SOCIAL MEDIA

search

Thursday, January 24, 2019

Berbagai Alat Kontrasepsi (Alat KB) dan Faktanya

Baiklah… kali ini saya ingin menulis sesuatu yang sedikit berbau 'dewasa', hihi 😃. Jadi, tolong yang belum 17 tahun, jangan baca dulu ya… 🙅

Oke, kali ini saya ingin berbagi tentang metode kontrasepsi. Sebenarnya ini terinspirasi dari obrolan dengan seorang teman yang bertanya saya pake KB apa. (Keluarga Berencana yang menjadi sebutan umum untuk alat kontrasepsi). Dan di ujung ceritanya, kemudian teman saya itu bertanya tempat bidan yang bisa melakukan suntik KB.



Nah, loh… saya yang tidak menggunakan alat kontrasepsi atau KB secara fisik pun kemudian bingung dan tidak bisa merekomendasikan apapun, baik sebaiknya memakai KB apa atau harus kemana…😅

OK, saya tidak menggunakan alat kontrasepsi fisik, bukan berarti tidak melakukan perencanaan kehamilan ya… Saya dan suami tetap memiliki komitmen untuk mengatur jarak kehamilan, tapi memang caranya tidak menggunakan (sebut saja) IUD, pil, suntik, implan, dan sebagainya. Nah, misteri kan jadinya, metode kontrasepsi apakah yang kami gunakan? Well, nanti akan kami ceritakan… Tapi, sebelumnya, saya akan cerita sedikit mengenai berbagai alat kontrasepsi, sekalian saya belajar lagi dan bisa kasih rekomendasi ke teman-teman juga.

***

Jadi, ternyata metode kontrasepsi itu ada banyak macamnya dengan tingkat efektifitas yang berbeda-beda. Dimana efektifitas yang dimaksud disini adalah terkait kemampuannya mencegah kehamilan. Mereka adalah…

💡 IMPLAN.  Implan atau susuk adalah sebuah batang plastik fleksibel yang diletakkan di bawah kulit pada lengan atas kita. Implan ini akan melepaskan hormon progesteron dalam aliran darah kita untuk mencegah kehamilan selama kurang lebih 3 tahun.

Fakta tentang implan:
  • Tingkat efektifitas lebih dari 99%
  • Sekali ditanam, kita tidak perlu repot memikirkan mengenai alat kontrasepsi selama 3 tahun
  • Sangat berguna bagi wanita yang tidak bisa menggunakan alat kontrasepsi yang menggunakan estrogen.
  • Sangat membantu wanita yang cenderung pelupa untuk meminum pil setiap hari.
  • Bisa dikeluarkan, bila ternyata memiliki efek samping.
  • Bisa dilepaskan setiap saat dan kesubutan akan kembali dengan cepat.
  • Pada saat dipasang pertama kali, mungkin akan terasa memar atau bengkak di area penanaman implan.
  • Menstruasi menjadi tidak teratur, lebih sedikit, lebih banyak atau lebih lama.
  • Terdapat kemungkinan efek samping berhentinya menstruasi sama sekali (amenorrhea) yang sebenarnya tidak berbahaya, namun perlu dipertimbangkan.
  • Beberapa obat dapat menyebabkan implan menjadi kurang efektif.
  • Implan tidak mencegah Penyakit Menular Seksual

💡 INTRA UTERINE DEVICE (IUD).  IUD adalah alat berbentuk 'T' dari plastik dan tembaga yang diletakkan dalam uterus dan akan melepaskan tembaga untuk mencegah kehamilan selama 5 sampai dengan 10 tahun.

Fakta tentang IUD:
  • Jika diletakkan dengan benar, IUD memliki efektifitas lebih dari 99%.
  • IUD bekerja segera setelah ditanam hingg 5 sampai 10 tahun, tergantung tipenya.
  • Bisa ditanam kapan saja selama periode menstruasi, selama kita tidak hamil.
  • IUD bisa dikeluarkan kapan saja, dan kita segera hamil.
  • Menstruasi dapat menjadi lebih banyak, lama atau lebih sakit pada 3 sampai 6 bulan pertama IUD ditanam.
  • Risiko kecil terjadinya infeksi.
  • Risiko kecil tubuh kita mendorong atau merubah posisi IUD.
  • Rasa tindak nyaman pada saat IUD dipasang.
  • Kemungkinan tidak cocok jika kita memiliki infeksi pada pelvic (panggul).
  • Tidak mencegah penularan Penyakit Menular Seksual, sehingga memerlukan penggunaan kondom.

💡 INTRA UTERINE SYSTEM (IUS).  IUS adalah alat dari plastik berbentuk 'T' yang diletakkan dalam uterus untuk mencegah kehamilan. IUS akan melepaskan hormon progesteron untuk mencegah terjadinya kehamilan selama 3 sampai dengan 5 tahun.

Fakta tentang IUS:
  • Jika dipasang dengan benar, tingkat efektifitasnya lebih dari 99%.
  • Bisa dilepaskan kapan saja dan memungkinkan untuk segera hamil setelahnya.
  • IUS dapat menyebabkan menstruasi lebih ringan, pendek dan bahkan berhenti, sehingga dapat membantu wanita yang memiliki periode menstruasi yang berat atau sakit.
  • Bisa digunakan oleh wanita yang tidak dapat menggunakan alat kontrasepsi kombinasi, misalnya karena migrain.
  • Sekali dipasang, kita tidak perlu khawatir mengenai pencegahan kehamilan.
  • IUS dapat dipasang kapan saja pada saat periode menstruasi.
  • Beberapa wanita mengalami efek samping, seperti mood swings, permasalahan kulit dan payudara yang mengencang.
  • Risiko kecil terjadinya infeksi.
  • Tidak nyaman pada saat pemasangan IUS.
  • IUS tidak melindungi dari Penyakit Menular Seksual, sehingga membutuhkan kondom.

💡 STERILISASI PADA WANITA.  Sterilisasi pada wanita bekerja dengan cara mencegah ovum mencapai tuba falopi, sehingga ovum tidak dapat bertemu dengan sperma. Ovum sendiri sesungguhnya tetap dilepaskan dari ovarium, tapi mereka akan diserap secara alami oleh tubuh wanita.

Fakta mengenai sterilisasi pada wanita:
  • Tingkat efektifitas lebih dari 99%.
  • Tidak perlu khawatir tentang kehamilan, namun tidak mengganggu kehidupan seksual kita.
  • Tidak mempengaruhi level hormon dan kita akan tetap mengalami siklus menstruasi.
  • Kita masih memerlukan alat kontrasepsi lain sampai dengan periode menstruasi atau 3 bulan setelah operasi.
  • Risiko kecil terjadinya komplikasi, seperti pendarahan internal, infeksi atau kerusakan pada organ lain.
  • Jika, operasi gagal, dapat meningkatkan terjadinya ectopic pregnancy atau hamil di luar kandungan.
  • Sterilisasi tidak dapat dikembalikan (bersifat permanen).
  • Sterilisasi tidak melindungi penularan Penyakit Menular Seksual, sehingga kita masih memerlukan kondom.

💡 STERILISASI PADA PRIA.  Sterilisasi pada pria adalah tindakan operasi untuk memotong atau menutup tuba yang membawa sperma pria untuk mencegah terjadinya kehamilan secara permanen.

Fakta mengenai sterilisasi pada pria:
  • Tingkat efektifitas lebih dari 99%
  • Sifatnya permanen, sehingga tidak perlu khawatir mengenai kontrasepsi lagi setelahnya.
  • Tidak mempengaruhi hasrat seks dan kemampuan menikmati seks.
  • Memerlukan penggunaan alat konstrasepsi paling tidak 8 sampai dengan 12 minggu setelah operasi.
  • Memerlukan 2 kali semen test setelah operasi untuk memastikan bahwa seluruh sperma sudah tidak ada.
  • Kemungkinan scrotum menjadi memar, bengkak atau sakit, atau pada testicles.
  • Risiko kecil terjadinya infeksi.
  • Bersifat permanen, tidak bisa dikembalikan.
  • Tidak mencegah penularan Penyakit Menular Seksual, sehingga masih membutuhkan penggunaan kondom.

💡 INJEKSI / SUNTIK.  Metode kontrasepsi ini dilakukan dengan cara memasukkan progestin (hormon yang menyerupai progesteron yand diproduksi oleh ovarium). Setelah disuntikkan, hormon ini akan berefek pada mengentalnya leher rahim, sehingga sel sperma sulit mencapai rahim, selain juga mencegah ovulasi dan membuat dinding rahim tidak kondusif untuk kehamilan.

Fakta mengenai injeksi / suntik:
  • Jika digunakan dengan benar, alat kontrasepsi injekasi memiliki efektifitas lebih dari 99%.
  • Mencegah kehamilan selama 8 atau 13 minggu (3 bulan) sesuai jenisnya, sehingga dalam jangka waktu tersebut, kita tidak perlu khawatir mengenai alat kontrasepsi.
  • Sangat membantu bagi wanita yang sulit mengingat untuk minum pil setiap hari.
  • Berguna bagi wanita yan gtidak bisa menggunakan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen.
  • Tidak terpengaruh oleh obat-obatan lain.
  • Kita harus mengingat kapan harus mengulangi injekasi sebelum perlindungannya berakhir.
  • Efek samping bisa meliputi: penambahan berat badan, sakit kepala, mood swings, nyeri payudara, dan pendarahan yang tidak biasa.
  • Menstruasi dapat menjadi semakin tidak teratur, lebih banyak, lebih pendek, lebih sedikit, atau benar-benar berhenti.
  • Membutuhkan waktu sampai dengan 1 tahun untuk mengembalikan kesuburan setelah tidak dilakukan injeksi lagi.
  • Tidak mencegahpenularan Penyakit Menular Seksual.

💡 PIL KOMBINASI.  Pil kombinasi merupakan kombinasi dari hormon estrogen dan progesteron, dimana hal ini mencegah ovarium melepaskan telur setiap bulan. Disamping itu, pil kombinasi ini juga mengentalkan lendir di leher rahim, sehingga sperma lebih sulit untuk mencapai telus dan menipiskan rahim sehingga telur yang dibuahi tidak dapat berkembang.

Fakta mengenai pil kombinasi:
  • Jika digunakan dengan benar memiliki tingkat efektifitas lebih dari 99% untuk mencegah kehamilan.
  • Dapat mengurangi sakit pada awal menstruasi dan endometriosis.
  • Cara paling umum penggunaan pil adalah dengan mengkonsumsi satu setiap hari selama 21 hari, kemudian berhenti selama 7 hari, dan kembali mengkonsumsi setelahnya.
  • Kita perlu meminum pil pada saat yang relatif sama setiap harinya.
  • Beberapa obat mengurangi efektifitas dari pil.
  • Efek samping minor meliputi: mood swings, mual, nyeri payudara, dan sakit kepala.
  • Belum ada uji klinis yang membuktikan pil mempengaruhi peningkatan berat badan.
  • Risiko sangat kecil akan efek samping serius seperti penggumpalan darah dan kanker serviks.
  • Tidak cocok untuk wanita di atas 35 tahun yang merokok atau wanita dengan kondisi medis tertentu.
  • Tidak mencegah penularan Penyakit Menular Seksual, sehingga membutuhkan penggunaan kondom.

💡 PIL PROGESTERONE.  Pil progesteron mencegah kehamilan dengan mengentalkan lendir pada serviks untuk menghentikan sperma mencapai sel telur.

Fakta mengenai pil progesterone:
  • Jika digunakan dengan benar, tingkat efektifitasnya lebih dari 99%.
  • Kita perlu meminum pil setiap hari tanpa jeda.
  • Pil progesteron bisa digunakan oleh wanita yang tidak bisa menggunakan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen.
  • Kita bisa menggunakan pil progesteron jika berusia 35 tahun maupun merokok.
  • Kita harus meminum pil progesteron pada saat yang sama setiap hari atau efektifitasnya akan menurun.
  • Jika kita sakit (muntah) atau diare parah, pil progesteron mungkin tidak bekerja dengan baik.
  • Beberapa obat-obatan mungkin mempengaruhi efektifitas pil progesteron.
  • Menstruasi kita mungkin berhenti atau lebih sedikit, tidak teratur atau lebih sering.
  • Efek samping mungkin meliputi bercak pada kulit dan nyeri pada payudara yang seharusnya berhenti setelah beberapa bulan.
  • Pil progesteron tidak mencegah penularan Penyakit Menular Seksual sehingga diperlukan penggunaan kondom.

💡 KOYO KB (CONTRACEPTIVE PATCH).  Koyo KB (Contraceptive Patch) adalah koyo kecil dan lengket yang melepaskan hormon melalui kulit untuk mencegah kehamilan.

Fakta mengenai Koyo KB:
  • Jika digunakan dengan benar memiliki tingkat efektifitas lebih dari 99% untuk mencegah kehamilan.
  • Setiap koyo memiliki masa 1 minggu dan kita harus menggunakan selama 3 minggu serta 1 minggu off.
  • Kita tidak perlu khawatir mengenai kontrasepsi setiap hari dan koyo tetap efektif pada saat kita sakit (muntah) atau diare.

💡 CINCIN VAGINA (VAGINAL RING).  Cincin Vagina adalah cincin plastik kecil dan lembut yang ditempatkan di dalam vagina. Cincin ini secara kontinyu akan melepaskan hormon estrogen dan progesteron ke dalam aliran darah untuk mencegah kehamilan.

Fakta mengenai Cincin Vagina:
  • Jika digunakan dengan benar, Cincin Vagina memiliki efektivitas lebih dari 99%.
  • Cincin efektif melindungi selama sebulan, sehingga kita tidak perlu khawatir selama jangka waktu tersebut.
  • Kita dapat berhubungan seksual dengan aman pada saat cincin berada pada tempatnya.
  • Tidak seperti pil, cincin masih bekerja, meskipun kita sakit (muntah) atau diare.
  • Cincin dapat meringankan symtom pra-menstruasi dan pendarahan mungkin menjadi lebih ringan dan berkurang sakitnya.
  • Beberapa wanita mungkin mengalami efek samping temporer, termasuk bertambahnya pengeluaran cairan vagina, nyeri pada payudara, dan sakit kepala.
  • Meskipun jarang, beberapa wanita mengalami pembekuan darah pada saat menggunakan cincin.
  • Cincin kadang dapat keluar dengan sendirinya, tapi kita bisa membilasnya dengan air hangat dan mengembalikannya ke tempat semual sesegera mungkin.
  • Tidak melindungi Penyakit Manular Seksual, sehingga kita membutuhkan perlindungan kondom.

💡 METODE KONTRASEPSI ALAMI (NATURAL FAMILY PLANNING).  Merupakan metode kontrasepsi dimana seorang wanita memonitor dan merekam berbagai sinyal masa subur pada siklus menstruasinya untuk melakukan pencegahan kehamilan.

Fakta mengenai Metode Kontrasepsi Alami:
  • Jika dilakukan dengan benar, Metode Kontrasepsi Alami memiliki tingkat efektifitas hingga 99%.
  • Jika tidak mengikuti instruksi dengan benar, metode ini akan menjadi kurang efektif.
  • Tidak ada efek samping secara fisik.
  • Kita perlu mencatat sinyal kesuburan setiap hari, seperti suhu dan cairan serviks dan membutuhkan waktu 3 hingga 6 siklus menstruasi untuk mempelajari metodenya.
  • Sinyal kesuburan dapat dipengaruhi sakit, stress, dan kelelahan.
  • Jika kita ingin melakukan hubungan seksual pada saat masa subur, kita perlu menggunakan alat kontrasepsi, seperti kondom atau diafragma.
  • Dengan menggunakan kondom sekaligus Metode Kontrasepsi Alami, kita akan terjaga dari Penyakit Menular Seksual.

💡 KONDOM.  Terdapat dua tipe, yaitu kondom pria dan kondom wanita. Kondom merupakan satu-satunya alat kontrasepsi yang bisa mencegah kehamilan dan penularan Penyakit Menular Seksual.

Fakta mengenai Kondom:
  • Memiliki tingkat efektifitas 98% jika digunakan dengan benar.
  • Produk berbahan dasar minyak, seperti moisturiser dan lotion bisa merusak kondom dengan bahan lateks dan polyisoprene, aman untuk kondom dengan bahan polyurethane.
  • Pelumas berbahan dasar air aman untuk semua jenis kondom.
  • Ada kemungkinan kondom terlepas saat melakukan hubungan seksual.
  • Kondom harus disimpan di tempan yang tidak terlalu panas atau dingin, dan terhindar dari permukaan yang kasar atau tajam yang bisa merusaknya.
  • Jika kita sensitif terhadap lateks, kita bisa menggunakan kondom dari bahan polyurethane atau polyisoprene.

💡 DIAFRAGMA.  Alat kontrasepsi diafragma adalah silikon tipis dan lembut berbentuk bulat yang dimasukkan di dalam vagina sebelum berhubungan seksual. Diafragma ini akan melindungi serviks, sehingga sperma tidak bisa mencapai rahim untuk membuahi sel telur.

Fakta mengenai Diafragma:
  • Jika digunakan dengan benar, diafragma memiliki efektifitas antara 92 - 96% untuk mencegah kehamilan.
  • Tidak ada risiko kesehatan serius.
  • Kita harus mempersiapkannya setiap kali akan melakukan hubungan seksual.
  • Kita bisa menggunakan diafragma bersama spermicide setiap saat sebelum melakukan hubungan seksual.
  • Lebih banyak spermicide dibutuhkan jika sudah digunakan lebih dari tiga jam.
  • Selama 6 jam setelah berhubungan seksual, diafragma harus tetap berada di tempatnya.
  • Membutuhkan waktu untuk mempelajari penggunaannya.
  • Beberapa wanita mengalami peradangan pada kandung kemih (cystitis) saat menggunakan diafragma, dimana hal ini mungkin terbantu dengan pemeriksaan oleh dokter atau bidan jika memerlukan penggantian ke ukuran yang lebih kecil.
  • Memerlukan penggantian ukuran baru jika berat badan kita naik atau turun lebih dari 3 kg, melahirkan, atau keguguran.

***

Woo, ternyata alat kontrasepsi itu macem-macem ya… Saya sih baru familiar dengan suntik, pil, dan IUD aja.

Dengan banyaknya pilihan alat kontrasepsi ini, tentu kita kemudian harus jeli memilih mana yang cocok dengan kita. Baik dari sisi biologis, psikologis, dan juga ekonomi.

Dari sisi biologis, beberapa hal yang harus kita pertimbangkan adalah:
  • Apakah kita masih menyusui → pilih alat kontrasepsi non hormonal yang tidak mengganggu produksi ASI; seperti IUD, kondom.
  • Apakah kita ingin memiliki anak dalam waktu dekat → pilih alat kontrasepsi non hormonal, sehingga kesuburan dapat dikembalikan dengan cepat setelah tidak digunakan; seperti IUD, kondom, diafragma, dan sebagainya.
  • Efek pada tubuh kita, apakah menimbulkan ketidaknyamanan pada tubuh dan pengaruh pada kesehatan → pilih alat kontrasepsi yang paling aman dan nyaman bagi tubuh kita.

Sedangkan dari sisi psikologis, kita pun perlu mempertimbangkan karakter psikologi kita, misalnya (yang paling sederhana) faktor ingatan. Kalau kita pelupa, lebih baik tidak memilih alat kontrasepsi pil yang memerlukan kedisiplinan tinggi.

Dan terakhir, yang tidak kalah penting adalah pertimbangan ekonomis, karena biaya yang diperlukan untuk masing-masing alat kontrasepsi pun bervariasi. Masih ingat dulu pada sehabis melahirkan Ganesh, dokter menawarkan berbagai alat kontrasepsi, termasuk IUS yang kala itu disebutkan harganya sekitar 4 juta rupiah untuk jangka waktu kurang lebih 5 tahun.

Lalu, saya sendiri pakai alat kontrasepsi yang mana? Hmm, kami sendiri lebih yakin menggunakan metode kontrasepsi alami dikombinasikan dengan kondom pada saat masa subur. Alasannya apa, metodenya bagaimana, dan juga pengalaman menggunakan metode ini seperti apa, akan ditulis di post terpisah nanti. Soalnya ini aja sudah panjang bener ternyata ya…

Nah, sampai disini… kalau teman-teman sendiri punya pengalaman apa nih soal alat kontrasepsi?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:
NHS.uk. Your Contraception Guide. https://www.nhs.uk/conditions/contraception/which-method-suits-me/. Diakses tanggal 22 Januari 2019.

No comments :

Post a Comment