SOCIAL MEDIA

search

Thursday, September 19, 2019

Pengalaman Merawat Anak Muntaber dan Dehidrasi di Rumah

Weekend ini, rencana liburan memang belum tersusun jelas… hanya terselip rencana bahwa sore saya akan arisan ke sebuah resto yang ada kolam renangnya, sehingga suami berencana pun mengantar dan membawa anak-anak untuk sekalian berenang.

Sampai akhirnya, sore hari sepulang melayat dan anak-anak pulang dari main, kok dikabarin bude kalo barusan Mahesh muntah-muntah banyak dan badannya jadi agak demam… Duh, fixed ini, segala rencana buyar dan saya pun sibuk nungguin Mahesh yang jadi super manja kalau lagi sakit.

Baca:

Benar-benar seharian saya nungguin dia tidur, karena anaknya suka kebangun dan minta minum atau sekedar minta saya ngelonin. Huhu, bukan ga ikhlas, tapi sungguh gempornya nungguin sambil mikirin kerjaan-kerjaan yang belum beres itu bikin jenuh juga. Pikiran saya terbang kemana-mana dan teringat kejadian serupa sekitar 6 tahun yang lalu saat Ganesh mengalami muntaber parah hingga dehidrasi sedang.

Waktu itu, usia Ganesh masih menjelang 2 tahun dan kami masih tinggal di sebuah kota kecil (sekali) bernama Muara Enim. Yang rumah sakitnya cuma ada dua, dan yang satu malahan ga ada dokternya, terus satunya lagi kamarnya penuh.

Duh, sukses bikin kami stress tingkat tinggi… sampai-sampai saya dan suami bertengkar karena sama-sama pusing dan panik. Saya berusaha tenang untuk merawat Ganesh di rumah; sementara suami saking khawatirnya tetep keukeuh Ganesh harus masuk rumah sakit dan diinfus karena memang sudah lemes banget dan setiap minum langsung muntah.

Dan terkenang paniknya kami, kok jadi kepikiran untuk berbagi informasi ini pada kawan-kawan semua… Siapa tahu bermanfaat… So, kita mulai saja ceritanya ya… 

Kondisi Ganesh dan Diagnosa Dokter

Seperti yang saya ceritakan di atas, kala itu kondisi Ganesh sudah lemas karena berak cair berkali-kali dan muntah setiap kali makan atau minum. Anaknya sudah menampakkan gejala dehidrasi, seperti ingin minum terus-menuerus dan juga lemas. Yang ternyata pada saat kami bawa ke dokter, beliau mengatakan bahwa Ganesh mengalami muntaber yang mengakibatkan dehidrasi sedang.

Yup, 'sedang' kawan-kawan… belum berat, karena pada saat kulitnya ditekan masih kembali dengan cepat.

Menurut dokter, kondisi seperti ini memang lebih baik dirawat di rumah sakit dan dibantu infus… Tapi, berhubung rumah sakit penuh dan cuma ada kelas satu kamar isi 6 orang, yang menurutnya tidak baik untuk anak-anak, dia menyarankan untuk di rawat di rumah saja tapi tetap siaga.

Kemudian dokter meresepkan beberapa obat, menyarankan untuk menjaga asupan cairan, melarang minum susu dulu, dan memperbanyak istirahat untuk mempercepat pemulihan.

Sesuatu yang kedengarannya sederhana, tapi lumayan bikin tegang juga… karena dari 'sedang' akan menjadi dehidrasi 'berat' dengan cepat jika penanganan tidak berhasil… Apalagi ini batita, masih susah diatur buat minum obat, minum sedikit, dan sebagainya kan. Jadi, ya memang sedikit deg-degan juga…

Perawatan Ganesh di Rumah

Waktu itu, karena tidak mendapatkan kamar, kami sempat menelepon seorang teman yang bekerja di RS tersebut dengan harapan bisa dibantu untuk mendapatkan kamar. Namun, apa mau dikata, kamarnya memang benar-benar tidak ada, jadi kami tetap harus kembali ke plan B untuk merawat Ganesh di rumah saja.

Nah, teman kami (Tante Euis) ini lah yang kemudian menyempatkan diri menjenguk Ganesh di rumah, memeriksanya dan memberikan saran-saran bagaimana merawatnya.

Secara beliau ini kan perawat ya, sudah pasti biasa menangani kasus-kasus muntaber seperti ini… jadi tidak perlu diragukan lah ya validitas saran-sarannya, sehingga kami pun cukup percaya diri merawat Ganesh yang waktu itu perutnya sampai tipis banget saking setiap kali makan dan minum langsung muntah.

Nah, beberapa poin yang diajarkan pada kami oleh Tante Euis terkait penanganan pasien muntaber yang kami terapkan pada Ganesh adalah sebagai berikut…

➤ Memberikan air sedikit-sedikit secara berkala

Yup, inti dari perawatan kasus seperti muntaber seperti Ganesh adalah kesabaran. Anaknya memang memiliki hasrat untuk minum yang sangat tinggi, tapi kita tidak boleh serta merta menurutinya, karena justru akan menimbulkan mual dan muntah.

Karena itu, sebagaimana saran Tante Euis, saya memberikan cairan kepada Ganesh hanya 1 sendok makan saja setiap kurang lebih 5 menit.

Anaknya masih kecil kala itu, jadi pada saat terbangun langsung saya gendong dan ditelatenin diberi air putih setiap 5 menit sebanyak 1 sendok makan.

Benar-benar harus sesabar itu dan buang jauh-jauh yang namanya ambisi supaya anak minum banyak agar cepat sembuh. No… no… Fokus kita sekarang adalah berusaha memasukkan dan mempertahankan sebanyak mungkin cairan dalam tubuh anak, sembari dia recovery dan semakin kuat untuk menerima lebih banyak air.

Dokter sempat bilang, kalau cairan adalah hal yang sangat utama bagi manusia daripada makanan. Anak-anak bisa tahan tidak makan seharian (atau lebih), tapi dua jam saja kekurangan cairan akan langsung mengalami demam.

Jadi, kalo soal makan sih memang kami tidak terlalu merasa urgent untuk pemuliah pertama ini… Kalau anaknya pengen makan pun, ya kami berikan yang ringan-ringan saja macam biskuit marie. Baru beberapa saat setelah kondisi membaik, kami cobakan makan nasi sesendok atau dua sendok saja.

Oh ya, by the way… untuk kasus Mahesh, karena anaknya minta makan buah terus, setelah browsing artikel dari theasianparent.com, kami mencoba memberikan apel dan pisang yang alhamdulillah buah ini cukup ramah untuk perutnya dan tidak dimuntahkannya. Tapi, tetap ya, dengan jumlah kecil terlebih dahulu.

➤ Meminumkan obat pengurang mual dan obat yang diresepkan

Waktu itu, dokter meresepkan obat pengurang mual untuk Ganesh yang harus diminum beberapa kali sehari sebelum minum atau makan. Tujuannya, ya tentu saja supaya cairan atau makanan yang kita berikan tidak dimuntahkan lagi. Dan, ini cukup membantu kok… meski tetap ya, minum atau makannya harus dalam jumlah kecil tapi sering.


Satu lagi, Lacto-b… ini saya lupa sih memang diresepkan atau beli sendiri atas saran seorang teman. Yang saya baca sih Lacto-b ini adalah probiotik berbentuk bubuk yang berfungsi utama untuk mempercepat penyembuhan diare pada anak-anak. Dan untuk kasus Ganesh maupun Mahesh, memang serbuk dalam kemasan sachet kecil ini cukup membantu menguragi diare mereka.

Dulu, pertama kali yakin memberikan Lacto-b karena testimoni teman yang bilang kalau pas muntaber anak jangan dikasih susu dulu, tapi ganti dengan Lacto-b saja. Jadi semacam pengganti susu gitu…

Laku, pas baca komposisinya yang ada vitamin C, B1, B2, Protein, Lemak, dan kawan-kawan… kok merasa kalau dia layak dicoba untuk menggantikan asupan nutrisi-nutrisi tersebut, sementara anaknya tidak bisa makan seperti biasa.

Bukan iklan atau endorse ya… murni testimoni pribadi, hahaha…

➤ Memaksimalkan istirahat anak supaya tubuh lebih cepat pulih

Yes, and last but not least… langkah terakhir adalah berupaya memaksimalkan istirahat anak untuk memberi kesempatan tubuh memulihkan diri.

Dalam pengalaman saya, terkadang itu berarti harus menggendong anak selama tidur atau menemaninya sepanjang tidur supaya tidak gelisah dan mudah terbangun.

Ya memang lumayan repot sih… untuk kasus Mahesh, praktis saya seharian ga bisa ngapa-ngapain karena harus nemenin dia even pada saat tidur. Lima belas menit saja ditinggal, pasti anaknya sudah manggil lagi dan baru akan tidur kembali saat saya di sampingnya.

Capek memang… Tapi, make sense to do banget lah… karena dengan kita berada di sampingnya otomatis istirahatnya akan lebih berkualitas dan mempercepat penyembuhannya kan. Apalagi mengingat, nanti anaknya makin dewasa juga momen kaya gitu akan hilang dengan sendirinya. So, sisi melankolisnya adalah, ya kapan lagi kan kita nemenin anak kaya gitu kalau enggak sekarang pas dia masih kecil.

Progress Penyembuhan

Dalam kasus Ganesh maupun Mahesh, kemudian penyembuhan pun berjalan perlahan-lahan… Anak mulai berkurang intensitas diarenya, kemudian hari berikutnya mulai bisa makan yang lembek-lembek tanpa muntah, lalu makan nasi sedikit asal dikunyah lembut, dan akhirnya pulih seperti sedia kala.

Berapa lama… yah, kurang lebih semingguan lah proses recovery-nya…

Yah pasti ya sabar aja ya dan singsingkan lengan untuk memontokkan anak lagi setelahnya, karena sudah pasti badan anak-anak jadi lumayan tipis. Jangan sedih mengingat jerih payah membuat anak tampak berisi yang perlu waktu berbulan-bulan dan susutnya cukup waktu seminggu saja. Puk-puk… I feel you… Nanti setelah sembuh juga makannya beringas lagi kok…

Disclaimer

Dan kurang lebih seperti itu sih cerita kami menghadapi muntaber pada anak hingga dehidrasi sedang di rumah saja.

Dan sebelum mengakhiri cerita ini, saya ingin menegaskan bahwa maksud dari tulisan ini adalah semata untuk sharing pengalaman kami terkait penanganan anak muntaber… bukan untuk menggantikan peran dokter ya…

Lah, kami juga ke dokter kok sebelum akhirnya pulang karena kamar di RS penuh dan merawat Ganesh di rumah saja…

Siapa tahu, pun ada teman-teman yang mengalami kejadian dan kesempitan (tidak bisa dirawat di RS) yang sama, sehingga tulisan ini bisa membantu. Tapi, tentu saja kita pun harus benar-benar melakukan observasi pada kondisi anak selama perawatan…

Apakah intensitas diare dan muntahnya berkurang? Apakah asupan cairannya aman? Dan apakah gejala dehidrasinya semakin membaik?

Jika jawabannya 'tidak', tentu saja teman-teman harus kudu lari bawa anaknya ke dokter atau RS terdekat untuk ditangani dengan lebih intensif.

Kira-kira begitu ya teman-teman… semoga bermanfaat…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

1 comment :

  1. wah ternyata begitu ya bund, memang perlu selektif dalam memilih susu untuk anak, kalo patokan aku sih dari ⁣⁣penjualan susu formula di marketplace bund

    ReplyDelete

Hai! Terima-kasih sudah membaca..
Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan disini atau silakan DM IG @nianastiningrum for fastest response ya ;)