Tuesday, March 21, 2017

When Being You is So Complicated

Banyak pendapat yang mengatakan, bahwa untuk bisa menjadi pribadi yang nyaman itu cukup dengan menjadi diri sendiri. Well, sesuatu yang mudah sepertinya, namun sangat sulit saya cerna… karena saya tidak mengerti siapa sebenarnya saya…

This whole post is like part 2 of previous story: DON'T LET YOU GET YOU

Hmmm… Mencari jati diri dan titik kenyamanan menjadi diri sendiri adalah sebuah pe-er dalam transisi saya dari seorang remaja menjadi seorang dewasa. Ada begitu banyak tuntuntan yang saya rasakan; dari lingkungan dan utamanya adalah dari dalam diri saya. If I simply an introversion yang lebih banyak berfokus pada perasaan dan pemikiran diri; yang seringkali tampak dari perilaku pendiam dan tertutup terhadap orang-orang yang belum dikenalnya dengan baik, serta hanya berlaku lebih sosiable pada kelompok orang yang dikenalnya… Jika demikian, maka sesungguhnya tidak ada suatu masalah yang berarti (bagi diri saya) seandainya bisa menerima hal tersebut. Seandainya saja… karena kenyataannya, saya tidak terlatih untuk itu. Sejak kecil, saya lebih diajari tentang sikap seperti apa yang disukai lingkungan, hingga tanpa sadar, itu pun menjadi tuntutan diri saya sendiri karena saya adalah seorang yang perfeksionis dan suka kompetisi. Padahal, bagaimana caranya saya bisa berenang jika saya adalah seekor burung; atau terbang saat saya adalah seekor ikan? Tanpa saya berusaha demikian keras untuk itu, merasa hopeless, dan demikian kecil karena tidak mampu…

Yah, itu hanya perumpamaan saja… Karena bagaimanapun saya berusaha untuk menjadi seorang yang supel, gampang bergaul, 'rame' dan sejenisnya; tetap saja, ganjalan itu ada. Lebih sering saya gagal dan berakhir dengan perasaan bahwa saya ini orang aneh…


Saya jelas memiliki masalah dalam mengekspresikan diri dengan perasaan semacam itu (perasaan takut gagal, takut tidak sempurna dan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi diri dan lingkungan) di masa lalu. Situasi yang sungguh membuat frustrasi, di saat yang sama saya merasa memiliki pemikiran, ide dan kemampuan yang butuh teraktualisasi. Menurut saya, otak saya cukup encer, dan diam saat sesungguhnya ingin mengungkapkan sesuatu itu rasanya sungguh tidak nyaman. Sama tidak nyamannya saat ingin menunjukkan 'suara' saya, tapi selalu tercekat oleh ketakutan 'bagaimana jika hasilnya tidak sempurna seperti harapan saya'.

Saya seperti memiliki dua sifat yang kontradiktif… Menikmati menjadi pendiam, tapi ingin memiliki banyak teman; takut bertindak karena takut kegagalan, tapi memiliki keinginan yang begitu kuat untuk menunjukkan kemampuan… Hmm, kompleks bukan?

Well, itu dulu… Yang berlangsung cukup lama; sejak saya sangat kecil dan baru berakhir menjelang lulus kuliah. Dan beberapa orang menghubungkan itu dengan disiplin ilmu yang saya ambil, yaitu Psikologi. Hmm, ya, sekian lama belajar ilmu Psikologi memang membantu saya menemukan begitu banyak insight tentang diri saya. Tapi, jika mereka berpikir, bahwa proses ini semudah saya menjalani konsultasi psikologi dan kemudian berubah pikiran. Atau bahkan menjalani hipnosis lalu kemudian saya bisa berubah perilaku menjadi lebih ekspresif dan percaya diri… Itu jelas salah. Let me tell you once again, bahwa mengetahui lebih banyak tentang ilmu Psikologi memang membantu saya mendapatkan begitu banyak insight, tapi keputusan untuk berubah menjadi apa yang saya inginkan, diri saya yang lebih nyaman, sepenuhnya adalah tekad dan komitmen saya. Dimana sesungguhnya hal inilah yang paling berat dalam proses merubah perilaku dan pemikiran seseorang. Karena, percayalah, yang namanya proses perubahan itu selalu tidak nyaman, karena itu tekad dan komitmen yang kuat adalah satu-satunya hal yang bisa melewati proses ini.

Dan sekarang, saya akan menceritakan insight yang saya dapatkan…

Rasa ingin berubah menjadi pribadi yang lebih nyaman itu adalah motivasi dan tujuan pertama saya. Awalnya, saya pikir ini adalah sesuatu yang tidak terlalu sulit, saya cukup mendefinisikan seperti apa sesungguhnya diri saya dan menerimanya. At that time, saya pikir semua itu sederhana saja, sesederhana bahwa saya seorang introvert dengan segala sikap dan pandangannya yang harus saya terima. Dimana, ternyata saya sama sekali salah! Yes, I am an introversion, tapi saya juga memiliki dorongan yang begitu kuat untuk mengaktualisasikan diri ke dunia luar. Saya ingin suara saya didengar, dan itu tentu bukan dengan cara menerima saja sifat pendiam saya. Itulah yang membuat semuanya tidak sesederhana, "Ya, saya seorang introvert, it's OK to be quiet and a lot silence…" Itu yang membuat 'diam' dan berusaha untuk 'tampil' itu sama menyiksanya bagi saya.

That's why I saythat being me is so complicated… Tapi, menyerah bukanlah sifat saya! Saya menolak untuk menyerah begitu saja… Saya yakin, mengekspresikan diri dengan kondisi saya yang (sebut saja) cukup ekstrim introvert, bukanlah hal yang mustahil. Jika ini hal yang sulit, maka saya akan menjadi bukti nyata bahwa hal ini bisa dilakukan…

Dan kemudian, mulailah saya berusaha lebih banyak bicara. Mulai dengan kegiatan pada malam hari menulis topik apa yang akan bicarakan dengan teman A, B dan seterusnya. Yes, little silly maybe, tapi cara ini sangat membantu saya yang sangat tidak spontan. Termasuk juga, jika ingin bertanya atau berbicara di depan kelas, harus saya tulis dulu. Ini masih saya lakukan sampai memasuki semester 8 pada saat KKN lho, saya ingat betul, waktu itu saya menyiapkan catatan untuk berbicara pada seorang teman saya dalam rangka ala-ala konsultasi psikologis.

Siang harinya, atau pada saat harus berinteraksi, itulah 'medan peperangan' saya. Saya harus terus mengingatkan diri saya sendiri, "Harus maju! Harus ngomong! Persetan akan kelihatan konyol atau apa! Hidup cuma sekali, ambil risikomu untuk maju…" Berdamai dengan rasa dag-dig-dug setiap kali mau ngomong… Juga berdamai dengan rasa, "Aduh, kayaknya aku salah ngomong deh. Kayaknya tadi aku kelihatan konyol. Bla-bla-bla…" Pokoknya, siang hari, bagaimana caranya saya harus maju dan maju, ngomong dan ngomong, meskipun dengan segala ganjalan dan perasaan tidak nyamannya.

Baru pada malam harinya sebelum tidur, saya melepaskan semua ganjalan itu… Karena bagaimanapun juga, ganjalan itu harus dilepaskan, atau jika tidak tanpa disadari akan mempengaruhi mood kita. Seharian, saya 'berperang', ada banyak perasaan negatif yang perlu saya lepaskan (sebut saja, "Aduh, kayaknya aku salah ngomong deh. Dia mikir apa ya… Kayaknya tadi kelihatan konyol. Bla-bla-bla…"). Caranya adalah dengan berbicara dengan diri sendiri. Dengan membayangkan kejadian yang membuat saya merasa konyol (dan sebagainya), lalu menjelaskan pada diri sendiri, "It's OK Nian, berbicara salah itu adalah yang wajar, mereka juga tidak akan hanya menilaimu dari itu saja. Yang penting niatmu baik, berusaha berbuat baik, pasti pesanmu akan tersampaikan, terlepas dari kamu merasa itu konyol atau apa…"

Begitu terus selama hitungan bulan dan (mungkin) 1 tahun. Dari awalnya, benar-benar terasa berat; hingga perlahan-lahan terasa lebih ringan, hingga bahkan saya tidak perlu melakukan refleksi di malam hari karena merasakan ada ganjalan di hati saya. Dimana itu berarti, bahwa saya telah (lebih) menerima diri saya sendiri; seorang gadis introvert dengan banyak ide dan suara yang ingin disampaikan ke dunia luar. Satu tahun itu cukup lama bukan? Apalagi untuk merasakan hal-hal yang tidak nyaman karena perubahan sebuah perilaku yang mengarah pada kepribadian. Karena itu, setuju ya, jika saya sebut, butuh tekad dan komitmen yang kuat untuk itu.

And then… kembali ke judul post ini, 'When Being You is So Complicated', yang terinspirasi dari kelas diklat yang saya ikuti. Dimana seorang rekan saya memberikan komentar, bahwa untuk menjadi leader dalam posisi yang tinggi, hanya seorang yang memiliki kecerdasan berkaitan dengan manusia (people smart) yang dominan yang akan berhasil. Yang kemudian saya tanggapi, bahwa kecerdasan berkaitan dengan manusia memang penting untuk menjadi seorang pemimpin, tapi bukan berarti hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan dominan itu saja yang akan berhasil. Karena toh, meskipun kita sesungguhnya tidak terlalu terampil dalam hal tersebut; dengan potensi, tekad dan komitmen yang kuat, kita memiliki kemampuan untuk mempelajarinya. Yah, meskipun mungkin memang tidak akan secerdas mereka yang memiliki bakat bawaan berkaitan dengan hal tersebut, tapi cukup memadai lah. Toh, yang namanya pemimpin kan bukan hanya sekedar masalah membina relasi dan sebangsanya, tapi juga tentang menggunakan kemampuan analitisnya untuk mengambil keputusan, dan banyak hal lainnya.

So, when being you is so complicated… Saat kamu memiliki sebuah keinginan yang sepertinya bertentangan dengan dirimu. Sesungguhnya kamu punya pilihan; untuk merasionalkan keinginan itu atau berusaha mewujudkannya. Tidak ada yang salah dengan keduanya, karena itu tergantung dari diri kita sendiri. Bukan hal yang salah, jika kemudian kita menyadari bahwa suatu keinginan sungguh tidak bisa dicapai dengan modal kepribadian yang kita miliki. Atau sebaliknya, berusaha mencari jalan tengah untuk tetap mengejar mimpi itu, dan menerima jika hasilnya tidak akan sesempurna bayangan kita.

Ya, seperti saya… Yang sekarang fine-fine saja berbicara di depan banyak orang, nyanyi juga lancar; meski kadang harus sedikit merasa dag-dig-dug juga. Dan meski kadang kala merasa tidak nyaman karena tidak sempurna, saya pun bisa menerimanya. I want to express myself, I'm an introversion, so I have to accept that little guilty and anxious feeling. It's OK

"Cause in life, there's gonna be time when you feeling low. And in your mind, insecurities they seems to take control. We start to look outside ourselves for acceptance and approval. We keep forgetting that, the one thing we should know is. Don't be scared to fly alone, find a path that is your own. Life will open every door, it's in your hand, the world is yours. Don't hold back and always know all the answers you will unfold. What are you waiting for? Spread your wings and soar!"
Lagunya Christina Aguilera nih… Yang menurut interpretasi saya sangat menggambarkan bagaimana galaunya pikiran pada saat struggling menghadapi berbagai tuntutan dalam diri dan dari lingkungan. Tapi satu hal yang harus diingat, yang terpenting dari dilema itu adalah, tentukan keinginanmu dan tetap kuat untuk meraihnya.


That's all I want to say… :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

No comments:

Post a Comment