SOCIAL MEDIA

search

Showing posts with label Dunia Kerja. Show all posts
Showing posts with label Dunia Kerja. Show all posts

Monday, November 15, 2021

IBU BERHENTI BEKERJA DARI BUMN [PERNAH MERASA MENYESAL?]

Video version is here:

Jadi, semenjak resign dari PLN di bulan Agustus 2019 lalu, beberapa teman yang sedang menimbang untuk mengambil keputusan yang sama pun banyak bertanya pada saya seputar hal ini. Salah satunya yang paling banyak ditanyakan adalah, "Pernah ga merasa menyesal setelah resign?"

Hmm, pernah ga ya? Baiklah, so, saya akan mendedikasikan tulisan untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi, sebelum membahas lebih lanjut, kita samakan persepsi tentang definisi 'menyesal' ya...

Secara psikologis 'menyesal' atau 'regret' dapat diartikan sebagai kondisi kognitif dan emosional yang negatif yang meliputi perasaan menyalahkan diri sendiri akan hasil yang tidak baik (sesuai harapan), perasaan kehilangan atau sedih atas sesuatu yang terjadi, atau berharap kita bisa mengulang waktu dan mengganti pilihan yang pernah kita ambil (dari PsychologyToday).
Artinya pada saat merasa 'menyesal' ada perasaan menyalahkan keputusan yang pernah diambil. Kita membandingkan kondisi sebelum dan sesudah resign, kemudian merasa bahwa kondisi sebelum resign lebih baik, sehingga kita ingin kembali ke posisi tersebut.

Jadi, apakah saya pernah merasa menyesal setelah resign?

OK, dalam setiap mengambil keputusan, sesungguhnya pasti ada sebuah ekspektasi. Baik suatu kondisi yang ingin dicapai, maupun sebuah kondisi yang ingin dihindari atau diperbaiki; dengan mempertimbangkan risiko atau kondisi tidak nyaman yang menyertainya. Dimana dalam perjalanannya, bisa jadi ekspektasi tersebut terpenuhi ataupun sebaliknya.

KONDISI YANG INGIN DIPERBAIKI

Sebelum resign saya adalah seorang pekerja full time yang bekerja dari Senin hingga Jumat dari jam 7.30 hingga 16.00. Kondisi tersebut menuntut saya untuk banyak mendelegasikan peran saya menjaga anak-anak kepada pengasuh, serta mengesampingkan hal-hal terkait hobi dan aktualisasi diri untuk melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung-jawab saya.

Work-life balance benar-benar menjadi isu saat itu, terlebih saat saya mulai merasa tidak puas dengan pekerjaan yang saya lakukan. Typical saya yang perfeksionis dan idealis, yang begitu passionate, yang ingin menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai 'karya' tidak terpenuhi melalui pekerjaan saya. Hal ini membuat upaya menciptakan keseimbangan antara 'kerja' dan 'kehidupan pribadi' menjadi lebih sulit dicapai. Karena di samping perlu menyeimbangkannya dengan keluarga, saya masih harus struggle untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri yang tidak terpenuhi dari dunia kerja.

Singkat cerita, kemudian saya tiba di tahap dimana kondisi tersebut cukup mengganggu kesehatan mental saya. Seringkali merasa terburu-buru, merasa ada begitu banyak hal yang ingin saya kerjakan tapi tidak selesai atau harus selesai di bawah standard pribadi saya, merasa tidak bisa menjalankan peran saya dengan baik, tidak punya waktu untuk diri sendiri, dan sebagainya.

Well, mungkin ini untuk beberapa teman sulit dipahami ya... Tapi, percayalah bahwa ini bukan sesederhana tentang kurang bersyukur. Cukup pahami bahwa setiap individu memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda, sehingga ini pun termanifestasi pada perasaan, pandangan, harapan, dan juga apa yang membahagiakannya.

KENYAMANAN YANG MENJADI KONSEKUENSI

Menjadi pekerja pada titik itu menciptakan ketidaknyamanan, tapi tentu saja tidak memunafikkan kenyamanan yang menyertainya. Gaji bulanan yang relatif tinggi dan stabil beserta segala tunjangannya, status yang prestise dimata masyarakat, aktivitas yang menghidupkan hari hari-hari saya, dan circle pertemanan. Semua itu adalah zona nyaman yang akan berganti pada saat memutuskan untuk resign.

Perubahan ini adalah hal yang pasti terjadi, sehingga sudah diperhitungkan dan diantisipasi, meskipun sifatnya tentu adalah prediksi. Sebaik apapun persiapan, sesungguhnya semua adalah sebatas angan-angan yang kita bayangkan, kita tidak benar-benar menjalani masa depan di masa kini. So,  sebenarnya kita tidak benar-benar tahu apakah segala rencana dan persiapan kita itu sesuai dengan harapan atau sebaliknya.

MASA TRANSISI

Semakin mengkerucut pada pertanyaan, 'pernah ga merasa menyesal setelah resign', menurut pengalaman saya ada ada dua masa yang rawan bagi kita untuk merasa menyesal. Yang pertama adalah masa transisi, yaitu masa tepat setelah kita resign.

Bagi banyak orang termasuk saya, masa transisi adalah kondisi yang tidak nyaman. Bagi saya, masa transisi itu masih kental dengan kenangan akan kondisi yang ditinggalkan, sekaligus antisipasi akan risiko-risiko yang kita pikirkan. Jadi, rasanya itu tidak santai, lebih was-was, dan juga sensitif. Dalam intensitas yang ekstrim masa ini pun bisa menerbitkan rasa sesal, yang untungnya tidak terjadi pada saya.

Semua yang disebutkan di atas, itu saya rasakan. Bagai habis putus cinta, kenangan akan hari-hari yang dilewati bersama itu masih begitu nyata diingatan. Tapi, semua masih pada batas yang masih logis saya terima dari bagian dari proses adaptasi. Saya bisa bilang di masa rawan pertama ini saya tidak merasakan menyesal.

MASA DEPAN SIAPA YANG TAHU...

Kemudian, masa kedua adalah saat kita mulai terbiasa dan beradaptasi dengan kondisi setelah resign. Masa dimana kita melihat dan merasakan apakah ekspektasi kita terpenuhi atau tidak...

Sebelum resign saya bersama suami pun sudah mempersiapkan beberapa hal. Saat itu, kami membuka sebuah usaha akan menjadi aktivitas baru yang produktif bagi saya. Dimana semua berjalan baik-baik saja sejak saya resign di Bulan Agustus 2019, hingga akhirnya April 2020 semuanya berubah. Kondisi pandemi memaksa begitu banyak usaha untuk berhenti beroperasi, termasuk usaha kami yang mengandalkan pengunjung mall sebagai customer. Sehingga di bulan yang sama (April 2020) saat kontrak sewa habis, kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan dulu usaha ini.

Hal ini praktis itu merubah semua hal, zona nyaman baru yang saya rencanakan tidak berjalan sesuai rencana. Pandemi, adalah sebuah kondisi yang tidak terbayangkan akan terjadi bagi kami saat itu, dan siapa pun. So, yes, kondisi itu membuat saya kehilangan aktivitas sehari-hari, sumber penghasilan, dan juga lingkaran pergaulan saya. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi yang menciptakan tekanan lainnya, diantaranya Long Distance Marriage yang sangat panjang, tidak bisa kemana-mana, dan juga kesibukan baru bernama belajar online, membuat saya benar-benar merasa powerless.

Di sini saya ingin menyampaikan bahwa kemungkinan jika rencana dan langkah antisipasi yang kita siapkan itu tidak berjalan sesuai rencana bisa saja terjadi. Meski tidak menutup kemungkinan, jika hal sebaliknyalah yang terjadi. Misalnya bisnis yang kita siapkan berjalan lebih baik setelah kita resign.

Prediksi adalah prediksi, semua hal bisa terjadi, yang lebih buruk ataupun justru yang lebih baik...

LALU APAKAH MENYESAL?

Dalam kasus saya, pada satu titik bisa dibilang bahwa rencana berjalan di bawah ekspektasi. Dan saya pun merasakan struggle untuk beradaptasi dengan keadaan ini. Tapi, jujur, saya tidak pernah merasa menyesal dengan keputusan saya untuk resign.

Mungkin hal ini akan terjadi sebaliknya, jika saya adalah pencari nafkah utama dalam keluarga. Tapi, karena saya memiliki privilege itu, meskipun saat itu merasa tidak nyaman dengan keadaan, tapi rasa sesal itu tidak hadir.

Tidak ada keinginan sedikit pun dalam diri untuk menukar kondisi powerless yang saya rasakan dengan situasi powerful saat masih bekerja. Sekali lagi setiap individu itu unik ya, dan saya kebetulan adalah seorang yang sangat membutuhkan kebebasan, idealisme, dan kompetisi fair yang membuat seseorang merasa dapat meraih prestasi. 

Lagi pula saya melihat kondisi tidak sesuai ekspektasi ini sekedar sebagai tertutupnya satu pintu, sementara pintu yang lain masih banyak. Sementara rejeki dari berjualan bisa dibilang sedang sulit untuk semua orang, ya saya tetap berusaha melakukan hal yang saya bisa. Mengembangkan media yang saya punya (Instagram, YouTube, dan lainnya), melakukan hobi-hobi seperti menyanyi, menggambar, apa aja yang saya suka.

Kehidupan pasca resign saya pada satu titik memang terasa di bawah ekspektasi, tapi siapa disangka kemudian hobi-hobi ini pun bisa menghasilkan income, meski tentu tidak se-stabil saat bekerja full time. Ada kalanya lebih banyak, sering juga dibawahnya. Tapi, kebahagiaan dan ketenangan hati yang saya dapatkan karena keleluasaan membersamai anak-anak dan kesempatan mengembangkan diri itu selalu stabil di atas, dibandingkan pada saat bekerja.

Hidup adalah pilihan, saya memiliki privilege untuk mengambil pilihan resign dan saya tidak pernah menyesal mengambil keputusan itu. Bagi saya, kepurusan untuk resign adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya.

Jadi, jika ingin digeneralisasi, mungkin menyesal dan tidak menyesalnya seseorang setelah resign itu tergantung pada:

PERTIMBANGAN. Pastikan jika itu bukanlah keputusan emosional semata, bukan sekedar pelarian untuk menghindari hal yang tidak kita inginkan, tapi lebih ke usaha untuk mencapai situasi yang kita inginkan. Sehingga kita tetap bisa menghargai mensyukuri situasi setelah resign. Dan jika ternyata sebagian rencana tidak berjalan sesuai ekspektasi, kita tidak merasa kehilangan tempat berpijak.

LEGOWO DAN RESILIANCE. Selain itu, yang perlu disadari dan disikapi legowo adalah bahwa kehidupan setelah resign itu secara finansial sudah pasti tidak se-stabil saat bekerja. Kamu bisa mendapatkan lebih, tapi juga bisa dibawahnya, jadi jangan baperan, keep on going pokoknya.

***

Kira-kira begitu penjelasan saya menjawab pertanyaan, "Pernah ga merasa menyesal setelah resign?" yang jawabannya adalah 'tidak'.

Struggle-nya saya ya di bagian merasa powerless itu, dan ini mungkin sangat berbeda bagai orang lain. So, jika teman-teman pun memiliki keinginan untuk resign, sekali lagi pertimbangkan segala sisi positif dan negatif dari bekerja full time dan resign.

Resign akan membuat teman-teman kehilangan sesuatu, so pastikan kan is it OK? Resign juga akan membawa kita untuk mendapatkan sesuatu, so pastikan juga jika teman-teman benar-benar menginginkan hal itu. Serta satu lagi, sadari bahwa selalu ada kemungkinan jika rencana yang telah disusun tidak berjalan sesuai harapan kita, is it also OK

Hidup adalah tentang pilihan, termasuk memilih risiko yang akan ikhlas kita jalani.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, April 21, 2021

Not Lost Myself In Domesticity

Jeanie marries when she's twenty one,
Has a baby one year on
And every year that's the way that life goes
Lost herself in domesticity,
A cleaning, feeding entity,
She can't recall what she was before

In an ideal world kids would keep their rooms tidy,
In an ideal world he would be home from his work on time
And in the morning I could lay in

(Lagu oleh Andrea Corr)

Gara-gara semingguan dipaksa berkutat dengan pekerjaan rumah-tangga pasca di-ghosting ART, lagu ini tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga. Ya gimana, tiap pagi mau bangun, yang di otak sekarang adalah mau masak buat sahur, cuci piring, nyapu, ngepel, jemur baju, nyetrika, dan printilannya. Hmm, I literally mengerti banget apa yang disampaikan lagu itu; sebuah kondisi dimana seorang perempuan tenggelam dalam pekerjaan domestik hingga lupa akan kehidupannya sendiri.


Seram ya? Tapi, iya lho, hal ini bisa banget terjadi saat pekerjaan begitu menumpuk sampai-sampai kita tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Begitu terbangun di pagi hari, yang ada di kepala kita adalah bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggu, hingga malam tiba, kita kelelahan dan beristirahat. Begitu terus... Alih-alih memikirkan mimpi, pekerjaan yang tidak henti muncul bisa selesai saja bagaikan suatu keajaiban.

Hmm, jujur, pada awalnya saya pun berpikir jika akan berada pada posisi seperti itu. Sekitar satu tahun yang lalu pun saya mengalaminya, dan waktu itu pekerjaan domestik ya hidup saya. Nyaris tak ada waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang saya sukai dan memuaskan batin.

But sureprise! Saya terkaget-kaget sendiri ternyata kok sekarang berbeda ya... Sudah seminggu terdampar di timbunan pekerjaan rumah tangga bersama home learning dua anak yang masih sekolah online, tapi saya survive. Bahkan masih sempat melakukan pekerjaan yang memuaskan batin, seperti menyanyi (live streaming), menulis, dan membuat konten. 

Ini benar-benar di luar prediksi saya! Dan sontak membuat saya berpikir, apa yang beda dengan tahun lalu? Kenapa tahun ini saya seperti masih punya cukup energi untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah-tangga itu, on-the-way menyelesaikan home learning, menyanyi, menulis dan bikin konten?

Dan setelah saya pikir-pikir, berikut beberapa hal yang ternyata membuat perbedaan itu:

1. Start dari Nol

Jadi, waktu itu kan rumah sempat ditinggal sekitar dua mingguan karena kami ke Jogja saat Ibuk sakit dan kemudian berpulang. Otomatis, PR sepulang dari sana itu lumayan banyak; ya segunung setrikaan, lantai yang aduhai untuk ukuran saya yang OCD bikin bad mood, barang-barang berantakan ga pada tempatnya, dan sebagainya.

Nah, ini nih kalo menurut hemat saya harus dibabat tuntas dulu, jadi kita benar-benar bisa start dari nol dan tidak selamanya menanggung pekerjaan kemarin atau kemarin lusa. And yes, ini part paling berat sebenarnya. Pada saat ini, saya hanya fokus untuk menyelesaikan PR itu dulu, my daily life still paused. Ga nyanyi dulu, ga nulis dulu, ga bikin konten dulu...

Berat? Iya! Makanya buruan diselesein, jadi hidup (harapannya) bisa normal lagi. Iya masih harapan, karena masih meraba-raba apa yang akan terjadi setelah ini.

2. Bangun (Sangat) Pagi

Yup, saya pikir bulan puasa akan menambah keruwetan dalam menyelesaikan semua pekerjaan rumah-tangga ini, tapi ternyata justru sebaliknya!

Bangun jam 3 pagi setiap hari untuk menyiapkan sahur untuk anak (dan suami jika dia sedang di rumah), setelahnya saya memilih untuk tidak tidur kembali, tapi menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum anak-anak harus bangun dan memulai aktivitas home learning. Pada waktu ini, saya ternyata bisa menyelesaikan banyak hal; seperti mencuci piring, menyapu, mengepel dan membuat sarapan untuk Mahesh yang belum berpuasa.

Alhasil, aktivitas setelah anak-anak bangun pun lancar jaya! Mood saya pun maintain nicely merasa tidak memiliki tanggungan yang bikin stress. Juga tidak merasa diburu-buru karena ada yang kelaperan, sementara saya pun gemas liat tumpukan cucian piring dan lantai yang tidak kesat.

3. Tidak Begadang

Ini penyakit menahun saya! Ada saatnya merasa kalo saya ini 'Night Owl' yang justru pikiran kreatif itu bersliweran di malam hari, begadang itu menjadi hobi dan kebutuhan. Siang harinya, hajar dengan kopi, selesai perkara! beberapa bulan kemudian masuk angin parah, pinggang sakit, ga bisa berdiri lama-lama, cuci piring aja harus duduk. Yup, begadang dan kurang tidur itu beneran merusak badan.

Itu kasus ekstrimnya, secara normal kebiasaan begadang itu membuat kita bangun dalam kondisi yang lelah. Lelah itu berdampak pada kurang efisien dan memburuknya mood seharian, jadi benar-benar tidak efisien. Ngerjain pekerjaan rumah lambat, banyakan nge-hang terus buka socmed. Ngajarin anak juga gampang marah. Udah gitu mau mikir untuk nulis atau bikin konten juga susah. Bete kan?

4. Jangan Tunggu Sampai Numpuk

Karena kalo numpuk itu bawaannya males mau ngerjain, yang namanya cuci baju dan setrika itu sehari sekali aja. Jadi setrika itu cuma 10 menitan aja sehari, ga sampai harus bergunung-gunung. Kenapa yang di-mention setrika? Karena ini permasalahan emak-emak sejagad kan, sampai saat ini belum bisa di-automatisasi.

Cuci piring juga gitu, sehari dua kali deh biar ga eneg liatnya.

Buat saya yang rada obsessive-compulsive tadi beneran efektif banget. Karena kecenderungannya itu kalo liat pekerjaan numpuk, bawaannya males dan menunda-nunda ngerjainnya.

5. Multitasking

Ada banyak kok kerjaan yang bisa dikerjain bersamaan. Misalnya masak. Pertama kupas wortel dulu, masukin ke panci. Nah, sambil nunggu si wortel masak, kita bisa motong-motong sayuran lainnya, siapin bumbu, dll.

Contoh lain misalnya home learning sambil nulis atau bikin konten. Ya udah, gelar aja dua meja jejeran anak. Anak ngerjain tugasnya, kita di sampingnya ngerjain tulisan atau konten sambil kadang ngomelin atau ngajarin. Bahkan kalo mendesak sekali bisa kok ngajarin home learning sambil masak. Tinggal angkut buku anak ke meja makan di dapur. Bisaa...

Bagaimana juga waktu kita itu cuma 24 jam sehari, 16 jam efektif, karena 8 jamnya jangan ditawar lagi, itu untuk istirahat.

6. Bergerak Lebih Cepat

Jalan yang cepet, ngepel yang cepet, cuci piring yang cepet... semua harus dipercepat supaya bisa selesai dengan cepat, sekaligus memaintain ritme kerja kita tetap dinamis dan agresif.

Untuk menjaga ritme kerja ini, saya perlu musik! Entah radio atau musik yang membuat saya stay pada pekerjaan itu dengan semangat. Itu kenapa, literally speaker itu ada dimana-mana di rumah.

7. Ajarkan Anak untuk Mandiri

Tahun ini anak sudah bertambah satu tahun usianya. Kalau dulu si Mahesh (sekarang 6 tahun) masih diambilin kalau makan, tahun ini dia bisa ambil sendiri. Juga soal sanitasi, mandi dan cebok sudah bisa sendiri. 


Kakaknya (hampir 10 tahun) pun begitu. Perkara belajar online sudah bisa jalan sendiri dengan jadwal yang kita tempel. Setiap pagi sudah pasang alarm untuk bangun, kemudian mandi, dan video meeting.

Ini benar-benar saving time and energy! Sekaligus mengajarkan anak untuk lebih mandiri.

8. Tools untuk Mempercepat/Meringankan Pekerjaan

Ini memang mungkin relatif pricey ya... Tapi, kalau menurut saya mesin cuci bukaan depan, mesin pel, dan bahkan meja setrika kecil yang bisa diangkut kemana-mana itu investasi untuk waktu dan kesehatan mental kita.

Sambil cuci baju, kita bisa masak, nyapu ngepel dll. Tinggal mikirin jemurnya aja, saving so much time!

Ngepel pake mesin meski belum yang otomatis jalan sendiri juga jauh lebih cepet dan ga capek. Saving so much energy!

Meja setrika kecil bisa diangkut sambil nemenin anak nonton. Anak seneng, kita juga seneng ga bosen plus merasa bisa membersamai anak. Contribute in maintain our mental health for sure!

Menurut saya beli alat semacam itu bukan pemborosan, tapi investasi. So, if you can afford it, go for it! Tapi kalo belum ada dananya ya nabung dulu. Bagaimana juga hidup itu juga tentang prioritas, termasuk prioritas mana yang harus dibeli dan mana yang bisa nunggu.

***

Udah, itu aja sih saya pikir berbeda dengan tahun kemarin dari sisi cara kerja tahun lalu dan tahun ini. Tentu tidak bisa diterapkan pada semua kondisi ya, tapi semoga bisa memberikan sedikit referensi pada teman-teman semua agar tidak tenggelam dalam pekerjaan domestik.

Yuk... yuk... tetap cari cara supaya bisa mengembangkan diri untuk kesehatan mental kita. Hmm, diposting pas Hari Kartini, beneran pas banget deh...

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, August 31, 2020

Menyalakan Listrik dan Masyarakat dengan Tenaga Air

Batubara dan minyak bumi memang masih menjadi sumber energi utama yang digunakan masyarakat hingga saat ini. Namun, kenyataan bahwa terbentuknya batubara dan minyak bumi yang dikenal sebagai bahan bakar fosil itu membutuhkan waktu hingga jutaan tahun; menisbahkannya sebagai energi tidak terbarukan. Hal ini lah yang menjadi motivasi terbesar bagi para ahli untuk terus mencari dan mengoptimalkan sumber energi lainnya, sebagai pengganti kedua energi utama ini.

Misi untuk mencari dan mengoptimalkan energi terbarukan sebagai alternatif bahan bakar fosil semakin gencar dilakukan dari waktu ke waktu. Berkejaran dengan jumlah cadangan batubara dan minyak bumi yang juga semakin menipis. Seperti halnya yang disampaikan berbagai pemberitaan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan akan habis pada tahun 2030 jika tidak ditemukan sumber minyak baru, senada dengan pernyataan Pertamina Unit Manager Communication & CSR MOR I, Roby Hervindo yang dikutip oleh Tempo.co (6 Maret 2019).

Adapun salah satu energi terbarukan yang banyak dimanfaatkan di Indonesia sejak dulu hingga saat ini adalah tenaga air. Debit air yang tinggi dapat menggerakkan turbin dan selanjutnya energi gerak yang ada diubah menjadi energi listrik. Tercatat sebanyak 18 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) beroperasi di Indonesia untuk menyumbang pasokan listrik kepada masyarakat. 

Pada pengoperasian PLTA; semakin besar debit air berarti semakin besar juga tenaga untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik. Karena itulah, sedimentasi atau pengendapan yang mendangkalkan sungai maupun dam, sehingga debit air menurun menjadi permasalahan yang terus dicari solusinya demi daya listrik yang mumpuni.

Salah satu PLTA yang memasok energi listrik untuk masyarakat di Propinsi Lampung adalah PLTA Way Besai, yang sebagaimana PLTA lain, juga menghadapi permasalahan sedimentasi. Erosi dan sedimentasi yang terjadi di sepanjang Sungai Way Besai beserta anak-anak sungainya, menimbulkan pendangkalan pada dam. Dimana hal ini tentu menurunkan debit air yang dihasilkan dari aliran air dari dam ke turbin untuk menghasilkan listrik.

PLTA Way Besai
(Foto Dokumentasi pribadi)

Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Besai secara alami pada awalnya adalah hutan yang begitu kaya dengan batang-batang kokoh dan akar-akar yang kuat untuk menahan air dan tanah, sehingga meminimalkan erosi. Namun, desakan ekonomi mendorong masyarakat untuk mengubah hutan-hutan ini menjadi lahan pertanian kopi. Hal ini lah yang ditengarai menjadi salah satu penyebab makin mengemukanya permasalahan sedimentasi pada aliran sungai yang berimbas pada kehandalan dan produksi kWh PLTA Way Besai.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, PLN UPDK Bandar Lampung sebagai unit induk yang mengelola PLTA Way Besai pun secara pro aktif melakukan berbagai upaya pengurangan erosi di sepanjang DAS Way Besai. Dimana kegiatan intinya tentu melibatkan kegiatan reboisasi atau penanaman kembali daerah resapan air di sepanjang aliran Sungai Way Besai. 

 Sungai Way Besai yang dimanfaatkan sebagai PLTA, secara alami berada di kawasan hutan.
(Foto dokumentasi pribadi)

Akan tetapi, ternyata program penanaman pohon saja tanpa dikemas sama sekali tidak cukup efektif. Karena kunci penting dari kegiatan ini selanjutnya adalah pada proses pemeliharaan. Bagaimana pohon-pohon tersebut dijaga kelestariannya untuk menahan tanah dari erosi. Dimana kegiatan ini tentu tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pihak PLN UPDK Bandar Lampung, mengingat Sungai Way Besai terdiri dari banyak anak sungai yang menyebar dan mencakup area yang luas. 

Masyarakat dalam hal ini memegang peranan penting, akan tetapi sekedar ajakan untuk melakukan pelestarian daerah aliran sungai saja tidak cukup. Dibutuhkan pengemasan program reboisasi daerah aliran sungai yang lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat untuk membuatnya bersemangat dan termotivasi untuk melakukan pelestarian. Perlu diciptakan benang merah yang konkret antara kebutuhan masyarakat dan pelestarian daerah aliran sungai, supaya kondisi ini tercipta.

Kemudian, gayung bersambut, saat itu The International Council for Research in Agroforestry Centre (ICRAF) sedang melakukan penelitian di Sumberjaya, salah satu walayah yang dilalui aliran Sungai Way Besai. Saat itulah ICRAF kemudian mengenalkan sistem imbal jasa lingkungan sebagai alternatif solusi akan permasalahan pelestarian DAS Way Besai. 

Program imbal jasa ini dikenal dengan nama Rewarding Upland Poor for Environmental Services (RUPES). RUPES adalah sebuah program dengan tujuan pemberdayaan masyarakat dengan cara melibatkan mereka untuk memberikan jasa pelestarian lingkungan. Dimana kemudian ICRAF melihat PLN UPDK Bandar Lampung sebagai pihak yang mendapatkan keuntungan dari jasa yang diberikan masyarakat. Dan selanjutnya; PLN UPDK Bandar Lampung bersama ICRAF dan perangkat pemerintah daerah pun mulai menyusun program imbal jasa lingkungan untuk melestarikan DAS Way Besai.

Area dam PLTA Way Besai

Program Imbal Jasa Lingkungan ini secara sederhana meliputi kegiatan utama pemeliharaan DAS Way Besai oleh masyarakat dan pemberian imbal jasa lingkungan oleh PLN UPDK Bandar Lampung sebagai penerima manfaat.

Program yang kemudian dikenal sebagai River Care atau PEDAS Besai (Peduli Daerah Aliran Sungai Besai) ini melibatkan beberapa elemen dalam pelaksanaannya, sebagai berikut:

  • Masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani sebagai penyedia jasa lingkungan berupa pemeliharaan DAS Way Besai;
  • PLN sebagai pemanfaat jasa lingkungan dengan peran sebagai penentu imbal jasa, penyandang dana operasioanl kegiatan, memberikan kompensasi atas jasa lingkungan dan melakukan evaluasi;
  • ICRAF sebagai fasilitator; dan
  • Pemerintah Desa sebagai pembina.
Prosedur PEDAS Besai sendiri diawali dengan perencanaan yang utamanya melibatkan masyarakat sebagai penyedia jawa lingkungan dan PLN UPDK Bandar Lampung sebagai pemanfaat jasa lingkungan. Dimana dalam tahap perencanaan ini disusun kegiatan yang akan dilakukan, pendanaan, tata cara evaluasi, dan juga imbal jasa yang akan diberikan.

Masyarakat dalam hal ini selain berperan dalam kegiatan konservasi; yang meliputi penanaman dan perawatan tanaman pada DAS Way Besai; pembuatan bangunan sipil teknis untuk mengendalikan sedimentasi seperti cek dam, bronjong, lubang angin (rorak); juga berperan melakukan pemantauan air secara mandiri sebagai dasar evaluasi. Dalam hal ini, masyarakat pun diberikan pelatihan untuk mengambil sampel air serta mengukur tingkat sedimentasinya. Dimana selanjutnya hasil pengukuran tingkat sedimentasi ini lah yang menjadi dasar pemberian imbal jasa.

Reward atau imbal jasa yang diberikan pada masyarakat atas pencapaiannya menurunkan sedimentasi adalah salah satu poin penting yang menentukan keberhasilan program ini. Imbal jasa tidak hanya harus memiliki nilai instrinsik yang cukup memotivasi, tapi sebisa mungkin juga mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan yang pro lingkungan. Misalnya adalah pembangkit listrik Piko Hidro untuk masyarakat di daerah pelosok hutan yang belum dijangkau oleh aliran listrik.

Pembangkit listrik Piko Hidro adalah pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas rendah yang dapat dioperasikan dan dipelihara secara mandiri oleh masyarakat. Karena kapasitasnya yang rendah, pembangkit listrik ini dapat dioperasikan pada sungai-sungai dengan debit air yang tidak terlalu tinggi. Sama halnya dengan PLTA besar, aliran air akan digunakan untuk memutar turbin yang selanjutnya energi gerak tersebut akan diubah menjadi energi listrik dan dialirkan ke masyarakat.

Kebutuhan akan debit air yang cukup tinggi untuk menggerakkan pembangkit listrik Piko Hidro ini akan mendorong masyarakat untuk melakukan pemeliharaan pada DAS yang menyuplai arus air. Hal ini selain bermanfaat langsung bagi masyarakat, juga menyumbang penurunan sedimentasi pada dam PLTA Way Besai. Sehingga dalam hal ini, baik masyarakat maupun PLN UPDK Bandar Lampung sama-sama diuntungkan.

Imbal jasa lain yang menimbulkan efek serupa adalah ternak yang mendukung pelestarian lingkungan di daerah aliran sungai.

Salah satu kegiatan konservasi lahan untuk pelestarian DAS Way Besai yang dilakukan adalah melakukan penanaman rerumputan untuk menahan tanah. Rumput yang memiliki sifat semakin berkembang jika dipangkas ini adalah bahan makanan bagi ternak yang dipelihara masyarakat. Sehingga, semakin banyak rumput dipangkas untuk makanan ternak, maka akan semakin subur dia tumbuh. Masyarakat diuntungkan akan pakan ternak gratis, PLN UPDK Bandar Lampung pun diuntungkan karena kegiatan konservasi lahan berjalan dan menyumbang pada penurunan erosi.

Adapun hasil pemantauan air yang dilakukan selama program menunjukkan bahwa sedimentasi yang terjadi disepanjang aliran Sungai Way Besai mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dimana berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa kegiatan reboisasi dan konservasi lingkungan lainnya yang dilakukan berjalan dengan efektif melalui program ini. PLN UPDK Bandar Lampung dapat menghasilkan kWh yang lebih handal, sementara masyarakat pun lebih berdaya dan meningkat taraf kehidupan sosial ekonominya. Benar-benar simbiosis mutualisme yang indah bukan?

Tidak mengherankan jika kemudian program ini menerima berbagai penghargaan berskala nasional; seperti Silver Awards Indonesian Sustainable Development Goal Awards (ISDA) 2018 dan Grand Platinum Awards Indonesian CSR Awards (ICA) 2017.

Keberhasilan pelaksanaan program PEDAS Besai pada salah satu anak Sungai Way Besai ini kemudian menjadi inspirasi bagi PLN UPDK Bandar Lampung untuk melakukan program serupa pada anak sungai lainnya. Semangat ini lah yang kemudian melahirkan PEDAS Besai selanjutnya yang direncanakan hingga PEDAS Besai IV. Keberhasilan ini juga yang kemudian memberi inspirasi pada PLTA lain yang memiliki kondisi alam dan sosial cukup mirip dengan PLTA Way Besai untuk mengadopsi sistem imbal jasa serupa.

Lingkungan yang lestari akan mendukung pembangkit listrik, listrik akan mendukung kesejahteraan masyarakat dan karena itu masyarakat harus berupaya melestarikan lingkungan.
(Foto dokumentasi pribadi)

Ya, perjuangan untuk melakukan konservasi DAS Way Besai demi kehandalan listrik dan pemberdayaan masyarakat tentu belum usai. Sungai Way Besai sendiri memiliki sepuluh anak sungai yang perlu diberi perhatian. Untuk itu lah, semangat dan kepedulian akan sesama yang besar sangat dibutukan untuk melanjutkan perjuangan. Agar aliran sungai dapat menyalakan listrik dan juga memberdayakan masyarakat.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:

Friday, August 16, 2019

Kenapa Memutuskan Resign?

Alhamdulillah… setelah beberapa hari bangun dengan rasa kosong di satu sudut hati saya layaknya putus cinta… Semacam masih cinta, tapi harus berpisah karena sadar jika bersama bukanlah yang baik untuk kedua belah pihak… Akhirnya, hari ini setelah kurang lebih seminggu, semua terasa baik-baik saja dan bahkan saya berani membuka email korporat saya untuk mengecek apakah masih ada sisa-sisa email pribadi yang perlu saya ketahui. Yang mana pastinya hal seperti ini akan mengingatkan kembali pada kenangan yang sedang ingin dikesampingkan…


Yah, seperti itulah rasanya berpisah dari sebuah perusahaan besar yang memberikan keamanan finansial, kebanggaan dan juga teman-teman yang menyenangkan.

Apalagi coba yang kurang?

Itu juga kenapa banyak orang di sekitar saya seringkali berkata, "Apa ga sayang?" Huhu, yang kalau mau dijawab pakai hati ya memang sayang sih… walau dengan segala persiapan yang sudah kami lakukan.

Tapi, ya itu tadi, karena kondisinya memang sudah tidak sehat bagi kami berdua untuk melanjutkan hubungan ini… Perpisahan menjadi pilihan terbaik bagi kami berdua…

Nah, bahasanya jadi macam pacaran beneran kan… Hahaha… 😅

Oke, kembali ke judul tulisan ini… Jadi, berhubung hati saya sudah siap, saya ingin bercerita hal-hal yang melatari keputusan saya untuk resign… Mari kita buat post saja karena ceritanya lumayan panjang, sekedar berbagi cerita, siapa tahu ada teman-teman yang memiliki wacana sama.

First of All

First of alllet me tell you kalau wacana untuk resign itu sudah muncul pertama kali delapan tahun yang  lalu saat harus meninggalkan Ganesh kecil yang berumur tiga bulan untuk bekerja, itulah kali pertama kegalauan dengan peran ibu bekerja itu terjadi. Hari itu, masih terekam jelas pada ingatan, bagaimana kalutnya saya meninggalkan Ganesh ke kantor sementara dia menangis tidak mau berpisah dengan saya… Ya, waktu itu anak yang kini telah berusia delapan tahun itu sempat tidak mau minum ASIP melalui dot atau media lainnya.

Yah, tapi, kala itu saya sadar bahwa keinginan resign ini lebih banyak didominasi emosi dari pada logika. Karena ga tega liat anak nangis, ga tega pas pamitan ninggalin dia kerja, dan sebagainya. Yang sebagaimana yang dialami ibu bekerja lainnya, masalah seperti itu datang dan pergi… Yang anak sakit, kemudian sembuh; yang belum dapat pengasuh, kemudian dapat; yang anak ga mau sekolah, kemudian mau; dan seterusnya…

Sehingga, saya pun masih bertahan di tempat kerja saya, dengan keyakinan bahwa kami akan bisa bertahan, badai pasti berlalu, dan sebagainya.


Dan ya memang benar sih, kami bisa bertahan sekian lama dengan masalah yang datang dan pergi tadi. Tapi sampai kapan?

Pendapat saya kala itu ya sampai anak-anak dewasa… Pikir saya, repotnya jadi ibu bekerja itu pas anak-anak masih kecil saja, begitu mereka beranjak besar, sekolah, dan banyak kegiatan, peran kita akan semakin berkurang… Yang ternyata salah…
Semakin besar, anak-anak semakin membutuhkan perhatian kita dengan cara yang berbeda. 
Semakin besar, mereka memang lebih mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, tapi mereka butuh tempat curhat, butuh didengarkan, butuh dipahami, dan sebagainya. Yang semua ini membutuhkan kondisi psikis yang prima… kadang, kalau kita sudah capek, antusiasme kita bercerita dan mendengarkan anak pun berkurang, dan bisa terakumulasi menjadi stress-nya mereka.

Jadi, meskipun anak-anak bertambah dewasa, ya masalah itu tetap saja datang dan pergi, bahkan lebih rumit… Itu lah satu hal yang kemudian membuat keinginan untuk resign itu semakin kuat pada tahun 2016…

Namun, ini bukanlah satu-satunya alasan saya akhirnya resign pada bulan Agustus 2019. Waktu itu, pergesekan peran antara orang-tua dan pekerja sebenarnya sedang dalam fase adem ayem. Anak-anak sedang dalam kondisi sehat jasmani rohani, setelah sebelumnya memang tampak menunjukkan gejala membutuhkan perhatian lebih.

Jadi, saya tidak mengklaim bahwa ini alasan keluarga dan anak-anak adalah satu-satunya alasan di balik keputusan resign saya ya… Cerita saya tidak seheroik itu, saya bukan orang yang berpendapat bahwa seorang ibu itu lebih baik di rumah saja mengurus anak. Jadi, maaf jika saya mengecewakan teman-teman yang menganggap keputusan resign saya ambil semata untuk keluarga dan anak-anak.

Ini hanyalah satu hal yang kemudian berkomplikasi dengan hal-hal lainnya…

Me Not Enjoying My Office Life That Much Anymore…

Huhu, maafkan saya yang manusia biasa ini… Ada saja tidak puasnya ya…

But wait, insyaallah keputusan resign ini bukan sekedar dalam rangka menuruti rasa tidak puas itu… tapi juga kesadaran bahwa memaksakan diri untuk bertahan pun justru hal yang tidak baik untuk kami berdua (saya dan perusahaan tempat saya bekerja).

Membicarakan minat, saya memang memiliki ketertarikan yang cukup besar dalam hal menganalisa perilaku manusia. Cukup sesuai dengan penempatan kerja di bagian SDM yang banyak berhubungan dengan pengembangan dan perencanaan SDM, meskipun saya dulu sebenarnya tidak terlalu berminat mengambil mata kuliah Psikologi Organisasi dan sebangsanya.

Yah, kalau dulu kan fokusnya memang berobat jalan, jadi yang banyak diambil ya tentang Psikologi Klinis dan Perkembangan, haha… ✌

Dan setelah terjun ke dunia kerja, ternyata pengelolaan SDM itu mengasyikkan juga lho… Memikirkan strategi bagaimana mengembangkan kompetensi pegawai, bagaimana agar kapasitas mereka ter-capture dengan baik untuk keperluan suksesi jabatan, dan juga mengelola motivasi mereka melalui sistem manajemen kinerja… itu benar-benar menyenangkan. Apalagi dengan budaya kerja existing yang menangtang, semuanya menjadi lebih seru.
Namun, wajar juga bukan, jika suatu hal yang menyenangkan dan dilakukan terus menerus tanpa perubahan berarti ternyata menurunkan excitement-nya. Apalagi saat menemukan semakin banyak benturan antara apa yang ideal menurut kita dengan praktik yang harus dilakukan.
Yang awalnya saya merasa bersemangat mempelajari budaya dan orang-orang baru serta kultur organisasi… juga seni berkompromi untuk mengambil jalan tengah antara idealisme dan eksekusi yang diharapkan. Namun, semakin lama, sampai juga pada titik jenuh dan bosan…

Awalnya pun saya berusaha meredam rasa ini sekuat tenaga dan waktu itu tidak terlalu sulit karena saya memang butuh… Butuh gaji untuk kebutuhan hidup kami yang notabene pun generasi sandwich seperti kebanyakan orang… butuh prestise untuk membanggakan keluarga saya, butuh kegiatan produktif, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya…

But, guess what… pada akhirnya saya pun harus mengamini teori Maslow tentang Hirarki Kebutuhan yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia itu pada dasarnya dapat dikategorikan dalam lima tingkatan. Mulai dari level terendah adalah kebutuhan fisiologis, rasa aman, memiliki dan cinta, harga diri, dan kebutuhan teratas adalah aktualisasi diri. Dan saat satu tingkatan kebutuhan terpenuhi, maka kebutuhan itu tidak akan menjadi motivasi bagi seseorang.

Baca juga:  

Dulu, dengan motivasi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis hingga harga diri, pekerjaan yang saya lakukan ya cukup menyenangkan. Namun, setelah kebutuhan-kebutuhan itu terpenuhi, gejolak untuk aktualisasi diri pun menjadi-jadi.

Saya tidak bilang bahwa perusahaan tidak memfasilitasi pengembangan diri saya sebagai seorang pegawai. Namun, dengan minat saya dan juga peran sebagai ibu, saya merasa tidak mampu mengikuti jalur yang disiapkan perusahaan.

Untuk berkarir di bidang kepakaran atau keahlian, penempatan kerja saya ini bisa dibilang kurang pas… mungkin suasana kerja akan lebih menantang bagi saya jika ditempatkan di Unit Induk, Unit Assessment Centre atau Unit Pendidikan Pelatihan. Namun, opsi tersebut pun saya coret, karena sama artinya harus menjalani Long Distance Marriage (LDM). Suami saya tinggal di mana, saya juga dimana…

Cukup sadar diri lah, kalau melankolisnya saya akan membawa banyak masalah… dikit-dikit baper, dikit-dikit nangis, marah, dll… ga usah lah cari perkara yang bikin rumit kan. Belum mikirin mengasuh anak-anak sendiri, belum jauh-jauhannya ga bisa manja-manjaan, huhu, tak sanggup saya… 

Dan jika tidak menginginkan mutasi ke sana, maka pengembangan diri yang memungkinkan adalah melalui jenjang jabatan struktural yang sebenarnya sih dari awal saya kurang passionate… Huhu, saya ini kok jadi orang kompleks amat yak, sukanya dibebasin berkreasi dan susah pasrah menerima untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan idealisme saya. Dan menurut pengamatan saya, menduduki fungsi struktural itu ya berarti harus siap mengesampingkan semua itu…

Tapi, saya sempat kok akhirnya membuka diri dengan kemungkinan itu dan menjajaki posisi struktural…

Waktu itu, untuk menunggu kenaikan level kompetensi yang tinggal hitungan satu tahun (begitu saya naik otomatis tidak bisa menduduki posisi struktural itu karena grade-nya ketinggian), saya terimalah tawaran untuk menempati satu fungsi struktural. "Ah, cuma satu tahun…" pikir saya. "Kenapa ga dicoba?"

And guess what, meskipun akhirnya hanya berjalan selama enam bulan, fixed saya merasa memang tidak cocok dengan karir semacam ini. Selama kurang lebih enam bulan, saya benar-benar merasa kehilangan kebebasan. Waktu, keinginan, idealisme… rasanya semuanya harus saya tepikan demi mengemban tanggung-jawab… Saya pun harus berpikir ekstra keras agar tanggung-jawab saya sebagai seorang pekerja, ibu dan istri dapat terpenuhi… dan bagi saya itu benar-benar melelahkan.

Karena itu, saya cukup bersyukur saat ada satu kebijakan baru di perusahaan bahwa suami istri yang sama-sama pegawai dalam satu unit induk tidak boleh sama-sama menduduki jabatan struktural. Jadi, walaupun waktu itu pengajuan keputusan saya sudah diproses sekitar enam bulan sebelumnya, karena adanya aturan itu, prosesnya pun tidak dapat dilanjutkan. Yup, saya dan suami berada pada unit induk yang sama, meskipun pada unit yang berbeda…

It's OK lah, enam bulan yang melelahkan itu tidak dibayar dengan materi atau apresiasi kinerja, karena dari sana kemudian saya mantap kemana harus melangkah.

Seeking for New Opportunities…

Sebenarnya sejak sebelum menikah pun, suami sudah mulai mencoba peruntungan pada beberapa bisnis (pertanian dan peternakan). Dan kala wacana resign saya mulai muncul, dia pun makin getol mencoba hal-hal berbau bisnis lainnya; sebut saja transportasi, trading IHSG, produksi rumput laut dan beberapa lainnya yang masih dijalani sampai detik ini…

Dulu, awalnya semua bisnis ini dijalani sekedar karena melihat adanya peluang, namun dengan munculnya wacana resign, kemudian semua ini berubah menjadi satu sarana untuk mengamankan sektor finansial. Mengingat tanggungan kami yang tidak bisa dibilang sedikit, kami perlu memastikan bahwa keputusan ini tidak akan membawa dampak buruk pada keluarga maupun keluarga besar.

Kemudian, setelah melewati masa enam bulan yang enlightening itu, pemikiran pun mengkerucut pada kesadaran bahwa kondisi sudah semakin tidak sehat bagi saya, keluarga, serta perusahaan. Well, perusahaan pun sesungguhnya berhak atas kinerja terbaik saya sebagai pegawainya bukan? Sesuatu yang saya sadari makin sulit saya berikan, dan itu pun berat bagi saya…

Akhirnya, kami pun berusaha mencari satu peluang lain, kali ini dengan tema, menemukan kegiatan produktif pasca saya resign… Sesuatu yang bisa saya kerjakan dan menghasilkan, namun dengan waktu yang cukup fleksibel untuk merawat anak-anak dan keluarga, serta diri saya sendiri.

Yah, saya pun tidak senaif itu untuk sekedar mengejar passion di bidang literasi, musik atau bahkan psikologi. Dua yang pertama itu anggap hobi dan satu yang terakhir itu rasanya belum punya sumberdaya untuk melanjutkan kuliah hingga mencapai profesi. Dan yang terpenting, ketiganya relatif belum bisa dijadikan pegangan sebagai pengganti penghasilan.

Jadi, win-winnya ya saya harus mencari kegiatan produktif lain, yang bisa dikerjakan secara cukup fleksibel… Kegiatan yang menghasilkan (materi), tapi cukup fleksibel untuk memungkinkan saya menjalankan peran sebagai seorang ibu dan juga mengembangkan diri ke arah yang saya inginkan.

Dari sana, akhirnya saya dan suami pun memberanikan diri terjun ke dunia bisnis food and beverage alias bisnis kuliner.

And Then, All Collided

Setelah melalui koordinasi panjang sejak bulan Oktober 2018, akhirnya aktif per bulan April 2019 kami pun resmi masuk ke dunia bisnis kuliner. Bayangannya sih ini bisa saya handle pada saat sudah berhenti bekerja nanti.

Sejak saat itulah, walau pun dengan waktu yang berhimpit-himpitan antara tugas kantor, antar jemput anak dan sebagainya… Saya dan suami bagi tugas, dia bagian operasional, saya bagian SDM dan promosi. Meski tidak sempurna, semua berjalan semaksimal yang kami bisa… Literally super hectic, sampai berkali-kali kelewat makan siang, karena waktu istirahat dipakai untuk mengurus 'bayi baru' ini. Lembur sampai lewat tengah malam, untuk merapikan administrasi yang ga juga rapi karena keterbatasan waktu and so on and so on

OK, at this point it is so exhausted… 

Mungkin bagi orang dari luar ya liatnya kue sudah ada yang bikin, toko sudah ada yang jagain… tapi, di balik itu masih ada urusan PO, tagihan, inventory, pembukuan, perijinan, sampai perpajakan yang harus diurusin.

Ditambah lagi, suami yang lebih terbiasa dengan urusan seperti itu, jadi rada-rada bossy seakan-akan saya ini anak OJT. Dimana, ini tentu saja tidak bisa saya terima… hahaha… yup, kami ini punya karakter yang bertolak belakang. Dia merah, saya biru… dia suka ngatur, sayanya ga mau diatur. Ribet kan… Dan itu sukses membuat hidup kami jadi makin riweuh dan hectic dalam arti yang sebenarnya.

Baca juga:

Literally… waktu 24 jam itu benar-benar kurang untuk mengurus semua printilan toko, anak-anak dan juga pekerjaan. Dan secara saya ini orangnya perfeksionis, dimana semua maunya berjalan 100%, cukup stress juga saat urusan toko ga beres-beres, kurang fokus sama anak-anak, lebih banyak meminta ijin dari kantor, dan istirahat pun kurang. Saat itulah kemudian, hati semakin mantap untuk menentukan kapan harus resign.

Awalnya rencana resign ini diset pada bulanJanuari 2020, tapi akhirnya dimajukan menjadi bulan Agustus 2019… Dengan pertimbangan semakin overload-nya tanggung-jawab, dan kala itu suami pun berkali-kali meyakinkan bahwa bisnis baru ini berkembang cukup baik dan semakin membutuhkan perhatian.

Dari sana kemudian saya pun mengeraskan hati dan niat untuk tidak menoleh lagi pada pilihan yang ada… Pokoknya maju lurus ke depan pada satu tujuan, yaitu resign per 1 Agustus 2019.

Selanjutnya, proses pun dimulai dengan sounding secara lisan mengenai niatan ini pada atasan saya… Kemudian pada Bulan Mei, saya membawa surat pengunduran diri saya kepada pimpinan tertinggi unit kerja saya. Selanjutnya pada bulan Juni selepas libur Lebaran melanjutkan proses ke Kantor Induk… Bulan Juli mulai membereskan administrasi exit interview dan berkas pensiun… Tanggal 25 Juli menerima slip gaji berisi hak-hak terakhir saya sebagai pegawai dan tanggal 31 Juli resmi berpamitan pada teman-teman di kantor. Selesai sudah masa kerja saya di BUMN ini selama 10 tahun 2 bulan…


***

Begitu kira-kira timeline bagaimana saya akhirnya memutuskan untuk resign… Dari cerita di atas, kedengarannya teknikal sekali ya… Semuanya macam sudah dipersiapkan dan dikalkulasikan. Yah ada benarnya, tapi juga tidak sepenuhnya benar… Karena sebenarnya dinamikanya cukup dramatis, jauh lebih dramatis dari intro saya yang melow di awal post ini…

Walaupun secara logis kami sudah cukup siap dan yakin bahwa ini adalah keputusan terbaik… Ada sudut-sudut hati saya yang gelisah dan menjadi cengeng mengenang hal-hal indah yang pernah saya alami di perusahaan ini…

Sepuluh tahun, Bok! Dari gadis unyu-unyu nan keras kepala yang baru pertama kali merantau pun langsung ke daerah yang cukup terpencil, hingga tumbuh menjadi wanita pemberontak yang semakin sulit mengalah pada keadaan. Dari yang mau masak nasi aja nelpon ke rumah untuk nanya airnya seberapa, sampai diberi kepercayaan untuk mendidik dua anak tengil nan lasak.

Tapi, ya inilah hidup, penuh dengan pilihan… Saat kemudian kita tidak mampu menjalani semuanya bersama-sama, atau saat kita tidak merasa bahagia, kita bisa memilih tetap menjalani semua peran itu seadanya atau memilih keluar dari situasi tersebut. Namun, tentu saja jika pun kita memilih untuk mencari jalan keluar, pun kita bisa mengantisipasi risiko yang mungkin timbul dari keputusan kita.

Dalam kasus saya, risiko yang saya hadapi adalah mengenai keamanan finansial dan perasaan kedua orang-tua saya yang begitu bangga pada karir anaknya. Sehingga, untuk itu, saya pun memerlukan waktu sekitar empat tahun untuk mempersiapkan semuanya.

Lalu, bagaimana rasanya setelah resign?

Yah, ini belum sebulan sih pasca resign, tapi, so far saya merasa jauh lebih tenang melakukan peran-peran saya. Saya bisa mengerjakan bisnis kami dengan lebih profesional, pun memiliki waktu yang jauh lebih fleksibel.

Saya bisa antar jemput anak tanpa beban dan rasa bersalah karena merasa kurang profesional dalam bekerja. Saya juga bisa lebih tenang dan fokus mengurusi printilan toko, dari operasional, perijinan hingga perpajakan. Dan alhamdulillah kedua orang-tua saya pun sangat suportif dengan proyek baru saya.

Ya, sejauh ini hidup saya jadi jauh lebih tenang dan membahagiakan dengan lepasnya rasa bersalah  saya kepada keluarga, anak-anak dan juga perusahaan. Selanjutnya, karena pilihan sudah dibuat, maka saya hanya tinggal menjalaninya dengan segala keyakinan, daya dan upaya. Bismillah…

***

Yup, begitulah kira-kira sedikit cerita di balik keputusan resign yang saya ambil… Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang membaca ya… Amiin.

Oh ya, terima-kasih sudah membaca by the way

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, July 21, 2019

Tips Lolos Wawancara Kerja

Throw back time, waktu saya baru lulus kuliah di tahun 2007 lalu... di Bulan Agustus, sejak dinyatakan lulus dari Fakultas Psikologi setelah masa kuliah empat tahun lamanya, belum terima ijazah pun saya sudah mulai gencar mencari pekerjaan.

Waktu itu, berbekal surat keterangan yudisium, saya mulai melamar ke berbagai perusahaan untuk segera menyudahi status 'pengangguran'. Status yang sangat berat ditanggung mengingat saya adalah anak pertama, ibu mencari nafkah sendiri sejak bapak jatuh stroke dua tahun sebelumnya, dan adik-adik pun masih duduk di bangku sekolah.

Kebayang kan rasanya... mau minta uang saku untuk keperluan melamar kerja aja berat rasanya karena status saya yang bukan lagi mahasiswa.

Waktu itu, paling lambat pukul 06:00 setiap Senin dan Kamis, saya sudah nongkrong di warnet (warung internet) demi menikmati tarif happy hours untuk mencari info lowongan pekerjaan. Juga Sabtu dan Minggu, tidak pernah absen beli koran Kompas untuk menelisik iklan lowongan pekerjaan yang janjian ketemuan disana.


And guess what? Hingga akhirnya diterima di PLN pada tahun 2008, saya sudah menjalani sepuluh kali wawancara kerja, mulai dari perusahaan BUMN maupun swasta yang cukup dikenal di Indonesia, yang kesepuluh-sepuluhnya gagal! Yes, PLN adalah wawancara kerja saya yang kesebelas, orang-tua sampai nasehatin saya supaya ke 'orang pinter' agar dibuka auranya, karena berpendapat saya ini ga kelihatan meyakinkan buat orang lain karena auranya tertutup. Yang memang benar sih mungkin, tapi saya kurang sreg saja dengan caranya...

OK, poin yang ingin saya garisbawahi disini adalah bahwa secara objektif, sesungguhnya saya cukup memiliki potensi, karena kenyataannya bisa lolos serangkaian penyaringan mulai dari seleksi administrasi, tes potensi akademik, Bahasa Inggris, dan sebagainya... tapi kenapa selalu gagal di wawancara... Apa yang salah?

Dan untungnya sih, karena waktu itu saya tidak mengikuti saran orang-tua untuk ke 'orang pinter' supaya dibuka auranya, sekarang saya bisa sedikit berbagi pada teman-teman tentang pengalaman saya. Hal-hal yang saya pelajari dan terapkan hingga akhirnya bisa lolos pada sesi wawancara di sebuah perusahaan BUMN di Indonesia ini. Yang mana, mungkin banyak orang semacam saya, yang merasa ini prestasi setelah berkali-kali (tepatnya sepuluh kali) gagal di sesi wawancara... 😅

Siapkan Diri secara Psikologis

Percaya diri itu harus! Nah, tapi bagaimana kalau kita sadar punya banyak kekurangan dibandingkan peserta wawancara lain? Ini nih masalah saya dulu...

Dulu, seusai lulus ujian skripsi, saya sempat curhat pada dosen penguji, "Bu, saya ini merasa belum siap untuk terjun ke dunia kerja... Saya merasa belum punya bekal pengalaman nyata di masyarakat, soalnya selama kuliah saya cuma kuliah saja, ga aktif di organisasi sama sekali..."

Well, aktif di organisasi selama kuliah itu jelas adalah sarana untuk mengembangkan kepribadian kita teman-teman, saya sadar sekali hal itu, tapi apa daya... saya yang dulu itu punya pergolakan psikologis sendiri hingga boro-boro aktif berorganisasi, berinteraksi dengan banyak orang saja sungguh menguras energi.

Aktif berorganisasi will a plus point, tapi jika kurang pun bukan akhir dari segalanya... Dan kenapa saya gagal dalam berbagai wawancara itu justru lebih karena terlalu fokus pada kekurangan saya. Ya kalau kita sendiri tidak percaya kita mampu, bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain coba?

So, menyiapkan diri secara psikologis ini saya artikan sebagai kita memahami diri kita, segala kekurangan dan kelebihannya, menerimanya dan juga menghargainya...

Dalam kasus saya, kemudian alih-alih hanya fokus dengan kekurangan... kemudian saya pun menyadari bahwa saya pun memiliki banyak kelebihan disamping satu kekurangan tidak aktif berorganisasi. Saat itulah saya mulai bisa melihat diri dan pengalaman yang saya alami dan menghargainya. Termasuk soal pengalaman organisasi yang mungkin satu-satunya, yaitu semasa KKN...

Ya mohon maaf, emang nothing special sih dengan kegiatan KKN, semua mahasiswa kala itu ya harus KKN untuk lulus. Tapi, dalam KKN itu pun saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa mengenai organisasi dan berhubungan dengan masyarakat. Jadi, salah besar jika saya merasa tidak tahu apa-apa soal dunia organisasi, ini cuma masalah cara pandang saja.

Nah, kalau kita sudah mengenal diri sendiri, bisa menghargai diri kita sendiri dan percaya diri, maka selanjutnya kita akan mampu menampilkan siapa diri kita yang sesungguhnya. Dan saya rasa, ini lah yang namanya membuka aura secara psikologis itu...

Siapkan Materi

Psikis sudah siap... selanjutnya, kita pun harus meyakinkan interviewer bahwa kita memiliki pengetahuan mengenai bidang yang kita apply, tantangan dan juga visi misi kita terkait hal itu.

Untuk itu, kita bisa mulai dengan membuka informasi perusahaan yang ada di websitenya, apa visi dan misi perusahaan, sejarahnya, dan informasi lainnya. Kemudian, juga mencari berita terkait perusahaan tersebut dan lebih spesifik terkait posisi yang kita lamar.

Kala itu, dengan background Psikologi, saya melamar posisi HR Officer... maka saya pun secara spesifik mencari tahu kebijakan SDM mereka, tantangan, perkembangan, dan sebagainya.

Semakin kita memahami seluk beluk organisasi, posisi yang kita lamar dan peran serta tantangannya untuk mencapai visi misi perusahaan, itu adalah nilai yang luar biasa plus. Ini tidak hanya akan menunjukkan kapasitas intelektual kita, tapi juga keinginan kita belajar dan juga kesungguhan kita.

Dan dalam kasus saya, kalau itu saya mendapatkan topik yang sangat kuat dengan mengetahui bahwa PLN telah menerapkan Manajemen SDM Berbasis Kompetensi sejak tahun 2004. Dan saat saya diwawancarai pada tahun 2008, itu masih adalah isu pengelolaan SDM yang hangat karena kenyataan bahwa implementasinya tidak lah mudah, mengingat cakupan perusahaan yang sangat luas dari Sabang hingga Merauke, dengan berbagai latar belakang pekerja dan juga adanya gap generation serta resistansi pada perubahan.

Penampilan

Soal penampilan ini bukan persoalan sulit, tapi tidak boleh dianggap enteng karena ya ini yang akan dilihat pertama kali oleh interviewer. Dan yap, disini pada awalnya saya sudah failed...

Wawancara pertama saya, itu benar-benar masih culun banget. Baru pegang surat keterangan yudisium, iseng-iseng lamar kerja yang ternyata proses seleksinya seharian gitu. Begitu lolos seleksi administrasi, lalu semacam tes potensi akademik dan lanjut ke wawancara.

Posisinya, saya tanpa ekspektasi sama sekali sih, tapi kok ndilalah di saat teman-teman sejurusan pada berguguran, saya masih lanjut sampai wawancara. Jadi, beneran tanpa persiapan, saya cuma pakai kaos dan celana jeans pun bukan jeans yang feminin gitu, tapi model gombrong. Ya sudahlah, bye-bye... Kemudian saya yakin bahwa dari situ saja saya sudah gagal merebut hati para interviewer, dan selanjutnya ya mereka sudah tidak terlalu berminat untuk mengeksplore kemampuan saya.

Dan hal ini pun berulang pada wawancara-wawancara setelahnya, yang mana saya kurang memperhatikan masalah penampilan, sampai dengan pada akhirnya bude saya menyadarkan saya, "Kamu ini kan ngelamarnya jadi pegawai kantoran... bajunya, dandanannya harus mencerminkan kerjaanmu dong..." dan kemudian mulai lah saya lebih memperhatikan perihal penampilan ini...

Intinya sih mengenai penampilan, kita harus berpakaian sopan, enak dilihat dan profesional... Dimana bagi saya ini berarti:

Jangan pake jeans, kaos oblong dan pakaian casual lainnya... Jangan terlalu menor, tapi juga jangan kelihatan pucat... Yes, pada saat wawancara kita harus terlihat profesional dan menarik secara tidak berlebihan.

Nah, kalau saya sih mendefinisikan paragraf di atas misalnya dengan memakai kemeja dengan celana panjang atau rok bahan yang tidak terlalu ketat tapi tidak terlalu longgar, dengan motif yang cukup simpel atau untuk amannya polos saja.

Lalu, untuk make up... yah, kalo saya sih karena ga bisa dandan, cukup pakai lipstik aja dengan warna bibir kala itu. Tapi, kalau teman-teman bisa dandan sih bisa lebih bagus dandan, asal tetap natural ya... sekali lagi, jangan menor...

Perhatikan Hal-Hal Teknis Lainnya

Hal-hal teknis yang saya maksud disini misalnya adalah bagaimana untuk datang tepat waktu, bagaimana mensiasati supaya tidak dalam kondisi lapar saat diwawancarai, jangan tidur terlalu malam supaya kondisi tubuh prima, dan sebagainya.

Berdoa dan Minta Doa Restu dari Orang-Tua

Last but not least, berdoa dan minta doa restu dari orang-tua itu adalah hal kunci yang tidak boleh ditinggalkan.

Ga perlu dijelasin panjang lebar lah ya...

Yang jelas hal ini selain berkaitan dengan hal spiritual, juga akan menimbulkan ketenangan batin bagi kita, seorang anak manusia.

Agak bingung deh jelasin part ini... Gitu deh pokoknya... Teman-teman sepakat lah ya kalo ini hal yang sangat-sangat penting...

***

Nah, kira-kira itu saja sih beberapa hal yang menurut saya penting diperhatikan dalam menghadapi sebuah wawancara kerja.

Yang paling sulit dan butuh proses sesungguhnya adalah mempersiapkan diri secara psikologis... Karena untuk mencapainya kita perlu menemukan insight itu sendiri dalam diri kita, no technical step seperti poin-poin lainnya.

Untuk beberapa orang sih tapinya ini bukan masalah sama sekali... Yes, tipe kepribadian dan juga pengalaman hidup sangat menentukan. Mereka dengan tipe kepribadian merah atau cholerics akan cenderung tidak bermasalah. Dan sebaliknya orang-orang dengan tipe kepribadian biru atau melancholy akan lebih rawan memiliki permasalahan ini.

Yeah, tebakan Anda benar... saya ini tipe melancholy yang cukup ekstrim, makanya perlu waktu untuk menyelesaikan permasalahan kepercayaan diri ini.

Tapi, jangan khawatir teman-teman, setiap kepribadian itu tidak ada yang baik atau buruk... it's just it... Mau kepribadian seperti apa, ya bisa juga sehat, bisa juga tidak sehat secara psikologis. Dalam perjalanan, bimbingan orang terdekat dan juga lingkungan akan membentuk pengalaman kita memandang hal tersebut. Namun, yang terpenting pada akhirnya tetap lah diri kita sendiri, saat kita tumbuh dewasa, bagaimana kita memandang diri dan lingkungan adalah tanggung-jawab kita sendiri.

Kurang lebih begitu...

Well, kok jadinya malah semi curhat ya... Maaf ya teman-teman... 😅

With Love,
Nian Astiningrum
-end- 

Thursday, February 7, 2019

Jumat Sehat Bersama Tumpeng Enak Lampung

Hari Jumat, di berbagai kantor memang identik dengan hari bebas ya… Lebih santai sih tepatnya, karena di Hari Jumat biasanya berbagai instansi akan mengadakan kegiatan di luar rutinitas kantor, misalnya seperti bekerja bakti membersihkan lingkungan, senam pagi bersama, jalan santai di lingkungan kantor, atau pun 'Tea Morning'. Sesuatu yang bagus sekali menurut saya; karena selain berperan aktif dalam menjaga kesehatan, kebersihan atau efektifitas komunikasi antar pegawai dengan manajemen; berbagai kegiatan ini pun merupakan sarana melepas kepenatan dari berbagai rutinitas kerja.

Di kantor kami sendiri, kegiatan setiap Jumat pun sebisa mungkin divariasikan agar tidak membosankan memperoleh manfaat yang maksimal. Seperti halnya Jumat 11 Januari 2019 lalu, dimana kami mengadakan acara dengan tajuk "Friday is a Healthy Day" sebagaimana instruksi dari Unit Induk kami.

Untuk acara ini, kami telah merancang berbagai kegiatan, di antaranya senam pagi bersama dilanjutkan dengan sarapan bersama, sosialisasi mengenai program perusahaan dan pembagian doorprize kecil untuk memeriahkan suasana.

***

Sesuai jadwal, pukul 7:00 pegawai sudah berdatangan ke kantor dengan menggunakan baju olah-raga masing-masing. Dan sekitar pukul 7:20 pun acara dimulai dengan senam pagi bersama dipandu instruktur yang berbeda dari sebelumnya… 

Untuk instruktur senam memang sebisa mungkin berubah tiap acara, supaya tidak membosankan, dan ndilalahnya instruktur hari itu benar-benar baru plus gerakan-gerakannya ga seperti biasanya, jadi kami cukup excited.


Ya, gimana ga excited coba, ini instruktur ngajakin kami senam muka plus totok wajah juga… Padahal doi kan cowok, gayanya juga maskulin abis, ya lucu aja sih menurut saya… 😂 Ditambah lagi kemudian ada sesi tanya jawab kesehatan, yang… yah, boleh lah… Lumayan memberi kami pencerahan tentang kesehatan dari sisi (sebut saja) atlet senam.

Ini nih senam muka yang lumayan bikin heboh itu…

Setelah senam dan konsultasi kesehatan selesai, kemudian kami pun beralih ke acara selanjutnya, yaitu sarapan pagi bersama dan sosialisasi beberapa program perusahaan oleh manajemen.

Ada dua program perusahaan yang disampaikan oleh manajemen kali, yaitu pertama adalah mengenai Quantum Leap PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan berkaitan dengan Asset Management oleh Manager Unit Pelaksana Pembangkitan (UPDK) Bandar Lampung. Dan kedua adalah launching dan sosialisasi penggunaan tumbler menggantikan botol kemasan plastik untuk mengurangi sampah plastik.


Jadi, PLN pun sejak Januari 2019 kemarin secara bertahap melakukan program pengurangan sampah plastik melalui beberapa program, salah satunya adalah penggunaan tumbler ini. Pada awal implementasi program, tentu kami pun belum bisa menghilangkan sepenuhnya kebiasaan menggunakan kemasan plastik, tapi kami berkomitmen untuk terus melakukan pengurangan semaksimal mungkin.

Oh ya, dan yang tidak bisa ditinggalkan dari kegiatan ini sesungguhnya adalah menu sarapannya! Yes, sarapan kali ini kami memesan bento nasi tumpeng dari Tumpeng Enak Bandar Lampung. Ini kali kedua sih, kami menggunakan nasi kuning sebagai jamuan, sebelumnya pernah juga tapi dalam bentuk Tumpeng Mini (Tumini).


Seperti biasa, menu Tumpeng Enak selalu menimbulkan excitement tersendiri! Bentuknya itu lho, sangat menggugah selera! Dan jangan lupakan juga rasanya yang enak banget… Pokoknya menu ini selalu berhasil bikin teman-teman sekantor penasaran pesennya dimana, karena memang dia cocok banget digunakan untuk acara-acara spesial.

Dalam satu paket Tumpeng Mini atau Bento Nasi Kuning, juga telah diberikan stiker yang desainnya menyesuaikan request kita. Gimana ga spesial coba…


Seperti biasa, pelayanan Mbak Pipit owner Tumpeng Enak pun sangat-sangat memuaskan… Huhu, seperti biasa, kami ini sukanya dadakan kalo ada acara, dan alhamdulillah pesanan kami masih bisa di-handle oleh Mbak Pipit dan tim, padahal kami pesannya H-2…

Karena terburu-buru ini pula, kami tidak sempat meminta kemasan dikonvert ke bahan lain selain plastik, huhu… Tapi, gapapa, it's OK don't be sad… belajar dari kekurangan hari itu, next time kami ga adain acara dadakan-dadakan lagi deh… Insyaallah…

Oh ya, emang nasi kuning itu sehatkah? Ini acaranya kan Jumat Sehat, haha… 😀

Hmm, dari sisi nutrisi, ya tidak diragukan lagi menunya Tumpeng Enak ini bisa dipastikan sehat ya… Karena di dalamnya ada juga urap dan ayam goreng yang notabene adalah sumber mineral dan protein. Paling yang perlu dijaga adalah karbohidrat dari nasi kuningnya sih, karena kan dia pakai santan ya… Kebutuhan kalori tiap orang sih beda, jadi ya harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sih. 

Kalau saya sendiri, sebagai penganut sarapan pagi buah, yah, ini disimpen dulu buat makan siang, hehe… Ya makanan enak ini, sayang bangetlah kalo ga dimakan kan… **Ga mau banget rugi…**

Oh ya, kalau mau pesen Tumpeng Enak juga, bisa cek Instagram mereka @tumpeng.enak ya…

***

Ya gitu deh, acara kami Jumat kemarin itu… Saya pribadi sebagai salah satu yang bertugas sebagai (sebut saja) panitia, puas banget dengan keseluruhan acaranya. Semua terlihat bahagia dan kegiatan pun berjalan dengan sangat lancar.

Nah, kalo di tempat teman-teman sendiri, Jumat pagi biasanya ada acara apaan nih? Share dong… 

With Love,
Nian Astiningrum
-end-