SOCIAL MEDIA

search

Monday, June 17, 2019

The Whole-Brain Child #3: Melatih Anak untuk Membuat Keputusan yang Baik

Whoa… akhirnya… meski lambat, saya bisa juga menyelesaikan bab tiga Buku 'The Whole-Brain Child' yang keren ini!

Boleh dong, sedikit berbangga diri pada komitmen saya sejauh ini… Karena jujur saja, kecuali novel dan artikel di internet yang secuil, membaca adalah sesuatu yang cukup effortfull bagi saya. Haha…


OK, back to this chapter sebelum bleber kemana-mana… Now let's get a little bit serious and talk about this book

***

Jadi, pada bab sebelumnya kita sudah membahas tentang integrasi antara otak kanan dan otak kiri, maka pada bab tiga ini kita akan membahas tentang integrasi antara otak bagian bawah dan otak bagian bawah… Yang dianalogikan sebagai upaya untuk membangun tangga penghubung otak bagian bawah dan otak bagian atas.
Otak bagian bawah meliputi batang otak dan area limbik (yang bertanggung-jawab pada fungsi dasar (seperti bernapas dan berkedip), pada rekasi dan impuls (seperti berkelahi atau berlari), dan untuk emosi yang kuat (seperti marah dan takut).
Yup, otak bagian bawah lebih bertugas meng-handle reaksi-reaksi spontan yang diperlukan cepat untuk menyelamatkan diri. Misalnya, lari pada saat liat ular. Jadi tanpa berpikir panjang, "Oh itu ular, bisa menggigit dan mengeluarkan racun, kita bisa sekarat dibuatnya, jadi harus lari nih!" Kalau kaya gini sih, mau lari jangan-jangan sudah terlambat.

Yess, tidak terbantahkan kalau peran otak bagian bawah ini begitu penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Akan tetapi, akan jadi beda ceritanya kalau settingnya juga berbeda… Coba bayangkan kejadian ini: Suatu hari seseorang tidak sengaja menyerempet mobil kita yang sedang parkir di pinggir jalan, terus langsung deh otak bagian bawah bereaksi dan kita langsung memukul orang itu… itu kan ga bener.

Dalam kasus seperti itu, sudah selayaknya kita berpikir panjang terlebih dahulu… Apakah kita yang salah karena parkir tidak pada tempatnya? Bisakah dibicarakan dan diselesaikan secara kekeluargaan? Atau bahkan memang harus dibawa ke jalur hukum jika tidak menemukan jalan keluar.

Nah, inilah fungsi dari otak bagian yang terdiri dari cerebral cortex dan komponen-komponen lainnya…
Otak bagian atas lebih berkembang dan canggih, sehingga bisa memberikan kita perspektif yang lebih lengkap. Otak bagian atas bertanggung-jawab dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, pengendalian emosi dan tubuh, pemahaman diri, empati, serta moralitas.
Itu kenapa, kita perlu mengintegrasikan otak bagian bawah dan otak bagian atas… Terutama bagi anak-anak, karena disaat otak bagian bawah manusia telah berkembang dengan baik sejak lahir, maka otak bagian atas baru benar-benar matang pada pertengahan usia dua puluhan.

Karena itulah, bukan untuk tujuan supaya anak-anak mampu bersikap dewasa melebihi usianya, kita perlu melatih kemampuan otak bagian atas agar anak-anak mampu mengambil keputusan yang lebih baik.

Dalam keadaan bahaya, kita perlu bertindak sebelum berpikir… Namun, jika kondisi tidak mengancam jiwa, kita perlu berpikir sebelum mengambil keputusan…

Tantrum

Mengenai tantrum, sesungguhnya pun terdapat dua jenis; yaitu tantrum otak bagian bawah dan tantrum otak bagian atas.

Tantrum sebagai hasil pemrosesan otak bagian atas, berarti bahwa anak sepenuhnya menyadari apa yang dilakukannya. Tantrumnya memiliki tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan untuk menghadapi tantrum semacam ini, kita harus tegas dan teguh pendirian untuk tidak memberikan apa yang diinginkannya.

Sementara, tantrum sebagai hasil pemrosesan otak bagian bawah, anak menjadi kecewa dan marah karena tidak mendapatkan hal yang diinginkannya. Ya, tipe tantrum ini sangat kuat muatan emosinya, karena itu respon yang menenangkan akan lebih efektif dan selanjutnya mengarahkan kepada pemahaman yang 'benar'.

Baca juga:

Dan selanjutnya, meneruskan tips dari chapter sebelumnya, berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan berkaitan dengan integrasi otak bagian bawah dan otak bagian atas:

#3: Membujuk, Jangan Membuat Marah

Maksudnya adalah dalam memberikan respon terhadap anak, kita jangan terpancing untuk membuat marah otak bagian bawah, tapi sebisa mungkin membujuk otak bagian atas.

Contoh respon yang disebut membuat marah otak bagian bawah: Pada saat anak kita bilang, "Mama, aku ga mau sekolah!" Kemudian kita jawab, "Kamu harus sekolah supaya pintar! Jangan mikir aneh-aneh deh!"

Contoh respon yang membujuk otak bagian atas: Pada saat anak kita berkata, "Mama, aku ga mau sekolah!" Kemudian kita jawab, "Kenapa? Apa Kakak capek ngerjain PR-nya? Kita bisa kok cari cara supaya ngerjain PR-nya ga terasa terlalu banyak…"

Pada contoh yang kedua, kita mengajak otak bagian atas anak untuk berdiskusi mengenai cara supaya sekolah tidak terasa melelahkan karena mengerjakan PR. Selanjutnya, dalam diskusi kita bisa mengajak anak untuk berpikir logis untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Dimana hal ini akan secara langsung melatih ketrampilan penyelesaian masalah (problem solving) dan pengambilan keputusan (decision making).

#4: Melatih Kemampuan Otak Bagian Atas

Jadi, otak bagian atas itu seperti otot, yang semakin dilatih akan menjadi semakin berkembang, semakin kuat dan dapat berfungsi dengan baik. Dimana hal ini dibutuhkan untuk mengimbangi otak bagian bawah, dan krusial untuk kecerdasaan emosi dan sosial.

Berikut adalah beberapa ketrampilan otak bagian atas yang perlu kita latih…

Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan membutuhkan sesuatu yang disebut fungsi eksekutif, yang terjadi pada saat otak bagian atas menimbang beberapa opsi. Dan untuk melatih kemampuan ini, maka kita perlu memberikan berbagai opsi kepada anak sesuai dengan kapasitasnya.

Misalnya, saat anak masih pra-sekolah diberikan kesempatan untuk memilih akan memakai kaos kaki warna apa. Atau pada saat anak mulai beranjak besar, diberikan kesempatan untuk memutuskan apa yang harus dilakukan pada situasi yang lebih kompleks. Seperti pada saat ulang-tahun temannya memiliki waktu yang bersamaan dengan jadwal pertandingan berenangnya.

Pada dasarnya, melatih kemampuan pengambilan keputusan ini adalah mengajarkan anak kita untuk bergulat dengan keputusannya dan menerima konsekuensi dari keputusan itu.

Mengendalikan Emosi dan Tubuh

Seringkali terjadi, pada saat anak kecewa, maka dia akan melakukan hal-hal fisik yang tidak baik; seperti memukul, menendang, dan sebagainya.

Untuk itu, kita perlu melatih anak untuk mengendalikan emosi dan tubuhnya, yaitu dengan mengajarkan anak untuk berpikir sejenak sebelum melakukan tindakan yang tidak baik. Misalnya dengan mengajarkan mereka untuk menarik napas panjang, atau memukul bantal pada saat merasa marah.

Pemahaman Diri

Salah satu cara untuk mendorong anak memahami dirinya lebih dalam adalah dengan menanyakan hal yang mereka pahami secara mendalam, seperti, "Kenapa Kakak memilih untuk pergi bertanding berenang daripada datang ke ulang-tahun Dio? Kenapa Kakak berpikir kalau tidak bisa mengerjakan soal final test tadi?" dan sebagainya.

Selanjutnya, pada saat anak telah lebih besar dan bisa menulis atau menggambar… Kita pun dapat memberikannya jurnal dan mendorongnya untuk membuat tulisan harian untuk meningkatkan kemampuannya memahami apa yang terjadi dalam dirinya.

Empati

Untuk membantu menumbuhkan empati pada anak, kita dapat melakukannya dengan mengajaknya berpikir dan berdiskusi mengenai hal-hal yang dialami atau dirasakan orang lain.

Misalnya, pada saat berada di pusat perbelanjaan dan melihat seorang anak menangis, "Menurut Kakak… kenapa anak tadi nangis?" Atau pada saat seorang temannya pindah sekolah, "Menurut Kakak, bagaimana perasaan Rena ya… harus pindah sekolah karena Papanya pindah tempat kerja?" dan sebagainya.

Moralitas

Moralitas merupakan muara dari ketiga atribut sebelumnya, yaitu pengambilan keputusan, pemahaman diri dan empati; yaitu perasaan bukan hanya mengenai benar dan salah, tapi juga sesuatu untuk hal yang lebih baik daripada kebutuhan pribadi mereka.

Dan untuk melatihnya, kita bisa melakukannya dengan mengajaknya berpikir mengenai suatu situasi. Misalnya, "Menurut Kakak, pada saat sebuah mobil menerobos lampu merah karena sedang membawa orang sakit itu boleh atau enggak?" dan sebagainya.

Serta tentu saja, kita pun sebagai orang-tua perlu menjadi model bagi anak-anak kita untuk mengajarkan kebaikan, kejujuran, sikap dermawan, dan bagaimana menghormati orang lain.

#5: Menggerakkan Tubuh untuk Meningkatkan Kendali Pikiran

Nah, membaca bagian ini… saya jadi teringat waktunya lagi males mau ngapa-ngapain padahal kerjaan lagi numpuk, dan solusinya itu kadang adalah jalan-jalan bentar, ngulet (menggeliat) dan sejenisnya. Yang somehow itu bisa memecah rasa malas dan lebih bersemangat melakukan hal yang harus dilakukan.

Dan ternyata… yes, teman-teman…
Gerakan tubuh akan mempengaruhi kimia pada otak dan bisa membantu menghubungkan antara otak bagian bawah dan otak bagian atas.
Hal ini senada dengan penelitian yang menyebutkan bahwa pada saat kita merubah kondisi fisik kita (misalnya melalui gerakan atau relaksasi), maka kondisi emosional kita pun akan berubah.

Jadi, pada saat anak perlu menenangkan atau mengendalikan dirinya, kita dapat membantunya dengan mengajaknya bergerak. Misalnya pada saat anak lesu harus mengerjakan PR-nya, kita bisa mengajaknya untuk bermain lompat-lompat dengan lagu 'If You're Happy and You're Know It…' atau bahkan tepuk tangan, perang jempol dan apa saja lah disesuaikan dengan karakter dan kebiasaan anak. Ga ada pagunya, just be creative

***

Yup, itulah intisari dari chapter tiga Buku 'The Whole-Brain Child' ini yang bisa saya tangkap…

Setelah saya membaca pembahasan empat bagian otak (otak kiri, otak kanan, otak bagian atas dan otak bagian bawah), somehow saya jadi berpikir, bahwa kita harus lebih peka dengan perilaku yang anak kita lakukan untuk dapat memberikan respon yang tepat.

Di chapter dua ini, kita misalnya mengenai tantrum saja, kita perlu menganalisa latar belakang perilaku itu. Dan untuk itu, maka kita perlu selalu mengamati untuk mengenali anak kita. Caranya, tentu saja dengan memanfaatkan waktu bersamanya semaksimal mungkin, banyak mengajaknya mengobrol, mencari tahu perilakunya di sekolah, dan banyak lagi. Itu semua adalah modal kita untuk kemudian menganalisa perilaku anak dan mampu memberikan respon yang tepat.

Seru ya teman-teman… Jujur, saya ga sabar meneruskan membaca chapter empat dan membaginya dengan teman-teman semua. Yang tentunya, sebenarnya dalam rangka saya belajar juga sih, hihi…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

2 comments :

  1. Big Thanks, mbak Nian atas sharingnya.. bisa ikut nyicip buku yg bagus.

    ReplyDelete