Saturday, October 20, 2018

4D3N Employee Gathering Journey to Jogja…

"OK, acara Employee Gathering kita dimajuin ya… jadi awal Bulan Oktober!" demikian preambule yang disampaikan atasan saya tengah Bulan September lalu. Preambule yang cukup saya balas dengan ringisan saja, yang kemudian diiringi dengan gempita menyiapkan kegiatan trip selama empat hari tiga malam untuk meningkatkan kebersamaan… 

Kalo boleh jujur sih, pengen bilang, "Walah kok mepet banget persiapannya sih… Awal November lah…" Tapii, iyalah, saya tahu pertimbangannya kok, sesuatu yang penting pokoknya, jadi ya mari kita usahakan… Yakin bisa sih, cuma memang agak rempong 😁

Daaan… setelah bergulat dengan waktu dan pekerjaan rutin yang juga harus tetap di-handle, akhirnya Employee Gathering kantor kami terlaksana juga di Kota Jogja. Kota penuh kenangan yang konon berhati mantan, hihi 😜. Dan berikut adalah rangkuman perjalanan kami di selama empat hari tiga malam di Kota Jogja…

Day one: Arrival…


Hari itu… Kamis, 4 Oktober 2018 dengan penerbangan direct menuju Jogja, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam, kami pun sampai di Jogja.

Seperti yang kita tahu, bandara Adi Sucipto di Jogja ini memang bisa dibilang relatif kecil untuk ukuran bandara internasional lainnya di Indonesia. Dan meskipun itu bukan berarti bahwa bandara ini tidak nyaman, ini jelas berarti kalau bandara ini memang terkesan penuh penuh karena banyaknya penerbangan dan penumpang yang dilayani.

Hmm, itu mungkin alasan kenapa kemudian dibangun sebuah bandara internasional baru di Jogja. Dimana hal ini tentu adalah sesuatu yang sangat positif mengingat… ya memang lalu lintas penerbangan di Jogja sangat padat. Banyak sekali orang yang berkunjung ke Jogja… bangganya sebagai orang Jogja asli 😎

Dan setelah kami tiba, malam pun berlalu sesederhana perjalanan ke hotel, membagi kuci kamar, briefing singkat sekaligus makan malam dan kemudian beristirahat untuk mempersiapkan hari berikutnya.

Day Two: Balkondes - Little Ubud - Klangenan Resto…

●Balkondes● Balkondes itu apa sih? Itu juga yang terlintas pertama kali di benak saya  saat berdiskusi dengan seorang teman kerja di unit lain terkait kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) yang dimiliki PLN di seputaran Jogja. Which I finally understand dan membuat kami terkagum-kagum pada akhirnya…


Jadi Balkondes ini adalah kependekan dari 'Balai Perekonomian Desa'. Balkondes ini diprakarsai oleh beberapa BUMN, seperti BNI, Telkom, dan tentu saja PLN. Balkondes ini adalah semacam cottage yang dibangun di sekitaran Borobudur dengan tujuan untuk memperluas dampak pariwisata Candi Borobudur hingga ke desa-desa di sekitarnya, sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya.

Setiap Balkondes memiliki arsitektur yang unik satu sama lain dan menonjolkan nilai seni dan budaya yang tinggi. Demikian juga Balkondes PLN yang berlokasi di Ngabean, Ngadiharjo, Boroburud Magelang ini. Lierally, cottage yang diprakarsai PLN ini sungguh-sungguh membuat saya berdecak kagum. Bukan hanya arsitekturnya lebih dari sekedar unik, namun juga antik… Ya, beberapa kayu sangat terlihat adalah kayu-kayu tua yang antik dan diremajakan kembali.

Untuk fasilitas kamar (pondok) pun, tidak perlu diragukan… interiornya jempol! Setiap pondok memiliki interior dengan tema warna yang berbeda lengkap dengan fasilitas standard hotel seperti AC, TV, dan air panas! Benar-benar alternatif jika kita ingin merasakan suasana pedesaan dengan fasilitas selayaknya hotel berbintang!



●Little Ubud River Tubing● Selanjutnya, tidak jauh dari lokasi Balkondes, kami pun bergeser ke wisata yang konon masih baru bernama 'Little Ubud'. Seperti namanya, tempat wisata yang berada di Tampir Wetan, Candi Mulyo, Magelang ini memang menawarkan suasana selayaknya di Ubud Bali, dimana para pengunjung disuguhi dengan suasana persawahan yang hijau.


Tapi… di samping pemandangan persawahan yang asri ini, yang paling seru dari Little Ubud adalah wahana main airnya! Semacam body rafting gitu! Jadi, setiap peserta akan diberikan satu ban besar  dan perlengkapan (sepatu, helm dan pelindung lutut) untuk digunakan melintasi sebuah sungai yang sebenarnya sih tidak terlalu dalam, tapi memiliki jeram yang cukup deras di beberapa titik. Termasuk juga sebuah air terjun buatan dengan ketinggian kurang lebih 4 meter, di mana peserta bisa memilih untuk melompat dari ketinggian itu! Iya, 'memilih', karena bagi yang tidak mau lompat bisa juga turun dengan tangga yang sudah disediakan. Totally save but also fun lah pokoknya…




●Waroeng Klangenan● Habis main air… setelah capek-capek bonus hidung dan mulut kemasukan air plus pantat rada linu karena lupa diangkat pas ada jeram terjal, kami pun beralih ke Waroeng Klangenan untuk makan malam.


Menu-menu di resto ini sebenarnya sederhana saja, tapi unik! Waroeng Klangenan yang bertempat di Jl. Patangpuluhan No. 28, Wirobrajan, Yogyakarta ini menyajikan makanan khas angkringan dalam suasana restaurant. Ada Nasi Kucing, sate-satean (tahu, telur puyuh, ayam, dll), mendoan, dan banyak lagi. Juga wedang-wedangan khas Jogja; seperti Wedang Uwuh, Bir Jawa, dan lain-lain…

Semua makanan disajikan secara prasmanan, sehingga kita bebas untuk memilih apa dan seberapa banyak yang kita inginkan. Kemudian, bukan itu saja, kita pun bisa memesan panggangan arang lengkap dengan kipasnya di meja  untuk menghangatkan sate-satean yang akan akan kita makan. Very cozy, authentic and fun lah pokoknya…


Oh ya, selain makan malam, disini juga membagi door prize dan juga memberi kejutan seorang rekan yang sedang berulang-tahun.


See that smile? Yes, alhamdulillah hari kedua kegiatan Employee Gathering hari itu diisi dengan banyak tawa dan kebahagiaan, sehingga kami pun bersemangat melanjutkan kegiatan di hari ketiga…

Day three: Candi Prambanan - Jeep Lava Tour Merapi - Wedang Kopi Prambanan…

●Candi Prambanan● Siapa yang tidak kenal Candi Prambanan? Saya rasa sih hampir semua orang Indonesia paling tidak sudah pernah mendengar nama besar Candi Prambanan.

Candi yang terletak di Kranggan, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta ini merupakan Candi Hindu terbesar di Indonesia dan diduga dibangun pertengahan abad ke-9 oleh raja dari Wangsa Sanjaya. Di dinding candi yang menjulang tinggi ini dipenuhi relief yang menceritakan Kisah Ramayana, yaitu kisah percintaan antara Dewi Shinta dan Rama Wijaya.

Sebagai warga asli Jogja, saya memang tidak lagi terlalu excited saat berkunjung ke sini. Tapi, bangunan-bangunan megah menjulang tinggi dengan highlight didirikan pada jaman kuno sebelum alat-alat berat dan teknik sipil tingkat tinggi ditemukan ini tidak berhenti membuat saya berdecak kagum dan bangga.

Ya coba saja bayangin, bagaimana lah caranya orang-orang jaman dulu membawa sedemikian banyak batu, memotongnya menjadi bagian-bagian untuk disatukan menjadi sebuah bangunan yang sedemikian besar, bagaimana merekatkannya tanpa semen, dan banyak lagi… Satu kata, "AMAZING!"

Namun, di luar wisata berupa bangunan candi, kini di lokasi ini sudah dilengkapi juga dengan berbagai wahana, seperti aarena panahan, Museum Prambanan, kereta wisata, dan tentu saja Sendratari Ramayana pada waktu-waktu tertentu. Untuk atraksi terakhir, informasi dari tour leader kami pada musim hujan akan dilakukan di dalam ruangan, so bagi yang berminat silakan dipersiapkan betul waktu yang tepat untuk kesini.


●Lava Tour Merapi● Siapa sangka jika pasca bencana erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010, bisnis wisata di kawasan Merapi justru semakin menggeliat.  Bencana erupsi yang menewaskan Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi kala itu tampaknya dimaknai oleh warga sekitar sebagai sesuatu yang menarik bagi masyarakat luas, sehingga muncullah wisata Lava Tour Merapi dengan menggunakan Jeep ataupun motor trail. Yang ternyata disambut sangat positif oleh wisatawan dengan tujuan Jogja, sehingga wisata ini pun semakin berkembang hingga saat ini.



Saat kita mengikuti perjalanan menggunakan Jeep dalam Lava Tour, kita akan dibawa melintasi track dengan beberapa tempat pemberhentian; di antaranya adalah Museum Mini Sisa Hartaku, Batu Alien dan Bunker Kaliadem.

Museum Mini Sisa Hartaku adalah adalah sebuah bangunan sangat sederhana yang dipugar dari puing-puing sisa rumah yang terkena dampak letusan Gunung Merapi. Di dalam bangunan yang dinaungi seng ini, terdapat banyak benda-benda yang tersisa pasca letusan kala itu; mulai dari tulang belulang ternak, televisi, alat musik, gelas yang meleleh, dan sebagainya.



Konon, rumah ini adalah milik seorang warga bernama Sriyanto yang kehilangan seluruh hartanya akibat letusan Merapi 2010 silam. Kala itu, pasca letusan, kemudian dia berinisiatif mengumpulkan harta-hartanya yang masih tersisa dari letusan, termasuk sebuah jam dinding yang terhenti tepat pada saat erupsi karena terkena awan panas. Dari situlah awal mula Musemum Mini Sisa Hartaku yang ada saat ini… Sebuah tempat, yang jujur membuat saya merinding membayangkan hebatnya letusan Merapi kala itu.


Selanjutnya, beralih dari Museum Mini Sisa Hartaku, masih dengan menggunakan Jeep, kami pun mengunjungi Batu Alien, sebuah batu yang berbentuk menyerupai wajah manusia dengan mata, hidung dan telinganya. Menurut pemandu Jeep Tour, batu ini ada begitu saja setelah erupsi yang terjadi di tahun 2010, sehingga masyarakat menduga bahwa batu ini adalah dikeluarkan oleh Gunung Merapi pada saat letusan dahsyat itu.

Dan terakhir, mengakhiri petualangan Lava Tour, kami pun singgah di Bunker Kaliadem. Sebuah bunker yang sejatinya dibangun sejak Jaman Belanda untuk berlindung dari lahar maupun awan panas Merapi, namun tidak berfungsi sesuai harapan pada saat letusan Merapi 2006 lalu. Dimana saat itu, ada dua orang relawan yang perperangkap dalam bungker yang suhunya menjadi berkali lipat di luar toleransi makhluk hidup. Menurut pemandu Jeep Tour, itulah kali pertama dan terakhir bungker ini digunakan. Baiklah cerita ini benar-benar yang paling mengharu biru dan membuat merinding dari kisah Gunung Merapi yang disampaikan melalui Lava Tour…

●Wedang Kopi Prambanan● Hari menjelang malam, tentu saja kami kemudian beringsut ke tempat makan untuk bersiap santap malam… Dan di hari ketiga ini, kami mendapat kesempatan untuk dinner klasik di Rumah Makan Wedang Kopi.

Terletak di Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, rumah makan ini menawarkan konsep jamuan yang 'ndeso'. Dimana hal ini dikuatkan oleh arsitektur khas Jawa berupa bangunan-bangunan berbentuk Joglo dan juga interior berupa meja kursi kayu dengan model yang klasik. Senada dengan menu makanan yang ditawarkan; seperti tumis bunga pepaya, tumis bunga pisang, garang asem, tempe garit, dan aneka wedang khas Jawa.




Nah, yang lebih romantis lagi ambience-nya adalah di malam hari, saat suasana remang-remang ditemani oleh lampu-lampu taman dan juga live band akustik ber-genre Jazz yang bisa juga beradaptasi dengan lagu pop dan bahkan dangdut! Alhasil, meskipun rangkaian acaranya sesungguhnya serupa dengan makan malam di Waroeng Klangenan, ada aura berbeda yang tercipta disini… Bukan cuma fun dan happy, tapi juga syahdu dan haru…




Momen yang paling mengesankan adalah pada saat seusai makan, kemudian kami mulai terpancing ajakan tour leader dan band pengiring untuk menyanyi bersama di pelataran terbuka di tengah restaurant. Saat itulah lagu-lagu kenangan dan kebersamaan mengalir begitu saja; mulai dari 'Kemesraan', 'Yogyakarta' dan deretan nomor lagu Sheila on 7. Benar-benar MAGIC! This place is totally awesome

Day 4: Bakpia Pathuk 25 - Malioboro - De Mata Trick Eye Museum - Ayam Goreng Ny. Suharti - Kembali ke Lampung

●Bakpia Pathuk 25● Pagi itu, seusai sarapan, kami pun bersinggah ke Toko Bakpia Pathuk 25 yang legendaris. Nama Bakpia, seperti yang kita tahu sesungguhnya berasal dari Bahasa China 'Bak' yang berarti babi, dan 'pia' yang berarti sejenis makanan. Namun, tenang kemudian Bakpia yang dikenal di Jogja bukan lagi Bakpia dengan isian daging bagi, tapi kumbu kacang hijau. Yang kini pun sudah berinovasi menjadi berbagai macam rasa, seperti coklat, keju, durian, dan banyak lagi…

Mungkin beberapa orang penasaran kenapa makanan bernama Bakpia ini disebut Pathuk dan nomornya macem-macem… Hmm, nama Pathuk sesungguhnya menunjuk nama jalan tempat perajin Bakpia, sedangkan angka yang mengikutinya adalah nomor rumahnya. That simple! Tapi, ya saya juga baru tau ini sih… Termasuk kalau di Bakpia Pathuk 25 ini hanya menerima pembayaran tunai alias ga bisa gesek!


●Malioboro●Kemudian, setelah belanja Bakpia dan oleh-oleh dalam bentuk makanan lainnya, kami pun bergeser ke Jl. Malioboro yang tidak kalah legendaris di Jogja. Dan kalo disini, ya sudah, kami diumbar begitu saja, ga usah lah dipandu-pandu… tanpa protokol kami pun sibuk dengan agenda sendiri di sini. Kami semua, termasuk saya…

I do very bad in navigation! So, meskipun Jl. Malioboro ini tempat main saya kala remaja, tetap saja saya ga hapal mau kemana ke arah mana… Sampai akhirnya ada seorang bapak tukang becak yang menawarkan mengantar ke toko-toko batik yang bagus tapi murah. Saya pikir ini opsi yang bagus, jadi saya setujui, tapi ternyata pencarian ini memakan waktu, hingga akhirnya saya minta pak tukang becak mengantar saya ke Batik Hamzah (dulu Mirota Batik).


Di sini, harga batik dan souvenir-souvenirnya so-so lah… Ada yang sangat terjangkau, ada juga yang sangat mahal. Tapi pas lah tempat ini buat orang-orang yang tidak terlalu tau batik karena harga sudah disesuaikan dengan kualitasnya, juga tidak pandai menawar…

●De Mata Trick Eye Museum● Menjelang tengah hari, sebelum puas berbelanja, kami terpaksa beralih ke destinasi berikutnya karena hari itu (7 Oktober 2018) bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Jogja yang ke 262 dan Malioboro akan ditutup untuk pawai. Alasan yang tidak bisa ditawar, jadi walau pun dengan 'ndungsang-ndungsang' (Bahasa Jawa artinya terburu-buru), kami pun berhasil berkumpul di bus dan berangkat ke De Mata Trick Eye Museum.

De Mata Trick Eye Museum terdiri dari tiga wahana yaitu De Mata, De Arca, dan D'WALIK. De Mata adalah wahana wisata 3D dimana pengunjung bisa berfoto dengan berbagai lukisan 3D, sehingga menimbulkan efek nyata. Susah jelasinnya, tapi yakin deh, teman-teman pasti tau yang saya maksud lah ya… Itu lho foto ala-ala kita sedang nyeberang jembatan, diserang buaya, dimakan hiu, dan sejenisnya. Tapi kami melewatkan wahana ini…

Dari ketiga wahana di De Mata Museum, kami memilih untuk berkunjung ke De Arca; yaitu museum patung dengan koleksi kurang lebih 100 buah patung 5D karya seniman lokal Jogja dengan beberapa kategori; seperti tokoh dunia, artis, dan superhero. Jadi kita bisa foto dengan patung-patung yang menyerupai aslinya ini ala-ala sedang duduk bareng, sedang salaman, dan sebagainya… tergantung kreativitas kita lah pokoknya.


Saya memang tidak berfoto dengan semua patung dan saya rasa demikian juga dengan rekan-rekan lain. Kami hanya berfoto dengan patung-patung tokoh favorit kami saja, karena itu kemudian ada jeda waktu yang cukup lama sebelum kami beralih ke Ayam Goreng Ny. Suharti sebagai destinasi terakhir. Karena itu, setelah bosan nongkrong-nongkrong di foodcourt-nya, kami pun memutuskan mencoba wahana D'WALIK bagian dari De Mata Trick Eye Museum.

Dengan membayar tiket Rp. 50.000,- kami pun bisa menjelajahi D'WALIK yang terdiri dari 27 set ruangan tematik yang propertinya tersusun terbalik. Ada yang bertemakan horor, barbershop, kamar, bengkel, angkringan, dan banyak lagi.

Pada ruangan-ruangan dengan properti yang terbalik ini, kita bisa berpose ala-ala jungkir balik dengan kemudian me-rotate foto yang dihasilkan. Pretty fun… tapi cukup melelahkan… Iya, kayaknya sih, cuma pose-pose aja ya disini, tapi coba diperhatiin deh… untuk menghasilkan gambar yang atraktif disini, kita pun harus bergaya ala-ala yoga; kaki diangkat, tangan diangkat… tahan, senyum, liat ke atas, dan seterusnya.

Main kesini, sebenarnya juga badan sudah capek, mengingat dua hari sebelumnya kami sudah melakukan banyak kegiatan… Tapi, dengan semangat kapan lagi punya kesempatan main, kami pun dengan ambisius bertekad berfoto di semua set ruangan. Yang yaah, ternyata memang tidak bisa dicapai sih, tapi meskipun begitu, paling tidak kami berhasil berfoto di kurang lebih 95% set ruangan. Sisanya gagal tereksekusi karena keterbatasan waktu dan juga sudah benar-benar sudah lesu dan kecapekan.

●Ayam Goreng Ny. Suharti● Next and last, menjelang sore, kami bergerak ke Rumah Makan Ayam Goreng Ny. Suharti yang legendaris itu.

Saya orang Jogja, tinggal di sana selama kurang lebih 24 tahun, tapi jujur saja, saya belum pernah mencoba makanan satu ini. So, fixed, saya pun tidak kalah excited dengan rekan-rekan lain dalam perjalanan ini yang notabene banyak yang baru datang pertama kali ke kota ini.

Dan ternyata, memang harus saya akui rasa ayam goreng ini memang lezat, sehingga kami pun yang sebenarnya belum terlalu lapar karena memang belum waktunya makan malam pun bersemangat menyantap hidangan yang sudah disiapkan, yang tentu saja adalah ayam goreng, tumisan, lalap, sambel, nasi putih, dan teh manis. Yumm… sajian sederhana yang benar-benar nikmat…


●Kembali ke Lampung● Dan tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat… Waktu 4 hari 3 malam kami di Jogja pun berakhir hari itu… Segala keceriaan, keseruan, dan keharuan kegiatan Employee Gathering kami berakhir hari itu.

The A Team…

Bagi saya pribadi, apa yang kami lalui selama 4 hari dan 3 malam di Jogja ini benar-benar sesuatu yang mengesankan. Sebagai bagian dari panitia yang menyiapkan dan memastikan acara terlaksana sebagaimana mestinya, saya sangat bahagia dengan segala senyum, tawa, dan canda yang saya lihat sepanjang kegiatan ini. Dan saya rasa, seluruh kawan-kawan panitia pun merasakan hal yang sama… And I'm proudly say, "We did it!"

To Adi, Yeny, Ais, Sandy, Seera, Galuh, Iffa, Dino, Erwin, Ridho, Fahma, Mega, Fariz, Eka, Ulis, Diksa, Donni, Pak Mardi, Nopriadi, Bowo, dan panitia yang mungkin lupa saya sebutkan; "Yes, we did it guys! We did a great job!"

Juga untuk pihak event organizer, Limasan Tour and Travel; Zindy, Fida, Yulius, Rika, Vandi, Adit, dan tim yang sudah dengan sangat profesional dan friendly mengorganisir kegiatan kami di Jogja. Mulai dari perencanaan tour; meliputi pemilihan objek wisata, hotel, dan rundown acara; tim Limasan sangat-sangat mengakomodir kebutuhan dan kapasitas keuangan kami. Bukan cuma objek wisata utama yang mereka perhatikan, tapi juga wisata kulinernya; mereka memberikan opsi-opsi tempat makan yang authentic tapi masih masuk di kantong.

Satu lagi, karena dasarnya tim ini rame dan berjiwa muda, mereka bisa aja memilih lokasi dan juga membawa suasana menjadi penuh kebersamaan, entah itu seru atau haru. Sebagai klien, kami puas lah dengan servisnya. Termasuk juga foto-foto kerennya… menurut saya yang bukan fotografer profesional, tapi suka rempong dengan foto; angle foto-fotonya bagus! (Semua foto dengan watermark Limasan Tour and Travel is belong to them). Terima-kasih Limasan…

Dan demikian cerita keseruan dan keharuan kami di Jogja selama 4 hari dan 3 malam… Just another story of our employee gathering, tapi meninggalkan kenangan, kepuasan dan pembelajaran tersendiri bagi kami semua. Alhamdulillah…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, August 7, 2018

Memuaskan Sisi Visual-Kinesthetic dengan Faber Castell Colour to Life


Siang itu, sembari mendengarkan orang-orang bergantian berbicara dan mengungkapkan pendapatnya… tanpa bermaksud mengabaikan atau tidak memperhatikan, saya justru asyik dengan kertas dan bolpen. Jangan salah sangka dulu… tidak, saya tidak sedang mencatat… tapi sedang menggoreskan bolpen hitam saya ke kertas putih polos yang memang menjadi favorit membentuk gambar matahari, rintik hutan, pepohonan, dan apa saja yang ada dalam pikiran saya. Ide yang keluar begitu saja dari kepala saya dan terwujud tanpa banyak pertimbangan begitu saja…

Sesuatu yang sengaja saya lakukan untuk menjaga kesadaran dalam rapat itu… Karena jika tidak, semacam penglaman sebelumnya, dipastikan saya akan tertidur dalam situasi yang menuntut hanya mendengarkan dan berusaha mencerna stimulus-stimulus auditori itu dalam kepala saya…


Tapi, jangan salah sangka lagi… semua itu bukan semata karena rapat yang membosankan, tapi memang demikianlah kecenderungan saya sejak kecil. Semua saya sadari sejak duduk di bangku SMA, dimana saya harus memutar otak agar tidak tertidur di kelas selama guru menjelaskan pelajaran… mulai dari duduk di meja paling depan, berusaha berkonsentrasi penuh, tidak tidur larut malam, dan sebagainya. Semua usaha yang seolah tidak menunjukkan hasil berarti, karena saya tetap kesulitan mempertahankan mata saya tetap terbuka, tanpa kehilangan kesadaran beberapa detik saja. Sampai-sampai, Bu Guru mengeluhkan hal ini kepada ibu saya saat mengambil raport. "Bu, sebenarnya anaknya ini lumayan cerdas, tapi suka tidur di kelas…" Duh, tidur di kelas katanya… "Ampun Bu Guru, andai ibu tahu usaha keras saya untuk tetap terjaga… semua itu benar-benar di luar kuasa saya…"

Permasalahan klasik yang sama sampai saya menginjak bangku kuliah… Sampai akhirnya menyadari bahwa saya memang lemah dalam situasi seperti itu (baca: diam dan mendengarkan penjelasan). Somehow, dengan menggunakan pengkategorian modalitas belajar yang cukup populer beberapa waktu lalu, saya merasakan kecenderungan ke arah modalitas belajar kinesthetic dan visual yang kuat. Saya perlu bergerak (baca: menulis dan mencorat-coret) untuk membantu mempelajari sesuatu; dan saya merasa sangat terbantu dengan gambar, bagan, struktur yang harmonis serta enak dilihat.

Dan sejak saat itulah saya tahu pasti apa yang harus dilakukan saat mendengarkan penjelasan dosen di kelas atau terlibat rapat… Bukan secangkir kopi, beberapa potong kue, atau bahkan mencubit diri sendiri; tapi membiarkan tangan saya bermain dengan bolpen, pensil atau alat tulis lainnya… sekedar untuk mencorat-coret, membuat catatan atau menggambar.

Corat-Coret Saat Rapat Wali Murid di Sekolah Ganesh


Terus dan terus… sampai akhirnya kemudian saya menyadari betapa semua itu begitu menyenangkan bagi saya… Dan kegiatan mencorat-coret itu pun terkadang bukan lagi sekedar dalam rangka mempermudah proses belajar, tapi menjadi sesuatu yang sengaja dilakukan karena saya menyukainya…

Hasil Karya pada Rapat P2K3 di Kantor
***

Selama ini, saya memang hanya menggunakan media kertas dan bolpen untuk menyalurkan hobi ini karena praktis dan santai; sampai kemudian beberapa waktu lalu berkenalan dengan Faber Castell Colour to Life…

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mencoba produk yang ternyata sangat menyenangkan ini!

Faber Castell Colour to Life ini terdiri dari 20 buah connector pens dan 15 halaman augmented reality colouring book. Hmm, kedengeran canggih banget ya dari namanya? Dan memang demikianlah kenyataannya. Penasaran? Mari saya jelaskan satu persatu…

Connector pens adalah bolpen (atau lebih mirip spidol menurut saya) yang terdiri berbagai warna dan memiliki bentuk yang dapat digabungkan satu sama lain membentuk konstruksi tertentu. Selain itu, pewarna ini ternyata sangat aman untuk anak-anak, karena tidak beracun, tidak meninggalkan noda pada pakaian dan dapat dicuci!


Sedangkan 15 page Augmented Reality Colouring Book adalah lembar mewarnai yang dapat discan dan dimainkan dalam bentuk animasi 3D melalui aplikasi Colour to Life yang dapat di-download pada Play Store (Android) atau Application Store (iOS). 

Untuk menemukan aplikasi colour to life ini bisa dengan search dengan kata kuncinya di Play Store maupun App Store, atau dengan scan barcode yang ada di kemasan Faber-Castell Colour to Life.


Jadi, gambar kita jadi 'hidup' dalam bentuk 3D seperti ini…


Kerennya lagi… animasi 3D ini bisa dimainkan dan juga diajak foto selfie… Sehingga benar-benar bisa menjadi alternatif kegiatan seru selain bermain gadget bagi kita maupun anak-anak. Dan bahkan bagi saya, ada keasikan sendiri tidak hanya pada saat mewarnai buku mewarnainya, tapi juga begitu excited saat gambar saya berubah menjadi animasi 3D.



Untuk saya pribadi, kegiatan mewarnai Faber-Castell Colour to Life ini benar-benar memuaskan sisi visual dan kinesthetic saya… Karena alat mewarnai ini sangat cocok digunakan untuk teknik arsir dengan berbagai tekstur (teknik favorit saya). Juga karena hasil mewarnainya pun sungguh-sungguh indah dan eye catchy secara visual; sehingga bisa menjadi alternatif me time untuk memberikan perasaan relax, puas dan bahagia dalam diri saya. 

Apalagi 'connector pens'-nya pun sangat aplicable untuk hasil corat-coret saya selama ini… Gambar-gambar saya yang selama ini monoton berwarna hitam-putih saja benar-benar tampak berbeda setelah saya warnai dengan warna-warna cerah dari 'connector pens' Faber-Castell!

Sangat recommended lah untuk teman-teman yang hobi corat-coret untuk menghasilkan suatu (sebut saja) karya yang indah dan enak dilihat.  


Plis jangan bilang saya hanya memuji diri sendiri… ini memang benar-benar lebih indah dari versi hitam-putihnya kan…

Produk Faber-Castell Colour to Life ini sendiri bisa didapatkan secara online di Tokopedia, Gramedia dan toko buku terdekat lainnya.

Selamat mencoba 😉

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, July 5, 2018

Each Marriage They Create Chemistry…

…kemudian mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya…

Hayoo… ada ga nih teman-teman yang menganggap kalimat di atas sebagai parameter paripurnanya suatu cerita percintaan? Kalimat pamungkas yang banyak kita temui pada cerita dengan genre fairy tale, semacam Cinderella, Rapunzel, Keong Mas, dan lusinan lagi yang jadi cerita favorit saya sejak dulu. Cerita-cerita yang membentuk relationship goal saya kala itu, bertemu seorang 'pangeran' baik yang mencintai saya, menikah, dan hidup bahagia selamanya…

Goal, yang tercapai sih… Saya menemukan seorang pria baik yang mencintai saya dan kemudian menikah… Juga merasa bahagia dengan pernikahan saya, tapi ya bukan berarti 'udah gitu aja selesai'. 'Bahagia' bukan berarti just happy all the time… hanya pelangi 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, tanpa hujan dan badai sama sekali. Tanpa perbedaan pendapat, perselisihan paham, dan perang dingin.

Yah, asal tahu saja, dulu pas awal-awal menikah, prosentase akur dan berantemnya mungkin fifty-fifty ya...

Tapi, ya kami menerima situasi itu dengan kesadaran bahwa itu adalah bagian dari reaksi yang terjadi karena bertemunya kami dengan karakter yang sama-sama keras. Berusaha tetap berpikir logis dan tidak mendramatisirnya. Itulah yang akan saya ceritakan disini…

Thursday, May 31, 2018

Spesialnya 'Tumpeng Enak' Lampung…

Perkenalan saya pada Tumpeng Enak, sebenarnya tidak sepenuhnya disengaja; dalam artian bukan kerena rekomendasi dari rekan yang sebelumnya sudah mencoba sebelumnya.


Waktu itu, seperti biasa, karena hari libur, saya pun libur masak… *Hmm, kalau ibu-ibu yang lain biasanya justru pas libur masak ya… Kalau saya, karena lima hari dalam seminggu sudah masak pagi buta untuk makan siang dan bekal anak, hari libur justru adalah waktunya untuk bersantai melakukan 'hobi' yang biasanya cukup terbengkalai (baca: menulis dan belajar piano). Semacam me time mungkin ya…

Nah, siang itu, di suatu Hari Sabtu (kalau tidak salah ingat), mendekati waktu makan siang, mulailah saya berselancar ke dunia kuliner melalui Go-Food. *Yes, Go-Food ini memang benar-benar solusi untuk orang-orang yang lagi males masak seperti saya… *Dunia benar-benar lebih indah setelah Go-Jek masuk ke Lampung tempat domisili saya…

Pada dasarnya, setiap kali mencari makan, sebagai emak-emak, sudah bisa dipastikan jika selera anak adalah satu aspek yang harus diperhatikan. Karenanya, kemudian tujuan terkerucut kepada nasi kuning, karena Anesh anak pertama saya sangat suka nasi kuning.

Searchingsearching

Voila! Terdampar lah saya ke lapak 'Nasi Kuning Kemiling'… *Ya, di Go-Food namanya 'Nasi Kuning Kemiling' padahal lokasinya ternyata bukan di Kemiling, tapi Kedaton… Infonya sih, dari pihak Go-Jek mendeteksi lokasi Tumpeng Enak ini di Kemiling…

Di Go-Food, hanya ada dua menu dari lapak 'Tumpeng Enak', yaitu Tumpeng Mini dan Bento Nasi Kuning. Dan kemudian, karena baru pertama kali coba, saya pesan aja masing-masing satu, buat Ganesh dan Mahesh, saya sih sisanya aja… Papanya? Waktu itu kayaknya dia sedang dinas, jadi tidak masuk hitungan…

Dari perkenalan pertama itu, kemudian saya pun cukup impressed dengan konsep 'Tumpeng Enak' ini… Unik lho, ada tumpeng dalam bentuk mini yang disajikan lengkap dengan lauk-pauknya (udang, ayam, mie, telur, kering tempe, jamur krispi, perkedel, urap, sambal dan mentimun)… Demikian juga dengan bento nasi kuningnya, dengan menu yang sama minus udang dan perkedel. *Karena beda menu ini, kemudian mereka berbeda harga… Tumpeng mini 45 ribu dan bento 35 ribu…

Selain itu, penyajian yang eye-catchy dan benar-benar 'niat' (tidak asal-asalan); lengkap dengan sticker ucapan selamat makan dan jangan lupa berdoa itu semakin menegaskan passion owner Tumpeng Mini pada produknya.



Dan soal rasa seperti apa? Hmm, jujur saja, karena lidah saya tidak terlalu peka… menurut saya ya, enak-enak saja… nothing special…

Sampai kemudian, penilaian saya tentang Tumpeng Enak ini pun teruji pada saat kantor mengadakan acara buka bersama sekaligus dalam rangka HUT ke 22 tahun… *Sebenarnya kantor saya (PLN Sektor Dalkit Bandar Lampung sudah berdiri sejak 27 tahun lalu, namun karena adanya pemisahan unit, maka dihitunglah ulang tahunnya sejak pemisahan tersebut…

Nah, disitu karena momennya ulang-tahun, maka sebagaimana tradisi, keberadaan tumpeng nasi kuning adalah keharusan! Dari sanalah, kemudian timbul ide menu buka puasa pun nasi kuning, agar semua peserta pun merasakan kebersamaan dan juga sakralnya perayaan hari ulang tahun kantor tercinta kami ini.

Hmm… ingatan saya pun langsung tertuju pada tumpeng mini-nya 'Tumpeng Enak' yang menurut saya merepresentasikan semua itu… Nasinya nasi kuning, bentuknya tumpeng, lauknya pun sama persis dengan tumpeng versi besarnya. See what I mean kan? Biasanya kan tumpeng simbolis saja, yang dapet kuncupnya satu orang saja, dan yang nyicip palingan beberapa orang yang duduk di depan saja… Nah, ini semua peserta dapet kuncupnya… spesial banget kan…

Dengan segala pertimbangan itulah, sesuai kesepakatan dipesanlah 250 porsi Tumpeng Mini plus tumpeng besar untuk 30 porsi…


Lalu… Bagaimana debut si Tumpeng Enak ini di kantor saya…

Awalnya, walau pun sedikit ada lah sedikit kekhawatiran akan reaksi orang-orang karena ini adalah kali pertama kami menggunakan konsep perayaan HUT dan buka bersama dengan menu tumpeng nasi kuning. Bagaimana kalau ternyata orang-orang kurang antusias? Apalagi ada yang sempat bertanya, "Is it OK, makan yang bersantan-santan untuk buka puasa?" Arrgh… Sebagai panitia dan pelempar ide, saya jelas merasa sangat bertanggung-jawab akan semua itu.

Untungnya… fiuhh… Si Tumpeng Mini sukses di debut pertamanya… Orang-orang bukan cuma suka makannya, tapi juga excited mau bawa buat oleh-oleh, waduhh…

Soal rasa, 'Tumpeng Mini' memang tidak diragukan lagi… Menurut testimoni beberapa rekan,  'Tumpeng Enak' rasanya benar-benar enak, bumbunya terasa! Hmm, wajar sih, karena menurut mbak Pipit owner 'Tumpeng Enak', dia benar-benar melakukan riset untuk menghasilkan tumpengnya saat ini… Mulai dari beras premium yang cukup lengket untuk dibentuk meskipun tanpa tambahan beras ketan, santan, sampai minyak gorengnya. Saya sampai ter-wow-wow ndengerin mbak Pipit cerita… Sampai segitunya ya cari resep makanan…

Dan bukan cuma perkara rasa, packaging-nya pun benar-benar eye catchy! Tumpeng-tumpeng mini dengan aneka lauknya ini ditata apik dalam wadah beserta penutup transparan yang dilengkapi dengan sticker customize sesuai tema acara kita! Waktu itu, saya hanya memberikan tulisan,  konsep sticker beserta warna tema yang diinginkan… kemudian Mbak Pipit akan memesan desain sticker tersebut kepada percetakan langganannya. Dengan tentu saja, sebelum desain sticker sudah kita setujui… OK kan…


Packaging yang 'unyu-unyu' ini, sontak menimbulkan excitement tersendiri bagi peserta buka bersama. Karenanya, dari pemantauan saya, cukup banyak peserta yang memotret si Tumpeng Mini… sekedar untuk dokumentasi pribadi atau diposting melalui akun  socmed masing-masing… hahaha… Pokoknya seru lah liat tingkah polah orang-orang pada njepret si Tumpeng Mini ini, juga scroll-scroll timeline Instagram dan menemukan postingan-postingan orang-orang tentangnya…

Yes! Alhamdulillah… lega…

Terima-kasih Mbak Pipit dengan Tumpeng Enak-nya yang sudah memberikan pelayanan dan sajian mengesankan untuk acara kami. Juga, kesanggupannya meng-handle tambahan porsi mendadak (100 biji loh…) satu hari sebelum acara. Tumpeng Enak T.O.P lah pokoknya… Sukses selalu yah…

Dan teman-teman, yang berniat mengadakan acara, terutama yang berbau ceremony pas banget nih dengan Tumpeng Enak, dijamin nuansa heritage dan sakralnya acara makin terasa dengan menu tumpeng, tumpeng mini, dan bento nasi kuningnya. Atau kalau kurang suka nasi kuning, bisa kok request dibuat dengan nasi putih biasa…

Dengan komplitnya paket, berupa menu lengkap dengan lauk-pauknya serta packaging plus sticker customize sesuai tema acara kita, insyaallah harganya relatif affordable… Bisa langsung cek di Instagram atau websitenya langsung untuk cari tahu…

Atau… kalau berniat beli satuan sekedar untuk menghilangkan rasa kangen pada nasi kuning… boleh banget langsung order melalui Go-Food! Gampang banget pokoknya…

Tumpeng Enak
Instagram: @tumpeng.enak
Website: http://tumpengenak.com/

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, April 29, 2018

Tampil Cantik dengan Produk Handmade di Qlapa.com

'Modis'… dulu, mana kata itu dalam kamus hidup saya. Di tahun 90-an, saya adalah remaja sangat tidak peduli pada penampilan! Boro-boro matching-in warna, saya malahan merasa bangga jika berani jalan-jalan ke mall dengan setelan kolor dan t-shirt yang cukup pantas disebut baju tidur… Tindakan yang tampaknya sangat percaya diri, namun sesungguhnya adalah manifestasi dari ketidaknyamanan saya menjadi pusat perhatian.


Itu dulu…

Semakin dewasa, mau tidak mau kemudian saya harus berubah. Awalnya karena selalu gagal di sesi wawancara kerja, saya pun mengikuti nasehat Bude untuk lebih memperhatikan perihal penampilan; karena mau tidak mau itu adalah hal yang penting untuk posisi kerja tertentu, seperti posisi HR Admin incaran saya…

Sejak itu, kok lama-kelamaan saya merasa 'tampil cantik' itu enak juga dan menjadi pusat perhatian juga sama sekali tidak menyakitkan. Jadi kenapa tidak? Apalagi setelah menikah… suami getol banget beliin berbagai baju, sepatu, dan pernak-pernik lainnya demi membuat istrinya makin cantik… Makin sempurna lah transformasi saya…

Sampai-sampai, sekarang suami suka 'takjub' dengan penampilan saya yang menurutnya 'aneh-aneh'… Yang, yaa… sepertinya itu kata lain dari preferensi saya yang cukup spesifik pada produk handmade.  'Unik' identik dengan 'aneh', masuk akal kan…


Pengolahan manual membuat uniknya tekstur, warna, dan pola serat rotan, kain goni, mendong, dan pandan; warna-warni batu-batuan alam asli; dan juga uniknya motif batik, tenun, dan kain tradisional tampil prima. Dimana hal ini, tidak dapat dilakukan oleh mesin karena masing-masing membutuhkan treatment yang personal. Demikian juga pada bahan-bahan modern seperti benang nilon dan kain kanvas…

Proses handmade membuat berbagai macam detail dari bahan-bahan ini mungkin untuk ditampilkan.

Pun kreatifitas tinggi dan passion pengrajinnya membuat produk handmade tidak hanya berkelas dan bernilai seni tinggi, tapi juga sarat akan cerita hidup para pengrajinnya…

Salah satunya yang sempat viral adalah cerita istri Perdana Menteri Singapura yang memakai tas tangan karya seorang anak penyandang autisme saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat (Tempo.co).


Yup, di balik benda-benda handmade, pun tersimpan cerita-cerita personal dan inspiratif para pengrajinnya yang beraneka… Satu hal yang membuat produk handmade semakin bernilai bagi banyak orang.

Itu kenapa, saya hampir tidak pernah lepas dari sentuhan mereka di setiap kesempatan… Bukan hanya saat kondangan, tapi juga saat ke kantor, dan acara harian lainnya; saya suka sekali memakai pakaian batik atau tenun, perhiasan berbahan batu atau kayu, juga tas dari kain goni maupun daun pandan.

Mereka membuat saya merasa cantik…




Dan tentu saja bukan sekedar penilaian subjektif saja ya, karena teman-teman pun seringkali memuji penampilan saya, dilanjutkan komentar bahwa entah itu tas, kalung, atau pakaian handmade yang saya kenakan juga cantik, belinya dimana, dan sebagainya… Yang tidak bisa dipungkiri sih, kadang membuat saya ragu, "Jadi yang cantik saya atau pernak-pernik handmade-nya ya?" Haha…

Nah, kalau menurut teman-teman sendiri bagaimana? Bisa dibilang lumayan cantik lah ya… Dan berikut sedikit tips tampil cantik dengan produk handmade menurut versi saya:
  • Be yourself. Pilih gaya dan tampilan yang nyaman dan menarik menurut kita, jangan terlalu terpaku pada mode atau apapun.
  • Tentukan tema. Untuk menghasilkan penampilan yang berkarakter, kita perlu mengikuti satu tema tertentu; misalnya sporty kah, colourful kah, atau tema warna… earthy kah, candy colour kah, dan sebagainya.
  • Simpel dan jangan berlebihan. Karena fitur utama yang harus ditampilkan tetap adalah diri kita. Menurut saya, tampilan yang terlalu ramai justru akan mengaburkan karakter kita.
  • Pilih produk handmade yang berkualitas. Kualitas sama dengan jaminan elegannya suatu produk. Tidak harus mahal; yang terpenting adalah pemilihan bahan yang baik, pengerjaan yang 'rapi', dan desain yang indah.
Produk handmade sendiri, karena skala produksinya yang relatif kecil, pemasarannya pun tidak terlalu luas. Dulu, mendatangi langsung pengrajin atau toko-toko seni di daerah (nyaris) adalah satu-satunya cara mendapatkan mereka dalam versi terbaiknya (baca: berkualitas).


Sampai akhirnya, pengrajin mulai memanfaatkan website dan media sosial untuk memasarkan produknya. Yang tentunya adalah solusi bagi pengrajin untuk memasarkan produknya, dan juga konsumen, namun juga sebuah tantangan bagi kedua belah pihak…

Bagi konsumen adalah tantangan untuk menemukan produk yang berkualitas; sementara bagi pengrajin adalah tantangan untuk meyakinkan calon pembeli akan kualitas pelayanan dan juga produknya.

Dan, salah satu solusi dari tantangan ini diberikan oleh Qlapa.com!

Tampilan website Qlapa

Situs yang mulai beroperasi sejak 1 November 2015 ini merupakan penghubung antara pengrajin dan konsumen.

Disini, saya bisa menemukan (nyaris) apapun benda handmade yang dibutuhkan; mulai dari produk-produk fashion (tas, aksesoris dan pakaian), furniture, hingga produk kuliner. Qlapa.com bagaikan etalase online dari para pengrajin benda-benda handmade di mana pun mereka berada. Dan lebih dari itu, Qlapa.com memiliki berbagai kelebihan yang membuat saya terus menjadi pelanggan sejak tahun 2016:
  • Produk berkualitas dan terkurasi. Tim Qlapa akan menyeleksi satu persatu produk handmade dan hanya yang memenuhi standard kualitas serta memiliki target pasar yang sesuai yang akan ditampilkan di situs ini.
  • Aman. Qlapa.com berfungsi sebagai perantara transaksi antara pengrajin dan pembeli, dimana Qlapa.com baru akan meneruskan dana kepada pengrajin setelah barang diterima.
  • Memberdayakan pengrajin di seluruh Indonesia. Jika dulu para pengrajin produk handmade hanya bisa menjual produknya melalui toko-toko di daerahnya atau berusaha mencari pasar sendiri secara online dengan segala kesulitannya. Melalui Qlapa.com, mereka bagaikan dibawa ke sebuah pasar yang selalu ramai dikunjungi oleh pecinta handmade dari seluruh penjuru nusantara (bahkan dunia). 
  • Memesan dengan customize. Untuk barang-barang tertentu, kita bisa meminta detail tertentu… Sangat cocok untuk cinderamata…
  • Ada aplikasinya mobile-nya! Wow, ini nih yang meningkatkan kenyamanan berbelanja di Qlapa.com sejak beberapa waktu lalu… Dengan adanya aplikasi berbasis Android, berbelanja barang handmade menjadi benar-benar mudah dan menyenangkan. Kapan saja tertarik, tinggal searching di aplikasi, masukkan ke dalam keranjang, dan checkout… 
Qlapa.com bagaikan angin sejuk pegunungan bagi pecinta produk handmade seperti saya. Kapan saja, dimana saja setiap, kali membutuhkan… tinggal search… kain tenun, rok lilit, gelang, apapun itu… masukkan keranjang, checkout, dan barang akan dikirim ke alamat tujuan. Tanpa rasa khawatir!


Makanya wishlist Qlapa.com tidak pernah kosong, haha… Ada saja barang impian yang tertinggal di sana dan menunggu direalisasikan saat kantong memadai.

Terima-kasih ya Qlapa.com, sudah perburuan benda handmade menjadi begitu mudah… dan juga membuat saya terlihat cantik tentu saja. Sebagai konsumen, saya sangat puas dengan produk-produk Qlapa.com…

Teman-teman, sudah pernah belanja di Qlapa.com belum? Hati-hati ya, sekali coba pasti bakalan jadi langganan kaya saya deh…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...