SOCIAL MEDIA

search

Tuesday, April 23, 2019

The Whole-Brain Child #2: Mengintegrasikan Otak Kanan dan Otak Kiri

Finally… setelah sekian lama, bisa juga menulis review chapter kedua dari buku 'The Whole-Brain Child yang nge-hits itu…

Beberapa teman mungkin tahu, kesibukan yang melanda saya beberapa minggu ini… Dan bagi yang belum tahu, nanti saya bisikin deh di post lainnya… 😁

Udah, itu aja intronya…

***

Pada chapter pertama, kita sudah memahami bahwa sesungguhnya otak manusia itu terdiri dari berbagai bagian dengan fungsinya masing-masing. Dan kondisi psikologis yang ideal atau sehat itu berarti bahwa bagian-bagian otak ini bekerjasama secara terintegrasi untuk merespon suatu keadaan.

Nah, dalam chapter kedua ini, secara spesifik dibahas mengenai integrasi dua belahan otak manusia, yaitu otak kiri dan otak kanan.
Otak kiri adalah bagian otak yang logis, literal, linguistik dan linear; sedangkan otak kanan adalah bagian otak holistik dan nonverbal (mengirimkan dan menerima sinyal berupa ekspresi wajah, kontak mata, nada suara, gesture, dan sebagainya), serta memiliki spesialisasi pada emosi dan memori personal. 
Kalau kita orang dewasa mungkin bisa mencontohkan tidak sinkronnya otak kanan dan otak kiri pada saat patah hati, dimana otak kiri meminta kita untuk move on, tapi otak kanan merengek masih cinta. Kalau anak-anak, mungkin bisa dicontohkan antara keinginan otak kanan untuk main, sementara otak kiri merasa harus mengerjakan PR.


Disintegrasi antara otak kanan dan otak kiri bisa muncul dalam kondisi dimana peran otak kanan dan kiri tidak sejalan, baik sama-sama kuat, maupun salah satu di antaranya ditekan atau bahkan terjadi penyangkalan (denial) pada salah satu aspek (sebut saja emosi dan logika).

Contoh konkret kejadian semacam ini adalah pada saat anak-anak yang tantrum minta es krim, padahal sudah diberi tahu bahwa dia tidak boleh makan es krim karena sedang sakit. Yes, anak-anak memang masih begitu dominan belahan otak kanannya, sehingga kejadian tantrum memang seringkali terjadi.

Sedangkan contoh lainnya adalah pada saat seorang anak yang lebih dewasa yang sedang bertengkar dengan sahabatnya, dan kemudian berkata, "Aku tidak peduli jika kami tidak pernah berbicara lagi, aku benar dan dia salah…" Dimana hal ini adalah salah satu kasus penyangkalan atas perasaan atau emosi yang dirasakannya.

Kondisi disintegrasi antara otak kanan dan otak kiri tentu berdampak pada ketidakstabilan kondisi psikis anak dalam level yang berbeda-beda (ringan maupun berat), dan ini tentu adalah kondisi yang tidak baik baginya. Untuk itu, sebisa mungkin, kita sebagai orang-tua mengupayakan agar anak-anak kita mampu mengintegrasikan kedua bagian otak ini.

Dan berikut adalah beberapa trik yang bisa dilakukan orang-tua atau pendidik untuk mengintegrasikan otak kanan dan kiri seorang anak:

#1: Menghubungkan dan Mengarahkan: Membantu Anak Merasakan Emosinya

Saat saya menginjak remaja, saya mendadak mempunyai sebuah jerawat yang literally ukurannya seperti 10 jerawat yang menjadi satu. Saat itu, takut anak gadisnya merasa minder dan tidak percaya diri, ayah saya pun selalu berkata, "Udah, ga usah dipikirin (itu jerawat)… Cuek aja… Anggap ga ada apa-apa… Yang penting tetep percaya diri…"

And guess what, ini justru membuat saya mengalami 'kebingungan' yang rasanya sangat tidak nyaman… Saya berusaha menyangkal perasaan tidak nyaman harus berinteraksi dengan orang-orang, sementara merasa bahwa mereka memandang aneh jerawat saya; tapi ya tidak semudah itu. Dan hasilnya adalah saya tetap tidak bisa merasa nyaman saat berinteraksi dengan orang di sekitar saya, bahkan rasanya 'menyakitkan'… Ada kalanya saya kemudian menangis saat sendirian karena begitu merasa tidak nyaman.

Saya tentu bukan satu-satunya anak yang mengalami kejadian semacam ini, kasus-kasus anak-anak diarahkan untuk berpikir rasional dan mengabaikan emosi yang dirasakannya adalah hal yang sangat sering terjadi.

"Mama, aku males ngerjain PR…" Lalu kita jawab, "Ayo semangat! Harus tetap dikerjain Kakak… nanti ga naik kelas lho…"

Atau…

"Mama, aku bosen sekolah… aku ga usah sekolah ya…" Lalu kita jawab, "Kalo ga sekolah, Kakak nanti mau jadi apa? Katanya mau jadi engineer?"

Dan sebagainya…

Itu adalah contoh-contoh praktik dimana kita berusaha mem-by-pass emosi anak menuju jalur rasionalitas untuk mendapatkan perilaku yang kita inginkan; anak menjadi percaya diri, anak menjadi mau mengerjakan PR atau tetap berangkat ke sekolah.

Sesuatu yang ternyata tidak lah tepat dilakukan…

Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk membantu anak-anak pada saat-saat seperti itu adalah dengan membantu mereka menyadari emosi/perasaan yang dialaminya, baru kemudian menyampaikan aspek-aspek rasional dari kejadian tertentu untuk membantu mereka mengintegrasikan antara aspek emosi dan rasional… otak kanan dan otak kiri.

Jadi, berdasarkan contoh kasus di atas, alternatif respon kita sebagai orang-tua yang lebih baik adalah sebagai berikut:

"Mama, aku malu keluar rumah dengan jerawat segede ini…" Kita jawab, "Iya, Mama tau kamu pasti ga nyaman banget bertemu teman-temanmu dengan jerawat sebesar itu… Iya kan? Rasanya kaya orang-orang ngeliatin kita terus dan bertanya dalam hati soal jerawat itu kan?"

Biarkan anak menceritakan perasaannya, kita berikan empati agar anak berdamai dengan emosinya, baru kemudian menyampaikan sisi rasional… "Kakak, ada kalanya kita tidak merasa nyaman karena sesuatu, it's OK, ini manusiawi kok… Tapi, kita tetap harus berusaha memilah saat dimana kita harus tetap melangkah meskipun tidak merasa nyaman… Seperti yang Kakak alami, meskipun Kakak merasa tidak nyaman bersama teman-teman, tapi Kakak juga tau kan menghindar itu bukan hal yang baik… Kakak tetap perlu pergi ke sekolah dan bahkan bersama teman-teman Kakak, karena sesungguhnya mereka pun peduli pada Kakak…"

"Mama, aku males ngerjain PR…" Kita jawab, "Kadang Mama juga merasa begitu lho Kak… Males mau ngerjain sesuatu, kadang bosen juga… Sekarang apa yang Kakak rasain? Kok males ngerjain PR?"

Kita beri anak kesempatan untuk mengidentifikasi apa yang dirasakannya, baru kemudian memberikan pemahaman dari sisi rasional, "Coba Mama liat, emang PR Kakak masih berapa lagi sih? Kita kerjain bareng-bareng yuk…"

Kurang lebih seperti itu…
Jadi, sebisa mungkin kita mengajak anak untuk menyadari, memahami dan menerima emosi yang dirasakannya… Baru kemudian menyampaikan aspek rasional dari peristiwa tersebut. Connect with the right (brain), then redirect with the left (brain)
#2: Menceritakan Kembali Kejadian untuk Menenangkan Emosi yang Dahsyat

Pada saat anak-anak mengalami suatu kejadian yang menyakitkan, mengecewakan atau menakutkan, ada kalanya hal ini disertai dengan muatan emosi yang dahsyat, hingga anak tidak mampu mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi atau dirasakannya.

Misalnya: anak-anak trauma dengan dokter gigi… Pada awalnya diajak ke dokter gigi sampai dengan masuk ruang periksa sih baik-baik saja, tapi begitu harus duduk di kursi tindakan, kemudian dia menjadi gelisah dan menolak.

Secara otomatis, biasanya kita akan menenangkannya dengan berkata, "Ga papa Kakak, ga sakit kok… Itu kan tante dokternya pakai 'dingin-dingin' ga akan kerasa lho…" dst.

Tapi, dalam intensitas emosi atau sebut saja trauma yang cukup mendalam, hal ini tidak akan efektif…

Salah satu cara untuk menghadapi anak dalam kasus seperti ini adalah dengan membantunya merasakan dan mengidentifikasi emosi yang dirasakannya. Dimulai dari apa yang dirasakannya saat akan duduk di meja tindakan, apa yang ditakutkannya, dan sebagainya… Semakin detail kita dapat menggali dan meminta anak menceritakan perasaannya, maka akan semakin baik anak mampu meng-handle emosinya dan tidak lepas kendali dari aspek rasionalnya.

Konkretnya mungkin bisa kita lakukan dengan cara bercerita dari hati ke hati…

"Kakak… kenapa sih Kakak tadi ga mau duduk di kursi Tante Dokter?"

"Kakak takut Mama… gimana ya, Kakak takut aja… kok rasanya mau dicabut giginya itu serem ya…"

"Hmm, gitu ya… Iya sih, emang cabut gigi itu agak serem dibayangin… Soalnya gigi kita kan ditarik dari gusi, bisa jadi agak sakit sih Kak… Karena kan pasti ada lukanya dan berdarah…"

Yeah, bring it on… kita bantu anak-anak memvisualisasikan dan mengidentifikasi rasa takutnya supaya mereka memahami apa yang membuatnya merasa takut…

Mungkin kita berpikir bahwa untuk menghilangkan rasa takut, marah, atau emosi negatif lainnya itu adalah dengan sebisa mungkin tidak memunculkan ketakutan, kemarahan atau apapun itu… Tapi, itu adalah sesuatu yang sepenuhnya salah!

Dengan upaya melupakan, tidak mengungkit, dan sebangsanya sesungguhnya hanyalah memendam 'permasalahan' yang ada ke alam bawah sadar, bukan 'menyelesaikannya'. Masalahnya tetap ada, demikian juga dengan emosi negatifnya… Dan mereka akan menciptakan disintegrasi antara belahan otak kanan dan kiri, antara emosi dan logika…

Dan lagi-lagi, saya membuktikannya pada diri saya…

Duluu sekali, sebagai seorang yang intravert garis keras, seringkali over analisa membuat saya mengalami self guilty alias merasa bersalah. "Gimana kalo aku ga bisa ya… Orang-orang kayaknya ngeliat aku aneh deh…" dan sebagainya… Sesuatu yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman dalam pergaulan dengan teman sebaya.

Kemudian, saat saya menyadari bahwa saya perlu menyelesaikan perasaan-perasaan yang mengganjal dalam diri itu, kemudian saya pun rutin mereview kejadian dalam satu hari. Dan saat menyadari ada perasaan tidak nyaman untuk di-recall, disitu justru kemudian saya berusaha memvisualisasikan perasaan itu senyata mungkin. And that's work!
Sehingga, kini saya pun bisa bilang dengan yakin bahwa menceritakan kembali atau me-recall suatu pengalaman negatif akan membantu anak-anak mengelola emosinya serta mengintegrasikan kerja otak kanan dan kirinya.
***

Yes, kurang lebih seperti itulah beberapa hal yang bisa saya rangkum dari bab 2 Buku 'The Whole-Brain Child' dengan judul 'Two Brains are Better than One: Integrating The Left and The Right'. Yang kalau dipikir bener banget sih…
Bahwa untuk mencapai kondisi psikis yang sehat dibutuhkan integrasi antara otak kanan yang berfungsi memproses emosi dan otak kiri yang berfungsi memproses logika.
Terlalu menuruti emosi tanpa logika tentu akan konyol jadinya… Sementara terlalu mengedepankan logika dan menyangkal emosi pun jadinya akan terasa hampa dan berpotensi menyakiti perasaan sendiri dan orang di sekitar kita.

Terkadang, cara kita merespon dan memperlakukan anak tanpa kita sadari justru mendorong anak untuk mengesampingkan pemrosesan otak kanan atau otak kirinya. Ada kalanya kita mendorong anak untuk mengabaikan emosinya atau logikanya. Misalnya meminta anak untuk serta merta mengalah dari adiknya meskipun benar…

Dan sekarang kita tahu bagaimana cara merespon dan memperlakukan anak dengan lebih baik untuk membantu mereka mengintegrasikan bagian otaknya, jadi, mari kita berusaha…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

2 comments :