Monday, February 23, 2015

Drama Fisiologis Pasca Melahirkan

Memiliki buah hati, tentu adalah hal yang sangat menggembirakan. Dan melahirkan sebagai proses akhir dari waktu selama sembilan bulan mengandung adalah sebuah klimaks yang menjadi gerbang pertemuan kita dengan sang buah hati. Ya, proses melahirkan yang seringkali menegangkan tentu akan selalu diakhiri dengan kebahagiaan dan kelegaan yang tidak terkira.


Melahirkan memang akhir dari proses mengandung yang membuat perut kita semakin hari semakin membesar dan membuat tubuh kita harus menopang beban yang juga semakin berat. Hmm, tanpa mengatakan bahwa hamil itu sesuatu yang penuh perjuangan (karena mayoritas wanita pasti bahagia menjalaninya), tapi hamil memang menguras lebih banyak energi fisik maupun psikis. Melahirkan akan mengakhiri ‘perjuangan’ itu, tapi akan membawa wanita pada perjuangan selanjutnya, baik perjuangan fisik maupun psikis, yang tentunya juga menuntut kita untuk sabar dan tekun untuk menjalaninya. Dan berikut adalah tantangan fisiologis seorang wanita pasca melahirkan menurut saya, yang tentunya menegaskan bahwa wanita adalah makhluk yang kuat…

1. Luka/trauma pada jalan lahir. Baik melahirkan secara normal (per-vaginum) maupun cesar, tentu akan meninggalkan luka/trauma yang membutuhkan waktu untuk memulihkannya. Saya sendiri (alhamdulillah) melalui proses melahirkan yang normal dan spontan untuk bertemu kedua jagoan saya. Untuk kelahiran anak pertama, saya mendapatkan episiotomi dan perlu mendapatkan jahitan, yang itu rasanya ‘cenat-cenut’ jika tidak hati-hati bergerak. Sedangkan untuk kelahiran anak kedua, saya bebas robekan dan jahitan, tapi meskipun lebih cepat sembuh, pada awalnya rasa pedih pada saat buang air kecil itu tetap ada selama beberapa hari. Luka/trauma pada jalan lahir tentu sesuatu yang mengganggu kenyamanan, apalagi melahirkan melalui operasi cesar yang menurut pendapat beberapa orang jauh lebih sakit dan lama sembuh dari itu. Nah, untuk mengatasinya ya dengan bergerak lebih hati-hati dan memilih posisi yang aman untuk luka kita, serta merawatnya supaya segera pulih.

2. Sembelit. Hmm, setelah melahirkan saya cenderung takut buang air besar. Akibatnya, feses menjadi keras, sulit dikeluarkan dan rawan menimbulkan wasir. Mungkin ini tidak dialami oleh semua wanita ya… tapi bagi saya, kondisi ini selalu terjadi pasca melahirkan. Dan untuk mengatasinya, yang paling mudah dan alami adalah dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah dan makanan berserat lainnya, serta minum (terutama air putih).

3. Payudara bengkak. Payudara bengkak yang saya maksud disini adalah pembengkakan yang disebabkan karena akan berproduksinya kelenjar air susu, yang menurut istilah Jawa disebut sebagai ‘merangkaki’ atau secara ilmiah disebut sebagai ‘engorgement’. Pembengkakan ini terjadi antara hari kedua sampai dengan hari kelima pasca melahirkan (pada kasus saya pada hari kedua). Hal ini ditandai dengan payudara yang membengkak, mengencang dan semakin berat. Rasanya sangat-sangat tidak nyaman dan menyakitkan, sampai-sampai saya memilih tidur sambil duduk selama beberapa hari saat mengalami hal ini. Bagi saya, tidur terlentang dengan kondisi payudara seperti itu cukup menyiksa, karena rasa sakit dan berat yang ditimbulkannya. Menurut referensi yang saya baca, merangkaki ini tidak hanya terjadi karena ASI yang ada dalam payudara kita, tapi karena adanya darah dan cairan getah bening yang lebih banyak dalam jaringan payudara. Untuk mengatasinya, kita dapat melakukan hal sebagai berikut:
·      Rutin melakukan perawatan payudara pasca melahirkan. Suster di RS mengajarkan saya untuk mengompres payudara dengan air hangat dan dingin bergantian sebanyak tiga kali, kemudian me-massage-nya dengan menggunakan baby oil dengan gerakan spiral, menggunakan buku-buku jari dan tepi tangan (bagian jari kelingking), ketiganya memutar payudara sebanyak lima kali dengan arah ke puting.
·      Mengompres payudara dengan air hangat untuk mengurangi rasa sakit.
·      Mandi air hangat dan mengaliri payudara dengan air hangat.
·     Menyusukan payudara pada bayi untuk melancarkan aliran ASI dan mencegah saluran air susu menjadi tersumbat.
· Memompa payudara untuk mengurangi pembengkakan jika bayi belum mampu mengkonsumsi ASI dengan intensitas yang cukup signifikan. Menurut pengalaman saya, memompa pada saat seperti ini memang cukup sulit dan hasilnya sangat sedikit, karena saluran air susu belum lancar dan Latch Down Reflect (LDR) yang membuat ASI mengalir ke puting belum terbentuk. Jadi memompa pada saat seperti itu sifatnya hanya mengurangi tekanan sekaligus merangsang aliran air susu.
·  Menggunakan bra menyusui dengan bahan lembut dan elastis, sehingga menghindari tekanan pada payudara yang membengkak.

4. Pembengkakan pada kaki. Nah, kalau yang ini menurut suster terjadi karena kita duduk dalam posisi kaki menggantung pasca melahirkan. Jadi untuk menghindari/menyembuhkannya, cukup dengan memperhatikan posisi duduk kita, usahakan mencari pijakan untuk kaki kita, jangan sampai kaki menggantung.

5. Nyeri pada perut/rahim. Nyeri pada perut/rahim ini menurut dokter terjadi karena rahim sedang berkontraksi untuk kembali ke ukuran semula. Waktu itu, dokter meresepkan pengurang rasa sakit, sehingga menurut pengalaman saya rasa nyerinya tidak terlalu mengganggu alias tidak tahu rasanya sebenarnya seperti apa :D.

***

Melahirkan dengan segala detail dan ‘tetek bengek’-nya memang sudah menjadi kodrat wanita untuk melakoninya, termasuk lima hal fisik yang terjadi pasca melahirkan di atas. Jadi, para wanita, kita patut berbangga dikaruniai fisik dan psikis yang kuat untuk menjalaninya. Dan para pria, para ayah dari seorang bayi yang baru hadir di dunia, peran kalian pun luar biasa dalam masa ini. Sensitivitas kalian yang ditunjukkan dengan perhatian dan bantuan baik fisik maupun psikis pada istri pasca melahirkan akan terasa sangat-sangat meringankan.

Oh ya, dan satu lagi kabar baiknya… proses melahirkan mungkin memang menimbulkan banyak perubahan dalam tubuh kita yang mengurangi kenyamanan. Namun, semua itu akan berkurang dan pulih perlahan-lahan sesuai waktu yang diperlukan. Jadi, kita hanya perlu bersabar menjalani rasa tidak nyaman itu, serta tekun merawat diri agar pemulihan bisa lebih cepat terjadi.

So, tetap semangat, positive thinking and happy parenting bagi seluruh ibu (dan ayah) untuk bayi yang baru hadir di dunia :). It’s hard offcourse, but joyfull at the same time

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

6 comments:

  1. kalau saya, ditambah trauma badan & wajah bengkak2 krn alergi anestesi mak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh.. ga kebayang ditambah satu lagi :D
      Harusnya dites alergi dulu sebelum kasih obat ya Mak.. untung ga fatal akibatnya '_'

      Delete
  2. fisik aku masih bisa ditahan sih mak, mental yang "lupa" disiapin.. pas hamil yang disiapin kebutuhan bayi aja, belajar tetek bengek soal bayi aja, lupa kalau saya juga harus menyiapkan mental kalau hidup ga akan sama lagi. dramanyaaaaa, sampai postingan blog isinya marah-marah semua. huahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya.. Saya ngalamin itu juga :D
      sampai anak kedua juga masih kok.. *jadi penasaran mampir ke blognya..

      Delete
  3. Senasib lah sama yg komen di atas. Fisik masih bisa ditahan2, Tp drama nya yang ga bisa, heheheh. Bekal persiapan mental ngurus anak yg belom siap, Mana omongan orang ini itu soal perawatan bayi, dll..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idem :D
      saya juga ngalamin.. apalagi sama sekali belum belajar ngerawat bayi, ga ada orang-tua.. makin banyak dramanya :D
      nanti saya ceritain di next blogpost.. hihi :D
      *mumpung masih anget :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...