SOCIAL MEDIA

search

Wednesday, April 21, 2021

Not Lost Myself In Domesticity

Jeanie marries when she's twenty one,
Has a baby one year on
And every year that's the way that life goes
Lost herself in domesticity,
A cleaning, feeding entity,
She can't recall what she was before

In an ideal world kids would keep their rooms tidy,
In an ideal world he would be home from his work on time
And in the morning I could lay in

(Lagu oleh Andrea Corr)

Gara-gara semingguan dipaksa berkutat dengan pekerjaan rumah-tangga pasca di-ghosting ART, lagu ini tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga. Ya gimana, tiap pagi mau bangun, yang di otak sekarang adalah mau masak buat sahur, cuci piring, nyapu, ngepel, jemur baju, nyetrika, dan printilannya. Hmm, I literally mengerti banget apa yang disampaikan lagu itu; sebuah kondisi dimana seorang perempuan tenggelam dalam pekerjaan domestik hingga lupa akan kehidupannya sendiri.


Seram ya? Tapi, iya lho, hal ini bisa banget terjadi saat pekerjaan begitu menumpuk sampai-sampai kita tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Begitu terbangun di pagi hari, yang ada di kepala kita adalah bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggu, hingga malam tiba, kita kelelahan dan beristirahat. Begitu terus... Alih-alih memikirkan mimpi, pekerjaan yang tidak henti muncul bisa selesai saja bagaikan suatu keajaiban.

Hmm, jujur, pada awalnya saya pun berpikir jika akan berada pada posisi seperti itu. Sekitar satu tahun yang lalu pun saya mengalaminya, dan waktu itu pekerjaan domestik ya hidup saya. Nyaris tak ada waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang saya sukai dan memuaskan batin.

But sureprise! Saya terkaget-kaget sendiri ternyata kok sekarang berbeda ya... Sudah seminggu terdampar di timbunan pekerjaan rumah tangga bersama home learning dua anak yang masih sekolah online, tapi saya survive. Bahkan masih sempat melakukan pekerjaan yang memuaskan batin, seperti menyanyi (live streaming), menulis, dan membuat konten. 

Ini benar-benar di luar prediksi saya! Dan sontak membuat saya berpikir, apa yang beda dengan tahun lalu? Kenapa tahun ini saya seperti masih punya cukup energi untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah-tangga itu, on-the-way menyelesaikan home learning, menyanyi, menulis dan bikin konten?

Dan setelah saya pikir-pikir, berikut beberapa hal yang ternyata membuat perbedaan itu:

1. Start dari Nol

Jadi, waktu itu kan rumah sempat ditinggal sekitar dua mingguan karena kami ke Jogja saat Ibuk sakit dan kemudian berpulang. Otomatis, PR sepulang dari sana itu lumayan banyak; ya segunung setrikaan, lantai yang aduhai untuk ukuran saya yang OCD bikin bad mood, barang-barang berantakan ga pada tempatnya, dan sebagainya.

Nah, ini nih kalo menurut hemat saya harus dibabat tuntas dulu, jadi kita benar-benar bisa start dari nol dan tidak selamanya menanggung pekerjaan kemarin atau kemarin lusa. And yes, ini part paling berat sebenarnya. Pada saat ini, saya hanya fokus untuk menyelesaikan PR itu dulu, my daily life still paused. Ga nyanyi dulu, ga nulis dulu, ga bikin konten dulu...

Berat? Iya! Makanya buruan diselesein, jadi hidup (harapannya) bisa normal lagi. Iya masih harapan, karena masih meraba-raba apa yang akan terjadi setelah ini.

2. Bangun (Sangat) Pagi

Yup, saya pikir bulan puasa akan menambah keruwetan dalam menyelesaikan semua pekerjaan rumah-tangga ini, tapi ternyata justru sebaliknya!

Bangun jam 3 pagi setiap hari untuk menyiapkan sahur untuk anak (dan suami jika dia sedang di rumah), setelahnya saya memilih untuk tidak tidur kembali, tapi menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum anak-anak harus bangun dan memulai aktivitas home learning. Pada waktu ini, saya ternyata bisa menyelesaikan banyak hal; seperti mencuci piring, menyapu, mengepel dan membuat sarapan untuk Mahesh yang belum berpuasa.

Alhasil, aktivitas setelah anak-anak bangun pun lancar jaya! Mood saya pun maintain nicely merasa tidak memiliki tanggungan yang bikin stress. Juga tidak merasa diburu-buru karena ada yang kelaperan, sementara saya pun gemas liat tumpukan cucian piring dan lantai yang tidak kesat.

3. Tidak Begadang

Ini penyakit menahun saya! Ada saatnya merasa kalo saya ini 'Night Owl' yang justru pikiran kreatif itu bersliweran di malam hari, begadang itu menjadi hobi dan kebutuhan. Siang harinya, hajar dengan kopi, selesai perkara! beberapa bulan kemudian masuk angin parah, pinggang sakit, ga bisa berdiri lama-lama, cuci piring aja harus duduk. Yup, begadang dan kurang tidur itu beneran merusak badan.

Itu kasus ekstrimnya, secara normal kebiasaan begadang itu membuat kita bangun dalam kondisi yang lelah. Lelah itu berdampak pada kurang efisien dan memburuknya mood seharian, jadi benar-benar tidak efisien. Ngerjain pekerjaan rumah lambat, banyakan nge-hang terus buka socmed. Ngajarin anak juga gampang marah. Udah gitu mau mikir untuk nulis atau bikin konten juga susah. Bete kan?

4. Jangan Tunggu Sampai Numpuk

Karena kalo numpuk itu bawaannya males mau ngerjain, yang namanya cuci baju dan setrika itu sehari sekali aja. Jadi setrika itu cuma 10 menitan aja sehari, ga sampai harus bergunung-gunung. Kenapa yang di-mention setrika? Karena ini permasalahan emak-emak sejagad kan, sampai saat ini belum bisa di-automatisasi.

Cuci piring juga gitu, sehari dua kali deh biar ga eneg liatnya.

Buat saya yang rada obsessive-compulsive tadi beneran efektif banget. Karena kecenderungannya itu kalo liat pekerjaan numpuk, bawaannya males dan menunda-nunda ngerjainnya.

5. Multitasking

Ada banyak kok kerjaan yang bisa dikerjain bersamaan. Misalnya masak. Pertama kupas wortel dulu, masukin ke panci. Nah, sambil nunggu si wortel masak, kita bisa motong-motong sayuran lainnya, siapin bumbu, dll.

Contoh lain misalnya home learning sambil nulis atau bikin konten. Ya udah, gelar aja dua meja jejeran anak. Anak ngerjain tugasnya, kita di sampingnya ngerjain tulisan atau konten sambil kadang ngomelin atau ngajarin. Bahkan kalo mendesak sekali bisa kok ngajarin home learning sambil masak. Tinggal angkut buku anak ke meja makan di dapur. Bisaa...

Bagaimana juga waktu kita itu cuma 24 jam sehari, 16 jam efektif, karena 8 jamnya jangan ditawar lagi, itu untuk istirahat.

6. Bergerak Lebih Cepat

Jalan yang cepet, ngepel yang cepet, cuci piring yang cepet... semua harus dipercepat supaya bisa selesai dengan cepat, sekaligus memaintain ritme kerja kita tetap dinamis dan agresif.

Untuk menjaga ritme kerja ini, saya perlu musik! Entah radio atau musik yang membuat saya stay pada pekerjaan itu dengan semangat. Itu kenapa, literally speaker itu ada dimana-mana di rumah.

7. Ajarkan Anak untuk Mandiri

Tahun ini anak sudah bertambah satu tahun usianya. Kalau dulu si Mahesh (sekarang 6 tahun) masih diambilin kalau makan, tahun ini dia bisa ambil sendiri. Juga soal sanitasi, mandi dan cebok sudah bisa sendiri. 


Kakaknya (hampir 10 tahun) pun begitu. Perkara belajar online sudah bisa jalan sendiri dengan jadwal yang kita tempel. Setiap pagi sudah pasang alarm untuk bangun, kemudian mandi, dan video meeting.

Ini benar-benar saving time and energy! Sekaligus mengajarkan anak untuk lebih mandiri.

8. Tools untuk Mempercepat/Meringankan Pekerjaan

Ini memang mungkin relatif pricey ya... Tapi, kalau menurut saya mesin cuci bukaan depan, mesin pel, dan bahkan meja setrika kecil yang bisa diangkut kemana-mana itu investasi untuk waktu dan kesehatan mental kita.

Sambil cuci baju, kita bisa masak, nyapu ngepel dll. Tinggal mikirin jemurnya aja, saving so much time!

Ngepel pake mesin meski belum yang otomatis jalan sendiri juga jauh lebih cepet dan ga capek. Saving so much energy!

Meja setrika kecil bisa diangkut sambil nemenin anak nonton. Anak seneng, kita juga seneng ga bosen plus merasa bisa membersamai anak. Contribute in maintain our mental health for sure!

Menurut saya beli alat semacam itu bukan pemborosan, tapi investasi. So, if you can afford it, go for it! Tapi kalo belum ada dananya ya nabung dulu. Bagaimana juga hidup itu juga tentang prioritas, termasuk prioritas mana yang harus dibeli dan mana yang bisa nunggu.

***

Udah, itu aja sih saya pikir berbeda dengan tahun kemarin dari sisi cara kerja tahun lalu dan tahun ini. Tentu tidak bisa diterapkan pada semua kondisi ya, tapi semoga bisa memberikan sedikit referensi pada teman-teman semua agar tidak tenggelam dalam pekerjaan domestik.

Yuk... yuk... tetap cari cara supaya bisa mengembangkan diri untuk kesehatan mental kita. Hmm, diposting pas Hari Kartini, beneran pas banget deh...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, April 16, 2021

Manfaat Daun Katuk dan Cara Lainnya untuk Melancarkan ASI


Memberikan ASI eksklusif merupakan hal yang diinginkan oleh semua ibu yang baru melahirkan. Hal tersebut karena berbagai manfaat yang bisa didapatkan ketika menyusui secara eksklusif. Dimana manfaatnya tidak hanya dapat diterima oleh bayi, tetapi juga untuk ibu sendiri. Mulai dari dapat membuat pertumbuhan dan perkembangan anak lebih baik, dapat untuk membuat hubungan ibu anak lebih dekat, dan juga ada banyak keuntungan lainnya yang bisa diterima untuk ibu dan bayi. Akan tetapi bagi ibu yang mempunyai produksi ASI yang kurang, maka akan susah untuk menjalankan niat tersebut. Oleh karena itulah biasanya akan melakukan berbagai usaha yang disarankan, seperti salah satunya adalah dengan menggunakan manfaat daun katuk yang sudah diketahui memberikan manfaat terbaik untuk ibu menyusui.

Daun katuk sendiri mempunyai nama latin sauropus androgynus L merr yang digunakan penambah ASI untuk ibu menyusui. Anda tentunya juga sudah familiar bahwa daun katuk merupakan salah satu bahan utama yang digunakan untuk ibu susu hamil. Sehingga bagi ibu yang mempunyai masalah seperti produksi ASI yang kurang lancar, bisa untuk memanfaatkan bahan yang satu ini. Daun katuk digunakan ASI booster karena mempunyai kandungan laktogogum dan prolaktin tinggi. Sehingga hal tersebut akan memicu produksi ASI menjadi lebih banyak dan bisa membuat produksi ASI yang lebih lancar.

Oleh karena itulah, bagi ibu yang ingin memberikan ASI eksklusif untuk bayinya tetapi mempunyai kendala produksi ASI yang kurang lancar, dapat untuk menggunakan manfaat daun katuk ini. Untuk mendapatkan manfaat tersebut, tentu saja perlu untuk mengkonsumsi daun katuk secara rutin. Sehingga bisa mendapatkan manfaat yang dibutuhkan dan bisa memberikan ASI yang berlimpah dan cukup untuk mendukung pertumbuhan bayi. Sekarang ini untuk mendapatkan khasiat daun katuk yang dibutuhkan juga sangat mudah, karena sudah terdapat banyak suplemen dan produk dengan ekstrak daun katuk yang bisa dipilih.

Salah satu produk yang dapat dipilih adalah dari Relief Sari Daun Katuk dari Herbana. Produk ini mempunyai bahan daun katuk mempunyai banyak manfaat yang bisa didapatkan. Adapun untuk alasan mengapa bisa memilih produk ini adalah karena:
  1. Alasan pertama adalah produk ini merupakan produk yang mudah untuk dikonsumsi karena berbentuk kapsul. Sehingga mudah untuk dikonsumsi setiap harinya.
  2. Alasan lainnya adalah karena produk ini mempunyai keamanan yang terjamin dengan bahan alami.
  3. Produk ini mempunyai harga terjangkau dan mudah didapatkan.
Relief Sari Daun Batuk dari Herbana ini merupakan produk ekstrak daun katuk. Dimana di dalamnya terdapat kandungan senyawa aktif yang dapat merangsang pembentukan ASI. Selain itu, daun katuk juga dikenal mempunyai banyak manfaat kesehatan lainnya. Dengan mengkonsumsi produk ini dengan rutin dapat untuk memberikan support ketika sedang menyusui, meningkatkan produksi ASI, dan dapat menjaga kesehatan lebih baik untuk ibu yang sedang menyusui.

Selain dari manfaat daun katuk, untuk dapat membuat produksi ASI lebih lancar juga mempunyai beberapa cara lainnya yang bisa digunakan. Seperti beberapa cara berikut ini:
  1. Menyusui lebih sering. Bagi yang ingin menyusui sendiri dan memberikan ASI Eksklusif, maka bisa untuk menyusui lebih sering yang akan memicu hormon untuk menghasilkan ASI.
  2. Memompa di antara waktu makan untuk dapat menyimpan ASI.
  3. Menyusui di kedua sisi.
  4. Mengatur posisi menyusui yang tepat, sehingga memudahkan ASI mudah keluar.
  5. Menyusui di malam hari.
Selain hal teknis tersebut, kondisi emosi ibu juga akan sangat mempengaruhi produksi ASI. Karena itu, ada baiknya ibu selalu menjaga suasana hati agar tidak stress. Dalam hal ini, peran orang di sekitar ibu (khususnya suami) pun sangat berpengaruh. Jadi, "Sebagai partner, Papa dan Mama perlu menjaga komunikasi yang baik dan saling memahami satu sama lain ya..."

Sekian, dan happy breast feeding Ibu...

Monday, March 15, 2021

Ilmu Mumpuni untuk Guru di Mana Pun dari GuruInovatif.id

Saya bukan guru, dalam artian berprofesi sebagai guru yang mengajar anak didik di sekolah. Saya seorang ibu dari dua orang anak yang punya tanggung-jawab untuk mendidik anak-anak di rumah tentang begitu banyak hal. Tentang kebaikan, norma agama, kemandirian, sikap pantang menyerah, dan segepok pendidikan karakter lain untuk anak yang diajarkan melalui interaksi sehari-hari. Seperti ibu-ibu lainnya.

Wow, menulis ini membuat saya menjadi merasa punya tanggung-jawab yang begitu besar dan bangga... Tapi ya memang iya lho... Tidak terbantahkan, begitu besarnya peran orang-tua (khususnya ibu) dalam mendidik karakter anak-anaknya.

Baiklah, cukup berbangga hatinya dan kembali ke topik...

Yup, kenyataannya peran ibu memang sebesar itu dalam mendidik anak-anak kita, dan bahkan semakin bertambah semenjak pandemi COVID-19 tahun lalu. Sekarang kita punya tambahan peran sebagai perpanjangan tangan dari guru untuk membantu anak-anak kita memahami pelajaran sekolah. Keren? Yes! Berat? Yesssss banget! (Tambahin emoji nangis).

Peran yang berat, dan bertambah berat saat pandemi ini mau tidak mau harus kita terima dengan lapang dada... Karena melihat anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik dan kompeten tentu adalah satu hal yang akan mengembangkan senyum kita. Senyum yang tentu saja harus ditebus dengan kerja keras dan terus belajar, karena sejatinya tidak ada sebuah panduan mutlak bagaimana cara terbaik mendidik anak-anak ini.

Ya kan anak-anak pun punya kepribadian dan karakter masing-masing... Tidak bisa dipukul rata! Belum lagi jaman yang berubah dengan rapid, membuat apa yang bekerja di masa lalu, belum tentu punya efektivitas yang sama di masa kini. 

Jaman saya kecil dulu, dibilangin kalau jangan keluar pas Maghrib karena ada 'Candik Ala' (yang waktu itu digambarkan sebagai makhluk halus yang berkeliaran pada pergantian siang menuju malam) sudah pasti langsung nurut. Sekarang? Duh, pasti ada juga anak-anak bakalan nanya 'Candik Ala' itu makhluk apa, ga percaya, dan bahkan pengen membuktikan keberadaannya. Sehingga, memberikan penjelasan logis menjadi lebih efektif bagi anak-anak jaman sekarang yang bisa dengan mudahnya mendapatkan asupan informasi dari TV, internet, buku, dan sebagainya.

Juga apa yang dulu kita anggap terbaik untuk anak, ternyata ada yang lebih baik lho di masa kini! Karena memang pengetahuan begitu dinamis, dan begitu banyak penelitian yang dilakukan mengungkapkan fakta baru memperbaiki pemahaman lama kita.

Misalnya... dulu tuh orang-tua saya sering banget melarang dan bilang 'jangan'. Yang kemudian pada saat menjadi seorang ibu, banyak artikel yang menyebutkan bahwa kata 'jangan' ini tidak baik untuk diucapkan pada anak karena mencegah mereka mengeksekusi inisiatif yang ada dalam dirinya alias menumpulkan inisiatif. Lalu beberapa saat kemudian ada pendapat yang mengatakan, bahwa mengatakan 'jangan' itu tidak apa-apa jika alasannya tepat dan disertai dengan penjelasan logisnya, sehingga anak pun memahami alasan tidak boleh melakukan sesuatu.

Hmm... so, what's next?

Tapi, kabar baiknya, justru di masa pendemi ini peluang kita untuk belajar hal-hal baru dengan lebih profesional terbuka semakin lebar. Bukan sekedar dari artikel, tapi bahkan dengan metode belajar yang lebih baik dan bersertifikasi pula!

How cool is that?

Sejak pandemi, berbagai workshop profesional berbasis online bertebaran di sekitar kita, yang tentu saja sangat mudah dijangkau, bahkan untuk ibu-ibu yang tidak mudah bepergian karena harus menjaga anak-anak seperti saya.

Salah satunya adalah GuruInovatif.id yang saya temukan beberapa waktu lalu ini...

GuruInovatif.id adalah solusi pembelajaran utamanya bagi guru. Kapan pun, di mana pun!

Awalnya saya pikir GuruInovatif.id spesifik menyediakan workshop berkaitan dengan sertifikasi guru sebagai profesi, tapi pas main ke websitenya, memang sih program dan sertifikasinya ditujukan secara khusus untuk profesi guru. Menjembatani guru untuk mendapatkan beragam kursus bersertifikat untuk meningkatkan kompetensinya di mana pun.

Akan tetapi, jika kita ingin mengikuti pembelajaran tertentu karena materinya dirasa relevan pun sangat memungkinkan. Literally, kita semua bisa ambil pelatihan dan sertifikasinya sesuai dengan kebutuhan kita. Termasuk saya, yang bukan guru, tapi kadang suka penasaran dengan suatu hal dan kemudian berusaha mencari rujukan yang mumpuni menjawab rasa ingin tahu saya.

Tinggal menyesuaikan saja dengan kebutuhan kita, tema apa yang kita butuhkan, bisa searching di sini...

APA SIH GURUINOVATIF.ID?

GuruInovatif.id adalah bagian dari HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services), yaitu salah satu divisi di bidang training guru yang didirikan Yayasan Hasnur Centre. Dimana HAFECS didirikan sebagai upaya untuk mendorong percepatan transformasi pendidikan Indonesia melalui pengembangan metode pengajaran di kelas dan metode pembelajaran serta pengembangan kurikulum sekolah (diambil dari website HAFECS.id).

GuruInovatif.id adalah bagian dari HAFECS dengan spesifikasi pelatihan guru yang dilakukan secara online.

GuruInovatif.id adalah Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru. Bangun keterampilan mengajar dengan kursus, webinar, dan sertifikat (diambil dari website GuruInovatif.id).
Nah, layanan dari GuruInovatif.id ini sangat beragam, mulai dari Online Certification, Mini Course, Productivity Course, dan Live Webinar.

Produk GuruInovatif.id (diambil dari website GuruInovatif.id)

Pembelajaran yang ada dalam GuruInovatif.id sangat beragam; mulai dari jenjang PAUD-TK hingga SMA/MA/SMK; dari rumpun ilmu IPA (Sains), IPS, Matematika, Sosial Humaniora, dan Kejuruan; dengan bobot sertifikasi mulai dari 4 JP hingga 64 JP, dengan topik yang sangat beragam: 
  • PCK
  • HOTS
  • AKM
  • Teaching Scenario
  • Teaching Grading
  • Keterampilan Digital
  • Coaching for Teaching
  • Coaching for Leader
  • Profesionalisme Guru di Abad 21
  • Tips dan Trik Pembelajaran

Lengkap banget kan!

Beberapa Kursus yang Ada di GuruInovatif.id (diambil dari website GuruInovatif.id)

SERTIFIKASI GURU DI GURUINOVATIF.ID

Nah, berkaitan dengan perannya dalam sertifikasi guru, GuruInovatif.id ini tentu sangat memudahkan masyarakat dengan profesi guru untuk mengakses keterampilan yang dibutuhkannya. Guru bisa memilih kursus apa yang relevan dengan pengembangan dirinya. Kapan saja dan dimana saja.

Dimana hal ini tentu sangat positif, utamanya pada saat pandemi seperti ini. Namun, lebih dari itu, pun memberikan akses pada guru-guru yang berada di lokasi yang kurang accessible atas kursus-kursus tertentu.

Bayangin deh, kalau dulu, kursus itu kan perlu menunggu ada kelas atau diadakan oleh lembaga tertentu (misal sekolah yang menaungi guru). Udah gitu temanya pun tidak bisa kita pilih sendiri, tapi mengikuti tema yang diadakan. Dan harus datang di tempat tertentu, pada waktu yang sudah ditetapkan pula. 

Hmm, cukup ribet kan? Apa kabar guru-guru yang ditempatkan di pelosok negeri ini?

Sementara melalui GuruInovatif.id ini, kita bisa memilih kursus apa yang akan diikuti, serta bisa dilakukan kapan dan di mana pun.

Keren sekali bukan? 

Jadi, meskipun kita berada di lokasi yang cukup terpencil pun, selama bisa mengakses internet... maka tidak ada yang tidak mungkin!

GuruInovatif.id adalah solusi!

Dan, satu lagi... bobot sertifikasi dari kursus yang ada di GuruInovatif.id ini pun bervariasi mulai dari 4 JP hingga 64 JP! Sangat mendukung pengembangan karir guru dengan berkontribusi menambah poin berdasarkan keikutsertaan sertifikasi tertentu sesuai bobot JP-nya.

Yes, ini benar-benar solusi untuk semua guru untuk pengembangan diri, maupun pengembangan karirnya. Memfasilitasi guru belajar kapan pun dan di mana pun.

PERAN GURUINOVATIV.ID UNTUK PROFESI SELAIN GURU

GuruInovatif.id jelas sebuah solusi bagi guru di Indonesia, tapi secara ilmu pengetahuan sesungguhnya memiliki sifat universal, saya sebagai ibu rumah-tangga pun merasa terbantu dengan adanya platform ini.

Berawal dari keisengan melihat begitu banyak kursus yang tersedia, saya pun akhirnya sudah mendaftar pada dua kursus. Pertama pada kursus dengan judul 'Membangun Harga Diri dan Rasa Tanggung Jawab Anak' dengan metode video, lengkap materi dan sertifikat. Cukup membayar Rp. 37.500,00 saja! Atau GRATIS TIS jika tanpa materi dan sertifikat!

Kedua adalah kursus dengan judul 'Mencontek Pembelajaran Online di Jepang Saat Pandemi' dengan metode WhatsApp Grup tanpa membayar satu rupiah pun! Alias GRATIS TIS!

Amazing kan!

Menurut saya sih platform ini sangat bisa dimanfaatkan oleh para 'guru di rumah', sebagai orang-tua yang ingin mendidik anak-anaknya. Dimana kini juga menjadi perpanjangan tangan guru di sekolah  untuk membantu menyampaikan pelajaran akademis di masa pandemi.

Jadi, siapa pun kamu... kalau penasaran dengan topik tertentu berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran, mungkin kamu bisa menemukannya di GuruInovatif.id ini. Cuss di cek!

***

Menurut saya, adanya GuruInovatif.id ini benar-benar mendukung peningkatan kompetensi guru di seluruh Indonesia, tanpa terbatas lokasi. Di mana, seperti kita ketahui, lokasi seringkali menjadi hambatan para guru untuk meningkatkan kompetensi tersertifikasi yang relevan dengan pengembangan diri dan kebutuhan di lapangan.

Harapannya sih, platform ini akan lebih dikenal dan turut membantu mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan dari Sabang sampai Merauke Indonesia.

Serta juga, semakin banyak masyarakat secara umum yang juga memanfaatkan GuruInovatif.id untuk menambah pengetahuan terkait dengan pendidikan dan pengajaran, yang seringkali kita butuhkan untuk mendidik anak-anak atau masyarakat di sekitar kita.

Semoga!


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh GuruInovatif.id

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

[1]. GuruInovatif.id. Diakses pada Maret 2021, dari https://guruinovatif.id/.

[2]. HAFECS.id. Diakses pada Maret 2021, dari https://hafecs.id/

Sunday, March 7, 2021

Kulit Sensitif yang Bikin Hati-Hati

Flashback 20 tahun silam saat memasuki bangku SMA, saat jerawat mulai menghampiri wajah, semua orang (termasuk saya) berpikir kalau semua itu sepenuhnya produk dari masa pubertas. Yang akan berkurang dengan membersihkan wajah secara teratur dan menggunakan obat-obatan yang banyak beredar di pasaran... dan selanjutnya akan menghilang saat saya dewasa.

Tapi, kemudian jerawat saya sungguh tidak biasa. Hanya satu, tapi ukurannya benar-benar jumbo! Diameternya sekitar 3 cm! Dan pulihnya pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tiga bulan! Sehingga siklus itu berulang setiap tiga bulan sekali.

Seaneh itu, hingga orang-orang termasuk saya pun tidak percaya bahwa itu adalah jerawat. Tapi, ke dokter kulit mana pun, mereka selalu memberi diagnosa bahwa itu adalah jerawat. Bahwa jerawat itu jenisnya bermacam-macam, termasuk salah satunya yang jumbo seperti milik saya.

Beban tentu bukan hanya merasakan tidak nyaman secara fisik, tapi juga psikis. Merasa orang-orang memandang aneh dan juga harus menjawab pertanyaan kepo mereka yang tidak ingin saya jawab.

Keadaan seperti ini berlangsung bertahun-tahun, hingga perlahan-lahan saya menyadari karakter spesifik dari si jerawat dan mulai menyimpulkan bahwa semua ini bukan semata kesalahan hormon pubertas atau higienitas. Tapi karena kulit saya pun amat sangat sensitif.

Dan dari begitu banyak artikel yang saya baca, ini berarti harus sangat berhati-hati pada produk yang saya pakai. Suatu kandungan mungkin memang mengatasi jerawat, namun pada saat bersamaan juga menimbulkan reaksi iritasi yang melemahkan kulit. Demikian juga dengan jerawat yang muncul, pada awalnya dia berukuran kecil, namun kemudian akan membuat kulit disekitarnya meradang dan membesar sedemikian rupa.

Berurusan dengan jerawat saja sudah pusing, ditambah dengan kulit sensitif... Benar-benar cobaan besar...

Dari sanalah kemudian saya berusaha mencari tahu produk-produk penjinak jerawat yang pro kulit sensitif. Karena banyak produk yang saya coba, meskipun dengan label 'cocok kulit sensitif' tetap efeknya kurang nyaman untuk kulit, saya juga mencoba banyak bahan alami. Seperti kunyit, daun ubi jalar, jeruk nipis, sampai lidah buaya.

Sampai pada kesimpulan bahwa lendir lidah buaya adalah zat yang paling cocok untuk menenangkan kulit sensitif saya, sementara jeruk nipis sangat cocok digunakan pada saat kulit berjerawat kecil-kecil. Sehingga petualangan mencari produk dengan kandungan lidah buaya pun dimulai... yang ternyata sama sekali tidak mudah. Karena setiap produk yang sudah melalui pabrikasi pasti memiliki kandungan lain untuk mempertahankan tekstur, menjaga keawetan, dan sebagainya. Seringkali bahan tambahan ini yang tidak bisa diterima oleh kulit.

Hingga ada masa dimana saya memilih menanam pohon lidah buaya dan mengambil sarinya setiap kali membutuhkan. Saat KKN selama dua bulan pun, tak lupa saya membawa pohon lidah buaya saya dalam pot!

Sangat tidak praktis memang, dan lagi tantangan soal higienitas. Kandungan lidah buaya menenangkan kulit sensitif, tapi pas panen sampai pengaplikasian kurang higienis ya bikin jerawat juga. Karena itu, pun saya masih berusaha mencari produk dengan kandungan lidah buaya yang cocok untuk kulit. Dan lagi-lagi, itu tidak mudah...

Gonta-ganti berbagai macam produk, akhirnya baru sekitar tahun 2009 ketemu dengan produk dengan kandungan lidah buaya yang cocok untuk kulit saya.

***

Selama hampir sepuluh tahun pencarian produk yang nyaman untuk kulit sensitif sekaligus berjerawat, semua itu tidak lepas dari research pada kandungan produk yang tertera pada kemasan. Apakah pro kulit sensitif dan berjerawat.

Beberapa kandungan yang perlu dihindari pada skin care atau kosmetik untuk kulit sensitif di antaranya adalah: alkohol, parfum, Ammonium Lauryl Sulfate, Sodium Lauryl Sulfate, apricot kernels/scrub, dan sunscreens dengan mekanisme blok UV menggunakan zat kimia.

Sedangkan kandungan yang tidak dianjurkan pada skin care atau kosmetik untuk kulit yang mudah berjerawat (acne prone) adalah: parfum sintetik, minyak esensial, Sodium Lauryl Sulfate, Isopropyl Myristate dan Isopropyl Palmitate, SD Alcohol 40, Denatured Alcohol, Ethanol, dan Isopropyl Alcohol, Sodium Chloride, minyak kelapa, cocoa butter, serta algae extract.

Terdapat begitu banyak produk di pasaran dengan tag-line 'cocok untuk kulit sensitif', namun tetap saja mengecek kandungan produk dari label kemasan mutlak harus dilakukan. Dan setelah menemukan produk yang sekiranya cocok, dicoba beberapa kali untuk memastikan efeknya pada kulit kita. Yup, ini perjalanan panjang, jadi begitu mendapatkan produk yang cocok, udah lah ga mau pindah ke lain hati.

Komposisi dari salah satu produk skin care yang cocok banget dengan kulit saya dengan kandungan Aloe Vera

Komposisi dari salah satu produk skin care yang cocok banget dengan kulit saya dengan kandungan Aloe Vera

Saat ini, saya sudah menggunakan rangkaian produk dengan kandungan lidah buaya yang satu ini selama lebih dari sepuluh tahun; mulai dari pembersih, toner, krim pagi, krim malam, dan sebagainya. Ternyata, pada saat kondisi kulit kita baik, jerawat pun lebih minimal muncul dan lebih mudah pulih.

Jadi, berbicara mengenai kulit yang cantik, faktor yang paling utama adalah mengenali kondisi kulit kita dan merawatnya dengan produk yang tepat. Sehingga untuk ini, kita perlu memperhatikan kandungan di dalamnya.

Adapun produk dengan kandungan bahan alami seperti ini, selain baik untuk kesehatan kulit, pun memiliki peluang untuk memberdayakan masyarakat. Seperti halnya produsen produk ini yang menggunakan komoditas lokal untuk bahan baku utamanya (lidah buaya).

Selain itu, hal yang perlu diapresiasi adalah bagaimana produsen produk ini menerapkan program daur ulang kemasan untuk memastikan lingkungan terjaga. Dengan demikian, selain baik untuk kulit, suatu produk pun ramah lingkungan dan juga ramah sosial.

Konsep seperti ini, tentu sangat bisa diterapkan di Indonesia yang sangat kaya akan keragaman hayati, pun Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Sangat mungkin mencari lidah buaya dari petani lokal atau pun memberdayakan mereka untuk menghasilkan lidah buaya dengan standard tertentu.

Hal ini sangat sesuai dengan visi dari Kabupaten Lestari yang memiliki tag line Lingkungan Terjaga Masyarakat Sejahtera; yaitu berusaha mengoptimalkan potensi alam di Indonesia, sekaligus mensejahterakan masyarakat.


Untuk mencapai tujuan ini, maka diperlukan gotong-royong atau kerjasama dari berbagai pihak untuk dapat mengangkat komoditas lokal menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi. Misalnya dalam pengalaman saya adalah produk skin care untuk kulit sensitif dengan bahan baku lidah buaya lokal yang berkualitas tinggi.

Daerah Pontianak dikenal dengan produksi lidah buaya terbaik di Indonesia, karena lokasinya yang dekat dengan Garis Khatulistiwa. Selain juga tanaman ini pun dikembangbiakkan dibeberapa lokasi lain, seperti Yogyakarta. So, bukan hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan hal ini. Dalam hal ini, tentu dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak; mulai dari produsen, petani, hingga pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk membantu regulasi dan promosi produk tersebut.

Indonesia memiliki tanah yang begitu subur, dengan kerjasama ini, optimis kita akan bisa memproduksi produk kecantikan berkualitas tinggi dari bahan alami.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

[1]. birdie.com. (16 Februari 2020). 7 Skincare Ingredients to Avoid if You Have Sensitive Skin. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.byrdie.com/skincare-ingredients-to-avoid-for-sensitive-skin-4799891.

[2].  birdie.com. (05 Agustus 2020). 9 Ingredients Skincare Experts Want You to Avoid If You Have Acne. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.byrdie.com/acne-causing-ingredients-4845040.

[3]. viva.co.id. (21 April 2012). Pontianak Penghasil Lidah Buaya Terbaik. Diakses pada 07 Maret 2021, dari https://www.viva.co.id/arsip/306406-pontianak-penghasil-lidah-buaya-terbaik#:~:text=Vlog%20%2D%20Kota%20Pontianak%20mendapat%20gelar,Aloe%20vera%20terbaik%20di%20Indonesia.

Saturday, January 9, 2021

Thank You 2020!

Tahun ini... lagi-lagi terasa berlalu begitu cepat seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahu-tahu besok kita sudah akan merayakan pergantian tahun dan mengucapkan selamat tinggal pada tahun 2020. Woohoo!

Tapi, ada yang beda di tahun 2020 ini... tahun ini benar-benar menghajar kita habis-habisan dan memaksa kita untuk belajar begitu banyak hal untuk sekedar bertahan. Paling tidak, itu yang saya rasakan...

Bulan Agustus 2019 saya resign dari pekerjaan yang sudah memberikan jaminan finansial selama lebih dari sepuluh tahun. Sejak awal, rencana yang tersusun menekuni dunia bisnis untuk menggantikan kesibukan (dan juga income of course). Meski tidak benar-benar merasa itu adalah strength point saya, tapi tidak masalah, cukup yakin bisa menjalaninya. Hidup bukan melulu tentang passion kan? Harus realistis juga... Apalagi jika itu bisa memberikan lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang menurut saya penting. Completely worth it!

Sampai akhirnya tibalah Bulan Maret 2020 yang bersejarah itu... Literally speechless mendeskripsikan saat-saat itu. Kemudian semua orang takut keluar rumah, termasuk saya. Bukan hanya terseoknya dunia bisnis yang membuat semua menjadi berat, tapi SEMUANYA! 

Takut keluar rumah, jauh dari keluarga dan suami (literally cuma bertiga dengan anak-anak saat itu), beradaptasi dengan belajar daring, while tentu saja sangat riweuh dengan urusan domestik. Kondisi yang benar-benar menguras energi physically and mentally.

2020 tampaknya jadi tahun tentang (sekedar) bertahan... tapi, saat saya mulai merenung di penghujung 2020 ini... WOW! Ternyata saya justru merasakan begitu banyak progress di tahun 2020 ini...

Lebih mengenal diri sendiri, kekuatan dan kelemahan saya...

Well, saya selalu menyadari kecintaan saya pada dunia kreatif, especially menulis, visual things, and betweens. Tapi sebatas hobi, tidak pernah terlintas untuk menghasilkan materi dari kegiatan ini.

Sejak rencana akan resign semakin nyata, ya, saya mulai berangan-angan akan menggeluti kegiatan ini lebih serius... karena memang saya menyukainya, bukan karena mereka menghasilkan pundi-pundi uang.

Sesaat sebelum resign, saya mulai hunting mic condenser, terinspirasi dari sesi rekaman di studio yang begitu effortful karena waktu. Pengen lah cus rekaman sendiri aja kalo lagi pengen dan ada waktu. Yah, what to expect from a mother of two, right? Kegiatan tidak jauh-jauh dari antar jemput anak, kadang pertemuan orang tua, nemenin berenang, nemenin les, nemenin main, dan lain-lain.

Lalu, lahirlah debut cover pertama saya di Youtube pada 11 Oktober 2011 yang seadanya banget, all by self, dari take video dan sound - termasuk masang tripod 😂

Beberapa cover lahir setelah itu di sela-sela segala kesibukan saya... mostly sih saya take vokal pas pulang anter anak-anak sekolah, terus yang lain-lain ya seadanya waktu di sela-sela wara-wiri ke outlet juga.

Terus breakout-nya itu ya pas satu cover saya kemudian membawa saya menjadi salah satu streamer di Sessions. Not much memang saat itu, tapi ya lumayan banget karena saya suka banget memang namanya nyanyi. 

Dan bahkan semasa pandemi, disaat literally terkurung di rumah bertiga dengan anak-anak, ini salah satu hal yang 'menghasilkan' untuk saya. Demikian juga dengan menulis, yang beberapa kerjasama dan keberuntungan nyangkut jadi pemenang lomba blog semasa pandemi.

Selain itu, ya, saya tetap menekuni dunia conten creator yang ternyata juga saya suka banget karena bersinggungan erat dengan dunia menulis dan visual. 

Akhir 2020, saya tersadar bahwa memang kekuatan saya adalah di dunia kreatif yang telah membuat saya jatuh cinta bertahun-tahun lamanya. Dan, ternyata sangat tidak salah mengembangkan kapasitas kita disana, somehow itu pun bisa menjadi jalan rejeki kita.

Finally merasa mengambil keputusan terbaik untuk resign saat itu...

Jujur, pada awal pandemi, ada satu sudut hati saya yang berkata bahwa mungkin akan lebih baik jika kala itu saya menunda keputusan resign. Karena toh semua menjadi tidak pasti karena pandemi, termasuk bisnis yang kami rintis pun mengalami masa sulit. Meski, alhamdulillah saking sibuknya saat itu karena tidak ada ART, justru membuat saya tidak pnya banyak waktu untuk merenung, sehingga tidak terlalu menghiraukannya.

But, then dengan segala keyakinan hanya untuk terus bergerak dan bergerak, ya sedikit demi sedikit titik terang menghampiri. Dari rejeki yang Tuhan alamatkan kepada saya melalui kecintaan saya pada dunia menulis, menyanyi dan visual. Bukan sekedar materi, tapi manfaat dari karya-karya saya yang disampaikan bahkan dari orang-orang yang tidak saya kenal.

That is so amazing...

Dan, titik kebahagiaan itu adalah pada saat anak pertama saya mendapat rekognisi dari sekolahnya karena kreatifitasnya. Ibu-ibu pasti tahu bangganya kreativitas anaknya kemudian direpost pihak sekolah dan bahkan diwawancarai karena dinilai bisa memberi inspirasi pada anak-anak lain tentang mengisi waktu luang di masa pandemi.

That turning point mengingatkan saya salah satu alasan terbesar saya memilih resign, karena menyadari keunikan anak-anak saya dan merasa bahwa bekerja full time benar-benar tidak menyisakan energi dan sumberdaya yang cukup untuk meng-handle mereka seperti yang mereka butuhkan.

Dulu, pada suatu hari anak saya pernah berkata, "Aku kan bukan anak pinter... Juga bukan anak baik..."  Saat itu, benar-benar hancur hati saya, dan kemudian berjanji dalam hati, "Kita buktikan sama-sama ya Nak, kalo kamu anak yang hebat..." Karena saya tahu jika dia adalah anak yang hebat, hanya mungkin respon lingkungannya kurang apresiatif, sehingga dia merasa rendah diri.

Akhir 2020... saya benar-benar terharu melihat anak saya finally mendapatkan rasa percaya dirinya dan mendapat apresiasi yang layak didapatkannya.

Tetap bergerak, meski jalan yang biasa dilalui tertutup... Kadang Tuhan menuntun, tanpa kita sadari...

Ini bukan lah kali pertama saya hanya tahu bahwa harus terus bergerak, meski tujuan tampak begitu abstrak. Dan kali ini, saya kembali membuktikan bahwa terkadang Tuhan selalu menuntun kita kepada tujuan dengan caranya sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah terus bergerak dan berusaha apa yang kita bisa.

Jika lelah berlari, kita bisa berjalan... tapi jangan berhenti...

***

Yes, 2020 is huge... me personally see this year as a testing faith year. Diawali dengan optimisme, diikuti dengan big shake yang menghancur leburkan segala optimisme itu, kemudian benar-benar berjalan bergantung pada keyakinan kita, dan diakhiri dengan perasaan betapa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Exactly! Faktanya... kita tidak pernah punya kendali akan apa yang akan terjadi pada hidup kita. Berencana, berdoa dan berusaha adalah satu hal yang manusia lakukan, tapi Tuhan selalu punya rencananya sendiri.

"When we busy making our plan, God laughs..."

So, thank you 2020 untuk mengingatkan sekali lagi semua itu. Somehow, memahami semua itu membuat saya merasa lebih kuat. So, bismillah untuk 2021...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, November 3, 2020

For Our Mental Health

It's been a while, sejak terakhir post di blog ini, dan itu pun seingat saya sponsored post. Rasanya kangen juga nulis sesuatu yang mengalir begitu aja, tanpa rencana... so, here it is...

Tahun 2020 tak terasa sudah berada di ujung perpisahan. Tampaknya rencana banyak berbelok dan resolusi pun tak sempat direvisi. Walau sebenarnya jika kita lebih banyak berkontemplasi, maka akan ada banyak pelajaran akan pendewasaan di tahun ini.

Salah satu hal yang mewarnai 2020 ini adalah pertemuan dengan seorang gadis, sebut saja Saras...

Saras anak yang baik dan jujur. Selama tinggal di rumah dan membantu saya menyelesaikan pekerjaan rumah, mau ada duit ketinggalan di kantong berapa pun, selalu diserahkan pada saya. Hanya saja, ada beberapa hal yang akhirnya membuat saya menyerah dan memilih move on...

Saras memiliki masa lalu dan masa kecil yang (mungkin) membentuknya menjadi pribadi yang sulit tersentuh. Hal ini sudah saya ketahui dari awal, dan justru hal ini lah yang akhirnya membuat saya sedih saat harus melepasnya. 

Sejak awal mendengar kisahnya, dalam hati saya tumbuh sebuah keinginan untuk membantunya keluar dari tempurungnya, 'menjadi seorang yang lebih adaptif'. Namun, setelah tujuh bulan bersama, berusaha memahaminya, termasuk memaklumi kekurangannya, berusaha membantunya menemukan insight agar menemukan tujuan hidup yang menguatkan hatinya... akhirnya saya harus mengakui jika saya gagal demi kesehatan mental saya.

Tujuh bulan memaklumi cara kerjanya yang sesungguhnya tidak sesuai dengan ekspektasi saya, ketidakpeduliannya pada anak-anak, dan juga kekerasan hatinya untuk menerima masukan; cukup membuat saya merasa lelah. Saya tidak akan mengatakan bahwa Saras tidak mengerjakan tugasnya karena dia memang melakukannya, hanya saja sesuai keinginannya sendiri.

Setrikaan rapi kok dikerjakan, tapi setelah ditumpuk seminggu lebih, bahkan saat saya sampai sudah kehabisan pakaian dalam dan berkali-kali minta padanya. Pada saat saya akhirnya lelah menegur dan bilang, "Ini terakhir kali saya negur soal setrikaan ya... tolong dong, maksimal tiga hari sudah diberesin..."

Cucian piring diberesin kok, tapi mostly hanya sekali sehari, yaitu pagi... Saya ga ngerti kenapa sore tidak dicuci piringnya? Kenapa harus ditumpuk? Padahal saya pun sudah pernah menegurnya...

Dan banyak lagi... Namun yang membuat saya sangat kecewa adalah pada saat saya meninggalkan anak-anak ke Jogja bersamanya dan nenek pengasuh kami dulu. Kemudian saya mendapati bahwa dia seringkali meninggalkan tugasnya, tenggelam dalam dunia maya. Boro-boro nyamperin anak-anak, pekerjaan rutin pun banyak terlewatkan... Saya kecewa sekali.

Kemudian pada saat akhirnya merasa harus melanjutkan hidup dengan ritme yang seharusnya - karena saya merasa banyak ngerem untuk mengikuti ritmenya. Ya gimana, selain 'makan ati' secara psikologis, beberapa pekerjaan masih saya kerjakan sendiri, seperti membersihkan kamar mandi, buang sampah, dan sebagainya. Bukannya ga dikerjain, tapi daripada ngomel terus, nyuruh terus - ya mendingan saya kerjain sendiri. 

Dalam pikiran saya, jika dia tidak berinisiatif mengerjakan setelah pernah saya sampaikan, berarti dia sedang sibuk. Saya ingin memberinya waktu untuk banyak berkontemplasi dan berpikir. Mungkin juga untuk belajar, karena dia pernah cerita sedang belajar bahasa asing. Tapi, pada saat tahu bahwa keleluasaan waktu yang dimilikinya itu ya untuk bermain game, duh, benar-benar kesal campur kecewa ga sih?

So, finally saya memilih move on. Yang saya yakini untuk kebaikan saya dan kebaikannya. Untuk kesehatan mental kami berdua...

Saya merasa lingkungan yang saya berikan padanya tidak cukup kondusif untuk membuatnya 'menyembuhkan diri'. Mungkin saya terlalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan saya. Sementara saya, pun harus melanjutkan hidup, kembali berlari setelah beberapa saat melambatkan gerak untuk mengikuti ritmenya.

Sedih rasanya saat melepas Saras terakhir kali hari ini, tapi saya rasa itu lah yang terbaik. Semoga Saras dapat memetik hikmah dari waktu tujuh bulan bersama kami. Juga kemudian menemukan lingkungan yang lebih baik untuk pengembangan kepribadiannya.

Demikian juga dengan saya, semoga kemudian merasa lebih tenang setelah mengambil keputusan ini. Semoga segera dipertemukan dengan asisten yang sayang dan perhatian pada anak-anak dan bisa saya ajak 'lari'.

Kejadian ini pun... kemudian mengingatkan saya pada beberapa orang terdekat yang meskipun saya sudah berusaha dengan begitu keras, tetap tidak bisa membantunya menjadi sosok yang lebih 'sehat' secara psikologis. Bahwa kunci dari merubah diri adalah hati kita sendiri. Sehingga sekeras apapun orang lain berusaha membantumu, jika hatimu bukan yang menginginkannya, maka semua akan percuma saja

Itu yang pertama... dan yang kedua adalah manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan. "When we busy making our plans, God laughs."

But, at least I try. Dan meskipun saya gagal, paling tidak ada hal yang mendewasakan saya atas kejadian ini.

Dan untuk Saras, doa dari hatiku yang terdalam untukmu. "Kamu seorang gadis yang cerdas. Jangan sampai kecerdasanmu menjadi boomerang bagi dirimu sendiri. Membuatmu sulit menerima pendapat orang lain yang sesungguhnya baik untukmu. Hanya karena kamu merasa dirimu yang paling benar."

"Semoga kamu menyadari bahwa setiap kepala sesungguhnya memiliki 'kebenaran' menurut versi mereka masing-masing. Dan karena itu, kadang kebenaran itu bukanlah hal yang terpenting, namun perasaan orang lain. Jadi, sebelum begitu keukeuh dengan versi kebenaran yang kamu percayai, pikirkan perasaan orang lain. Terkadang kita tidak perlu begitu keras mempertahankan atau memaksa orang lain memiliki pendapat yang sama dengan kita."

Saat kita hidup bersama orang lain, kita harus saling memahami satu sama lain... percayalah...

Yah, kurang lebih seperti itulah cerita hari ini 

Wednesday, September 30, 2020

Membaca Menyenangkan Bersama Let's Read!

'Membaca', bagi anak tahun 1980 atau 1990-an mungkin adalah satu bentuk hiburan yang punya daya tarik cukup besar, karena saat itu jangankan streaming video, saluran televisi saja masih sangat terbatas. Tidak seperti sekarang, masa dimana buku dan bacaan harus bersaing dengan game, smartphone, video streaming, social media, televisi, dan banyak lagi. Buku dan kegiatan membaca tak jarang kemudian tersisihkan dan identik dengan kegiatan belajar yang membosankan. 

Menumbuhkan kecintaan anak pada buku dan bacaan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat modern saat ini. Padahal, buku dan membaca tetap adalah jendela dunia, terlepas dari apa bentuk buku dan bacaannya.

Saya sendiri yang besar pada masa itu (baca: masa dimana bacaan adalah hiburan yang menyenangkan) pada awalnya tidak terlalu menyadari bahwa menumbuhkan minat baca anak tidak akan sesederhana dulu. Namun, kala itu karena merasa bahwa bacaan akan menyenangkan bagi mereka seperti yang saya rasakan dulu; membeli buku anak kemudian menjadi satu ritual wajib setiap kali mengunjungi toko buku. Dan siapa sangka, kebiasaan itu ternyata menjadi salah satu hal yang membuat anak-anak kemudian sangat menyukai buku.

Ganesh (9 tahun) dan Mahesh (6 tahun) sama-sama suka dan penasaran sekali dengan buku dan bacaan!

Mahesh yang baru duduk di bangku TK B memang belum bisa membaca, tapi seringkali penasaran dengan koleksi buku-buku kami. Selalu saja ada waktu dimana dia akan mengamati buku-buku di rak, mengambil salah satu di antaranya, dan kemudian membombardir kami dengan pertanyaan, "Ini bacanya apa? Itu bacanya apa?"

Secara spesifik, Mahesh memiliki ketertarikan yang sangat besar pada dinosaurus, hewan-hewan besar (terutama ikan), dan kehidupan di bawah laut. Buku-buku itulah yang seringkali dia sodorkan untuk minta dibacakan. 

Bagi Mahesh, tampaknya mengetahui apa nama binatang-binatang itu, dimana mereka tinggal, sebesar apa, makanannya apa, dan sebagainya itu adalah hal yang sangat menarik. Bagaikan misteri yang ingin sekali diungkap, dan membaca adalah salah satu caranya memecahkan misteri itu.

Sementara Ganesh yang duduk di kelas 4 SD sudah bisa membaca secara mandiri, karena itulah dia bisa memilih bacaan sesuai dengan apa yang ingin diketahuinya. Karenanya saya seringkali menemukannya sedang asyik membaca satu buku, dilanjutkan dengan buku lain yang memiliki korelasi, dan pada satu saat kemudian menciptakan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang didapatkannya.

Ganesh sangat tertarik untuk mengetahui cara kerja berbagai benda dan alat dan kemudian menciptakan 'penemuan-penemuan'-nya sendiri. 

Ganesh memiliki minat spesifik pada science, khususnya engineering. Baginya, membaca buku bagaikan mengumpulkan puzzle-puzzle pengetahuan dari hal-hal yang menarik perhatiannya itu, yang kemudian bisa dirangkai menjadi satu pemahaman untuk mewujudkan ide-idenya sendiri.

Melihat minat baca dan kecintaan anak-anak pada buku, kemudian saya berpikir, "Kondisi apa sih yang sebenarnya membuat anak-anak tertarik dengan bacaan?"

Dan ternyata setelah saya renungkan, jawabannya adalah pada bagaimana memberikan pengalaman membaca menyenangkan pada anak-anak. Dan berikut adalah beberapa hal yang saya rasa memiliki andil dalam proses ini...

#1 BERCERITA, BERNYANYI, BERCAKAP-CAKAP, MEMBACAKAN BUKU, DAN KEGIATAN BERBAHASA LAINNYA

Membaca sesungguhnya adalah bahasa yang disajikan dalam bentuk tulisan. Untuk itu, sesungguhnya mengenalkan anak sejak dini dengan bahasa akan membuat mereka lebih mudah dan berminat dengan bacaan nantinya.

Hal-hal sederhana yang menyenangkan berkaitan dengan dunia literasi seperti bercerita, bernyanyi, bercakap-cakap, dan dibacakan buku adalah pondasi awal anak akan menyukai bacaan.

Itu juga yang sering kami lakukan bersama anak-anak, seperti bercerita bebas untuk mengantar anak-anak tidur. Tidak perlu cerita yang sulit, cerita yang sederhana pun mereka sangat menyukainya, dan bahkan merangsang mereka untuk bertanya karena rasa ingin tahu.

Demikian juga dengan bernyanyi! Dulu, sebelum internet begitu mudah dijangkau seperti sekarang; saya punya kebiasaan menyimpan video klip lagu anak-anak untuk ditonton bersama. Dan ternyata anak-anak suka sekali lho! Melodi-melodi easy listening dan ceria, digabungkan dengan cerita yang tampil secara visual pada video klipnya membuat mereka tertarik dan gembira. 

Masih ingat sekali lagu favorit Gahesh kala itu adalah 'Wheel On The Bus' karena melodinya yang memang ear catchy dan video klipnya penuh dengan mobil warna-warni kesukaannya.

#2 MENCIPTAKAN LINGKUNGAN RUMAH YANG MENDORONG KEGIATAN MEMBACA MENYENANGKAN

Untuk tujuan ini, tidak selesai hanya dengan menyediakan bahan bacaan untuk anak, tapi juga menciptakan suasana rumah yang mendorong anak untuk membaca, seperti:

  • Orang-tua menjadi role model. Sering melihat papa dan mamanya membaca akan membuat anak-anak tertarik untuk membaca.
  • Menyediakan bacaan untuk anak-anak di tempat yang mudah mereka jangkau. Anak-anak tentu akan lebih tertarik dengan buku yang memiliki gambar yang colourful. Memiliki beberapa buku seperti itu dan meletakkannya di tempat yang mudah dijangkau akan merangsang anak-anak untuk membaca.
  • Secara implisit menyampaikan hal yang menyenangkan dari membaca pada anak. Misalnya anak bertanya sesuatu pada kita, "Mama, kenapa sih magnet itu dijadiin kompas?" Kita bisa jawab, "Hmm, magnet memang sifatnya selalu menunjuk arah utara dan selatan Kak... Kenapa, Mama juga ga tau, coba Kakak liat di buku deh..." Hal-hal semacam ini akan membuat anak mengerti bahwa melalui buku, mereka bisa menjawab rasa ingin tahunya.

#3 READ ALOUD ATAU MEMBACAKAN BUKU PADA ANAK

Anak-anak itu penuh dengan rasa ingin tahu dan selalu excited pada hal-hal baru. Ini lah kesempatan kita untuk menunjukkan pada anak-anak bahwa dalam buku ada banyak hal yang menarik, menyenangkan, dan bisa menjawab rasa ingin tahu mereka. Salah satunya adalah dengan membacakan mereka buku, karena pada usia dini mereka belum bisa membaca secara mandiri atau sudah bisa namun masih merupakan kegiatan yang effortful.

Adapun beberapa tips untuk melakukan read aloud untuk dapat mengoptimalkan manfaatnya sesuai yang disampaikan dalam buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja:
  • Memilih waktu yang nyaman untuk anak dan orang-tua. Jangan memilih waktu yang sempit dan terburu-buru, supaya anak dan orang-tua dapat menikmati jalannya cerita dengan tenang.
  • Menyingkirkan hal yang berpotensi memecah perhatian. Misalnya handphone, laptop, dan kegiatan lain yang bisa mengalihkan perhatian kita atau anak.
  • Kita sudah terlebih dahulu membaca dan mengetahui isi buku. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi sisi positif dan negatif dari buku. Dengan mengetahui jalan ceritanya, kita bisa memberikan penekanan dan drama yang tepat pada alur cerita.
  • Memberikan kesempatan pada anak untuk menentukan buku yang akan dibaca (meskipun berulang-ulang). Hal ini bertujuan agar anak merasa bersemangat dengan kegiatan membaca, meskipun jika diulang-ulang. Karena tujuan dari membacakan buku bukan hanya menyampaikan informasi, tapi justru lebih ke arah membuat anak suka dengan kegiatan membaca.
  • Melibatkan anak dalam kegiatan membaca. Misalnya dengan memintanya membalik halaman buku dan mengajaknya menebak bagaimana cerita selanjutnya, sehingga anak lebih bersemangat.
  • Meluangkan waktu untuk membahas kembali isi buku dan perasaan anak setelah selesai membaca. Ini dilakukan untuk membantu anak memaknai cerita dan memahami cerita, bukan sekedar menganggap tulisan sebagai deretan bunyi yang tidak bermakna.
  • Membuat kesepakatan dengan anak tentang jumlah buku yang akan dibaca dan waktu membaca. Hal ini untuk mengajarkan kesepakatan kepada anak, selain juga karena membaca terus-menerus akan membuat anak kelelahan.

#4 APLIKASI LET'S READ UNTUK MENDUKUNG KEGIATAN MEMBACA MENYENANGKAN BAGI ANAK

Seiring perkembangan jaman dan teknologi, buku pun bertransformasi dalam bentuk e-book atau buku digital yang lebih praktis. Saat ini, ada begitu banyak buku yang bisa kita dapatkan dalam format e-book termasuk buku anak-anak. Salah satunya adalah yang disediakan secara gratis melalui aplikasi Let's Read.

Let's Read merupakan sebuah program nirlaba yang bertujuan menyediakan bahan bacaan untuk anak di berbagai negara dengan berbagai bahasa, berbasis aplikasi yang bisa diakses melalui website atau di-download secara gratis melalui smartphone.

Melalui aplikasi Let's Read kita akan menemukan berbagai macam buku cerita dalam berbagai bahasa, lengkap dengan ilustrasi yang menarik khas anak-anak. Bahkan, beberapa buku pun tersedia dalam bahasa daerah lho... Jadi benar-benar memfasilitasi anak dari berbagai belahan dunia untuk mencintai kegiatan membaca sejak dini. Apalagi mengingat banyak anak di pelosok dunia tidak memiliki akses akan buku anak-anak.

Saya dan Mahesh pun senang sekali membaca cerita yang ada di aplikasi Let's Read ini bersama-bersama. Lihat deh excited-nya Mahesh pada saat kami membaca cerita... 

Oh ya, beberapa hal yang saya sukai dari aplikasi ini adalah:

  • Koleksinya sangat beragam dengan berbagai jenis cerita. Anak-anak tidak akan bosan karena ada banyak pilihan.
  • Ilustrasinya colourful dan menarik sekali untuk anak-anak. Salah satu daya tarik bacaan bagi anak-anak sebelum mereka lancar membaca adalah ilustrasi, karena itu dengan gambar-gambar yang menarik, anak-anak yang belum bisa membaca pun akan excited untuk mengetahui cerita dibaliknya.
  • Bisa diakses dimana saja dan disimpan secara offline, sehingga sangat praktis dan bisa diakses dimanapun.
  • Terdapat level kesulitan bacaan yang membantu orang-tua untuk memilih cerita yang sesuai dengan kemampuan membaca anaknya.
Pokoknya aplikasi ini wajib banget ada di smartphone kita untuk membantu anak-anak kita mencintai membaca. So, hayuk download aplikasi ini secara gratis disini.

#5 MENGAJARKAN MEMBACA ANAK DENGAN CARA YANG MENYENANGKAN

Belajar membaca kadang kala bisa menjadi momen yang stressful bagi anak. Karena itu, sebisa mungkin perlu dilakukan dengan cara yang menyenangkan agar anak tidak menganggap membaca sebagai kegiatan yang melelahkan.

Untuk itu, saya berusaha menerapkan pengajaran teknis membaca yang menyenangkan (dengan bermain), sehingga bisa meminimalkan stress. Adapun caranya, saya banyak mengadopsi teknik yang disarankan oleh Metode Montessori, misalnya sebagai berikut:


***

Yah, kurang lebih demikian lah usaha kami untuk membuat anak-anak mencintai buku, yaitu dengan berusaha menciptakan pengalaman yang yang positif antara anak dengan bacaan. 

Yup membaca menyenangkan adalah goal dari berbagai usaha ini.

Mungkin hasil dari usaha ini tidak akan kita rasakan dalam waktu dekat, namun melihat berdasarkan pengalaman pada Ganesh dan Mahesh, saya membuktikan bahwa semua itu tidak sia-sia dan sangat bermanfaat untuk masa depan mereka.

Oh ya, berikut adalah ringkasan pendapat dan sharing pengalaman kami tentang membaca, khususnya membaca menyenangkan dan pengaruhnya pada minat baca anak-anak.


Sekian teman-teman... Akhir kata, berdasarkan pengalaman kami, yuk kita bersama-sama menciptakan korelasi yang positif antara membaca dengan hal yang menyenangkan untuk anak-anak. Karena membaca menyenangkan adalah pondasi dari kecintaan anak pada kegiatan membaca dan buku.

Semoga bermanfaat ya...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Monday, August 31, 2020

Menyalakan Listrik dan Masyarakat dengan Tenaga Air

Batubara dan minyak bumi memang masih menjadi sumber energi utama yang digunakan masyarakat hingga saat ini. Namun, kenyataan bahwa terbentuknya batubara dan minyak bumi yang dikenal sebagai bahan bakar fosil itu membutuhkan waktu hingga jutaan tahun; menisbahkannya sebagai energi tidak terbarukan. Hal ini lah yang menjadi motivasi terbesar bagi para ahli untuk terus mencari dan mengoptimalkan sumber energi lainnya, sebagai pengganti kedua energi utama ini.

Misi untuk mencari dan mengoptimalkan energi terbarukan sebagai alternatif bahan bakar fosil semakin gencar dilakukan dari waktu ke waktu. Berkejaran dengan jumlah cadangan batubara dan minyak bumi yang juga semakin menipis. Seperti halnya yang disampaikan berbagai pemberitaan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan akan habis pada tahun 2030 jika tidak ditemukan sumber minyak baru, senada dengan pernyataan Pertamina Unit Manager Communication & CSR MOR I, Roby Hervindo yang dikutip oleh Tempo.co (6 Maret 2019).

Adapun salah satu energi terbarukan yang banyak dimanfaatkan di Indonesia sejak dulu hingga saat ini adalah tenaga air. Debit air yang tinggi dapat menggerakkan turbin dan selanjutnya energi gerak yang ada diubah menjadi energi listrik. Tercatat sebanyak 18 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) beroperasi di Indonesia untuk menyumbang pasokan listrik kepada masyarakat. 

Pada pengoperasian PLTA; semakin besar debit air berarti semakin besar juga tenaga untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik. Karena itulah, sedimentasi atau pengendapan yang mendangkalkan sungai maupun dam, sehingga debit air menurun menjadi permasalahan yang terus dicari solusinya demi daya listrik yang mumpuni.

Salah satu PLTA yang memasok energi listrik untuk masyarakat di Propinsi Lampung adalah PLTA Way Besai, yang sebagaimana PLTA lain, juga menghadapi permasalahan sedimentasi. Erosi dan sedimentasi yang terjadi di sepanjang Sungai Way Besai beserta anak-anak sungainya, menimbulkan pendangkalan pada dam. Dimana hal ini tentu menurunkan debit air yang dihasilkan dari aliran air dari dam ke turbin untuk menghasilkan listrik.

PLTA Way Besai
(Foto Dokumentasi pribadi)

Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Besai secara alami pada awalnya adalah hutan yang begitu kaya dengan batang-batang kokoh dan akar-akar yang kuat untuk menahan air dan tanah, sehingga meminimalkan erosi. Namun, desakan ekonomi mendorong masyarakat untuk mengubah hutan-hutan ini menjadi lahan pertanian kopi. Hal ini lah yang ditengarai menjadi salah satu penyebab makin mengemukanya permasalahan sedimentasi pada aliran sungai yang berimbas pada kehandalan dan produksi kWh PLTA Way Besai.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, PLN UPDK Bandar Lampung sebagai unit induk yang mengelola PLTA Way Besai pun secara pro aktif melakukan berbagai upaya pengurangan erosi di sepanjang DAS Way Besai. Dimana kegiatan intinya tentu melibatkan kegiatan reboisasi atau penanaman kembali daerah resapan air di sepanjang aliran Sungai Way Besai. 

 Sungai Way Besai yang dimanfaatkan sebagai PLTA, secara alami berada di kawasan hutan.
(Foto dokumentasi pribadi)

Akan tetapi, ternyata program penanaman pohon saja tanpa dikemas sama sekali tidak cukup efektif. Karena kunci penting dari kegiatan ini selanjutnya adalah pada proses pemeliharaan. Bagaimana pohon-pohon tersebut dijaga kelestariannya untuk menahan tanah dari erosi. Dimana kegiatan ini tentu tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pihak PLN UPDK Bandar Lampung, mengingat Sungai Way Besai terdiri dari banyak anak sungai yang menyebar dan mencakup area yang luas. 

Masyarakat dalam hal ini memegang peranan penting, akan tetapi sekedar ajakan untuk melakukan pelestarian daerah aliran sungai saja tidak cukup. Dibutuhkan pengemasan program reboisasi daerah aliran sungai yang lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat untuk membuatnya bersemangat dan termotivasi untuk melakukan pelestarian. Perlu diciptakan benang merah yang konkret antara kebutuhan masyarakat dan pelestarian daerah aliran sungai, supaya kondisi ini tercipta.

Kemudian, gayung bersambut, saat itu The International Council for Research in Agroforestry Centre (ICRAF) sedang melakukan penelitian di Sumberjaya, salah satu walayah yang dilalui aliran Sungai Way Besai. Saat itulah ICRAF kemudian mengenalkan sistem imbal jasa lingkungan sebagai alternatif solusi akan permasalahan pelestarian DAS Way Besai. 

Program imbal jasa ini dikenal dengan nama Rewarding Upland Poor for Environmental Services (RUPES). RUPES adalah sebuah program dengan tujuan pemberdayaan masyarakat dengan cara melibatkan mereka untuk memberikan jasa pelestarian lingkungan. Dimana kemudian ICRAF melihat PLN UPDK Bandar Lampung sebagai pihak yang mendapatkan keuntungan dari jasa yang diberikan masyarakat. Dan selanjutnya; PLN UPDK Bandar Lampung bersama ICRAF dan perangkat pemerintah daerah pun mulai menyusun program imbal jasa lingkungan untuk melestarikan DAS Way Besai.

Area dam PLTA Way Besai

Program Imbal Jasa Lingkungan ini secara sederhana meliputi kegiatan utama pemeliharaan DAS Way Besai oleh masyarakat dan pemberian imbal jasa lingkungan oleh PLN UPDK Bandar Lampung sebagai penerima manfaat.

Program yang kemudian dikenal sebagai River Care atau PEDAS Besai (Peduli Daerah Aliran Sungai Besai) ini melibatkan beberapa elemen dalam pelaksanaannya, sebagai berikut:

  • Masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani sebagai penyedia jasa lingkungan berupa pemeliharaan DAS Way Besai;
  • PLN sebagai pemanfaat jasa lingkungan dengan peran sebagai penentu imbal jasa, penyandang dana operasioanl kegiatan, memberikan kompensasi atas jasa lingkungan dan melakukan evaluasi;
  • ICRAF sebagai fasilitator; dan
  • Pemerintah Desa sebagai pembina.
Prosedur PEDAS Besai sendiri diawali dengan perencanaan yang utamanya melibatkan masyarakat sebagai penyedia jawa lingkungan dan PLN UPDK Bandar Lampung sebagai pemanfaat jasa lingkungan. Dimana dalam tahap perencanaan ini disusun kegiatan yang akan dilakukan, pendanaan, tata cara evaluasi, dan juga imbal jasa yang akan diberikan.

Masyarakat dalam hal ini selain berperan dalam kegiatan konservasi; yang meliputi penanaman dan perawatan tanaman pada DAS Way Besai; pembuatan bangunan sipil teknis untuk mengendalikan sedimentasi seperti cek dam, bronjong, lubang angin (rorak); juga berperan melakukan pemantauan air secara mandiri sebagai dasar evaluasi. Dalam hal ini, masyarakat pun diberikan pelatihan untuk mengambil sampel air serta mengukur tingkat sedimentasinya. Dimana selanjutnya hasil pengukuran tingkat sedimentasi ini lah yang menjadi dasar pemberian imbal jasa.

Reward atau imbal jasa yang diberikan pada masyarakat atas pencapaiannya menurunkan sedimentasi adalah salah satu poin penting yang menentukan keberhasilan program ini. Imbal jasa tidak hanya harus memiliki nilai instrinsik yang cukup memotivasi, tapi sebisa mungkin juga mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan yang pro lingkungan. Misalnya adalah pembangkit listrik Piko Hidro untuk masyarakat di daerah pelosok hutan yang belum dijangkau oleh aliran listrik.

Pembangkit listrik Piko Hidro adalah pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas rendah yang dapat dioperasikan dan dipelihara secara mandiri oleh masyarakat. Karena kapasitasnya yang rendah, pembangkit listrik ini dapat dioperasikan pada sungai-sungai dengan debit air yang tidak terlalu tinggi. Sama halnya dengan PLTA besar, aliran air akan digunakan untuk memutar turbin yang selanjutnya energi gerak tersebut akan diubah menjadi energi listrik dan dialirkan ke masyarakat.

Kebutuhan akan debit air yang cukup tinggi untuk menggerakkan pembangkit listrik Piko Hidro ini akan mendorong masyarakat untuk melakukan pemeliharaan pada DAS yang menyuplai arus air. Hal ini selain bermanfaat langsung bagi masyarakat, juga menyumbang penurunan sedimentasi pada dam PLTA Way Besai. Sehingga dalam hal ini, baik masyarakat maupun PLN UPDK Bandar Lampung sama-sama diuntungkan.

Imbal jasa lain yang menimbulkan efek serupa adalah ternak yang mendukung pelestarian lingkungan di daerah aliran sungai.

Salah satu kegiatan konservasi lahan untuk pelestarian DAS Way Besai yang dilakukan adalah melakukan penanaman rerumputan untuk menahan tanah. Rumput yang memiliki sifat semakin berkembang jika dipangkas ini adalah bahan makanan bagi ternak yang dipelihara masyarakat. Sehingga, semakin banyak rumput dipangkas untuk makanan ternak, maka akan semakin subur dia tumbuh. Masyarakat diuntungkan akan pakan ternak gratis, PLN UPDK Bandar Lampung pun diuntungkan karena kegiatan konservasi lahan berjalan dan menyumbang pada penurunan erosi.

Adapun hasil pemantauan air yang dilakukan selama program menunjukkan bahwa sedimentasi yang terjadi disepanjang aliran Sungai Way Besai mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dimana berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa kegiatan reboisasi dan konservasi lingkungan lainnya yang dilakukan berjalan dengan efektif melalui program ini. PLN UPDK Bandar Lampung dapat menghasilkan kWh yang lebih handal, sementara masyarakat pun lebih berdaya dan meningkat taraf kehidupan sosial ekonominya. Benar-benar simbiosis mutualisme yang indah bukan?

Tidak mengherankan jika kemudian program ini menerima berbagai penghargaan berskala nasional; seperti Silver Awards Indonesian Sustainable Development Goal Awards (ISDA) 2018 dan Grand Platinum Awards Indonesian CSR Awards (ICA) 2017.

Keberhasilan pelaksanaan program PEDAS Besai pada salah satu anak Sungai Way Besai ini kemudian menjadi inspirasi bagi PLN UPDK Bandar Lampung untuk melakukan program serupa pada anak sungai lainnya. Semangat ini lah yang kemudian melahirkan PEDAS Besai selanjutnya yang direncanakan hingga PEDAS Besai IV. Keberhasilan ini juga yang kemudian memberi inspirasi pada PLTA lain yang memiliki kondisi alam dan sosial cukup mirip dengan PLTA Way Besai untuk mengadopsi sistem imbal jasa serupa.

Lingkungan yang lestari akan mendukung pembangkit listrik, listrik akan mendukung kesejahteraan masyarakat dan karena itu masyarakat harus berupaya melestarikan lingkungan.
(Foto dokumentasi pribadi)

Ya, perjuangan untuk melakukan konservasi DAS Way Besai demi kehandalan listrik dan pemberdayaan masyarakat tentu belum usai. Sungai Way Besai sendiri memiliki sepuluh anak sungai yang perlu diberi perhatian. Untuk itu lah, semangat dan kepedulian akan sesama yang besar sangat dibutukan untuk melanjutkan perjuangan. Agar aliran sungai dapat menyalakan listrik dan juga memberdayakan masyarakat.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

Thursday, August 20, 2020

The Whole Brain #6: Mengajarkan Empati Pada Anak

Yeay! Finally kita sampai pada penghujung review buku The Whole-Brain Child yang fenomenal itu. Well, di bukunya ini bukan chapter terakhir, tapi chapter terakhir cuma konklusi, so kayaknya kita skip saja dan move to the next project setelah ini.

Setelah banyak membahas tentang memahami diri sendiri (mengintegrasikan berbagai fungsi otak kita), di chapter 6 ini, buku ini membahas tentang bagaimana kita berhubungan dengan dunia luar. Yes, memahami diri kita sendiri adalah hal yang penting untuk menjadi individu yang optimal secara mental; tapi membangun hubungan yang baik dengan orang lain adalah hal yang tidak kalah penting.

Tentu kita tidak ingin anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri kan? Tentu kita ingin anak-anak kita menjadi individu yang empatik dan mampu bersikap baik pada orang dan lingkungan sekitarnya. Dan hal ini bukan lah hal yang otomatis akan dikuasai anak, tapi dipengaruhi juga oleh lingkungan dan pengasuhan.

Yes, saat seorang anak lahir, dia siap untuk menerima pengalaman-pengalaman yang membentuk karakternya bersama dengan materi genetis yang dibawanya sejak proses konsepsi. Itu mengapa anak-anak pada dasarnya memiliki (kecenderungan) karakter bawaan. Ada yang sangat sosial, ada pula yang sulit bersosialisasi, sehingga tujuan pengasuhan sesungguhnya adalah mengoptimalkan potensi anak-anak serta mendidik mereka menjadi manusia yang adaptif.

***

Egosentrisme adalah hal yang wajar pada anak-anak, meski levelnya pun berbeda-beda. Ada anak yang memiliki empati yang sangat besar sejak dini, namun ada pula yang secara sosial dinilai cukup egois karena terlalu berpusat pada kepentingan dirinya. Dan dengan menyadari adanya pengaruh genetis dan juga kematangan usia, tentu tujuan kita bukan membuat anak-anak ini mampu bersikap empatik selayaknya orang dewasa, namun mendidik mereka supaya dapat mengoptimalkan ketrampilan ini untuk dapat menjalani kehidupan yang bahagia nantinya.

Berikut adalah tips dari buku The Whole-Brain Child untuk mengasah ketrampilan anak untuk bersikap empatik:

#11: Menciptakan Suasana dalam Keluarga yang Menyenangkan

Bercanda dan bermain bersama adalah hal yang penting dalam menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak-anak. Sehingga akan sangat bermanfaat jika disamping sibuk mendisiplinkan anak, kita juga meluangkan waktu untuk bermain dan bercanda bersama mereka.

Semakin menyenangkan suasana rumah (keluarga), maka anak akan melihat hubungan dengan orang lain sebagai sesuatu yang positif.

Kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga akan mengajarkan pada anak bahwa hubungan adalah sesuatu yang saling menghargai, memberi dan memenuhi kebutuhan satu sama lain (saling melengkapi). Sehingga, anak akan lebih terbuka dan berani mengambil risiko dalam menjalin hubungan dengan orang lain. **Yes, 'mengambil risiko' karena saat menjalin hubungan yang empatik tentu melibatkan sikap mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan orang lain**

Sebaliknya, jika suasana rumah tidak menyenangkan, maka anak akan cenderung melihat hubungan dengan orang lain sebagai sesuatu yang negatif; sehingga akan menghindar secara fisik atau psikis, maupun kemudian bersikap egois dan tidak memikirkan kepentingan dan perasaan orang lain.

#12: Mengajarkan Anak Memaknai Konflik

Konflik adalah hal yang tidak bisa dihindari dalam sebuah hubungan, maka dari itu, kita perlu mengajarkan anak ketrampilan untuk mengelola konflik secara sehat dan produktif.

✿ Bantu anak menyadari sudut pandang orang lain

Hal ini sangat penting supaya anak dapat melihat alasan seseorang melakukan sesuatu yang (mungkin) tidak disukainya dari sudut pandang orang lain. Caranya adalah dengan mengajak anak berbicara dan membantunya mendapatkan insight tentang hal tersebut. Tekniknya tentu dengan connect dan redirect, berempati terlebih dahulu akan apa yang dialami anak, baru kemudian memberikan penjelasan yang realistis tentang kejadian tersebut.

Misalnya, pada suatu hari seorang anak mengadukan temannya yang menyebutnya 'bodoh' dan terjadilah pembicaraan di bawah ini dengan ibunya:

Anak: "Mama! Masa Tio ngomongin aku bodoh!"

Mama: "Menurut Kakak, kenapa Tio ngomong seperti itu?"

Anak: "Kayaknya karena aku becanda kalo gambar buatannya jelek sih Mama..."

Mama: "Apa itu lukisan yang Tio buat berhari-hari untuk lomba itu ya? Mungkin karena itu, Tio jadi marah banget..."

✿ Mengajarkan anak mengenai bahasa non-verbal

Hal ini penting, supaya anak bisa ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain dengan melihat bahasa tubuhnya. Karena bukankah seringkali kita menyembunyikan perasaan tidak nyaman kita dari orang lain? Sehingga kemampuan untuk mengenali bahasa non-verbal ini sangat penting supaya anak mampu berempati pada perasaan orang lain, meskipun orang tersebut tidak menyampaikannya secara verbal.

Hal ini dapat dilakukan dengan memaknai kejadian sehari-hari. Misalnya pada suatu hari anak berhasil menjadi juara dalam pertandingan bola, kemudian kita ajak anak untuk berpikir, bahwa mungkin temannya yang berada di tim lain sedang merasa sedih karena kalah, meskipun mereka bilang bahwa mereka tidak sedih.

Kita bisa menjelaskannya dari bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang mungkin ditunjukkan seperti pundak yang merendah, wajah yang menunduk dan bibir yang datar.

✿ Mengajarkan anak menghadapi konflik

Sebagai langkah pertama, kita ajarkan mengenai meminta maaf dan menyampaikan penyesalan jika melakukan tindakan yang membuat orang lain merasa sedih. Dan menyadarkannya bahwa meminta maaf hanyalah awal, selanjutnya mungkin kita perlu melakukan tindakan seperti, mengganti, memperbaiki, atau membantu membangun sesuatu yang rusak.

***

Nah, di akhir chapter ini dijelaskan juga peran orang-tua dalam memberikan contoh pada anak mengenai membangun hubungan yang baik.

Bagaimana pun juga referensi pertama anak akan hubungan dengan orang lain adalah melalui bagaimana orang-tua memperlakukan mereka. Apakah orang-tua bersikap hangat, menerima, lembut, atau bahkan galak dan sering menyalahkan.

Sementara kita sebagai orang-tua pun tidak lepas dari pengasuhan yang kita alami di masa kecil dahulu, kita adalah produk dari bagaimana orang-tua kita memperlakukan kita. Sehingga seringkali hal ini bagaikan mata rantai yang saling berkaitan; bagaimana orang-tua memperlakukan kita adalah bagaimana kita memperlakukan anak kita, dan juga bagaimana anak kita akan memperlakukan anaknya nantinya.

So, tidak ada kata lain, selain kita harus memutus rantai tersebut...

Caranya adalah dengan menyadari sepenuhnya apa yang terjadi pada kita di masa lalu, menyadari bahwa hal tersebut sangat mungkin mempengaruhi sikap kita pada anak, menyadari bahwa anak akan terpengaruh dengan sikap kita, dan selanjutnya dengan kesadaran penuh berusaha untuk tidak melakukan hal yang sama pada anak-anak kita.

Ini jelas tidak semudah penjelasannya, tapi, pada saat kita menyadari semua itu, kita akan merasa lebih powerful untuk mengelola emosi dan perasaan kita, sehingga mampu bersikap adaptif terhadap anak-anak kita.

***

Fiuh, that's it apa yang disampaikan pada chapter ini. Semoga saya sampaikan cukup jelas ya... Namun, jika penasaran, silakan membaca bukunya ya...

Sekian, dan semoga bermanfaat ya... 

With Love,
Nian Astiningrum
-end-