SOCIAL MEDIA

search

Wednesday, October 21, 2026

INSIGHT AND FEELING FROM FOREST THERAPY DI HUTAN SAPUANGIN LERENG MERAPI

"Tanggal 20 September 2026 kosongkan jadwal ya..." Suami saya mengirimkan pesan text melalui whatsapp dan sesaat kemudian ada notifikasi dari aplikasi yang sama, saya baru saja bergabung di sebuah grup baru, 'FOREST THERAPY BATCH 7."

Hati saya bahagia sekali, karena recently memang sedang dan semakin cinta dengan nature dan karena somehow itu diberikan oleh suami, saya merasa diusahakan dan dicintai.

***

20 September 2026.

Di hari yang ditentukan, kami pun berangkat bersama rombongan. Tim dari Forest Therapy menjemput kami dari rumah menuju lokasi. Dan walaupun saya dan suami sedikit terlambat karena bolak-balik kamar mandi, alhamdulillah, tetap ditunggu dengan ramah.

"Maaf ya bapak driver dan ibu yang sudah menunggu kami, somehow, pagi itu emang rada tricky buat saya. Badan serasa sedang detox, kadang bolak-balik kamar mandi, apalagi kalau malamnya makan yang rada pedes..."

Selama perjalanan, kami mengobrol dan bercanda bersama rombongan. Tentang politik, bahkan menghitung Kopdes yang kami temui sepanjang jalan, yang lokasinya memang cukup unik ya. Dan setelah menjemput beberapa anggota rombongan lain, kami pun mencapai lokasi di Hutan Sapuangin Klaten, lereng Gunung Merapi.

And the feeling is whoaaa...

***

Sampai di lokasi, kami berkumpul terlebih dahulu di kedai kopi lokal untuk briefing, checking, sarapan, dan berdoa bersama. Dari titik ini, rasanya sudah luar biasa buat saya. Pemandangan hutan yang hijau, bukit, dan Gunung Merapi ada di depan mata, begitu dekat, ada rasa membuncah di dada yang sulit dideskripsikan.

Perjalanan kami dimulai dari kedai itu, menyusuri jalan di pedesaan menuju hutan tempat trekking. Di sana kami menemukan pohon kopi, tanaman anggrek, dan juga pohon-pohon yang tampak sehat dan bahagia hidup di tempat yang begitu menghargai mereka. Kami dijelaskan tentang banyak hal, diberikan kesempatan untuk mencicip rasa dan aroma dari biji kopi dan juga bunga liar yang tumbuh di sepanjang jalan.

Ya, sebelum masuk ke kawasan Hutan Lindung Sapuangin, kami masih diperbolehkan untuk memetik biji kopi, bunga liar, atau mencabut Tanaman Akar Wangi. Tapi, begitu sampai kawasan hutan lindung tidak boleh ya... Di kawasan hutan lindung, kami hanya boleh mengambil yang sudah terjatuh, tidak boleh memetik atau mencabut apapun disana. Noted.

Menuju ke hutan kami menyusuri jalan setapak dengan pepohonan di kanan-kirinya. Ada kalanya jalan setapak itu melalui tepi jurang, sehingga pemandangan benar-benar terlihat sophisticated. Oh ya, pada perjalanan mulai memasuki kawasan hutan, kami disambut oleh kawanan lutung yang bertengger di atas pohon. Bagi saya, mereka seperti memandang kami dari kejauhan dengan penuh rasa penyambutan.

Sampai di checkpoint pertama, kami berhenti di sebuah tanah yang cukup lapang, kami berhenti untuk melakukan sesi yoga. Tentu bukan yoga yang terlalu technical, gerakannya cukup sederhana untuk diikuti newbie seperti saya. Simple but very relaxing...

Selanjutnya, sembari menyusuri jalan setapak di antara pepohonan, kami sesekali berhenti untuk melakukan rangkaian aktivitas Forest Therapy ini. Ada sesi refleksi, sesi bersama pepohonan, makan siang bersama, dan juga journaling.

Salah satu momen yang paling berkesan untuk saya adalah pada saat sesi memeluk dan 'berkomunikasi' dengan pohon. Mungkin terasa aneh, tapi bagi saya rasanya sangat melegakan dan relaxing.

Saya selalu memandang bahwa sesungguhnya manusia adalah sebuah sistem kecil, bagian dari sebuah sistem besar bernama alam semesta. Kita (sebagai manusia) selalu bisa memberi dan menerima energi dari alam semesta termasuk pepohonan. Kadang kita merasa sendirian memikul beban yang terasa overloading dan overwhelming bagi diri kita, padahal sesungguhnya semesta selalu mendukung kita. Kita selalu bisa melepaskan apa-apa yang sudah selesai kita pelajari, luka-luka yang sudah tidak lagi relevan dalam diri kita, dan bahkan beban yang tidak sanggup kita tampung dalam sistem kita, kembali ke alam semesta.

Melepaskan, karena tidak semua harus kita balas atau kita tahan dalam diri kita.

Memeluk pohon bagaikan membuat koneksi nyata dengan mereka sebagai bagian dari semesta. Melepaskan beban, merasakan dukungan mereka, rasanya seperti kembali ke rumah, karena kita adalah bagian dari semesta.

Bagi yang pernah menonton film Avatar, kira-kira seperti itulah gambaran hubungan kita dengan semesta. Dengan pepohonan, dengan hutan, dengan alam, dengan langit, dan dengan bumi yang kita pijak.

Perjalanan menyusuri hutan yang dimulai sekitar pukul 8.30 dan diakhiri pukul 15.30 itu benar-benar begitu melegakan. Serasa kembali ke rumah, bercerita dan menumpahkan segala keresahan, menerima pesan dan nasehat dari semesta, dan kembali dalam keadaan yang lebih fresh dan siap menjalani kembali kehidupan sehari-hari.

Sebuah perjalanan yang membawa begitu banyak rasa, makna dan insight bagi saya, dan pastinya peserta lain juga.

Bagi saya pribadi, seperti yang berkali-kali saya ceritakan, it feels like coming back to a place I belong to. Disana saya juga merasakan beban dari perspektif berpikir orang lain, berbagi sudut pandang dan merasa bermanfaat dengan berbagi hal yang diajarkan pada saya sepanjang hidup saya oleh semesta.

Dan yang tidak kalah penting, disini saya merasa dicintai dan diterima. Dicintai dan diterima oleh semesta yang menyambut kami. Dari lutung yang memandang kami dari kejauhan, dan Elang Jawa yang terbang mengitari kami pada saat meditasi. Menurut pemandu, hal ini cukup langka terjadi.

Sepanjang perjalanan hingga akhir dan sampai detik ini, segalanya mempertegas betapa saya dicintai dan diterima oleh partner hidup saya, suami. Saya sadar, ada banyak perbedaan cara berpikir dan memandang kehidupan antara saya dan suami. Kembali ke alam seperti ini, bisa dibilang lebih ke elemen saya, dan dia (suami) menerima diri saya seutuhnya dengan menghadiahkan perjalanan ini dan waktunya untuk menemani saya.

It's so beautiful...

Perjalanan ini memberikan sebuah perasaan, sebuah nostalgia tentang bagaimana kami memulai perjalanan bersama ini saat memilih untuk bersama, dan betapa jiwa kami bertumbuh sejauh ini setelah lebih dari 16 tahun pernikahan. We are two souls with different lessons to learn in life who choose to grow together. Not perfect, but somehow we choose to stay together.

Untuk ini, saya sangat bersyukur pada Tuhan dan tentu saja berterima-kasih pada suami saya. Terima-kasih sudah mencintai dan memberikan ruang bagi saya untuk bertumbuh sesuai jiwa dan hati saya.

Aah, jadi kangen, bismillah, kapan-kapan bisa kesana lagi...

Sekian cerita perjalanan Forest Therapy kami. Semoga ada rasa dan hal baik dari cerita ini.

With Love,
Nian Asti