SOCIAL MEDIA

search

Monday, January 28, 2019

Menginterogasi Anak yang Manusiawi

Untuk kesekian kalinya, saya dipanggil ke sekolah Ganesh. Tentu bukan untuk ambil raport ya, tapi karena ada kejadian yang cukup serius atau paling tidak perlu mendapatkan perhatian, yang melibatkan Ganesh.


Sejauh ini… ulahnya Ganesh ada aja, macem-macem, ini pernah juga saya tulis di blog ini beberapa waktu yang lalu.

Dan yang terbaru adalah hari itu (Kamis / 17-01-2019). Hari itu, karena kebetulan jam pulang Ganesh berbarengan dengan jam istirahat kantor dan memang saya ada keperluan di luar, saya pun sekalian menjemputnya.

Tapi, oh no, ternyata saya diminta untuk ke masuk ke ruang UKS dulu karena ada suatu kejadian! Duh, udah dag-dig-dug aja kan ini perasaan, "Ada apa dengan Ganesh?" atau jangan-jangan dia yang ngapa-ngapain temannya, sampai harus dibawa ke UKS.

Dan, ternyata tebakan kedualah yang benar sodara-sodara…

Di UKS, saya dijelaskan bahwa pada saat turun dari kelas, tiba-tiba Ganesh mencakar (sebut saja) Dino hingga berdarah, tanpa alasan! Demikian juga dengan (sebut saja) Riri, seorang teman lainnya yang juga dicakar. Ya memang luka kecil sih, berhubung Ganesh bukan golongan wolverine kan… tapi, namanya anak kecil, jelas nangis lah…

Di tengah kegentingan itu, alhamdulillah sekali saya masih bisa berpikir jernih melihat Ganesh yang tampak tertunduk gelisah. Bagaimana pun Ganesh hanyalah anak berusia tujuh tahun, saya yakin dia tidak memiliki niat buruk dan saat ini tengah kebingungan dengan apa yang terjadi. Dia mencakar temannya dan kemudian temannya terisak menangis saat diobati lukanya.

Sesaat, kemudian guru Ganesh menceritakan apa yang terjadi menurut versi teman-teman Ganesh yang ada di tempat kejadian. Menurut mereka, begitu saja Ganesh mencakar Dino, tanpa alasan yang jelas. Hmm, gurunya yang tidak langsung percaya dengan pengakuan temannya ini pun berusaha mencari tahu dari Ganesh maupun Dino kejadian sebenarnya. Sementara saya… jujur, saat itu saya lebih merasakan iba kepada kedua anak itu, daripada merasakan urgensi untuk segera mengetahui kejadian sebenarnya. 

Tentu saja saya paham, urgensi guru Ganesh untuk mencari tahu kejadian sebenarnya sesegera mungkin. Tanggung-jawabnya pada seluruh orang-tua murid adalah alasannya.

Tapi, saya sebagai orang-tua Ganesh lebih merasa urgen untuk membantu anak ini melepaskan kegelisahannya menghadapi kejadian itu, jadi saya berkata padanya, "Anesh, tau enggak kalau yang Anesh lakuin itu salah? Anesh, apapun alasannya, nyakitin orang lain sampai berdarah seperti itu salah… Anesh sudah minta maaf belum sama Dino?"

Kemudian Ganesh pun mengulurkan tangannya meminta maaf pada Dino, dan sesaat kemudian tangisnya pun pecah, "Mama, Anesh sudah buat salah…"

Anak ini jelas merasa sangat bersalah dengan apa yang baru saja terjadi… itu kenapa kemudian saya membantunya melepaskan perasaan itu dengan kata-kata sebelumnya. Seperti halnya kita orang dewasa, menangis adalah satu cara untuk melepaskan perasaan negatif dalam diri kita. Dan itulah yang menurut saya urgent untuk dilakukan saat itu, karena diinterogasi dalam keadaan seperti itu pasti sangatlah tidak nyaman. Apalagi itu di depan banyak orang, ada saya, ada Dino, ada gurunya, dan juga seorang anak lain di dalam ruangan itu.
Anak-anak, meskipun dunia mereka adalah bermain, bukan lantas mereka tidak memiliki perasaan atau harga diri.
Maka dari itu, kemudian saya pun meminta ijin pada guru Ganesh untuk menanyainya secara pribadi sembari pulang ke rumah. Saya rasa, itu akan lebih efektif dan manusiawi bagi Ganesh…

***

Dan dari kejadian ini, dan sebenarnya kejadian-kejadian lain sebelumnya, saya sungguh ingin menyampaikan beberapa hal terkait (sebut saja) menginterogasi atau mencari informasi dari seorang anak terkait kesalahan yang dilakukannya.
  1. Pada saat seorang anak melakukan kesalahan, hal pertama yang harus kita perhatikan adalah perasaan anak. Apakah dia terlihat merasa bersalah atau tidak, apakah sedih, apakah marah, dan sebagainya.
  2. Jika anak terlihat tidak merasa bersalah dan tidak tampak memiliki emosi tertentu (marah, sedih, dan sebagainya), bukan masalah jika kita kemudian langsung menanyakan alasannya melakukan hal itu.
  3. Tapi, jika anak tampak mengalami suatu emosi, hal terpenting yang harus dilakukan adalah meredakan emosi tersebut.
  4. Jika emosi itu adalah merasa bersalah dan sedih, perlu diredakan dengan membantu anak menyadari perasaan itu. Caranya, misalnya dengan seperti yang saya lakukan pada kasus Ganesh, yaitu dengan menyampaikan secara verbal dan konkret kesalahannya, sehingga kemudian dia menangis dan selanjutnya meredakaannya dengan mengajaknya minta maaf.
  5. Jika emosi itu adalah marah, maka anak perlu ditenangkan terlebih dahulu. Misalnya dengan kata-kata, "Sabar sayang…" kemudian memeluknya, dan sejenisnya.
  6. Selanjutnya, setelah anak lebih tenang, maka dia pun akan lebih siap untuk ditanyai dan memberikan jawaban terkait 'kesalahan' yang dilakukannya.
Selanjutnya, pada saat berusaha mencari informasi (menginterogasi) kesalahan anak, kita pun harus sadar, bahwa hal itu sesungguhnya adalah hal yang tidak nyaman baginya. Coba saja bayangkan kita melakukan kesalahan, yang tentu saja itu adalah aib, sesuatu yang kita tidak nyaman memberitahukannya pada orang lain… dan kemudian seseorang berusaha meminta kita menceritakan kepadanya. Pretty sure, rasanya sungguh tidak nyaman… namun, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat anak merasa lebih nyaman:
  1. Berbicara empat mata. Duh, yang namanya aib, kan sebenarnya tidak ingin kita ceritakan pada siapa-siapa ya? Begitu juga dengan anak… Dia pun sesungguhnya tidak akan merasa nyaman bercerita pada orang lain, apalagi banyak orang. So, setting pembicaraan yang personal, hanya dua orang yang terlibat akan lebih nyaman untuk anak. Dan, jangan sampai justru menanyai anak di depan banyak orang, seperti teman-temannya atau guru lain.
  2. Membuat anak merasa nyaman. Coba bayangkan seseorag bertanya kepada kita dengan pandangan mata yang tajam dan nada suara yang tinggi… bagaimana rasanya? Sumpah, ga enak banget kan… So, that's how we do… Sebisa mungkin, minimalkan judging atau menghakimi anak pada saat bertanya. Kita harus berusaha menempatkan diri pada posisi anak, bahwa mereka pun merasa tidak nyaman dengan kesalahannya, dan sesungguhnya kita hanya berusaha membantunya.
  3. Meminta bantuan orang yang dekat dengan anak. Yes, seperti halnya kita, berbicara dengan orang yang dekat dan kita percaya itu jauh lebih nyaman daripada seseorang yang tidak terlalu dekat dengan kita. So, jika memang kita sebagai guru misalnya, sudah mencoba menanyai anak, namun dia tidak mau bercerita, ada baiknya kita serahkan pada orang-tua yang kemungkinan besar dekat dengan anak.
***

Nah, lalu, kembali ke cerita tentang Ganesh… pada perjalanan pulang dari sekolah, di dalam mobil, berdua saja, saya pun kembali bertanya padanya perihal kejadian tadi di sekolah… "Anesh, coba Anesh pikirin lagi… sebenarnya tadi kenapa sih kok cakar Dino?" tanya saya. Kemudian Ganesh jawab singkat, "Ga tahu…"

Dari cara menjawabnya, saya tahu jika Ganesh mungkin memang belum menyadari alasannya mencakar Dino. Kemudian, saya tanya lagi, "Anesh, tadi marah atau kenapa pas mau cakar Dino?" Kemudian Ganesh menangis dan berkata, "Dino itu suka bilang ke Anesh, nyuruh Anesh diem…"

"Jadi, Anesh ga suka ya Dino ngomong gitu ke Anesh? Anesh marah?" Anesh hanya diam… Lalu saya bertanya lagi, "Tadi, pas sebelum Anesh cakar Dino, Dino juga nyuruh Anesh diem ya?" Dan seperti dugaan, Ganesh menjawab, "Iya…"

OK, satu clue terkantongi, alasan Ganesh mencakar temannya sebenarnya adalah marah karena temannya menyuruhnya diam.

Sebagai seorang dewasa, saya sendiri sebenarnya merasa bahwa hal sepele semacam itu sebenarnya tidak perlu ditanggapi sampai melukai secara fisik seperti itu. Tapi, ini adalah anak-anak, baiklah, saya berusaha memahami bahwa mungkin itu adalah ekspresi marahnya Ganesh karena berkali-kali disuruh diam oleh temannya. Make sense… tapi, tentu bukan berarti saya membenarkan ya…

Dan kenyataannya, mahkamah konstitusi pun menetapkan usia anak bisa dimintai pertanggung-jawaban pidana adalah 12 tahun, which masih jauh lah Ganesh ya… kan umurnya baru mau delapan tahun. Disini saya bukan mau melihat Ganesh sebagai bersalah atau tidak, hanya memberi gambaran bahwa anak-anak memang memiliki pemikiran yang belum matang, sehingga terkadang mengambil keputusan yang kurang bisa diterima oleh orang dewasa.

Toh Ganesh sudah merasa sangat bersalah atas kesalahannya… Dia berjanji tidak akan mengulangi apa yang dilakukannya pada Dino… Yah, itu sangat cukup lah. Kejadian itu hanya terjadi sekali, meskipun seminggu kemudian, ada lagi ulahnya yang lain, yaitu memanjat gawang, tiang bendera, dan pagar sekolah… **tepok jidat**

Yah, mungkin Ganesh hanyalah anak yang aktif dan memiliki banyak energi, mungkin dia anak yang butuh tantangan fisik, mungkin dia hanya bosan dengan rutinitas yang mengalir seperti air, dan banyak kemungkinan-kemungkinan lain. Sebagai orang-tua, saya masih terus meraba-raba, mencari tahu, dan belajar dari anak-anak saya. Dan tentu, sebisa mungkin saya berusaha menghargai mereka sebagai seorang individu yang punya perasaan juga…

Dan kemudian, ternyata saya melantur ceritanya… Baiklah saatnya mengakhiri post ini… 

***

Pada intinya, hal yang ingin saya sampaikan dari cerita ini adalah tentang bagaimana mencari informasi atau menginterogasi anak dengan manusiawi… dengan cara-cara yang membuat mereka nyaman. Karena meskipun masih kecil, mereka pun memiliki perasaan seperti kita orang dewasa…

Demikian, semoga bermanfaat untuk teman-teman yang membaca cerita ini…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments :

Post a Comment