SOCIAL MEDIA

search

Sunday, July 21, 2019

Tips Lolos Wawancara Kerja

Throw back time, waktu saya baru lulus kuliah di tahun 2007 lalu... di Bulan Agustus, sejak dinyatakan lulus dari Fakultas Psikologi setelah masa kuliah empat tahun lamanya, belum terima ijazah pun saya sudah mulai gencar mencari pekerjaan.

Waktu itu, berbekal surat keterangan yudisium, saya mulai melamar ke berbagai perusahaan untuk segera menyudahi status 'pengangguran'. Status yang sangat berat ditanggung mengingat saya adalah anak pertama, ibu mencari nafkah sendiri sejak bapak jatuh stroke dua tahun sebelumnya, dan adik-adik pun masih duduk di bangku sekolah.

Kebayang kan rasanya... mau minta uang saku untuk keperluan melamar kerja aja berat rasanya karena status saya yang bukan lagi mahasiswa.

Waktu itu, paling lambat pukul 06:00 setiap Senin dan Kamis, saya sudah nongkrong di warnet (warung internet) demi menikmati tarif happy hours untuk mencari info lowongan pekerjaan. Juga Sabtu dan Minggu, tidak pernah absen beli koran Kompas untuk menelisik iklan lowongan pekerjaan yang janjian ketemuan disana.


And guess what? Hingga akhirnya diterima di PLN pada tahun 2008, saya sudah menjalani sepuluh kali wawancara kerja, mulai dari perusahaan BUMN maupun swasta yang cukup dikenal di Indonesia, yang kesepuluh-sepuluhnya gagal! Yes, PLN adalah wawancara kerja saya yang kesebelas, orang-tua sampai nasehatin saya supaya ke 'orang pinter' agar dibuka auranya, karena berpendapat saya ini ga kelihatan meyakinkan buat orang lain karena auranya tertutup. Yang memang benar sih mungkin, tapi saya kurang sreg saja dengan caranya...

OK, poin yang ingin saya garisbawahi disini adalah bahwa secara objektif, sesungguhnya saya cukup memiliki potensi, karena kenyataannya bisa lolos serangkaian penyaringan mulai dari seleksi administrasi, tes potensi akademik, Bahasa Inggris, dan sebagainya... tapi kenapa selalu gagal di wawancara... Apa yang salah?

Dan untungnya sih, karena waktu itu saya tidak mengikuti saran orang-tua untuk ke 'orang pinter' supaya dibuka auranya, sekarang saya bisa sedikit berbagi pada teman-teman tentang pengalaman saya. Hal-hal yang saya pelajari dan terapkan hingga akhirnya bisa lolos pada sesi wawancara di sebuah perusahaan BUMN di Indonesia ini. Yang mana, mungkin banyak orang semacam saya, yang merasa ini prestasi setelah berkali-kali (tepatnya sepuluh kali) gagal di sesi wawancara... 😅

Siapkan Diri secara Psikologis

Percaya diri itu harus! Nah, tapi bagaimana kalau kita sadar punya banyak kekurangan dibandingkan peserta wawancara lain? Ini nih masalah saya dulu...

Dulu, seusai lulus ujian skripsi, saya sempat curhat pada dosen penguji, "Bu, saya ini merasa belum siap untuk terjun ke dunia kerja... Saya merasa belum punya bekal pengalaman nyata di masyarakat, soalnya selama kuliah saya cuma kuliah saja, ga aktif di organisasi sama sekali..."

Well, aktif di organisasi selama kuliah itu jelas adalah sarana untuk mengembangkan kepribadian kita teman-teman, saya sadar sekali hal itu, tapi apa daya... saya yang dulu itu punya pergolakan psikologis sendiri hingga boro-boro aktif berorganisasi, berinteraksi dengan banyak orang saja sungguh menguras energi.

Aktif berorganisasi will a plus point, tapi jika kurang pun bukan akhir dari segalanya... Dan kenapa saya gagal dalam berbagai wawancara itu justru lebih karena terlalu fokus pada kekurangan saya. Ya kalau kita sendiri tidak percaya kita mampu, bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain coba?

So, menyiapkan diri secara psikologis ini saya artikan sebagai kita memahami diri kita, segala kekurangan dan kelebihannya, menerimanya dan juga menghargainya...

Dalam kasus saya, kemudian alih-alih hanya fokus dengan kekurangan... kemudian saya pun menyadari bahwa saya pun memiliki banyak kelebihan disamping satu kekurangan tidak aktif berorganisasi. Saat itulah saya mulai bisa melihat diri dan pengalaman yang saya alami dan menghargainya. Termasuk soal pengalaman organisasi yang mungkin satu-satunya, yaitu semasa KKN...

Ya mohon maaf, emang nothing special sih dengan kegiatan KKN, semua mahasiswa kala itu ya harus KKN untuk lulus. Tapi, dalam KKN itu pun saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa mengenai organisasi dan berhubungan dengan masyarakat. Jadi, salah besar jika saya merasa tidak tahu apa-apa soal dunia organisasi, ini cuma masalah cara pandang saja.

Nah, kalau kita sudah mengenal diri sendiri, bisa menghargai diri kita sendiri dan percaya diri, maka selanjutnya kita akan mampu menampilkan siapa diri kita yang sesungguhnya. Dan saya rasa, ini lah yang namanya membuka aura secara psikologis itu...

Siapkan Materi

Psikis sudah siap... selanjutnya, kita pun harus meyakinkan interviewer bahwa kita memiliki pengetahuan mengenai bidang yang kita apply, tantangan dan juga visi misi kita terkait hal itu.

Untuk itu, kita bisa mulai dengan membuka informasi perusahaan yang ada di websitenya, apa visi dan misi perusahaan, sejarahnya, dan informasi lainnya. Kemudian, juga mencari berita terkait perusahaan tersebut dan lebih spesifik terkait posisi yang kita lamar.

Kala itu, dengan background Psikologi, saya melamar posisi HR Officer... maka saya pun secara spesifik mencari tahu kebijakan SDM mereka, tantangan, perkembangan, dan sebagainya.

Semakin kita memahami seluk beluk organisasi, posisi yang kita lamar dan peran serta tantangannya untuk mencapai visi misi perusahaan, itu adalah nilai yang luar biasa plus. Ini tidak hanya akan menunjukkan kapasitas intelektual kita, tapi juga keinginan kita belajar dan juga kesungguhan kita.

Dan dalam kasus saya, kalau itu saya mendapatkan topik yang sangat kuat dengan mengetahui bahwa PLN telah menerapkan Manajemen SDM Berbasis Kompetensi sejak tahun 2004. Dan saat saya diwawancarai pada tahun 2008, itu masih adalah isu pengelolaan SDM yang hangat karena kenyataan bahwa implementasinya tidak lah mudah, mengingat cakupan perusahaan yang sangat luas dari Sabang hingga Merauke, dengan berbagai latar belakang pekerja dan juga adanya gap generation serta resistansi pada perubahan.

Penampilan

Soal penampilan ini bukan persoalan sulit, tapi tidak boleh dianggap enteng karena ya ini yang akan dilihat pertama kali oleh interviewer. Dan yap, disini pada awalnya saya sudah failed...

Wawancara pertama saya, itu benar-benar masih culun banget. Baru pegang surat keterangan yudisium, iseng-iseng lamar kerja yang ternyata proses seleksinya seharian gitu. Begitu lolos seleksi administrasi, lalu semacam tes potensi akademik dan lanjut ke wawancara.

Posisinya, saya tanpa ekspektasi sama sekali sih, tapi kok ndilalah di saat teman-teman sejurusan pada berguguran, saya masih lanjut sampai wawancara. Jadi, beneran tanpa persiapan, saya cuma pakai kaos dan celana jeans pun bukan jeans yang feminin gitu, tapi model gombrong. Ya sudahlah, bye-bye... Kemudian saya yakin bahwa dari situ saja saya sudah gagal merebut hati para interviewer, dan selanjutnya ya mereka sudah tidak terlalu berminat untuk mengeksplore kemampuan saya.

Dan hal ini pun berulang pada wawancara-wawancara setelahnya, yang mana saya kurang memperhatikan masalah penampilan, sampai dengan pada akhirnya bude saya menyadarkan saya, "Kamu ini kan ngelamarnya jadi pegawai kantoran... bajunya, dandanannya harus mencerminkan kerjaanmu dong..." dan kemudian mulai lah saya lebih memperhatikan perihal penampilan ini...

Intinya sih mengenai penampilan, kita harus berpakaian sopan, enak dilihat dan profesional... Dimana bagi saya ini berarti:

Jangan pake jeans, kaos oblong dan pakaian casual lainnya... Jangan terlalu menor, tapi juga jangan kelihatan pucat... Yes, pada saat wawancara kita harus terlihat profesional dan menarik secara tidak berlebihan.

Nah, kalau saya sih mendefinisikan paragraf di atas misalnya dengan memakai kemeja dengan celana panjang atau rok bahan yang tidak terlalu ketat tapi tidak terlalu longgar, dengan motif yang cukup simpel atau untuk amannya polos saja.

Lalu, untuk make up... yah, kalo saya sih karena ga bisa dandan, cukup pakai lipstik aja dengan warna bibir kala itu. Tapi, kalau teman-teman bisa dandan sih bisa lebih bagus dandan, asal tetap natural ya... sekali lagi, jangan menor...

Perhatikan Hal-Hal Teknis Lainnya

Hal-hal teknis yang saya maksud disini misalnya adalah bagaimana untuk datang tepat waktu, bagaimana mensiasati supaya tidak dalam kondisi lapar saat diwawancarai, jangan tidur terlalu malam supaya kondisi tubuh prima, dan sebagainya.

Berdoa dan Minta Doa Restu dari Orang-Tua

Last but not least, berdoa dan minta doa restu dari orang-tua itu adalah hal kunci yang tidak boleh ditinggalkan.

Ga perlu dijelasin panjang lebar lah ya...

Yang jelas hal ini selain berkaitan dengan hal spiritual, juga akan menimbulkan ketenangan batin bagi kita, seorang anak manusia.

Agak bingung deh jelasin part ini... Gitu deh pokoknya... Teman-teman sepakat lah ya kalo ini hal yang sangat-sangat penting...

***

Nah, kira-kira itu saja sih beberapa hal yang menurut saya penting diperhatikan dalam menghadapi sebuah wawancara kerja.

Yang paling sulit dan butuh proses sesungguhnya adalah mempersiapkan diri secara psikologis... Karena untuk mencapainya kita perlu menemukan insight itu sendiri dalam diri kita, no technical step seperti poin-poin lainnya.

Untuk beberapa orang sih tapinya ini bukan masalah sama sekali... Yes, tipe kepribadian dan juga pengalaman hidup sangat menentukan. Mereka dengan tipe kepribadian merah atau cholerics akan cenderung tidak bermasalah. Dan sebaliknya orang-orang dengan tipe kepribadian biru atau melancholy akan lebih rawan memiliki permasalahan ini.

Yeah, tebakan Anda benar... saya ini tipe melancholy yang cukup ekstrim, makanya perlu waktu untuk menyelesaikan permasalahan kepercayaan diri ini.

Tapi, jangan khawatir teman-teman, setiap kepribadian itu tidak ada yang baik atau buruk... it's just it... Mau kepribadian seperti apa, ya bisa juga sehat, bisa juga tidak sehat secara psikologis. Dalam perjalanan, bimbingan orang terdekat dan juga lingkungan akan membentuk pengalaman kita memandang hal tersebut. Namun, yang terpenting pada akhirnya tetap lah diri kita sendiri, saat kita tumbuh dewasa, bagaimana kita memandang diri dan lingkungan adalah tanggung-jawab kita sendiri.

Kurang lebih begitu...

Well, kok jadinya malah semi curhat ya... Maaf ya teman-teman... 😅

With Love,
Nian Astiningrum
-end- 

Monday, June 17, 2019

The Whole-Brain Child #3: Melatih Anak untuk Membuat Keputusan yang Baik

Whoa… akhirnya… meski lambat, saya bisa juga menyelesaikan bab tiga Buku 'The Whole-Brain Child' yang keren ini!

Boleh dong, sedikit berbangga diri pada komitmen saya sejauh ini… Karena jujur saja, kecuali novel dan artikel di internet yang secuil, membaca adalah sesuatu yang cukup effortfull bagi saya. Haha…


OK, back to this chapter sebelum bleber kemana-mana… Now let's get a little bit serious and talk about this book

***

Jadi, pada bab sebelumnya kita sudah membahas tentang integrasi antara otak kanan dan otak kiri, maka pada bab tiga ini kita akan membahas tentang integrasi antara otak bagian bawah dan otak bagian bawah… Yang dianalogikan sebagai upaya untuk membangun tangga penghubung otak bagian bawah dan otak bagian atas.
Otak bagian bawah meliputi batang otak dan area limbik (yang bertanggung-jawab pada fungsi dasar (seperti bernapas dan berkedip), pada rekasi dan impuls (seperti berkelahi atau berlari), dan untuk emosi yang kuat (seperti marah dan takut).
Yup, otak bagian bawah lebih bertugas meng-handle reaksi-reaksi spontan yang diperlukan cepat untuk menyelamatkan diri. Misalnya, lari pada saat liat ular. Jadi tanpa berpikir panjang, "Oh itu ular, bisa menggigit dan mengeluarkan racun, kita bisa sekarat dibuatnya, jadi harus lari nih!" Kalau kaya gini sih, mau lari jangan-jangan sudah terlambat.

Yess, tidak terbantahkan kalau peran otak bagian bawah ini begitu penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Akan tetapi, akan jadi beda ceritanya kalau settingnya juga berbeda… Coba bayangkan kejadian ini: Suatu hari seseorang tidak sengaja menyerempet mobil kita yang sedang parkir di pinggir jalan, terus langsung deh otak bagian bawah bereaksi dan kita langsung memukul orang itu… itu kan ga bener.

Dalam kasus seperti itu, sudah selayaknya kita berpikir panjang terlebih dahulu… Apakah kita yang salah karena parkir tidak pada tempatnya? Bisakah dibicarakan dan diselesaikan secara kekeluargaan? Atau bahkan memang harus dibawa ke jalur hukum jika tidak menemukan jalan keluar.

Nah, inilah fungsi dari otak bagian yang terdiri dari cerebral cortex dan komponen-komponen lainnya…
Otak bagian atas lebih berkembang dan canggih, sehingga bisa memberikan kita perspektif yang lebih lengkap. Otak bagian atas bertanggung-jawab dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, pengendalian emosi dan tubuh, pemahaman diri, empati, serta moralitas.
Itu kenapa, kita perlu mengintegrasikan otak bagian bawah dan otak bagian atas… Terutama bagi anak-anak, karena disaat otak bagian bawah manusia telah berkembang dengan baik sejak lahir, maka otak bagian atas baru benar-benar matang pada pertengahan usia dua puluhan.

Karena itulah, bukan untuk tujuan supaya anak-anak mampu bersikap dewasa melebihi usianya, kita perlu melatih kemampuan otak bagian atas agar anak-anak mampu mengambil keputusan yang lebih baik.

Dalam keadaan bahaya, kita perlu bertindak sebelum berpikir… Namun, jika kondisi tidak mengancam jiwa, kita perlu berpikir sebelum mengambil keputusan…

Tantrum

Mengenai tantrum, sesungguhnya pun terdapat dua jenis; yaitu tantrum otak bagian bawah dan tantrum otak bagian atas.

Tantrum sebagai hasil pemrosesan otak bagian atas, berarti bahwa anak sepenuhnya menyadari apa yang dilakukannya. Tantrumnya memiliki tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan untuk menghadapi tantrum semacam ini, kita harus tegas dan teguh pendirian untuk tidak memberikan apa yang diinginkannya.

Sementara, tantrum sebagai hasil pemrosesan otak bagian bawah, anak menjadi kecewa dan marah karena tidak mendapatkan hal yang diinginkannya. Ya, tipe tantrum ini sangat kuat muatan emosinya, karena itu respon yang menenangkan akan lebih efektif dan selanjutnya mengarahkan kepada pemahaman yang 'benar'.

Baca juga:

Dan selanjutnya, meneruskan tips dari chapter sebelumnya, berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan berkaitan dengan integrasi otak bagian bawah dan otak bagian atas:

#3: Membujuk, Jangan Membuat Marah

Maksudnya adalah dalam memberikan respon terhadap anak, kita jangan terpancing untuk membuat marah otak bagian bawah, tapi sebisa mungkin membujuk otak bagian atas.

Contoh respon yang disebut membuat marah otak bagian bawah: Pada saat anak kita bilang, "Mama, aku ga mau sekolah!" Kemudian kita jawab, "Kamu harus sekolah supaya pintar! Jangan mikir aneh-aneh deh!"

Contoh respon yang membujuk otak bagian atas: Pada saat anak kita berkata, "Mama, aku ga mau sekolah!" Kemudian kita jawab, "Kenapa? Apa Kakak capek ngerjain PR-nya? Kita bisa kok cari cara supaya ngerjain PR-nya ga terasa terlalu banyak…"

Pada contoh yang kedua, kita mengajak otak bagian atas anak untuk berdiskusi mengenai cara supaya sekolah tidak terasa melelahkan karena mengerjakan PR. Selanjutnya, dalam diskusi kita bisa mengajak anak untuk berpikir logis untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Dimana hal ini akan secara langsung melatih ketrampilan penyelesaian masalah (problem solving) dan pengambilan keputusan (decision making).

#4: Melatih Kemampuan Otak Bagian Atas

Jadi, otak bagian atas itu seperti otot, yang semakin dilatih akan menjadi semakin berkembang, semakin kuat dan dapat berfungsi dengan baik. Dimana hal ini dibutuhkan untuk mengimbangi otak bagian bawah, dan krusial untuk kecerdasaan emosi dan sosial.

Berikut adalah beberapa ketrampilan otak bagian atas yang perlu kita latih…

Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan membutuhkan sesuatu yang disebut fungsi eksekutif, yang terjadi pada saat otak bagian atas menimbang beberapa opsi. Dan untuk melatih kemampuan ini, maka kita perlu memberikan berbagai opsi kepada anak sesuai dengan kapasitasnya.

Misalnya, saat anak masih pra-sekolah diberikan kesempatan untuk memilih akan memakai kaos kaki warna apa. Atau pada saat anak mulai beranjak besar, diberikan kesempatan untuk memutuskan apa yang harus dilakukan pada situasi yang lebih kompleks. Seperti pada saat ulang-tahun temannya memiliki waktu yang bersamaan dengan jadwal pertandingan berenangnya.

Pada dasarnya, melatih kemampuan pengambilan keputusan ini adalah mengajarkan anak kita untuk bergulat dengan keputusannya dan menerima konsekuensi dari keputusan itu.

Mengendalikan Emosi dan Tubuh

Seringkali terjadi, pada saat anak kecewa, maka dia akan melakukan hal-hal fisik yang tidak baik; seperti memukul, menendang, dan sebagainya.

Untuk itu, kita perlu melatih anak untuk mengendalikan emosi dan tubuhnya, yaitu dengan mengajarkan anak untuk berpikir sejenak sebelum melakukan tindakan yang tidak baik. Misalnya dengan mengajarkan mereka untuk menarik napas panjang, atau memukul bantal pada saat merasa marah.

Pemahaman Diri

Salah satu cara untuk mendorong anak memahami dirinya lebih dalam adalah dengan menanyakan hal yang mereka pahami secara mendalam, seperti, "Kenapa Kakak memilih untuk pergi bertanding berenang daripada datang ke ulang-tahun Dio? Kenapa Kakak berpikir kalau tidak bisa mengerjakan soal final test tadi?" dan sebagainya.

Selanjutnya, pada saat anak telah lebih besar dan bisa menulis atau menggambar… Kita pun dapat memberikannya jurnal dan mendorongnya untuk membuat tulisan harian untuk meningkatkan kemampuannya memahami apa yang terjadi dalam dirinya.

Empati

Untuk membantu menumbuhkan empati pada anak, kita dapat melakukannya dengan mengajaknya berpikir dan berdiskusi mengenai hal-hal yang dialami atau dirasakan orang lain.

Misalnya, pada saat berada di pusat perbelanjaan dan melihat seorang anak menangis, "Menurut Kakak… kenapa anak tadi nangis?" Atau pada saat seorang temannya pindah sekolah, "Menurut Kakak, bagaimana perasaan Rena ya… harus pindah sekolah karena Papanya pindah tempat kerja?" dan sebagainya.

Moralitas

Moralitas merupakan muara dari ketiga atribut sebelumnya, yaitu pengambilan keputusan, pemahaman diri dan empati; yaitu perasaan bukan hanya mengenai benar dan salah, tapi juga sesuatu untuk hal yang lebih baik daripada kebutuhan pribadi mereka.

Dan untuk melatihnya, kita bisa melakukannya dengan mengajaknya berpikir mengenai suatu situasi. Misalnya, "Menurut Kakak, pada saat sebuah mobil menerobos lampu merah karena sedang membawa orang sakit itu boleh atau enggak?" dan sebagainya.

Serta tentu saja, kita pun sebagai orang-tua perlu menjadi model bagi anak-anak kita untuk mengajarkan kebaikan, kejujuran, sikap dermawan, dan bagaimana menghormati orang lain.

#5: Menggerakkan Tubuh untuk Meningkatkan Kendali Pikiran

Nah, membaca bagian ini… saya jadi teringat waktunya lagi males mau ngapa-ngapain padahal kerjaan lagi numpuk, dan solusinya itu kadang adalah jalan-jalan bentar, ngulet (menggeliat) dan sejenisnya. Yang somehow itu bisa memecah rasa malas dan lebih bersemangat melakukan hal yang harus dilakukan.

Dan ternyata… yes, teman-teman…
Gerakan tubuh akan mempengaruhi kimia pada otak dan bisa membantu menghubungkan antara otak bagian bawah dan otak bagian atas.
Hal ini senada dengan penelitian yang menyebutkan bahwa pada saat kita merubah kondisi fisik kita (misalnya melalui gerakan atau relaksasi), maka kondisi emosional kita pun akan berubah.

Jadi, pada saat anak perlu menenangkan atau mengendalikan dirinya, kita dapat membantunya dengan mengajaknya bergerak. Misalnya pada saat anak lesu harus mengerjakan PR-nya, kita bisa mengajaknya untuk bermain lompat-lompat dengan lagu 'If You're Happy and You're Know It…' atau bahkan tepuk tangan, perang jempol dan apa saja lah disesuaikan dengan karakter dan kebiasaan anak. Ga ada pagunya, just be creative

***

Yup, itulah intisari dari chapter tiga Buku 'The Whole-Brain Child' ini yang bisa saya tangkap…

Setelah saya membaca pembahasan empat bagian otak (otak kiri, otak kanan, otak bagian atas dan otak bagian bawah), somehow saya jadi berpikir, bahwa kita harus lebih peka dengan perilaku yang anak kita lakukan untuk dapat memberikan respon yang tepat.

Di chapter dua ini, kita misalnya mengenai tantrum saja, kita perlu menganalisa latar belakang perilaku itu. Dan untuk itu, maka kita perlu selalu mengamati untuk mengenali anak kita. Caranya, tentu saja dengan memanfaatkan waktu bersamanya semaksimal mungkin, banyak mengajaknya mengobrol, mencari tahu perilakunya di sekolah, dan banyak lagi. Itu semua adalah modal kita untuk kemudian menganalisa perilaku anak dan mampu memberikan respon yang tepat.

Seru ya teman-teman… Jujur, saya ga sabar meneruskan membaca chapter empat dan membaginya dengan teman-teman semua. Yang tentunya, sebenarnya dalam rangka saya belajar juga sih, hihi…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, May 31, 2019

Traumatisnya Tembakau bagi Saya

Rokok atau tembakau mungkin adalah hal yang sangat biasa kita temui di Indonesia… Pada saat berbelanja di minimarket, deretan rokok yang dipajang rapi ada di hadapan kita saat membayar di kasir, bahkan dengan gambar-gambar mengerikan yang sudah menghiasi kemasannya sejak beberapa tahun lalu…

Karenanya pula, dampak rokok bagi kesehatan bukan lagi rahasia, jadi silakan googling aja kalau mau tau bahayanya rokok bagi kesehatan. Atau, cukup nongkrong di depan kasir minimarket, udah keliatan kok… Saking biasanya, mungkin orang menganggap semua itu sepele saja…


But no! Saya tidak pernah menganggap rokok sesepele itu… Bahkan bagi saya, dia adalah satu karakteristik yang krusial dalam menentukan pasangan hidup di masa lajang saya. 

Yup, saya benci rokok! Dan saya tidak ingin suami saya adalah perokok! Sounds judgmental sekali ya… Tapi ya ini adalah perasaan pribadi saya… Toh saya juga tidak memaksa kok, dan saya pun tahu tidak bisa memaksa seseorang berhenti merokok, karena itulah, daripada saya makan hati seumur hidup hidup bersama perokok, ya sudah lah ya… better I'm looking for someone who's not

***

Kenapa sih saya benci rokok?

Baik… sejak kecil, sesungguhnya saya sudah cukup akrab dengan yang namanya rokok, bapak saya seorang perokok berat. Tidak jarang bahkan beliau menyuruh saya ke warung membeli rokok. Sampai sekarang, saya masih ingat betul kok rokok favoritnya, tapi ga usah disebutin lah ya… 

Ya, sejak kecil saya biasa melihat bapak saya atau pun orang di sekitar saya merokok… Saya kecil kala itu, ya tidak tahu apa sih sebenarnya rokok itu? Sampai akhirnya saya beranjak remaja dan merasa bahwa rokok itu adalah benda jahat yang mengukuhkan arogansi dan keegoisan seseorang yang saya kenal. Ya siapa lagi kalau bukan Bapak saya…

Tapi, ini bukan berarti saya benci dengan bapak saya ya… kami memiliki hubungan baik kok… meskipun benda bernama rokok itu tetap meninggalkan jejak di hati saya…

OK, sepertinya cerita selanjutnya akan jadi melankolis ya…

Rokok dan Adiksi

Beberapa orang mungkin berdalih bahwa rokok itu tidak menimbulkan ketergantungan sebagaimana zat-zat psikotropika, namun harus tetap diakui bahwa berhenti merokok itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

Keluarga kami bukan lah keluarga berada dan saya happy-happy saja sih dengan segala keterbatasan itu… Bahkan saya bangga tuh tidak kalah berprestasi dengan teman-teman lainnya yang notabene memiliki kelonggaran finansial lebih dari saya. Saya juga sangat bangga dengan ibu saya yang jualan di pasar dan bapak saya yang pinter banget ngebengkelnya…

Tapi, saya tidak suka bagaimana bapak tetap merokok meskipun dengan segala keterbatasan kami… Bahkan dengan arogannya berkata, supaya saya tidak usah mengurusi kebiasaannya merokok. Sakit lho rasanya…

Bayangkan kata-kata seperti itu diucapkan pada anak yang baru duduk di akhir bangku SD dan berlanjut hingga SMP, SMA dan seterusnya. Masa-masa dimana anak sudah mulai bisa berpikir tentang baik, buruk dan moralitas… Dari saat itulah saya berpendapat bahwa rokok itu jahat! Karena demi dia, seorang kepala keluarga terkadang memangkas kebutuhan keluarganya yang lebih penting. Bukan sekedar kebutuhan finansial, tapi juga kebutuhan akan perhatian, merasa dihargai dan disayangi…

Rokok dan Stroke

Tahun 2005 bapak saya terserang stroke! Saat itu, saya masih kuliah di semester lima… benar-benar di tengah masa kuliah saya. Dan segalanya berubah menjadi lebih berat lagi sejak saat itu… bukan hanya karena permasalahan finansial, tapi juga psikologis.

Kondisi bapak yang lumpuh pada tubuh bagian kiri praktis membuatnya tidak mampu bekerja membantu memenuhi kebutuhan kami. Beruntung kami masih memiliki keluarga besar yang turut meringnkan beban kami, namun besarnya biaya berobat bapak, biaya sekolah kami bertiga, dan biaya sehari-hari; semua tetap terasa berat di pundak Ibu seorang diri.

Belum lagi kondisi psikis bapak yang menjadi jauh lebih temperamental akibat gangguan pada otaknya. bapak saya yang dulu sudah cukup keras kepala dan pemarah, karena stroke yang pada otak kanannya membuatnya berlipat lebih temperamental. Kami anak-anaknya dan juga Ibu tentu saja seringkali menjadi sasaran amarahnya dan juga kesedihannya.

Di satu sisi, saya begitu iba pada bapak yang kemudian tidak mampu melakukan begitu banyak hal secara mandiri dan harus tergantung pada orang lain. Namun, itu tidak menghilangkan marahnya hati saya saat kemudian menjadi sasaran temperamen bapak dan harus memaksa diri saya sendiri untuk mengalah.

Itu adalah situasi yang sangat berat bagi kami semua… Dan dari segala kebiasaan hidup tidak sehat  yang bapak jalani, saya semakin benci dengan benda bernama rokok!

Saya tidak akan bilang bahwa rokok adalah satu-satunya penyebab bapak mengalami stroke, karena bapak pun memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat. Tapi, sepanjang pengetahuan saya dari berbagai literatur dan penelitian yang saya baca, kebiasaan merokok adalah satu hal yang akan meningkatkan risiko kejadian stroke.

Jadi, tidak salah bukan, jika kemudian saya sebegitu bencinya dengan rokok? Apalagi melihat kenyataan bahwa bahkan setelah mengalami stroke pun, beberapa tahun kemudian bapak masih kembali kepada rokok, meski dengan intensitas yang jauh berkurang.

Rokok itu jahat! Jangan mendebat itu dengan saya…

***

Yah, begitulah cerita saya teman-teman… Setelah semua pengalaman saya, rokok itu begitu identik dengan sikap egois, mau menang sendiri dan arogan.

Egois dan mau menang sendiri, karena demi rokok tidak jarang penikmatnya menomorduakan kebutuhan yang lebih utama dan penting dalam keluarganya. Padahal, rokok sendiri sesungguhnya bukanlah kebutuhan hidup…

Serta arogan, karena meskipun dengan berbagai fakta dan hasil penelitian yang menunjukkan bahaya rokok bagi kesehatan, penikmatnya masih menantang kenyataan itu. Dengan berkata, "Ah, yang merokok umurnya panjang juga banyak…" Padahal, oh man, ini bukan masalah umur panjang, tapi kualitas kesehatan kita yang tidak bisa selalu dibandingkan satu sama lain. Jika pun ingin membandingkan, bandingkan kesehatan kita sebagai perokok dan tanpa rokok, bandingkan diri kita sendiri, ga usah  cari pembenaran dari seupil kejadian langka diantara lautan fakta.

Bagi saya, memilih untuk menjadi perokok adalah keputusan yang kurang smart… karena sama dengan mengumpankan diri kepada monster jahat. Rokok akan membelenggumu, meskipun tidak sekuat narkoba. Dia akan membuatmu kesulitan untuk lepas, meskipun dihadapkan dengan berbagai kondisi yang tidak mendukung lagi, baik secara finansial atau secara kesehatan.

Jadi, jika kamu bukan perokok, better never try lah…

Dan jika kamu adalah perokok, please lihat orang-orang yang kamu cintai, jangan sampai mereka merasa dinomorduakan, diperlakukan egois, dipaksa mengerti sesuatu yang salah… hanya karena rokok…

Kadang saya menangis sambil menulis diari masa kecil saya dalam kondisi itu. Dan lebih buruk saat merasa bahwa dia (rokok) adalah penyebab bapak saya jatuh stroke, sehingga memperberat kehidupan kami, baik dari sisi finansial maupun psikologis. Tidak salah bukan jika hati saya jadi sekeras ini mengenai rokok…

Dan percayalah, kalian tidak ingin orang-orang yang kalian cintai merasakan apa yang saya rasakan…

Jadi, dengarkan lah pada saat mereka mengeluh atau menasehati tentang kebiasaan merokokmu… Singkirkan jauh-jauh, perasaan bahwa apa yang mereka bicarakan hanyalah omong kosong yang sudah kamu ketahui semuanya. Bukan, bukan tentang itu… Mungkin mereka bukan hanya sekedar memberitahumu, tapi mereka sedang mencari kasih-sayangmu untuk mereka…

Kamu mencintai mereka bukan?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, May 29, 2019

Mengatasi Anak yang Takut ke Dokter Gigi

Teman-teman ada yang anaknya takut ke dokter gigi? Kalau iya, samaan kita…

Sungguh, ke dokter gigi itu bagaikan sinetron yang bikin gemes ending-nya. Anaknya sih seneng-seneng aja diajak ke dokter gigi, pas disuruh duduk di meja tindakan juga masih OK. Tapi, begitu disuruh mangap, dioles anastesi dan dokter pegang tang untuk mengambil giginya… mulai lah Ganesh nanya macem-macem begini begitu dalam rangka membuat dokter menunda mencabut giginya.


Asli gemes kalau udah kaya gini! Beberapa kali saya sampai memilih membawa Ganesh keluar dari ruang praktek dulu untuk membujuknya, supaya tidak menghambat antrian…

Sebenarnya kenapa Ganesh jadi susah dieksekusi masalah gigi ini juga ada andil kesalahan kami sih… Jadi, dulu pada saat giginya pertama kali goyang, kami mengajaknya ke dokter gigi yang sedikit kurang friendly gitu deh… juga kok kayaknya wejangannya menyesatkan kami. Jadi, waktu itu, sang dokter bilang kalau gigi anak ya memang kalau sudah saatnya walaupun belum goyang harus dicabut biar giginya rapi. Well, ini membuat kami sedikit obsessed dan buru-buru mengajak Ganesh ke dokter gigi begitu giginya goyang sedikit…

Padahal, kemudian pada saat kami pindah dokter gigi, sang dokter tidak menyarankan mencabut gigi anak yang baru goyang sedikit, karena takut trauma… Terus, saya setuju dengan pendapatnya, dan lumayan nyesel sih kenapa dulu anak Ganesh ke dokter gigi itu.

Di dokter gigi lama itu, memang Ganesh sempat mengalami insiden yang membuatnya (mungkin) trauma.

Jadi, waktu itu, Ganesh mau cabut gigi di dokter lama ini… Bukan yang pertama sebenarnya, tapi hari itu mendadak dia ga mau pas sudah di meja tindakan. Nah, kok ya kami ga sabar dan pulang dulu saja, tapi malah tetap mencabut giginya. Alhasil tangan sang dokter digigit…

Sejak itulah, drama maju mundur di meja tindakan terjadi dan berulang sampai beberapa kali…

Ya akhirnya anaknya tetap dicabut juga sih… tapi effort-nya itu lho… Sampai beberapa kali keluar masuk ruang praktek karena pas mau dicabut, anaknya ada aja alasannya untuk ga dicabut. Bahkan yang terakhir, saking lamanya akhirnya keluar juga gratifikasi berupa janji mau beliin mainan kalau mau dicabut gigi. Juga ancaman, kalo ga mau juga dicabut giginya, nanti akan ditinggal pulang…

Yes, dua yang terakhir sangat tidak mendidik saya akui… tapi, kondisi terjepit… udah hampir satu jam di dokter gigi anaknya masih aja maju mundur dan jika pun mau pulang dan kembali lagi lain hari, takutnya malahan anaknya semakin menjadi, berpikir kalo dia bisa menunda sampai hari beriutnya. Jadi, ya sudahlah…

Hingga akhirnya, Selasa kemarin kami sukses mengakhiri drama yang menguras kesabaran itu… Tanpa drama sama sekali, anaknya akhirnya duduk di meja tindakan dan membiarkan giginya dieksekusi begitu saja.

Ya, tetep sih, dia sempat menjerit kesakitan pada saat giginya diambil… Pun pada saat diambil, tangannya ikut memegangi tangan sang dokter, tapi tidak menghalangi. Doesn't matter lah ya…

Penasaran kok bisa begitu? Begini ceritanya…

#1: Empati, kemudian menjelaskan mengapa harus, bagaimana caranya, dan siapa yang akan mencabut giginya

Pada saat anak-sanak mengalami emosi tertentu, dalam hal ini ketakutan, empati adalah kunci untuk dapat membuatnya lebih tenang, mengendalikan emosinya, dan kemudian lebih siap untuk berpikir rasional.

So, proses ini dimulai dengan

"Anesh, Mama tau Anesh takut… Mama dulu juga takut sih pas pertama cabut gigi. Tapi, meskipun takut, ya itu harus dilakukan… Kalo giginya ga dicabut, gigi kita jadi ada dua lho… Apa enak punya gigi dua? Udah gitu kalo giginya ga rapi kaya gitu, kotoran susah diilangin dan jadinya gampang berlubang lho Kak… Jadi, walaupun Anesh takut, ya tetap harus kita cabut…"

"Lagian, itu sakitnya ga banget lho Kak… Cuma sedikit aja, karena kan Tante Dokter pake gel yang diolesin ke gusi Kakak dan bikin saraf Kakak bobok sebentar…"

"Nanti Tante Dokter itu pake tang cabutnya, jadi ga meleset-meleset tangannya dan cepet cabutnya… Paling sakitnya satu detik aja…"

"Anesh tau enggak? Tante Dokter itu udah sekolah lama banget biar bisa jadi dokter gigi lho… Dia udah diajarin gimana caranya cabut gigi yang ga sakit, arahnya harus kemana, pake alat apa… banyak… Makanya, Anesh percaya ya sama Tante Dokter…"

#2: Mengulang-ulang prosesi mencabut gigi di dokter gigi sesering mungkin, juga maksud dan tujuan dari mencabut gigi

Selama seminggu menunggu waktu mencabut gigi berikutnya yang sudah mulai goyang, setiap hari saya selalu mengajak Ganesh membayangkan prosesi mencabut gigi yang dihadapinya selama ini…

"Anesh, ayo kita bayangin gimana sih kalo ke Tante Dokter mau cabut gigi itu… biar Anesh tau banget apa yang Anesh takutin itu…"

"Pertama Anesh, kita dateng tuh ke rumah sakit, terus daftar sama tante di bawah… Habis itu, kita naik ke atas, terus Anesh ditimbang sama diukur badannya. Habis itu, kita disuruh nunggu lagi sampe giliran kita."

"Terus, kita nunggu… Tante Dokternya dateng deh, terus kita dipanggil, "Anak Ganesha…" Terus kita masuk ke ruangan tante dokter…"

"Kita duduk di kursi depan tante dokter… baunya coba diinget-inget Nesh, kan Anesh katanya ga suka baunya ruangan tante dokter ya…"

"Habis itu, tante dokter nanya, "Kenapa Anesh?" Terus Anesh jawab, "Mau cabut gigi tante…" Terus Anesh disuruh duduk di kursi buat cabut gigi deh…"

""Buka mulutnya Nesh…" katanya Tante Dokter. Terus Anesh diolesin gel yang bikin ga sakit pas dicabut giginya… Habis itu, Tante Dokternya ngeliatin tangnya yang buat cabut gigi Anesh, terus ditempelin di gigi Anesh, terus nanya, "Sakit enggak Nesh?" Terus Anesh jawab, "Egghaak… soalnya Anesh kan jawabnya sambil mangap…" *Kasih joke dikit biar anaknya ketawa

"Terus, Tante Dokter nanya, "Giginya Tante ambil ya…" 

"Nah, udah Anesh bayangin kan… bagian mana nih yang bikin Anesh takut?"

Iya, sedetail itu… setiap hari… bahkan sehari bisa lebih dari sekali… untuk membantu Ganesh memvisualisasikan ketakutannya dengan sedetail mungkin. Yang tak lain semua ini bertujuan untuk mengidentifikasikan emosinya, sehingga kemudian akan membuatnya lebih mudah meng-handle emosinya tersebut.

Baca juga: 

Di sela-sela sesi visualisasi ini, juga saya menyisipkan alasan dari beberapa hal. Misalnya, pada saat dia bilang baunya ruangan dokter gigi yang membuatnya takut, kemudian saya jelaskan, "Anesh, jadi alat-alatnya Tante Dokter itu kan perlu diilangin kumannya, jadi dia pakai cairan khusus untuk nyeterilin alat-alatnya itu… nah inilah yg bikin baunya kaya gitu. Juga obat pelnya lho Kak, itu beda anti kuman…"

#3: Membuat perjanjian mengenai konsekuensi jika masih berlama-lama cabut giginya

Yak, selain poin satu dan dua, mendekati hari H, saya pun membuat kesepakatan dengan Ganesh seperti ini, "Kakak, besok Mama ga mau lagi ya Kakak lama-lama cabut giginya… Kalau besok lama, Mama ga mau anterin lagi… Anesh sama Papa aja cabut giginya!"

Hwahaha… saya galak banget ya… Tapi, ini ada tujuannya…

Jadi, si Ganesh ini anaknya tipe yang suka nawar… jadi selama masih dia tawar, ya dia akan nawar sampai dapat mendekati yang dia mau. So, I just need to make it clear kalau dia ga bisa nawar dalam hal ini. Dia harus segera mencabut giginya begitu kami memutuskan ke dokter gigi. Titik. Tidak ada tawar menawar lagi.

***

Daaan… tada… alhamdulillah… eksekusi gigi Ganesh kemudian benar-benar tanpa drama. Wow!

Jadi, hari itu di jalan pun saya ulang lagi memvisualisasikan prosesi pencabutan giginya pada poin dua. Lalu bertanya, "Bagian mana yang Anesh takut? Kira-kira Anesh berani enggak?" Dan dia menjawab, "Anesh enggak takut…"

Lalu saya ingatkan juga tentang kesepakatan pada poin tiga… dan saya tekankan bahwa tidak ada tawar-menawar setelah kesepakatan. Jadi, jika dia hari itu pake acara drama lagi cabut giginya, dipastikan kalau saya tidak akan mengantarnya lagi ke dokter gigi.

Daan… tumben, begitu duduk di meja tindakan, semua berjalan lancar… Diminta buka mulut, ya buka mulut… Diolesin gel anastesi ya anteng aja… Begitu waktunya cabut gigi juga ga ada apa-apa, cuma dia ikut pegangin tangan dokter giginya, terus "Aaak…" tau-tau giginya sudah dicabut gitu aja…

Asliii… kaya menang lomba blog aja rasanya, seneng banget…

Anaknya juga super happy berhasil mencabut giginya tanpa drama, sepanjang jalan dia tak henti-henti bercerita tentang kemenangannya. "Mama, I'm so proud of my self," katanya… dilanjutkan dengan, "Mama, do you proud of me?"

"Ooh Anesh, yes! Tentu saja yesss…" Tuh 'S' nya sampe banyak banget saking bangganya… "You do great!"

Lalu dia bilang lagi, "Mama, kapan Anesh cabut gigi lagi? Anesh pengen liatin Papa kalau Anesh udah berani…" Hahaha… Anesh… Anesh…

***

Iya… gitu deh ceritanya kami mengakhiri drama maju mundur waktu cabut gigi… Semoga habis ini, beneran ga ada drama lagi ya… Dan semoga juga cerita ini bisa bermanfaat untuk teman-teman semua ya… Amiin…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, May 19, 2019

Tentang Aktualisasi Diri, Hierarki Kebutuhan Maslow dan Konformitas

Di mata banyak orang, Lani adalah seorang wanita yang beruntung. Selepas menamatkan pendidikannya di sebuah universitas terkemuka, kemudian dia mendapatkan pekerjaan yang cukup prestise di sebuah perusahaan BUMN.

Dari social media-nya pun tampak dia cukup menikmati pekerjaannya, meskipun memang dia jarang posting hal berkaitan dengan pekerjaannya.

Pekerjaannya adalah idaman banyak orang… Gaji relatif besar, tunjangan kesehatan memberikan jaminan yang cukup untuknya dan keluarga, dan beban kerjanya pun tidak terlalu berat. Wow! Apalagi yang dicari coba?

Karena itu, saat dirinya mengungkapkan keinginannya untuk resign, kemudian beberapa orang berujar, "Sayang lho… pikir bener-bener deh…" Dan dia pun menuruti nasehat itu, dia bertahan hingga beberapa tahun, berusaha meyakinkan dirinya akan nasehat orang-orang padanya… Namun, anehnya keinginan itu bukannya surut, dan justru semakin menjadi-jadi…

***

Fiksi ya ini ya teman-teman… alias bukan kisah nyata… Tapi, kejadian seperti ini tidak jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak bisa dibilang sering.

Dan somehow, kemudian insting suka menganalisa hal-hal macam ini muncul dan dilanjutkan dengan pemikiran, "Lumayan juga buat update blog…" Sampai akhirnya, niat pun bulat untuk buat tulisan tentang 'gejolak' pikiran saya ini…

Here it is

***

Dalam sebuah teori, bernama Hierarki Kebutuhan Maslow, dikisahkan bahwa motivasi seseorang untuk melakukan berbagai hal itu dapat dikategorikan dalam lima golongan besar dan dijelaskan dalam konsep hierarki.

Biar kebayang, kita liat gambarnya dulu…


Jadi, menurut teori ini, hal pertama yang akan menjadi motivasi seseorang adalah kebutuhan fisiologis… Dan baru setelah kebutuhan tersebut terpenuhi dalam batas tertentu, kemudian motivasi akan naik ke level di atasnya, yaitu kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta… Begitu seterusnya…

Ya, menurut Maslow, motivasi kita bersumber dari belum terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tertentu; kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta, kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta, kebutuhan harga diri, serta aktualisasi diri.

Dimana untuk empat level pertama, motivasi akan menurun semakin kebutuhan tersebut terpenuhi. Sementara untuk kebutuhan teratas yaitu aktualisasi diri, justru kebutuhan akan semakin meningkat semakin kebutuhan tersebut terpenuhi.

Gampangnya gini… saat seseorang lapar, maka mencari makan adalah motivasi utamanya. Dia mungkin akan mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan dasar ini. Kemudian, setelah kebutuhan ini terpenuhi pada taraf tertentu, maka dia tidak akan lagi menjadi motivasi bagi orang tersebut. Kemudian, orang tersebut akan berusaha memenuhi kebutuhannya akan rasa aman, mungkin dengan berusaha mencari pekerjaan dengan status pegawai tetap yang lebih memberikan kepastian, maupun risiko kecelakaan kerja lebih kecil.

Begitu… seterusnya… sampai akhirnya terpenuhi kebutuhannya akan harga diri, aktualisasi diri pun kemudian akan menjadi motivasinya.

Tapi, perjalanan motivasi ini pun tidak mulus alias menapak ke atas terus… Bisa naik, bisa turun, bisa juga stuck alias diam di tempat, tergantung kondisi lingkungan dan juga kepribadian serta preferensi seseorang. Ya akan ada juga orang yang motivasinya all about the money, ga perlu tuh yang namanya harga diri, para koruptor misalnya kan…

Lalu, berbicara mengenai level motivasi tertinggi, yaitu 'aktualisasi diri', sesungguhnya hal ini lah yang mendorong Lani kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.
Menurut Maslow, 'aktualisasi diri' adalah istilah untuk menyebut keinginan seseorang akan self-fulfillment (pemenuhan diri), yaitu kecenderungannya untuk mewujudkan dirinya sesuai potensi yang dimilikinya. 
Di tempat kerjanya saat ini, ternyata Lani merasa tidak merasa bisa mengembangkan potensinya dengan baik. Dia sudah berusaha keras menemukan kenyamanan dengan menampilkan performa terbaiknya, juga berprestasi dalam bidang-bidang sesuai passion-nya. Tapi, apa daya, pada satu titik dia benar-benar merasa tidak nyaman dan memilih untuk berhenti dari pekerjaannya.
Karena uniknya setiap individu, motivasi untuk mengaktualisasikan diri kemudian mendorong orang ke arah yang berbeda-beda. Ada yang mencapainya melalui seni atau literatur, dan bisa juga dalam bidang olah-raga, menjadi guru, atau dalam dalam setting perusahaan (Kenrick et. al., 2010).
Aktualisasi diri bukan tentang banyaknya materi, tapi sebuah kesempatan seseorang bisa menjadi sebesar potensi yang dimilikinya. Dan juga bukan berarti jika seseorang siap tinggal landas menuju level aktualisasi diri kemudian kebutuhan-kebutuhan lain yang telah dipenuhi akan selamanya aman… Tentu tidak…

Ada kalanya peluang mengaktualisasikan diri itu berisiko mengganggu stabilitas kebutuhan yang telah dipenuhinya. Contoh sederhananya adalah saat Lani ingin berhenti dari pekerjaannya untuk mengembangkan diri dengan risiko bahwa pekerjaan barunya tidaklah mampu menghasilkan sebesar penghasilan lamanya.

Inilah yang kemudian sering digaungkan orang sebagai, "Life's begin at the end of your comfort zone…" Dalam tujuan mencapai diri yang teraktualisasi itu, kita perlu mengambil risiko untuk keluar dari zona nyaman yang sudah kita capai. Karena itu, tidak berlebihan rasanya jika kemudian Maslow memperkirakan bahwa hanya dua persen orang yang mampu mencapai level aktualisasi diri.

Wah, hebat dong orang yang bisa sampai ke level aktualisasi diri?

Hmm, jika menilainya adalah dia bisa mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai orang lain, yup, dia hebat. Atau dari sudut padang psikologis netral, mereka ini adalah golongan orang-orang yang spesial alias unik. Tapi, latar belakang dan kondisi setiap orang itu kan berbeda… Jadi, just follow your heart… and let's embrace whatever our choice… Toh definisi kesuksesan setiap orang itu kan berbeda…

Dan kembali pada hal aktualisasi diri, berdasarkan pengamatan pada 18 orang yang dinilai mencapai level ini (aktualisasi diri), termasuk Abraham Lincoln dan Albert Einstein, Maslow mengidentifikasikan 15 karakteristik dari individu yang mampu mengaktualisasikan dirinya:
  1. Individu yang memahami realitas secara efisien dan dapat mentolerir ketidakpastian
  2. Menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya
  3. Spontan dalam berpikir dan bertindak
  4. Berfokus pada masalah (bukan pada diri sendiri)
  5. Memiliki selera humor yang tidak biasa
  6. Mampu melihat kehidupan secara efektif
  7. Memiliki kreativitas tinggi
  8. Tidak mudah terpengaruh pada enkulturasi
  9. Peduli pada kesejahteraan manusia
  10. Mampu memberikan apreasiasi mendalam terhadap pengalaman hidup dasar
  11. Membangun hubungan interpersonal yang memuaskan dengan sedikit orang
  12. Pengalaman puncak (peak experiences
  13. Kebutuhan akan privasi
  14. Sikap demokratis
  15. Moral dan standar etik yang kuat
Dan kemudian, apa hubungannya antara aktualisasi diri dan konformitas? Eh, by-the-way, udah pada tau belum sih apa itu 'konformitas'?
Konformitas adalah salah satu jenis pengaruh sosial yang meliputi perubahan kepercayaan (sikap mental) atau perilaku untuk menyesuaikan dengan sebuah kelompok. Dimana perubahan ini merupakan respon pada tekanan kelompok yang nyata (misalnya kehadiran fisik orang lain) atau yang dibayangkan (misalnya tekanan dari norma sosial dan ekspektasi).
See… dari kelimabelas karakteristik orang yang mampu mengaktualisasikan diri tersebut jelas mengisyaratkan bagaimana individu tersebut menghargai keunikan diri sendiri dan orang lain, serta tidak mudah terpengaruh pada budaya atau lingkungan… Yes! Tidak salah bukan, jika saya merasa bahwa seseorang yang cenderung tidak konformis itu memiliki dorongan yang lebih tinggi akan aktualisasi diri dan potensi untuk mencapainya.

So, jika suatu saat teman-teman menemui sesosok orang yang tampak tidak sejalan dengan jalan berpikirmu dan banyak orang… No, itu bukan berarti bahwa orang tersebut buruk lho, dia hanya berbeda saja dengan kita, tidak lebih dan tidak kurang.

Sampai disini, cukup bisa dipahami bukan hubungan antara aktualisasi diri, Hierarki Kebutuhan Maslow dan konformitas yang ingin saya sampaikan?
Bahwa aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan pada level tertinggi menurut Hierarki Kebutuhan Maslow. Dan somehow, menurut Maslow, orang-orang yang sampai pada level ini memang minoritas, dan bisa dipahami jika mereka ini adalah orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Yes, indeed most of of them are nonconformist
Dan kembali pada kasus Lani… Saat dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang begitu menjanjikan, yes, dia sedang keluar dari zona amannya. Dia mengambil satu keputusan yang tidak akan diambil oleh sebagian besar orang. Pun semua itu karena dia memiliki keinginan dan mimpi yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Demikian juga jika pilihannya ini kemudian berbeda dengan kesuksesan yang didefinisikan banyak orang, itupun bukan berarti bahwa dia gagal. Semua itu semata karena kesuksesan di mata Lani berbeda dengan kesuksesan yang didefinisikan banyak orang. Dan berbeda itu sama sekali tidak salah bukan?

***
Kurang lebih begitu teman-teman…

Seribu dua ratusan kata nih by-the-way, terima-kasih sudah membaca ya… Harapannya sih, tulisan ini selain membantu saya mengeluarkan uneg-uneg karena gatel ingin menanggapi sesuatu, juga bermanfaat untuk teman-teman melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Dan selanjutnya, mungkin bisa membantu teman-teman memahami orang-orang di sekitar kita.

That's it

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, May 6, 2019

Fuwa Fuwa… Finally Arrived in Lampung!

Tada! Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu penggemar Japanese Cheesecake seantero Lampung datang juga!

Yes, Fuwa Fuwa dengan tagline-nya 'First Japanese Authenthic Fluffy Cake in Indonesia' hadir di Lampung pada tanggal 2 April 2019! Dan sejak itu, maka resmilah warga Lampung tidak perlu jastip lagi kalo pengen makan Japanese Cheesecake yang sesungguhnya…

Iya lho, ternyata dari beberapa cerita customer Fuwa Fuwa, ternyata dulu mereka harus jastip ke Jakarta kalau pengen makanan satu ini… Alhamdulillah ya, sekarang sudah tidak perlu serempong itu lagi… Yeay!

Eh, tapi… tanggal 2 April 2019 itu sesungguhnya Fuwa Fuwa Lampung baru soft opening saja, alias belum terlalu woro-woro kemana-mana akan eksistensinya… Dan baru deh, pada tanggal 27 April 2019 lalu, dilaksanakan hajatan Grand Opening sebagai bentuk syukuran atas pembukaan sekaligus pengumuman kepada khalayak luas akan kehadiran Fuwa Fuwa Lampung.

Nah, sebagai bagian dari woro-woro tadi, secara mungkin beberapa dari teman-teman belum kenal nih apa sih Fuwa Fuwa… Cekidot ya…

Apa sih Fuwa Fuwa itu?


Yes, 'Fuwa Fuwa' adalah istilah dalam Bahasa Jepang untuk mendeskripsikan suara yang berasal dari sesuatu yang ringan dan lembut. Seperti itulah kira-kira lembutnya cake Fuwa Fuwa… Penasaran? Teman-teman bisa dengarkan dengan cara mendekatkan cake Fuwa Fuwa ke telinga dan menekannya dengan kedua jari. Teman-teman akan dengar suara lirih yang menandakan lembutnya cake Fuwa Fuwa.

Kok bisa selembut itu?

Semua itu dihasilkan dari perpaduan bahan-bahan berkualitas tinggi dan telur segar yang diolah dengan teknik Jepang yang (menurut saya) cukup rumit.

Yup, produk andalan dari Fuwa Fuwa sendiri adalah Japanese Cheesecake alias Cheesecake ala Jepang dengan karakteristik khasnya. Dan basically benang merah dari produk-produk dari Fuwa Fuwa sendiri adalah keju, sehingga mereka memiliki rasa dan aroma keju yang dikemas dengan berbagai bentuk, rasa dan tekstur. 

Here they are

#1 Cheesecake (Japanese style of course


Apa Itu Japanese Cheesecake?

Ini pun yang menjadi pertanyaan saya pertama kali mendengar istilah Japanese Cheesecake… Emang Japanese Cheesecake itu apa, dan apa bedanya dengan cheesecake lainnya? Ya secara selama ini saya kenalnya ya cheesecake gaya Eropa yang ada di gerai-gerai Bre***alk…

Dan ternyata, setelah membaca beberapa artikel, baru saya tahu bedanya…

Jadi, Japanese Cheesecake (atau sering disebut cotton cheesecake atau light cheesecake) adalah jenis chiffon cake yang berasal dari Hakata Jepang pada tahun 1947. Dan seperti halnya chiffon cake, cheesecake ini memiliki tekstur yang sangat lembut atau fluffy

Cheesecake ini memiliki rasa manis yang lebih ringan dan kalori yang lebih rendah daripada cheesecake pada umumnya, karena mengandung lebih sedikit keju dan gula.

Nah, cheesecake seperti inilah signature dishnya Fuwa Fuwa… Bagi saya pribadi sangat layak dimasukkan dalam list dessert favorit karena rasanya yang enak, rendah kalori dibandingkan cheesecake jenis lainnya, dan tanpa pengawet maupun pengembang. Ga salah, jika kemudian disebutkan bahwa sepotong atau dua potong cheesecake ini tidak akan membuat kita merasa bersalah… Totally agree!


Cheesecake ini terdiri dari tiga varian; yaitu Signature (original), Choco (coklat) dan Matcha (green tea). Meskipun memiliki rasa yang berbeda, ketiganya memiliki tekstur dan kelembutan yang sama, namun spesial pada varian Choco, terdapat chocochips di tengahnya, sehingga pada kondisi panas/hangat akan lumer. Yumm…

Saking lembutnya, seperti yang suka kita lihat di video, mereka ini pun jiggly-jiggly alias bisa goyang-goyang gitu… Apalagi dalam kondisi panas ya… Kalau dalam kondisi dingin sih, udah ga terlalu heboh lagi goyang-goyangnya, tapi tetap lembuttt…

#2 Pillow Cake



Nah, kalau Pillow Cake ini sesuai namanya emang asli empukkk kaya bantal…

Jadi, kalau Pillow Cake ini teksturnya tidak selembut Cheesecake dan sedikit menyerupai bolu, namun tetap jiggly-jiggly, apalagi dalam kondisi panas.

Rasa manis Pillow Cake tergolong light dan di tengahnya melintang keju slice dengan rasa dominan asin, sehingga menjadi paduan yang sangat pas untuk teman minum kopi atau teh.

#3 Cheese Cup


Nah, kalau Cheese Cup ini rasanya mirip es krim tapi lebih creamy

Cheese Cup terdiri dari tiga lapisan; yaitu creamy cheese filling pada bagian paling atas, kemudian soft sponge cake di bagian tengah, dan crunchy crumbles di bagian paling bawah.

Nyamm… kebayang kan yummy-nya…

Oh ya, Cheese Cup ini ada tiga varian rasa ya… Original, coklat dan strawberry… Warnanya sih mirip-mirip, karena ketiganya tidak memakai pewarna tambahan.

#4 Fuwa Stick


Kebayang ga sih si Cheesecake dibekukan kemudian dilapisi coklat cair dan diberi toping suka-suka? Huh, ini enak banget lho… Macam es krim magnum gitu, tadi di dalemnya cheesecake!

Untuk memesan Fuwa Stick, kita akan diminta untuk memilih cheesecake bagian dalamnya (Signature, Choco, atau Matcha), setelah itu pilih toping yang ada: kacang, choco pearls, oreo, rainbow sprinkle, choco spinkle, dan corn flakes (maksimal tiga toping untuk tiga sisi).

#5 Fuwa Bites


Dan yang terakhir ini, Fuwa Bites adalah cheesecake dalam bentuk biskuit… Ini adalah cheesecake yang dipanggang kering hingga menyerupai biskuit, jadi rasanya tentu saja menyerupai cheesecake tapi renyah. Pas dimakan sebagai camilan sambil kerja atau nonton TV…

Fuwa Bites ini dikemas dalam bentuk pouch yang masing-masing terdiri dari tiga varian rasa (keju, coklat dan matcha).

Grand Opening Fuwa Fuwa Lampung

Setelah kurang lebih empat minggu melayani customer di Lampung, Fuwa Fuwa Lampung pun melaksanakan hajatan grand opening yang digelar pada tanggal 27 April 2019 bertempat di Outlet Fuwa Fuwa Lampung di Mall Boemi Kedaton - Ground Floor.

Pada saat Grand Opening ini, 100 buah Cheesecake Signature normalnya seharga 80K dijual dengan harga prom 30-40K saja, dengan rincian 50 kue pertama  seharga 30K dan 50 kue berikutnya seharga 40K.

Yes! It's a big deallll… Kapan lagi ada promo lebih dari 50% gini kan… Dan para penggemar cheesecake khususnya Fuwa Fuwa di Lampung pun begitu antusias memanfaatkan kesempatan ini dan rela mengantri untuk mendapatkan cake super fluffy ini dengan harga miring.


Syaratnya pun hanya follow akun instagram @fuwafuwalampung dan @fuwafuwa_world… Jadi, setelah Tim Fuwa Fuwa memastikan customer mem-follow kedua akun ini, mereka pun berhak mendapatkan nomor antrian untuk melakukan transaksi dengan harga promo tersebut… Yeay!


And guess what, 100 kue ludes dalam waktu 1 jam 20 menit saja… Amazing! Dan bahkan ada beberapa customer yang terpaksa tidak terlayani karena kuota sudah habis…

Dan suksesnya hajatan Fuwa Fuwa Lampung ini tentu tidak lepas karena kerjasama seluruh kru yang bahu membahu melaksanakan tugas masing-masing agar keramaian ini berjalan lancar dan adil. Serta tentu saja customer yang kooperatif dan tertib untuk mendapatkan antrian dan bertransaksi.

***

Wooh… what a day! Setelah sepagian para baker mempersiapkan 100 buah kue dan seluruh tim membantu packaging, mengelola antrian, dan melakukan transaksi; capek itu pasti… Tapi, semua  pasti terbayar dengan rasa puas yang membuncah melihat antusiasme dari para customer…

Dan akhir kata, sebelum menutup postingan ini, teriring doa semoga Fuwa Fuwa Lampung selalu dapat menghasilkan produk yang berkualitas dari sisi rasa dan juga kesehatan, serta selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat Lampung. Aminn…

Sekian reportase saya dan terima-kasih… *Duh, kok jadi kaku gini endingnya ya… 😂

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, April 23, 2019

The Whole-Brain Child #2: Mengintegrasikan Otak Kanan dan Otak Kiri

Finally… setelah sekian lama, bisa juga menulis review chapter kedua dari buku 'The Whole-Brain Child yang nge-hits itu…

Beberapa teman mungkin tahu, kesibukan yang melanda saya beberapa minggu ini… Dan bagi yang belum tahu, nanti saya bisikin deh di post lainnya… 😁

Udah, itu aja intronya…

***

Pada chapter pertama, kita sudah memahami bahwa sesungguhnya otak manusia itu terdiri dari berbagai bagian dengan fungsinya masing-masing. Dan kondisi psikologis yang ideal atau sehat itu berarti bahwa bagian-bagian otak ini bekerjasama secara terintegrasi untuk merespon suatu keadaan.

Nah, dalam chapter kedua ini, secara spesifik dibahas mengenai integrasi dua belahan otak manusia, yaitu otak kiri dan otak kanan.
Otak kiri adalah bagian otak yang logis, literal, linguistik dan linear; sedangkan otak kanan adalah bagian otak holistik dan nonverbal (mengirimkan dan menerima sinyal berupa ekspresi wajah, kontak mata, nada suara, gesture, dan sebagainya), serta memiliki spesialisasi pada emosi dan memori personal. 
Kalau kita orang dewasa mungkin bisa mencontohkan tidak sinkronnya otak kanan dan otak kiri pada saat patah hati, dimana otak kiri meminta kita untuk move on, tapi otak kanan merengek masih cinta. Kalau anak-anak, mungkin bisa dicontohkan antara keinginan otak kanan untuk main, sementara otak kiri merasa harus mengerjakan PR.


Disintegrasi antara otak kanan dan otak kiri bisa muncul dalam kondisi dimana peran otak kanan dan kiri tidak sejalan, baik sama-sama kuat, maupun salah satu di antaranya ditekan atau bahkan terjadi penyangkalan (denial) pada salah satu aspek (sebut saja emosi dan logika).

Contoh konkret kejadian semacam ini adalah pada saat anak-anak yang tantrum minta es krim, padahal sudah diberi tahu bahwa dia tidak boleh makan es krim karena sedang sakit. Yes, anak-anak memang masih begitu dominan belahan otak kanannya, sehingga kejadian tantrum memang seringkali terjadi.

Sedangkan contoh lainnya adalah pada saat seorang anak yang lebih dewasa yang sedang bertengkar dengan sahabatnya, dan kemudian berkata, "Aku tidak peduli jika kami tidak pernah berbicara lagi, aku benar dan dia salah…" Dimana hal ini adalah salah satu kasus penyangkalan atas perasaan atau emosi yang dirasakannya.

Kondisi disintegrasi antara otak kanan dan otak kiri tentu berdampak pada ketidakstabilan kondisi psikis anak dalam level yang berbeda-beda (ringan maupun berat), dan ini tentu adalah kondisi yang tidak baik baginya. Untuk itu, sebisa mungkin, kita sebagai orang-tua mengupayakan agar anak-anak kita mampu mengintegrasikan kedua bagian otak ini.

Dan berikut adalah beberapa trik yang bisa dilakukan orang-tua atau pendidik untuk mengintegrasikan otak kanan dan kiri seorang anak:

#1: Menghubungkan dan Mengarahkan: Membantu Anak Merasakan Emosinya

Saat saya menginjak remaja, saya mendadak mempunyai sebuah jerawat yang literally ukurannya seperti 10 jerawat yang menjadi satu. Saat itu, takut anak gadisnya merasa minder dan tidak percaya diri, ayah saya pun selalu berkata, "Udah, ga usah dipikirin (itu jerawat)… Cuek aja… Anggap ga ada apa-apa… Yang penting tetep percaya diri…"

And guess what, ini justru membuat saya mengalami 'kebingungan' yang rasanya sangat tidak nyaman… Saya berusaha menyangkal perasaan tidak nyaman harus berinteraksi dengan orang-orang, sementara merasa bahwa mereka memandang aneh jerawat saya; tapi ya tidak semudah itu. Dan hasilnya adalah saya tetap tidak bisa merasa nyaman saat berinteraksi dengan orang di sekitar saya, bahkan rasanya 'menyakitkan'… Ada kalanya saya kemudian menangis saat sendirian karena begitu merasa tidak nyaman.

Saya tentu bukan satu-satunya anak yang mengalami kejadian semacam ini, kasus-kasus anak-anak diarahkan untuk berpikir rasional dan mengabaikan emosi yang dirasakannya adalah hal yang sangat sering terjadi.

"Mama, aku males ngerjain PR…" Lalu kita jawab, "Ayo semangat! Harus tetap dikerjain Kakak… nanti ga naik kelas lho…"

Atau…

"Mama, aku bosen sekolah… aku ga usah sekolah ya…" Lalu kita jawab, "Kalo ga sekolah, Kakak nanti mau jadi apa? Katanya mau jadi engineer?"

Dan sebagainya…

Itu adalah contoh-contoh praktik dimana kita berusaha mem-by-pass emosi anak menuju jalur rasionalitas untuk mendapatkan perilaku yang kita inginkan; anak menjadi percaya diri, anak menjadi mau mengerjakan PR atau tetap berangkat ke sekolah.

Sesuatu yang ternyata tidak lah tepat dilakukan…

Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk membantu anak-anak pada saat-saat seperti itu adalah dengan membantu mereka menyadari emosi/perasaan yang dialaminya, baru kemudian menyampaikan aspek-aspek rasional dari kejadian tertentu untuk membantu mereka mengintegrasikan antara aspek emosi dan rasional… otak kanan dan otak kiri.

Jadi, berdasarkan contoh kasus di atas, alternatif respon kita sebagai orang-tua yang lebih baik adalah sebagai berikut:

"Mama, aku malu keluar rumah dengan jerawat segede ini…" Kita jawab, "Iya, Mama tau kamu pasti ga nyaman banget bertemu teman-temanmu dengan jerawat sebesar itu… Iya kan? Rasanya kaya orang-orang ngeliatin kita terus dan bertanya dalam hati soal jerawat itu kan?"

Biarkan anak menceritakan perasaannya, kita berikan empati agar anak berdamai dengan emosinya, baru kemudian menyampaikan sisi rasional… "Kakak, ada kalanya kita tidak merasa nyaman karena sesuatu, it's OK, ini manusiawi kok… Tapi, kita tetap harus berusaha memilah saat dimana kita harus tetap melangkah meskipun tidak merasa nyaman… Seperti yang Kakak alami, meskipun Kakak merasa tidak nyaman bersama teman-teman, tapi Kakak juga tau kan menghindar itu bukan hal yang baik… Kakak tetap perlu pergi ke sekolah dan bahkan bersama teman-teman Kakak, karena sesungguhnya mereka pun peduli pada Kakak…"

"Mama, aku males ngerjain PR…" Kita jawab, "Kadang Mama juga merasa begitu lho Kak… Males mau ngerjain sesuatu, kadang bosen juga… Sekarang apa yang Kakak rasain? Kok males ngerjain PR?"

Kita beri anak kesempatan untuk mengidentifikasi apa yang dirasakannya, baru kemudian memberikan pemahaman dari sisi rasional, "Coba Mama liat, emang PR Kakak masih berapa lagi sih? Kita kerjain bareng-bareng yuk…"

Kurang lebih seperti itu…
Jadi, sebisa mungkin kita mengajak anak untuk menyadari, memahami dan menerima emosi yang dirasakannya… Baru kemudian menyampaikan aspek rasional dari peristiwa tersebut. Connect with the right (brain), then redirect with the left (brain)
#2: Menceritakan Kembali Kejadian untuk Menenangkan Emosi yang Dahsyat

Pada saat anak-anak mengalami suatu kejadian yang menyakitkan, mengecewakan atau menakutkan, ada kalanya hal ini disertai dengan muatan emosi yang dahsyat, hingga anak tidak mampu mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi atau dirasakannya.

Misalnya: anak-anak trauma dengan dokter gigi… Pada awalnya diajak ke dokter gigi sampai dengan masuk ruang periksa sih baik-baik saja, tapi begitu harus duduk di kursi tindakan, kemudian dia menjadi gelisah dan menolak.

Secara otomatis, biasanya kita akan menenangkannya dengan berkata, "Ga papa Kakak, ga sakit kok… Itu kan tante dokternya pakai 'dingin-dingin' ga akan kerasa lho…" dst.

Tapi, dalam intensitas emosi atau sebut saja trauma yang cukup mendalam, hal ini tidak akan efektif…

Salah satu cara untuk menghadapi anak dalam kasus seperti ini adalah dengan membantunya merasakan dan mengidentifikasi emosi yang dirasakannya. Dimulai dari apa yang dirasakannya saat akan duduk di meja tindakan, apa yang ditakutkannya, dan sebagainya… Semakin detail kita dapat menggali dan meminta anak menceritakan perasaannya, maka akan semakin baik anak mampu meng-handle emosinya dan tidak lepas kendali dari aspek rasionalnya.

Konkretnya mungkin bisa kita lakukan dengan cara bercerita dari hati ke hati…

"Kakak… kenapa sih Kakak tadi ga mau duduk di kursi Tante Dokter?"

"Kakak takut Mama… gimana ya, Kakak takut aja… kok rasanya mau dicabut giginya itu serem ya…"

"Hmm, gitu ya… Iya sih, emang cabut gigi itu agak serem dibayangin… Soalnya gigi kita kan ditarik dari gusi, bisa jadi agak sakit sih Kak… Karena kan pasti ada lukanya dan berdarah…"

Yeah, bring it on… kita bantu anak-anak memvisualisasikan dan mengidentifikasi rasa takutnya supaya mereka memahami apa yang membuatnya merasa takut…

Mungkin kita berpikir bahwa untuk menghilangkan rasa takut, marah, atau emosi negatif lainnya itu adalah dengan sebisa mungkin tidak memunculkan ketakutan, kemarahan atau apapun itu… Tapi, itu adalah sesuatu yang sepenuhnya salah!

Dengan upaya melupakan, tidak mengungkit, dan sebangsanya sesungguhnya hanyalah memendam 'permasalahan' yang ada ke alam bawah sadar, bukan 'menyelesaikannya'. Masalahnya tetap ada, demikian juga dengan emosi negatifnya… Dan mereka akan menciptakan disintegrasi antara belahan otak kanan dan kiri, antara emosi dan logika…

Dan lagi-lagi, saya membuktikannya pada diri saya…

Duluu sekali, sebagai seorang yang intravert garis keras, seringkali over analisa membuat saya mengalami self guilty alias merasa bersalah. "Gimana kalo aku ga bisa ya… Orang-orang kayaknya ngeliat aku aneh deh…" dan sebagainya… Sesuatu yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman dalam pergaulan dengan teman sebaya.

Kemudian, saat saya menyadari bahwa saya perlu menyelesaikan perasaan-perasaan yang mengganjal dalam diri itu, kemudian saya pun rutin mereview kejadian dalam satu hari. Dan saat menyadari ada perasaan tidak nyaman untuk di-recall, disitu justru kemudian saya berusaha memvisualisasikan perasaan itu senyata mungkin. And that's work!
Sehingga, kini saya pun bisa bilang dengan yakin bahwa menceritakan kembali atau me-recall suatu pengalaman negatif akan membantu anak-anak mengelola emosinya serta mengintegrasikan kerja otak kanan dan kirinya.
***

Yes, kurang lebih seperti itulah beberapa hal yang bisa saya rangkum dari bab 2 Buku 'The Whole-Brain Child' dengan judul 'Two Brains are Better than One: Integrating The Left and The Right'. Yang kalau dipikir bener banget sih…
Bahwa untuk mencapai kondisi psikis yang sehat dibutuhkan integrasi antara otak kanan yang berfungsi memproses emosi dan otak kiri yang berfungsi memproses logika.
Terlalu menuruti emosi tanpa logika tentu akan konyol jadinya… Sementara terlalu mengedepankan logika dan menyangkal emosi pun jadinya akan terasa hampa dan berpotensi menyakiti perasaan sendiri dan orang di sekitar kita.

Terkadang, cara kita merespon dan memperlakukan anak tanpa kita sadari justru mendorong anak untuk mengesampingkan pemrosesan otak kanan atau otak kirinya. Ada kalanya kita mendorong anak untuk mengabaikan emosinya atau logikanya. Misalnya meminta anak untuk serta merta mengalah dari adiknya meskipun benar…

Dan sekarang kita tahu bagaimana cara merespon dan memperlakukan anak dengan lebih baik untuk membantu mereka mengintegrasikan bagian otaknya, jadi, mari kita berusaha…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, March 10, 2019

The Whole-Brain Child #1: Mendidik dengan Mengintegrasikan Otak Anak

Menjadi orang-tua itu sungguh penuh tantangan… Dan tantangannya tentu pun berbeda-beda…

Suami saya, katanya sih dulu anaknya cenderung nurut dan kompetitif… Tipe ga ada masalah sama tuntutan ranking kelas. Butguess what, waktu kecil dia susah banget makan sampai mertua saya malu dan mundur jadi kader Posyandu…

Sedangkan saya, sendiri lebih bermasalah karena karakter melankolis yang membuat saya over analyse dibandingkan orang di sekitar saya. Dan karena tidak mendapatkan treatment yang tepat, kemudian munculnya sebagai kebingungan dan stress, serta tidak percaya diri (sebut saja begitu).

Nah, sekarang setelah berstatus sebagai orang-tua, pun saya menghadapi tantangan yang berbeda lagi akan anak-anak saya mulai dari bayi hingga kini…

Baca juga:

Dan salah satu yang terbaru adalah mengenai perangai anak yang memburuk, sehingga anak menjadi mudah marah, sulit mengikuti aturan, dan sebangsanya…

Berkaitan dengan hal ini, berbekal insting, sedikit pengetahuan dari jaman kuliah dulu, second opinion dari psikolog, dan tentu saja belajar dari beberapa literatur… saya kemudian memiliki beberapa analisa mengenai kasus ini. Yang mungkin nanti akan saya ceritakan satu persatu dalam post lain, namun, dalam post kali ini saya akan bercerita mengenai pengasuhan dan bagaimana meng-handle perilaku anak…

Yang ternyata nyambung lho, sama buku 'The Whole-Brain Child' yang baru datang seminggu lalu!


CERITA KAMI

Singkat cerita, setelah ngobrol dari hati ke hati dan pengamatan perilaku, saya menyimpulkan adanya tekanan (stress) yang dialami anak. Dimana sumber tekanan ini, tidak terfokus pada satu permasalahan, tapi lebih kondisi akumulatif yang membuatnya menjadi sulit mengendalikan emosinya.

Kalau Bahasa Jawa menyebutnya 'bunek'… yang kalau dijelaskan dalam Bahasa Indonesia, itu adalah kondisi dimana kita jadi mudah terpancing emosi karena jenuh. Seperti halnya kita menjadi mudah marah pada saat capek, mengantuk atau lapar…

Dari kesimpulan ini, kemudian saya berusaha melakukan beberapa perubahan pada pengasuhan dan cara kami mendidik di rumah.

Merasa jika kami sering memberikan syarat atau target yang 'abstrak' untuk sesuatu yang diinginkan anak, kemudian kami menerapkan metode Token Economy… Dengan harapan itu lebih mudah dipahami dan dapat menguatkan perilaku positif tertentu.

Baca juga: 

Which is work well on him… Tapi, tentu bukan itu saja PR-nya…

Selain itu, kemudian saya juga berusaha memperbaiki pola interaksi dengan anak menjadi lebih intens. Di antaranya dengan selalu menyempatkan diri untuk menjemput sepulang sekolah, sehingga kami bisa saling bercerita tentang kejadian di sekolah… Memijit dan bercerita sebelum tidur, yang selalu disisipi dengan kata positif betapa mereka adalah anak-anak yang baik dan pintar, sehingga mereka bisa melakukan hal-hal yang baik dan hebat… Serta juga memberikan jawaban yang memuaskan akan pertanyaan-pertanyaan mereka yang sungguh banyak, detail, dan harus real time alias harus dijawab saat itu juga… tidak peduli jika kita sedang masak di dapur atau adik/kakaknya pun sedang bertanya… 

Dalam penalaran saya, semua itu sesungguhnya adalah untuk membersihkan pikirannya dari 'hal-hal yang tidak selesai' atau menjadi beban pikirannya… Entah itu dari suatu konflik yang tidak selesai, perasaan negatif, atau sekedar rasa ingin tahu.

Dan… yes, (again) it works!

Anak pun sedikit demi sedikit berprogress selama kurang lebih empat minggu saya menerapkan perubahan ini… Hari demi hari, perangainya mulai membaik menjadi sangat positif. Dia menjadi lebih sabar, empati pada orang-lain, berinisiatif membantu, bersedia menunggu, mengalah, dan banyak lagi…


CHAPTER #1 THE WHOLE-BRAIN CHILD


Dan somehow, apa yang saya pikirkan dan terapkan itu ternyata dapat dijelaskan dengan lebih gamblang dan terpercaya (soalnya yang bilang expert kan) oleh buku 'The Whole-Brain Child'…

Awalnya, saya tahu buku ini dari rekomendasi instagram Rabbit Hole… Kemudian, karena merasa sedang perlu inspirasi terkait dunia parenting, saya pun mencari tahu summarinya dan berakhir dengan memesannya lewat Bookdepository…

Yang… yup, yang pernah pesan disana pasti tahulah berapa lama bukunya sampai… Secara ini import tapi ongkos kirimnya gratis, hehe…

But, it doesn't matter… Walaupun lama, dia selalu sampai kok… Sekian intermezo-nya dan kembali pada cerita intinya…

Integrasi

Pada chapter pertama dengan judul, 'Parenting with the Brain in Mind', dijelaskan bahwa sesungguhnya otak manusia terdiri dari bagian-bagian yang memiliki fungsi tersendiri. Seperti otak kiri yang membantu kita berpikir logis dan otak kanan yang membantu kita mengalami emosi dan membaca bahasa non-verbal. Demikian juga ada bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan moral dan ada juga yang bertanggung-jawab pada penyimpanan memori.

Dimana dengan banyaknya bagian dan fungsi dari ini, sesungguhnya kunci dari kondisi psikologis yang sehat adalah integrasi dari seluruh fungsi otak ini… Yaitu bagaimana mereka dapat bekerja dengan baik bersama-sama.

Dan tidak terintegrasinya (disintegrasi) bagian dan fungsi otak ini akan bermuara pada kondisi psikologis yang (sebut saja) kurang sehat. Dimana pada anak-anak, disintegrasi ini akan muncul sebagai kewalahan menghadapi emosinya, kebingungan, ketidakmampuan merespon sesuatu dengan tenang, tantrum, kesedihan, dan juga agresi.

Lalu, bagaimana cara mengintegrasikan otak anak?

Yaitu dengan membantu anak memahami suatu peristiwa, sehingga seluruh aspek psikologis dalam dirinya (misalnya: emosi dan logika) dapat bekerjasama dengan baik meresponnya.

Misalnya begini:

Pada suatu hari Kakak dan Adik berebut mainan hingga Kakak akhirnya kesal dan memukul Adik. 

Melihat kejadian ini, Ibu kemudian berkata, "Kakak ga boleh kaya gitu, Adik-nya dipinjemin dong!" 

Kakak pun menolak dan berkata, "Ini kan punya Kakak, Adik ga boleh dong asal ambil…"

Lalu, ibu Kakak dan Adik kembali berkata, "Kakak kan lebih besar, harus mengalah sama Adik… Sekarang kasih mainannya sama Adik, terus minta maaf… Adik nangis tuh…"

Dan pada saat Kakak masih menolak, jurus terakhir pun dikeluarkan, "Kasih mainannya sama Adik, kalo enggak nanti Ibu juga ga mau beliin mainan Kakak lagi!"

Coba bayangkan chaos macam apa yang terjadi pada pikiran Kakak menghadapi situasi seperti ini…

Secara logis, dia harus memutuskan meminjamkan mainan itu pada adiknya agar nantinya tetap dibelikan mainan oleh ibunya. Tapi, secara emosi, dia belum bisa menerima kondisi itu, karena merasa bahwa itu adalah mainannya dan dia ingin memakainya untuk bermain. Sehingga yang terjadi adalah Kakak kemudian memberikan mainannya dengan cara dilempar ke adiknya… Salah satu bentuk agresi…

Dan sesungguhnya, kita sebagai orang-tua bisa membantu mengintegrasikan pikiran anak dalam menghadapi kejadian ini dengan cara memberikan penjelasan yang bisa diterima baik logika dan emosi anak…

Misalnya:

"Kakak, Ibu tahu, kalau ini mainanmu dan kalau kamu ga mau pinjemin ke Adik, ya Adik seharusnya ga boleh maksa… Tapi, Adik itu kan masih kecil… Belum bisa berpikir seperti kita orang yang lebih besar… Taunya Adik, kalau dia mau, ya dia harus dapet… Kakak inget ga, dulu waktu masih kecil juga kalau mau beli mainan, sudah dibilangin Ibu ga bawa uang, masih nangis tetep minta? Ya, Adik juga seperti itu, dia belum ngerti… jadinya maunya apa harus dapet…"

Penjelasan seperti ini memiliki potensi yang lebih baik untuk membuat anak mengintegrasikan pikirannya.

Baik logika maupun emosinya mampu memahami dan memiliki pendapat yang sama mengapa dia perlu memutuskan untuk meminjamkan mainan itu kepada adiknya.

It's not that easy…

Yes, tentu saja… siapa bilang jadi orang-tua itu gampang kan… 😁
Tapi, kabar baiknya adalah bahwa otak manusia itu selalu berubah bentuk sesuai dengan pengalaman sepanjang hayat! Bukan hanya pada saat masih bayi atau kecil saja…
Dulu, kita percaya bahwa bentuk otak akan berubah sampai dengan usia tertentu untuk kemudian menetap dan tidak berubah lagi. Jadi pada saat kita sudah dewasa, ya sudah begitulah adanya… Yang ternyata ini salah…

Jadi pada saat kita sudah terbiasa tidak sabaran pada saat menghadapi situasi-situasi genting (seperti anak berantem), kita masih bisa kok merubahnya. Tentu saja, pada awalnya akan terasa effortful ya… Tapi, seiring dengan semakin sering kita mengalami mengendalikan emosi dan lebih tenang menghadapi situasi semacam itu, selanjutnya sedikit demi sedikit semua tidak akan sesulit sebelumnya karena otak kita berubah sesuai pengalaman itu.

Dan saya membuktikannya…

Pada awalnya, bersikap sabar dengan segala pertanyaan yang harus dijawab real time dan bertubi-tubi itu adalah hal yang SULIT SEKALI. Juga pada saat anak kemudian marah lalu membentak atau melakukan tindakan fisik (mostly kepada adiknya).

Sehingga, ada kalanya kemudian saya pun melampiaskan emosi yang tidak tersalurkan karena harus bersikap sabar ini pada objek lain, seperti pada suami misalnya.

Namun, kemudian sedikit demi sedikit, kok semakin terasa ringan… Dan hari ini, setelah sekitar empat minggu berjibaku dengan hal mengendalikan emosi sendiri, kemudian saya sadar besarnya perubahan itu.

Jika dulu, semua terasa effortful… sekarang, pada saat anak bertanya bertubi-tubi dan harus dijawab real time, saya masih bisa tenang dan tetap menjelaskan. Juga pada saat anak ngotot atau marah, berantem ga mau mengalah, dan sebagainya… saya pun masih bisa tenang dan memberikan pengertian sampai akhirnya anak menjadi paham…

Pun saya menyadari hal yang sama pada anak saya… Dia menjadi lebih sabar, tenang dan empati…

So, yes, kami berdua berubah menjadi individu yang lebih baik somehow… Pengalaman kami tampaknya benar-benar merubah (literally) otak kami, sehingga dapat merespon kejadian di sekitar kami dengan lebih tenang.

Ini tak kasat mata sih ya… tapi, kan semua yang kita lakukan itu atas perintah otak… Jadi, percaya saja lah kalau memang bentuk otak kami berubah…😁

***

Yup, kurang lebih begitulah insight yang saya dapatkan dari pengalaman berusaha memperbaiki perangai anak dengan mengurangi tekanan atau menurunkan tingkat stress-nya. Yang ternyata ini dapat dijelaskan juga sebagai membantu anak mengintegrasikan otaknya.

Somehow, buku The Whole-Brain Child ini memang sangat insightful dan enlightening mind banget… Jadi, saya berencana untuk menuliskan inti dari chapter-chapter selanjutnya dalam blog ini dikorelasikan dengan pengalaman sehari-hari. Jadi, sambil belajar, sambil praktek, sambil berbagi juga kan…

Teman-teman yang mau baca, tolong bantu doa juga ya, supaya ini bukan hanya jadi wacana… *sambil melirik tumpukan buku yang belum dibaca* 😅

That's it…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-