SOCIAL MEDIA

search

Thursday, September 19, 2019

Pengalaman Merawat Anak Muntaber dan Dehidrasi di Rumah

Weekend ini, rencana liburan memang belum tersusun jelas… hanya terselip rencana bahwa sore saya akan arisan ke sebuah resto yang ada kolam renangnya, sehingga suami berencana pun mengantar dan membawa anak-anak untuk sekalian berenang.

Sampai akhirnya, sore hari sepulang melayat dan anak-anak pulang dari main, kok dikabarin bude kalo barusan Mahesh muntah-muntah banyak dan badannya jadi agak demam… Duh, fixed ini, segala rencana buyar dan saya pun sibuk nungguin Mahesh yang jadi super manja kalau lagi sakit.

Baca:

Benar-benar seharian saya nungguin dia tidur, karena anaknya suka kebangun dan minta minum atau sekedar minta saya ngelonin. Huhu, bukan ga ikhlas, tapi sungguh gempornya nungguin sambil mikirin kerjaan-kerjaan yang belum beres itu bikin jenuh juga. Pikiran saya terbang kemana-mana dan teringat kejadian serupa sekitar 6 tahun yang lalu saat Ganesh mengalami muntaber parah hingga dehidrasi sedang.

Waktu itu, usia Ganesh masih menjelang 2 tahun dan kami masih tinggal di sebuah kota kecil (sekali) bernama Muara Enim. Yang rumah sakitnya cuma ada dua, dan yang satu malahan ga ada dokternya, terus satunya lagi kamarnya penuh.

Duh, sukses bikin kami stress tingkat tinggi… sampai-sampai saya dan suami bertengkar karena sama-sama pusing dan panik. Saya berusaha tenang untuk merawat Ganesh di rumah; sementara suami saking khawatirnya tetep keukeuh Ganesh harus masuk rumah sakit dan diinfus karena memang sudah lemes banget dan setiap minum langsung muntah.

Dan terkenang paniknya kami, kok jadi kepikiran untuk berbagi informasi ini pada kawan-kawan semua… Siapa tahu bermanfaat… So, kita mulai saja ceritanya ya… 

Kondisi Ganesh dan Diagnosa Dokter

Seperti yang saya ceritakan di atas, kala itu kondisi Ganesh sudah lemas karena berak cair berkali-kali dan muntah setiap kali makan atau minum. Anaknya sudah menampakkan gejala dehidrasi, seperti ingin minum terus-menuerus dan juga lemas. Yang ternyata pada saat kami bawa ke dokter, beliau mengatakan bahwa Ganesh mengalami muntaber yang mengakibatkan dehidrasi sedang.

Yup, 'sedang' kawan-kawan… belum berat, karena pada saat kulitnya ditekan masih kembali dengan cepat.

Menurut dokter, kondisi seperti ini memang lebih baik dirawat di rumah sakit dan dibantu infus… Tapi, berhubung rumah sakit penuh dan cuma ada kelas satu kamar isi 6 orang, yang menurutnya tidak baik untuk anak-anak, dia menyarankan untuk di rawat di rumah saja tapi tetap siaga.

Kemudian dokter meresepkan beberapa obat, menyarankan untuk menjaga asupan cairan, melarang minum susu dulu, dan memperbanyak istirahat untuk mempercepat pemulihan.

Sesuatu yang kedengarannya sederhana, tapi lumayan bikin tegang juga… karena dari 'sedang' akan menjadi dehidrasi 'berat' dengan cepat jika penanganan tidak berhasil… Apalagi ini batita, masih susah diatur buat minum obat, minum sedikit, dan sebagainya kan. Jadi, ya memang sedikit deg-degan juga…

Perawatan Ganesh di Rumah

Waktu itu, karena tidak mendapatkan kamar, kami sempat menelepon seorang teman yang bekerja di RS tersebut dengan harapan bisa dibantu untuk mendapatkan kamar. Namun, apa mau dikata, kamarnya memang benar-benar tidak ada, jadi kami tetap harus kembali ke plan B untuk merawat Ganesh di rumah saja.

Nah, teman kami (Tante Euis) ini lah yang kemudian menyempatkan diri menjenguk Ganesh di rumah, memeriksanya dan memberikan saran-saran bagaimana merawatnya.

Secara beliau ini kan perawat ya, sudah pasti biasa menangani kasus-kasus muntaber seperti ini… jadi tidak perlu diragukan lah ya validitas saran-sarannya, sehingga kami pun cukup percaya diri merawat Ganesh yang waktu itu perutnya sampai tipis banget saking setiap kali makan dan minum langsung muntah.

Nah, beberapa poin yang diajarkan pada kami oleh Tante Euis terkait penanganan pasien muntaber yang kami terapkan pada Ganesh adalah sebagai berikut…

➤ Memberikan air sedikit-sedikit secara berkala

Yup, inti dari perawatan kasus seperti muntaber seperti Ganesh adalah kesabaran. Anaknya memang memiliki hasrat untuk minum yang sangat tinggi, tapi kita tidak boleh serta merta menurutinya, karena justru akan menimbulkan mual dan muntah.

Karena itu, sebagaimana saran Tante Euis, saya memberikan cairan kepada Ganesh hanya 1 sendok makan saja setiap kurang lebih 5 menit.

Anaknya masih kecil kala itu, jadi pada saat terbangun langsung saya gendong dan ditelatenin diberi air putih setiap 5 menit sebanyak 1 sendok makan.

Benar-benar harus sesabar itu dan buang jauh-jauh yang namanya ambisi supaya anak minum banyak agar cepat sembuh. No… no… Fokus kita sekarang adalah berusaha memasukkan dan mempertahankan sebanyak mungkin cairan dalam tubuh anak, sembari dia recovery dan semakin kuat untuk menerima lebih banyak air.

Dokter sempat bilang, kalau cairan adalah hal yang sangat utama bagi manusia daripada makanan. Anak-anak bisa tahan tidak makan seharian (atau lebih), tapi dua jam saja kekurangan cairan akan langsung mengalami demam.

Jadi, kalo soal makan sih memang kami tidak terlalu merasa urgent untuk pemuliah pertama ini… Kalau anaknya pengen makan pun, ya kami berikan yang ringan-ringan saja macam biskuit marie. Baru beberapa saat setelah kondisi membaik, kami cobakan makan nasi sesendok atau dua sendok saja.

Oh ya, by the way… untuk kasus Mahesh, karena anaknya minta makan buah terus, setelah browsing artikel dari theasianparent.com, kami mencoba memberikan apel dan pisang yang alhamdulillah buah ini cukup ramah untuk perutnya dan tidak dimuntahkannya. Tapi, tetap ya, dengan jumlah kecil terlebih dahulu.

➤ Meminumkan obat pengurang mual dan obat yang diresepkan

Waktu itu, dokter meresepkan obat pengurang mual untuk Ganesh yang harus diminum beberapa kali sehari sebelum minum atau makan. Tujuannya, ya tentu saja supaya cairan atau makanan yang kita berikan tidak dimuntahkan lagi. Dan, ini cukup membantu kok… meski tetap ya, minum atau makannya harus dalam jumlah kecil tapi sering.


Satu lagi, Lacto-b… ini saya lupa sih memang diresepkan atau beli sendiri atas saran seorang teman. Yang saya baca sih Lacto-b ini adalah probiotik berbentuk bubuk yang berfungsi utama untuk mempercepat penyembuhan diare pada anak-anak. Dan untuk kasus Ganesh maupun Mahesh, memang serbuk dalam kemasan sachet kecil ini cukup membantu menguragi diare mereka.

Dulu, pertama kali yakin memberikan Lacto-b karena testimoni teman yang bilang kalau pas muntaber anak jangan dikasih susu dulu, tapi ganti dengan Lacto-b saja. Jadi semacam pengganti susu gitu…

Laku, pas baca komposisinya yang ada vitamin C, B1, B2, Protein, Lemak, dan kawan-kawan… kok merasa kalau dia layak dicoba untuk menggantikan asupan nutrisi-nutrisi tersebut, sementara anaknya tidak bisa makan seperti biasa.

Bukan iklan atau endorse ya… murni testimoni pribadi, hahaha…

➤ Memaksimalkan istirahat anak supaya tubuh lebih cepat pulih

Yes, and last but not least… langkah terakhir adalah berupaya memaksimalkan istirahat anak untuk memberi kesempatan tubuh memulihkan diri.

Dalam pengalaman saya, terkadang itu berarti harus menggendong anak selama tidur atau menemaninya sepanjang tidur supaya tidak gelisah dan mudah terbangun.

Ya memang lumayan repot sih… untuk kasus Mahesh, praktis saya seharian ga bisa ngapa-ngapain karena harus nemenin dia even pada saat tidur. Lima belas menit saja ditinggal, pasti anaknya sudah manggil lagi dan baru akan tidur kembali saat saya di sampingnya.

Capek memang… Tapi, make sense to do banget lah… karena dengan kita berada di sampingnya otomatis istirahatnya akan lebih berkualitas dan mempercepat penyembuhannya kan. Apalagi mengingat, nanti anaknya makin dewasa juga momen kaya gitu akan hilang dengan sendirinya. So, sisi melankolisnya adalah, ya kapan lagi kan kita nemenin anak kaya gitu kalau enggak sekarang pas dia masih kecil.

Progress Penyembuhan

Dalam kasus Ganesh maupun Mahesh, kemudian penyembuhan pun berjalan perlahan-lahan… Anak mulai berkurang intensitas diarenya, kemudian hari berikutnya mulai bisa makan yang lembek-lembek tanpa muntah, lalu makan nasi sedikit asal dikunyah lembut, dan akhirnya pulih seperti sedia kala.

Berapa lama… yah, kurang lebih semingguan lah proses recovery-nya…

Yah pasti ya sabar aja ya dan singsingkan lengan untuk memontokkan anak lagi setelahnya, karena sudah pasti badan anak-anak jadi lumayan tipis. Jangan sedih mengingat jerih payah membuat anak tampak berisi yang perlu waktu berbulan-bulan dan susutnya cukup waktu seminggu saja. Puk-puk… I feel you… Nanti setelah sembuh juga makannya beringas lagi kok…

Disclaimer

Dan kurang lebih seperti itu sih cerita kami menghadapi muntaber pada anak hingga dehidrasi sedang di rumah saja.

Dan sebelum mengakhiri cerita ini, saya ingin menegaskan bahwa maksud dari tulisan ini adalah semata untuk sharing pengalaman kami terkait penanganan anak muntaber… bukan untuk menggantikan peran dokter ya…

Lah, kami juga ke dokter kok sebelum akhirnya pulang karena kamar di RS penuh dan merawat Ganesh di rumah saja…

Siapa tahu, pun ada teman-teman yang mengalami kejadian dan kesempitan (tidak bisa dirawat di RS) yang sama, sehingga tulisan ini bisa membantu. Tapi, tentu saja kita pun harus benar-benar melakukan observasi pada kondisi anak selama perawatan…

Apakah intensitas diare dan muntahnya berkurang? Apakah asupan cairannya aman? Dan apakah gejala dehidrasinya semakin membaik?

Jika jawabannya 'tidak', tentu saja teman-teman harus kudu lari bawa anaknya ke dokter atau RS terdekat untuk ditangani dengan lebih intensif.

Kira-kira begitu ya teman-teman… semoga bermanfaat…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, September 10, 2019

Wisata Bersama Anak ke Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta

Baiklah… seperti yang (mungkin) teman-teman tau, ini sebenarnya cerita lama… Judulnya sudah mengendap di draft lebih dari sebulan, tapi baru hari ini deh bisa dieksekusi. Hehe… Permasalahan klise emak-emak lah, super rempong dengan printilan family things, nulis blog gini harus niat banget ngadain waktu, baru deh kesampaian… Maaf, jadi curhat… 😅

OK… OK… kembali ke judul ya…

Jadi, sehari pasca Hari Raya Idul Fitri kemarin, saya dan anak-anak akhirnya bertandang ke Jogja untuk liburan. Liburan yang agak di luar rencana sebenarnya, karena sedari awal saya dan suami sepakat untuk stay di Lampung saja pada saat libur Lebaran dengan pertimbangan toko kue yang baru kami buka masih butuh pengawasan.

Namun, apa boleh buat… anak-anak ribut bener kenapa liburan ga kemana-mana, kapan ke rumah simbah dan sebangsanya… Kami pun memutuskan untuk liburan ke tempat simbah anak-anak bertiga saja; saya dan anak-anak.

Dan karena cuma bertiga, maka opsi yang dipilih ke Jogja tempat orang tua saya, bukan Probolinggo tempat mertua. Perjalanan ke Jogja yang hanya satu kali pesawat dan satu jam saja perjalanan darat dari bandara ke rumah… Jauh lebih ringan dari pada ke Probolinggo yang harus transit pesawat dan perjalanan darat dari bandara ke rumah masih sekitar empat jam. Sungguh tak sanggup rasanya saya sendirian membawa dua bocah tengil nan lasak itu…

Lalu… di Jogja kemana aja?

Hmm, di hari pertama jalan-jalan, saya memilih mengajak anak-anak ke Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta.

Alasan pertama sih karena dua anak laki-laki saya ini hobi kegiatan fisik, petualangan dan penuh imajinasi… Jadi 'hutan' rasanya akan menjadi tempat yang penuh excitement bagi mereka. Biasanya kan mereka hanya mendengar gambaran hutan dari cerita kancil dan binatang kawan-kawannya, sekarang saatnya mereka tahu secara langsung rumah hewan-hewan dalam cerita ini. Yah, walaupun mereka ga akan benar-benar ketemu kancil disini sih…

Alasan kedua, mengenai budget… Yap, bayangannya sih berwisata kesini akan mensukseskan program penghematan yang saya canangkan… Tapi, benarkah demikian? Mari kita lanjutkan cerita jalan-jalan kami ke Hutan Pinus Mangunan ini…

Transport

Karena tidak ada mobil pribadi, kami pun memutuskan menggunakan jasa Grab Car sesuai rekomendasi adik saya… Ya, saya sih percaya saja, secara dia pasti lebih tahu perkembangan Jogja daripada saya yang sudah hengkang sejak sepuluh tahun lalu bukan. Yang, hmm, ternyata dalam kasus saya, terlalu percaya itu tidak baik… haha…

Driver Grab bisa sih mengantar sampai Hutan Pinus Mangunan, tapi menurutnya di atas akan sulit untuk mendapatkan mobil turun… Jadi, dia menawarkan untuk offline saja untuk perjalanan pulangnya. Untung abang drivernya nawarin, kalo enggak, bisa terlunta-lunta kami mau pulang kan…

Sang driver juga menyarankan supaya lain kali menggunakan opsi Grab Rent saja untuk keperluan wisata seperti ini… lebih nyaman karena tidak perlu cari ojol berkali-kali untuk pindah lokasi dan juga lebih ekonomis dibandingkan menggunakan rental mobil konvensional.

Untuk tarif Grab Rent dalam kota sendiri adalah 250K (4 jam), 350K (6 jam), dan 450K (8 jam). Sedangkan untuk tarif luar kota, Grab mematok harga 750K untuk 12 jam. Silakan dinilai, apakah ini memang lebih ekonomis, soalnya, saya sendiri belum pernah memesan rental mobil konvensional… alias yang mesenin selalu suami, hihi… *Dasar istri manja*

Kami sendiri untuk berangkat terkena tarif 150K karena memang lokasi cukup jauh, dan selanjutnya sampai di lokasi kami dikenakan tarif 350K untuk 6 jam selanjutnya. Jadi, setelah sampai puncak, driver pun stand by untuk mengantar kami ke lokasi-lokasi lain selama 6 jam.

Oh ya, mengenai jalan yang kami lalui… medan menuju Hutan Pinus Mangunan ternyata cukup menantang. Banyak tanjakan, turunan, belokan, dan kombinasi dua diantaranya. Jadi, kalau menurut saya sih, kalau driving skill teman-teman belum terlalu baik alias masih belajar, mending memang menggunakan jasa driver saja.

Wisata yang Tersedia

Saya pikir, Hutan Pinus Mangunan itu hanya satu tempat wisata. Tapi ternyata saya salah, di sini ada beberapa tempat wisata yang dikelola terpisah, dalam artian tiket masuknya berbeda dan lokasinya cukup berjauhan kalau ditempuh jalan kaki. Thanks God, tadi abang Grab-nya nyaranin offline sama dia, jadi kami bisa datangin lokasi lainnya tanpa ribet.

Nah, pertama, kami sepakat untuk mencapai lokasi wisata yang paling atas dulu, jadi, setelahnya kami tinggal turun. Sesuai dengan prinsip 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian' lah pokoknya. Kami pilih yang perlu lebih banyak usaha dulu…

Kawasan Hutan Pinus Dlingo

First stop alias tempat yang paling tinggi tadi dinamakan 'Kawasan Hutan Pinus Dlingo'…


Di sini, seperti yang saya bayangkan lah… ya hutan pinus gitu… sebuah area yang cukup berbukit-bukit dan ditumbuhi banyak pohon pinus. Dan as predicted kemudian anak-anak pun asyik mengumpulkan bunga pinus yang berjatuhan, hahaha… ga sia-sia jadinya bawa kresek gede. Meskipun akhirnya kegiatan mengumpulkan bunga pinus ini menjadi ajang kompetisi oleh anak-anak, dan kami bertiga (saya dan dua adik saya) pun harus ikhlas membantu mereka mengumpulkan bunga pinus. Hadeeeh…


Tapi, meskipun riweuh dengan permintaan anak-anak, tetep lah saya sempet untuk ambil beberapa foto dan main bunga tiup-tiup… *Itu lho, bunga rumput yang kalau ditiup akan beterbangan*

Kemudian… setelah sekian lama muter-muter dengan membawa kresek, akhirnya, kami pun berhasil membujuk anak-anak untuk menyudahi kompetisi mengumpulkan bunga pinus ini dan berpindah ke lokasi berikutnya.

Oh ya, tapi sebelumnya, sambil menunggu driver dari tempat parkir, kami sempat beli bakso tusuk di pinggir jalan, yang rasanya lumayan enak dan harganya juga murah, cuma 10K satu porsi.

Jadi, di pinggir jalan dekat parkir itu ada sebuah area terbuka yang ga terlalu luas, dan di sanalah banyak pedagang makanan. Mulai dari bakso tusuk, siomay, dan apa lagi ya… saya lupa, saking riweuhnya sama anak-anak 😅. Intinya, urusan perut, tidak perlu dikhawatirkan… Ada kok jualan makanan dengan harga yang relatif terjangkau di sekitar lokasi, meski pilihannya memang tidak terlalu banyak.

Seribu Batu Songgo Langit

Dan… pemberhentian selanjutnya adalah Kawasan Seribu Batu Songgo Langit…


Kenapa disebut seperti itu, tampaknya karena di area ini memang banyak sekali batu besar (dan juga kecil), lebih mendominasi dibandingkan pohon pinusnya. Selain juga bangunan-bangunan unik yang disebut rumah hobbit dan juga wahana flying fox melintasi bebatuan.



Jadi, yang bisa kita lakukan di sini adalah (tentu saja) jalan-jalan menikmati pemandangan yang begitu alami dan hijau, mengambil foto di tempat-tempat yang unik, dan tentu saja main flying fox

Bayar permainan flyng fox-nya juga ga mahal kok, cuma Rp. 15.000,- satu kali angkut yang berat maksimalnya 180 kg. Jadi kalo anak-anak takut sendirian, bisa tandem sama orang-tua atau orang dewasa lainnya. Karena tidak ada batasan umur dalam wahana ini, asalkan berani akan diangkut…

Di sini, karena sudah terlalu capek, kami tidak mengeksplore seluruh area yang ada… benar-benar cuma jalan-jalan menuju tempat pemberhentian flying fox untuk menunggu Ganesh yang meluncur dari tebing seberang.


Budgetary

Biaya di kawasan wisata ini sebenarnya sangat terjangkau. Tiket masuk masing-masing area hanya Rp. 3.000,- saja, tiket flying fox hanya Rp. 15.000,- saja setiap kali main, dan jajanan di sekitar area juga cukup terjangkau.

Adapun yang sebenarnya cukup menguras kantong itu sebenarnya transport menunju ke lokasi. Sebenarnya kalau punya kendaraan sendiri dan driver yang handal, selesai sih permasalahan… Tapi, jika tidak, ya harus menyiapkan budget sendiri untuk menyewa mobil, baik konvensional maupun online, karena jika tidak diminta menunggu ya kita bakalan repot kalau mau pindah lokasi atau pulang… secara di atas tidak ada kendaraan umum dan ojek online pun kabarnya sulit ditemukan.

Ya kalau lagi beruntung, bisa jadi bisa dapet karena ada ojol yang habis ngedrop penumpang terus nyangkut ke kita sih… Tapi, ya tentu kita ga mau gambling lah ya…

Nah, sebagai gambaran, budget yang diperlukan untuk menyewa mobil via Grab Rent itu sekitar 250K (4 jam), 350K (6 jam), dan 450K (8 jam). Beda lagi dengan sewa mobil konvensional ya… bisa jadi lebih mahal atau lebih murah tergantung dengan tipe mobilnya.

Kesimpulan

Over all, saya dan anak-anak suka sekali tempat wisata ini… Anak-anak super excited dengan wisata alam yang disajikan di sini; berjalan menyusuri hutan pinus, mengumpulkan bunga pinus, mencari dan bermain dengan bunga tiup-tiup, sampai main flying fox.

Next time ke Jogja, kayaknya bakalan ke sini lah pokoknya… Masih banyak area-area, terutama di Seribu Batu Songgo Langit yang belum kami jelajahi. Dan nanti kalau kesini lagi, saya pastikan deh pakai sneakers yang nyaman, karena kemarin itu pakai loafer, rasanya masih kurang nyaman karena medannya yang memang cukup berat.

Dan satu lagi… harus pakai celana, biar bisa manjat-manjat ke rumah pohon yang dibuat untuk tempat berfoto.

***

Yap, kurang lebih seperti itu cerita saya bersama anak-anak bertandang ke kawasan Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta beberapa waktu lalu. Semoga bermanfaat untuk teman-teman semua ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, September 3, 2019

Two Days Staycation di Hotel Radisson Bandar Lampung

"Mama, kapan sih kita berenang?" tanya Ganesh berkali-kali… Yang berkali-kali juga saya jawab, "Nanti ya Anesh, nunggu Papa… soalnya Mama itu ga bisa berenang, kalo nanti Anesh kenapa-kenapa Mama ga bisa nolongin…"

Yup, ini adalah tahun kedua Ganesh ikut ekskul renang di sekolahnya, dan beberapa kali dia bercerita kalau dia sudah bisa berenang, sudah bisa tiduran di air, atau menahan napas di dalam air sampai 100 detik. Itu kenapa dia ingin sekali kami menyaksikan kemampuan barunya ini. Dan sedihnya, kami belum bisa mewujudkan keinginan Ganesh ini dengan dalih kesibukan… teman-teman tahulah yang sibuk siapa dari cerita saya ya…

Hingga, akhirnya kemarin, sekitar sebulan setelah pertama kali request Ganesh, rencana untuk berenang pun terealisasi, lengkap dengan bonusnya… Yeay, suami ngajak staycation sehari di Hotel Radisson Bandar Lampung!

About The Hotel

Hotel Radisson Bandar Lampung yang baru soft launching pada tanggal 2 Mei 2018 ini terletak di daerah Kedaton, tepat di sebelah Mall Boemi Kedaton, yang notabene adalah salah satu dari dua mall terbesar di Lampung.

Mengenai fasilitas, yah, tidak diragukan lagi ya… dengan label bintang empat bertaraf internasionalnya; hotel ini dilengkapi dengan kolam renang, restaurant, Ballroom, Settings Room, Fitnes Center, Sky bar, dan sebagainya. Jadi, bisa dibilang ini hotel yang sangat ideal untuk staycation alias males-malesan ngendon di hotel ya…

Mau santai di kamar hayuk, mau berenang atau olah-raga bisa, mau window shopping ke mall juga tinggal jalan kaki aja karena emang ada connecting-nya.

The Room


Karena ini di Lampung, interior di setiap kamar bernuansa khas kain tapis dengan warna yang berbeda-beda.

Kok tahu kalau warnanya beda-beda, yah karena di hari kedua kami sempat pindah kamar karena lantai tempat kami menginap akan di fogging.

Nah, di kamar pertama, tapisnya warna biru seperti di atas… Sedang di hari kedua, warna tapisnya orange.

Saya pribadi suka banget sih dengan konsep interior kamar terutama sofa besar yang cukup luas untuk dijadikan tempat tidur… Maklum ya, soalnya kami berempat, jadinya tempat tidur ukuran king pun masih kurang luas…

Dan juga lighting-nya… Jadi, di setiap titik-titik strategis, seperti meja kerja dan tempat tidur (bagian kepala) itu ada lampu sorot dari atas yang berguna untuk memudahkan membaca atau bekerja, meskipun orang-orang sudah mau tidur dan lampu utama sudah dimatikan.

Untuk kebersihan, sudah tidak perlu komentar ya… untuk kelas hotel bintang empat, kebersihan sudah pasti menjadi perhatian, ditambah hotel ini masih sangat baru, tak ada komplain sama sekali tentang kebersihan.



Restaurant


OK, sebenarnya ini bukan lah pengalaman pertama kami… Pada saat Bulan Ramadhan bulan Juni lalu, kami pernah mengundang teman-teman untuk buka puasa bersama sekaligus acara farewell suami yang pindah dari tempat kerjanya. Secara baru saja dibuka, jadi waktu itu masih ada diskon lumayan yang bisa dimanfaatkan… jadi, kenapa tidak kan…

Dan sebagaimana pengalaman kami sebelumnya, over all kami cukup puas dengan pelayanan dan (terutama) hidangan yang disajikan di restaurant Hotel Radisson Lampung ini. Makanannya enak dan variasinya pun banyak.

Untuk sarapan, beberapa menu yang sempat saya amati adalah masakan dasar Indonesia (nasi putih, nasi goreng, ayam sambel, dendeng sapi, dan sebagainya), roti dan pastry, buah-buahan, serta yang paling terlihat bling-bling itu adalah counter dimsum, steam boat dan bakpao… Sebagaimana hotel-hotel berbintang lain pun memiliki ciri khas tersendiri, tampaknya counter ini adalah ciri khas dari Hotel Radisson Bandar Lampung ini.

Mengenai rasanya, menurut subjektif saya sih enak… saya suka baksonya yang lembut serta bakpaonya yang empuk dan disajikan hangat.




Lobby Bar and Lounge


Hihi, kalo bagian ini, saya ga bisa komentar banyak soalnya cuma liat sembari nunggu suami yang baru mau nyusul.

Yang jelas, kalau dari sisi visual sih kelihatan sangat klasik dan nyaman sekali… Cocok untuk tempat nongkrong dan ngobrol dengan teman sejawat.

Kolam Renang


Ini nih tujuan utama kami… berenang! Dan alhamdulillah, kolam renangnya cukup memuaskan…

Konsepnya memang bukan yang wow banget macam di roof top atau gimana gitu sih… tapi tempatnya cukup nyaman dan child friendly kok. Tuh, liat kan ada pancuran bentuk jamur di area kolam renang pendek yang diperuntukkan untuk anak-anak.

Dan dengan setting kolam renang yang seperti ini, saya jadi tidak terlalu was-was sih membawa anak umur 4 tahun dan 8 tahun sekaligus. Si Adik bahagia main air di kolam renang yang dangkal, sementara sang Kakak heboh berenang di kolam renang yang dalam… Yah, di pinggirannya aja sih, soalnya saya takut dia kenapa-kenapa, berhubung saya tidak bisa berenang.

Tapi, setelah paginya anak-anak berenang dengan papanya, baru saya tahu, ternyata Ganesh memang belum berani berenang jauh ke tengah, hahaha… "But. it's OK, little by little Anesh… Sekarang otak bagian atas Anesh masih dibajak sama otak bagian bawah, kita sama-sama bantu otak bagian atas mengendalikan otak bagian bawah Anesh ya…"

Bingung kita ngobrolin apa… boleh baca post di bawah ini…

Baca juga:


Yess… mission complete… Misi Ganesh untuk berenang dan Mahesh untuk main air beres, misi mamanya untuk santai sejenak tanpa mikirin rumah berantakan dan masak tuntas, dan papanya pun bisa nyambi kerja sembari kami liburan. Hehe… yah gitu deh, kadang memang hidup itu harus serba berstrategi kan supaya banyak yang bisa dibereskan dan diselesaikan…

Daan… kembali ke Hotel Radisson Bandar Lampung, kami sih puas banget… Nanti-nanti kalo ada promo lagi, pengen deh liburan kesini lagi. Tapi, tentunya juga tidak dalam waktu dekat lah, nanti jadi males balik ke dunia nyata kalo kebanyakan liburan…

Yah, itu sih saya… hihi… kelamaan santai biasanya terus butuh waktu buat tune in lagi ngurusin keriweuhan sehari-hari.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, August 16, 2019

Kenapa Memutuskan Resign?

Alhamdulillah… setelah beberapa hari bangun dengan rasa kosong di satu sudut hati saya layaknya putus cinta… Semacam masih cinta, tapi harus berpisah karena sadar jika bersama bukanlah yang baik untuk kedua belah pihak… Akhirnya, hari ini setelah kurang lebih seminggu, semua terasa baik-baik saja dan bahkan saya berani membuka email korporat saya untuk mengecek apakah masih ada sisa-sisa email pribadi yang perlu saya ketahui. Yang mana pastinya hal seperti ini akan mengingatkan kembali pada kenangan yang sedang ingin dikesampingkan…


Yah, seperti itulah rasanya berpisah dari sebuah perusahaan besar yang memberikan keamanan finansial, kebanggaan dan juga teman-teman yang menyenangkan.

Apalagi coba yang kurang?

Itu juga kenapa banyak orang di sekitar saya seringkali berkata, "Apa ga sayang?" Huhu, yang kalau mau dijawab pakai hati ya memang sayang sih… walau dengan segala persiapan yang sudah kami lakukan.

Tapi, ya itu tadi, karena kondisinya memang sudah tidak sehat bagi kami berdua untuk melanjutkan hubungan ini… Perpisahan menjadi pilihan terbaik bagi kami berdua…

Nah, bahasanya jadi macam pacaran beneran kan… Hahaha… 😅

Oke, kembali ke judul tulisan ini… Jadi, berhubung hati saya sudah siap, saya ingin bercerita hal-hal yang melatari keputusan saya untuk resign… Mari kita buat post saja karena ceritanya lumayan panjang, sekedar berbagi cerita, siapa tahu ada teman-teman yang memiliki wacana sama.

First of All

First of alllet me tell you kalau wacana untuk resign itu sudah muncul pertama kali delapan tahun yang  lalu saat harus meninggalkan Ganesh kecil yang berumur tiga bulan untuk bekerja, itulah kali pertama kegalauan dengan peran ibu bekerja itu terjadi. Hari itu, masih terekam jelas pada ingatan, bagaimana kalutnya saya meninggalkan Ganesh ke kantor sementara dia menangis tidak mau berpisah dengan saya… Ya, waktu itu anak yang kini telah berusia delapan tahun itu sempat tidak mau minum ASIP melalui dot atau media lainnya.

Yah, tapi, kala itu saya sadar bahwa keinginan resign ini lebih banyak didominasi emosi dari pada logika. Karena ga tega liat anak nangis, ga tega pas pamitan ninggalin dia kerja, dan sebagainya. Yang sebagaimana yang dialami ibu bekerja lainnya, masalah seperti itu datang dan pergi… Yang anak sakit, kemudian sembuh; yang belum dapat pengasuh, kemudian dapat; yang anak ga mau sekolah, kemudian mau; dan seterusnya…

Sehingga, saya pun masih bertahan di tempat kerja saya, dengan keyakinan bahwa kami akan bisa bertahan, badai pasti berlalu, dan sebagainya.


Dan ya memang benar sih, kami bisa bertahan sekian lama dengan masalah yang datang dan pergi tadi. Tapi sampai kapan?

Pendapat saya kala itu ya sampai anak-anak dewasa… Pikir saya, repotnya jadi ibu bekerja itu pas anak-anak masih kecil saja, begitu mereka beranjak besar, sekolah, dan banyak kegiatan, peran kita akan semakin berkurang… Yang ternyata salah…
Semakin besar, anak-anak semakinmembutuhkan perhatian kita dengan cara yang berbeda. 
Semakin besar, mereka memang lebih mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, tapi mereka butuh tempat curhat, butuh didengarkan, butuh dipahami, dan sebagainya. Yang semua ini membutuhkan kondisi psikis yang prima… kadang, kalau kita sudah capek, antusiasme kita bercerita dan mendengarkan anak pun berkurang, dan bisa terakumulasi menjadi stress-nya mereka.

Jadi, meskipun anak-anak bertambah dewasa, ya masalah itu tetap saja datang dan pergi, bahkan lebih rumit… Itu lah satu hal yang kemudian membuat keinginan untuk resign itu semakin kuat pada tahun 2016…

Namun, ini bukanlah satu-satunya alasan saya akhirnya resign pada bulan Agustus 2019. Waktu itu, pergesekan peran antara orang-tua dan pekerja sebenarnya sedang dalam fase adem ayem. Anak-anak sedang dalam kondisi sehat jasmani rohani, setelah sebelumnya memang tampak menunjukkan gejala membutuhkan perhatian lebih.

Jadi, saya tidak mengklaim bahwa ini alasan keluarga dan anak-anak adalah satu-satunya alasan di balik keputusan resign saya ya… Cerita saya tidak seheroik itu, saya bukan orang yang berpendapat bahwa seorang ibu itu lebih baik di rumah saja mengurus anak. Jadi, maaf jika saya mengecewakan teman-teman yang menganggap keputusan resign saya ambil semata untuk keluarga dan anak-anak.

Ini hanyalah satu hal yang kemudian berkomplikasi dengan hal-hal lainnya…

Me Not Enjoying My Office Life That Much Anymore…

Huhu, maafkan saya yang manusia biasa ini… Ada saja tidak puasnya ya…

But wait, insyaallah keputusan resign ini bukan sekedar dalam rangka menuruti rasa tidak puas itu… tapi juga kesadaran bahwa memaksakan diri untuk bertahan pun justru hal yang tidak baik untuk kami berdua (saya dan perusahaan tempat saya bekerja).

Membicarakan minat, saya memang memiliki ketertarikan yang cukup besar dalam hal menganalisa perilaku manusia. Cukup sesuai dengan penempatan kerja di bagian SDM yang banyak berhubungan dengan pengembangan dan perencanaan SDM, meskipun saya dulu sebenarnya tidak terlalu berminat mengambil mata kuliah Psikologi Organisasi dan sebangsanya.

Yah, kalau dulu kan fokusnya memang berobat jalan, jadi yang banyak diambil ya tentang Psikologi Klinis dan Perkembangan, haha… ✌

Dan setelah terjun ke dunia kerja, ternyata pengelolaan SDM itu mengasyikkan juga lho… Memikirkan strategi bagaimana mengembangkan kompetensi pegawai, bagaimana agar kapasitas mereka ter-capture dengan baik untuk keperluan suksesi jabatan, dan juga mengelola motivasi mereka melalui sistem manajemen kinerja… itu benar-benar menyenangkan. Apalagi dengan budaya kerja existing yang menangtang, semuanya menjadi lebih seru.
Namun, wajar juga bukan, jika suatu hal yang menyenangkan dan dilakukan terus menerus tanpa perubahan berarti ternyata menurunkan excitement-nya. Apalagi saat menemukan semakin banyak benturan antara apa yang ideal menurut kita dengan praktik yang harus dilakukan.
Yang awalnya saya merasa bersemangat mempelajari budaya dan orang-orang baru serta kultur organisasi… juga seni berkompromi untuk mengambil jalan tengah antara idealisme dan eksekusi yang diharapkan. Namun, semakin lama, sampai juga pada titik jenuh dan bosan…

Awalnya pun saya berusaha meredam rasa ini sekuat tenaga dan waktu itu tidak terlalu sulit karena saya memang butuh… Butuh gaji untuk kebutuhan hidup kami yang notabene pun generasi sandwich seperti kebanyakan orang… butuh prestise untuk membanggakan keluarga saya, butuh kegiatan produktif, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya…

But, guess what… pada akhirnya saya pun harus mengamini teori Maslow tentang Hirarki Kebutuhan yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia itu pada dasarnya dapat dikategorikan dalam lima tingkatan. Mulai dari level terendah adalah kebutuhan fisiologis, rasa aman, memiliki dan cinta, harga diri, dan kebutuhan teratas adalah aktualisasi diri. Dan saat satu tingkatan kebutuhan terpenuhi, maka kebutuhan itu tidak akan menjadi motivasi bagi seseorang.

Baca juga:  

Dulu, dengan motivasi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis hingga harga diri, pekerjaan yang saya lakukan ya cukup menyenangkan. Namun, setelah kebutuhan-kebutuhan itu terpenuhi, gejolak untuk aktualisasi diri pun menjadi-jadi.

Saya tidak bilang bahwa perusahaan tidak memfasilitasi pengembangan diri saya sebagai seorang pegawai. Namun, dengan minat saya dan juga peran sebagai ibu, saya merasa tidak mampu mengikuti jalur yang disiapkan perusahaan.

Untuk berkarir di bidang kepakaran atau keahlian, penempatan kerja saya ini bisa dibilang kurang pas… mungkin suasana kerja akan lebih menantang bagi saya jika ditempatkan di Unit Induk, Unit Assessment Centre atau Unit Pendidikan Pelatihan. Namun, opsi tersebut pun saya coret, karena sama artinya harus menjalani Long Distance Marriage (LDM). Suami saya tinggal di mana, saya juga dimana…

Cukup sadar diri lah, kalau melankolisnya saya akan membawa banyak masalah… dikit-dikit baper, dikit-dikit nangis, marah, dll… ga usah lah cari perkara yang bikin rumit kan. Belum mikirin mengasuh anak-anak sendiri, belum jauh-jauhannya ga bisa manja-manjaan, huhu, tak sanggup saya… 

Dan jika tidak menginginkan mutasi ke sana, maka pengembangan diri yang memungkinkan adalah melalui jenjang jabatan struktural yang sebenarnya sih dari awal saya kurang passionate… Huhu, saya ini kok jadi orang kompleks amat yak, sukanya dibebasin berkreasi, susah pasrah menerima untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan idealisme saya. Dan menurut pengamatan saya, menduduki fungsi struktural itu ya berarti harus siap mengesampingkan semua itu…

Tapi, saya sempat kok akhirnya membuka diri dengan kemungkinan itu dan menjajaki posisi struktural…

Waktu itu, untuk menunggu kenaikan level kompetensi yang tinggal hitungan satu tahun (begitu saya naik otomatis tidak bisa menduduki posisi struktural itu karena grade-nya ketinggian), saya terimalah tawaran untuk menempati satu fungsi struktural. "Ah, cuma satu tahun…" pikir saya. "Kenapa ga dicoba?"

And guess what, meskipun akhirnya hanya berjalan selama enam bulan, fixed saya merasa memang tidak cocok dengan karir semacam ini. Selama kurang lebih enam bulan, saya benar-benar merasa kehilangan kebebasan. Waktu, keinginan, idealisme… rasanya semuanya harus saya tepikan demi mengemban tanggung-jawab… Saya pun harus berpikir ekstra keras agar tanggung-jawab saya sebagai seorang pekerja, ibu dan istri dapat terpenuhi… dan bagi saya itu benar-benar melelahkan.

Karena itu, saya cukup bersyukur saat ada satu kebijakan baru di perusahaan bahwa suami istri yang sama-sama pegawai dalam satu unit induk tidak boleh sama-sama menduduki jabatan struktural. Jadi, walaupun waktu itu pengajuan keputusan saya sudah diproses sekitar enam bulan sebelumnya, karena adanya aturan itu, prosesnya pun tidak dapat dilanjutkan. Yup, saya dan suami berada pada unit induk yang sama, meskipun pada unit yang berbeda…

It's OK lah, enam bulan yang melelahkan itu tidak dibayar dengan materi atau apresiasi kinerja, karena dari sana kemudian saya mantap kemana harus melangkah.

Seeking for New Opportunities…

Sebenarnya sejak sebelum menikah pun, suami sudah mulai mencoba peruntungan pada beberapa bisnis (pertanian dan peternakan). Dan kala wacana resign saya mulai muncul, dia pun makin getol mencoba hal-hal berbau bisnis lainnya; sebut saja transportasi, trading IHSG, produksi rumput laut dan beberapa lainnya yang masih dijalani sampai detik ini…

Dulu, awalnya semua bisnis ini dijalani sekedar karena melihat adanya peluang, namun dengan munculnya wacana resign, kemudian semua ini berubah menjadi satu sarana untuk mengamankan sektor finansial. Mengingat tanggunan kami yang tidak bisa dibilang sedikit, kami perlu memastikan bahwa keputusan ini tidak akan membawa dampak buruk pada keluarga maupun keluarga besar.

Kemudian, setelah melewati masa enam bulan yang enlightening itu, pemikiran pun mengkerucut pada kesadaran bahwa kondisi sudah semakin tidak sehat bagi saya, keluarga, serta perusahaan. Well, perusahaan pun sesungguhnya berhak atas kinerja terbaik saya sebagai pegawainya bukan? Sesuatu yang saya sadari makin sulit saya berikan, dan itu pun berat bagi saya…

Akhirnya, kami pun berusaha mencari satu peluang lain, kali ini dengan tema, menemukan kegiatan produktif pasca saya resign… Sesuatu yang bisa saya kerjakan dan menghasilkan, namun dengan waktu yang cukup fleksibel untuk merawat anak-anak dan keluarga, serta diri saya sendiri.

Yah, saya pun tidak senaif itu untuk sekedar mengejar passion di bidang literasi, musik atau bahkan psikologi. Dua yang pertama itu anggap hobi dan satu yang terakhir itu rasanya belum punya sumberdaya untuk melanjutkan kuliah hingga mencapai profesi. Dan yang terpenting, ketiganya relatif belum bisa dijadikan pegangan sebagai pengganti penghasilan.

Jadi, win-winnya ya saya harus mencari kegiatan produktif lain, yang bisa dikerjakan secara cukup fleksibel… Kegiatan yang menghasilkan (materi), tapi cukup fleksibel untuk memungkinkan saya menjalankan peran sebagai seorang ibu dan juga mengembangkan diri ke arah yang saya inginkan.

Dari sana, akhirnya saya dan suami pun memberanikan diri terjun ke dunia bisnis food and beverage alias bisnis kuliner.

And Then, All Collided

Setelah melalui koordinasi panjang sejak bulan Oktober 2018, akhirnya aktif per bulan April 2019 kami pun resmi masuk ke dunia bisnis kuliner. Bayangannya sih ini bisa saya handle pada saat sudah berhenti bekerja nanti.

Sejak saat itulah, walau pun dengan waktu yang berhimpit-himpitan antara tugas kantor, antar jemput anak dan sebagainya… Saya dan suami bagi tugas, dia bagian operasional, saya bagian SDM dan promosi. Meski tidak sempurna, semua berjalan semaksimal yang kami bisa… Literally super hectic, sampai berkali-kali kelewat makan siang, karena waktu istirahat dipakai untuk mengurus 'bayi baru' ini. Lembur sampai lewat tengah malam, untuk merapikan administrasi yang ga juga rapi karena keterbatasan waktu and so on and so on

OK, at this point it is so exhausted… 

Mungkin bagi orang dari luar ya liatnya kue sudah ada yang bikin, toko sudah ada yang jagain… tapi, di balik itu masih ada urusan PO, tagihan, inventory, pembukuan, perijinan, sampai perpajakan yang harus diurusin.

Ditambah lagi, suami yang lebih terbiasa dengan urusan seperti itu, jadi rada-rada bossy seakan-akan saya ini anak OJT. Dimana, ini tentu saja tidak bisa saya terima… hahaha… yup, kami ini punya karakter yang bertolak belakang. Dia merah, saya biru… dia suka ngatur, sayanya ga mau diatur. Ribet kan… Dan itu sukses membuat hidup kami jadi makin riweuh dan hectic dalam arti yang sebenarnya.

Baca juga:

Literally… waktu 24 jam itu benar-benar kurang untuk mengurus semua printilan toko, anak-anak dan juga pekerjaan. Dan secara saya ini orangnya perfeksionis, dimana semua maunya berjalan 100%, cukup stress juga saat urusan toko ga beres-beres, kurang fokus sama anak-anak, lebih banyak meminta ijin dari kantor, dan istirahat pun kurang. Saat itulah kemudian, hati semakin mantap untuk menentukan kapan harus resign.

Awalnya rencana resign ini diset pada bulanJanuari 2020, tapi akhirnya dimajukan menjadi bulan Agustus 2019… Dengan pertimbangan semakin overload-nya tanggung-jawab, dan kala itu suami pun berkali-kali meyakinkan bahwa bisnis baru ini berkembang cukup baik dan semakin membutuhkan perhatian.

Dari sana kemudian saya pun mengeraskan hati dan niat untuk tidak menoleh lagi pada pilihan yang ada… Pokoknya maju lurus ke depan pada satu tujuan, yaitu resign per 1 Agustus 2019.

Selanjutnya, proses pun dimulai dengan sounding secara lisan mengenai niatan ini pada atasan saya… Kemudian pada Bulan Mei, saya membawa surat pengunduran diri saya kepada pimpinan tertinggi unit kerja saya. Selanjutnya pada bulan Juni selepas libur Lebaran melanjutkan proses ke Kantor Induk… Bulan Juli mulai membereskan administrasi exit interview dan berkas pensiun… Tanggal 25 Juli menerima slip gaji berisi hak-hak terakhir saya sebagai pegawai dan tanggal 31 Juli resmi berpamitan pada teman-teman di kantor. Selesai sudah masa kerja saya di BUMN ini selama 10 tahun 2 bulan…


***

Begitu kira-kira timeline bagaimana saya akhirnya memutuskan untuk resign… Dari cerita di atas, kedengarannya teknikal sekali ya… Semuanya macam sudah dipersiapkan dan dikalkulasikan. Yah ada benarnya, tapi juga tidak sepenuhnya benar… Karena sebenarnya dinamikanya cukup dramatis, jauh lebih dramatis dari intro saya yang melow di awal post ini…

Walaupun secara logis kami sudah cukup siap dan yakin bahwa ini adalah keputusan terbaik… Ada sudut-sudut hati saya yang gelisah dan menjadi cengeng mengenang hal-hal indah yang pernah saya alami di perusahaan ini…

Sepuluh tahun, Bok! Dari gadis unyu-unyu nan keras kepala yang baru pertama kali merantau pun langsung ke daerah yang cukup terpencil, hingga tumbuh menjadi wanita pemberontak yang semakin sulit mengalah pada keadaan. Dari yang mau masak nasi aja nelpon ke rumah untuk nanya airnya seberapa, sampai diberi kepercayaan untuk mendidik dua anak tengil nan lasak.

Tapi, ya inilah hidup, penuh dengan pilihan… Saat kemudian kita tidak mampu menjalani semuanya bersama-sama, atau saat kita tidak merasa bahagia, kita bisa memilih tetap menjalani semua peran itu seadanya atau memilih keluar dari situasi tersebut. Namun, tentu saja jika pun kita memilih untuk mencari jalan keluar, pun kita bisa mengantisipasi risiko yang mungkin timbul dari keputusan kita.

Dalam kasus saya, risiko yang saya hadapi adalah mengenai keamanan finansial dan perasaan kedua orang-tua saya yang begitu bangga pada karir anaknya. Sehingga, untuk itu, saya pun memerlukan waktu sekitar empat tahun untuk mempersiapkan semuanya.

Lalu, bagaimana rasanya setelah resign?

Yah, ini belum sebulan sih pasca resign, tapi, so far saya merasa jauh lebih tenang melakukan peran-peran saya. Saya bisa mengerjakan bisnis kami dengan lebih profesional, pun memiliki waktu yang jauh lebih fleksibel.

Saya bisa antar jemput anak tanpa beban dan rasa bersalah karena merasa kurang profesional dalam bekerja. Saya juga bisa lebih tenang dan fokus mengurusi printilan toko, dari operasional, perijinan hingga perpajakan. Dan alhamdulillah kedua orang-tua saya pun sangat suportif dengan proyek baru saya.

Ya, sejauh ini hidup saya jadi jauh lebih tenang dan membahagiakan dengan lepasnya rasa bersalah  saya kepada keluarga, anak-anak dan juga perusahaan. Selanjutnya, karena pilihan sudah dibuat, maka saya hanya tinggal menjalaninya dengan segala keyakinan, daya dan upaya. Bismillah…

***

Yup, begitulah kira-kira sedikit cerita di balik keputusan resign yang saya ambil… Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang membaca ya… Amiin.

Oh ya, terima-kasih sudah membaca by the way

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, July 21, 2019

Tips Lolos Wawancara Kerja

Throw back time, waktu saya baru lulus kuliah di tahun 2007 lalu... di Bulan Agustus, sejak dinyatakan lulus dari Fakultas Psikologi setelah masa kuliah empat tahun lamanya, belum terima ijazah pun saya sudah mulai gencar mencari pekerjaan.

Waktu itu, berbekal surat keterangan yudisium, saya mulai melamar ke berbagai perusahaan untuk segera menyudahi status 'pengangguran'. Status yang sangat berat ditanggung mengingat saya adalah anak pertama, ibu mencari nafkah sendiri sejak bapak jatuh stroke dua tahun sebelumnya, dan adik-adik pun masih duduk di bangku sekolah.

Kebayang kan rasanya... mau minta uang saku untuk keperluan melamar kerja aja berat rasanya karena status saya yang bukan lagi mahasiswa.

Waktu itu, paling lambat pukul 06:00 setiap Senin dan Kamis, saya sudah nongkrong di warnet (warung internet) demi menikmati tarif happy hours untuk mencari info lowongan pekerjaan. Juga Sabtu dan Minggu, tidak pernah absen beli koran Kompas untuk menelisik iklan lowongan pekerjaan yang janjian ketemuan disana.


And guess what? Hingga akhirnya diterima di PLN pada tahun 2008, saya sudah menjalani sepuluh kali wawancara kerja, mulai dari perusahaan BUMN maupun swasta yang cukup dikenal di Indonesia, yang kesepuluh-sepuluhnya gagal! Yes, PLN adalah wawancara kerja saya yang kesebelas, orang-tua sampai nasehatin saya supaya ke 'orang pinter' agar dibuka auranya, karena berpendapat saya ini ga kelihatan meyakinkan buat orang lain karena auranya tertutup. Yang memang benar sih mungkin, tapi saya kurang sreg saja dengan caranya...

OK, poin yang ingin saya garisbawahi disini adalah bahwa secara objektif, sesungguhnya saya cukup memiliki potensi, karena kenyataannya bisa lolos serangkaian penyaringan mulai dari seleksi administrasi, tes potensi akademik, Bahasa Inggris, dan sebagainya... tapi kenapa selalu gagal di wawancara... Apa yang salah?

Dan untungnya sih, karena waktu itu saya tidak mengikuti saran orang-tua untuk ke 'orang pinter' supaya dibuka auranya, sekarang saya bisa sedikit berbagi pada teman-teman tentang pengalaman saya. Hal-hal yang saya pelajari dan terapkan hingga akhirnya bisa lolos pada sesi wawancara di sebuah perusahaan BUMN di Indonesia ini. Yang mana, mungkin banyak orang semacam saya, yang merasa ini prestasi setelah berkali-kali (tepatnya sepuluh kali) gagal di sesi wawancara... 😅

Siapkan Diri secara Psikologis

Percaya diri itu harus! Nah, tapi bagaimana kalau kita sadar punya banyak kekurangan dibandingkan peserta wawancara lain? Ini nih masalah saya dulu...

Dulu, seusai lulus ujian skripsi, saya sempat curhat pada dosen penguji, "Bu, saya ini merasa belum siap untuk terjun ke dunia kerja... Saya merasa belum punya bekal pengalaman nyata di masyarakat, soalnya selama kuliah saya cuma kuliah saja, ga aktif di organisasi sama sekali..."

Well, aktif di organisasi selama kuliah itu jelas adalah sarana untuk mengembangkan kepribadian kita teman-teman, saya sadar sekali hal itu, tapi apa daya... saya yang dulu itu punya pergolakan psikologis sendiri hingga boro-boro aktif berorganisasi, berinteraksi dengan banyak orang saja sungguh menguras energi.

Aktif berorganisasi will a plus point, tapi jika kurang pun bukan akhir dari segalanya... Dan kenapa saya gagal dalam berbagai wawancara itu justru lebih karena terlalu fokus pada kekurangan saya. Ya kalau kita sendiri tidak percaya kita mampu, bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain coba?

So, menyiapkan diri secara psikologis ini saya artikan sebagai kita memahami diri kita, segala kekurangan dan kelebihannya, menerimanya dan juga menghargainya...

Dalam kasus saya, kemudian alih-alih hanya fokus dengan kekurangan... kemudian saya pun menyadari bahwa saya pun memiliki banyak kelebihan disamping satu kekurangan tidak aktif berorganisasi. Saat itulah saya mulai bisa melihat diri dan pengalaman yang saya alami dan menghargainya. Termasuk soal pengalaman organisasi yang mungkin satu-satunya, yaitu semasa KKN...

Ya mohon maaf, emang nothing special sih dengan kegiatan KKN, semua mahasiswa kala itu ya harus KKN untuk lulus. Tapi, dalam KKN itu pun saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa mengenai organisasi dan berhubungan dengan masyarakat. Jadi, salah besar jika saya merasa tidak tahu apa-apa soal dunia organisasi, ini cuma masalah cara pandang saja.

Nah, kalau kita sudah mengenal diri sendiri, bisa menghargai diri kita sendiri dan percaya diri, maka selanjutnya kita akan mampu menampilkan siapa diri kita yang sesungguhnya. Dan saya rasa, ini lah yang namanya membuka aura secara psikologis itu...

Siapkan Materi

Psikis sudah siap... selanjutnya, kita pun harus meyakinkan interviewer bahwa kita memiliki pengetahuan mengenai bidang yang kita apply, tantangan dan juga visi misi kita terkait hal itu.

Untuk itu, kita bisa mulai dengan membuka informasi perusahaan yang ada di websitenya, apa visi dan misi perusahaan, sejarahnya, dan informasi lainnya. Kemudian, juga mencari berita terkait perusahaan tersebut dan lebih spesifik terkait posisi yang kita lamar.

Kala itu, dengan background Psikologi, saya melamar posisi HR Officer... maka saya pun secara spesifik mencari tahu kebijakan SDM mereka, tantangan, perkembangan, dan sebagainya.

Semakin kita memahami seluk beluk organisasi, posisi yang kita lamar dan peran serta tantangannya untuk mencapai visi misi perusahaan, itu adalah nilai yang luar biasa plus. Ini tidak hanya akan menunjukkan kapasitas intelektual kita, tapi juga keinginan kita belajar dan juga kesungguhan kita.

Dan dalam kasus saya, kalau itu saya mendapatkan topik yang sangat kuat dengan mengetahui bahwa PLN telah menerapkan Manajemen SDM Berbasis Kompetensi sejak tahun 2004. Dan saat saya diwawancarai pada tahun 2008, itu masih adalah isu pengelolaan SDM yang hangat karena kenyataan bahwa implementasinya tidak lah mudah, mengingat cakupan perusahaan yang sangat luas dari Sabang hingga Merauke, dengan berbagai latar belakang pekerja dan juga adanya gap generation serta resistansi pada perubahan.

Penampilan

Soal penampilan ini bukan persoalan sulit, tapi tidak boleh dianggap enteng karena ya ini yang akan dilihat pertama kali oleh interviewer. Dan yap, disini pada awalnya saya sudah failed...

Wawancara pertama saya, itu benar-benar masih culun banget. Baru pegang surat keterangan yudisium, iseng-iseng lamar kerja yang ternyata proses seleksinya seharian gitu. Begitu lolos seleksi administrasi, lalu semacam tes potensi akademik dan lanjut ke wawancara.

Posisinya, saya tanpa ekspektasi sama sekali sih, tapi kok ndilalah di saat teman-teman sejurusan pada berguguran, saya masih lanjut sampai wawancara. Jadi, beneran tanpa persiapan, saya cuma pakai kaos dan celana jeans pun bukan jeans yang feminin gitu, tapi model gombrong. Ya sudahlah, bye-bye... Kemudian saya yakin bahwa dari situ saja saya sudah gagal merebut hati para interviewer, dan selanjutnya ya mereka sudah tidak terlalu berminat untuk mengeksplore kemampuan saya.

Dan hal ini pun berulang pada wawancara-wawancara setelahnya, yang mana saya kurang memperhatikan masalah penampilan, sampai dengan pada akhirnya bude saya menyadarkan saya, "Kamu ini kan ngelamarnya jadi pegawai kantoran... bajunya, dandanannya harus mencerminkan kerjaanmu dong..." dan kemudian mulai lah saya lebih memperhatikan perihal penampilan ini...

Intinya sih mengenai penampilan, kita harus berpakaian sopan, enak dilihat dan profesional... Dimana bagi saya ini berarti:

Jangan pake jeans, kaos oblong dan pakaian casual lainnya... Jangan terlalu menor, tapi juga jangan kelihatan pucat... Yes, pada saat wawancara kita harus terlihat profesional dan menarik secara tidak berlebihan.

Nah, kalau saya sih mendefinisikan paragraf di atas misalnya dengan memakai kemeja dengan celana panjang atau rok bahan yang tidak terlalu ketat tapi tidak terlalu longgar, dengan motif yang cukup simpel atau untuk amannya polos saja.

Lalu, untuk make up... yah, kalo saya sih karena ga bisa dandan, cukup pakai lipstik aja dengan warna bibir kala itu. Tapi, kalau teman-teman bisa dandan sih bisa lebih bagus dandan, asal tetap natural ya... sekali lagi, jangan menor...

Perhatikan Hal-Hal Teknis Lainnya

Hal-hal teknis yang saya maksud disini misalnya adalah bagaimana untuk datang tepat waktu, bagaimana mensiasati supaya tidak dalam kondisi lapar saat diwawancarai, jangan tidur terlalu malam supaya kondisi tubuh prima, dan sebagainya.

Berdoa dan Minta Doa Restu dari Orang-Tua

Last but not least, berdoa dan minta doa restu dari orang-tua itu adalah hal kunci yang tidak boleh ditinggalkan.

Ga perlu dijelasin panjang lebar lah ya...

Yang jelas hal ini selain berkaitan dengan hal spiritual, juga akan menimbulkan ketenangan batin bagi kita, seorang anak manusia.

Agak bingung deh jelasin part ini... Gitu deh pokoknya... Teman-teman sepakat lah ya kalo ini hal yang sangat-sangat penting...

***

Nah, kira-kira itu saja sih beberapa hal yang menurut saya penting diperhatikan dalam menghadapi sebuah wawancara kerja.

Yang paling sulit dan butuh proses sesungguhnya adalah mempersiapkan diri secara psikologis... Karena untuk mencapainya kita perlu menemukan insight itu sendiri dalam diri kita, no technical step seperti poin-poin lainnya.

Untuk beberapa orang sih tapinya ini bukan masalah sama sekali... Yes, tipe kepribadian dan juga pengalaman hidup sangat menentukan. Mereka dengan tipe kepribadian merah atau cholerics akan cenderung tidak bermasalah. Dan sebaliknya orang-orang dengan tipe kepribadian biru atau melancholy akan lebih rawan memiliki permasalahan ini.

Yeah, tebakan Anda benar... saya ini tipe melancholy yang cukup ekstrim, makanya perlu waktu untuk menyelesaikan permasalahan kepercayaan diri ini.

Tapi, jangan khawatir teman-teman, setiap kepribadian itu tidak ada yang baik atau buruk... it's just it... Mau kepribadian seperti apa, ya bisa juga sehat, bisa juga tidak sehat secara psikologis. Dalam perjalanan, bimbingan orang terdekat dan juga lingkungan akan membentuk pengalaman kita memandang hal tersebut. Namun, yang terpenting pada akhirnya tetap lah diri kita sendiri, saat kita tumbuh dewasa, bagaimana kita memandang diri dan lingkungan adalah tanggung-jawab kita sendiri.

Kurang lebih begitu...

Well, kok jadinya malah semi curhat ya... Maaf ya teman-teman... 😅

With Love,
Nian Astiningrum
-end- 

Monday, June 17, 2019

The Whole-Brain Child #3: Melatih Anak untuk Membuat Keputusan yang Baik

Whoa… akhirnya… meski lambat, saya bisa juga menyelesaikan bab tiga Buku 'The Whole-Brain Child' yang keren ini!

Boleh dong, sedikit berbangga diri pada komitmen saya sejauh ini… Karena jujur saja, kecuali novel dan artikel di internet yang secuil, membaca adalah sesuatu yang cukup effortfull bagi saya. Haha…


OK, back to this chapter sebelum bleber kemana-mana… Now let's get a little bit serious and talk about this book

***

Jadi, pada bab sebelumnya kita sudah membahas tentang integrasi antara otak kanan dan otak kiri, maka pada bab tiga ini kita akan membahas tentang integrasi antara otak bagian bawah dan otak bagian bawah… Yang dianalogikan sebagai upaya untuk membangun tangga penghubung otak bagian bawah dan otak bagian atas.
Otak bagian bawah meliputi batang otak dan area limbik (yang bertanggung-jawab pada fungsi dasar (seperti bernapas dan berkedip), pada rekasi dan impuls (seperti berkelahi atau berlari), dan untuk emosi yang kuat (seperti marah dan takut).
Yup, otak bagian bawah lebih bertugas meng-handle reaksi-reaksi spontan yang diperlukan cepat untuk menyelamatkan diri. Misalnya, lari pada saat liat ular. Jadi tanpa berpikir panjang, "Oh itu ular, bisa menggigit dan mengeluarkan racun, kita bisa sekarat dibuatnya, jadi harus lari nih!" Kalau kaya gini sih, mau lari jangan-jangan sudah terlambat.

Yess, tidak terbantahkan kalau peran otak bagian bawah ini begitu penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Akan tetapi, akan jadi beda ceritanya kalau settingnya juga berbeda… Coba bayangkan kejadian ini: Suatu hari seseorang tidak sengaja menyerempet mobil kita yang sedang parkir di pinggir jalan, terus langsung deh otak bagian bawah bereaksi dan kita langsung memukul orang itu… itu kan ga bener.

Dalam kasus seperti itu, sudah selayaknya kita berpikir panjang terlebih dahulu… Apakah kita yang salah karena parkir tidak pada tempatnya? Bisakah dibicarakan dan diselesaikan secara kekeluargaan? Atau bahkan memang harus dibawa ke jalur hukum jika tidak menemukan jalan keluar.

Nah, inilah fungsi dari otak bagian yang terdiri dari cerebral cortex dan komponen-komponen lainnya…
Otak bagian atas lebih berkembang dan canggih, sehingga bisa memberikan kita perspektif yang lebih lengkap. Otak bagian atas bertanggung-jawab dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, pengendalian emosi dan tubuh, pemahaman diri, empati, serta moralitas.
Itu kenapa, kita perlu mengintegrasikan otak bagian bawah dan otak bagian atas… Terutama bagi anak-anak, karena disaat otak bagian bawah manusia telah berkembang dengan baik sejak lahir, maka otak bagian atas baru benar-benar matang pada pertengahan usia dua puluhan.

Karena itulah, bukan untuk tujuan supaya anak-anak mampu bersikap dewasa melebihi usianya, kita perlu melatih kemampuan otak bagian atas agar anak-anak mampu mengambil keputusan yang lebih baik.

Dalam keadaan bahaya, kita perlu bertindak sebelum berpikir… Namun, jika kondisi tidak mengancam jiwa, kita perlu berpikir sebelum mengambil keputusan…

Tantrum

Mengenai tantrum, sesungguhnya pun terdapat dua jenis; yaitu tantrum otak bagian bawah dan tantrum otak bagian atas.

Tantrum sebagai hasil pemrosesan otak bagian atas, berarti bahwa anak sepenuhnya menyadari apa yang dilakukannya. Tantrumnya memiliki tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan untuk menghadapi tantrum semacam ini, kita harus tegas dan teguh pendirian untuk tidak memberikan apa yang diinginkannya.

Sementara, tantrum sebagai hasil pemrosesan otak bagian bawah, anak menjadi kecewa dan marah karena tidak mendapatkan hal yang diinginkannya. Ya, tipe tantrum ini sangat kuat muatan emosinya, karena itu respon yang menenangkan akan lebih efektif dan selanjutnya mengarahkan kepada pemahaman yang 'benar'.

Baca juga:

Dan selanjutnya, meneruskan tips dari chapter sebelumnya, berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan berkaitan dengan integrasi otak bagian bawah dan otak bagian atas:

#3: Membujuk, Jangan Membuat Marah

Maksudnya adalah dalam memberikan respon terhadap anak, kita jangan terpancing untuk membuat marah otak bagian bawah, tapi sebisa mungkin membujuk otak bagian atas.

Contoh respon yang disebut membuat marah otak bagian bawah: Pada saat anak kita bilang, "Mama, aku ga mau sekolah!" Kemudian kita jawab, "Kamu harus sekolah supaya pintar! Jangan mikir aneh-aneh deh!"

Contoh respon yang membujuk otak bagian atas: Pada saat anak kita berkata, "Mama, aku ga mau sekolah!" Kemudian kita jawab, "Kenapa? Apa Kakak capek ngerjain PR-nya? Kita bisa kok cari cara supaya ngerjain PR-nya ga terasa terlalu banyak…"

Pada contoh yang kedua, kita mengajak otak bagian atas anak untuk berdiskusi mengenai cara supaya sekolah tidak terasa melelahkan karena mengerjakan PR. Selanjutnya, dalam diskusi kita bisa mengajak anak untuk berpikir logis untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Dimana hal ini akan secara langsung melatih ketrampilan penyelesaian masalah (problem solving) dan pengambilan keputusan (decision making).

#4: Melatih Kemampuan Otak Bagian Atas

Jadi, otak bagian atas itu seperti otot, yang semakin dilatih akan menjadi semakin berkembang, semakin kuat dan dapat berfungsi dengan baik. Dimana hal ini dibutuhkan untuk mengimbangi otak bagian bawah, dan krusial untuk kecerdasaan emosi dan sosial.

Berikut adalah beberapa ketrampilan otak bagian atas yang perlu kita latih…

Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan membutuhkan sesuatu yang disebut fungsi eksekutif, yang terjadi pada saat otak bagian atas menimbang beberapa opsi. Dan untuk melatih kemampuan ini, maka kita perlu memberikan berbagai opsi kepada anak sesuai dengan kapasitasnya.

Misalnya, saat anak masih pra-sekolah diberikan kesempatan untuk memilih akan memakai kaos kaki warna apa. Atau pada saat anak mulai beranjak besar, diberikan kesempatan untuk memutuskan apa yang harus dilakukan pada situasi yang lebih kompleks. Seperti pada saat ulang-tahun temannya memiliki waktu yang bersamaan dengan jadwal pertandingan berenangnya.

Pada dasarnya, melatih kemampuan pengambilan keputusan ini adalah mengajarkan anak kita untuk bergulat dengan keputusannya dan menerima konsekuensi dari keputusan itu.

Mengendalikan Emosi dan Tubuh

Seringkali terjadi, pada saat anak kecewa, maka dia akan melakukan hal-hal fisik yang tidak baik; seperti memukul, menendang, dan sebagainya.

Untuk itu, kita perlu melatih anak untuk mengendalikan emosi dan tubuhnya, yaitu dengan mengajarkan anak untuk berpikir sejenak sebelum melakukan tindakan yang tidak baik. Misalnya dengan mengajarkan mereka untuk menarik napas panjang, atau memukul bantal pada saat merasa marah.

Pemahaman Diri

Salah satu cara untuk mendorong anak memahami dirinya lebih dalam adalah dengan menanyakan hal yang mereka pahami secara mendalam, seperti, "Kenapa Kakak memilih untuk pergi bertanding berenang daripada datang ke ulang-tahun Dio? Kenapa Kakak berpikir kalau tidak bisa mengerjakan soal final test tadi?" dan sebagainya.

Selanjutnya, pada saat anak telah lebih besar dan bisa menulis atau menggambar… Kita pun dapat memberikannya jurnal dan mendorongnya untuk membuat tulisan harian untuk meningkatkan kemampuannya memahami apa yang terjadi dalam dirinya.

Empati

Untuk membantu menumbuhkan empati pada anak, kita dapat melakukannya dengan mengajaknya berpikir dan berdiskusi mengenai hal-hal yang dialami atau dirasakan orang lain.

Misalnya, pada saat berada di pusat perbelanjaan dan melihat seorang anak menangis, "Menurut Kakak… kenapa anak tadi nangis?" Atau pada saat seorang temannya pindah sekolah, "Menurut Kakak, bagaimana perasaan Rena ya… harus pindah sekolah karena Papanya pindah tempat kerja?" dan sebagainya.

Moralitas

Moralitas merupakan muara dari ketiga atribut sebelumnya, yaitu pengambilan keputusan, pemahaman diri dan empati; yaitu perasaan bukan hanya mengenai benar dan salah, tapi juga sesuatu untuk hal yang lebih baik daripada kebutuhan pribadi mereka.

Dan untuk melatihnya, kita bisa melakukannya dengan mengajaknya berpikir mengenai suatu situasi. Misalnya, "Menurut Kakak, pada saat sebuah mobil menerobos lampu merah karena sedang membawa orang sakit itu boleh atau enggak?" dan sebagainya.

Serta tentu saja, kita pun sebagai orang-tua perlu menjadi model bagi anak-anak kita untuk mengajarkan kebaikan, kejujuran, sikap dermawan, dan bagaimana menghormati orang lain.

#5: Menggerakkan Tubuh untuk Meningkatkan Kendali Pikiran

Nah, membaca bagian ini… saya jadi teringat waktunya lagi males mau ngapa-ngapain padahal kerjaan lagi numpuk, dan solusinya itu kadang adalah jalan-jalan bentar, ngulet (menggeliat) dan sejenisnya. Yang somehow itu bisa memecah rasa malas dan lebih bersemangat melakukan hal yang harus dilakukan.

Dan ternyata… yes, teman-teman…
Gerakan tubuh akan mempengaruhi kimia pada otak dan bisa membantu menghubungkan antara otak bagian bawah dan otak bagian atas.
Hal ini senada dengan penelitian yang menyebutkan bahwa pada saat kita merubah kondisi fisik kita (misalnya melalui gerakan atau relaksasi), maka kondisi emosional kita pun akan berubah.

Jadi, pada saat anak perlu menenangkan atau mengendalikan dirinya, kita dapat membantunya dengan mengajaknya bergerak. Misalnya pada saat anak lesu harus mengerjakan PR-nya, kita bisa mengajaknya untuk bermain lompat-lompat dengan lagu 'If You're Happy and You're Know It…' atau bahkan tepuk tangan, perang jempol dan apa saja lah disesuaikan dengan karakter dan kebiasaan anak. Ga ada pagunya, just be creative

***

Yup, itulah intisari dari chapter tiga Buku 'The Whole-Brain Child' ini yang bisa saya tangkap…

Setelah saya membaca pembahasan empat bagian otak (otak kiri, otak kanan, otak bagian atas dan otak bagian bawah), somehow saya jadi berpikir, bahwa kita harus lebih peka dengan perilaku yang anak kita lakukan untuk dapat memberikan respon yang tepat.

Di chapter dua ini, kita misalnya mengenai tantrum saja, kita perlu menganalisa latar belakang perilaku itu. Dan untuk itu, maka kita perlu selalu mengamati untuk mengenali anak kita. Caranya, tentu saja dengan memanfaatkan waktu bersamanya semaksimal mungkin, banyak mengajaknya mengobrol, mencari tahu perilakunya di sekolah, dan banyak lagi. Itu semua adalah modal kita untuk kemudian menganalisa perilaku anak dan mampu memberikan respon yang tepat.

Seru ya teman-teman… Jujur, saya ga sabar meneruskan membaca chapter empat dan membaginya dengan teman-teman semua. Yang tentunya, sebenarnya dalam rangka saya belajar juga sih, hihi…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, May 31, 2019

Traumatisnya Tembakau bagi Saya

Rokok atau tembakau mungkin adalah hal yang sangat biasa kita temui di Indonesia… Pada saat berbelanja di minimarket, deretan rokok yang dipajang rapi ada di hadapan kita saat membayar di kasir, bahkan dengan gambar-gambar mengerikan yang sudah menghiasi kemasannya sejak beberapa tahun lalu…

Karenanya pula, dampak rokok bagi kesehatan bukan lagi rahasia, jadi silakan googling aja kalau mau tau bahayanya rokok bagi kesehatan. Atau, cukup nongkrong di depan kasir minimarket, udah keliatan kok… Saking biasanya, mungkin orang menganggap semua itu sepele saja…


But no! Saya tidak pernah menganggap rokok sesepele itu… Bahkan bagi saya, dia adalah satu karakteristik yang krusial dalam menentukan pasangan hidup di masa lajang saya. 

Yup, saya benci rokok! Dan saya tidak ingin suami saya adalah perokok! Sounds judgmental sekali ya… Tapi ya ini adalah perasaan pribadi saya… Toh saya juga tidak memaksa kok, dan saya pun tahu tidak bisa memaksa seseorang berhenti merokok, karena itulah, daripada saya makan hati seumur hidup hidup bersama perokok, ya sudah lah ya… better I'm looking for someone who's not

***

Kenapa sih saya benci rokok?

Baik… sejak kecil, sesungguhnya saya sudah cukup akrab dengan yang namanya rokok, bapak saya seorang perokok berat. Tidak jarang bahkan beliau menyuruh saya ke warung membeli rokok. Sampai sekarang, saya masih ingat betul kok rokok favoritnya, tapi ga usah disebutin lah ya… 

Ya, sejak kecil saya biasa melihat bapak saya atau pun orang di sekitar saya merokok… Saya kecil kala itu, ya tidak tahu apa sih sebenarnya rokok itu? Sampai akhirnya saya beranjak remaja dan merasa bahwa rokok itu adalah benda jahat yang mengukuhkan arogansi dan keegoisan seseorang yang saya kenal. Ya siapa lagi kalau bukan Bapak saya…

Tapi, ini bukan berarti saya benci dengan bapak saya ya… kami memiliki hubungan baik kok… meskipun benda bernama rokok itu tetap meninggalkan jejak di hati saya…

OK, sepertinya cerita selanjutnya akan jadi melankolis ya…

Rokok dan Adiksi

Beberapa orang mungkin berdalih bahwa rokok itu tidak menimbulkan ketergantungan sebagaimana zat-zat psikotropika, namun harus tetap diakui bahwa berhenti merokok itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

Keluarga kami bukan lah keluarga berada dan saya happy-happy saja sih dengan segala keterbatasan itu… Bahkan saya bangga tuh tidak kalah berprestasi dengan teman-teman lainnya yang notabene memiliki kelonggaran finansial lebih dari saya. Saya juga sangat bangga dengan ibu saya yang jualan di pasar dan bapak saya yang pinter banget ngebengkelnya…

Tapi, saya tidak suka bagaimana bapak tetap merokok meskipun dengan segala keterbatasan kami… Bahkan dengan arogannya berkata, supaya saya tidak usah mengurusi kebiasaannya merokok. Sakit lho rasanya…

Bayangkan kata-kata seperti itu diucapkan pada anak yang baru duduk di akhir bangku SD dan berlanjut hingga SMP, SMA dan seterusnya. Masa-masa dimana anak sudah mulai bisa berpikir tentang baik, buruk dan moralitas… Dari saat itulah saya berpendapat bahwa rokok itu jahat! Karena demi dia, seorang kepala keluarga terkadang memangkas kebutuhan keluarganya yang lebih penting. Bukan sekedar kebutuhan finansial, tapi juga kebutuhan akan perhatian, merasa dihargai dan disayangi…

Rokok dan Stroke

Tahun 2005 bapak saya terserang stroke! Saat itu, saya masih kuliah di semester lima… benar-benar di tengah masa kuliah saya. Dan segalanya berubah menjadi lebih berat lagi sejak saat itu… bukan hanya karena permasalahan finansial, tapi juga psikologis.

Kondisi bapak yang lumpuh pada tubuh bagian kiri praktis membuatnya tidak mampu bekerja membantu memenuhi kebutuhan kami. Beruntung kami masih memiliki keluarga besar yang turut meringnkan beban kami, namun besarnya biaya berobat bapak, biaya sekolah kami bertiga, dan biaya sehari-hari; semua tetap terasa berat di pundak Ibu seorang diri.

Belum lagi kondisi psikis bapak yang menjadi jauh lebih temperamental akibat gangguan pada otaknya. bapak saya yang dulu sudah cukup keras kepala dan pemarah, karena stroke yang pada otak kanannya membuatnya berlipat lebih temperamental. Kami anak-anaknya dan juga Ibu tentu saja seringkali menjadi sasaran amarahnya dan juga kesedihannya.

Di satu sisi, saya begitu iba pada bapak yang kemudian tidak mampu melakukan begitu banyak hal secara mandiri dan harus tergantung pada orang lain. Namun, itu tidak menghilangkan marahnya hati saya saat kemudian menjadi sasaran temperamen bapak dan harus memaksa diri saya sendiri untuk mengalah.

Itu adalah situasi yang sangat berat bagi kami semua… Dan dari segala kebiasaan hidup tidak sehat  yang bapak jalani, saya semakin benci dengan benda bernama rokok!

Saya tidak akan bilang bahwa rokok adalah satu-satunya penyebab bapak mengalami stroke, karena bapak pun memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat. Tapi, sepanjang pengetahuan saya dari berbagai literatur dan penelitian yang saya baca, kebiasaan merokok adalah satu hal yang akan meningkatkan risiko kejadian stroke.

Jadi, tidak salah bukan, jika kemudian saya sebegitu bencinya dengan rokok? Apalagi melihat kenyataan bahwa bahkan setelah mengalami stroke pun, beberapa tahun kemudian bapak masih kembali kepada rokok, meski dengan intensitas yang jauh berkurang.

Rokok itu jahat! Jangan mendebat itu dengan saya…

***

Yah, begitulah cerita saya teman-teman… Setelah semua pengalaman saya, rokok itu begitu identik dengan sikap egois, mau menang sendiri dan arogan.

Egois dan mau menang sendiri, karena demi rokok tidak jarang penikmatnya menomorduakan kebutuhan yang lebih utama dan penting dalam keluarganya. Padahal, rokok sendiri sesungguhnya bukanlah kebutuhan hidup…

Serta arogan, karena meskipun dengan berbagai fakta dan hasil penelitian yang menunjukkan bahaya rokok bagi kesehatan, penikmatnya masih menantang kenyataan itu. Dengan berkata, "Ah, yang merokok umurnya panjang juga banyak…" Padahal, oh man, ini bukan masalah umur panjang, tapi kualitas kesehatan kita yang tidak bisa selalu dibandingkan satu sama lain. Jika pun ingin membandingkan, bandingkan kesehatan kita sebagai perokok dan tanpa rokok, bandingkan diri kita sendiri, ga usah  cari pembenaran dari seupil kejadian langka diantara lautan fakta.

Bagi saya, memilih untuk menjadi perokok adalah keputusan yang kurang smart… karena sama dengan mengumpankan diri kepada monster jahat. Rokok akan membelenggumu, meskipun tidak sekuat narkoba. Dia akan membuatmu kesulitan untuk lepas, meskipun dihadapkan dengan berbagai kondisi yang tidak mendukung lagi, baik secara finansial atau secara kesehatan.

Jadi, jika kamu bukan perokok, better never try lah…

Dan jika kamu adalah perokok, please lihat orang-orang yang kamu cintai, jangan sampai mereka merasa dinomorduakan, diperlakukan egois, dipaksa mengerti sesuatu yang salah… hanya karena rokok…

Kadang saya menangis sambil menulis diari masa kecil saya dalam kondisi itu. Dan lebih buruk saat merasa bahwa dia (rokok) adalah penyebab bapak saya jatuh stroke, sehingga memperberat kehidupan kami, baik dari sisi finansial maupun psikologis. Tidak salah bukan jika hati saya jadi sekeras ini mengenai rokok…

Dan percayalah, kalian tidak ingin orang-orang yang kalian cintai merasakan apa yang saya rasakan…

Jadi, dengarkan lah pada saat mereka mengeluh atau menasehati tentang kebiasaan merokokmu… Singkirkan jauh-jauh, perasaan bahwa apa yang mereka bicarakan hanyalah omong kosong yang sudah kamu ketahui semuanya. Bukan, bukan tentang itu… Mungkin mereka bukan hanya sekedar memberitahumu, tapi mereka sedang mencari kasih-sayangmu untuk mereka…

Kamu mencintai mereka bukan?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-