SOCIAL MEDIA

search

Tuesday, September 10, 2019

Wisata Bersama Anak ke Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta

Baiklah… seperti yang (mungkin) teman-teman tau, ini sebenarnya cerita lama… Judulnya sudah mengendap di draft lebih dari sebulan, tapi baru hari ini deh bisa dieksekusi. Hehe… Permasalahan klise emak-emak lah, super rempong dengan printilan family things, nulis blog gini harus niat banget ngadain waktu, baru deh kesampaian… Maaf, jadi curhat… 😅

OK… OK… kembali ke judul ya…

Jadi, sehari pasca Hari Raya Idul Fitri kemarin, saya dan anak-anak akhirnya bertandang ke Jogja untuk liburan. Liburan yang agak di luar rencana sebenarnya, karena sedari awal saya dan suami sepakat untuk stay di Lampung saja pada saat libur Lebaran dengan pertimbangan toko kue yang baru kami buka masih butuh pengawasan.

Namun, apa boleh buat… anak-anak ribut bener kenapa liburan ga kemana-mana, kapan ke rumah simbah dan sebangsanya… Kami pun memutuskan untuk liburan ke tempat simbah anak-anak bertiga saja; saya dan anak-anak.

Dan karena cuma bertiga, maka opsi yang dipilih ke Jogja tempat orang tua saya, bukan Probolinggo tempat mertua. Perjalanan ke Jogja yang hanya satu kali pesawat dan satu jam saja perjalanan darat dari bandara ke rumah… Jauh lebih ringan dari pada ke Probolinggo yang harus transit pesawat dan perjalanan darat dari bandara ke rumah masih sekitar empat jam. Sungguh tak sanggup rasanya saya sendirian membawa dua bocah tengil nan lasak itu…

Lalu… di Jogja kemana aja?

Hmm, di hari pertama jalan-jalan, saya memilih mengajak anak-anak ke Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta.

Alasan pertama sih karena dua anak laki-laki saya ini hobi kegiatan fisik, petualangan dan penuh imajinasi… Jadi 'hutan' rasanya akan menjadi tempat yang penuh excitement bagi mereka. Biasanya kan mereka hanya mendengar gambaran hutan dari cerita kancil dan binatang kawan-kawannya, sekarang saatnya mereka tahu secara langsung rumah hewan-hewan dalam cerita ini. Yah, walaupun mereka ga akan benar-benar ketemu kancil disini sih…

Alasan kedua, mengenai budget… Yap, bayangannya sih berwisata kesini akan mensukseskan program penghematan yang saya canangkan… Tapi, benarkah demikian? Mari kita lanjutkan cerita jalan-jalan kami ke Hutan Pinus Mangunan ini…

Transport

Karena tidak ada mobil pribadi, kami pun memutuskan menggunakan jasa Grab Car sesuai rekomendasi adik saya… Ya, saya sih percaya saja, secara dia pasti lebih tahu perkembangan Jogja daripada saya yang sudah hengkang sejak sepuluh tahun lalu bukan. Yang, hmm, ternyata dalam kasus saya, terlalu percaya itu tidak baik… haha…

Driver Grab bisa sih mengantar sampai Hutan Pinus Mangunan, tapi menurutnya di atas akan sulit untuk mendapatkan mobil turun… Jadi, dia menawarkan untuk offline saja untuk perjalanan pulangnya. Untung abang drivernya nawarin, kalo enggak, bisa terlunta-lunta kami mau pulang kan…

Sang driver juga menyarankan supaya lain kali menggunakan opsi Grab Rent saja untuk keperluan wisata seperti ini… lebih nyaman karena tidak perlu cari ojol berkali-kali untuk pindah lokasi dan juga lebih ekonomis dibandingkan menggunakan rental mobil konvensional.

Untuk tarif Grab Rent dalam kota sendiri adalah 250K (4 jam), 350K (6 jam), dan 450K (8 jam). Sedangkan untuk tarif luar kota, Grab mematok harga 750K untuk 12 jam. Silakan dinilai, apakah ini memang lebih ekonomis, soalnya, saya sendiri belum pernah memesan rental mobil konvensional… alias yang mesenin selalu suami, hihi… *Dasar istri manja*

Kami sendiri untuk berangkat terkena tarif 150K karena memang lokasi cukup jauh, dan selanjutnya sampai di lokasi kami dikenakan tarif 350K untuk 6 jam selanjutnya. Jadi, setelah sampai puncak, driver pun stand by untuk mengantar kami ke lokasi-lokasi lain selama 6 jam.

Oh ya, mengenai jalan yang kami lalui… medan menuju Hutan Pinus Mangunan ternyata cukup menantang. Banyak tanjakan, turunan, belokan, dan kombinasi dua diantaranya. Jadi, kalau menurut saya sih, kalau driving skill teman-teman belum terlalu baik alias masih belajar, mending memang menggunakan jasa driver saja.

Wisata yang Tersedia

Saya pikir, Hutan Pinus Mangunan itu hanya satu tempat wisata. Tapi ternyata saya salah, di sini ada beberapa tempat wisata yang dikelola terpisah, dalam artian tiket masuknya berbeda dan lokasinya cukup berjauhan kalau ditempuh jalan kaki. Thanks God, tadi abang Grab-nya nyaranin offline sama dia, jadi kami bisa datangin lokasi lainnya tanpa ribet.

Nah, pertama, kami sepakat untuk mencapai lokasi wisata yang paling atas dulu, jadi, setelahnya kami tinggal turun. Sesuai dengan prinsip 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian' lah pokoknya. Kami pilih yang perlu lebih banyak usaha dulu…

Kawasan Hutan Pinus Dlingo

First stop alias tempat yang paling tinggi tadi dinamakan 'Kawasan Hutan Pinus Dlingo'…


Di sini, seperti yang saya bayangkan lah… ya hutan pinus gitu… sebuah area yang cukup berbukit-bukit dan ditumbuhi banyak pohon pinus. Dan as predicted kemudian anak-anak pun asyik mengumpulkan bunga pinus yang berjatuhan, hahaha… ga sia-sia jadinya bawa kresek gede. Meskipun akhirnya kegiatan mengumpulkan bunga pinus ini menjadi ajang kompetisi oleh anak-anak, dan kami bertiga (saya dan dua adik saya) pun harus ikhlas membantu mereka mengumpulkan bunga pinus. Hadeeeh…


Tapi, meskipun riweuh dengan permintaan anak-anak, tetep lah saya sempet untuk ambil beberapa foto dan main bunga tiup-tiup… *Itu lho, bunga rumput yang kalau ditiup akan beterbangan*

Kemudian… setelah sekian lama muter-muter dengan membawa kresek, akhirnya, kami pun berhasil membujuk anak-anak untuk menyudahi kompetisi mengumpulkan bunga pinus ini dan berpindah ke lokasi berikutnya.

Oh ya, tapi sebelumnya, sambil menunggu driver dari tempat parkir, kami sempat beli bakso tusuk di pinggir jalan, yang rasanya lumayan enak dan harganya juga murah, cuma 10K satu porsi.

Jadi, di pinggir jalan dekat parkir itu ada sebuah area terbuka yang ga terlalu luas, dan di sanalah banyak pedagang makanan. Mulai dari bakso tusuk, siomay, dan apa lagi ya… saya lupa, saking riweuhnya sama anak-anak 😅. Intinya, urusan perut, tidak perlu dikhawatirkan… Ada kok jualan makanan dengan harga yang relatif terjangkau di sekitar lokasi, meski pilihannya memang tidak terlalu banyak.

Seribu Batu Songgo Langit

Dan… pemberhentian selanjutnya adalah Kawasan Seribu Batu Songgo Langit…


Kenapa disebut seperti itu, tampaknya karena di area ini memang banyak sekali batu besar (dan juga kecil), lebih mendominasi dibandingkan pohon pinusnya. Selain juga bangunan-bangunan unik yang disebut rumah hobbit dan juga wahana flying fox melintasi bebatuan.



Jadi, yang bisa kita lakukan di sini adalah (tentu saja) jalan-jalan menikmati pemandangan yang begitu alami dan hijau, mengambil foto di tempat-tempat yang unik, dan tentu saja main flying fox

Bayar permainan flyng fox-nya juga ga mahal kok, cuma Rp. 15.000,- satu kali angkut yang berat maksimalnya 180 kg. Jadi kalo anak-anak takut sendirian, bisa tandem sama orang-tua atau orang dewasa lainnya. Karena tidak ada batasan umur dalam wahana ini, asalkan berani akan diangkut…

Di sini, karena sudah terlalu capek, kami tidak mengeksplore seluruh area yang ada… benar-benar cuma jalan-jalan menuju tempat pemberhentian flying fox untuk menunggu Ganesh yang meluncur dari tebing seberang.


Budgetary

Biaya di kawasan wisata ini sebenarnya sangat terjangkau. Tiket masuk masing-masing area hanya Rp. 3.000,- saja, tiket flying fox hanya Rp. 15.000,- saja setiap kali main, dan jajanan di sekitar area juga cukup terjangkau.

Adapun yang sebenarnya cukup menguras kantong itu sebenarnya transport menunju ke lokasi. Sebenarnya kalau punya kendaraan sendiri dan driver yang handal, selesai sih permasalahan… Tapi, jika tidak, ya harus menyiapkan budget sendiri untuk menyewa mobil, baik konvensional maupun online, karena jika tidak diminta menunggu ya kita bakalan repot kalau mau pindah lokasi atau pulang… secara di atas tidak ada kendaraan umum dan ojek online pun kabarnya sulit ditemukan.

Ya kalau lagi beruntung, bisa jadi bisa dapet karena ada ojol yang habis ngedrop penumpang terus nyangkut ke kita sih… Tapi, ya tentu kita ga mau gambling lah ya…

Nah, sebagai gambaran, budget yang diperlukan untuk menyewa mobil via Grab Rent itu sekitar 250K (4 jam), 350K (6 jam), dan 450K (8 jam). Beda lagi dengan sewa mobil konvensional ya… bisa jadi lebih mahal atau lebih murah tergantung dengan tipe mobilnya.

Kesimpulan

Over all, saya dan anak-anak suka sekali tempat wisata ini… Anak-anak super excited dengan wisata alam yang disajikan di sini; berjalan menyusuri hutan pinus, mengumpulkan bunga pinus, mencari dan bermain dengan bunga tiup-tiup, sampai main flying fox.

Next time ke Jogja, kayaknya bakalan ke sini lah pokoknya… Masih banyak area-area, terutama di Seribu Batu Songgo Langit yang belum kami jelajahi. Dan nanti kalau kesini lagi, saya pastikan deh pakai sneakers yang nyaman, karena kemarin itu pakai loafer, rasanya masih kurang nyaman karena medannya yang memang cukup berat.

Dan satu lagi… harus pakai celana, biar bisa manjat-manjat ke rumah pohon yang dibuat untuk tempat berfoto.

***

Yap, kurang lebih seperti itu cerita saya bersama anak-anak bertandang ke kawasan Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta beberapa waktu lalu. Semoga bermanfaat untuk teman-teman semua ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, September 3, 2019

Two Days Staycation di Hotel Radisson Bandar Lampung

"Mama, kapan sih kita berenang?" tanya Ganesh berkali-kali… Yang berkali-kali juga saya jawab, "Nanti ya Anesh, nunggu Papa… soalnya Mama itu ga bisa berenang, kalo nanti Anesh kenapa-kenapa Mama ga bisa nolongin…"

Yup, ini adalah tahun kedua Ganesh ikut ekskul renang di sekolahnya, dan beberapa kali dia bercerita kalau dia sudah bisa berenang, sudah bisa tiduran di air, atau menahan napas di dalam air sampai 100 detik. Itu kenapa dia ingin sekali kami menyaksikan kemampuan barunya ini. Dan sedihnya, kami belum bisa mewujudkan keinginan Ganesh ini dengan dalih kesibukan… teman-teman tahulah yang sibuk siapa dari cerita saya ya…

Hingga, akhirnya kemarin, sekitar sebulan setelah pertama kali request Ganesh, rencana untuk berenang pun terealisasi, lengkap dengan bonusnya… Yeay, suami ngajak staycation sehari di Hotel Radisson Bandar Lampung!

About The Hotel

Hotel Radisson Bandar Lampung yang baru soft launching pada tanggal 2 Mei 2018 ini terletak di daerah Kedaton, tepat di sebelah Mall Boemi Kedaton, yang notabene adalah salah satu dari dua mall terbesar di Lampung.

Mengenai fasilitas, yah, tidak diragukan lagi ya… dengan label bintang empat bertaraf internasionalnya; hotel ini dilengkapi dengan kolam renang, restaurant, Ballroom, Settings Room, Fitnes Center, Sky bar, dan sebagainya. Jadi, bisa dibilang ini hotel yang sangat ideal untuk staycation alias males-malesan ngendon di hotel ya…

Mau santai di kamar hayuk, mau berenang atau olah-raga bisa, mau window shopping ke mall juga tinggal jalan kaki aja karena emang ada connecting-nya.

The Room


Karena ini di Lampung, interior di setiap kamar bernuansa khas kain tapis dengan warna yang berbeda-beda.

Kok tahu kalau warnanya beda-beda, yah karena di hari kedua kami sempat pindah kamar karena lantai tempat kami menginap akan di fogging.

Nah, di kamar pertama, tapisnya warna biru seperti di atas… Sedang di hari kedua, warna tapisnya orange.

Saya pribadi suka banget sih dengan konsep interior kamar terutama sofa besar yang cukup luas untuk dijadikan tempat tidur… Maklum ya, soalnya kami berempat, jadinya tempat tidur ukuran king pun masih kurang luas…

Dan juga lighting-nya… Jadi, di setiap titik-titik strategis, seperti meja kerja dan tempat tidur (bagian kepala) itu ada lampu sorot dari atas yang berguna untuk memudahkan membaca atau bekerja, meskipun orang-orang sudah mau tidur dan lampu utama sudah dimatikan.

Untuk kebersihan, sudah tidak perlu komentar ya… untuk kelas hotel bintang empat, kebersihan sudah pasti menjadi perhatian, ditambah hotel ini masih sangat baru, tak ada komplain sama sekali tentang kebersihan.



Restaurant


OK, sebenarnya ini bukan lah pengalaman pertama kami… Pada saat Bulan Ramadhan bulan Juni lalu, kami pernah mengundang teman-teman untuk buka puasa bersama sekaligus acara farewell suami yang pindah dari tempat kerjanya. Secara baru saja dibuka, jadi waktu itu masih ada diskon lumayan yang bisa dimanfaatkan… jadi, kenapa tidak kan…

Dan sebagaimana pengalaman kami sebelumnya, over all kami cukup puas dengan pelayanan dan (terutama) hidangan yang disajikan di restaurant Hotel Radisson Lampung ini. Makanannya enak dan variasinya pun banyak.

Untuk sarapan, beberapa menu yang sempat saya amati adalah masakan dasar Indonesia (nasi putih, nasi goreng, ayam sambel, dendeng sapi, dan sebagainya), roti dan pastry, buah-buahan, serta yang paling terlihat bling-bling itu adalah counter dimsum, steam boat dan bakpao… Sebagaimana hotel-hotel berbintang lain pun memiliki ciri khas tersendiri, tampaknya counter ini adalah ciri khas dari Hotel Radisson Bandar Lampung ini.

Mengenai rasanya, menurut subjektif saya sih enak… saya suka baksonya yang lembut serta bakpaonya yang empuk dan disajikan hangat.




Lobby Bar and Lounge


Hihi, kalo bagian ini, saya ga bisa komentar banyak soalnya cuma liat sembari nunggu suami yang baru mau nyusul.

Yang jelas, kalau dari sisi visual sih kelihatan sangat klasik dan nyaman sekali… Cocok untuk tempat nongkrong dan ngobrol dengan teman sejawat.

Kolam Renang


Ini nih tujuan utama kami… berenang! Dan alhamdulillah, kolam renangnya cukup memuaskan…

Konsepnya memang bukan yang wow banget macam di roof top atau gimana gitu sih… tapi tempatnya cukup nyaman dan child friendly kok. Tuh, liat kan ada pancuran bentuk jamur di area kolam renang pendek yang diperuntukkan untuk anak-anak.

Dan dengan setting kolam renang yang seperti ini, saya jadi tidak terlalu was-was sih membawa anak umur 4 tahun dan 8 tahun sekaligus. Si Adik bahagia main air di kolam renang yang dangkal, sementara sang Kakak heboh berenang di kolam renang yang dalam… Yah, di pinggirannya aja sih, soalnya saya takut dia kenapa-kenapa, berhubung saya tidak bisa berenang.

Tapi, setelah paginya anak-anak berenang dengan papanya, baru saya tahu, ternyata Ganesh memang belum berani berenang jauh ke tengah, hahaha… "But. it's OK, little by little Anesh… Sekarang otak bagian atas Anesh masih dibajak sama otak bagian bawah, kita sama-sama bantu otak bagian atas mengendalikan otak bagian bawah Anesh ya…"

Bingung kita ngobrolin apa… boleh baca post di bawah ini…

Baca juga:


Yess… mission complete… Misi Ganesh untuk berenang dan Mahesh untuk main air beres, misi mamanya untuk santai sejenak tanpa mikirin rumah berantakan dan masak tuntas, dan papanya pun bisa nyambi kerja sembari kami liburan. Hehe… yah gitu deh, kadang memang hidup itu harus serba berstrategi kan supaya banyak yang bisa dibereskan dan diselesaikan…

Daan… kembali ke Hotel Radisson Bandar Lampung, kami sih puas banget… Nanti-nanti kalo ada promo lagi, pengen deh liburan kesini lagi. Tapi, tentunya juga tidak dalam waktu dekat lah, nanti jadi males balik ke dunia nyata kalo kebanyakan liburan…

Yah, itu sih saya… hihi… kelamaan santai biasanya terus butuh waktu buat tune in lagi ngurusin keriweuhan sehari-hari.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-