, kita tidak merasa kehilangan tempat berpijak.

LEGOWO DAN RESILIANCE. Selain itu, yang perlu disadari dan disikapi legowo adalah bahwa kehidupan setelah resign itu secara finansial sudah pasti tidak se-stabil saat bekerja. Kamu bisa mendapatkan lebih, tapi juga bisa dibawahnya, jadi jangan baperan, keep on going pokoknya.

***

Kira-kira begitu penjelasan saya menjawab pertanyaan, "Pernah ga merasa menyesal setelah resign?" yang jawabannya adalah 'tidak'.

Struggle-nya saya ya di bagian merasa powerless itu, dan ini mungkin sangat berbeda bagai orang lain. So, jika teman-teman pun memiliki keinginan untuk resign, sekali lagi pertimbangkan segala sisi positif dan negatif dari bekerja full time dan resign.

Resign akan membuat teman-teman kehilangan sesuatu, so pastikan kan is it OK? Resign juga akan membawa kita untuk mendapatkan sesuatu, so pastikan juga jika teman-teman benar-benar menginginkan hal itu. Serta satu lagi, sadari bahwa selalu ada kemungkinan jika rencana yang telah disusun tidak berjalan sesuai harapan kita, is it also OK

Hidup adalah tentang pilihan, termasuk memilih risiko yang akan ikhlas kita jalani.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Saturday, November 6, 2021

Pengalaman Menurunkan Berat Badan dengan Suplemen Kesehatan (?)

Whoa! So, ini adalah post menindaklanjuti, video yang pernah saya buat tentang Herbilogy Slimming Kit yang saya konsumsi dalam rangka berusaha menurunkan berat badan. 

Penggunaan Slimming Kit Herbilogy ini sendiri terdiri dari dua langkah, yaitu proses detoksifikasi dengan menggunakan Laxa Tea selama 14 hari. Baru kemudian dilanjutkan dengan konsumsi Green Tea dan Slimming Capsule-nya.

Nah, di YouTube Channel, saya baru upload dua video, yaitu video part 1 unboxing si Herbilogy Slimming Kit dan part 2 testimoni setelah menggunakan Laxa Tea. Sementara part 3-nya alias testimoni setelah memakai Green Tea dan Slimming Capsule-nya belum saya bikin juga. Bukan apa-apa, tapi saya memang gagal untuk disiplin dalam program ini dan tidak bisa memberikan testimoni teman-teman :D

Jadi begini... Di video pertama kan saya sampaikan bahwa si Slimming Kit ini adalah pelengkap dari program diet yang saya rencanakan meliputi: memperbaiki pola makan (mengurangi asupan kalori) dan olah-raga. Tapi kenyataannya, kesibukan yang luar biasa membuat saya tidak bisa disiplin seperti seharusnya.

Jam tidur yang jauh dari ideal (baca: seringkali tidur jam 3.00 pagi, bangun pagi sekitar jam 7, baru nanti siang tidur lagi) itu membuat saya kesulitan mengatur waktu makan dan juga olah-raga. Rutinitas yang cukup menyita waktu dari menemani belajar online anak-anak, masak, beberes rumah, setrika, belanja, dll itu pun sangat menguras waktu dan energi. Sehingga kedisiplinan yang mutlak diperlukan dalam program diet ini tidak bisa saya lakukan.

Olah-raga banyak sekali ke-skip karena sudah kecapekan. Makan camilan pun seringkali masih dilakukan demi mengurangi ngantuk, dan bahkan minum si Green Tea dan Slimming Capsule pun suka lupa. So, disini lah saya merasa tidak bisa menilai seberapa besar andil si Slimming Kit ini dalam perubahan berat badan saya.

Oh ya, kalo ditanya berapa perubahan berat badan saya, hoho, malahan naik 0,7 kg teman-teman. Dimana, tentu saja ini bukan akibat dari Slimming Kit ya, tapi karena ketidakdisiplinan saya. Nah, disini (sekali lagi) kemudian saya tidak bisa menilai efektivitas dari Slimming Kit ini. Gitu teman-teman...

Dan membicarakan tentang diet, dari kegagalan ini kemudian saya semakin tersadar bahwa kunci dari penurunan berat badan adalah kedisiplinan dan konsistensi.

Jadi begini, pada dasarnya untuk menurunkan berat badan, kita harus membakar cadangan makanan (dalam bentuk lemak) yang ada dalam tubuh, artinya kita harus melakukan program defisit kalori. Dimana ini dilakukan dengan mengurangi asupan kalori dan juga meningkatkan aktivitas yang membakar kalori. Sementara suplemen, sifatnya adalah untuk membantu saja

Intinya tetap di kedisiplinan kita untuk melakukan program defisit kalori.

Metabolisme tubuh saya memang cenderung lambat alias mudah naik berat badan. Udah gitu cenderung obsesive compulsive yang termanifestasi juga dalam perilaku suka ngemil. Kondisi ini diperburuk karena saat ini hari-hari saya yang serba melelahkan sebagai single fighter (baca: Long Distance Marriage plus ga ada ART), boro-boro mau olah-raga, kontrol diri pun melemah.

Tapi, itu bukan berarti menyerah dan membiarkan semua benar-benar tak terkendali ya... Saya tetap berusaha melakukan hal-hal untuk menerapkan pola hidup sehat yang efeknya juga ke menjaga berat badan. Dan yang saya lakukan saat ini, kembali ke cara lama, yaitu menjaga makanan (meminimalkan karbohidrat dan memperbanyak sayur), serta memakai korset.

Yap, bukan salah ketik, it's memakai korset... ini ngefek banget untuk saya. Mari kita bahas satu persatu ya... 


Versi videonya kalau males bacanya :D

MENJAGA MAKANAN!

So, sejak kurang lebih 6 tahun lalu saya mulai menerapkan pola makan food combining meski bukan yang saklek banget. Jadi, setiap pagi dimulai dengan minum segelas air jeruk nipis hangat, kemudian beberapa saat kemudian sarapan buah, dan baru makan siang pada pukul 11.30. Menu makan siang atau malam pun sebisa mungkin tidak menggabungkan antara karbohidrat dan protein hewani. 

Jadi biasanya saya mengganti nasi dengan sayuran yang banyak kalau ingin makan ayam, ikan, dan protein hewani lainnya. Sementara kalau lagi makan tahu atau tempe (protein nabati), ya makan nasi tidak apa-apa. Meski saya emang pada dasarnya pun ga terlalu suka nasi, jadi sehari-hari jarang sekali makan nasi, bisa seminggu penuh tanpa nasi atau bahkan sebulan penuh, tergantung mood.

Jadi, pola makan ini masih saya lanjutkan, hanya saja yang berbeda adalah saya mengurangi ngemil atau porsi makan snack saja. Dan bagian ini cukup challenging sih, karena ya itu tadi, kadang untuk mengurangi ngantuk akibat jam tidur yang rada kacau, godaan ngemil itu lebih sulit ditahan.

Tapi, tetep berusaha kontrol... jangan dilosin aja...

MEMAKAI KORSET!

Ini juga kebiasaan lama sejak melahirkan anak pertama lebih dari 10 tahun lalu, yaitu memakai korset.

Secara fisik sih dengan memakai korset perut akan tertekan dan terbentuk lebih slim, tapi efek yang paling bermanfaat untuk saya itu sebenarnya adalah untuk mengontrol nafsu makan.

Yes, karena pakai korset, perut tuh rasanya cenderung lebih cepat kenyang dan kenyangnya lebih tahan lama, jadi sangat membantu mengontrol keinginan untuk makan.

So, yes, siang saya pakai korset yang sebelumnya pakai Mustika Ratu Slimming Gel dulu. Dimana untuk saya, krim ini lebih untuk menjaga kulit lembab dan jika pun kulit kembali mengkerut karena menjadi lebih langsing, kulit tetap kencang. Efeknya ke membakar lemak di perut tidak terlalu saya rasakan. 

Lagi-lagi ya... menurut saya yang namanya suplemen itu sifatnya hanya membantu secara minimal, inti dari penurunan berat badan tetap di menjaga asupan kalori dan membakarnya.

AKTIFIN CALORY COUNTER

Ini barusan banget sih gara-gara ada diskon 50% untuk aplikasi calory counter favorit saya, Lifesum! Tapi aplikasi calory counter lain banyak ya... so, kalau mau pakai juga, silakan cari yang pas...

Aplikasi ini sendiri sifatnya lebih untuk mengontrol keseimbangan antara kalori yang masuk ke dalam tubuh dan yang kita bakar. Melalui aplikasi Lifesum ini, kita bisa menentukan target; apakah untuk menurunkan berat badang, menjaga berat badan, atau bahkan meningkatkan berat badan. Kita juga bisa memilih jenis diet yang paling pas, me-record perkembangan berat badan kita, dan banyak lagi.

Lebih dari sekedar concern tentang berat badan, Lifesum ini tujuannya sebenarnya lebih ke membantu kita me-maintain kebiasaan hidup sehat. Karena itu, selain calory counter, Lifesum juga memiliki water tracker, dan juga memberikan saran untuk menjaga keseimbangan nutrisi kita (karbohidrat, protein, dan lemak).

Oh ya, satu lagi... ini aplikasi beneran bermanfaat untuk saya yang rada obsesive compulsive ini, supaya lebih sadar diri.

***

Untuk sementara, itu yang rutin saya lakukan... Olah-raga akan sangat membantu, dan saya pun masih mencari celah dalam hari-hari saya untuk bisa olah-raga secara rutin lagi.

Dan kembali ke judul post kali ini, jika ingin disimpulkan seberapa efektif suplemen Herbilogy Slimming Kit dalam penurunan berat badan saya, hmm, saya tidak bisa tidak tahu. Tapi, satu hal yang pasti adalah bahwa peran suplemen dalam penurunan berat badan hanyalah membantu, dan tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak melakukan upaya mengurangi kalori dalam tubuh.

So, jangan berharap terlalu banyak bisa menurunkan berat badan sekedar bergantung pada suplemen tertentu, tanpa mengurangi asupan kalori dan membakar kalori dalam tubuh ya...

Kurang lebih begitu teman-teman... Semangat sehat ya!

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, November 1, 2021

KREATIVITAS: INVESTASI UNTUK ANAK-ANAK KITA DI ERA DIGITAL

"Udah lah, kalau masih ada anak kecil, jangan harap rumah bisa rapi..." demikian curhatan para ibu yang bersliweran di dunia maya maupun nyata yang kemudian saya amini setelah menjadi seorang ibu. Sikap selow dan lapang dada saat melihat rumah berantakan memang kemudian menjadi satu kapasitas yang mutlak diperlukan seorang ibu untuk mempertahankan kesehatan mentalnya menghadapi anak-anak yang belum beranjak dewasa.

Demikian juga dengan si Ganesh yang kini berusia 10 tahun. Sejak kecil dia adalah anak yang 'ada-ada aja..." Hampir semua bisa dia jadikan mainan! Anaknya selalu penasaran untuk mencoba apa yang dilihatnya, utak-atik barang, dan bikin sesuatu dari barang bekas (atau yang sebenarnya masih terpakai). Dan bisa dibayangkan, kemudian rumah pun bisa dipastikan selalu dalam keadaan berantakan kecuali malam saat dia tertidur hingga pagi sebelum dia terbangun.

Rasa geregetan itu pasti ada kalanya datang, tapi ya udah lah... Masa kanak-kanak memang masanya bereksplorasi. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang begitu tinggi dan ingin mencoba semua hal yang dia bisa.

Ganesh sendiri dari kecil memang punya hobi spesifik membuat sesuatu dengan bahan kardus dan bahan bekas lainnya. Hal ini secara konsisten dia lakukan hingga saat ini. Dan sampai sekarang pun, saya masih amazed setiap kali dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya dan berkata, "Mama, boleh enggak kardusnya buat Anesh?" Geli sendiri melihat binar-binar matanya mengharap suatu barang bekas untuk boleh dia ubah entah jadi apa.

Saat itu, saya berpikir, "Yah, tiap anak tentu memiliki potensinya masing-masing..." Jadi ya saya berusaha fasilitasi saja semampunya karena merasa ini adalah hal yang positif, tapi belum terlalu memahami bahwa kreativitas ini hal yang sangat penting untuk masa depannya. Sampai akhirnya saya mendapat kesempatan mengikuti sebuah webinar yang diadakan oleh Faber-Castell dengan tajuk 'Soft Skill Apa yang Diperlukan di Abad Digital?"

KREATIVITAS DI ERA DIGITAL

Di banyak film futuristik, kita sering disuguhi bagaimana robot menjadi bagian dari keseharian manusia. Saat ini, robotisasi sudah dimulai, berbagai pekerjaan repetitif 'sederhana' telah digantikan oleh robot yang notabene lebih mudah maintenance-nya. Robot tidak kenal capek, emosi (marah atau sedih), dan akurasi pekerjaannya pun lebih tinggi daripada manusia. Dimana hal ini akan semakin berkembang, dan di masa depan akan lebih banyak aktivitas yang digantikan oleh robot.

Berbagai aktivitas memang akan menjadi lebih efisien dengan bantuan robot, tapi tidak semuanya. Manusia memiliki kelebihan yang tidak bisa digantikan oleh robot, salah satunya adalah kreativitas, yaitu kemampuan untuk memproduksi atau mengembangkan suatu karya asli, ide, teknik, atau pemikiran.

Robot bekerja berdasarkan formula atau program yang diberikan manusia sehingga memiliki keterbatasan. Sementara manusia memiliki kreativitas yang membuatnya mampu menciptakan sesuatu hal yang sifatnya original dan cenderung tidak terbatas.

Itu mengapa, kreativitas kemudian menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan anak-anak kita di masa depan. Supaya dia mampu bersaing dan tidak tergantikan oleh robot. 

Karenanya kita perlu memfasilitasi anak-anak kita untuk mengembangkan kreativitas ini.

PANDEMI VS KREATIVITAS

Anak-anak membutuhkan media untuk membuatnya melakukan berbagai aktivitas untuk mengembangkan kreativitasnya. Dimana hal ini praktis menjadi tantangan tersendiri pada masa pandemi.

Sebelum pandemi, anak-anak bisa berangkat ke sekolah, bermain bersama teman-temannya, berinteraksi dengan gurunya, mengikuti berbagai kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya, bermain di alam terbuka, dan banyak lagi. Sementara sekarang, praktis mereka lebih banyak beraktivitas di rumah. 

Bosan itu pasti. Jadi, apa pengganti dari semua kegiatan ini? Bagaimana menyalurkan energi dan rasa ingin tahu yang begitu besar dari anak-anak ini? Di sinilah kemudian gadget seringkali menjadi musuh terselubung pada situasi ini. 

Anak-anak haus akan kegiatan, kita sebagai orang-tua pun tentu punya keterbatasan untuk memfasilitasinya karena segala kegiatan yang harus dilakukan, sehingga gadget menawarkan solusi supaya anak-anak tenang sementara orang-tua bisa tetap melakukan kegiatannya dengan tenang.

Solusi yang tidak bijak tentu saja, karena gadget akan membuat anak-anak terpaku padanya, melupakan kegiatan yang bermanfaat baginya, dan bahkan berpotensi menimbulkan masalah. Di antaranya adalah masalah kesehatan fisik (karena banyak duduk diam), terlambat berbicara, masalah atensi dan konsentrasi, masalah pada executive functioning, masalah pada perilaku, dan memburuknya kelekatan dengan orang-tua. 

Secara konkret penggunaan gadget yang berlebihan akan membuat anak terlalu terpaku padanya dan kurang melakukan aktivitas yang sesungguhnya bermanfaat. Termasuk juga aktivitas-aktivitas yang mengasah kreativitasnya. Padahal kreativitas ini menjadi hal yang sangat penting untuk masa depannya nanti.

KEGIATAN UNTUK MENGASAH KREATIVITAS ANAK

Sesungguhnya ada begitu banyak kegiatan yang bisa dilakukan anak-anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Melalui berbagai permainan, diskusi, kegiatan seni, dan banyak lagi. Pada dasarnya setiap anak akan terdorong untuk melakukan aktifitas untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Dan kita sebagai orang-tua memiliki peran untuk memfasilitasi dorongan ini; baik dengan memberikan lingkungan yang supportif, memberikan ide kegiatan, dan juga membimbing (aktif mengajak bermain).

Membiarkan anak berkreasi meskipun rumah menjadi berantakan, menyediakan supply bahan-bahan yang dia butuhkan, tidak mudah marah saat anak merusak sesuatu karena sedang mencoba-coba, dalam hal ini termasuk bagian dari upaya kita untuk memberikan lingkungan supportif yang dimaksud.

Ada kalanya, kita sebagai orang-tua juga perlu merangsang anak-anak untuk melakukan kegiatan kreatif di tengah godaan gadget di masa pandemi ini. Bentuk kegiatannya sendiri bisa bermacam-macam, dari kegiatan seni seperti menggambar, kegiatan science seperti melakukan eksperimen sederhana, kegiatan berkaitan dengan logika berpikir seperti diskusi bersama, dan banyak lagi.

Butuh ide? Hmm, saat ini pun ada berbagai kegiatan tematik beserta supply-nya yang sangat memudahkan kita untuk mengajak anak berkreasi. Salah satunya adalah Faber-Castell Creative Art Series...

FABER-CASTELL CREATIVE ART SERIES

Yup, Faber-Castell memiliki serangkaian produk tematik yang merangsang kreativitas anak-anak. Dalam satu paket Faber-Castell Creative Art Series sudah lengkap akan peralatan, bahan, dan juga petunjuk pengerjaannya.

Misalnya seri Glow In The Dark Clock yang kami coba beberapa waktu lalu. Art Series ini mengajak anak-anak membuat jam yang bisa menyala dalam gelap. Adapun kegiatan yang dilakukan di sini meliputi mengecat, merangkai siluet gambar dan bagian-bagian lainnya hingga menjadi jam yang benar-benar bisa digunakan, dan tentu saja menyala dalam gelap!

Faber-Castell Creative Art Series: Glow In The Dark Clock
Foto: Faber-Castell Indonesia

Hoho, jangan tanya ya... sejak paket Glow In The Dark Clock ini datang, si Ganesh sudah ribut pengen bikinnya. Keseruan dia bikin si jam yang menyala di gelap ini bisa dilihat di video berikut ya...

Melakukan kegiatan Faber-Castell Creative Art Series ini, praktis sangat memfasilitasi kreatifitas anak-anak. Tapi bukan cuma itu. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan bonding antara anak dan orang tua dengan mengerjakan project ini bersama-sama. Serta meningkatkan rasa percaya diri anak karena perasaan mampu membuat suatu benda yang benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari. 

Si Ganesh benar-benar bangga akhirnya jamnya selesai, bisa berfungsi dengan baik dan bisa menyala di gelap!

Produk dari Faber-Castell Creative Art Series ini sendiri bermacam-macam, bukan hanya Glow In The Dark Clock saja. Ada juga Finger Printing Art, Basketball Arcade, Air Jet Sport Car, dan sebagainya. Semua bisa didapatkan secara online di marketplace favorit teman-teman (Shopee atau Tokopedia).

Beberapa Serie Faber-Castell Creative Art Series Lainnya

Faber-Castell Creative Arti Series: Basketball Arcade
Foto: Faber-Castell Indonesia

Bagi saya, adanya Faber-Castell Creative Art Series ini sangat membantu menyiapkan kegiatan yang bermanfaat untuk anak-anak. Tidak perlu memikirkan mau bikin apa, bagaimana caranya, dan membeli alat dan bahan secara terpisah, karena semuanya sudah disiapkan dalam satu kotak. Benar-benar praktis bukan?

***

Memang tantangan kita sebagai orang-tua untuk menyiapkan anak-anak menghadapi era digital yang semakin nyata ini tidak mudah. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini. 

Sebagai orang dewasa, kita pun memiliki berbagai tanggung-jawab, sehingga memiliki keterbatasan tenaga maupun waktu untuk membimbing anak-anak kita. Namun, sesungguhnya mengajak anak-anak untuk melakukan kegiatan kreatif pun tidak sesulit dan seberat yang kita bayangkan. 

Misalnya dengan mengajak mereka mengobrol, menyediakan bacaan, pensil warna, kertas gambar atau art supply lainnya. Apalagi dengan adanya Faber-Castell Art Supply Series ini, yang benar-benar praktis dan menarik untuk anak-anak. 

Ada banyak kegiatan sederhana yang bisa dilakukan untuk membuat anak-anak tetap aktif dan mengembangkan kreativitasnya, tidak hanya terpaku pada gadget.

Bisa yok bisa... Demi masa depan anak-anak kita kan...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, October 20, 2021

Hi Again!

Omaigat, it's really been a while ga buka dashboard blog kesayangan ini, sampai-sampai ga familiar pas ngetik website-nya! Dan ternyata terakhir post itu 23 April 2021, berarti 6 bulan! Tapi jujur, saya pikir lebih lama sih, ternyata baru 6 bulan, hahaha :D

But, yes teman-teman... 6 bulan ini berjalan benar-benar (sebut saja) membingungkan. Ada banyak rasa disana, yang sedikit demi sedikit disadari, meski tidak semua rasa terbalas seperti harap yang ada. Beberapa pun mendewasakan, meski menghangatkan pelupuk mata ketika mengingatnya.

Mungkin bahkan belum sempat mengungkannya, betapa banyak rasa yang akhirnya terkuak selepas kepergian ibuk. Saat dimana saya kuat dan baik-baik saja, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Ternyata saya tidak sekuat itu, ternyata hati dan raga ini demikian berduka dan sakit karena kepergian ibu. 

Tapi, semuanya sudah sejauh ini. Mungkin beberapa rasa memang belum terbalas atau mungkin memang tidak terbalas. Rasa rindu tidak pernah hilang, mata masih selalu berair saat mengingatnya, tapi di titik ini, sedikit demi sedikit hati dan raga sudah baik-baik saja. Ada titik dimana akhirnya tersadar adanya depreasi dan psikosomatis, tapi waktu dan keterbukaan sudah meredakannya.

Let's see jika satu saat bisa cerita tentang ini juga di blog, mungkin pun ada teman-teman yang merasakan hal yang sama. Tapi bukan di tulisan ini, karena beneran ini cuma sebuah quick hi... Awalnya ini buka blog niatnya untuk nulis (sebut saja) script untuk YouTube Channel baru saya. Hoho, yes, beberapa waktu lalu saya bikin YouTube Channel yang isinya lebih ke vlog dan podcast gitu.

Nah, ngomongin soal si project YouTube ini, saya baru mulai menambah konten baru berupa podcast tentang opini dan psikologi. Sebelumnya, memang YouTube Channel ini isinya banyakan tentang vlog sehari-hari, karena emang ga ada waktunya bikin konten lain. Yes, 6 bulan ga ada ART, suami di seberang pulau, ditambah belajar online dua anak... hidup benar-benar se-hectic itu!

OK, kurang lebih gitu dulu kali ya 'quick hi'-nya... Udah lewat tengah malam, mau beres-beres, terus habis itu tidur! Hmm, besok libur by-the-way, semoga besok bisa menikmati hari yang hangat dalam rasa dan juga produktif.

Dan sebelum the end, berikut saya attach video dari Channel YouTube baru saya yang lumayan nge-hits dan sekaligus juga tipe konten yang akan saya perbanyak nantinya. Jika teman-teman suka dengan konten YouTube Channel saya, jangan lupa untuk support dengan subscribe ya...

Terima-kasih sudah mampir teman-teman, dan see you again. Last words... ternyata, menulis bisa semenyenangkan ini ya... still my favourite things to do, so semoga bisa lebih banyak nulis lagi nantinya. Bye ❤️


With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, April 23, 2021

Mendukung Pelestarian Lingkungan Melalui Kampanye Brand

Plastik itu tidak ramah lingkungan! Ya, tidak terbantahkan. Namun, hingga saat ini pun belum ada bahan yang dapat menggantikan sepenuhnya. Adalah keniscayaan bahwa plastik sulit diurai secara alami oleh alam, tapi juga tidak terbantahkan bahwa bahan ini masih dibutuhkan baik oleh produsen maupun konsumen.

Pernah ga sih, pada saat belanja skin care kemudian kita berpikir, “Duh, ini kemasan plastiknya tebel amat. Cantik dan keliatan elegan sih, tapi apa kabar ini nanti pas jadi sampah?” Tapi, di sisi lain coba bayangkan, jika kosmetik tersebut kemudian berhemat penggunaan plastik. Dengan kemasan yang lebih tipis, apakah sebagai konsumen kita yakin kualitas skin care tetap terjaga? Dilema kan?

Demikian juga yang dialami produsen, mereka pun mengalami dilema yang sama. Di satu sisi, tidak mungkin mereka tidak memahami dampak dari penggunaan plastik. Namun disisi lain, inilah bahan yang paling tepat guna hingga saat ini, dalam artian ekonomis, durable dan mampu menjaga produknya, serta memiliki tampilan yang menarik.

Hal ini memang dilematis, tapi bukan absolut tanpa solusi. Limbah plastik memang sulit terurai secara alami oleh alam, tapi sangat bisa didaur-ulang. Dimana konsumen dapat mendukung hal ini dengan pemilahan sampah, demikian juga produsen dapat mendorong hal ini dengan program pengumpulan kemasan produknya. Misalnya yang dilakukan The Body Shop dengan program Bring Back Our Bottle (BBOB)-nya.

Bagi saya konsumen The Body Shop sejak lebih dari 6 tahun, program ini punya arti tersendiri. Semacam memberikan garansi bahwa skin care saya dikemas dengan aman, sekaligus tenang bahwa kemasan bekas pakainya tidak akan berakhir merusak lingkungan. Di samping juga mendapatkan benefit berupa poin yang dapat ditukar dengan produk ataupun digunakan untuk belanja saat mengembalikan kemasan bekasnya. Benar-benar jenius bukan?

Member The Body Shop, kartunya berdua sama suami

Selain membawa manfaat bagi konsumen, program ini tentu juga membawa manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Sampah anorganik berkurang, masyarakat pun teredukasi untuk bertanggung-jawab akan sampahnya.

Bahkan lebih dari itu, program pengelolaan sampah yang dilakukan melalui BBOB ini pun saya sadari meningkatkan loyalitas pada brand. Sebagai seorang yang concern akan bahayanya sampah anorganik bagi lingkungan, program ini sungguh menimbulkan sentimen positif. Membuat saya merasa membuat keputusan yang tepat dengan berbelanja produk mereka. Saya mendapatkan produk berkualitas, dan mereka pun menggunakan sebagian keuntungan yang didapatkan untuk melaksanakan tanggung-jawabnya pada bumi.

Botol bekas siap dibawa ke toko

Hal ini, saya yakin juga terjadi pada banyak konsumen lain. Sikap suatu brand pada isu lingkungan turut meningkatkan loyalitas konsumen, sekaligus berpengaruh positif pada citra perusahaan. Dimana kedua hal ini (loyalitas konsumen dan citra positif) adalah aset yang turut mendukung keberlangsungan dan perkembangan bisnis perusahaan.

Sikap dan keputusan perusahaan pada pelestarian alam akan berpengaruh pada loyalitas konsumen dan citra perusahaan.

Saat ini, organisasi penggiat lingkungan pun bahu-membahu melakukan aksi penyelamatan bumi. Salah satunya dengan melakukan penelitian berkala untuk mengetahui pola limbah plastik di dunia. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menyadarkan, serta memberikan edukasi pada masyarakat dan produsen mengenai limbah mereka. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh The #breakfreefromplastic Movement.

Gerakan yang dirilis pada tahun 2016 ini melakukan penelitian bertajuk ‘Brand Audit’ secara berkala pada tiga tahun terakhir (2018, 2019, dan 2020). Melalui ‘Brand Audit’ yang dilakukan oleh volunter, dihasilkan laporan tahunan mengenai pola limbah plastik di dunia, salah satunya adalah tabulasi sampah plastik bermerek. Dimana melalui penelitian ini diperoleh hasil brand dengan sampah plastik terbanyak di dunia.

The Brand Audit 2020 yang dilakukan oleh The #breakfreefromplastic Movement

Publikasi semacam ini sedikit banyak membuat saya berpikir ulang untuk all out menggunakan produk-produknya. Saya sadar sepenuhnya jika sampah-sampah plastik yang saya hasilkan akan merusak lingkungan. Akan tetapi, sebagai konsumen, yang mungkin saya lakukan saat ini adalah memilah sampah, dengan harapan ada pihak yang akan mengambil tindakan daur ulang ataupun pengolahan lanjutan. Saya akan cenderung memilih produsen yang memberikan perhatian khusus pada limbah mereka. Sehingga fakta yang terungkap melalui penelitian yang dilansir dengan tajuk ‘The Brand Audit Report’ ini secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi keputusan saya untuk menggunakan suatu produk.

Jika ada brand lain yang lebih concern dengan limbahnya, saya akan memilihnya. Perasaan semacam ini, saya yakin dimiliki juga oleh banyak konsumen lain, sehingga jelas berpengaruh pada loyalitas customer dan citra perusahaan. Keputusan berkaitan dengan lingkungan, baik pada fase produksi maupun pengelolaan limbah adalah hal yang sangat krusial dalam hal ini. Sehingga ada baiknya perusahaan-perusahaan melalui brand yang diusungnya menganggap serius hal ini.

Untuk melakukan pengelolaan limbah yang lebih baik, produsen dapat bekerjasama dengan perusahaan pengelolaan limbah, salah satunya adalah Waste4Change. Salah satu perusahaan Waste Management Indonesia yang berdiri pada tahun 2014 ini memberikan berbagai jasa pengelolaan limbah, salah satunya adalah In-Store Recycling sebagai salah satu bentuk Extended Producer Responsibility Indonesia.

Program ini dirancang untuk meningkatkan daur ulang sampah berlabel merek yang dapat berasal dari proses produksi, proses distribusi, gudang, maupun konsumen. Sebagaimana program BBOB The Body Shop Indonesia yang juga di-handle oleh Waste4Change. 

Keuntungan dari layanana In-Store Recycling ini adalah mencegah penyalahgunaan produk berlabel merek, mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA, adanya laporan tentang alur sampah, dan membantu meningkatkan daur ulang. Dimana hal ini bukan hanya memiliki manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, tapi juga bagi brand sendiri.

Adapun alur sampah dalam program In-Store Recycling ini adalah sebagai berikut:

  1. Pemilahan sampah oleh konsumen
  2. Penyimpanan sampah di gudang/toko klien
  3. Pengumpulan sampah terpilah
  4. Pengelolaan sampah di Rumah Pemulihan Material Waste4Change
  5. Pengelolaan residu menggunakan teknologi RDF

Layanan In-Store Recycling ini sangat mudah dilakukan oleh konsumen, maupun brand. Konsumen hanya perlu membawa kemasan bekas ke toko, sedangkan perusahaan (brand) hanya perlu mengumpulkan untuk kemudian menyerahkannya untuk dikelola lebih lanjut oleh Waste4Change. 

Melalui treatment ini, sampah pun dikelola lebih baik dan tidak mencemari lingkungan, citra perusahaan semakin baik karena sampah dengan label mereka mereka tidak ditemukan di sembarang tempat (karena sudah didaur ulang), dan loyalitas konsumen pun terjaga.

Yup, sebagai konsumen, saya berharap akan lebih banyak perusahaan yang turut mengambil peran dalam pengelolaan limbah produk mereka. Saya pribadi pun merasa lebih tenang dan puas saat menggunakan produk yang saya tahu tidak akan berakhir mencemari lingkungan. 

-end-

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama penulis: Nian Astiningrum"

Referensi:

[1]. breakfreefromplastic.org. (2020). The Brand Audit Report 2020. Diakses pada 22 April 2021, dari https://www.breakfreefromplastic.org/globalbrandauditreport2020/. 

[2]. thebodyshop.co.id. Bring Back Our Bottle. Diakses pada 22 April 2021, dari https://www.thebodyshop.co.id/stories/bring-back-our-bottle.

[3]. waste4change.com. In-Store Recycling. Diakses pada 22 April 2021, dari https://waste4change.com/official/service/in-store-recycling.

Wednesday, April 21, 2021

Not Lost Myself In Domesticity

Jeanie marries when she's twenty one,
Has a baby one year on
And every year that's the way that life goes
Lost herself in domesticity,
A cleaning, feeding entity,
She can't recall what she was before

In an ideal world kids would keep their rooms tidy,
In an ideal world he would be home from his work on time
And in the morning I could lay in

(Lagu oleh Andrea Corr)

Gara-gara semingguan dipaksa berkutat dengan pekerjaan rumah-tangga pasca di-ghosting ART, lagu ini tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga. Ya gimana, tiap pagi mau bangun, yang di otak sekarang adalah mau masak buat sahur, cuci piring, nyapu, ngepel, jemur baju, nyetrika, dan printilannya. Hmm, I literally mengerti banget apa yang disampaikan lagu itu; sebuah kondisi dimana seorang perempuan tenggelam dalam pekerjaan domestik hingga lupa akan kehidupannya sendiri.


Seram ya? Tapi, iya lho, hal ini bisa banget terjadi saat pekerjaan begitu menumpuk sampai-sampai kita tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Begitu terbangun di pagi hari, yang ada di kepala kita adalah bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggu, hingga malam tiba, kita kelelahan dan beristirahat. Begitu terus... Alih-alih memikirkan mimpi, pekerjaan yang tidak henti muncul bisa selesai saja bagaikan suatu keajaiban.

Hmm, jujur, pada awalnya saya pun berpikir jika akan berada pada posisi seperti itu. Sekitar satu tahun yang lalu pun saya mengalaminya, dan waktu itu pekerjaan domestik ya hidup saya. Nyaris tak ada waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang saya sukai dan memuaskan batin.

But sureprise! Saya terkaget-kaget sendiri ternyata kok sekarang berbeda ya... Sudah seminggu terdampar di timbunan pekerjaan rumah tangga bersama home learning dua anak yang masih sekolah online, tapi saya survive. Bahkan masih sempat melakukan pekerjaan yang memuaskan batin, seperti menyanyi (live streaming), menulis, dan membuat konten. 

Ini benar-benar di luar prediksi saya! Dan sontak membuat saya berpikir, apa yang beda dengan tahun lalu? Kenapa tahun ini saya seperti masih punya cukup energi untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah-tangga itu, on-the-way menyelesaikan home learning, menyanyi, menulis dan bikin konten?

Dan setelah saya pikir-pikir, berikut beberapa hal yang ternyata membuat perbedaan itu:

1. Start dari Nol

Jadi, waktu itu kan rumah sempat ditinggal sekitar dua mingguan karena kami ke Jogja saat Ibuk sakit dan kemudian berpulang. Otomatis, PR sepulang dari sana itu lumayan banyak; ya segunung setrikaan, lantai yang aduhai untuk ukuran saya yang OCD bikin bad mood, barang-barang berantakan ga pada tempatnya, dan sebagainya.

Nah, ini nih kalo menurut hemat saya harus dibabat tuntas dulu, jadi kita benar-benar bisa start dari nol dan tidak selamanya menanggung pekerjaan kemarin atau kemarin lusa. And yes, ini part paling berat sebenarnya. Pada saat ini, saya hanya fokus untuk menyelesaikan PR itu dulu, my daily life still paused. Ga nyanyi dulu, ga nulis dulu, ga bikin konten dulu...

Berat? Iya! Makanya buruan diselesein, jadi hidup (harapannya) bisa normal lagi. Iya masih harapan, karena masih meraba-raba apa yang akan terjadi setelah ini.

2. Bangun (Sangat) Pagi

Yup, saya pikir bulan puasa akan menambah keruwetan dalam menyelesaikan semua pekerjaan rumah-tangga ini, tapi ternyata justru sebaliknya!

Bangun jam 3 pagi setiap hari untuk menyiapkan sahur untuk anak (dan suami jika dia sedang di rumah), setelahnya saya memilih untuk tidak tidur kembali, tapi menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum anak-anak harus bangun dan memulai aktivitas home learning. Pada waktu ini, saya ternyata bisa menyelesaikan banyak hal; seperti mencuci piring, menyapu, mengepel dan membuat sarapan untuk Mahesh yang belum berpuasa.

Alhasil, aktivitas setelah anak-anak bangun pun lancar jaya! Mood saya pun maintain nicely merasa tidak memiliki tanggungan yang bikin stress. Juga tidak merasa diburu-buru karena ada yang kelaperan, sementara saya pun gemas liat tumpukan cucian piring dan lantai yang tidak kesat.

3. Tidak Begadang

Ini penyakit menahun saya! Ada saatnya merasa kalo saya ini 'Night Owl' yang justru pikiran kreatif itu bersliweran di malam hari, begadang itu menjadi hobi dan kebutuhan. Siang harinya, hajar dengan kopi, selesai perkara! beberapa bulan kemudian masuk angin parah, pinggang sakit, ga bisa berdiri lama-lama, cuci piring aja harus duduk. Yup, begadang dan kurang tidur itu beneran merusak badan.

Itu kasus ekstrimnya, secara normal kebiasaan begadang itu membuat kita bangun dalam kondisi yang lelah. Lelah itu berdampak pada kurang efisien dan memburuknya mood seharian, jadi benar-benar tidak efisien. Ngerjain pekerjaan rumah lambat, banyakan nge-hang terus buka socmed. Ngajarin anak juga gampang marah. Udah gitu mau mikir untuk nulis atau bikin konten juga susah. Bete kan?

4. Jangan Tunggu Sampai Numpuk

Karena kalo numpuk itu bawaannya males mau ngerjain, yang namanya cuci baju dan setrika itu sehari sekali aja. Jadi setrika itu cuma 10 menitan aja sehari, ga sampai harus bergunung-gunung. Kenapa yang di-mention setrika? Karena ini permasalahan emak-emak sejagad kan, sampai saat ini belum bisa di-automatisasi.

Cuci piring juga gitu, sehari dua kali deh biar ga eneg liatnya.

Buat saya yang rada obsessive-compulsive tadi beneran efektif banget. Karena kecenderungannya itu kalo liat pekerjaan numpuk, bawaannya males dan menunda-nunda ngerjainnya.

5. Multitasking

Ada banyak kok kerjaan yang bisa dikerjain bersamaan. Misalnya masak. Pertama kupas wortel dulu, masukin ke panci. Nah, sambil nunggu si wortel masak, kita bisa motong-motong sayuran lainnya, siapin bumbu, dll.

Contoh lain misalnya home learning sambil nulis atau bikin konten. Ya udah, gelar aja dua meja jejeran anak. Anak ngerjain tugasnya, kita di sampingnya ngerjain tulisan atau konten sambil kadang ngomelin atau ngajarin. Bahkan kalo mendesak sekali bisa kok ngajarin home learning sambil masak. Tinggal angkut buku anak ke meja makan di dapur. Bisaa...

Bagaimana juga waktu kita itu cuma 24 jam sehari, 16 jam efektif, karena 8 jamnya jangan ditawar lagi, itu untuk istirahat.

6. Bergerak Lebih Cepat

Jalan yang cepet, ngepel yang cepet, cuci piring yang cepet... semua harus dipercepat supaya bisa selesai dengan cepat, sekaligus memaintain ritme kerja kita tetap dinamis dan agresif.

Untuk menjaga ritme kerja ini, saya perlu musik! Entah radio atau musik yang membuat saya stay pada pekerjaan itu dengan semangat. Itu kenapa, literally speaker itu ada dimana-mana di rumah.

7. Ajarkan Anak untuk Mandiri

Tahun ini anak sudah bertambah satu tahun usianya. Kalau dulu si Mahesh (sekarang 6 tahun) masih diambilin kalau makan, tahun ini dia bisa ambil sendiri. Juga soal sanitasi, mandi dan cebok sudah bisa sendiri. 


Kakaknya (hampir 10 tahun) pun begitu. Perkara belajar online sudah bisa jalan sendiri dengan jadwal yang kita tempel. Setiap pagi sudah pasang alarm untuk bangun, kemudian mandi, dan video meeting.

Ini benar-benar saving time and energy! Sekaligus mengajarkan anak untuk lebih mandiri.

8. Tools untuk Mempercepat/Meringankan Pekerjaan

Ini memang mungkin relatif pricey ya... Tapi, kalau menurut saya mesin cuci bukaan depan, mesin pel, dan bahkan meja setrika kecil yang bisa diangkut kemana-mana itu investasi untuk waktu dan kesehatan mental kita.

Sambil cuci baju, kita bisa masak, nyapu ngepel dll. Tinggal mikirin jemurnya aja, saving so much time!

Ngepel pake mesin meski belum yang otomatis jalan sendiri juga jauh lebih cepet dan ga capek. Saving so much energy!

Meja setrika kecil bisa diangkut sambil nemenin anak nonton. Anak seneng, kita juga seneng ga bosen plus merasa bisa membersamai anak. Contribute in maintain our mental health for sure!

Menurut saya beli alat semacam itu bukan pemborosan, tapi investasi. So, if you can afford it, go for it! Tapi kalo belum ada dananya ya nabung dulu. Bagaimana juga hidup itu juga tentang prioritas, termasuk prioritas mana yang harus dibeli dan mana yang bisa nunggu.

***

Udah, itu aja sih saya pikir berbeda dengan tahun kemarin dari sisi cara kerja tahun lalu dan tahun ini. Tentu tidak bisa diterapkan pada semua kondisi ya, tapi semoga bisa memberikan sedikit referensi pada teman-teman semua agar tidak tenggelam dalam pekerjaan domestik.

Yuk... yuk... tetap cari cara supaya bisa mengembangkan diri untuk kesehatan mental kita. Hmm, diposting pas Hari Kartini, beneran pas banget deh...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, April 16, 2021

Manfaat Daun Katuk dan Cara Lainnya untuk Melancarkan ASI


Memberikan ASI eksklusif merupakan hal yang diinginkan oleh semua ibu yang baru melahirkan. Hal tersebut karena berbagai manfaat yang bisa didapatkan ketika menyusui secara eksklusif. Dimana manfaatnya tidak hanya dapat diterima oleh bayi, tetapi juga untuk ibu sendiri. Mulai dari dapat membuat pertumbuhan dan perkembangan anak lebih baik, dapat untuk membuat hubungan ibu anak lebih dekat, dan juga ada banyak keuntungan lainnya yang bisa diterima untuk ibu dan bayi. Akan tetapi bagi ibu yang mempunyai produksi ASI yang kurang, maka akan susah untuk menjalankan niat tersebut. Oleh karena itulah biasanya akan melakukan berbagai usaha yang disarankan, seperti salah satunya adalah dengan menggunakan manfaat daun katuk yang sudah diketahui memberikan manfaat terbaik untuk ibu menyusui.

Daun katuk sendiri mempunyai nama latin sauropus androgynus L merr yang digunakan penambah ASI untuk ibu menyusui. Anda tentunya juga sudah familiar bahwa daun katuk merupakan salah satu bahan utama yang digunakan untuk ibu susu hamil. Sehingga bagi ibu yang mempunyai masalah seperti produksi ASI yang kurang lancar, bisa untuk memanfaatkan bahan yang satu ini. Daun katuk digunakan ASI booster karena mempunyai kandungan laktogogum dan prolaktin tinggi. Sehingga hal tersebut akan memicu produksi ASI menjadi lebih banyak dan bisa membuat produksi ASI yang lebih lancar.

Oleh karena itulah, bagi ibu yang ingin memberikan ASI eksklusif untuk bayinya tetapi mempunyai kendala produksi ASI yang kurang lancar, dapat untuk menggunakan manfaat daun katuk ini. Untuk mendapatkan manfaat tersebut, tentu saja perlu untuk mengkonsumsi daun katuk secara rutin. Sehingga bisa mendapatkan manfaat yang dibutuhkan dan bisa memberikan ASI yang berlimpah dan cukup untuk mendukung pertumbuhan bayi. Sekarang ini untuk mendapatkan khasiat daun katuk yang dibutuhkan juga sangat mudah, karena sudah terdapat banyak suplemen dan produk dengan ekstrak daun katuk yang bisa dipilih.

Salah satu produk yang dapat dipilih adalah dari Relief Sari Daun Katuk dari Herbana. Produk ini mempunyai bahan daun katuk mempunyai banyak manfaat yang bisa didapatkan. Adapun untuk alasan mengapa bisa memilih produk ini adalah karena:
  1. Alasan pertama adalah produk ini merupakan produk yang mudah untuk dikonsumsi karena berbentuk kapsul. Sehingga mudah untuk dikonsumsi setiap harinya.
  2. Alasan lainnya adalah karena produk ini mempunyai keamanan yang terjamin dengan bahan alami.
  3. Produk ini mempunyai harga terjangkau dan mudah didapatkan.
Relief Sari Daun Batuk dari Herbana ini merupakan produk ekstrak daun katuk. Dimana di dalamnya terdapat kandungan senyawa aktif yang dapat merangsang pembentukan ASI. Selain itu, daun katuk juga dikenal mempunyai banyak manfaat kesehatan lainnya. Dengan mengkonsumsi produk ini dengan rutin dapat untuk memberikan support ketika sedang menyusui, meningkatkan produksi ASI, dan dapat menjaga kesehatan lebih baik untuk ibu yang sedang menyusui.

Selain dari manfaat daun katuk, untuk dapat membuat produksi ASI lebih lancar juga mempunyai beberapa cara lainnya yang bisa digunakan. Seperti beberapa cara berikut ini:
  1. Menyusui lebih sering. Bagi yang ingin menyusui sendiri dan memberikan ASI Eksklusif, maka bisa untuk menyusui lebih sering yang akan memicu hormon untuk menghasilkan ASI.
  2. Memompa di antara waktu makan untuk dapat menyimpan ASI.
  3. Menyusui di kedua sisi.
  4. Mengatur posisi menyusui yang tepat, sehingga memudahkan ASI mudah keluar.
  5. Menyusui di malam hari.
Selain hal teknis tersebut, kondisi emosi ibu juga akan sangat mempengaruhi produksi ASI. Karena itu, ada baiknya ibu selalu menjaga suasana hati agar tidak stress. Dalam hal ini, peran orang di sekitar ibu (khususnya suami) pun sangat berpengaruh. Jadi, "Sebagai partner, Papa dan Mama perlu menjaga komunikasi yang baik dan saling memahami satu sama lain ya..."

Sekian, dan happy breast feeding Ibu...

Monday, March 15, 2021

Ilmu Mumpuni untuk Guru di Mana Pun dari GuruInovatif.id

Saya bukan guru, dalam artian berprofesi sebagai guru yang mengajar anak didik di sekolah. Saya seorang ibu dari dua orang anak yang punya tanggung-jawab untuk mendidik anak-anak di rumah tentang begitu banyak hal. Tentang kebaikan, norma agama, kemandirian, sikap pantang menyerah, dan segepok pendidikan karakter lain untuk anak yang diajarkan melalui interaksi sehari-hari. Seperti ibu-ibu lainnya.

Wow, menulis ini membuat saya menjadi merasa punya tanggung-jawab yang begitu besar dan bangga... Tapi ya memang iya lho... Tidak terbantahkan, begitu besarnya peran orang-tua (khususnya ibu) dalam mendidik karakter anak-anaknya.

Baiklah, cukup berbangga hatinya dan kembali ke topik...

Yup, kenyataannya peran ibu memang sebesar itu dalam mendidik anak-anak kita, dan bahkan semakin bertambah semenjak pandemi COVID-19 tahun lalu. Sekarang kita punya tambahan peran sebagai perpanjangan tangan dari guru untuk membantu anak-anak kita memahami pelajaran sekolah. Keren? Yes! Berat? Yesssss banget! (Tambahin emoji nangis).

Peran yang berat, dan bertambah berat saat pandemi ini mau tidak mau harus kita terima dengan lapang dada... Karena melihat anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik dan kompeten tentu adalah satu hal yang akan mengembangkan senyum kita. Senyum yang tentu saja harus ditebus dengan kerja keras dan terus belajar, karena sejatinya tidak ada sebuah panduan mutlak bagaimana cara terbaik mendidik anak-anak ini.

Ya kan anak-anak pun punya kepribadian dan karakter masing-masing... Tidak bisa dipukul rata! Belum lagi jaman yang berubah dengan rapid, membuat apa yang bekerja di masa lalu, belum tentu punya efektivitas yang sama di masa kini. 

Jaman saya kecil dulu, dibilangin kalau jangan keluar pas Maghrib karena ada 'Candik Ala' (yang waktu itu digambarkan sebagai makhluk halus yang berkeliaran pada pergantian siang menuju malam) sudah pasti langsung nurut. Sekarang? Duh, pasti ada juga anak-anak bakalan nanya 'Candik Ala' itu makhluk apa, ga percaya, dan bahkan pengen membuktikan keberadaannya. Sehingga, memberikan penjelasan logis menjadi lebih efektif bagi anak-anak jaman sekarang yang bisa dengan mudahnya mendapatkan asupan informasi dari TV, internet, buku, dan sebagainya.

Juga apa yang dulu kita anggap terbaik untuk anak, ternyata ada yang lebih baik lho di masa kini! Karena memang pengetahuan begitu dinamis, dan begitu banyak penelitian yang dilakukan mengungkapkan fakta baru memperbaiki pemahaman lama kita.

Misalnya... dulu tuh orang-tua saya sering banget melarang dan bilang 'jangan'. Yang kemudian pada saat menjadi seorang ibu, banyak artikel yang menyebutkan bahwa kata 'jangan' ini tidak baik untuk diucapkan pada anak karena mencegah mereka mengeksekusi inisiatif yang ada dalam dirinya alias menumpulkan inisiatif. Lalu beberapa saat kemudian ada pendapat yang mengatakan, bahwa mengatakan 'jangan' itu tidak apa-apa jika alasannya tepat dan disertai dengan penjelasan logisnya, sehingga anak pun memahami alasan tidak boleh melakukan sesuatu.

Hmm... so, what's next?

Tapi, kabar baiknya, justru di masa pendemi ini peluang kita untuk belajar hal-hal baru dengan lebih profesional terbuka semakin lebar. Bukan sekedar dari artikel, tapi bahkan dengan metode belajar yang lebih baik dan bersertifikasi pula!

How cool is that?

Sejak pandemi, berbagai workshop profesional berbasis online bertebaran di sekitar kita, yang tentu saja sangat mudah dijangkau, bahkan untuk ibu-ibu yang tidak mudah bepergian karena harus menjaga anak-anak seperti saya.

Salah satunya adalah GuruInovatif.id yang saya temukan beberapa waktu lalu ini...

GuruInovatif.id adalah solusi pembelajaran utamanya bagi guru. Kapan pun, di mana pun!

Awalnya saya pikir GuruInovatif.id spesifik menyediakan workshop berkaitan dengan sertifikasi guru sebagai profesi, tapi pas main ke websitenya, memang sih program dan sertifikasinya ditujukan secara khusus untuk profesi guru. Menjembatani guru untuk mendapatkan beragam kursus bersertifikat untuk meningkatkan kompetensinya di mana pun.

Akan tetapi, jika kita ingin mengikuti pembelajaran tertentu karena materinya dirasa relevan pun sangat memungkinkan. Literally, kita semua bisa ambil pelatihan dan sertifikasinya sesuai dengan kebutuhan kita. Termasuk saya, yang bukan guru, tapi kadang suka penasaran dengan suatu hal dan kemudian berusaha mencari rujukan yang mumpuni menjawab rasa ingin tahu saya.

Tinggal menyesuaikan saja dengan kebutuhan kita, tema apa yang kita butuhkan, bisa searching di sini...

APA SIH GURUINOVATIF.ID?

GuruInovatif.id adalah bagian dari HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services), yaitu salah satu divisi di bidang training guru yang didirikan Yayasan Hasnur Centre. Dimana HAFECS didirikan sebagai upaya untuk mendorong percepatan transformasi pendidikan Indonesia melalui pengembangan metode pengajaran di kelas dan metode pembelajaran serta pengembangan kurikulum sekolah (diambil dari website HAFECS.id).

GuruInovatif.id adalah bagian dari HAFECS dengan spesifikasi pelatihan guru yang dilakukan secara online.

GuruInovatif.id adalah Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru. Bangun keterampilan mengajar dengan kursus, webinar, dan sertifikat (diambil dari website GuruInovatif.id).
Nah, layanan dari GuruInovatif.id ini sangat beragam, mulai dari Online Certification, Mini Course, Productivity Course, dan Live Webinar.

Produk GuruInovatif.id (diambil dari website GuruInovatif.id)

Pembelajaran yang ada dalam GuruInovatif.id sangat beragam; mulai dari jenjang PAUD-TK hingga SMA/MA/SMK; dari rumpun ilmu IPA (Sains), IPS, Matematika, Sosial Humaniora, dan Kejuruan; dengan bobot sertifikasi mulai dari 4 JP hingga 64 JP, dengan topik yang sangat beragam: 
  • PCK
  • HOTS
  • AKM
  • Teaching Scenario
  • Teaching Grading
  • Keterampilan Digital
  • Coaching for Teaching
  • Coaching for Leader
  • Profesionalisme Guru di Abad 21
  • Tips dan Trik Pembelajaran

Lengkap banget kan!

Beberapa Kursus yang Ada di GuruInovatif.id (diambil dari website GuruInovatif.id)

SERTIFIKASI GURU DI GURUINOVATIF.ID

Nah, berkaitan dengan perannya dalam sertifikasi guru, GuruInovatif.id ini tentu sangat memudahkan masyarakat dengan profesi guru untuk mengakses keterampilan yang dibutuhkannya. Guru bisa memilih kursus apa yang relevan dengan pengembangan dirinya. Kapan saja dan dimana saja.

Dimana hal ini tentu sangat positif, utamanya pada saat pandemi seperti ini. Namun, lebih dari itu, pun memberikan akses pada guru-guru yang berada di lokasi yang kurang accessible atas kursus-kursus tertentu.

Bayangin deh, kalau dulu, kursus itu kan perlu menunggu ada kelas atau diadakan oleh lembaga tertentu (misal sekolah yang menaungi guru). Udah gitu temanya pun tidak bisa kita pilih sendiri, tapi mengikuti tema yang diadakan. Dan harus datang di tempat tertentu, pada waktu yang sudah ditetapkan pula. 

Hmm, cukup ribet kan? Apa kabar guru-guru yang ditempatkan di pelosok negeri ini?

Sementara melalui GuruInovatif.id ini, kita bisa memilih kursus apa yang akan diikuti, serta bisa dilakukan kapan dan di mana pun.

Keren sekali bukan? 

Jadi, meskipun kita berada di lokasi yang cukup terpencil pun, selama bisa mengakses internet... maka tidak ada yang tidak mungkin!

GuruInovatif.id adalah solusi!

Dan, satu lagi... bobot sertifikasi dari kursus yang ada di GuruInovatif.id ini pun bervariasi mulai dari 4 JP hingga 64 JP! Sangat mendukung pengembangan karir guru dengan berkontribusi menambah poin berdasarkan keikutsertaan sertifikasi tertentu sesuai bobot JP-nya.

Yes, ini benar-benar solusi untuk semua guru untuk pengembangan diri, maupun pengembangan karirnya. Memfasilitasi guru belajar kapan pun dan di mana pun.

PERAN GURUINOVATIV.ID UNTUK PROFESI SELAIN GURU

GuruInovatif.id jelas sebuah solusi bagi guru di Indonesia, tapi secara ilmu pengetahuan sesungguhnya memiliki sifat universal, saya sebagai ibu rumah-tangga pun merasa terbantu dengan adanya platform ini.

Berawal dari keisengan melihat begitu banyak kursus yang tersedia, saya pun akhirnya sudah mendaftar pada dua kursus. Pertama pada kursus dengan judul 'Membangun Harga Diri dan Rasa Tanggung Jawab Anak' dengan metode video, lengkap materi dan sertifikat. Cukup membayar Rp. 37.500,00 saja! Atau GRATIS TIS jika tanpa materi dan sertifikat!

Kedua adalah kursus dengan judul 'Mencontek Pembelajaran Online di Jepang Saat Pandemi' dengan metode WhatsApp Grup tanpa membayar satu rupiah pun! Alias GRATIS TIS!

Amazing kan!

Menurut saya sih platform ini sangat bisa dimanfaatkan oleh para 'guru di rumah', sebagai orang-tua yang ingin mendidik anak-anaknya. Dimana kini juga menjadi perpanjangan tangan guru di sekolah  untuk membantu menyampaikan pelajaran akademis di masa pandemi.

Jadi, siapa pun kamu... kalau penasaran dengan topik tertentu berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran, mungkin kamu bisa menemukannya di GuruInovatif.id ini. Cuss di cek!

***

Menurut saya, adanya GuruInovatif.id ini benar-benar mendukung peningkatan kompetensi guru di seluruh Indonesia, tanpa terbatas lokasi. Di mana, seperti kita ketahui, lokasi seringkali menjadi hambatan para guru untuk meningkatkan kompetensi tersertifikasi yang relevan dengan pengembangan diri dan kebutuhan di lapangan.

Harapannya sih, platform ini akan lebih dikenal dan turut membantu mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan dari Sabang sampai Merauke Indonesia.

Serta juga, semakin banyak masyarakat secara umum yang juga memanfaatkan GuruInovatif.id untuk menambah pengetahuan terkait dengan pendidikan dan pengajaran, yang seringkali kita butuhkan untuk mendidik anak-anak atau masyarakat di sekitar kita.

Semoga!


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh GuruInovatif.id

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

[1]. GuruInovatif.id. Diakses pada Maret 2021, dari https://guruinovatif.id/.

[2]. HAFECS.id. Diakses pada Maret 2021, dari https://hafecs.id/

Sunday, March 7, 2021

Kulit Sensitif yang Bikin Hati-Hati

Flashback 20 tahun silam saat memasuki bangku SMA, saat jerawat mulai menghampiri wajah, semua orang (termasuk saya) berpikir kalau semua itu sepenuhnya produk dari masa pubertas. Yang akan berkurang dengan membersihkan wajah secara teratur dan menggunakan obat-obatan yang banyak beredar di pasaran... dan selanjutnya akan menghilang saat saya dewasa.

Tapi, kemudian jerawat saya sungguh tidak biasa. Hanya satu, tapi ukurannya benar-benar jumbo! Diameternya sekitar 3 cm! Dan pulihnya pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tiga bulan! Sehingga siklus itu berulang setiap tiga bulan sekali.

Seaneh itu, hingga orang-orang termasuk saya pun tidak percaya bahwa itu adalah jerawat. Tapi, ke dokter kulit mana pun, mereka selalu memberi diagnosa bahwa itu adalah jerawat. Bahwa jerawat itu jenisnya bermacam-macam, termasuk salah satunya yang jumbo seperti milik saya.

Beban tentu bukan hanya merasakan tidak nyaman secara fisik, tapi juga psikis. Merasa orang-orang memandang aneh dan juga harus menjawab pertanyaan kepo mereka yang tidak ingin saya jawab.

Keadaan seperti ini berlangsung bertahun-tahun, hingga perlahan-lahan saya menyadari karakter spesifik dari si jerawat dan mulai menyimpulkan bahwa semua ini bukan semata kesalahan hormon pubertas atau higienitas. Tapi karena kulit saya pun amat sangat sensitif.

Dan dari begitu banyak artikel yang saya baca, ini berarti harus sangat berhati-hati pada produk yang saya pakai. Suatu kandungan mungkin memang mengatasi jerawat, namun pada saat bersamaan juga menimbulkan reaksi iritasi yang melemahkan kulit. Demikian juga dengan jerawat yang muncul, pada awalnya dia berukuran kecil, namun kemudian akan membuat kulit disekitarnya meradang dan membesar sedemikian rupa.

Berurusan dengan jerawat saja sudah pusing, ditambah dengan kulit sensitif... Benar-benar cobaan besar...

Dari sanalah kemudian saya berusaha mencari tahu produk-produk penjinak jerawat yang pro kulit sensitif. Karena banyak produk yang saya coba, meskipun dengan label 'cocok kulit sensitif' tetap efeknya kurang nyaman untuk kulit, saya juga mencoba banyak bahan alami. Seperti kunyit, daun ubi jalar, jeruk nipis, sampai lidah buaya.

Sampai pada kesimpulan bahwa lendir lidah buaya adalah zat yang paling cocok untuk menenangkan kulit sensitif saya, sementara jeruk nipis sangat cocok digunakan pada saat kulit berjerawat kecil-kecil. Sehingga petualangan mencari produk dengan kandungan lidah buaya pun dimulai... yang ternyata sama sekali tidak mudah. Karena setiap produk yang sudah melalui pabrikasi pasti memiliki kandungan lain untuk mempertahankan tekstur, menjaga keawetan, dan sebagainya. Seringkali bahan tambahan ini yang tidak bisa diterima oleh kulit.

Hingga ada masa dimana saya memilih menanam pohon lidah buaya dan mengambil sarinya setiap kali membutuhkan. Saat KKN selama dua bulan pun, tak lupa saya membawa pohon lidah buaya saya dalam pot!

Sangat tidak praktis memang, dan lagi tantangan soal higienitas. Kandungan lidah buaya menenangkan kulit sensitif, tapi pas panen sampai pengaplikasian kurang higienis ya bikin jerawat juga. Karena itu, pun saya masih berusaha mencari produk dengan kandungan lidah buaya yang cocok untuk kulit. Dan lagi-lagi, itu tidak mudah...

Gonta-ganti berbagai macam produk, akhirnya baru sekitar tahun 2009 ketemu dengan produk dengan kandungan lidah buaya yang cocok untuk kulit saya.

***

Selama hampir sepuluh tahun pencarian produk yang nyaman untuk kulit sensitif sekaligus berjerawat, semua itu tidak lepas dari research pada kandungan produk yang tertera pada kemasan. Apakah pro kulit sensitif dan berjerawat.

Beberapa kandungan yang perlu dihindari pada skin care atau kosmetik untuk kulit sensitif di antaranya adalah: alkohol, parfum, Ammonium Lauryl Sulfate, Sodium Lauryl Sulfate, apricot kernels/scrub, dan sunscreens dengan mekanisme blok UV menggunakan zat kimia.

Sedangkan kandungan yang tidak dianjurkan pada skin care atau kosmetik untuk kulit yang mudah berjerawat (acne prone) adalah: parfum sintetik, minyak esensial, Sodium Lauryl Sulfate, Isopropyl Myristate dan Isopropyl Palmitate, SD Alcohol 40, Denatured Alcohol, Ethanol, dan Isopropyl Alcohol, Sodium Chloride, minyak kelapa, cocoa butter, serta algae extract.

Terdapat begitu banyak produk di pasaran dengan tag-line 'cocok untuk kulit sensitif', namun tetap saja mengecek kandungan produk dari label kemasan mutlak harus dilakukan. Dan setelah menemukan produk yang sekiranya cocok, dicoba beberapa kali untuk memastikan efeknya pada kulit kita. Yup, ini perjalanan panjang, jadi begitu mendapatkan produk yang cocok, udah lah ga mau pindah ke lain hati.

Komposisi dari salah satu produk skin care yang cocok banget dengan kulit saya dengan kandungan Aloe Vera

Komposisi dari salah satu produk skin care yang cocok banget dengan kulit saya dengan kandungan Aloe Vera

Saat ini, saya sudah menggunakan rangkaian produk dengan kandungan lidah buaya yang satu ini selama lebih dari sepuluh tahun; mulai dari pembersih, toner, krim pagi, krim malam, dan sebagainya. Ternyata, pada saat kondisi kulit kita baik, jerawat pun lebih minimal muncul dan lebih mudah pulih.

Jadi, berbicara mengenai kulit yang cantik, faktor yang paling utama adalah mengenali kondisi kulit kita dan merawatnya dengan produk yang tepat. Sehingga untuk ini, kita perlu memperhatikan kandungan di dalamnya.

Adapun produk dengan kandungan bahan alami seperti ini, selain baik untuk kesehatan kulit, pun memiliki peluang untuk memberdayakan masyarakat. Seperti halnya produsen produk ini yang menggunakan komoditas lokal untuk bahan baku utamanya (lidah buaya).

Selain itu, hal yang perlu diapresiasi adalah bagaimana produsen produk ini menerapkan program daur ulang kemasan untuk memastikan lingkungan terjaga. Dengan demikian, selain baik untuk kulit, suatu produk pun ramah lingkungan dan juga ramah sosial.

Konsep seperti ini, tentu sangat bisa diterapkan di Indonesia yang sangat kaya akan keragaman hayati, pun Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Sangat mungkin mencari lidah buaya dari petani lokal atau pun memberdayakan mereka untuk menghasilkan lidah buaya dengan standard tertentu.

Hal ini sangat sesuai dengan visi dari Kabupaten Lestari yang memiliki tag line Lingkungan Terjaga Masyarakat Sejahtera; yaitu berusaha mengoptimalkan potensi alam di Indonesia, sekaligus mensejahterakan masyarakat.


Untuk mencapai tujuan ini, maka diperlukan gotong-royong atau kerjasama dari berbagai pihak untuk dapat mengangkat komoditas lokal menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi. Misalnya dalam pengalaman saya adalah produk skin care untuk kulit sensitif dengan bahan baku lidah buaya lokal yang berkualitas tinggi.

Daerah Pontianak dikenal dengan produksi lidah buaya terbaik di Indonesia, karena lokasinya yang dekat dengan Garis Khatulistiwa. Selain juga tanaman ini pun dikembangbiakkan dibeberapa lokasi lain, seperti Yogyakarta. So, bukan hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan hal ini. Dalam hal ini, tentu dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak; mulai dari produsen, petani, hingga pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk membantu regulasi dan promosi produk tersebut.

Indonesia memiliki tanah yang begitu subur, dengan kerjasama ini, optimis kita akan bisa memproduksi produk kecantikan berkualitas tinggi dari bahan alami.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

[1]. birdie.com. (16 Februari 2020). 7 Skincare Ingredients to Avoid if You Have Sensitive Skin. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.byrdie.com/skincare-ingredients-to-avoid-for-sensitive-skin-4799891.

[2].  birdie.com. (05 Agustus 2020). 9 Ingredients Skincare Experts Want You to Avoid If You Have Acne. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.byrdie.com/acne-causing-ingredients-4845040.

[3]. viva.co.id. (21 April 2012). Pontianak Penghasil Lidah Buaya Terbaik. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.viva.co.id/arsip/306406-pontianak-penghasil-lidah-buaya-terbaik#:~:text=Vlog%20%2D%20Kota%20Pontianak%20mendapat%20gelar,Aloe%20vera%20terbaik%20di%20Indonesia.