SOCIAL MEDIA

search

Tuesday, April 23, 2019

The Whole-Brain Child #2: Mengintegrasikan Otak Kanan dan Otak Kiri

Finally… setelah sekian lama, bisa juga menulis review chapter kedua dari buku 'The Whole-Brain Child yang nge-hits itu…

Beberapa teman mungkin tahu, kesibukan yang melanda saya beberapa minggu ini… Dan bagi yang belum tahu, nanti saya bisikin deh di post lainnya… 😁

Udah, itu aja intronya…

***

Pada chapter pertama, kita sudah memahami bahwa sesungguhnya otak manusia itu terdiri dari berbagai bagian dengan fungsinya masing-masing. Dan kondisi psikologis yang ideal atau sehat itu berarti bahwa bagian-bagian otak ini bekerjasama secara terintegrasi untuk merespon suatu keadaan.

Nah, dalam chapter kedua ini, secara spesifik dibahas mengenai integrasi dua belahan otak manusia, yaitu otak kiri dan otak kanan.
Otak kiri adalah bagian otak yang logis, literal, linguistik dan linear; sedangkan otak kanan adalah bagian otak holistik dan nonverbal (mengirimkan dan menerima sinyal berupa ekspresi wajah, kontak mata, nada suara, gesture, dan sebagainya), serta memiliki spesialisasi pada emosi dan memori personal. 
Kalau kita orang dewasa mungkin bisa mencontohkan tidak sinkronnya otak kanan dan otak kiri pada saat patah hati, dimana otak kiri meminta kita untuk move on, tapi otak kanan merengek masih cinta. Kalau anak-anak, mungkin bisa dicontohkan antara keinginan otak kanan untuk main, sementara otak kiri merasa harus mengerjakan PR.


Disintegrasi antara otak kanan dan otak kiri bisa muncul dalam kondisi dimana peran otak kanan dan kiri tidak sejalan, baik sama-sama kuat, maupun salah satu di antaranya ditekan atau bahkan terjadi penyangkalan (denial) pada salah satu aspek (sebut saja emosi dan logika).

Contoh konkret kejadian semacam ini adalah pada saat anak-anak yang tantrum minta es krim, padahal sudah diberi tahu bahwa dia tidak boleh makan es krim karena sedang sakit. Yes, anak-anak memang masih begitu dominan belahan otak kanannya, sehingga kejadian tantrum memang seringkali terjadi.

Sedangkan contoh lainnya adalah pada saat seorang anak yang lebih dewasa yang sedang bertengkar dengan sahabatnya, dan kemudian berkata, "Aku tidak peduli jika kami tidak pernah berbicara lagi, aku benar dan dia salah…" Dimana hal ini adalah salah satu kasus penyangkalan atas perasaan atau emosi yang dirasakannya.

Kondisi disintegrasi antara otak kanan dan otak kiri tentu berdampak pada ketidakstabilan kondisi psikis anak dalam level yang berbeda-beda (ringan maupun berat), dan ini tentu adalah kondisi yang tidak baik baginya. Untuk itu, sebisa mungkin, kita sebagai orang-tua mengupayakan agar anak-anak kita mampu mengintegrasikan kedua bagian otak ini.

Dan berikut adalah beberapa trik yang bisa dilakukan orang-tua atau pendidik untuk mengintegrasikan otak kanan dan kiri seorang anak:

#1: Menghubungkan dan Mengarahkan: Membantu Anak Merasakan Emosinya

Saat saya menginjak remaja, saya mendadak mempunyai sebuah jerawat yang literally ukurannya seperti 10 jerawat yang menjadi satu. Saat itu, takut anak gadisnya merasa minder dan tidak percaya diri, ayah saya pun selalu berkata, "Udah, ga usah dipikirin (itu jerawat)… Cuek aja… Anggap ga ada apa-apa… Yang penting tetep percaya diri…"

And guess what, ini justru membuat saya mengalami 'kebingungan' yang rasanya sangat tidak nyaman… Saya berusaha menyangkal perasaan tidak nyaman harus berinteraksi dengan orang-orang, sementara merasa bahwa mereka memandang aneh jerawat saya; tapi ya tidak semudah itu. Dan hasilnya adalah saya tetap tidak bisa merasa nyaman saat berinteraksi dengan orang di sekitar saya, bahkan rasanya 'menyakitkan'… Ada kalanya saya kemudian menangis saat sendirian karena begitu merasa tidak nyaman.

Saya tentu bukan satu-satunya anak yang mengalami kejadian semacam ini, kasus-kasus anak-anak diarahkan untuk berpikir rasional dan mengabaikan emosi yang dirasakannya adalah hal yang sangat sering terjadi.

"Mama, aku males ngerjain PR…" Lalu kita jawab, "Ayo semangat! Harus tetap dikerjain Kakak… nanti ga naik kelas lho…"

Atau…

"Mama, aku bosen sekolah… aku ga usah sekolah ya…" Lalu kita jawab, "Kalo ga sekolah, Kakak nanti mau jadi apa? Katanya mau jadi engineer?"

Dan sebagainya…

Itu adalah contoh-contoh praktik dimana kita berusaha mem-by-pass emosi anak menuju jalur rasionalitas untuk mendapatkan perilaku yang kita inginkan; anak menjadi percaya diri, anak menjadi mau mengerjakan PR atau tetap berangkat ke sekolah.

Sesuatu yang ternyata tidak lah tepat dilakukan…

Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk membantu anak-anak pada saat-saat seperti itu adalah dengan membantu mereka menyadari emosi/perasaan yang dialaminya, baru kemudian menyampaikan aspek-aspek rasional dari kejadian tertentu untuk membantu mereka mengintegrasikan antara aspek emosi dan rasional… otak kanan dan otak kiri.

Jadi, berdasarkan contoh kasus di atas, alternatif respon kita sebagai orang-tua yang lebih baik adalah sebagai berikut:

"Mama, aku malu keluar rumah dengan jerawat segede ini…" Kita jawab, "Iya, Mama tau kamu pasti ga nyaman banget bertemu teman-temanmu dengan jerawat sebesar itu… Iya kan? Rasanya kaya orang-orang ngeliatin kita terus dan bertanya dalam hati soal jerawat itu kan?"

Biarkan anak menceritakan perasaannya, kita berikan empati agar anak berdamai dengan emosinya, baru kemudian menyampaikan sisi rasional… "Kakak, ada kalanya kita tidak merasa nyaman karena sesuatu, it's OK, ini manusiawi kok… Tapi, kita tetap harus berusaha memilah saat dimana kita harus tetap melangkah meskipun tidak merasa nyaman… Seperti yang Kakak alami, meskipun Kakak merasa tidak nyaman bersama teman-teman, tapi Kakak juga tau kan menghindar itu bukan hal yang baik… Kakak tetap perlu pergi ke sekolah dan bahkan bersama teman-teman Kakak, karena sesungguhnya mereka pun peduli pada Kakak…"

"Mama, aku males ngerjain PR…" Kita jawab, "Kadang Mama juga merasa begitu lho Kak… Males mau ngerjain sesuatu, kadang bosen juga… Sekarang apa yang Kakak rasain? Kok males ngerjain PR?"

Kita beri anak kesempatan untuk mengidentifikasi apa yang dirasakannya, baru kemudian memberikan pemahaman dari sisi rasional, "Coba Mama liat, emang PR Kakak masih berapa lagi sih? Kita kerjain bareng-bareng yuk…"

Kurang lebih seperti itu…
Jadi, sebisa mungkin kita mengajak anak untuk menyadari, memahami dan menerima emosi yang dirasakannya… Baru kemudian menyampaikan aspek rasional dari peristiwa tersebut. Connect with the right (brain), then redirect with the left (brain)
#2: Menceritakan Kembali Kejadian untuk Menenangkan Emosi yang Dahsyat

Pada saat anak-anak mengalami suatu kejadian yang menyakitkan, mengecewakan atau menakutkan, ada kalanya hal ini disertai dengan muatan emosi yang dahsyat, hingga anak tidak mampu mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi atau dirasakannya.

Misalnya: anak-anak trauma dengan dokter gigi… Pada awalnya diajak ke dokter gigi sampai dengan masuk ruang periksa sih baik-baik saja, tapi begitu harus duduk di kursi tindakan, kemudian dia menjadi gelisah dan menolak.

Secara otomatis, biasanya kita akan menenangkannya dengan berkata, "Ga papa Kakak, ga sakit kok… Itu kan tante dokternya pakai 'dingin-dingin' ga akan kerasa lho…" dst.

Tapi, dalam intensitas emosi atau sebut saja trauma yang cukup mendalam, hal ini tidak akan efektif…

Salah satu cara untuk menghadapi anak dalam kasus seperti ini adalah dengan membantunya merasakan dan mengidentifikasi emosi yang dirasakannya. Dimulai dari apa yang dirasakannya saat akan duduk di meja tindakan, apa yang ditakutkannya, dan sebagainya… Semakin detail kita dapat menggali dan meminta anak menceritakan perasaannya, maka akan semakin baik anak mampu meng-handle emosinya dan tidak lepas kendali dari aspek rasionalnya.

Konkretnya mungkin bisa kita lakukan dengan cara bercerita dari hati ke hati…

"Kakak… kenapa sih Kakak tadi ga mau duduk di kursi Tante Dokter?"

"Kakak takut Mama… gimana ya, Kakak takut aja… kok rasanya mau dicabut giginya itu serem ya…"

"Hmm, gitu ya… Iya sih, emang cabut gigi itu agak serem dibayangin… Soalnya gigi kita kan ditarik dari gusi, bisa jadi agak sakit sih Kak… Karena kan pasti ada lukanya dan berdarah…"

Yeah, bring it on… kita bantu anak-anak memvisualisasikan dan mengidentifikasi rasa takutnya supaya mereka memahami apa yang membuatnya merasa takut…

Mungkin kita berpikir bahwa untuk menghilangkan rasa takut, marah, atau emosi negatif lainnya itu adalah dengan sebisa mungkin tidak memunculkan ketakutan, kemarahan atau apapun itu… Tapi, itu adalah sesuatu yang sepenuhnya salah!

Dengan upaya melupakan, tidak mengungkit, dan sebangsanya sesungguhnya hanyalah memendam 'permasalahan' yang ada ke alam bawah sadar, bukan 'menyelesaikannya'. Masalahnya tetap ada, demikian juga dengan emosi negatifnya… Dan mereka akan menciptakan disintegrasi antara belahan otak kanan dan kiri, antara emosi dan logika…

Dan lagi-lagi, saya membuktikannya pada diri saya…

Duluu sekali, sebagai seorang yang intravert garis keras, seringkali over analisa membuat saya mengalami self guilty alias merasa bersalah. "Gimana kalo aku ga bisa ya… Orang-orang kayaknya ngeliat aku aneh deh…" dan sebagainya… Sesuatu yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman dalam pergaulan dengan teman sebaya.

Kemudian, saat saya menyadari bahwa saya perlu menyelesaikan perasaan-perasaan yang mengganjal dalam diri itu, kemudian saya pun rutin mereview kejadian dalam satu hari. Dan saat menyadari ada perasaan tidak nyaman untuk di-recall, disitu justru kemudian saya berusaha memvisualisasikan perasaan itu senyata mungkin. And that's work!
Sehingga, kini saya pun bisa bilang dengan yakin bahwa menceritakan kembali atau me-recall suatu pengalaman negatif akan membantu anak-anak mengelola emosinya serta mengintegrasikan kerja otak kanan dan kirinya.
***

Yes, kurang lebih seperti itulah beberapa hal yang bisa saya rangkum dari bab 2 Buku 'The Whole-Brain Child' dengan judul 'Two Brains are Better than One: Integrating The Left and The Right'. Yang kalau dipikir bener banget sih…
Bahwa untuk mencapai kondisi psikis yang sehat dibutuhkan integrasi antara otak kanan yang berfungsi memproses emosi dan otak kiri yang berfungsi memproses logika.
Terlalu menuruti emosi tanpa logika tentu akan konyol jadinya… Sementara terlalu mengedepankan logika dan menyangkal emosi pun jadinya akan terasa hampa dan berpotensi menyakiti perasaan sendiri dan orang di sekitar kita.

Terkadang, cara kita merespon dan memperlakukan anak tanpa kita sadari justru mendorong anak untuk mengesampingkan pemrosesan otak kanan atau otak kirinya. Ada kalanya kita mendorong anak untuk mengabaikan emosinya atau logikanya. Misalnya meminta anak untuk serta merta mengalah dari adiknya meskipun benar…

Dan sekarang kita tahu bagaimana cara merespon dan memperlakukan anak dengan lebih baik untuk membantu mereka mengintegrasikan bagian otaknya, jadi, mari kita berusaha…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, March 10, 2019

The Whole-Brain Child #1: Mendidik dengan Mengintegrasikan Otak Anak

Menjadi orang-tua itu sungguh penuh tantangan… Dan tantangannya tentu pun berbeda-beda…

Suami saya, katanya sih dulu anaknya cenderung nurut dan kompetitif… Tipe ga ada masalah sama tuntutan ranking kelas. Butguess what, waktu kecil dia susah banget makan sampai mertua saya malu dan mundur jadi kader Posyandu…

Sedangkan saya, sendiri lebih bermasalah karena karakter melankolis yang membuat saya over analyse dibandingkan orang di sekitar saya. Dan karena tidak mendapatkan treatment yang tepat, kemudian munculnya sebagai kebingungan dan stress, serta tidak percaya diri (sebut saja begitu).

Nah, sekarang setelah berstatus sebagai orang-tua, pun saya menghadapi tantangan yang berbeda lagi akan anak-anak saya mulai dari bayi hingga kini…

Baca juga:

Dan salah satu yang terbaru adalah mengenai perangai anak yang memburuk, sehingga anak menjadi mudah marah, sulit mengikuti aturan, dan sebangsanya…

Berkaitan dengan hal ini, berbekal insting, sedikit pengetahuan dari jaman kuliah dulu, second opinion dari psikolog, dan tentu saja belajar dari beberapa literatur… saya kemudian memiliki beberapa analisa mengenai kasus ini. Yang mungkin nanti akan saya ceritakan satu persatu dalam post lain, namun, dalam post kali ini saya akan bercerita mengenai pengasuhan dan bagaimana meng-handle perilaku anak…

Yang ternyata nyambung lho, sama buku 'The Whole-Brain Child' yang baru datang seminggu lalu!


CERITA KAMI

Singkat cerita, setelah ngobrol dari hati ke hati dan pengamatan perilaku, saya menyimpulkan adanya tekanan (stress) yang dialami anak. Dimana sumber tekanan ini, tidak terfokus pada satu permasalahan, tapi lebih kondisi akumulatif yang membuatnya menjadi sulit mengendalikan emosinya.

Kalau Bahasa Jawa menyebutnya 'bunek'… yang kalau dijelaskan dalam Bahasa Indonesia, itu adalah kondisi dimana kita jadi mudah terpancing emosi karena jenuh. Seperti halnya kita menjadi mudah marah pada saat capek, mengantuk atau lapar…

Dari kesimpulan ini, kemudian saya berusaha melakukan beberapa perubahan pada pengasuhan dan cara kami mendidik di rumah.

Merasa jika kami sering memberikan syarat atau target yang 'abstrak' untuk sesuatu yang diinginkan anak, kemudian kami menerapkan metode Token Economy… Dengan harapan itu lebih mudah dipahami dan dapat menguatkan perilaku positif tertentu.

Baca juga: 

Which is work well on him… Tapi, tentu bukan itu saja PR-nya…

Selain itu, kemudian saya juga berusaha memperbaiki pola interaksi dengan anak menjadi lebih intens. Di antaranya dengan selalu menyempatkan diri untuk menjemput sepulang sekolah, sehingga kami bisa saling bercerita tentang kejadian di sekolah… Memijit dan bercerita sebelum tidur, yang selalu disisipi dengan kata positif betapa mereka adalah anak-anak yang baik dan pintar, sehingga mereka bisa melakukan hal-hal yang baik dan hebat… Serta juga memberikan jawaban yang memuaskan akan pertanyaan-pertanyaan mereka yang sungguh banyak, detail, dan harus real time alias harus dijawab saat itu juga… tidak peduli jika kita sedang masak di dapur atau adik/kakaknya pun sedang bertanya… 

Dalam penalaran saya, semua itu sesungguhnya adalah untuk membersihkan pikirannya dari 'hal-hal yang tidak selesai' atau menjadi beban pikirannya… Entah itu dari suatu konflik yang tidak selesai, perasaan negatif, atau sekedar rasa ingin tahu.

Dan… yes, (again) it works!

Anak pun sedikit demi sedikit berprogress selama kurang lebih empat minggu saya menerapkan perubahan ini… Hari demi hari, perangainya mulai membaik menjadi sangat positif. Dia menjadi lebih sabar, empati pada orang-lain, berinisiatif membantu, bersedia menunggu, mengalah, dan banyak lagi…


CHAPTER #1 THE WHOLE-BRAIN CHILD


Dan somehow, apa yang saya pikirkan dan terapkan itu ternyata dapat dijelaskan dengan lebih gamblang dan terpercaya (soalnya yang bilang expert kan) oleh buku 'The Whole-Brain Child'…

Awalnya, saya tahu buku ini dari rekomendasi instagram Rabbit Hole… Kemudian, karena merasa sedang perlu inspirasi terkait dunia parenting, saya pun mencari tahu summarinya dan berakhir dengan memesannya lewat Bookdepository…

Yang… yup, yang pernah pesan disana pasti tahulah berapa lama bukunya sampai… Secara ini import tapi ongkos kirimnya gratis, hehe…

But, it doesn't matter… Walaupun lama, dia selalu sampai kok… Sekian intermezo-nya dan kembali pada cerita intinya…

Integrasi

Pada chapter pertama dengan judul, 'Parenting with the Brain in Mind', dijelaskan bahwa sesungguhnya otak manusia terdiri dari bagian-bagian yang memiliki fungsi tersendiri. Seperti otak kiri yang membantu kita berpikir logis dan otak kanan yang membantu kita mengalami emosi dan membaca bahasa non-verbal. Demikian juga ada bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan moral dan ada juga yang bertanggung-jawab pada penyimpanan memori.

Dimana dengan banyaknya bagian dan fungsi dari ini, sesungguhnya kunci dari kondisi psikologis yang sehat adalah integrasi dari seluruh fungsi otak ini… Yaitu bagaimana mereka dapat bekerja dengan baik bersama-sama.

Dan tidak terintegrasinya (disintegrasi) bagian dan fungsi otak ini akan bermuara pada kondisi psikologis yang (sebut saja) kurang sehat. Dimana pada anak-anak, disintegrasi ini akan muncul sebagai kewalahan menghadapi emosinya, kebingungan, ketidakmampuan merespon sesuatu dengan tenang, tantrum, kesedihan, dan juga agresi.

Lalu, bagaimana cara mengintegrasikan otak anak?

Yaitu dengan membantu anak memahami suatu peristiwa, sehingga seluruh aspek psikologis dalam dirinya (misalnya: emosi dan logika) dapat bekerjasama dengan baik meresponnya.

Misalnya begini:

Pada suatu hari Kakak dan Adik berebut mainan hingga Kakak akhirnya kesal dan memukul Adik. 

Melihat kejadian ini, Ibu kemudian berkata, "Kakak ga boleh kaya gitu, Adik-nya dipinjemin dong!" 

Kakak pun menolak dan berkata, "Ini kan punya Kakak, Adik ga boleh dong asal ambil…"

Lalu, ibu Kakak dan Adik kembali berkata, "Kakak kan lebih besar, harus mengalah sama Adik… Sekarang kasih mainannya sama Adik, terus minta maaf… Adik nangis tuh…"

Dan pada saat Kakak masih menolak, jurus terakhir pun dikeluarkan, "Kasih mainannya sama Adik, kalo enggak nanti Ibu juga ga mau beliin mainan Kakak lagi!"

Coba bayangkan chaos macam apa yang terjadi pada pikiran Kakak menghadapi situasi seperti ini…

Secara logis, dia harus memutuskan meminjamkan mainan itu pada adiknya agar nantinya tetap dibelikan mainan oleh ibunya. Tapi, secara emosi, dia belum bisa menerima kondisi itu, karena merasa bahwa itu adalah mainannya dan dia ingin memakainya untuk bermain. Sehingga yang terjadi adalah Kakak kemudian memberikan mainannya dengan cara dilempar ke adiknya… Salah satu bentuk agresi…

Dan sesungguhnya, kita sebagai orang-tua bisa membantu mengintegrasikan pikiran anak dalam menghadapi kejadian ini dengan cara memberikan penjelasan yang bisa diterima baik logika dan emosi anak…

Misalnya:

"Kakak, Ibu tahu, kalau ini mainanmu dan kalau kamu ga mau pinjemin ke Adik, ya Adik seharusnya ga boleh maksa… Tapi, Adik itu kan masih kecil… Belum bisa berpikir seperti kita orang yang lebih besar… Taunya Adik, kalau dia mau, ya dia harus dapet… Kakak inget ga, dulu waktu masih kecil juga kalau mau beli mainan, sudah dibilangin Ibu ga bawa uang, masih nangis tetep minta? Ya, Adik juga seperti itu, dia belum ngerti… jadinya maunya apa harus dapet…"

Penjelasan seperti ini memiliki potensi yang lebih baik untuk membuat anak mengintegrasikan pikirannya.

Baik logika maupun emosinya mampu memahami dan memiliki pendapat yang sama mengapa dia perlu memutuskan untuk meminjamkan mainan itu kepada adiknya.

It's not that easy…

Yes, tentu saja… siapa bilang jadi orang-tua itu gampang kan… 😁
Tapi, kabar baiknya adalah bahwa otak manusia itu selalu berubah bentuk sesuai dengan pengalaman sepanjang hayat! Bukan hanya pada saat masih bayi atau kecil saja…
Dulu, kita percaya bahwa bentuk otak akan berubah sampai dengan usia tertentu untuk kemudian menetap dan tidak berubah lagi. Jadi pada saat kita sudah dewasa, ya sudah begitulah adanya… Yang ternyata ini salah…

Jadi pada saat kita sudah terbiasa tidak sabaran pada saat menghadapi situasi-situasi genting (seperti anak berantem), kita masih bisa kok merubahnya. Tentu saja, pada awalnya akan terasa effortful ya… Tapi, seiring dengan semakin sering kita mengalami mengendalikan emosi dan lebih tenang menghadapi situasi semacam itu, selanjutnya sedikit demi sedikit semua tidak akan sesulit sebelumnya karena otak kita berubah sesuai pengalaman itu.

Dan saya membuktikannya…

Pada awalnya, bersikap sabar dengan segala pertanyaan yang harus dijawab real time dan bertubi-tubi itu adalah hal yang SULIT SEKALI. Juga pada saat anak kemudian marah lalu membentak atau melakukan tindakan fisik (mostly kepada adiknya).

Sehingga, ada kalanya kemudian saya pun melampiaskan emosi yang tidak tersalurkan karena harus bersikap sabar ini pada objek lain, seperti pada suami misalnya.

Namun, kemudian sedikit demi sedikit, kok semakin terasa ringan… Dan hari ini, setelah sekitar empat minggu berjibaku dengan hal mengendalikan emosi sendiri, kemudian saya sadar besarnya perubahan itu.

Jika dulu, semua terasa effortful… sekarang, pada saat anak bertanya bertubi-tubi dan harus dijawab real time, saya masih bisa tenang dan tetap menjelaskan. Juga pada saat anak ngotot atau marah, berantem ga mau mengalah, dan sebagainya… saya pun masih bisa tenang dan memberikan pengertian sampai akhirnya anak menjadi paham…

Pun saya menyadari hal yang sama pada anak saya… Dia menjadi lebih sabar, tenang dan empati…

So, yes, kami berdua berubah menjadi individu yang lebih baik somehow… Pengalaman kami tampaknya benar-benar merubah (literally) otak kami, sehingga dapat merespon kejadian di sekitar kami dengan lebih tenang.

Ini tak kasat mata sih ya… tapi, kan semua yang kita lakukan itu atas perintah otak… Jadi, percaya saja lah kalau memang bentuk otak kami berubah…😁

***

Yup, kurang lebih begitulah insight yang saya dapatkan dari pengalaman berusaha memperbaiki perangai anak dengan mengurangi tekanan atau menurunkan tingkat stress-nya. Yang ternyata ini dapat dijelaskan juga sebagai membantu anak mengintegrasikan otaknya.

Somehow, buku The Whole-Brain Child ini memang sangat insightful dan enlightening mind banget… Jadi, saya berencana untuk menuliskan inti dari chapter-chapter selanjutnya dalam blog ini dikorelasikan dengan pengalaman sehari-hari. Jadi, sambil belajar, sambil praktek, sambil berbagi juga kan…

Teman-teman yang mau baca, tolong bantu doa juga ya, supaya ini bukan hanya jadi wacana… *sambil melirik tumpukan buku yang belum dibaca* 😅

That's it…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, March 5, 2019

Pengalaman Tes IQ Anak di Klinik KANCIL Jakarta

Pada suatu hari… 

"Selamat pagi, mbak maaf mau tanya, di Kancil ini bisa Tes IQ anak enggak ya?" tanya saya via telpon.

"Bisa, bla-bla-bla-bla… Untuk masuk SD atau pribadi ya Bu?" tanyanya kembali…

"Pribadi," jawab saya singkat, tapi sembari berpikir, "Oh, ternyata anak masuk SD pake tes IQ juga ya…" Soalnya, saya sendiri sebenarnya tidak melihat urgensinya Tes IQ pada anak-anak secara umum, dalam artian tidak memiliki issue tertentu dalam bidang akademis atau sosial.

***
Tes Inteligensi atau sering disebut Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah ukuran dari kemampuan reasoning (penalaran) dan problem solving (penyelesaian masalah). Dimana dari hasilnya, kita akan mengetahui 'sebaik' apa kita pada test tertentu dibandingkan dengan orang lain pada kelompok usia kita.
Lalu, kenapa sih seseorang perlu Tes IQ?

Jawabannya bisa bermacam-macam tergantung keperluannya…

Pada setting rekruitmen pekerjaan dan juga penerimaan siswa, tes ini digunakan untuk memprediksi kemampuan kognitif calon pekerja atau siswa. Karena, tentu perusahaan atau sekolah pun mengharapkan kemampuan penalaran tertentu untuk dapat memahami dan melaksanakan tugas tertentu.

Sedang pada setting treatment psikologis, informasi mengenai IQ merupakan salah satu informasi yang penting untuk menentukan treatment yang sesuai untuk anak dengan kasus spesifik tertentu.

Maksudnya gini… Pada saat seorang anak kurang mampu mengikuti pelajaran di sekolah, maka untuk menentukan penanganan yang tepat untuk anak mungkin diperlukan informasi dari observasi, wawancara, dan Tes IQ sebagai salah satu pengukuran yang lebih objektif. Karena, tidak selamanya anak yang kurang berprestasi di kelas itu disebabkan kemampuan kognitifnya kurang, bahkan bisa terjadi sebaliknya. Teman-teman bisa googling tentang permasalahan anak gifted (memiliki kecerdasan di atas rata-rata) untuk tahu lebih banyak…

Jadi, jika anak bisa beradaptasi dengan kehidupan sehari-harinya dengan baik, prestasi cukup dan bahagia; ya menurut saya tidak ada urgensinya.

Lalu, teman-teman mungkin ada yang tanya nih, kenapa kemarin saya Tes IQ anak… Hmm, nanti kapan-kapan saya cerita deh, soalnya kepanjangan kalo saya ceritain disini kita kembali ke judul post ini, tentang 'Pengalaman Tes IQ Anak di Kancil Jakarta' ya… Siapa tau ada teman-teman yang memerlukan Tes IQ juga untuk masuk SD atau ada suatu issue terkait anaknya…

Profil KANCIL


Jadi KANCIL ini dulu bernama Cikal Bakal Sehat-Sehat. Didirikan tahun 2003, KANCIL memberikan layanan psikologi anak, remaja dan keluarga; dengan tujuan utama optimalisasi tumbuh-kembang anak mulai usia 0 bulan sampai 17 tahun.

Di KANCIL sendiri ada berbagai layanan, seperti: konsultasi psikologi untuk anak, remaja dan keluarga; Play Therapy; Terapi Perilaku Kognitif (CBT); Hypnotherapy; dan sebagainya. Yang semuanya diampu oleh tenaga-tenaga profesional di bidangnya, yang rata-rata saya lihat dari brosurnya sih profesional dalam bidang psikologi tentu saja.

Tes IQ Anak

Jadi, ada beberapa alat tes IQ yang digunakan mengukur kemampuan kognitif anak, dan yang cukup populer sih Coloured Progressive Matrices (CPM) dan Wechsler Intelligence Score for Children (WISC). Kalau CPM biasa digunakan untuk anak usia 5 - 11 tahun, kalau WISC usia 6 - 16 tahun… Itu aja infonya, soalnya saya harus belajar lagi juga untuk jelasin kedua test itu… maklum udah lulusnya udah tahun 2007, udah lupa… Kalo penasaran, teman-teman googling aja ya…😅

Nah, kalo kemarin itu tesnya pake WISC… saya taunya ya pas telpon mau booking. Penting ditanyain sih ini menurut saya, soalnya sekarang alat test makin aneh-aneh, ada yang pake sidik jari segala, yang belum teruji klinis. Jadi, pas denger alat testnya familiar, yakin deh…

Waktu itu saya daftar kurang lebih satu minggu sebelum jadwal untuk memastikan waktunya tepat. Namanya anak-anak ya, kadang siangan dikit dia ngantuk, udah kecapekan main, dan sebagainya… jadinya ga terlalu semangat menyelesaikan tugasnya dan bahkan simply ga mau. Jadi mendingan, cari waktu pagi aja… tapi, mungkin bisa disesuaikan dengan kebiasaan anaknya juga sih…

So, terjadwal lah kami untuk konsultasi (Tes IQ) pada hari Senin pukul 10:00 siang… Hari Sabtu-nya, kami kembali dikonfirmasi untuk mengingatkan sekaligus menginformasikan kalau jadwal bergeser ke jam 11:00. Ya sudah, it's OK, untuk jaga-jaga, anaknya kami usahakan untuk makan banyak-banyak sebelum tes, jadi meskipun melewati jam makan siang, dia ga kelaperan. Untungnya sih anaknya bukan tipe tidur siang, jadi aman lah…

Jam 10:45 kami telah tiba di Klinik KANCIL yang bertempat Rukan Duren Tiga Kav. 20, Jl. Duren Tiga Raya No. 7J, Jakarta Selatan. Sebelum sesi, kami diminta mengisi formulir mengenai data anak yang dibutuhkan. Dan selanjutnya, kami menunggu sampai giliran kami… But as we know kalau menunggu itu adalah musuhnya anak-anak, disini kita tidak perlu khawatir. Di Klinik KANCIL tempat menunggunya cukup child friendly


Kemudian, setelah menunggu kurang lebih 15 menit, giliran kami pun tiba…

Pertama, saya dan suami dipanggil untuk konsultasi terlebih dahulu terkait anak; keseharian anak di rumah, di sekolah, permasalahan (jika ada), pengasuhan, dan sebagainya. Dalam sesi ini, akhirnya saya aja sih terlibat, soalnya anak-anak mau ikutan masuk, jadinya suami terpaksa ngajak mereka main di luar saja.

Teman-teman mungkin bertanya, mau Tes IQ aja kok pakai konsultasi segala ya…

Hmm, sebenarnya sesi konsultasi ini pun lebih ke arah menggali informasi mengenai anak dari orang-tua sih. Manfaatnya bagi psikolog yang akan mendampingi anak mengerjakan tes (administrator tes) akan memahami karakter anak, karena kan namanya anak-anak perlu perlakukan tertentu supaya bisa mengerjakan test secara maksimal yang kurang lebih 2 jam lamanya.

Dan setelah informasi cukup, kemudian giliran anak yang masuk ke ruangan untuk melaksanakan tesnya. Kami orang-tua menunggu di luar saja…

Boleh ditemenin atau ga pada saat anak mengerjakan Test IQ?

Menurut saya sih strongly recommended, TIDAK. Yang dikhawatirkan itu karena adanya orang-tua, justru mengganggu jalannya tes. Misalnya: anak jadi lebih fokus kepada orang-tua daripada kepada administrator dan tesnya; atau orang-tua yang gemas lalu mendorong anak untuk menjawab; dan sebagainya.

Tapi, mungkin lain kasus jika anaknya takut ditinggal sendirian bersama orang asing… Tapii, yah, kenapa tidak mencoba memberi kepercayaan pada anak dan juga psikolognya kan? Percaya deh, yang namanya Psikolog itu rata-rata sudah kuliah 6 tahun untuk berhadapan dengan berbagai macam klien.

Back again

Tik… tok… tik… tok… akhinrya kurang lebih dua jam pun berlalu dan tesnya sudah selesai…

Terus hasilnya gimana?

Hasilnya ga langsung dong… tapi tunggu dua minggu lagi… Yang namanya Tes IQ dengan WISC atau pun CBT itu perlu waktu tersendiri untuk skoring. Setelah itu, baru kemudian hasilnya diinterpretasi, yaitu semacam narasi dari hasil tesnya… Bukan seperti tes pake komputer, yang hasilnya sedetik setelah tes pun bisa dihitung. Jadi… sabar ya…

And the last question but not least important… Biayanya berapa?

Itu juga yang saya tanyakan pada saat pertama kali telpon ke Klinik KANCIL… Jadi biaya untuk Tes IQ anak di Klinik Kancil kemarin itu rinciannya sebagai berikut:

Biaya konsultasi + lamanya tes (Rp. 350.000,-/jam) (2:15)Rp. 788.000,-
Biaya alatRp. 60.000,-
Biaya interpretasiRp. 150.000,-
Biaya pendaftaranRp. 60.000,-
Total± Rp. 1.058.000,-

Iyah, untuk biaya tesnya dihitung seperti konsultasi ya… Yaitu Rp. 350.000,- per jam. Mahal atau enggak, ya relatif sih… Kalau saya sih, so-so lah, biaya dokter aja nanya-nanya sebentar, periksa terus kasih resep itu kalau spesialis minimal Rp. 100.000,- kan. Yah, artinya keduanya sama-sama dihargai karena keahliannya ya…


***

Nah, kurang lebih begitu sih pengalaman kami melakukan Tes IQ di Klinik KANCIL Jakarta…

Jauh amat yak… emang di Lampung ga ada? Hoho, bukaan, ini sih ceritanya sebenarnya sekalian liburan dan nengokin keluarga sih… Jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Dan, sebelum post ini sampai pada epilog, beberapa tips untuk teman-teman yang ingin melakukan Tes IQ untuk anak juga adalah sebagai berikut:

Sebaiknya tidak dilakukan pada usia terlalu dini

Beberapa ahli dan praktisi berpendapat bahwa 6 tahun adalah usia paling tepat bagi seorang anak untuk mendapatkan Tes IQ pertamanya. Hal ini disebabkan, Tes IQ pada anak-anak yang lebih muda cenderung tidak stabil.

Pastikan alat test yang digunakan terpercaya

Jaman sekarang, perkembangan alat tes psikologi sangat pesat. Beberapa di antaranya, bahkan belum teruji secara klinis dan masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli.

Saya pribadi, lebih prefer alat tes yang memang sudah teruji klinis.

So, sebelum melakukan tes, tidak ada salahnya bertanya alat tes apa yang akan digunakan dan kemudian googling. 

Pastikan administrator terbiasa menangani klien anak-anak

Setuju kan kalau anak-anak itu perlu trik tersendiri untuk menanganinya. Terkait dengan tes pun, jelas mereka tidak merasakan urgensi harus mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Jadi, ya, mereka lebih mudah terdistraksi oleh emosi dalam dirinya ataupun lingkungan.

Pastikan anak dalam kondisi yang prima

Kita pasti ingin anak dapat mengerjakan tes dengan maksimal, sehingga hasil yang didapatkan valid bukan? So, mari kita minimalisir potensi-potensi yang membuat anak kurang maksimal mengerjakan tesnya. Misalnya: sedang sakit, mengantuk, lapar, capek, banyak pikiran, dan sebagainya.

Penting juga nih, supaya tidak justru membuat anak menjadi tegang. Anak-anak itu dunianya main, saran saya sih jelaskan saja bahwa apa yang akan mereka kerjakan itu semacam permaian yang seru.

***

Yaa, that's really it. Kurang lebih seperti itulah pengalaman sekaligus tips yang bisa saya sampaikan mengenai Tes IQ untuk anak. Semoga bermanfaat ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, February 21, 2019

Menguatkan Perilaku Positif Anak dengan Metode Token Ekonomi

"Metode Token Ekonomi apaan sih?" Jika teman-teman bertanya demikian, maka saya justru sebaliknya, sejak beberapa hari yang lalu berpikir, "Apalah namanya metode yang saya cobakan ke Ganesh ini ya…"

Dan akhirnya, setelah mengingat-ingat salah satu topik yang pernah dibahas di kuliah Psikologi Perkembangan bertahun-tahun lalu ini, saya pun ingat… It is 'Token Economy' atau sebut saja 'Token Ekonomi'!
'Token Economy' dalam setting edukasi adalah sistem untuk menyediakan positive reinforcement (penguatan positif) pada anak dengan memberikannya token setelah menyelesaikan suatu tugas atau bersikap seperti yang diharapkan. Setelah terkumpul, token ini kemudian dapat ditukarkan dengan reward yang lebih diinginkannya.
Jadi contohnya gini nih, misalnya si Totok kasih beberapa key behavior untuk mendapatkan token, yaitu: makan sayur, tidur siang, dan bangun tepat waktu. Maka pada saat si Totok melakukan makan sayur, dia akan mendapatkan satu token; demikian juga pada saat dia melakukan tidur siang dan bangun tepat waktu. Token-token ini, selanjutnya akan dikumpulkan dan setelah mencapai kuantitas tertentu dapat ditukarkan dengan hal yang diinginkan si Totok.


Or simpelnya, ya Totok melakukan sesuatu yang kita inginkan untuk mendapatkan yang diinginkannya.

Nah, metode itulah yang saya terapkan pada Ganesh beberapa waktu yang lalu… dengan tujuan utama sebenarnya adalah menciptakan lingkungan yang lebih jelas, sehingga less stressful, sebagai berikut:

Memberikan sasaran kinerja (key behavior) yang jelas bagi dan reward yang akan didapatkan.

Di setiap perusahaan, pasti ada tuh yang namanya penilaian kinerja kan… dimana pegawainya akan dinilai berdasarkan beberapa sasaran kinerja yang ditetapkan untuknya. Dan dari sasaran kinerja itulah kemudian akan diukur keberhasilan atau prestasi dari sang pegawai yang kemudian dari sana akan ditentukan reward untuknya.

Nah, demikian juga dengan Token Economy… Dengan metode ini, Ganesh lebih gamblang memahami sasaran kinerja dan juga reward yang akan didapatkannya jika berhasil melaksanakan sasaran kinerja tersebut.

Hal ini tentu menciptakan suasana yang fair dan jelas sehingga meminimalisir stress yang terjadi karena perasaan, "Sebenarnya apa sih yang harus kulakukan?" atau "Bagaimana sih mendapatkan yang aku inginkan?" atau juga "Aku ini sudah bagus belum sih?" dan sebagainya… akan terjawab dengan jelas.

Memberikan gambaran yang jelas, progress yang dicapai.

Metode Token Economy lebih baik diterapkan menggunakan media yang dapat memberikan visualisasi jelas terhadap pencapaian anak. Misalnya token berupa koin yang ditempatkan pada wadah transparan atau berupa papan dan token ditempelkan.

Dengan cara ini, anak akan dapat melihat dengan jelas sejauh mana pencapaiannya dan juga berapa jumlah token yang perlu dikumpulkannya untuk mendapatkan reward. Metode yang sangat tepat untuk memotivasi anak yang cenderung cepat bosan dan kurang sabaran.


Beberapa Tips dan Trik Menerapkan Metode Token Economy



Pada dasarnya, Token Economy itu ya sesimpel menentukan perilaku yang ingin dikuatkan, menyiapkan media dan juga reward yang akan diberikan. Akan tetapi, agar metode ini lebih efektif, terdapat beberapa tips yang dapat diterapkan… Yaitu:
  • Pilih tiga macam perilaku, sebagai berikut: perilaku yang sudah telah dilakukan anak dengan baik, perilaku yang membutuhkan sedikit peningkatan, dan perilaku yang menantang (jarang dilakukan anak).
  • Sampaikan perilaku yang diinginkan dengan cara yang positif. Misalnya alih-alih menyebut, "Jangan nakalin Adek," maka lebih baik disebut, "Menjaga Adek."
  • Pecah perilaku menjadi hal yang lebih kecil jika dibutuhkan. Misalnya tentang perilaku makan sayur; dapat dipecah menjadi makan sayur pada saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Hal ini berguna untuk memecah sebuah perilaku yang cukup berat bagi anak-anak menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dan mudah dilakukan. Ingat, tugas yang terlalu berat justru tidak akan memotivasi anak.
  • Siapkan token di tempat yang bisa dengan mudah dicapai anak. Jadi anak bisa segera mengumpulkan atau menempelkan token segera setelah suatu key behavior dilakukannya.
  • Menentukan menu reward yang bervariasi. Misalnya dengan 10 token bisa ditukar dengan jalan-jalan ke taman, 20 token dengan berenang, 30 token dengan main ke taman kelinci, dan sebagainya. Dengan demikian 'permainan' ini menjadi menarik dan anak-anak pun tetap bersemangat.

Latar Belakang Kami Menerapkan Metode Token Economy

Nah, kenapa kami menerapkan metode ini pada awalnya adalah karena mendapati bahwa Ganesh ternyata tampak jenuh dan (sebut saja) stress dengan keseharian dan lingkungannya.  Hal ini kami ketahui dari kecenderungan perubahan perilakunya menjadi mudah marah dan juga hasil ngobrol intensif dengannya.

Dari sini, kemudian ditambah dengan pengamatan kecenderungan kepribadiannya, maka saya merasa metode ini layak dicoba untuk mengurangi perasaan tertekan karena lingkungan. Dimana tertekannya anak itu sebenarnya cukup sederhana, seperti: 

Menginginkan sesuatu namun syarat yang diberikan orang-tua tidak pernah dapat dicapai

Ini lebih ke arah transparansi dan juga semacam raport mengenai progress anak mencapai hal yang diinginkannya.

Jadi begini, kami pernah menjanjikannya membelikan smart watch dengan syarat dia bisa menjadi anak baik. Nah, term 'anak baik' ini ternyata sulit sekali dicapainya; karena hal-hal kecil, seperti rebutan sama adeknya, kelepasan manjat mobil, ngegambarin tembok, dll. Setiap kali melakukan kesalahan semacam itu, ya jadi senjata kami untuk bilang, "Katanya Anesh mau jadi anak baik…" akhirnya dia patah arang dan bilang, "Ya udah, Anesh ga usah jadi anak baiklah…"

Merasa bukan anak baik, sering ditegur karena melakukan kesalahan dan bosan harus melakukan aturan tertentu, karena sesungguhnya tidak merasakan urgensi dari mengikuti aturan tersebut

Nah, loh, kok bisa begitu ya… Yup, jadi, Ganesh ini anaknya cukup kritis sehingga sulit untuk diyakinkan. Dia tidak mudah untuk menerima pendapat orang lain, adu argumen a.k.a ngeyel itu hal yang biasa terjadi.

Seringkali, kami sendiri kehabisan akal untuk menjelaskan suatu hal padanya… Misalnya begini; mengenai tentang kami melarangnya untuk bermain bergantung-gantung di pintu. Dia tidak akan terima dengan alasan bahwa itu berbahaya. "Anesh kan ga jatuh Mama, Anesh pegangan…" begitu argumennya. Dengan begitu, kami pun harus memutar otak untuk menjelaskan konsep abstrak bernama 'risiko' supaya dia bisa sepaham mengenai urgensi dari tidak bermain gantung-gantung di pintu.

Ini hanya satu hal saja… Selain itu, ya masih banyak contoh lain… Dan kami pun bukan Superman dan Wonder Woman yang bisa selalu memuaskan keskeptisan anak. So, ya cara Metode Token Economy ini bisa jadi satu hal yang menguatkan alasannya perlu melakukan suatu hal, meskipun sesungguhnya belum puas benar dengan argumen kami.

***


Dua hal itulah yang kemudian membuat saya merasa bahwa Metode Token Economy ini bisa mengurangi gejolak pikiran Ganesh ini.


Eksekusi Metode Token Economy Kami

Karena anak saya dua, walaupun sasaran utamanya Ganesh, Mahesh juga saya buatkan juga. Cuma, supaya ga panjang, disini saya cerita tentang Ganesh aja ya… Yang punya Mahesh, bisa liat fotonya aja…


Nah, berikut adalah key behavior untuk Ganesh:
  • Be a good brother! Karena Ganeshnya kadang-kadang ngusilin atau ga mau ngalah sama adeknya, jadilah key behavior ini.
  • Helping others! Yup, dalam hal ini Ganesh masih moody banget. Kalau lagi mood-nya bagus, dia akan dengan senang hati membantu kami, tapi kalo lagi biasa aja atau jelek, ya wassalam… And unfortunately dia masih jarang sih dengan inisiatif sendiri membantu orang lain.
  • Eat by yourself! Udah kelas 2 SD, makan sendiri sebenarnya gampil lah buat Ganesh… Cuma, yah, kalo lagi males, anak ini masih suka minta disuapin.
  • Go to school on time! Poin dari key behavior ini sebenarnya adalah di Ganesh bangun pagi dan kemudian cukup kooperatif untuk melaksanakan kegiatan di pagi hari hingga berangkat sekolah. Dalam praktiknya, ini berarti dia perlu bergegas mandi pagi, sarapan, ga banyak main, dan salah fokus.
  • Do not speak bad words! Nah, yang ini sebenarnya pemilihan kata yang kurang ideal sih… cuma saya belum menemukan kalimat yang lebih tepat, yah, kita pakai ini dulu saja. Berkaitan dengan key behavior ini, jadi ceritanya Ganesh nih masih sering mengucapkan kata-kata yang tidak pada tempatnya; misalnya: eek, bauk, dan sebagainya. So, kami perlu mendisiplinkan pemilihan bahasanya sehari-hari.
  • Eat veggetables two times a day! Ganesh suka kok sayur, cuma memang sedikit pemilih sih… So, yes, ini perlu diperkuat lagi…
  • Do homework or Kumon! Ini tipe perilaku yang mudah diselesaikan oleh Ganesh sih… Ditambahkan disini, untuk membuatnya bersemangat!
  • Go to bed on time! Nah, kalo yang ini, memang anaknya perlu di-oprak-oprak (Bahasa Jawa) alias diomelin dulu. Somehow, Ganesh itu susah disuruh tidur, mau siang atau malam. Kadang saya khawatir, untuk ukuran anak kecil 7,5 tahun apa tidurnya yang 8 jam sehari itu cukup.
  • Special awards. Dan yang ini adalah untuk mengakomodir perilaku-perilaku positif yang dilakukannya, tapi tidak termasuk key behavior lainnya. Hmm, tentang ini, jika anaknya kritis sekali, mungkin dipertimbangkan untuk di skip saja. Karena pengalaman saya pada Ganesh, kami jadi suka berdebat soal poin ini. Lesson learned
Selanjutnya, untuk medianya, saya sendiri menggunakan papan styrofoam dan token yang ditempelkan. Dan untuk itu, maka alat dan bahan yang saya pakai adalah: papan Styrofoam berwarna, spidol warna putih, penggaris, kertas origami warna-warni, bolpen, kain flanel, push pin, spidol hitam, gunting, dan double tip.


Adapun cara membuat adalah sebagai berikut::
  1. Buat papan token dengan media styrofoam yang digaris dengan spidol warna putih.
  2. Buat tulisan key behavior yang akan digunakan dengan menggunakan kertas origami warna-warni.
  3. Buat token dengan menggunakan kain flanel. Kalau saya sih memilih bentuk 'love' saja, karena lebih mudah dibuat.
  4. Selanjutnya tempelkan papan token pada dinding dengan menggunakan double tip dan push pin untuk menempelkan token pada dinding. Oh ya menempelkan papan tokennya di tempat yang terjangkau anak ya… jadi mereka bisa menempel sendiri dan lebih bersemangat.
Selanjutnya, setiap sore atau malam menjelang tidur, kita pun mengajak anak-anak me-review kegiatan mereka seharian. Apakah ada kegiatan yang masuk key behavior dan mendapatkan 'love' atau tidak.

Nah, lalu reward-nya apa… Ini jadi hal yang susah buat kami. Idealnya, reward itu sebisa mungkin bukan sesuatu yang sifatnya material kan, tapi ini agak susah, jadi tetap kami sertakan juga supaya lebih bervariasi. Tapi, tetap bukan dalam bentuk nominal uang tentunya, karena kalo begitu sih Ganesh tampaknya akan lebih memilih uang, secara anaknya cinta kebebasan…

Berikut daftar reward proyek Token Economy kami:
  • Kardus bekas (10 token). Believe it or not, Ganesh itu suka banget sama kardus bekas… Kalau liat kardus, udah excited banget anaknya. That's why kami jadikan reward juga, meskipun yakinnya sih dia bakal ngincer reward yang lain.
  • Bahan craft (20 token). Seperti lem, kertas origami, dll; soalnya anaknya suka banget bebikinan. Idenya itu ada aja, kadang tau-tau nelpon, minta dibeliin double tip lah, selotip lah, lem, dll. 
  • Beli mainan di *maret-maret* (40 token). Namanya anak-anak, tiap kali belanja apa, pasti nanya, "Boleh beli mainan ga?" So, yeah, kami rasa yang ini bakalan lebih menarik dari dua reward sebelumnya.
  • Beli buku (80 token). Bukan buku sekolah ya… tapi buku yang sesuai maunya anaknya. Ya buku Lego, dinosaurus, dll. Ini mahal, jadi lumayan banyak lah token yang ditukar ya…
  • Jalan-jalan (100 token). Maksudnya jalan-jalan dalam kota ya… kalau luar kota apalagi luar negri ya harus dibicarakan di luar token.

Hasilnya…

Jeng… jeng… jeng… dan hasilnya adalah… Yes! Anaknya excited banget lho dengan metode ini, even waktu itu masih trial dan reward-nya sebenarnya belum kami declare

Anaknya cukup licik sih… dia ulang-ulang kegiatan yang menurut dia mudah, misalnya di Special Awards itu dia kumpulkan dari membaca buku yang dia suka. Sementara untuk beberapa lainnya yang mungkin sulit baginya, ya dia ga terlalu ngoyo juga…

In resume, beberapa hal yang saya amati dari penerapan Metode Token Economy ini adalah:

Ganesh tampak lebih happy dan excited menjalani hari-harinya, termasuk mengerjakan hal-hal yang selama ini tidak terlalu dia minati.

Saking excited-nya, dia sampai bela-belain telpon papanya yang sedang di luar kota untuk ngabarin pencapaiannya hari itu… Apa yang sudah dia kerjakan hari itu dan juga total token yang sudah dia dapatkan. Dimana ini sesuai dengan tujuan awal dibikinnya proyek Token Economy ini, yaitu menciptakan situasi yang less stressful alias ga bikin stress.

Ganesh lebih bisa berempati dan menghargai kebaikan orang lain padanya.

Yang namanya anak kecil, pemikirannya seringkali masih egosentris sekali alias melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Misalnya dia minta diambilin minum, dia cuma melihat bahwa itu tidak capek baginya, tanpa berpikir bahwa bisa jadi orang lain capek karena permintaan itu.

Lha ini, beberapa hari setelah proyek ini dimulai, kok kemudian suatu hari dia minta diambilin minum dari bawah (anaknya lagi belajar di lantai atas), kok dia nyeletuk, "Mama, Mama itu bikin juga aja kaya punya Anesh biar bisa dapet love juga…"

Dan saya becandain aja… "Emang nanti kalo love Mama udah banyak, siapa dong yang kasih hadiah…"

Yang dijawabnya, "Ya Anesh lah…"

Dan dia tampaknya serius dengan kalimatnya itu, karena beberapa hari kemudian dia kembali mengingatkan saya, "Mama, Mama itu bikin aja lho kaya punya Anesh… dibikin, 'Be a good Mama gitu…' Nanti Anesh kan bisa kasih hadiah kalo udah banyak 'love'-nya…"

Wah, peningkatan banget ini… dia sekarang bisa lho menilai bahwa mamanya bantuin dia ambil minum, pijetin, dan sebagainya itu adalah sesuatu kebaikan. Cukup gimana juga rasanya dia secara implisit mengatakan bahwa apa yang saya lakukan itu adalah satu tanda mama yang baik.

So sweet kan…

Kok bisa begitu?

Menurut saya sih, karena dengan Metode Token Economy ini, kan kita memberikan penghargaan kepada anak berdasarkan key behavior yang dilakukannya. Anak merasa senang dengan penghargaan ini, dan kemudian merasa bahwa orang lain pun jika melakukan hal baik layak untuk diberikan penghargaan.

***

Jadi, menurut pengalaman saya, metode Token Economy ini recommended untuk menguatkan perilaku positif anak. Alasannya, ya bisa lihat di hasil yang sudah saya ceritain di atas ya…

So, yes, it's worth to try ya teman-teman… Jika memang teman-teman pun memiliki masalah untuk menguatkan perilaku positif pada anak. Namun, jika anaknya sangat kooperatif, mudah beradaptasi dengan aturan, mungkin urgensinya pun menjadi berkurang.

Dan sekian saja cerita saya tentang salah satu upaya saya menciptakan lingkungan yang menyenangkan (less stressful) untuk anak sekaligus menguatkan perilaku positif dalam dirinya. Berkaitan dengan tujuan membuat anak-anak lebih gembira dan tidak merasa tertekan, tentu masih ada beberapa usaha yang akan kami lakukan… dan insyaallah akan saya share di blog ini juga.

So, stay tuned ya…

And btw, teman-teman punya pengalaman juga tentang ini? Share dong…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, February 14, 2019

'The Lego Movie 2: The Second Part': Jangan Biarkan Anak Salah Memahami tentang Armamageddon

Sebenarnya, nonton film ini bersama anak-anak rasanya ada yang mengganjal! Bukan ga bagus, sama seperti prekuelnya, ide cerita menurut saya cukup cerdas, hanya saja kemudian kurang terasa memberikan pelajaran moral yang mendalam bagi anak. Bukan ga ada ya, hanya kurang, dan salah-salah anak malahan salah paham karena terkecoh dengan pesan yang muncul di permukaan.

Hmm, bingung maksudnya? Baiklah, saya mulai dari plot cerita ini saja…

Jadi, di Film 'The Lego Movie 2: The Second Part' dikisahkan lanjutan dari film pertamanya, di mana di akhir cerita, setelah ayahnya mengijinkan Finn bermain dengan Legonya, kemudian Finn pun diminta mengijinkan adiknya, Bianca, untuk bermain bersama. Dimana hal ini berarti Bianca mulai menginvansi setting Lego yang dibuat oleh Finn dengan setting Duplo-nya.

Poster 'The Lego Movie: The Second Part'. Properti dari Warner Bros

Ingat adegan dimana setelah Emmet dan kawan-kawannya berhasil berdamai dengan President Business, dan kemudian muncullah makhluk asing? Merekalah Duplo yang dibawa oleh Bianca…

Sejak saat itu, pertempuran di dunia Lego antara Lego dan Duplo terus terjadi. Lima tahun kemudian, dunia Lego pun mengalami kehancuran (apocalyptic) dan disebut Apocalypseburg. Keadaan ini membuat warga Apocalypseburg berubah menjadi orang-orang yang keras, kecuali Emmet yang tetap adalah laki-laki manis, ceria dan berpikiran positif.

Pada suatu hari Jenderal Sweet Mayhem, pemimpin dari tentara Duplo datang dan menculik Batman, Lucy, Benny, MetalBeard, dan Unikitty untuk menghadiri pernikahan Watevra Wa'Nabi, ratu dari Systar System… Yang ternyata mempelai prianya itu ya Batman. Yang awalnya menolak, eh, dengan taktik sang ratu akhirnya mau juga.

Pernikahan ini dipercaya akan menciptakan Armamageddon (Our-Mom-Ageddon), yaitu kiamat dunia Lego.

Di tempat yang lain, Emmet kemudian berusaha menyelamatkan Lucy dan teman-temannya, dimana dalam perjalanan dia bertemu dengan Rex Dangervest yang kemudian membantunya dalam misi penyelamatan ini.

Singkat cerita kemudian, Emmet dan Rex Dangervest pun berhasil mencapai Systar System dan bertemu dengan Lucy yang tidak dicuci otaknya oleh pasukan Duplo. Mereka pun kemudian menyusun rencana untuk menggagalkan pernikahan Queen Watevra Wa'Nabi.

Semua berjalan sesuai rencana, sampai Lucy yang bertempur dengan Mayhem akhirnya menyadari bahwa Queen Watevra Wa'Nabi maupun Systar System tidak pernah memiliki niat buruk, apalagi akan memicu ternjadinya Armamageddon. Dan justru pernikahan itu akan menyelamatkan dunia Lego dari Armamageddon.

Lucy kemudian berusaha memberi tahu Emmet akan hal ini, namun Emmet tidak mempercayainya dan tetap menghancurkan kuil tempat pesta pernikahan Queen Watevra Wa'Nabi dilakukan. Dimana kejadian ini didunia nyata adalah Finn menghancurkan kuil Lego buatan Bianca. Dan hal ini kemudian membuat Mama mereka berdua marah dan meminta Finn dan Bianca mengumpulkan Legonya dan memasukkannya dalam kotak. Inilah yang disebut sebagai Armamageddon…

Ternyata tokoh antagonis dalam cerita ini adalah Rex Dangervest, yang kemudian diketahui adalah Emmet yang berasal dari masa depan. Adapun misi Rex Dangervest (Emmet dari masa depan) kembali ke masa ini adalah untuk memastikan Emmet yang manis, ceria dan berpikiran positif menjadi dirinya yang berhati keras.

Untuk itu, kemudian Rex membuang Emmet ke Galaxy Londri (di dunia nyata adalah kolong mesin cuci) dengan maksud agar hati Emmet pun mengeras sehingga eksistensi dari Rex di masa depan tetap terjaga. Dimana ini digagalkan oleh Lucy yang berhasil membebaskan dirinya dari kotak mainan. Dengan demikian keberadaan Rex pun hilang dari waktu…

Akhirnya, Queen Watevra Wa'Nabi pun menikah, dan hal ini di dunia nyata merepresentasikan Finn dan Bianca yang kemudian bermain bersama. Hal inilah yang kemudian membuat mama mereka kembali mengijinkan mereka bermain dengan Legonya, yang ini berarti bahwa Armamageddon berhasil digagalkan dan keberadaan dunia Lego tetap terjaga.

***

Cerita secara keseluruhan sih cukup smart menurut saya… Untuk konsumsi orang dewasa, kejadian paralel antara dunia nyata dan dunia Lego ini yang saya maksud. Tapi, untuk konsumsi anak-anak, kok ya saya kurang sreg jika mereka kemudian berpikir bahwa mereka harus bermain bersama dan tidak saling rebutan atau berantem itu supaya tidak dimarahin mamanya dan terjadi Armamageddon.

Ini dangkal banget lah menurut saya… Dua orang saudara bermain bersama-sama, saling berbagi, tidak menang-menangan, dan sebagainya itu bukan karena nanti kalo berantem akan dimarahin mama. Tapi, karena sebagai sesama manusia apalagi bersaudara,  sudah selayaknya mereka saling menyayangi, dan bisa lho mereka ini bermain bersama, senang-senang bersama, tanpa saling menang-menangan atau egois dengan keinginan masing-masing.

Di situ yang menurut saya harus diluruskan sih pada anak-anak. Jangan sampai pemahaman mereka jadi melenceng sependek, "Kalo aku berantem sama Adek, nanti mama marah… Jadinya ada Armamageddon deh kaya di Film Lego…" Ibu-ibu juga ga mau kan?

Saya tetap suka sih sama film ini, karena menghibur banget… dan sebenarnya tetap bisa dijadikan referensi untuk mengajarkan bahwa kakak dan adik itu bisa bermain bersama-sama tanpa saling egois dengan keinginan masing-masing. Tapi, ya itu tadi, anak-anak harus diajak ngobrol setelahnya ya ibu-ibu, bahwa mereka bermain bersama-sama itu bukan biar mama ga marah, tapi karena sebagai saudara ya sudah selayaknya saling menyayangi, mengalah sedikit biar bisa main bareng, dan sebagainya.

Jadi, bukan mengharamkan film ini ya… cuma kita sebagai orang-tua perlu meluruskan pada anak-anak saja…

***

Kurang lebih seperti itu pendapat saya… Setiap anak menonton tayangan apapun, meskipun dia sudah diberi label Semua Umur (SU), akan lebih baik kita tetap mendampingi dan memberikan pemahaman mengenai film pada anak-anak.

Kalau menurut teman-teman bagaimana?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Saturday, February 9, 2019

'Idola Mama Homemade': Sebuah Proyek Idealis Makanan Sehat Keluarga

Halo 2019! Wohoo! Saya benar-benar excited dengan tahun ini, secara akhirnya mendapatkan lebih banyak kelonggaran untuk melakukan berbagai hal berkaitan dengan mimpi saya. Baiklah, saya memang seorang ibu dua orang anak, pun dengan embel-embel seorang pekerja full time. Waktu adalah sesuatu yang sungguh-sungguh sempit dan langka, namun bukan berarti pula bahwa saya kehilangan waktu untuk bermimpi. Selama beberapa lama, mereka hanya tertidur, dan begitu waktunya tepat, mereka pun berbalik membangunkan saya.

Ya, beberapa mimpi kemudian membangunkan saya sejak akhir tahun 2018 lalu… dan 2019 ini saya benar-benar bersemangat untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah proyek bertajuk Idola Mama Homemade yang kami (saya dan suami) mulai sejak Bulan September 2018 lalu…

***


AWAL MULA TANPA RASA PERCAYA DIRI

Semua berawal dari idealisme saya sebagai seorang ibu yang berusaha memberikan nutrisi terbaik dan makanan sehat untuk anak-anaknya. Dari sana, kemudian saya menjadi sangat selektif dengan makanan yang dikonsumsi anak-anak. Bukannya, mengharamkan 100% bahan-bahan yang kurang baik untuk kesehatan; seperti MSG, pewarna, perasa, pengawet, dan sebangsanya; namun sebisa mungkin mencari alternatif makanan yang tidak mengandung bahan-bahan tersebut. Kalaupun terpaksa, maka konsumsi seminimal mungkin dan sejarang mungkin.

Yup, saya tipe ibu yang lumayan ketat nih soal makanan sehat…

Kalau saya dan suami yang notabene orang dewasa sih cincai lah ya… sudah bisa mengatur diri sendiri apa yang baik dan tidak baik untuk diri kita, soal nafsu makan juga sudah bisa menyesuaikan dengan preferensi kesehatan tadi. Tapi, untuk anak-anak kan tidak begitu… Mereka tahunya ya makan itu yang enak dan yang mereka pengen.

Kondisi itu kemudian menjadi semakin kompleks pada saat mereka mulai sekolah dan harus membawa bekal ke sekolah. Pagi hari yang sempit itu, harus menyiapkan diri ke kantor dan anak-anak ke sekolah, menyiapkan bekal jadi tidak bisa terlalu all out… dan makanan praktis pun jadi salah satu solusi pada saat kepepet. Chicken Nugget adalah salah satu solusinya…

Ya, sesungguhnya Chicken Nugget ini bukan hanya makanan favorit bagi anak-anak, tapi juga ibunya. Kenapa? Karena dia begitu praktis, tinggal goreng saja dan sebagian besar anak pun sangat menyukainya. Tapi, sejauh pengetahuan saya, Chicken Nugget yang beredar di pasaran itu tentu saja mengandung MSG (Mono Sodium Glutamat), pengawet, pewarna, dan bahkan perasa lainnya… 

Karena itulah, kemudian saya mulai mencoba-coba berbagai resep Chicken Nugget rumahan sejak kurang lebih 4 tahun lalu. Sampai akhirnya, menemukan perpaduan bumbu yang pas dari eksperimen ini dan saya ikuti sampai sekarang, karena sudah pas di lidah saya dan anak-anak. Tak lupa juga saya tambahkan wortel sebagai pelengkap nutrisi, karena ada kalanya kan anak-anak males makan sayur ya…
Saya udah super bangga lah dengan resep Chicken Nugget yang biasa saya bikin buat anak-anak. No MSG, no pengawet, bahan-bahan juga pilihan, ada wortelnya, plus anak-anak suka… sudah paling TOP lah pokoknya…
Tapi pada saat suami bilang, "Mama, nugget-nya ini enak lho, coba kita jual aja… pasti banyak yang mau…" saya tetap merasa tidak sepenuhnya setuju sih.


Saya jelas merasa tidak percaya diri kalau orang akan sependapat dengan suami saya yang notabene memang cukup sensitif dengan MSG. Padahal, sebagian besar orang ya pasti lebih menyukasi sesuatu yang gurih dan enak kan, yah, saya ga yakin lah Chicken Nugget saya bisa bersaing dengan produk serupa di pasaran.

Belum lagi kebayang ribetnya pemasaran Chicken Nugget tanpa pengawet, yang tidak tahan lama pada suhu ruangan.

Jadi, sebenarnya waktu itu saya ga terlalu setuju sih dengan pendapat suami. Tapi… karena suami keukeuh mau coba jualan di kantornya, ya baiklah, kita coba saja…


TESTIMONI POSITIF DAN LAHIRNYA 'IDOLA MAMA HOMEMADE'

Mewujudkan keinginan suami, beberapa hari kemudian sengaja saya menggoreng Chicken Nugget cukup banyak untuk dibawa suami ke kantor sebagai tester. Dipotong-potong dengan ukuran lebih kecil tentu saja, biar semua kebagian, hihi…

Dan di luar dugaan, beberapa saat kemudian suami mengirimkan Whatsapp, bercerita kalau teman-temannya di kantor bilang kalo Chicken Nugget-nya enak, sampai berhasil mendapatkan order sebanyak 2 kg! Angka yang cukup membuat saya ter-wow-wow… "Eh, ternyata Chicken Nugget saya ada yang suka lho…"

Orderan pertama kami. Waktu itu untuk berat pun belum standard dan packaging pun seadanya dengan distaples.


Dari sini, kemudian saya mulai berpikir, kalau Chicken Nugget Homemade tanpa MSG dan pengawet seperti ini memiliki pasar yang cukup luas. Dulu, saya mikirnya ya, orang cenderung tidak akan terlalu ambil pusing soal makanan sehat sampai ribet cari Chicken Nugget tanpa MSG dan pengawet. Jadi, ya dagang Chicken Nugget Homemade kaya gini itu bakalan susah cari peminatnya, ternyata enggak lho… Di lingkungan kita aja cukup banyak yang suka kok…

Yang suka makanan sehat itu banyak… yang ga suka micin tapi suka Chicken Nugget juga tidak sedikit…

Jadi, saat libur, kami eksekusilah orderan itu, sekaligus sengaja saya lebihin buat tester di kantor saya sendiri… Mulai penasaran nih ceritanya, kalau di kantor saya kira-kira bakalan ada yang pesen enggak…

Dan ternyata… wow, saya dapat pesanan sekitar 6 kg! Benar-benar tidak menyangka! Termasuk tidak menyangka rempongnya juga sebenarnya… Semua harus saya kerjakan sendiri, karena kebetulan suami dinas keluar kota dan ART pun sedang tidak ada, haha… Benar-benar libur itu diisi dengan kegiatan ngulen adonan dan melapisi Chicken Nugget dengan tepung panir. Asli capek banget… tapi senangnya sungguh tak terkira…

Penampakan kurang lebih 6 kg Chicken Nugget sebelum dipack.

Ya, banyaknya order waktu itu memang karena faktor masa promosi dan harganya juga diskon lumayan sih… Tapi, tetap, kami tidak menyangka kalau animo teman-teman bakalan sebesar ini…
Karena penerimaan dan testimoni positif beberapa konsumen pertama ini, kemudian muncul rasa percaya diri bahwa Chicken Nugget Homemade saya ini memang lumayan juga lho!
Dan selanjutnya, saya pun rutin mengadakan PO (Pre OrderChicken Nugget Homemade setiap minggu. Jadi, setiap Senin sampai Jumat saya menerima pesanan, Hari Jumat sore sampai Minggu proses produksi hingga pengepakan, dan Senin didistribusikan kepada pemesan. Ya namanya juga tanpa pengawet dan konsumen pun masih terbatas, jadi ga berani nyetok.

Dengan sistem ini, alhamdulillah order terus mengalir meskipun tidak sebanyak waktu masa promo tentu saja… Dan yang terpenting, kemudian kami pun menemukan pelanggan-pelanggan loyal yang selalu repeat order… benar-benar confidence booster!

Beberapa testimoni konsumen yang sempat diarsipkan

Dari sanalah kemudian saya mulai mantap untuk menekuni bisnis ini dan mulai memikirkan packaging dan logo untuk produk kami.

Dan setelah melalui proses berpikir dan mempertimbangkan, akhirnya saya memutuskan bahwa proyek ini akan diberi nama 'IDOLA MAMA HOMEMADE'. Frasa IDOLA MAMA dipilih karena proyek yang berawal keinginan saya untuk memberikan makanan sehat dan nutrisi terbaik bagi anak-anak ini saya harapkan dapat membantu ibu-ibu di luar sana. Yang juga memiliki keinginan sama namun terkendala waktu dan tenaga. Harapannya makanan homemade ini bisa menjadi idola ibu-ibu tersebut sebagai partner memberikan makanan sehat bagi buah hatinya.


Sedangkan kata 'HOMEMADE' sendiri sengaja dipilih karena memang proses pembuatannya rumahan atau homemade dan dalam bayangan saya, kedepannya produk kami bukan hanya Chicken Nugget saja, tapi berkembang varian rasa lain atau jenis makanan lain. Jadi, sengaja tidak menunjuk spesifik pada Chicken Nugget saja.

Untuk logonya sendiri diadaptasi dari logo blog lemonjuicestory saya, karena menurut saya gambarnya sangat representatif dengan frasa 'Idola Mama'… Doodle seorang wanita yang memegang microphone, selayaknya artis/idola hanya saja tampak begitu sederhana. Macam ibu rumah tangga biasa yang menjadi idola bagi anak-anaknya.


TANTANGAN PENGEMBANGAN BISNIS

Kepercayaan diri adalah hal yang penting dalam membangun sebuah usaha, namun bukan berarti langkah selanjutnya akan semulus jalan tol tentu saja. Sejauh ini, ada beberapa tantangan dalam pengembangan proyek makanan sehat dengan konsep homemade ini.

Chicken Nugget Homemade tanpa MSG dan pengawet ini punya sejumlah keunikan, di antaranya adalah tidak tahan lama di suhu ruangan. Disamping itu, karena bahan-bahannya (bisa dibilang) premium harganya jualnya tidak bisa ditekan demikian murah jika menggunakan bahan tambahan lainnya. Dari dua karakteristik ini, kemudian kita harus jeli menentukan strategi pemasaran yang tepat.
Untuk sebuah produk yang belum dikenal, tidak diproduksi oleh perusahaan yang punya nama, harganya tidak bisa dibilang murah, pun gerak distribusinya terbatas karena tanpa pengawet; strategi produksi dan pemasaran menjadi hal yang cukup tricky.
Dengan karakteristik produk yang semacam ini, maka beberapa hal harus diperhitungkan dengan matang berkaitan dengan pengembangannya.

Pengenalan produk dan kelebihannya pada masyarakat. Saat ini pengenalan produk telah dilakukan melalui social media Instagram dan Facebook, namun belum optimal karena terkendala waktu.

Mendapatkan bahan-bahan yang sehat dan berkualitas dengan harga yang bersaing. Karena kapasitas produksi tidak terlalu tinggi, sehingga sulit mendapatkan harga grosir. Selama ini, untuk mendapatkan bahan baku, saya harus hunting ke berbagai pasar modern maupun tradisional untuk mendapatkan harga yang terbaik. Dimana hal ini tentu saja memakan banyak waktu dan bahkan tidak leluasa dilakukan karena kesibukan lainnya.

Memastikan bahwa Chicken Nugget yang sudah diproduksi segera terjual supaya jangka kadaluarsa masih cukup lama di tangan konsumen. Karena itulah, saat ini mekanisme pemasaran masih mengandalkan sistem PO (Pre-Order), yaitu kosumen memesan dulu baru kemudian dibuat Chicken Nugget-nya dan diterima. Dengan sistem PO semacam ini, tentu membatasai juga kapasitas produksi dan pengembangannya.

Mendistribusikan Chicken Nugget pesanan teman-teman di kantor

Pengiriman dari tempat produksi kepada konsumen, karena Chicken Nugget tidak tahan lama pada suhu normal. Biasanya, jika pengiriman cukup jauh dan tidak menggunakan termos es dan Styrofoam, maka saya akan membungkus Chicken Nugget dengan kertas koran tebal untuk mempertahankan suhunya, dan ini bisa tahan sampai dengan kurang lebih 1,5 jam. Jadi jarak maksimal kurang lebih 40 km. Untuk ini, dan karena belum memiliki tempat dan jam produksi permanen, maka masih menggunakan layanan pengiriman instant yang tentu jauh lebih mahal daripada pengiriman makanan.

Kapasitas produksi yang rendah karena peralatan dan waktu yang terbatas. Sejauh ini, pengerjaan mayoritas masih saya lakukan sendiri. Adapun asisten hanya membantu pada kegiatan seperti mengupas dan memarut wortel, mencuci peralatan, dan melapisi Chicken Nugget dengan tepung panir. Praktis, untuk kegiatan produksi hanya bisa dilakukan pada Hari Jumat sepulang kerja, dilanjutkan Hari Sabtu dan Minggu untuk proses selanjutnya.

Rekor saya sejauh ini memproduksi Chicken Nugget adalah sekitar 6 kg atau sebanyak 30 bungkus dan itu cukup menguras keringat. Proses produksi juga cukup lama karena peralatan masih terbatas, sehingga masih berganti-gantian. Cuci-lap-pakai.

Varian produk yang sangat terbatas. Saat ini, jenis produk yang ditawarkan hanya satu saja, yaitu Chicken Nugget Original. Beberapa kali konsumen sempat nanya juga, ada produk lain ga dan bahkan request Chicken Nugget dengan varian tertentu. Baiklah, mengandalkan satu varian saja mungkin memang tidak terlalu mendukung pengembangan bisnis ini menjadi lebih besar, karena konsumen tidak punya pilihan lain dan belanjanya jadi tidak terlalu banyak.


RESOLUSI BISNIS 2019

Tahun 2018 telah berlalu, dan bisnis Chicken Nugget IDOLA MAMA HOMEMADE ini pun telah berjalan kurang lebih 3 bulan lamanya. Pada awalnya, bisnis ini memang tidak lebih dari proyek coba-coba, tapi seiring berjalannya waktu, semakin banyak testimoni positif dan pelanggan setia, keinginan mengembangkannya lebih besar pun muncul.

Ya, kami ingin mengembangkan IDOLA MAMA HOMEMADE agar bisa menjangkau lebih banyak pelanggan. Dan untuk itu, maka beberapa hal yang perlu dilakukan adalah:
  • Melakukan diversifikasi produk, sehingga konsumen tidak bosan dan memiliki banyak pilihan akan makanan sehat yang praktis disajikan.
  • Menemukan supplier bahan baku dengan harga yang bersaing, sehingga dapat menghemat biaya produksi dan memaksimalkan keuntungan.
  • Menambah peralatan, sehingga lebih menghemat waktu pengolahan, sehingga kapasitas produksi pun meningkat. 
  • Memiliki tempat berjualan dengan lokasi dan jam operasi yang cukup permanen untuk bisa mendaftar pada provider ojek online, sehingga dapat menjangkau pelanggan yang lebih luas.
  • Mempunyai asisten khusus yang bertanggung-jawab untuk membantu proses produksi, mengelola pemasaran (menunggu tempat usaha), serta menangani konsumen online maupun offline.
Nah, berkaitan dengan pencarian bahan baku dengan harga bersaing dan penambahan peralatan, baru-baru ini saya baru tahu bahwa ada lho solusinya secara online! Selama ini kan saya terkendala waktu untuk bisa survey ke beberapa tempat untuk membandingkan harga beberapa barang, ternyata, saya baru tahu bahwa (semacam) tempat kulakan online bernama Ralali.com. Istilahnya B2B marketplace, yaitu marketplace yang dikhususkan untuk transaksi Business to Business (B2B), jadi tempat khusus untuk mencari berbagai bahan baku atau peralatan secara grosir dengan harga yang bersaing untuk keperluan usaha. 

Namanya bisnis rumahan yang baru dirintis, kami belum bisa sih beli bahan dalam skala grosir untuk dapat potongan harga. Jadi, biasanya untuk mendapatkan harga bahan yang cukup miring, kan saya harus berburu promo ke berbagai toko, yang notabene jauh dan menghabiskan waktu juga. Jadi ya, konsep seperti ini memang solutif banget!

Mengenai kredibilitasnya, pun tidak perlu diragukan lagi, karena ternyata marketplace ini sudah hadir sejak tahun 2014 dan terus berkembang hingga menerima berbagai penghargaan sampai saat ini. Di antaranya sebagai pemenang Indonesia Rice Bowl Startup Awards dalam kategori Best Business Automation Tools 2018! Dasar saya aja yang baru mulai belajar bisnis ya, jadi belum kenal konsep begini.


Beberapa waktu yang lalu, dalam rangka menambah varian produk, saya sempat mampir juga ke website-nya untuk mendapatkan bahan baku dengan harga yang lebih masuk akal. Secara, sebelumnya, saya sempat beli ke supermarket dan dibuat kecewa karena promo salah satu bahan, yaitu keju, ternyata sudah berakhir dan harga satuannya menjadi lumayan tinggi.

Dan yuhu! Di sini, ternyata harganya lebih miring, lebih masuk akal lah buat diolah dan dijual lagi. Jaman sekarang memang luar biasa perkembangan teknologi ya, membangun sebuah usaha jadi jauh lebih mudah dan ga serumit bayangan saya sebelumnya. Saya jadi makin optimis, bisa membesarkan bisnis ini di tengah sempitnya waktu yang saya miliki.

Soalnya survey dan berbelanja bahan baku di sini benar-benar super hemat waktu, beneran sesimpel kaya belanja online biasa, hanya bedanya harganya grosir. Tinggal ketik barang yang kita cari di kolom 'search', selanjutnya akan muncul berbagai pilihan dari mitra yang ada. Oh ya, kalau misalnya ada pertanyaan pun bisa langsung chat dengan mitra, misalnya terkait pengiriman dan sebagainya. Super helpfull lah pokoknya…


Habis itu, langsung deh cari aplikasinya di App Store supaya bisa lebih praktis cek-cek bahan lain pas ada waktu luang. 

Kalau bisa sih, semua selain bahan segar beli online aja deh, supaya ga repot lagi, waktu bisa dipake buat yang lain-lain kan. Bisa buat coba resep baru, bisa buat handling socmed-nya Idola Mama Homemade, dan sebagainya; karena ya PR-nya Idola Mama Homemade masih banyak banget…

***

Dan, demikian lah cerita singkat saya tentang proyek 'IDOLA MAMA HOMEMADE' yang sedang saya geluti saat ini. Yang awalnya bisa dibilang tidak terlalu serius direncanakan, tapi pada akhirnya menjadi sangat exciting, karena menyadari bahwa dari sini tidak hanya persoalan materi yang saya dapatkan. Tapi juga rasa puas karena membantu banyak keluarga memperoleh makan sehat di tengah keterbatasan waktu dan tenaga yang dimiliki. 

Itu juga yang membuat saya bersemangat mengembangkannya menjadi lebih besar lagi, karena itu sama dengan lebih banyak keluarga yang mendapatkan makanan sehat seperti yang saya berikan untuk anak dan keluarga saya.


Begitu kira-kira teman-teman… Mohon doanya untuk IDOLA MAMA HOMEMADE ya… Semoga bisa berkembang lebih besar lagi dan menjadi solusi makanan sehat bagi lebih banyak keluarga. Amiin.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, February 7, 2019

Jumat Sehat Bersama Tumpeng Enak Lampung

Hari Jumat, di berbagai kantor memang identik dengan hari bebas ya… Lebih santai sih tepatnya, karena di Hari Jumat biasanya berbagai instansi akan mengadakan kegiatan di luar rutinitas kantor, misalnya seperti bekerja bakti membersihkan lingkungan, senam pagi bersama, jalan santai di lingkungan kantor, atau pun 'Tea Morning'. Sesuatu yang bagus sekali menurut saya; karena selain berperan aktif dalam menjaga kesehatan, kebersihan atau efektifitas komunikasi antar pegawai dengan manajemen; berbagai kegiatan ini pun merupakan sarana melepas kepenatan dari berbagai rutinitas kerja.

Di kantor kami sendiri, kegiatan setiap Jumat pun sebisa mungkin divariasikan agar tidak membosankan memperoleh manfaat yang maksimal. Seperti halnya Jumat 11 Januari 2019 lalu, dimana kami mengadakan acara dengan tajuk "Friday is a Healthy Day" sebagaimana instruksi dari Unit Induk kami.

Untuk acara ini, kami telah merancang berbagai kegiatan, di antaranya senam pagi bersama dilanjutkan dengan sarapan bersama, sosialisasi mengenai program perusahaan dan pembagian doorprize kecil untuk memeriahkan suasana.

***

Sesuai jadwal, pukul 7:00 pegawai sudah berdatangan ke kantor dengan menggunakan baju olah-raga masing-masing. Dan sekitar pukul 7:20 pun acara dimulai dengan senam pagi bersama dipandu instruktur yang berbeda dari sebelumnya… 

Untuk instruktur senam memang sebisa mungkin berubah tiap acara, supaya tidak membosankan, dan ndilalahnya instruktur hari itu benar-benar baru plus gerakan-gerakannya ga seperti biasanya, jadi kami cukup excited.


Ya, gimana ga excited coba, ini instruktur ngajakin kami senam muka plus totok wajah juga… Padahal doi kan cowok, gayanya juga maskulin abis, ya lucu aja sih menurut saya… 😂 Ditambah lagi kemudian ada sesi tanya jawab kesehatan, yang… yah, boleh lah… Lumayan memberi kami pencerahan tentang kesehatan dari sisi (sebut saja) atlet senam.

Ini nih senam muka yang lumayan bikin heboh itu…

Setelah senam dan konsultasi kesehatan selesai, kemudian kami pun beralih ke acara selanjutnya, yaitu sarapan pagi bersama dan sosialisasi beberapa program perusahaan oleh manajemen.

Ada dua program perusahaan yang disampaikan oleh manajemen kali, yaitu pertama adalah mengenai Quantum Leap PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan berkaitan dengan Asset Management oleh Manager Unit Pelaksana Pembangkitan (UPDK) Bandar Lampung. Dan kedua adalah launching dan sosialisasi penggunaan tumbler menggantikan botol kemasan plastik untuk mengurangi sampah plastik.


Jadi, PLN pun sejak Januari 2019 kemarin secara bertahap melakukan program pengurangan sampah plastik melalui beberapa program, salah satunya adalah penggunaan tumbler ini. Pada awal implementasi program, tentu kami pun belum bisa menghilangkan sepenuhnya kebiasaan menggunakan kemasan plastik, tapi kami berkomitmen untuk terus melakukan pengurangan semaksimal mungkin.

Oh ya, dan yang tidak bisa ditinggalkan dari kegiatan ini sesungguhnya adalah menu sarapannya! Yes, sarapan kali ini kami memesan bento nasi tumpeng dari Tumpeng Enak Bandar Lampung. Ini kali kedua sih, kami menggunakan nasi kuning sebagai jamuan, sebelumnya pernah juga tapi dalam bentuk Tumpeng Mini (Tumini).


Seperti biasa, menu Tumpeng Enak selalu menimbulkan excitement tersendiri! Bentuknya itu lho, sangat menggugah selera! Dan jangan lupakan juga rasanya yang enak banget… Pokoknya menu ini selalu berhasil bikin teman-teman sekantor penasaran pesennya dimana, karena memang dia cocok banget digunakan untuk acara-acara spesial.

Dalam satu paket Tumpeng Mini atau Bento Nasi Kuning, juga telah diberikan stiker yang desainnya menyesuaikan request kita. Gimana ga spesial coba…


Seperti biasa, pelayanan Mbak Pipit owner Tumpeng Enak pun sangat-sangat memuaskan… Huhu, seperti biasa, kami ini sukanya dadakan kalo ada acara, dan alhamdulillah pesanan kami masih bisa di-handle oleh Mbak Pipit dan tim, padahal kami pesannya H-2…

Karena terburu-buru ini pula, kami tidak sempat meminta kemasan dikonvert ke bahan lain selain plastik, huhu… Tapi, gapapa, it's OK don't be sad… belajar dari kekurangan hari itu, next time kami ga adain acara dadakan-dadakan lagi deh… Insyaallah…

Oh ya, emang nasi kuning itu sehatkah? Ini acaranya kan Jumat Sehat, haha… 😀

Hmm, dari sisi nutrisi, ya tidak diragukan lagi menunya Tumpeng Enak ini bisa dipastikan sehat ya… Karena di dalamnya ada juga urap dan ayam goreng yang notabene adalah sumber mineral dan protein. Paling yang perlu dijaga adalah karbohidrat dari nasi kuningnya sih, karena kan dia pakai santan ya… Kebutuhan kalori tiap orang sih beda, jadi ya harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sih. 

Kalau saya sendiri, sebagai penganut sarapan pagi buah, yah, ini disimpen dulu buat makan siang, hehe… Ya makanan enak ini, sayang bangetlah kalo ga dimakan kan… **Ga mau banget rugi…**

Oh ya, kalau mau pesen Tumpeng Enak juga, bisa cek Instagram mereka @tumpeng.enak ya…

***

Ya gitu deh, acara kami Jumat kemarin itu… Saya pribadi sebagai salah satu yang bertugas sebagai (sebut saja) panitia, puas banget dengan keseluruhan acaranya. Semua terlihat bahagia dan kegiatan pun berjalan dengan sangat lancar.

Nah, kalo di tempat teman-teman sendiri, Jumat pagi biasanya ada acara apaan nih? Share dong… 

With Love,
Nian Astiningrum
-end-