Tuesday, July 25, 2017

Once Upon A Time in Bali With 5 and 2 Year Old Kids...

Pernah suatu kali saya berkelakar dengan suami, "Wajar lah ya, beberapa orang memandang kita ini cukup tajir padahal sebenarnya penghasilan sama aja… Lha wong kita ini ga pernah liburan kaya orang-orang… Coba aja bayangin, ga usah ke luar negeri deh, ke luar kota aja kalo memang niatnya memang liburan, yakin deh pasti banyak keluar duit…"

Dan suami hanya nyengir…

Bukannya kepengen liburan sih, karena memang saya tidak terlalu suka traveling. Menurut saya, traveling itu ribet. Saya lebih suka ngendon di rumah atau jalan-jalan ke tempat yang dekat untuk menghabiskan hari libur. Dan suami pun sepertinya begitu. Dia tidak terlalu berhasrat untuk menghabiskan waktu untuk liburan. Baginya alasannya sepele dan tidak terbantahkan. Tidak ada waktu. Titik. Haha…

Dan begitulah waktu berjalan hingga 6 tahun pernikahan kami, tidak sekali pun benar-benar traveling untuk liburan. And we feel fine… Sampai pada suatu hari, timbul juga hasrat untuk merencanakan liburan berempat gara-gara momen Garuda Travel Fair tahun 2016. Yes, pada hari itu, di luar kebiasaan, kami bersedia berdesak-desakan untuk mencari tiket liburan pertama kami, yang akhirnya kami putuskan ke Bali.

Awalnya, kami berencana untuk berangkat pada bulan Januari, sebelum usia Mahesh 2 tahun demi menghemat tiket pesawat. Tapi karena bentrok dengan acara pernikahan sepupu, akhirnya dimundurin. Walaupun akhirnya nikahan sepupu pun kami tidak bisa hadir karena saya kena flu parah sampai harus bed rest… Dan liburan ke Bali yang direncanakan di Bulan Maret pun musti reschedule ke Bulan April karena Mahesh yang sakit, yang berarti menambah cost lagi. Sehingga harga tiket kami berasa benar-benar ga promo lagi, hiks… Kalau dipikir dari sisi materi, sebenarnya ini jadinya ga fun lagi… But it's OK lah, sekali-sekali ini kan, harus sehat semua biar bisa benar-benar dinikmati bersama.

Dan akhirnya tibalah kami di Bali 12 April 2017…


Kami menginap di The Kuta Beach Heritage Bali yang berlokasi di seberang Pantai Kuta, tepatnya di Jl. Pantai Kuta, Br. Pande Mas. Kuta, Badung 80361. Bali-Indonesia. Sebagai seorang yang (seingat saya) ga pernah merasakan hotel yang premium, hotel ini sangat reccomended menurut saya. Lokasinya yang sangat dekat dengan pantai kuta, membuat suasana terasa syahdu oleh deburan ombak, meskipun kadang terdengar juga suara alunan konser musik yang diadakan di sekitar hotel –tapi, tenang, ga sampai berisik kok.



Selain lokasi; yang paling OK dari hotel ini adalah sarapannya yang enak, bervariasi dan tempatnya di dekat kolam renang outdoor di lantai atas! Ini keren! Karena kami bisa main-main air dulu dan langsung lanjut sarapan.

Oh ya, tapi ada satu masukan untuk hotel ini, untuk pintu masuk dari belakang ada baiknya dipasang penunjuk arah. Saat datang, kami sempat cukup lama kebingungan mencari tempat check in, yang ternyata dikarenakan kami salah masuk lewat pintu belakang! Yah, seharusnya, jika itu memang pintu belakang, karena lokasinya di pinggir jalan, akan sangat membantu jika diberikan penunjuk arah tempat check in. Dah itu aja minusnya, lainnya cukup OK.

Tempat favorit anak-anak di hotel, bathup!
Dan kalau mereka sudah di sini, sibuklah saya cekrak-cekrek,
soalnya desainnya eye catchy sekali :D
Selama di Bali, setelah beristirahat semalaman, siangnya –iya, siang, karena anak-anak susah diajak buru-buru dengan segala excitement-nya– kami pun mulai petualangan kami menjelajahi Bali ke tempat-tempat berikut ini:

Bali Safari & Marine Park
Yeay! Day one, kami akhirnya memutuskan untuk ke Bali Safari & Marine Park yang berlokasi di Jl. Bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Km. 19,8, Serongga, Kec. Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali 80551.

Ada beberapa wahana dan atraksi yang bisa kita nikmati disini, dimana tiket bisa dibeli di masing-masing wahana/atraksi. Di sini, kami bersenang-senang dengan cara:
  • Memberi makan gajah! Jadi, disana kita bisa membeli makanan gajah dan memberikannya dengan dipandu oleh mbak dan mas pawang gajahnya.
  • Mengelilingi taman safari dengan mobil. Ini pertama kalinya kami berwisata seperti ini, jadi rasanya benar-benar seru; melihat binatang-binatang bebas di area yang luas, sampai sempat berhenti untuk menunggu seekor gajah lewat. Lalu heboh pada saat mobil melewati  semacam kolam berair dan tentu saja excited dengan binatang-binatang yang ada di sana.
  • Berfoto dengan gorila! Tentu saja dengan bantuan mbak dan mas pawang di sana. Ambil fotonya juga bayar, tapi it's OK, kan untuk pengelolaan binatangnya juga.
  • Melihat atraksi hewan terlatih. Waktu itu, atraksi yang kami lihat adalah atraksi burung elang.
  • Melihat ikan dan hewan air dalam akuarium. Yang spesial sebenarnya adalah atraksi memberi makan ikan piranha, yang kami lewatkan, karena anak-anak sudah kecapekan. Yes, anak-anak tidak bisa ditawar, jadi marilah kita pulang…
Ubud Monkey Forest
Di hari kedua, kami memilih Ubud Monkey Forest yang berlokasi di Jl. Monkey Forest, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571 sebagai tujuan.

Di sepanjang jalan dari parkiran menuju lokasi, kanan-kiri terdapat berbagai macam restaurant dan tempat makan, yang rata-rata bercita-rasa bule. Sehingga kami menyimpulkan bahwa tempat ini lebih banyak dikunjungi wisatawan asing daripada lokal.

Dan benar saja, sampai di sana mayoritas pengunjung adalah turis asing. Tapi, meskipun bukan bule, saya suka tempat ini! Suasananya hutan banget! Cuma, bagian agak ngerinya adalah saat ada monyet yang mendekat dan mau mengobrak-abrik kantong bagian bawah stroller Mahesh! Padahal ya, kami sudah mengindahkan peringatan yang diberikan dengan tidak membawa makanan ke dalam area. Eh, ternyata, monyet-monyet ini mengincar botol air mineral yang kami taruh disana 😅.

Di sini kami bersenang-senang dengan cara:
  • Berpetualang menjelajahi hutan dan kuil kuno ala-ala film juglebook. Beneran mirip! Karena disini kan ada monyetnya juga, jadi serasa berada di area monkey temple gitu.
  • Memberi makan monyet –tentu saja dengan makanan yang bisa dibeli di lokasi– tapi dilarang ya memberi makan monyet dengan makanan dari luar, untuk menjaga kesehatan monyet-monyet disana.
  • Menikmati kuliner bule yang ada di sepanjang jalan dari parkiran menuju lokasi. Tapi ini musti hati-hati, perlu tanya dulu apakah halal atau tidak.
Bulih Bali Turtle Park
Hari ketiga, setelah menimbang beberapa alternatif, akhirnya kami memutuskan berkunjung ke Pulau Penyu di Tanjung Benoa. Untuk mencapai lokasi Pulau Penyu, kami harus menyewa kapal boot yang akan mengantar kami berangkat dan pulang kembali dari pulau.

Di sana, kami bersenang-senang dengan cara:
  • Naik kapal boot menuju pulau penangkaran penyu yang cukup seru karena kecepatan dan air yang terciprat-ciprat ke arah kami, lalu makan ikan –bukan penyu ya– dengan roti yang sudah disediakan oleh penyewa.
  • Melihat dan berfoto dengan penyu yang super besar –walaupun kami ragu juga, apakah dia tidak merasa terganggu karena berkali-kali diangkat ke tepi pantai.
  • Melihat hewan-hewan lain seperti burung yang juga dipelihara disana.
Sebenarnya, secara pribadi ada hal yang kurang saya sukai dari tempat ini; pertama perlakuan pada hewan yang menurut saya kurang lembut dan hewan-hewan selain penyu yang kandangnya kurang terawat. Dan kedua, karena pengelolaan dan pelayanannya yang kurang profesional. Jadi pada saat datang ada guide yang mengantar kami menjelajahi area, yang bukannya tidak ramah atau baik, guide-nya baik, cuma kesannya terburu-buru dan grusah-grusuh.

Well, semoga suatu hari kesini lagi, tempat ini jauh-jauh lebih baik…

Pantai Pandawa

Masih di hari ketiga, sorenya bertolak dari Pulau Penyu, kami langsung menuju Pantai Pandawa yang berlokasi di Jl. Pantai Pandawa, Nusa Dua, Kutuh, Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361. Awalnya saya kurang ngeh kenapa pantai ini diberi nama Pandawa, namun saat memperhatikan jalan menuju pantai di tepi gunung batu yang diukir membentuk tokoh Pandawa Lima, baru saya tahu. Patung ini sendiri sepertinya baru dibuat alias bukan peninggalan kuno, yup, tempat wisata ini memang tergolong baru!

Yang paling menyenangkan dari pantai ini adalah ombaknya yang relatif aman karena adanya tanggul yang sengaja dibuat. Karena itu, anak-anak pun bisa bermain kano dan berenang di tempat ini, dengan tentu saja tetap di bawah pengawasan orang dewasa.

Dan di sini, kami bersenang-senang dengan cara:

  • Bermain air di pinggir pantai! Klise sih, tapi tetap saja menyenangkan! Apalagi saat si Mahesh memang susah bener dirayu untuk main agak ke tengah. Jadilah kami main air di pinggir pantai sambil menunggu papa dan kakaknya pulang main kano.
  • Main kano! Karena pantainya memang kondusif, banyak pengunjung yang bermain kano yang disewakan disini.
  • Foto-foto dan menikmati langit sore yang indah pada saat pengunjung mulai berangsur pulang… Liat deh warna langitnya, gradasi biru, pink dan putihnya enak banget dilihat.

3D Art Museum DMZ Bali
Nah, hari terakhir di Bali, sebelum berangkat ke bandara untuk kembali ke Lampung, kami mampir ke 3D Art Museum DMZ Bali yang berlokasi di Jl. Nakula No.33X, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361. Yang baru saat membuat tulisan ini, saya tahu ternyata adalah (semacam) franchise dari wahana yang sama di Korea.

Gambar 3D di sini bagus! –Tapi ini review dari seorang yang belum pernah ke museum serupa sebelumnya sih–

Di sini, kita bisa berfoto dengan berbagai latar gambar 3D yang membuat hasil foto kita benar-benar nyata –background terlihat nyata–.

Kami cukup excited dengan gambar 3D yang disajikan, meski kurang bisa menikmati karena berkali-kali Ganesh kabur! Hingga kami terpaksa perang urat saraf dengannya setiap kali dia menghilang dengan alasan bosan. Dasar bocah kinestetik, susah bener disuruh diem! 😤

Dan disini, kami bersenang-senang dengan cara:
  • Menikmati gambar 3D yang ada!
  • Berfoto dengan latar belakang gambar 3D tersebut! Untuk hal ini, di setiap scene ada panduan foto dan juga mbak-mbak yang dengan senang hati membantu mengarahkan dan mengambilkan foto untuk kami.
  • That's it. Wahana ini memang tidak butuh waktu lama untuk dieksplore, cukup sekedar mampir dan sebentar kemudian… selesai!

Selain ke tempat-tempat wisata ini, kami sempat juga mampir ke rumah saudara sepupu yang tinggal di Bali. Sebentar sih, tapi lumayan lah buat ngobatin kangen… Sempat juga mampir ke galeri lukisan, yang setelah kebingungan panjang, akhirnya ada juga yang dibeli. Bukan karena tidak ada yang bagus, justru karena bagus-bagus, tapi juga terasa mahal bagi kami yang sejujurnya bukan konsumen seni. Oleh bli yang mendampingi kami, sebenarnya sudah dibilang kalau kami boleh menawar, cuma, karena merasa ga ngerti seni, takut mau nawarnya… takut kurang menghargai seni gitu…

Total empat hari kami berada di Bali bersama dua anak berusia 5 dan 2 tahun, hanya lima tempat wisata yang bisa kami kunjungi dan hampir kesemuanya berbau binatang dan main air. Bukan tanpa alasan, tentu saja semuanya demi semua bisa menikmati liburan kali ini. Karena menurut perkiraan kami, anak-anak tidak akan terlalu tertarik dengan wisata semacam pura, melihat tari-tarian, dan sebagainya. Dan benar bukan, di tempat terakhir yang kami kunjungi, rasanya benar-benar effortful untuk membuat anak-anak mau foto-foto sesuai keinginan kami. Karena sukanya mereka di tempat seperti ini ya lari-larian 😂.

Dan finally, sebagai kali pertama kami liburan bersama, berikut adalah hal-hal yang kami rasa perlu diperhatikan saat akan mengajak anak-anak (di bawah 5 tahun) liburan bersama:
  • Persiapkan mental, setel kendo, jangan terlalu strict pada target… Namanya anak-anak, ada banyak kemungkinan waktu yang dibutuhkan untuk segala hal menjadi lebih lama dari perkiraan. Diajak bangun susah, diajak tidur susah, diajak mandi susah, diajak udahan mandinya juga susah. Belum lagi jika baru lanjut dari suatu tempat, kemudian minta pipis, sehingga perlu melambatkan kendaraan mencari SPBU terdekat… dan banyak lagi. Just be prepared for that
  • Pilih tujuan wisata yang menyenangkan bagi anak. Karena, tentu saja kita ingin anak-anak juga menikmati liburan bukan? Selain, kalau anak-anak tidak tertarik dengan tempat tertentu, mereka cenderung bosan, kurang kooperatif dan akhirnya kita juga bete sendiri. Dan kalau dalam cerita kami, itu tidak jauh dari yang namanya binatang-binatang dan main air…
  • Di setiap pemberhentian, ajak anak-anak pipis… Lebih baik kosongkan tangki, dari pada harus dikeluarkan pada saat-saat yang kurang tepat; misalnya di jalan yang macet dan sebagainya.
  • Kondisikan anak-anak untuk tidur tepat waktu. Karena jika tidak, kita akan lebih sulit menyusun agenda hari berikutnya. Coba saja bayangkan, begitu bangun siang, acara persiapan akan menjadi lebih lama, bisa jadi pantai sudah jadi panas, kebun binatang sudah jadi ramai, dan sebagainya.
  • Bawa baju ganti, obat-obatan, susu dan keperluan anak lainnya. Ini standard sih…
Sudah, itu saja catatan kami dalam perjalanan ini. Dan semoga nanti akan ada kesempatan lagi untuk liburan bersama, lebih baik daripada liburan tahun ini. Amin.

That's it… bagaimana dengan teman-teman? Memiliki cerita liburan seru bersama anak juga?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

4 comments:

  1. Yeeaay seru mba Nian ke Bali.. Aku belum pernah ngajak anak-anak ke Bali mba.. Jadi pingin :D Setuju mba, aku kalo jalan sama anak-anak juga enggak targetin, tergantung sikon anak.. Suka juga siang kita balik ke hotel tidur, jalan-jalan lagi kalo anak udah seger.. Dibawa santai jadinya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan seru mbak main ke Bali sama anak.. Kemarin sih sempet kepikiran mau ke Lombok aja, tapi berhubung sama anak-anak, akhirnya cari tempat yang bisa mengakomodir semua.. Soalnya kalo anak-anak mah, belum begitu bisa menikmati alam ya.. senengnya tetep seputar hewan dan main air :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...