SOCIAL MEDIA

search

Showing posts with label Resep. Show all posts
Showing posts with label Resep. Show all posts

Monday, October 9, 2017

Sup Ikan Patin a.k.a. Ikan Kuah

Ini masakan yang cukup legendaris dalam katalog masak-memasak pribadi saya untuk anak-anak. Sejak jaman Ganesh kecil, sampe sekarang Mahesh… dua-duanya sama-sama suka dan ga bosen-bosen sampai sekarang. Which that's mean, 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui'… sekali masak, dua anak suka, haha…

Iya, karena selera dua anak ini seringkali berbeda; si kakak anti pedes, eh si adek hobi pedes; yang satu suka tahu, yang satu anti tahu, de el el. Nah, karena itu, dalam seminggu paling tidak sekali lah masak 'Sup Ikan Patin' ini… yang sama Mahesh seringkali disebut 'Ikan Kuah'.


Karena (sebut saja) kelegendarisannya, saya kira resep ini sudah saya dokumentasikan di blog. Eh, kok pas dicari enggak ada, padahal kaya inget-inget sudah pernah nulisnya… Tapi, sudah dicari di draft blog dan di arsip laptop emang ga ada. So, positif, memang resep ini belum pernah ditulis, jadi, ya sok mari ditulis aja mumpung sempet. Karena saya ini orangnya pelupa, daripada berkali-kali ngubek-ubek internet kalo lupa, atau ga yakin sama takaran bumbunya yang sudah pas sama lidah anak-anak…

Bahan untuk membuat 'Sup Ikan Patin' ini sederhana saja; cuma ikan patin, tomat, bawang merah putih, bawang daun, jahe, dan serai. Sedikit berbeda dengan pindang khas Sumatera yang juga memakai kunyit, daun salam, dan kecap manis. Ini, pakai kecap juga sih, tapi kecap ikan, haha… yang rasanya jelas jauh berbeda dengan kecap manis ya…


Ikan patin sendiri, adalah jenis ikan yang tidak hanya lezat, tapi juga sehat karena kandungan nutrisinya. Menurut ahli gizi Rosihan Anwar, Sgz (1); ikan patin memiliki kadar kolesterol yang rendah dan mengandung lemak tak jenuh yang tinggi. Dimana lemak tak jenuh ini bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner.

Nah, makin cinta kan sama ikan ini? Apalagi harganya pun relatif terjangkau, meskipun mungkin di daerah tertentu sulit ditemukan. Iya kan? Saya pribadi baru kenal ikan patin ini setelah merantau ke Sumatera Selatan lho… Dulu, semasa di Jogja belum pernah sekali pun mencicip ikan ini. Dan sekarang, saat saya tanya ke orang-tua saya soal ikan ini, mereka pun tidak familiar. Katanya sih ikan ini ga ada di Jogja. Hmm, daripada penasaran, bagi yang belum familiar dengan ikan ini… ini nih, penampakan ikan patin yang saya maksud dalam resep ini…

Helichopagus Waandersii a.k.a. Ikan Patin (2)

Oke, kembali ke tujuan awal blogpost ini, berikut resep membuat sup ikan patin a.k.a. ikan kuah ala mama Ganesh-Mahesh…

Bahan:

1/2 kgIkan patin
2 buah Tomat dipotong sesuai selera
5 siungBawang merah
2 siungBawang putih
2 cmJahe
1 batangSerai
2 sendok makanKecap ikan
1 batangDaun bawang diiris-iris tipis atau sesuai selera
SecukupnyaGaram
SecukupnyaMinyak untuk menumis

Cara Membuat:
1.Haluskan bawang merah dan bawang putih.
2.Geprek/memarkan jahe dan serai.
3.Potong dan filet ikan patin sesuai selera. Jika suka, dipotong saja, tanpa difilet tidak masalah.
4.Tumis bumbu halus, jahe dan serai, lalu tambahkan air kurang lebih 1 liter.
5.Setelah mendidih, masukkan ikan patin dan kecap ikan.
6.Beberapa saat kemudian, masukkan tomat dan tambahkan garam hingga rasa sesuai selera.
7.Setelah matang, masukkan daun bawang dan matikan api.

Gampang dan praktis kan… Plus insyaallah sehat… Sekian sharing saya, semoga bermanfaat… Selamat mencoba 😋

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Readings:
  1. TribunNews.com. 2013. Takut Makan Patin Karena Berlemak? Ini Jawaban Ahli Gizihttp://www.tribunnews.com/kesehatan/2013/04/17/takut-makan-patin-karena-berlemak-ini-jawaban-ahli-gizi. Diakses tanggal 9 Oktober 2017.
  2. SemuaIkan.com. Jenis-Jenis Ikan Patin beserta Gambarnyahttp://www.semuaikan.com/jenis-jenis-ikan-patin-beserta-gambarnya/. Diakses tanggal 9 Oktober 2017.

Tuesday, April 11, 2017

Membuat Bakso Sapi Sendiri!

Byuh… Selama hampir dua minggu ini Mahesh si anak kedua sakit. Tiga hari pertama demamnya, saya sudah membawanya ke dokter, dan menurut diagnosa dokter dia hanya terkena radang tenggorok dan flu saja. So, I guess, nothing to worry… Dan benar saja, hari berikutnya demamnya seharian sudah hilang dan dia sudah ceria kembali dan bermain seperti biasa. 

Amannn… itu pikir saya… Sampai hari berikutnya, ternyata dia kembali demam, datang dan pergi seiring hilangnya efek obat penurun demam, hingga tiga hari kemudian, dan saya pun kembali membawanya ke dokter…

"Ga ada gejala penyakit berat kok Bu. Yang keliatan hanya radangnya saja… Besok atau paling lambat lusa, jika demamnya tidak kunjung reda, baru kita test darah ya…" begitu penjelasan dokter kali kedua ini. "Tapi Dok, kan demamnya sejak udah lebih dari seminggu kalau dihitung dari pertama kali kemarin itu… Ya, memang sempat reda sampai dua hari sih demamnya," kata saya kemudian, karena saya pikir hari ini lah Mahesh harus test darah. "Hmm, jadi kan Adek sempat turun demamnya ya, dan ini baru hari kedua demamnya, jadi untuk pemeriksaan darah menurut saya belum urgent dilakukanApalagi, menurut pemeriksaan saya, Adek ini hanya radang tenggorok dan batuk pilek saja. Nah, Adek ini kan berat badannya kurang, jadi wajar jika dia gampang sakit…" begitu penjelasan dokter panjang lebar; yang membuat saya sedikit tenang, tersadar urgensinya mengembalikan berat badan Mahesh ke kisaran normal dan juga bersemangat untuk berusaha keras untuk itu!

Nah kan, kaya ga ada korelasinya dengan judulnya, 'Membuat Bakso Sapi Sendiri!' 😃

Heit, ada ya… Ada ya teman-teman… Benang merahnya adalah di bersemangat untuk menaikkan berat badan Mahesh kembali ke kisaran normal! Yes, karena keinginan itulah, akhirnya sejak hari Sabtu pun saya sudah berencana untuk membuat sesuatu olahan makanan yang kemungkinan akan disukai Mahesh, yaitu bakso sapi. 

Kenapa bakso sapi? Hmm, sebenarnya bukan karena Mahesh suka bakso sapi sih… Dan selama ini dia malah cenderung tidak terlalu tertarik dengan Bakso Sony yang dulu sering kami stok di rumah. Tapi, karena berpikir bahwa jika tekstur si bakso lebih empuk dan rasanya lebih light Mahesh akan suka… Lalu mengingat tingginya protein pada daging sapi yang jelas mendukung visi dan misi saya menaikkan berat badan Mahesh… Saya pun bertekad bulat akan mewujudkannya Sabtu ini!

"Emang kamu bisa bikin bakso Nian?" tanya seorang teman terkagum-kagum dengan niat saya. Yang lantas saya jawab, "Yaelah Mbak, tahun berapa lah ini, tinggal buka hape, keluar deh itu resep bakso dari Sabang sampai Merauke," dengan wajah serius.

Yes, ini percobaan pertama, tapi saya sangat optimis, saya akan berhasil! Cukup ikuti resep dari website yang kredibel soal masak memasak. Which is justtryandtaste.com, situs yang seringkali saya kunjungi untuk mencontek resep berbagai masakan, karena langkah-langkah dan penjelasannya yang mudah dipahami. Mbak Endang, sosok di bali JTT memang tidak diragukan lagi kredibilitas resep-resepnya, mengingat beliau sudah menghasilkan beberapa buku resep masakan dari hobi memasak dan menulisnya.

Then, back to proses membuat bakso sapi sendiri… Setelah sempat kebingungan mencari baking soda saat belanja bahan… **karena di resep dibutuhkan baking powder dan baking soda, sementara saya hanya nemu baking powder** Juga setelah kehebohan, karena saya menyalakan food processor tengah malam, yang menuai protes dari suami dan juga akhirnya Mahesh terbangun. **Saya rasa, ibu-ibu pasti tahu lah jalan pikiran saya sampai nekat memulai masak tengah malam… Yang tidak lain adalah karena menunggu anak tertidur 😅** Akhirnya, Sabtu pagi (01-04-2017) sebelum semuanya terbangun, bakso sapi buatan sendiri pun tereksekusi! Walaupun dengan kekurangan di sana sini. 

Tada… 


Akhirnya bakso sapi home made ala saya jadi juga! Kalau menurut suami saya, "Rasanya enak! Cuma mungkin karena kita terbiasa dengan tekstur bakso yang padat dan kenyal, jadi kesannya sedikit aneh…" Well, karena suami saya itu pelit kalo ngasih pujian ke istrinya, jadi saya simpulkan kalau bakso ini memang enak dan layak di-share resepnya😄. Sebagai berikut… 

Bahan:

½ kgDaging sapi giling
125 mlAir es
1 sendok makanKecap ikan
2 sendok tehGaram 
7 siungBawang putih
3 siungBawang merah
1 butirTelur
2 sendok makanTepung tapioka
2 sendok tehBaking powder
1 sendok tehGula pasir
½ sendok makanMinyak sayur
1 sendok tehMerica bubuk

Cara Membuat:
1.Haluskan bawang putih dan bawang merah bersama garam agar lebih mudah halus.
2.Campur hasil nomor 1 dengan kecap ikan, air es, telur, tepung tapioka, baking powder, gula pasir, minyak sayur dan merica bubuk secara merata.
3.Campur hasil nomor 2 dengan daging giling, uleni hingga merata, diamkan sebentar, kemudian proses dengan food processor atau blender.
4.Didihkan air, bentuk sedikit adonan dan masak hingga mengapung untuk mencoba rasa bakso setelah jadi.
5.Jika kurang asin, bisa ditambahkan kembali garam atau kecap asin yang lebih mudah tercampur. Ulangi nomor 4 untuk mencoba kembali.
6.Jika rasa bakso sudah pas, tutup baskom berisi adonan dengan plastik dan diamkan di dalam freezer selama 30 menit.
7.Didihkan cukup banyak air dalam panci yang cukup besar dengan api yang kecil sehingga tidak sampai bergolak. Kemudian masukkan adonan yang setelah dibentuk bulat* ke dalamnya hingga matang (mengambang).

Teman-teman, membentuk bakso ini ada teknik khususnya lho ternyata. Kalau saya sih dengan cara mencelupkan tangan ke air bersih, mengambil sedikit adonan, dan menggelinding-gelindingkannya pada kedua tangan hingga bentuknya cukup bulat… Which is, tidak terlalu efektif ternyata. Dan saya baru bahwa cara membentuk bakso dengan cepat adalah dengan menggenggam adonan dengan tangan yang sudah dibasahi dengan air, mengepalnya di atas panci berisi air, mengeluarkan adonan sedikit demi sedikit dan memanfaatkan sendok untuk membentuk/memotong adonan hingga menyerupai bakso.

Yes, saya baru tahu saat suami turun ke dapur, terheran-heran dengan cara saya membentuk bakso dan kemudian mempraktekkan cara ini dengan bangganya. Well, tapi saya sih sama sekali ga merasa inferior dengan cara saya membentuk bakso kok, kalau kata Ganesh, "Kan orang itu beda-beda…" Hahaha, meski harus saya akui, cara yang diajarkan suami saya, yang saya bold dan underline itu memang lebih efisien 😁.

OK, kembali ke resep bakso sapi… resep ini saya modifikasi sedikit dari resep aslinya di justtryandtaste.com karena keterbatasan alat dan bahan. Di antaranya; saya tidak menggunakan daging sapi yang digiling sendiri dengan air es, tapi menggunakan daging sapi giling. Saya juga tidak menggunakan baking soda, tapi hanya baking powder juga untuk menggantikan porsi baking soda. Dan juga, saya tidak cukup optimal mencampur adonan dengan food processor atau blender; karena food processor saya ternyata terlalu kecil dan blender  saya pun tidak cukup kuat, sehingga beberapa saat setelah digunakan berasap karena putarannya berat 😂.

Tapi, yah, dengan segala kekurangn dan kendala itu, bakso sapi saya masih dapat apresiasi dari suami kan… Yang harus digarisbawahi, orangnya rada pelit ngasih pujian ke istri… Jadi, bisa dipercaya lah ya, kalau bakso sapi saya ini memang enak 😁. So, teman-teman, jangan ragu jika ingin mencobanya ya… **Atau kalau masih ragu, silakan merujuk ke resep aslinya deh…**

Dan jangan lupa, doakan saya berhasil menaikkan berat badan Mahesh ke batas normal ya… Amiin…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, June 15, 2016

Perkedel Tahu Kukus

Dulu seringkali saya mendengar ibu mengeluh, “Bingung, mau masak apalagi hari ini…” dan saya yang kala itu masih remaja mengabaikannya. Pikir saya yang masih bau kencur waktu itu, “Hal seperti kan ga perlu dipikirkan secara berlebihan, masak aja apa yang ada, gitu aja kok repot…” Aah, benar-benar pemikiran yang naif sekali kan, dan sekarang setelah menikah dan punya anak, baru saya mengerti apa yang ibu rasakan waktu itu. Urusan mengolah bahan makanan yang bergizi dan bervariasi agar suami dan anak tidak bosan itu memang cukup tricky. Apalagi bagi saya yang memang tidak jago masak dan setiap kali harus browsing resep di internet, terkadang tidur malam saja kepikiran besok pagi musti masak apa…


Seperti halnya yang terjadi kemarin, malam-malam saya kepikiran mesti masak apa untuk makan siang dan sore anak-anak yang saya tinggal ke kantor. Saking lamanya mikir dan ga juga dapat ide, saya pun ketiduran sewaktu ngelonin bocah-bocah sampai pagi. Dan alhasil, sukseslah pagi itu saya bangun kemudian langsung memutar otak, apa yang bisa saya masak dengan cepat dan anak-anak suka. Hmm, masakan ajaib apakah itu… Aha, kemudian saya teringat beberapa waktu yang lalu pernah mengolah tahu menjadi perkedel, yang tidak terlalu sukses karena sulit digoreng. Sewaktu digoreng si adonan tahu sedikit hancur dan bentuknya pun menjadi kurang enak diliat. Waktu itu, si Ganesh cukup suka dibawain bekal perkedel tahu dan si Mahesh pun tidak ada komplain dengan lauk itu. So, let’s try again, apalagi kemarin habis beli wadah-wadah aluminium foil kecil, jadi terpikir si adonan tahu dikukus dulu sebelum digoreng, sehingga bentuknya lebih solid… Yeay!

Friday, April 15, 2016

Orak Arik Kuah Sehat

Masak itu susah! Itu bayangan saya dulu, hingga akhirnya paling malas diajak Ibu belajar masak. “Percuma ah, itu butuh waktu lama, sekarang lagi ribet dengan tugas-tugas sekolah dan main, nanti ajalah,” itu pikir saya dulu… Dan kemudian, setelah akhirnya merantau dan terpaksa harus survive, ternyata masak itu tidak perlu (selalu) dibuat ribet. Masak itu susah! Itu hanya untuk masakan-masakan tertentu (sebut saja rendang, steak dan sebangsanya). Namun, kenyataannya ada begitu banyak resep-resep masakan sederhana yang mudah diolah dan bergizi tinggi yang tidak memerlukan ketrampilan tingkat tinggi (sebut saja sop sayuran, cap cay dan sejenisnya). 

Jadi… Masak, bukan masalah lagi ;). Apalagi dengan kemudahan browsing berbagai resep masakan saat ini. Yang susah saja bisa dilibas dengan tambahan niat dan ketelatenan. Apalagi yang mudah dan sederhana… bisa banget! ;)


Nah, membicarakan tentang masakan-masakan sederhana, beberapa resep pernah saya tulis disini. Dan sekarang, lagi-lagi saya ingin share resep masakan sederhana yang benar-benar sederhana. Cepat, bisa ditinggal-tinggal dan tidak perlu mengeluarkan tenaga yang terlalu besar (untuk mengulek bumbu misalnya). Sebut saja nama resep ini ‘Orak Arik Kuah Sehat’, resep yang baru beberapa kali saya coba dan selalu sukses membuat Ganesh mendapat ‘bintang’ atau ‘fish’ alias stiker-stiker reward yang diberikan gurunya saat seorang anak berhasil menghabiskan makanannya sendiri. Yang mana itu membuat saya merasa berhasil mencapai salah satu target kinerja saya sebagai seorang ibu :D.

Mau coba? Berikut resepnya:

Bahan:

1 buah
Wortel ukurang sedang
1 rumpun Brokoli ukuran sedang
1 genggam Kacang kapri (atau buncis atau sayuran apa saja yang sekiranya cocok)
1 butir Telur
8 butir Bakso
5 butir Bawang putih
¼ butir Bawang bombai ukuran sedang
Merica Secukupnya
Garam Secukupnya
Minyak Secukupnya (untuk menumis)

Cara Membuat:
1. Kupas dan potong-potong wortel sesuai selera (saya suka bentuk dadu karena mudah dimakan anak-anak yang sedang belajar makan)
2. Siangi dan potong-potong brokoli dan kacang kapri (atau buncis) sesuai selera
3. Kocok satu butir telur
4. Iris-iris tipis bakso sesuai kebutuhan
5. Geprek dan cincang bawang putih
6. Iris bawang bombay memanjang
7. Panaskan minyak, tumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum kemudian beri air
8. Masukkan telur, aduk-aduk hingga mengental
9. Masukkan wortel, tambahkan air hingga wortel terendam, masak hingga setengah matang
10. Masukkan bakso dan kacang kapri atau buncis, masak hingga seluruh sayur matang dan empuk
11. Tambahkan garam dan merica secukupnya


Tuh, benar-benar sederhana kan… Masaknya bisa sambil ditinggal-tinggal! Misalnya, sambil menunggu wortel setengah matang kita tinggal mandi atau menyuapi anak sarapan. Tapi, yang terpenting nutrisinya insyaallah cukup kaya dan rasanya yang gurih membuat anak bersemangat menghabiskannya. Win-win! ;)


So, meskipun dengan keterbatasan keterampilan dan waktu, sama sekali bukan halangan kita untuk menyiapkan masakan bergizi yang disukai anak ya… Karena nyatanya, ada banyak sekali resep-resep masakan sederhana yang tidak membutuhkan keterampilan tingkat tinggi dan waktu yang banyak. Dan lagi, resep-resep ini, bisa jadi lebih bervariasi lagi macamnya dengan modifikasi bahan secukupnya (terkadang ini disesuaikan dengan persediaan logistik yang masih tersedia di rumah). Pokoknya, semua pasti bisa! *Optimis :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Saturday, February 20, 2016

Pizza Makaroni

Sebenarnya sudah setahunan Ganesh mulai masuk ‘sekolah’, sejak Bulan Februari 2015, di kelas Kelompok Bermain kala itu. Sejak itulah ada tugas baru bagi saya, yaitu menyiapkan bekal, karena memang ada waktu makan bersama di ‘sekolah’-nya. Sudah hampir setahunan ternyata… hmm, tapi baru akhir-akhir ini saya dibuat pusing dengan urusan perbekalan ini. Karena, jika dulu saya bisa asal saja dengan menu-menu kilat seperti nasi dan telur dadar atau roti tawar dengan selai coklat; maka sekarang saya harus benar-benar berpikir bagaimana menyiapkan bekal yang mudah disantap dan peluang habisnya besar. Kenapa demikian? Hmm, agak panjang nih penjelasannya…

Jadi, pasca pindah sekolah sebulan yang lalu, Ganesh harus berangkat sejak pagi dan transit dulu di kantor saya untuk kemudian masuk siang dari pukul 10:30 hingga pukul 13:00. Lalu, sepulang sekolah pun dia harus transit lagi di kantor saya hingga pukul 16:00 saat saya pulang kantor. Nah, disitu berarti bekal Ganesh akan dimakan pada saat makan siang (sekitar pukul 12:30), maka bekal Ganesh harus cukup mengenyangkan dan bernutrisi, serta untuk efisiensi waktu maka harus bisa dihabiskannya sendiri tanpa bantuan orang dewasa lainnya. Karena jika tidak dan saya harus menyuapinya lagi, berarti waktu kerja saya kembali berkurang dan pulangnya bisa lebih sore lagi… :(

Nah, karena kerumitan itu, sejauh ini baru ada tiga menu yang memenuhi syarat di atas dan rutin menjadi bekal Ganesh (4 tahun 6 bulan) ke sekolah. Pertama adalah (tentu saja) nasi goreng kesukaannya, pasta dan yang terbaru adalah pizza makaroni.


Pizza makaroni ini sebenarnya terinspirasi dari resep bakwan makaroni yang saya temukan di internet. Tapi, karena pada percobaan pertama ternyata banyak memakan waktu untuk menggoreng satu per satu, maka saya tuang saja semua adonan ke dalam teflon kecil dan kemudian diiris-iris seperti pizza setelah matang, hehe :D. Jelas lebih hemat waktu dan bentuknya malahan lebih menarik (semoga bukan pembelaan :D). Dan berikut adalah langkah-langkah membuatnya…

Tuesday, September 23, 2014

Omelet Ijo yang Bikin Heboh!

Kemarin siang sewaktu istirahat, seperti biasa saya pulang ke rumah karena jarak rumah dan kantor memang cuma 5 – 10 menit. Siang itu, simbah pengasuh Ganesh dengan bersemangat bercerita, “Bu, tadi Ganesh nangis-nangis minta dibikinin makanan ijo kaya yang tadi pagi. Padahal udah saya kasih tau, saya kan ga bisa bikinnya.” Saya pun menyahut, “Walah-walah iya ya mbah,” sambil tersenyum dan berlanjut menginterogasi Ganesh dan diakhiri janji kalau besok pagi akan dibikinkan Omelet Ijo seperti pagi itu.

Dan pagi ini, sesuai janji, saya pun membuat Omelet Ijo yang bikin heboh pagi sebelumnya. And what a sureprise, haha, kali ini si Omelet menimbulkan kehebohan yang lebih seru! “Ganesh, udah mandinya… mau ke tempat Dek Sakha!” kata Ganesh yang sebelumnya masih asyik berendam sambil sarapan. Iya, seringkali untuk mempersingkat waktu, Ganesh memang sarapan sambil mandi, ehemm, berhubung mamanya harus berangkat ke kantor sebelum jam 7.30 setiap harinya :D. Dan mamanya bertekad, Ganesh harus mandi pagi setiap hari! Jadi apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, kecuali sedang libur atau Ganesh sedang sakit, kehebohan mandi pagi harus tetap terjadi :D

Kembali ke cerita Omelet Ijo… siangnya, saat saya pulang istirahat, simbah kembali bercerita, “Tadi udah diliatin makanan ijonya sama Sakha Bu. Sakha sampe minta dibikinin sama Wawak pengasuhnya, tapi karena saya ga tau, ya saya bilang aja yang bikin Ibu. Pas saya dateng, makanannya udah siap…” Saya pun menyahut geli, “Iya ya mbah?” Dan simbah kembali menimpali dengan bersemangat, “Iya Bu! Papanya Sakha sampe cium-cium makanannya dan nanya, apaan ini nih Mbah… Gitu Bu…” Haha, benar-benar seru bukan? Ada-ada aja polah anak-anak nih… Jangan-jangan kemarin minta dibikinin lagi itu juga karena mau dipamerin sama Sakha temennya yang sedang main ke rumah :D.

Lalu, emangnya apaan sih si Omelet Ijo yang bikin heboh dua hari ini? Hehe, sebenarnya ini nih omelet tanpa perencanaan yang dibuat karena waktu yang mepet dan ga bisa ngerjain yang ribet-ribet. Jadi, saya ambil aja sejumput bayam, tambahkan 1 butir telur dan sedikit susu UHT lalu blender bersama-sama. Dan voila! Hasilnya adalah adonan encer berwarna hijau yang setelah diberi keju parut serta merica dan dipanaskan menggunakan wajan teflon dengan api super kecil menjadi berbentuk seperti ini…


Penampakan si Omelet Ijo yang bikin heboh :D

Ehemm, bagaimana keliatannya? Kalau saya sih jujur tidak terlalu terpesona dengan penampakannya, kecuali warna hijau segarnya tentu saja. Pada percobaan kedua, berusaha menggunakan teknik berbeda, yaitu dengan mengoleskan margarine dan menggoreng si omelet dengan api yang lebih kecil, tapi hasilnya tetep ada bopeng-bopeng seperti gosong yang mengganggu :(. Tapi, ya sudahlah, meskipun bopeng-bopeng gosong, Ganesh-nya suka banget kok, hehe :D. Dan nge-hits pula diantara teman-temannya… Mungkin ga biasa aja liat makanan warna ijo seperti ini :D.

Rasanya sendiri, hmm, menurut saya lumayan sih… enak! Aromanya juga khas seperti roti, karena perpaduan telur dan keju yang digoreng. Cara makannya sih saya sebenarnya membayangkan dengan bubur oat, tapi karena stok sedang habis, akhirnya pakai nasi saja. And so, apakah si Omelet Ijo dengan bopeng-bopeng gosongnya ini, sukses membuat penasaran? Hehe, malu sebenarnya, tapi kira-kira begini membuanya…

BAHAN
Sejumput
Bayam
1 butir
Telur ayam
Sedikit
Susu UHT
Secukupnya
Keju cheddar parut
Secukupnya
Merica bubuk

CARA MEMBUAT
1.
Masukkan bayam, telur ayam dan sedikit susu UHT dalam blender kecil. Blender sampai halus.
2.
Tuang ke dalam mangkuk, campur dengan keju parut dan merica bubuk secukupnya.
3.
Tuang adonan dalam wajan yang telah diolesi margarine. Masak dengan api yang sangat kecil. Tutup, supaya bagian atas ikut mengeras.
4.
Balik setelah cukup matang di sisi bawah. Masak sisi lainnya hingga matang.
5.
Angkat dan sajikan!

That’s all, sangat-sangat-sangat mudah kan… tinggal cemplung-cemplung, blender dan bisa ditinggal beraktivitas sembari menunggu matang. Penyajiannya, juga bisa jadi solusi untuk anak-anak yang agak susah makan sayur. Dan yang paling penting nutrisinya juga cukup jempolan, secara bayam mengandung zat besi, berbagai vitamin, folat dan banyak lagi.

Hehe, heboh sekali promosinya ya… Selanjutnya, silakan dicoba sendiri jika penasaran… Semoga rasanya tidak jauh berbeda dengan yang saya gambarkan :D.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, May 13, 2014

Pisang Gulung Roti Tawar

Beberapa hari yang lalu, sebuah iklan di Facebook oleh sebuah brand margarine terkenal memamerkan sebuah foto makanan dengan bahan pisang dan roti tawar dengan nama ‘Roti Gulung Pisang’. Meskipun saya tidak browsing lebih lanjut resepnya hari itu, tapi gambaran tentang si pisang gulung ini terekam dalam memori saya dan langsung memberikan pagi kemarin, saat melihat roti tawar yang dibeli suami malamnya. Hmm, ada Pisang Mas, ada roti tawar, waktu yang tepat untuk mengeksekusi resep baru itu :D.

Dan kemudian saya pun browsing untuk memastikan resep dan langkah pembuatannya disini. Tapi, tentunya sedikit modifikasi, karena keterbatasan bahan (tidak ada persediaan selai kacang atau coklat). Selain perbedaan bahan itu, awalnya saya buat semua sesuai resep, tapi ternyata percobaan pertama gagal :(. Saya kurang rapat menekan si roti tawar dan juga merekatkannya dengan telur, alhasil Pisang Gulung Roti Tawar pertama terbuka gulungannya. Kemudian, setelah saya lihat-lihat, kok rasanya ada banyak minyak yang tertinggal, jadi saya coba dengan langkah yang sedikit berbeda, kali ini saya oleskan margarine ke bagian luar Pisang Gulung Roti Tawar dan kemudian saya panaskan di wajan teflon. Hasilnya jadi mirip-mirip roti bakar di bagian luar, hanya saja bedanya, di dalamnya ada pisang dan keju.

Penampakan ‘Pisang Gulung Roti Tawar’

Resep ini, sangat sederhana pengerjaannya, tapi rasanya sangat lumayan, sampai jadi makanan favorit Ganesh yang seharian kemarin sedang demam karena flu. Disaat dia benar-benar malas makan nasi dan makanan berat lainnya, alhamdulillah dia menyukai si Pisang Gulung Roti Tawar ini, yang nota bene kaya akan karbohidrat, protein dan nutrisi lainnya dari pisang (vitamin A, Calcium, Vitamin D, Vitamin B-12 dan sebagainya). Pokonya sesuai dengan tag line memasak saya, ‘simple, cepat dan bernutrisi’, karena memang tidak jago masak sama sekali :D.

Berikut bahan dan langkah pembuatannya…

Bahan dan Cara Membuat


Monday, February 3, 2014

Jagung Manis + Tahu Kukus

Baiklah, saya memang sama sekali tidak pandai memasak :D. Setiap mau masak yang sedikit rumit, seperti Soto atau Sop Tulang, terus dan terus harus browsing dulu. Mungkin karena jarang memasak, resepnya tidak pernah mengendap dalam ingatan :D. Tapi, meskipun begitu, keinginan untuk menyajikan makanan yang viariatif untuk Ganesh tidak pernah surut. Selain untuk menjaga nafsu makan, juga untuk memastikan dia mendapatkan nutrisi yang baik untuk pertumbuhannya. Untuk makan siang dan sore, karena memang tidak memungkinkan, urusan memasak makanan Ganesh saya serahkan pada pengasuhnya. Tentunya dengan supervisi; “Ga usah pake gula ya… Garamnya dikit aja…” dan lain-lain. Nah, untuk sarapan, sepenuhnya saya bisa berkreasi dan memasak sendiri. Walaupun tentunya dengan menu-menu yang sederhana dan sebenarnya biasa. Yang walaupun demikian selalu sukses membuat Ganesh makan dengan lahap. Sampai-sampai saya berpikir jika sudah berhasil meracuni selera makannya, hingga menyukai makanan buatan saya yang abal-abal :D.

Penampakan si “Steamed Tofu & Sweet Corn”

Monday, January 13, 2014

Nagasari ‘Pudding Monster’

Game Pudding Monster
© ZeptoLab UK Limited
Gambar diambil disini

Pertama kali melihat game ini berasa aneh saja dengan bentuknya yang menurut saya sama sekali tidak lucu dan ditambah suaranya yang sangar. Tapi gara-gara suami penasaran, akhirnya ter-instal-lah si Pudding Monster ini di hape saya dan menjadi salah satu games kesukaan Ganesh. Baiklah, selanjutnya saya tidak akan bercerita tentang bagaimana trik supaya Ganesh tidak terpaku dengan games di hape yang memang harus diakui sangat adiktif. Tapi saya ingin bercerita tentang Nagasari, makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari tepung beras dan pisang yang saya modifikasi sedikit untuk menu sarapan Ganesh.

Sebagai wanita yang lumayan awam soal masak-memasak, saya pun mengadopsi resep Nagasari hasil googling dari justtryandtaste.com. Hanya saja saya skip beberapa bahan,(yaitu vanila dan tepung tapioka) karena tidak punya persediaan. Selain itu saya juga tidak menggunakan garam maupun gula pasir, namun diganti dengan keju dan pisang yang lebih banyak. Oh ya, untuk santan juga saya ganti dengan susu UHT, supaya lebih praktis dan sehat. Untuk kemasan sendiri saya menggunakan mangkuk stainles, karena kesulitan mencari daun pisang (apalagi pagi-pagi ya…:D). Dan keseluruhan resep Nagasari ala Mama Ganesh ini menjadi seperti ini:

Sunday, September 22, 2013

Luigi's Pasta

Sarapan pagi Ganesh itu adalah prerogative saya :D. Kenapa demikian? Karena hanya di pagi harilah kesempatan saya untuk bisa memasak untuk Ganesh, karena di waktu lain, dari Senin sampai Jumat, saya sudah pasti di kantor seharian. Memasak sarapan untuk Ganesh itu gampang-gampang-susah, karena harus dibuat se-praktis mungkin tanpa mengesampingkan aspek nutrisi dan rasa tentunya.

Seperti menu kali ini, Luigi’s Pasta… Basically ini adalah pasta biasa, atau mungkin malah pasta yang tidak standard karena tidak mengikuti pakem masakan pasta yang ada. Tapi, Ganesh suka! Dan bahkan suami saya bilang kalo rasanya enak! Yah, harus tapi disamping pengakuan akan rasa pasta sederhana ini, saya pribadi menyadari kelemahan pasta ini terletak pada penyajian; dimana dia hanya enak selagi hangat. Kalau sudah dingin, hmm, perlu kembali dipanaskan dengan ditambahkan air, yang tentu saja merusak lebih banyak nutrisi di dalamnya ya…

Penampakan Luigi’s Pasta

OK, sebelum mencoba memasaknya, mungkin nama Luigi’s Pasta sedikit membuat penasaran pembaca tulisan ini ya… Hehe, ini adalah salah satu metode saya untuk mendongkrak semangat makan Ganesh :D. Sederet nama keren makan pagi Ganesh seringkali tercipta secara spontan yang terbukti ampuh membuatnya menghabiskan makan paginya dengan lebih cepat; sebut saja Tofu dari Jepang, Nasi Keriting, Jagung Kukus dari Ladang Mater dan yang terakhir Pasta Luigi! Terdengar seperti me-mark-up makanan biasa dengan nama yang luar biasa ya :D. Kami berdua sendiri sangat menikmati story telling semacam ini dalam berbagai kesempatan, termasuk pada saat makan. Pada banyak kesempatan memang saya sengaja memancing Ganesh untuk memperhatikan adanya kemiripan antara cerita yang diketahuinya dengan pengalaman yang dilihatnya. Bagi saya ini bagian dari usaha sederhana untuk menajamkan kognisi Ganesh, agar menjadi lebih kritis dalam mengamati sesuatu.

Thursday, August 22, 2013

Nasi Goreng Spesial :D

Sore itu, seperti biasa saya pulang sekitar pukul 16.30; tapi tidak seperti biasanya sore ini Ganesh belum makan… Kata simbah pengasuhnya, Ganesh baru bangun tidur, jadi belum makan, apalagi mandi :D. Dan benar saja, Ganesh memang masih guling-guling di tempat tidur, boro-boro diajak makan, diajak bangun saja masih malas. Sampai beberapa lama setelah Simbah pulang, saya masih belum berhasil “merayu”-nya untuk bangun; sampai dia bilang, “Mama, Ganesh mau nasi goreng!”

Hmm, Nasi Goreng… Ini adalah menu yang tergolong baru buat Ganesh. Saya perkenalkan pertama kali saat di mudik di Jogja kemarin dan beberapa kali memang Ganesh lebih memilih nasi goreng untuk menu bekal selama perjalanan. Resep Nasi Goreng Ganesh itu sederhana sekali, baik dari sisi bahan maupun pengolahan; tapi tentu saja tetap mengutamakan segi nutrisi, sesuai motto saya: “simple, cepat dan bernutrisi” :D.


Nasi Goreng Spesial Ganesh

Berikut cara membuat Nasi Goreng Spesial kami:

Tuesday, June 11, 2013

Tim Nasi Tahu Telur Keju

Beberapa hari yang lalu saat saya berbelanja buku secara online, tanpa banyak pertimbangan saya menyelipkan sebuah buku resep masakan berjudul “Makanan Lezat Serba Kukus” karangan Tuti Soenardi. Alasannya sederhana saja, karena selama ini saya setuju dengan pendapat bahwa teknik memasak yang paling sehat dan menjaga kandungan nutrisi bahan makanan adalah dengan mengukus; karena otomatis lebih rendah kolesterol dari minyak yang dipanaskan serta meminimalisir nutrisi yang larut dan terbuang bersama air. Pada saat memutuskan membeli buku itu, sempat terlintas juga keinginan menambah katalog resep masakan untuk Ganesh yang selama ini didominasi berbagai jenis pancake dengan berbagai bahan dasar. 
Detail
Author: TUTI SOENARDI
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Date Published: Mei 2013
Type: Soft Cover
No. of Pages: 106
Dimensions (cm): 15 x 18.5

Wednesday, April 10, 2013

Pisang Gulung Keju

Sebagai ibu bekerja, saya memang tidak punya banyak waktu untuk melakukan pekerjaan rumah-tangga, seperti memasak. Untuk urusan memasak keluarga, sudah saya serahkan sepenuhnya pada asisten rumah tangga yang harus saya akui lebih pandai memasak makanan sehari-hari daripada saya :D. Tapi, untuk masalah makanan Ganesh, saya tetap pegang kendali, terutama untuk makan pagi, saya turun tangan sepenuhnya untuk menyiapkan makanannya. Seperti pagi ini, saya kembali mempraktekkan resep dengan tag line andalan: simple, cepat dan bernutrisi; yaitu “Pisang Gulung Keju.” Resep ini (lagi-lagi) adalah hasil karya imajinasi saya, bukan hasil mengikuti pakem resep yang ada. Kayaknya meragukan ya hasilnya, tapi enak kok, Ganesh suka banget!

Pisang Gulung Keju

Bagaimana cara membuatnya, sederhana saja…

Bahan:
1 buah
Pisang Lilin atau Raja atau jenis pisang lainnya yang bertekstur lunak dan rasa manis
1 sendok makan
Tepung terigu
1 butir
Putih telur ayam kampung
Secukupnya
Keju cheddar parut
Secukupnya
Susu cair
Secukupnya
Margarine

Cara Membuat:
  1. Buat adonan kulit dari 1 sendok makan tepung terigu, susu cair, putih telur ayam kampung dan keju parut. Buat adonan cukup encer sehingga tidak cepat mengering di atas wajan.
  2. Panaskan margarine di atas wajan anti lengket yang cukup lebar diameternya dengan api kecil, tunggu hingga meleleh seluruhnya.
  3. Setelah margarine meleleh, tuang adonan kulit dan goyang-goyang wajan agar adonan merata. Untuk mematangkan permukaan kulit, wajan bisa ditutup.
  4. Setelah permukaan kulit mengering, angkat, sisihkan.
  5. Ambil 1 buah pisang dan belah menjadi 2.
  6. Letakkan satu bilah pisang di bagian tengah kulit, taburi dengan keju cheddar parut kemudian tutup dengan bilah pisang kedua.
  7. Gulung kulit, kemudian panaskan di atas wajan yang telah diberi margarine.
  8. Untuk melekatkan kulit supaya tidak terbuka, olesi bagian tepi kulit dengan sisa adonan pada saat dipanaskan.
  9. Balik “Pisang Gulung” untuk mematangkan bagian sebaliknya.
  10. Setelah matang, angkat, potong-potong, sajikan di atas piring dan taburi kembali dengan keju cheddar parut.

Hasilnya adalah “Pisang Gulung Keju” dengan rasa manis pisang dan gurih keju. Jika Anda tidak terlalu menyukai keju, dapat dikurangi penggunaannya atau diganti dengan isian yang disukai; misalnya coklat, namun tentunya tetap disarankan untuk mempertimbangkan nutrisinya.

Ngomong-ngomong soal nutrisi, “Pisang Gulung Keju” ini sudah pasti kaya protein dari susu, keju dan putih telur; karbohidrat dari tepung terigu. Pisang sendiri mengandung komponen nutrisi yang penting, yitu potassium dan serat, di samping kaya juga dengan vitamin B6, C dan B2. Nutrisi lengkap dari 1 cangkir pisang adalah sebagai berikut:

Sumber: wholesomebabyfood


Bagaimana? Worth to try kan? Resep super simpel dengan nutrisi yang baik untuk buah hati kita. Selamat mencoba :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-