Wednesday, December 12, 2012

The Therapeutic Effect of Writing

Ya, saya suka menulis hanya kurang teraktualisasi :D… Hehe, penyebabnya lebih ke diri saya sendiri sih… saya kurang commit untuk menulis, semasa sekolah dan kuliah, saya baru akan berhasil menciptakan sebuah tulisan yang utuh (sampai ke bagian ending) dengan dua alasan: untuk kepentingan tugas atau media katarsis*. Hasil tulisan yang pernah dipublikasikan ya skripsi saya dengan judul “Hubungan Antara Minat terhadap Komik Jepang (Manga) dengan Kemampuan Rekognisi emosi Melalui Ekspresi Wajah” yang dimuat pada Jurnal Psikologi Fakultas UGM tahun 2007. Skripsi yang sangat berkesan karena dibimbing oleh dosen yang menurut saya waktu itu bikin ga pede dalam waktu hanya 6 bulan disela-sela waktu KKN selama 3 bulan di daerah yang cukup terpencil. Judulnya adalah “berjuang mati-matian supaya bisa lulus tepat 4 tahun di semester-semester terakhir :D”

Selain itu, persis seperti yang saya ceritakan, tulisan saya kebanyakan dengan tujuan me-maintain psikologis saya sendiri, semacam menulis buku harian. Sejak SD saya sudah mulai menulis buku harian, tapi baru semasa kuliah (waktu itu ada tugas dari mata kuliah Kesehatan Mental untuk membuat semacam analisis diri. Waktu itu dosen saya, Ibu Silvia Retnowati, di dalam kuliahnya memberikan satu statement yang membuat saya merasa terserang sekaligus bertekad harus melakukan sesuatu. Beliau mengatakan bahwa kami (red: mahasiswa Psikologi) harus menyehatkan mental kami sendiri sebelum bisa menyehatkan mental orang lain. Huks, rasanya nyesek gimana gitu permasalahan psikologis saya waktu itu sederhana sih, yaitu tidak percaya diri akut. Sesuatu yang sebenarnya menurut saya sederhana dalam tulisan saja, tapi treatment-nya sangat tidak mudah, karena sudah berbagai cara saya lakukan tapi tetap saja saya masih suka ‘lari dan sembuyi’, hoho

Buku Harian Saya Sejak 2009
Belum penuh sampai sekarang :D

Singkat cerita, karena itulah saya serius mengerjakan tugas itu. Setelah assessment dengan suatu questionnaire untuk mengukur aspek kepribadian (saya lupa tepatnya), bagian yang menantang adalah menarasikan sejarah hidup yang membuat saya memiliki kepribadian seperti itu. Well, here it goes, saya coba menulis dimulai dari moment pertama yang terekam dalam ingatan saya, hingga tumbuh menjadi seperti sekarang… Dan surprise! Proses menggali ingatan melalui tulisan itu menghasilkan banyak emosi. Ternyata, saya memiliki banyak unfinished business, kejadian yang tertekan ke dalam alam bawah sadar karena tidak (ingin) saya akui keberadaannya. Yah, sejak itulah perlahan-lahan saya menggunakan tulisan sebagai media untuk menggali jauh ke dalam diri saya, meminimalisir adanya moment yang saya tekan ke alam bawah sadar dan hasilnya… Tada! Saya berhasil menghilangkan masalah psikologis saya sedikit demi sedikit… Yah, saya masih suka nervous menghadapi suatu moment, tapi saya tetap maju… dan menurut saya, itulah kasta percaya diri yang paling tinggi, berani menghadapi ketakutan kita sendiri :D

‘Menulis’ bisa dibilang adalah penyelamat psikologis saya waktu itu dan menjaga saya tetap ‘sadar’ dari waktu ke waktu. Namun, baru semalam saya sadar bahwa sejak saya merasa berada di titik aman hidup saya, saya meninggalkan menulis selama beberapa saat; karena kesibukan dan karena tidak merasakan urgensi menulis lagi. Baru beberapa waktu lalu, karena saya mulai menekuni suatu bisnis, saya mulai menulis lagi [http://nastiningrum.blogspot.com/]. Setelah itu, saya kok merasa pengen menulis lagi ya.. dan akhirnya mengaktifkan blog lama saya ini, yang sempat berganti nama beberapa kali hingga menemukan nama yang menurut saya pas [http://lemonjuicestory.blogspot.com/]. Sejak itu, ternyata saya jadi hobi make over blog dan tentunya menulis, apalagi suami dukung banget, saya jadi tambah semangat deh :D

Nah, sudah baca pengalaman saya kan? Mungkin ada yang punya masalah seperti saya? Siapa tahu, menulis bisa jadi solusinya… So, mari kita menulis untuk aktualisasi dan kesehatan kita ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Keterangan:
*katarsis: teknik untuk meredakan tegangan (tension) dan kecemasan (anxiety) dengan membawa perasaan dan ketakutan yang ditekan ke alam bawah sadar kepada kesadaran (consciousness).

2 comments:

  1. kalau buatku sih mak, menulis itu jadi olahraga otak.. mak, kapan2 bahas lagi ya soal manfaat menulis ditinjau dari efek psikologis ^^ (kalau sempat mak).
    btw, buku diarynya berapa lembar kok masih belum penuh padahal udah mau 5 tahun ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. diarinya mungkin 160 lembar kali ya.. cuma ga sempet nulis lagi.. yah, karena sekarang ada yg sudah dijadiin tempat sampah segala keluh kesah a.k.a suami, akhirnya tidak terlalu berfungsi lagi.. hehe :D

      Makasih sudah mampir mak.. ditunggu sharingnya ;)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...