SOCIAL MEDIA

search

Thursday, January 17, 2019

Review Film 'How to Train Your Dragon 3': Mengajarkan Kepemimpinan pada Anak

'Menonton film ke bioskop', dulu adalah suatu kegiatan yang nyaris tidak pernah saya lakukan sebelum menikah. Sekitar tahun 2008, pada saat diklat prajabatan di Udiklat Slipi, Wall-E adalah film pertama yang saya tonton di bioskop. Itu pun karena seorang teman saya berbaik hati membelikan saya tiket… Sebelumnya, mana kepikiran lah mau nonton di bioskop, uangnya mendingan buat fotokopi sama beli buku. Saya ga merasa ada urgensi dari menonton di bioskop, nonton TV aja cukup lah…

Hal ini bertahan sangat lama karena kemudian mendapatkan penempatan di daerah yang cukup pelosok yang ga ada bioskop… Sampai akhirnya, kami sekeluarga pindah ke Kota Bandar Lampung, anak-anak mulai gede, kemudian nonton di bioskop pun menjadi salah satu alternatif pilihan kegiatan refreshing di kala libur, khususnya pada saat ada film anak sedang tayang.

Seperti halnya, Hari Minggu (13-01-2019) lalu… Berhubung  suami sedang ada pekerjaan di luar kota dan pas juga film "How To Train Your Dragon 3" sedang tayang, saya pun memutuskan mengajak anak-anak nonton saja. Kegiatan yang lebih sederhana dan hemat tenaga dibandingkan main outdoor ke suatu tempat, main di playland atau di Timezone sekalipun. Jadi, setelah Sabtu-nya bermain di rumah saja seharian, Minggu-nya kami berempat (ajak mbak Susi juga) pun merealisasikan rencana ini, dan berikut adalah sedikit review mengenai film ini…

Foto dari: imdb
Cerita Singkat. Pada sekuelnya yang kedua ini, Hiccup yang telah diangkat menjadi pemimpin Berk menggantikan ayahnya dan berhasil mewujudkan sebuah tempat dimana manusia dan naga bisa hidup berdampingan dengan damai.

Namun, meskipun Berk telah berubah menjadi tempat yang nyaman untuk manusia bersama naga, Hiccup bersama kawan-kawannya masih terus melakukan penyelamatan naga dari para pemburunya. Dimana hal ini kemudian membuat Berk menjadi tempat yang dipenuhi naga dan justru menjadi sasaran para pemburu naga.

Hingga pada satu misi, mereka (Hiccup dan kawan-kawannya) berhadapan dengan sekelompok pemburu naga dan berhasil menyelamatkan semua naga, kecuali seekor Night Fury berwarna putih (Light Fury) yang bisa menyamar.

Light Fury kemudian diantarkan kepada pemburu naga lain bernama Grimmel the Grisly yang kemudian menggunakannya untuk memburu Toothless (naga milik Hiccup) dan menyerahkannya pada kelompok pemburu naga tersebut.

Beberapa hari kemudian, Toothless dan Light Fury pun bertemu dengan skenario Grimmel. Dimana setelah pertemuan ini Toothless kemudian mulai (sebut saja) jatuh cinta pada Light Fury dan penasaran akan keberadaannya.

Pada saat yang bersamaan, Hiccup bersama penduduk Berk pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat mereka sebelumnya untuk mencari suatu tempat bernaama 'Hidden World'. Dimana mereka berharap, disana mereka dapat hidup dengan damai bersama para naga tanpa diketahui keberadaannya oleh dunia luar, khususnya para pemburu naga.

Pada beberapa kesempatan, Toothless terlibat dalam situasi dimana Light Fury kemudian meninggalkannya terbang ke angkasa dan tidak dapat mengejar karena dia tidak bisa terbang sendirian tanpa Hiccup. **Pada 'How to Train Your Dragon 1' diceritakan bahwa ekor Toothless karena sirip ekornya yang hilang dan Hiccup membuatkannya sirip palsu yang harus dikendalikan oleh penunggannya (Hiccup)**

Karena iba kepada Toothless, kemudian Hiccup pun melakukan penyempurnaan pada sirip buatan Toothless sehingga dia bisa terbang sendiri tanpa bantuan Hiccup.

Kemudian, Toothless pun terbang bersama Light Fury yang membawanya ke Hidden World, dan keduanya menjadi raja dan ratu.

Hiccup yang merasa kehilangan Toothless, selanjutnya pun berusaha mencari Toothless bersama Astrid (kekasihnya). Mereka berdua (Hiccup dan Toothless) pun menemukan Toothless di Hidden World. Dimana, pada saat para naga kemudian menyerang mereka berdua, kemudian Toothless membantunya dan terpaksa meninggalkan Hidden World. Melalui kejadian ini lah, kemudian Hiccup merasa bahwa Hidden World memang adalah tempat paling aman bagi para naga, meskipun ini berarti dia dan para manusia harus melepaskan mereka (para naga).

Beberapa saat kemudian, Light Fury hadir mengejar Toothless, dan pada saat bersamaan Grimmel pun menyerang dan menangkapnya bersama para naga.

Selanjutnya, Hiccup bersama kawan-kawannya kemudian berusaha menyelamatkan para naga dan terlibat dalam pertempuran dengan Grimmel dan Light Fury yang diberi kalung racun sehingga menurut pada Grimmel.

Hiccup dan Toothless kemudian mengejar Grimmel dan Light Fury. Grimmel kemudian menembak Toothless; Hiccup melepaskan kalung racun Light Fury dan memintanya menyelamatkan Toothless yang terjatuh dari angkasa, mengorbankan dirinya sendiri yang juga terjatuh.

Namun kemudian, Light Fury berhasil menyelamatkan Toothless dan membawanya ke tempat yang aman dengan cepat dan kembali menyelamatkan Hiccup.

Moral Cerita yang Bisa Disampaikan pada Anak. Pada awalnya, sebenarnya saya kurang mendapatkan nilai moral yang terkandung dalam cerita, sampai kemudian Ganesh berceletuk, "Mama, kenapa naga yang lain nurutin Toothless? Kan Toothless itu lebih kecil…" Yang kemudian dia lanjutkan lagi, "Ooh, Anesh tau… itu karena Toothless itu lebih kuat ya Mama?"

Aha! That's it! Salah satu nilai moral yang terkandung dalam film ini adalah tentang kepemimpinan! Yaitu bagaimana Toothless yang notabene memiliki tubuh lebih kecil, tapi diterima sebagai pemimpin oleh naga lainnya. Juga Hiccup yang notabene pun bertubuh kecil, tidak sekuat teman lainnya, dan bahkan kakinya buntung sehingga menggunakan kaki palsu.

Kemudian, saya pun bilang pada Ganesh…

"Anesh, Toothless itu namanya pemimpin… pemimpinnya para naga… Apa yang dia bilang, didengerin dan diturutin sama naga lainnya. Untuk jadi pemimpin seperti Toothless, bukan cuma butuh besar badannya atau kuat. Toothless emang kuat, tapi bukan cuma karena itu dia didengerin dan diikutin omongannya sama naga lainnya. Selain kuat, Toothless itu baik… dia suka nolongin temennya; nolongin naga lain, orang lain, dan juga Hiccup."

"Selain itu, Toothless pinter dan kuat juga sih… Dan itu dia pakai untuk melindungi teman-temannya… Karena itu, naga lain suka dan hormat sama Toothless. Jadi, mereka jadiin Toothless pemimpin deh… Dan mereka mau dengerin, terus nurutin katanya Toothless…"

"Begitu juga Hiccup… dia ga kuat Kak, malahan kakinya yang sebelah palsu kan… Tapi Hiccup itu pinter. Pada saat teman-temannya bingung pas ada masalah, misalnya pas semua naga diambil sama Grimmel, dia punya ide gimana caranya melawan Grimmel dan ambil lagi naganya. Hiccup juga baik dan suka nolongin temannya; bahkan dia mau berkorban kan pas Toothless mau jatuh, dia nyuruh Light Fury selamatin Toothless dulu… Dia ga mikirin dirinya sendiri… Makanya, temen-temennya juga jadiin Hiccup pemimpin Berk…"

Dan dengan nasehat sepanjang itu, Ganesh mendengarkan saya dengan antusias… Setelah itu, bahkan dia jadi bersikap lebih dewasa bersama adiknya. Dia lebih mengalah dan tidak memaksakan keinginannya pada adiknya. Juga, saya melihat dia jadi tidak hanya fokus pada keinginannya, tapi mencari jalan tengah saat terjadi konflik.

Misalnya begini nih… Ganesh bikin mainan baru, lalu adiknya pengen dan nangis… Seringnya, ya Ganesh akan fokus pada maunya, keukeuh mempertahankan mainannya. Ini, enggak… dia kemudian nawarin adiknya buat pinjem aja. Adiknya masih nangis lagi, dia tambahin lagi naikin lagi tawarannya, "Ya udah, Adek boleh pinjem sampe dua hari… gapapa…"

Wah, saya amazed lho… tapi ya tau sih, kalo efeknya ga permanen… Ini karena euforia habis nonton dan dia tersentuh banget sama sosok Toothless dan Hiccup. Cuma, tetap ini sesuatu yang baik, anak jadi tahu apa itu 'pemimpin' dan karakteristik yang harus dimiliki seorang pemimpin, tinggal bagaimana selanjutnya kita mengulang pemahaman ini dalam berbagai situasi.

***

Yess! Itu kenapa saya sekarang hobi hunting film anak-anak untuk ditonton bersama mereka, di rumah ataupun di bioskop. Karena pada dasarnya, pemikiran anak-anak masih terbatas mengenai konsep yang konkret, sehingga perlu gambaran yang konkret juga untuk menjelaskan konsep yang cukup rumit seperti pemimpin, bijaksana, tidak egois, dan sebagainya. Dalam hal ini, film adalah salah satu media yang memfasilitasi semua itu, selain juga cerita, buku bergambar, dan sejenisnya.

Jadi, Hari Kamis begini, saya sudah mulai hunting film yang bisa ditonton bareng sama anak-anak hari Jumat, Sabtu atau Minggu nanti.

Teman-teman gimana? Suka nonton bareng anak-anak juga? Ada rekomendasi film bagus mungkin?

With Love
Nian Astiningrum
-end-


No comments :

Post a Comment