Saturday, January 3, 2015

Sebuah Kisah di 2014

Setiap orang pasti memiliki kisah di 2014. Sebuah kisah yang mungkin biasa-biasa saja bagi sebagian orang, tapi begitu bermakna bagi beberapa orang yang lain. seperti kisah yang akan saya ceritakan di bawah ini misalnya… Ini adalah kisah seorang teman dekat, yang menganggap 2014 adalah tahun dimana dia mendapatkan sebuah insight (pencerahan) baru bagi dirinya dalam memandang hidup, penghidupan dan harapan. Sebuah kisah yang mungkin biasa saja, tapi ada pelajaran di dalamnya, tentang bagaimana mempertahankan sebuah niat baik yang seolah dipatahkan oleh keadaan, dan juga kepercayaan bahwa kebaikan akan selalu mendatangkan kebaikan juga, meski dengan cara yang tidak kita prediksi sebelumnya… Penasaran? Berikut apa yang diceritakannya pada saya…

***

2014 bagi saya adalah tahun yang memberikan begitu banyak pelajaran yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih ‘dewasa’ dan ‘bijaksana’. 2014 adalah tahun pembuktian seberapa mampu saya bangkit dari keterpurukan (resilience) dan membalikkan sebuah momen buruk menjadi kekuatan untuk melawan balik. Ah, ngomongin apalah saya ini, sebenarnya setiap hari, setiap tahun tentu memberikan pelajaran kedewasaan tersendiri yang bisa kita maknai. Tapi, tahun ini, itulah yang saya rasakan, perasaan yang akhirnya membuat saya merasa powerfull dan yakin pada kuasa Tuhan lebih dari sebelumnya.

Tahun ini saya berusaha mendorong diri saya sendiri untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil kesempatan untuk menerima tanggung-jawab yang lebih besar. Demi sebuah mimpi, bahwa bidang tempat saya mencari nafkah selama ini bisa membawa keadilan yang lebih besar bagi orang lain. Dengan menjalankannya sesuai prosedur dan hakikat yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan administrasi tanpa arti. Namun, apalah daya, rasa kecewa itu pasti ada, pada saat niat itu tidak bergayung sambut dengan visi dan misi sang pengambil keputusan. Seberapa baik pun hasil yang saya tunjukkan dalam sebuah kompetisi, saat sang pengambil keputusan merasa bahwa apa yang saya suarakan bukanlah sesuatu yang penting, maka kalahlah saya. Meski dengan seberapa jauh pun jarak kemenangan saya dalam kompetisi itu.

Berada pada sebuah kompetisi yang tidak fair itu ternyata sangat menyesakkan dada. Ah, tapi sudahlah, akhirnya saya bisa berpikir sehat, bahwa dia hanyalah menunjukkan kebodohannya sendiri pada semua orang. Dia hanya menunjukkan kelemahannya sendiri sebagai pengambil keputusan; menunjukkan ketidakmampuannya untuk mengambil resiko untuk membuat perubahan yang lebih baik. That’s your shame, not mine… Saya sudah melakukan hal yang terbaik yang saya bisa, dan saya pun yakin balasan yang setimpal akan hadir untuk saya; entah dengan jalan seperti apa dan melalui tangan siapa. Saya hanya perlu tetap teguh melakukan hal terbaik sesuai fungsi saya, dengan harapan itu akan membawa kebaikan pada orang-orang di sekitar saya yang terkena imbasnya.

Dan ternyata, jalan yang lebih lapang terbuka dengan sendirinya untuk saya bisa mewujudkan mimpi saya tanpa perlu sebuah kewenangan yang lebih besar. Akhir triwulan III tahun 2014, unit induk memberikan tugas dan tanggung-jawab yang lebih besar kepada sub unit induk seperti kami. Jika dulu, fungsi perencanaan dan kaderisasi pegawai nyaris tidak melibatkan sub unit, saat itu kran itu mulai dibuka, dan kami pun memiliki target untuk mencari dan membina kader yang layak untuk posisi-posisi strategis. Yang itu artinya sama dengan kami diberikan kesempatan dan sekaligus ‘dipaksa’ untuk mencari dan melaporkan pegawai-pegawai yang kompeten untuk dipantau sebagai ‘kader’ posisi strategis itu. Atau jika tidak, maka kinerja sub unit di bidang ini tidak akan terpenuhi. Yang ini artinya sederhana saja, bahwa perlahan-lahan pegawai-pegawai yang memang memiliki kompetensi akan mendapatkan haknya akan pengembangan karir, tidak lagi terbelenggu tirani senioritas. That’s exactly my dream!

Karena itu, tanpa komplain karena mendadak dilimpahi tugas baru yang menuntut saya bertanya kesana-kemari karena minimnya pengalaman dan sempitnya waktu; saya pun berusaha melakukan apapun yang bisa saya lakukan. And exactly, sepertinya memang saya didorong dan dibantu oleh alam untuk melakukan semua ini, sampai akhirnya pekerjaan itu selesai dan membuahkan hasil. Selain kinerja sub unit yang terdongkrak karena semua itu, somehow, rekan-rekan saya yang memang memiliki kemampuan menemukan jalannya masing-masing, entah di tempat ini atau di luar sana. Dan itu, rasanya seperti kemenangan yang sesungguhnya bagi saya. Akhirnya saya bisa bersuara, bahwa apa yang ‘mereka’ lakukan selama ini salah, dengan sebuah tindakan nyata.

And then… sesuatu yang indah tidak hanya berhenti sampai disitu, entah bagaimana ceritanya, rekan-rekan di luar sana jadi banyak bertanya kepada saya dan tentu saja saya sangat welcome! Rasanya seperti saya bisa menyebarkan mimpi saya lebih luas lagi, and that’s super great! Plus sebuah bonus perasaan pengakuan akan usaha saya oleh orang di luar sana. Kekecewaan saya benar-benar terbayar; mimpi saya akan keadilan dalam perencanaa karir pegawai dan pengakuan sedikit banyak sudah saya dapatkan. Dan akhir tahun ini ditutup dengan mutasi saya ke sub unit lain, mendekati tempat kerja suami saya… alhamdulillah. Well, ternyata nasib (yang saya kira) buruk itu membawah kebaikan bagi saya dan keluarga. Dengan tidak adanya rencana sub unit atas diri saya, itu justru mendekatkan kami sekeluarga.

In resume… 2014 ini diawali dengan sebuah harapan dan keberanian untuk berbuat lebih. Dimana harapan dan keberanian itu harus awalnya tampak harus pupus atas nama sebuah kepentingan dan kompetisi yang tidak sportif. Namun, di tengah jalan kekuatan dan pencerahan itu datang, dibantu dengan alam yang menuntun kemana berjalan untuk tetap mewujudkan harapan itu. Dan akhirnya, keadilan pun berbicara dengan caranya sendiri, mimpi dan harapan itu pun menjadi kenyataan. Dan tahun ini, saya semakin percaya, bahwa tugas kita sebagai manusia adalah tetap berbuat baik sesuai kapasitas kita, meminta petunjuk saat hilang arah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Manusia hanyalah manusia, seberapa besar pun mimpi dan ambisinya, tanpa restu Sang Pencipta semua akan pupus dengan sendirinya. Keep the fight when you know you’re right. And you will find the way

***

Hmm, sebuah cerita sederhana namun sarat makna bukan? Sebuah cerita yang menularkan sebuah semangat bagi saya… Untuk tidak menyerah saat mimpi kita akan kebaikan dipatahkan oleh keadaan. Untuk tetap percaya bahwa selalu ada jalan untuk kebaikan, tetap lakukan kebaikan yang kita niatkan, putar otak dan temukan jalan kita untuk mewujudkan kebaikan itu. Dan yakinlah, bahwa selalu ada balasan kebaikan untuk kita atas kebaikan yang kita lakukan, meskipun terkadang tidak sesuai dengan prediksi kita sebelumnya.

And at last, happy new year all ;), semoga cerita ini bisa memberikan inspirasi bagi kita semua. Amin.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments:

Post a Comment