SOCIAL MEDIA

search

Sunday, March 10, 2019

The Whole-Brain Child #1: Mendidik dengan Mengintegrasikan Otak Anak

Menjadi orang-tua itu sungguh penuh tantangan… Dan tantangannya tentu pun berbeda-beda…

Suami saya, katanya sih dulu anaknya cenderung nurut dan kompetitif… Tipe ga ada masalah sama tuntutan ranking kelas. Butguess what, waktu kecil dia susah banget makan sampai mertua saya malu dan mundur jadi kader Posyandu…

Sedangkan saya, sendiri lebih bermasalah karena karakter melankolis yang membuat saya over analyse dibandingkan orang di sekitar saya. Dan karena tidak mendapatkan treatment yang tepat, kemudian munculnya sebagai kebingungan dan stress, serta tidak percaya diri (sebut saja begitu).

Nah, sekarang setelah berstatus sebagai orang-tua, pun saya menghadapi tantangan yang berbeda lagi akan anak-anak saya mulai dari bayi hingga kini…

Baca juga:

Dan salah satu yang terbaru adalah mengenai perangai anak yang memburuk, sehingga anak menjadi mudah marah, sulit mengikuti aturan, dan sebangsanya…

Berkaitan dengan hal ini, berbekal insting, sedikit pengetahuan dari jaman kuliah dulu, second opinion dari psikolog, dan tentu saja belajar dari beberapa literatur… saya kemudian memiliki beberapa analisa mengenai kasus ini. Yang mungkin nanti akan saya ceritakan satu persatu dalam post lain, namun, dalam post kali ini saya akan bercerita mengenai pengasuhan dan bagaimana meng-handle perilaku anak…

Yang ternyata nyambung lho, sama buku 'The Whole-Brain Child' yang baru datang seminggu lalu!


CERITA KAMI

Singkat cerita, setelah ngobrol dari hati ke hati dan pengamatan perilaku, saya menyimpulkan adanya tekanan (stress) yang dialami anak. Dimana sumber tekanan ini, tidak terfokus pada satu permasalahan, tapi lebih kondisi akumulatif yang membuatnya menjadi sulit mengendalikan emosinya.

Kalau Bahasa Jawa menyebutnya 'bunek'… yang kalau dijelaskan dalam Bahasa Indonesia, itu adalah kondisi dimana kita jadi mudah terpancing emosi karena jenuh. Seperti halnya kita menjadi mudah marah pada saat capek, mengantuk atau lapar…

Dari kesimpulan ini, kemudian saya berusaha melakukan beberapa perubahan pada pengasuhan dan cara kami mendidik di rumah.

Merasa jika kami sering memberikan syarat atau target yang 'abstrak' untuk sesuatu yang diinginkan anak, kemudian kami menerapkan metode Token Economy… Dengan harapan itu lebih mudah dipahami dan dapat menguatkan perilaku positif tertentu.

Baca juga: 

Which is work well on him… Tapi, tentu bukan itu saja PR-nya…

Selain itu, kemudian saya juga berusaha memperbaiki pola interaksi dengan anak menjadi lebih intens. Di antaranya dengan selalu menyempatkan diri untuk menjemput sepulang sekolah, sehingga kami bisa saling bercerita tentang kejadian di sekolah… Memijit dan bercerita sebelum tidur, yang selalu disisipi dengan kata positif betapa mereka adalah anak-anak yang baik dan pintar, sehingga mereka bisa melakukan hal-hal yang baik dan hebat… Serta juga memberikan jawaban yang memuaskan akan pertanyaan-pertanyaan mereka yang sungguh banyak, detail, dan harus real time alias harus dijawab saat itu juga… tidak peduli jika kita sedang masak di dapur atau adik/kakaknya pun sedang bertanya… 

Dalam penalaran saya, semua itu sesungguhnya adalah untuk membersihkan pikirannya dari 'hal-hal yang tidak selesai' atau menjadi beban pikirannya… Entah itu dari suatu konflik yang tidak selesai, perasaan negatif, atau sekedar rasa ingin tahu.

Dan… yes, (again) it works!

Anak pun sedikit demi sedikit berprogress selama kurang lebih empat minggu saya menerapkan perubahan ini… Hari demi hari, perangainya mulai membaik menjadi sangat positif. Dia menjadi lebih sabar, empati pada orang-lain, berinisiatif membantu, bersedia menunggu, mengalah, dan banyak lagi…


CHAPTER #1 THE WHOLE-BRAIN CHILD


Dan somehow, apa yang saya pikirkan dan terapkan itu ternyata dapat dijelaskan dengan lebih gamblang dan terpercaya (soalnya yang bilang expert kan) oleh buku 'The Whole-Brain Child'…

Awalnya, saya tahu buku ini dari rekomendasi instagram Rabbit Hole… Kemudian, karena merasa sedang perlu inspirasi terkait dunia parenting, saya pun mencari tahu summarinya dan berakhir dengan memesannya lewat Bookdepository…

Yang… yup, yang pernah pesan disana pasti tahulah berapa lama bukunya sampai… Secara ini import tapi ongkos kirimnya gratis, hehe…

But, it doesn't matter… Walaupun lama, dia selalu sampai kok… Sekian intermezo-nya dan kembali pada cerita intinya…

Integrasi

Pada chapter pertama dengan judul, 'Parenting with the Brain in Mind', dijelaskan bahwa sesungguhnya otak manusia terdiri dari bagian-bagian yang memiliki fungsi tersendiri. Seperti otak kiri yang membantu kita berpikir logis dan otak kanan yang membantu kita mengalami emosi dan membaca bahasa non-verbal. Demikian juga ada bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan moral dan ada juga yang bertanggung-jawab pada penyimpanan memori.

Dimana dengan banyaknya bagian dan fungsi dari ini, sesungguhnya kunci dari kondisi psikologis yang sehat adalah integrasi dari seluruh fungsi otak ini… Yaitu bagaimana mereka dapat bekerja dengan baik bersama-sama.

Dan tidak terintegrasinya (disintegrasi) bagian dan fungsi otak ini akan bermuara pada kondisi psikologis yang (sebut saja) kurang sehat. Dimana pada anak-anak, disintegrasi ini akan muncul sebagai kewalahan menghadapi emosinya, kebingungan, ketidakmampuan merespon sesuatu dengan tenang, tantrum, kesedihan, dan juga agresi.

Lalu, bagaimana cara mengintegrasikan otak anak?

Yaitu dengan membantu anak memahami suatu peristiwa, sehingga seluruh aspek psikologis dalam dirinya (misalnya: emosi dan logika) dapat bekerjasama dengan baik meresponnya.

Misalnya begini:

Pada suatu hari Kakak dan Adik berebut mainan hingga Kakak akhirnya kesal dan memukul Adik. 

Melihat kejadian ini, Ibu kemudian berkata, "Kakak ga boleh kaya gitu, Adik-nya dipinjemin dong!" 

Kakak pun menolak dan berkata, "Ini kan punya Kakak, Adik ga boleh dong asal ambil…"

Lalu, ibu Kakak dan Adik kembali berkata, "Kakak kan lebih besar, harus mengalah sama Adik… Sekarang kasih mainannya sama Adik, terus minta maaf… Adik nangis tuh…"

Dan pada saat Kakak masih menolak, jurus terakhir pun dikeluarkan, "Kasih mainannya sama Adik, kalo enggak nanti Ibu juga ga mau beliin mainan Kakak lagi!"

Coba bayangkan chaos macam apa yang terjadi pada pikiran Kakak menghadapi situasi seperti ini…

Secara logis, dia harus memutuskan meminjamkan mainan itu pada adiknya agar nantinya tetap dibelikan mainan oleh ibunya. Tapi, secara emosi, dia belum bisa menerima kondisi itu, karena merasa bahwa itu adalah mainannya dan dia ingin memakainya untuk bermain. Sehingga yang terjadi adalah Kakak kemudian memberikan mainannya dengan cara dilempar ke adiknya… Salah satu bentuk agresi…

Dan sesungguhnya, kita sebagai orang-tua bisa membantu mengintegrasikan pikiran anak dalam menghadapi kejadian ini dengan cara memberikan penjelasan yang bisa diterima baik logika dan emosi anak…

Misalnya:

"Kakak, Ibu tahu, kalau ini mainanmu dan kalau kamu ga mau pinjemin ke Adik, ya Adik seharusnya ga boleh maksa… Tapi, Adik itu kan masih kecil… Belum bisa berpikir seperti kita orang yang lebih besar… Taunya Adik, kalau dia mau, ya dia harus dapet… Kakak inget ga, dulu waktu masih kecil juga kalau mau beli mainan, sudah dibilangin Ibu ga bawa uang, masih nangis tetep minta? Ya, Adik juga seperti itu, dia belum ngerti… jadinya maunya apa harus dapet…"

Penjelasan seperti ini memiliki potensi yang lebih baik untuk membuat anak mengintegrasikan pikirannya.

Baik logika maupun emosinya mampu memahami dan memiliki pendapat yang sama mengapa dia perlu memutuskan untuk meminjamkan mainan itu kepada adiknya.

It's not that easy…

Yes, tentu saja… siapa bilang jadi orang-tua itu gampang kan… 😁
Tapi, kabar baiknya adalah bahwa otak manusia itu selalu berubah bentuk sesuai dengan pengalaman sepanjang hayat! Bukan hanya pada saat masih bayi atau kecil saja…
Dulu, kita percaya bahwa bentuk otak akan berubah sampai dengan usia tertentu untuk kemudian menetap dan tidak berubah lagi. Jadi pada saat kita sudah dewasa, ya sudah begitulah adanya… Yang ternyata ini salah…

Jadi pada saat kita sudah terbiasa tidak sabaran pada saat menghadapi situasi-situasi genting (seperti anak berantem), kita masih bisa kok merubahnya. Tentu saja, pada awalnya akan terasa effortful ya… Tapi, seiring dengan semakin sering kita mengalami mengendalikan emosi dan lebih tenang menghadapi situasi semacam itu, selanjutnya sedikit demi sedikit semua tidak akan sesulit sebelumnya karena otak kita berubah sesuai pengalaman itu.

Dan saya membuktikannya…

Pada awalnya, bersikap sabar dengan segala pertanyaan yang harus dijawab real time dan bertubi-tubi itu adalah hal yang SULIT SEKALI. Juga pada saat anak kemudian marah lalu membentak atau melakukan tindakan fisik (mostly kepada adiknya).

Sehingga, ada kalanya kemudian saya pun melampiaskan emosi yang tidak tersalurkan karena harus bersikap sabar ini pada objek lain, seperti pada suami misalnya.

Namun, kemudian sedikit demi sedikit, kok semakin terasa ringan… Dan hari ini, setelah sekitar empat minggu berjibaku dengan hal mengendalikan emosi sendiri, kemudian saya sadar besarnya perubahan itu.

Jika dulu, semua terasa effortful… sekarang, pada saat anak bertanya bertubi-tubi dan harus dijawab real time, saya masih bisa tenang dan tetap menjelaskan. Juga pada saat anak ngotot atau marah, berantem ga mau mengalah, dan sebagainya… saya pun masih bisa tenang dan memberikan pengertian sampai akhirnya anak menjadi paham…

Pun saya menyadari hal yang sama pada anak saya… Dia menjadi lebih sabar, tenang dan empati…

So, yes, kami berdua berubah menjadi individu yang lebih baik somehow… Pengalaman kami tampaknya benar-benar merubah (literally) otak kami, sehingga dapat merespon kejadian di sekitar kami dengan lebih tenang.

Ini tak kasat mata sih ya… tapi, kan semua yang kita lakukan itu atas perintah otak… Jadi, percaya saja lah kalau memang bentuk otak kami berubah…😁

***

Yup, kurang lebih begitulah insight yang saya dapatkan dari pengalaman berusaha memperbaiki perangai anak dengan mengurangi tekanan atau menurunkan tingkat stress-nya. Yang ternyata ini dapat dijelaskan juga sebagai membantu anak mengintegrasikan otaknya.

Somehow, buku The Whole-Brain Child ini memang sangat insightful dan enlightening mind banget… Jadi, saya berencana untuk menuliskan inti dari chapter-chapter selanjutnya dalam blog ini dikorelasikan dengan pengalaman sehari-hari. Jadi, sambil belajar, sambil praktek, sambil berbagi juga kan…

Teman-teman yang mau baca, tolong bantu doa juga ya, supaya ini bukan hanya jadi wacana… *sambil melirik tumpukan buku yang belum dibaca* 😅

That's it…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

2 comments :