Friday, April 27, 2018

Each Marriage They Create Chemistry…

…kemudian mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya…

Hayoo… ada ga nih teman-teman yang menganggap kalimat di atas sebagai parameter paripurnanya suatu cerita percintaan? Kalimat pamungkas yang banyak kita temui pada cerita dengan genre fairy tale, semacam Cinderella, Rapunzel, Keong Mas, dan lusinan lagi yang jadi cerita favorit saya sejak dulu. Cerita-cerita yang membentuk relationship goal saya kala itu, bertemu seorang 'pangeran' baik yang mencintai saya, menikah, dan hidup bahagia selamanya…

Goal, yang tercapai sih… Saya menemukan seorang pria baik yang mencintai saya dan kemudian menikah… Juga merasa bahagia dengan pernikahan saya, tapi ya bukan berarti 'udah gitu aja selesai'. 'Bahagia' bukan berarti just happy all the time… hanya pelangi 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, tanpa hujan dan badai sama sekali. Tanpa perbedaan pendapat, perselisihan paham, dan perang dingin.

Yah, asal tahu saja, dulu pas awal-awal menikah, prosentase akur dan berantemnya mungkin fifty-fifty ya...

Tapi, ya kami menerima situasi itu dengan kesadaran bahwa itu adalah bagian dari reaksi yang terjadi karena bertemunya kami dengan karakter yang sama-sama keras. Berusaha tetap berpikir logis dan tidak mendramatisirnya. Itulah yang akan saya ceritakan disini…

Spesial untuk adik saya tercinta dan juga teman-teman yang mungkin juga sedang menjajaki kemungkinan memasuki dunia pernikahan. Siapa tahu bisa memberi sedikit inspirasi dan mungkin pencerahan…


OK, mari kita mulai cerita ini dari skeptisnya saya akan cinta dimasa remaja… Saat dimana saya merasa kesulitan mengikuti perkembangan kedewasaan teman-teman sebaya yang mulai jatuh cinta dan pacaran sejak SMP. Sesuatu yang cukup mengganggu saya… Sampai-sampai saya menciptakan tokoh fiktif bernama Abimanyu yang bersekolah SMP lain supaya tidak dianggap nerd dan ga gaul karena belum punya gacoan… 😅

Saat teman-teman saya mulai jatuh hati pada si A, si B atau si C. Saya malahan sibuk mencari jawaban, 'cinta itu apa'. Call me over analize, tapi saya tidak bisa sepenuhnya menerima pendapat bahwa cinta itu adalah perasaan suka yang datang dengan sendirinya tanpa kita undang… Bahkan, saya berpikir bahwa 'cinta' itu sesungguhnya adalah perasaan yang bisa diciptakan. Not really like a gifted feeling or something that happen accidentally

Dan karena tak kunjung mendapatkan jawaban, saya pun bereksperimen dengan diri sendiri untuk membuktikan hipotesis itu. Saat duduk di bangku kuliah, saya dengan sengaja, terus dan terus memikirkan seorang pria, memperhatikannya saat bertemu, dan sebagainya; hingga akhirnya simptom-simptom jatuh cinta seperti perasaan dag-dig-dug, malu saat bertemu, dan sebagainya itu muncul.

See? Hipotesis terbukti! Dan bahkan menguat, saat kemudian ada kejadian dimana saya melihat pria itu mencontek di kelas dan kemudian saya 'ilfeel' dan perasaan saya itu hilang tak berbekas begitu saja… 😅 Berarti, perasaan cinta itu pun bisa hilang jika tidak dipelihara…

Sehingga, lebih lanjut, saya mengambil kesimpulan bahwa perasaan 'cinta' tidak mutlak diperlukan untuk memulai sebuah hubungan romantis, karena perasaan itu bisa diciptakan. Dan justru yang lebih penting sesungguhnya adalah komitmen, karena itulah yang akan menjaga cinta kita tetap hidup pada seseorang…

Sejak itulah, saya tidak terlalu ambil pusing dengan yang namanya 'cinta' dan 'pacaran'. "Yah, nanti kalau ada laki-laki yang nembak, saya pertimbangin deh.." dengan pedenya saya berprinsip seperti itu. Dan berakhir saya menjomblo sekian lama, karena ga ada yang nembak dan baru mengenal pacaran di akhir masa kuliah 😅.

Rasa cinta itu bisa diciptakan, tapi kepribadian seseorang itu adalah sesuatu yang (nyaris) tidak bisa berubah

Bapak dan ibu saya adalah alasan meyakini hal itu… Di mata saya, mereka adalah contoh nyata bagaimana jadinya kehidupan pernikahan yang tidak diiringi dengan kecocokan kepribadian dan penerimaan satu sama lain… Banyak sekali ribut-ribut, pertengkaran, sampai perang dingin yang berimbas tidak hanya pada kurang bahagianya kedua belah pihak, tapi juga stabilitas emosi anak-anaknya.

Mungkin cinta mereka untuk satu sama lain begitu besarnya hingga meskipun dengan ketidakcocokan yang bisa terselesaikan, mereka tetap bertahan. Tapi, bertahan saja tidak cukup, karena keduanya seringkali mengeluhkan sikap masing-masing, terlibat pertengkaran, dan bahkan melibatkan saya sebagai anak pertama dalam perbedaan pendapat mereka. Dimana, di usia saya yang sama sekali belum matang saat itu, semua itu menimbulkan tekanan tersendiri bagi saya.

Juga semacam menciptakan membentuk stigma negatif pada sosok pria seperti bapak; yang saya tandai dengan karakteristik: merokok, berasal dari background pendidikan teknik, serta memiliki karakteristik kepribadian sulit mengalah, merasa paling benar, selalu melihat orang lain salah, arogan, dan seterusnya. Yang kemudian saat mulai banyak bergaul dengan dunia psikologi, saya kenali dengan istilah Tipe Kepribadian Merah atau Cholerics.

"Tidak memiliki latar belakang teknik…" Statement ini mungkin sedikit menimbulkan pertanyaan karena tidak mengisyaratkan sesuatu yang negatif ya… Tapi, kalau saya sih iya… Bapak yang sering sekali bilang, "…kalau orang teknik itu…" yang penuh perhitungan lah, yang jarang salah lah… pokoknya berulang-ulang mengucapkan kata itu untuk menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri, membuat saya (maaf) sedikit muak. Hingga setengah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak menikah dengan seorang dengan latar belakang pendidikan teknik. 

So, I keep this on my mind

Satu, tidak merokok…

Dua, dari sisi kepribadian, bukan Cholerics atau Merah…

Tiga, tidak dari latar belakang pendidikan teknik… pokoknya tidak dari segala macam fakultas teknik!

Daan… Eng-ing-eng… Ternyata dari ketiga kriteria itu, hanya poin pertama saja yang menjadi kenyataan. Fortunately, saya jatuh cinta dan menikah dengan seorang pria dengan yang lugas sekali kalau ngomong, almost selalu merasa dirinya benar, cenderung arogan… everything untuk mengkategorikannya ke dalam Tipe Kepribadian Merah… Lengkap dengan titel S.T. dari ITB dan kerjanya pun di bagian operasi pemeliharaan… 😱 Triple teknik! 😆

Dengan segala perbedaan dan pertentangan karakter kami berdua, tidak terlintas sedikit pun jika dia akan menaruh hati pada saya. Menurut logika, saya jelas bukan tipenya! Dan dengan segala stigma negatif saya padanya, tidak pernah terpikir kemungkinan kemudian saya pun jatuh cinta padanya. Setuju lah saya, jodoh itu memang misteri…

Dan bisa ditebak, perjalanan cinta kami pun cukup terjal dan berliku… Putus pada saat usia pacaran beberapa minggu saja, dan ga pernah nyambung-nyambung lagi sampai akhirnya dia (suami) melamar saya… Sejak awal, kami berdua sadar akan tajamnya perbedaan karakter kami berdua. Itu kenapa, setelah putus, butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya sepakat berkomitmen lagi.

Menurut pengakuan suami sih, dia ga ingin kami nyambung lalu putus lagi, jadi harus benar-benar yakin. Saya sendiri, kurang lebih sama… merasa bahwa butuh keyakinan dua orang untuk berkomitmen, tidak bisa satu pihak saja. Apalagi dengan tipe saya yang suka over analyse, takutnya kalau tidak benar-benar yakin suami memang menginginkan saya, akhirnya sedikit masalah saja membuat saya gamang. Yes, it is complicatedI am complicated… apalagi bagi seorang seperti suami saya (baca: Cholerics) yang kurang sensitif secara emosional.


Baiklah… Memangnya sepenting apa sih peran kepribadian dalam sebuah pernikahan?

Menurut saya, penting sekali, seperti halnya yang saya lihat dari bapak dan ibu. Mereka berdua adalah bukti nyata bagaimana jadinya sebuah pernikahan yang dilakukan oleh dua orang yang memiliki perbedaan karakter yang sangat mencolok dan tidak disertai oleh keikhlasan dan sukacita menerima hasil reaksi dari perbedaan itu.

Setiap orang itu adalah unik, setiap dari kita memiliki bakat (potensi genetis) dan juga lingkungan tumbuh yang berbeda. Karenanya, kemudian kita pun memiliki kepribadian (karakteristik berpikir, perasaan dan perilaku) yang berbeda-beda. Ada kalanya perbedaan ini begitu mencolok atau bahkan saling bertentangan, misalnya ada seseorang yang cenderung bersikap santai, ada pula yang bersikap serius; ada orang yang begitu perasa dan ada juga orang cenderung tidak peka secara emosional; dan sebagainya…

Dan saat dua kepribadian yang berbeda atau bahkan bertolak belakang itu terlibat dalam sebuah interaksi yang intens dalam waktu yang lama, maka akan timbul suatu reaksi yang bermacam-macam. Bisa jadi itu adalah sebuah keluarga yang adem ayem dan tenteram tanpa banyak gejolak. Tapi, bisa juga yang terjadi adalah sebuah keluarga yang penuh dengan perbedaan pendapat dan pandangan, dihiasi dengan diskusi-diskusi sengit, pertengkaran, dan gejolak-gejolak lainnya.

Mungkin, secara umum, orang memang memandang bahwa pernikahan yang membahagiakan itu adalah pernikahan yang adem ayem, damai dan tentram… Tapi tidak selalu seperti itu… Bisa jadi, seseorang justru merasa bosan dengan keadaan yang terkesan stagnan dan gejolak-gejolak yang ada justru menimbulkan semangat. Bahkan bisa jadi, gejolak-gejolak yang ada itu justru mendewasakan kedua belah pihak…

Semua kemungkinan bisa terjadi, sehingga yang penting kemudian adalah bukan seperti apa reaksi yang terjadi atas pertemuan kepribadian kita dan pasangan… Tapi, apakah kita bisa menerima hasil reaksi itu…

Saat kita jatuh cinta, mungkin kita menjadi merasa begitu powerfull untuk BERUBAH atau MERUBAH pasangan supaya kehidupan pernikahan seperti harapan kita. Tapi, perlu diingat, bahwa saat menikah interaksi kita dengan suami/istri itu hampir tanpa jeda dan begitu intens. Jadi, ya benar-benar dipertimbangkan pelan-pelan, hati-hati, dan baik-baik senya itu.

Pun yang terjadi pada saya dan suami, memerlukan waktu yang cukup lama untuk akhirnya yakin melangkah ke jenjang pernikahan…

Saya Melancholy dan suami Cholerics… Atau, saya lebih suka menggunakan penggolongan kepribadian Hartman; saya Biru dan suami Merah. Motivasi inti saya adalah intimasi, sementara suami adalah kekuasaan (power).

Suami cenderung tipe commander (suka memerintah) dan arogan, sedangkan saya cenderung perasa dan memasukkan semuanya dalam hati. Suami senengnya mengatur semua supaya benar menurut dia, sementara saya inginnya diperlakukan dengan lembut dan kasih sayang. Alhasil, saat kami berinteraksi suami merasa marah dan kesal, sementara saya merasa tidak dimengerti dan kurang dicintai. Karenanya, tidak berlebihan jika Hartman (2007) dalam bukunya The People Code, kemudian menyebut hubungan antara seseorang dengan kepribadian dominan Merah dan Biru itu bagai 'blood, sweat and tears'… 'Darah, keringat dan air mata'… 👻

Seorang dengan kepribadian dominan Merah berorientasi pada produktivitas atau hasil, sementara seorang dengan kepribadian Biru berorientasi pada intimasi. Bagi seorang Merah sikap arogan, suka memerintah, dan lugas adalah salah satu cara untuk mendapatkan hasratnya akan kekuatan dan otoritas. Sementara seorang Biru, sikap ini (arogan, suka memerintah, dan lugas) ini adalah sesuatu yang sangat mengecewakan karena dipersepsikan sebagai sikap kurang mencintai.

Dan pada kenyataannya, inilah yang terjadi pada kami berdua

Saya sering merasa kalau suami itu:
  • Tidak perhatian dan kurang romantis. Dulu, suami kebiasaan yang cukup mengganggu, yaitu tidur sembarangan! Capek pulang kerja, bisa langsung tidur di sofa ruang tamu, dan sebagainya… Padahal, saya maunya ya dia tidur di kamar sama saya… 😂 *Ingat, intimasi itu hal yang (paling) penting menurut saya…
  • Kurang mendengarkan keluhan saya. Kadang saya mengeluh apa, malah ditanggapin bercanda atau dipotong sebelum cerita saya selesai.
  • Sering mengeluarkan komentar yang membuat saya merasa bersalah. Saat saya sedih dan curhat karena seorang teman tersinggung atas ucapan saya, dan kemudian dia berkomentar, "Kamu sih, suka ga bisa mengemas kata-kata…" Kalimat yang justru membuat saya lebih merasa bersalah lagi.
  • Menuntut. Misalnya bagaimana dulu suami mengkomplain penampilan saya yang terkesan cuek… Juga, memaksa saya untuk menyalurkan hobi menulis dan bernyanyi lebih baik lagi.
  • Dan sebagainya. 
Sementara suami, merasa saya ini:
  • Terlalu perasa dan emosional. Dikasih tau aja marah, tersinggung, sedih, nangis… Lalu, juga mudah merasa iba, itu juga seringkali dianggapnya tidak realistis.
  • Suka melakukan kegiatan kontra produktif. Misalnya, sudah tau buru-buru harus anter Ganesh sekolah, malah foto-foto bekal dulu… 😂
  • Tidak lugas dalam berkomunikasi sehingga sulit dipahami. Maunya suami ngomong tuh langsung to-the-point, tapi saya suka muter-muter. Misalnya dia nanya boleh ga makan malam dulu, terus saya jawabnya, "Ya udah deh, gapapa…" Padahal sebenarnya saya udah capek ngurusin anak-anak berantem dari tadi, terus alhasil pas pulang saya ngambek 😂 Maunya dia, ya langsung jawab aja, "Ga boleh…"
  • Dan sebagainya
Ya, hal-hal seperti itulah yang mewarnai kehidupan kami sebagai pasangan suami istri yang hidup bersama selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam satu minggu.

Pada masa awal-awal pernikahan kami, perbedaan-perbedaan ini cukup tajam… Walaupun kami berdua sudah menyadari adanya perbedaan (dan bahkan pertentangan) karakter ini sejak sebelum menikah, ternyata saat bersama dan berinteraksi se-intens itu, tetap saja kami seringkali kehabisan stok sabar dan pengertian... Dan alhasil; ketegangan, ribut-ribut kecil, sampai ribut-ribut besar pun tidak bisa dielakkan.

At some point that's exhausting

Tapi, enggak juga sih terus-terusan tentu saja; perasaan capek, kesal, bete, dan sejenisnya itu datang dan tidak pernah bertahan terlalu lama. Kenapa? Pertama, karena kami memang sama-sama sudah memprediksi hal ini akan terjadi… Kami sama-sama tahu kekerasan hati masing-masing, sedikit banyak tahu karakter satu sama lain… jadi meskipun ada pikiran, "Ternyata keras banget ya nih orang…" tapi, tidak terlalu kaget lah.

Kedua, kami berdua yakin dengan kualitas moral satu sama lain… maksudnya saya yakin kalau suami saya adalah orang baik, jadi pasti sesungguhnya deep inside selalu berusaha untuk menjalankan perannya sebagai suami dengan baik. Berusaha menjadi suami yang bertanggung-jawab untuk menjaga kesejahteraan lahir dan batin saya. Jadi, pada saat kemudian ada tindakannya yang menyebalkan dan tidak berkenan di hati saya… meskipun awalnya konflik tidak bisa dielakkan, tapi kemudian saat bisa kembali berpikir logis, saya akan melihat situasi itu sebagai miskomunikasi, perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, dan perbedaan karakter; yang bisa diselesaikan dengan sedikit menurunkan ego, berbicara, dan berkompromi.

Dan ketiga, tentu saja adalah karena kami berdua bisa menerima kondisi itu, bahkan mungkin menikmatinya. Kan kalau adem ayem aja bagi beberapa orang rasanya kurang seru ya… Dan somehow, kemudian kami semakin santai menghadapi benturan-benturan yang terjadi. Juga semakin terbiasa untuk melihat segala sesuatu dari paradigma yang berbeda. Saya dan suami mulai memperbaiki gaya komunikasi masing-masing…

Saya belajar untuk berbicara lebih lugas, langsung saja ultimatum suami supaya tidak tidur di sembarang tempat, tapi harus di KAMAR, atau siap-siap saya jadi bete dan gampang marah 😅. Demikian juga dengan suami, dia berusaha lebih menghargai tuntutan-tuntutan saya berkaitan dengan intimasi yang dulu dianggapnya tidak penting… meskipun sudah ketiduran di sofa, dia akan pindah ke kamar kalau saya missedcall 😂. Dia juga belajar berbicara lebih halus, mulai memperhatikan mimik muka dan nada bicara saya, mulai paham kapan waktunya harus melunak, dan sebagainya.

Tapi bukan berarti kemudian ribut-ributnya terus sama sekali hilang ya, tetap kok polanya; marah-marah, ribut-ribut, perang dingin, terus baikan. Gejolak hanya berkurang intensitasnya, tapi tidak pernah hilang… dan kami sama sekali tidak keberatan.

It's OK, apapun kondisi dan situasi yang timbul akibat bertemunya kepribadian kita dan pasangan (damai, penuh gejolak, dinamis, adem ayem, dll.), selama kita tidak keberatan dan tetap mencintai serta menghargai pasangan kita… That's what make a happy marriage


Bonus! Meskipun seringkali melihat satu sama lain sebagai orang yang menyebalkan, harus diakui jika usaha untuk berkompromi membuat menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Tuntutan-tuntutan suami itu begitu stressfull dan menyebalkan, tapi itu membuat saya menjadi lebih berani dan ekspresif… Sampai akhirnya saya (cukup) aktif menulis dan berani tampil di depan orang banyak, itu adalah salah satu hasil karnyanya. Dia memaksa saya lebih all out menunjukkan sesuatu yang menurutnya adalah bakat.

Sikap decisive suami memang menyebalkan, tapi itu membuat saya menjadi seseorang yang lebih baik. Atau boleh dibilang… lebih bersinar… dan saya lebih bahagia…

Suami? Saya rasa dia juga mengalami hal yang sama… Juga menjadi pribadi yang lebih baik… hanya tidak pernah mengatakannya atau tidak merasakannya, karena ini membutuhkan perasaan yang halus dan sentimentil untuk memahaminya. Sesuatu, yang jelas bukan kompetensinya… 😂

Kurang lebih seperti itu…

Jadi, final words-nya…  Serius dalam hubungan cinta itu bukan sekedar niat untuk melangkah ke jenjang pernikahan, tapi yang tidak kalah penting adalah menjajaki karakter dan kepribadian satu sama lain untuk menemukan jawaban, "Apakah bisa menerima konsekuensi dan bahagia dari pertemuan kepribadian kita dan pasangan?"

That's it

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Catatan:
  1. The Color Code atau The People Code adalah penggolongan kepribadian menjadi empat kategori berdasarkan motif inti dari individu; yaitu Merah (motivated by power), Biru (motivated by intimacy), Putih (motivated by peace) dan Kuning (motivated by fun).  Motif = dorongan dalam diri individu.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...